Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.
Special Thanks: Readers, Review-ers, yang numpang lewat. Playlist yang entah kenapa bikin semangat dari Winamp.
Genre: Adventure, Suspense
Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak diskontinu,gonta-ganti POV, Chara death.
Sebentar, harusnya urutannya [Caina - Antenora] bukan [Antenora - Caina], contohnya Caina itu tentang Akihiko, terus Antenora tentang Junpei, intinya, saya salah urutan, tolong maafkan saya. Err, yaudah saya improv ceritanya balik ke Caina. Tenang, masih nyambung kok ^^ selamat menikmati~
.
Dunia ini adalah dosa, dan aku adalah pendosa yang bermain dalam dosa. Semua sudah ditentukan sejak awal kalau aku pendosanya. Dan semua itu aku yang tentukan,
Bukankah itu konyol? Aku yang muak dengan dunia ini lalu aku disebut Shadow itu sebagai seorang yang menentukan keberadaan dunia ini?
Kenapa dunia ini disebut dosa? Apa aku pernah melakukan sesuatu—tidak, tepatnya, apakah diriku, entah di masa lalu, masa depan yang Philemon bilang, atau entah diriku dari dimensi mana yang menyuruhku yang sekarang ada disini melihat dosa mereka?
A Lone Prayer
2011 (c) Kuroi-Oneesan
.
—Caina, Antenora
Lagi-lagi, sebuah tempat yang familiar.
Kantor polisi dengan nama lengkap "Inaba Police Department" yang tak pernah jarang dari datangnya kasus. Entah kasus sepele sampai kasus yang menyangkut banyak hal-hal kecil. Tetapi sore itu, seorang detektif muda yang akrab dengan topi birunya itu tengah terduduk lesu di lorong tunggu sepi ditemani segelas kopi. Kalender disana tengah menunjukkan bahwa saat itu adalah bulan Maret pada tahun 2012.
Shirogane Naoto, tidak biasanya raut mukanya menggambarkan mendung seperti itu.
Ia meneguk habis kopinya dan melempar bekasnya tepat ke tempat sampah, tarikan nafas panjang pun menggema mengisi ruangan. Detektif itu mengangkat topinya, memperlihatkan surainya yang tengah berkaca-kaca. Umpatan demi umpatan pelan ia luncurkan ke arah tembok di hadapannya, ia tidak peduli ada polisi mendengarkannya atau bahkan orang lewat hendak menghentikannya, ya, ia sudah tidak peduli.
"Souji—senpai..."
Ketegaran sang detektif buyar dalam bentuk air mata yang rapuh. Perlahan air mata itu menetes, dan dengan pelan juga ia berusaha untuk menyekanya.
"Selamat sore, Naoto-kun."
Naoto terkesiap mendengar namanya dipanggil dengan suara jelas. Ia pun melirik ke arah asal suara, mendapati seseorang yang tidak asing. Gadis itu tersenyum, surainya menatap jelas pemandangan Naoto yang berantakan.
Naoto menahan suaranya, meyakinkan agar ia tidak terdengar telah menangis. "A-Amagi-senpai? Ada apa?"
"Ayo kita berkumpul di Junes, ada yang ingin kubicarakan."
.
"Kuma, kalian siapa?" tanya Teddie melihat Yosuke dan Chie mulai menyebutnya sebagai maskot berjalan. "Apa yang kalian lakukan di tengah kabut? Apa kalian seperti Yuki-chan, kuma?"
"Seperti Yuki-chan...?" Yosuke mengulang. "Maksudmu Amagi Yukiko? Memang kami semirip apa?"
"Manusia yang bisa tetap ada dalam kabut adalah Persona-users, kuma."
"Persona...?" ucap Chie. "Apa itu? Merek makanan?"
"Kurasa bukan, Satonaka..." Yosuke agak sweatdrop. "Apa itu Persona-user? Lalu siapa kau, maskot?"
"Aku Teddie, kuma! Kalian sendiri?"
"Teddie...? Rasanya aku pernah kenal nama itu..." pemuda yang memiliki headphone oranye itu menaikkan alis. "Sudahlah, umm, aku Hanamura Yosuke, dia Satonaka Chie."
"Oke, Yosuke dan Chie-chan..." beruang itu mengangguk-angguk. "Kalian pasti Persona-user! Penciumanku tak pernah salah, kuma!"
"Persona ini, Persona itu..." Yosuke mendorong Teddie ke belakang hingga beruang itu terjungkal. "Persona itu apaan sih? Jangan terus-terusan bilang sesuatu yang aku nggak tau!"
"Sakit kumaaaaa! Yosuke jahat, kuma!"
"Sudah, sudah, Hanamura. Kasihan maskot itu..." Chie mengingatkan. "Tapi yah, kita penasaran! Apa sih Persona? Bisa kau tunjukkan pada kami?"
.
"Tunggu, senpai, kau menemui Naoto-kun? Kenapa aku tidak ingat...?" Rise menepuk bahu Yukiko ketika mereka sudah tidak berada di tempat itu lagi. Mereka berakhir pada foodcourt Junes yang kini sepi—tempat dimana Philemon beberapa waktu lalu berada, tempat yang disebut-sebutnya sebagai masa depan umat manusia.
Yukiko menggeleng, "Ti, tidak, a-aku tidak pernah bertemu dengan Naoto-kun setelah itu..."
"Hei, hei. Kenapa ini malah jadi merepotkan?" seru Adachi. "Jelas-jelas itu Amagi tapi kata Kujikawa ia tidak ingat pernah bertemu Amagi, lalu Amagi mengaku tak pernah menemui Shirogane?"
"Sepertinya ada yang kurang..." gadis berbando merah itu berpangku tangan.
"...Kelihatannya kalian kesulitan,"
Dari meja panjang foodcourt, tengah berada sang Philemon. Ia menyilangkan jari-jarinya di depan topengnya, seperti mengobservasi ketiga orang tersebut.
"Kau lagi, Philemon..." sorot mata Rise tampak tak bersahabat. "Apa yang ingin kau katakan?"
"Ah, ramahlah padaku, nona Kujikawa Rise." Philemon tertawa kecil. "Aku hanya memberitahu apa yang bisa kutahu. Aku tidak tahu kenapa sedikit demi sedikit saja yang bisa kutemukan."
Ketiga orang itu masih merasa segan. Pria bertopeng itu mengayunkan sebelah tangannya, menawarkan kursi kayu di seberangnya pada mereka.
"Silahkan duduk, tidak baik bila bicara berdiri."
.
To be continued.
