Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.

Special Thanks: Readers, Review-ers, yang numpang lewat. Beberapa PR dan kegiatan PMR ^^ dan juga P4A OP Song, Sky's The Limit.

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak diskontinu,gonta-ganti POV, Chara death.

A/N: Di chapter ini...emm...hampir separuh kenyataannya terungkap, dan chapter ini lumayan panjang setidaknya. Dan...berhubung sudah tengah-tengah cerita, setidaknya ini bisa memunculkan gambaran apa yang terjadi. Well, enjoy~ ^^

.


A Lone Prayer

2011 (c) Kuroi-Oneesan


Caina, Lies

"Aku berbaik hati ingin memberitahukan apa yang kutahu," Philemon berdehem. "Entah kenapa sesuatu muncul di benakku..."

"Cepat katakan, kami tidak butuh kiasanmu." Rise menggertak.

"Rise-chan, tenanglah." Yukiko mengingatkan.

"Amagi Yukiko, kau sudah tahu kenapa kau disebut pendosa?" Philemon berpangku tangan. "Aku punya jawabannya bila kau belum tahu."

Sontak Yukiko terbelalak, Rise bahkan sampai ternganga.

"Bagaimana—Siapa kau sebenarnya!" pekik gadis berbando merah itu.

"Sudah kubilang, aku ini Philemon." Sang pria berucap tenang. "Kau ingin tahu jawabannya?"

Yukiko tentu saja mengangguk, dua orang lain tidak berkomentar. Philemon menyerahkan sebelah tangannya, memperlihatkan telapaknya kepada Yukiko.

"Serahkan kunci itu," ucapnya lantang. "Tenang, aku tidak akan merebutnya atau menghancurkannya."

Gadis itu gentar sejenak, begitu surai hitamnya melirik Rise, secercah senyuman hanya bisa sang gadis lontarkan pada senpai-nya itu. Yukiko melunak, ia pun merogoh kantung blusnya dan memperlihatkan kunci—Boundary Key—yang kini menyala terang, dan menyerahkannya ke tangan Philemon.

—Tunggu, Philemon tidak bergerak, malah ia menggenggam tangan Yukiko beberapa saat dan tidak mengambil kunci tersebut.

"Kau tahu, lift Junes ini juga bisa diakses dengan kunci itu?" pria bertopeng itu menunjuk ke arah belakangnya. "Pergilah, lihatlah kenyataan."

Yukiko pergi setengah berlari ke arah lift, Adachi dan Rise masih saja mengikutinya tanpa keluhan. Di beberapa tombol arah, ada lubang untuk memasukkan kunci, benar kata Philemon.

KLEK, pintu lift terbuka, mereka bertiga pun masuk.

Dan—

Ah, mendadak mereka terproyeksi ke pemandangan dimana Hill Overlooking Town berada, semirip yang Yukiko pernah lihat dalam ingatan Rise. Sayang, tidak selembut perasaan di ingatan Rise—yang mereka semua rasakan adalah perasaan berat bercampur sendu.

Di sana terdapat wanita—lebih tepatnya, gadis muda dengan rambut perak bob dengan topi beret biru tua dengan pakaian tanpa lengan terusan senada tampak melihat ke arah kota, membelakangi Rise, Yukiko dan Adachi yang hadir melihat keadaan disana. Ternyata dari sisi belakang, ada beberapa orang berdatangan—Yukiko, Naoto, Yosuke, Chie, Teddie, Rise, namun tanpa Kanji. Aneh, tanpa Kanji? Kemana gerangan Kanji-kun saat itu?

"Sepertinya kau sudah kembali, Amagi Yukiko?" gadis muda itu berbalik badan. Surai kuning terangnya melihat ke seluruh orang yang hadir, sebentar, surai kuning itu, sosok dan pakaian macam itu juga seperti seseorang, siapa dia? "Kau saja yang jelaskan kepada mereka."

"Yukiko, siapa dia?" tanya Chie lebih dulu.

"Biar aku jelaskan semuanya," Yukiko memotong. "Apa kalian percaya kita bisa menyelamatkan Souji-kun bila kita menyerahkan seluruh memori dan Persona kita pada Elizabeth-san ini?"

Semua yang hadir tersentak, terutama orang-orang yang tak diundang hadir.

"Tunggu, Amagi! Kenapa kita harus percaya pada dia?" Yosuke tidak terima.

"Aku dan Elizabeth-san datang bukan dari masa ini, Yosuke-kun," kata-kata itu membuat Yukiko terbelalak. "Elizabeth-san menunjukkan sesuatu yang membuatku yakin."

"...Yuki-chan bukan dari masa ini, kuma...?" Teddie terperangah.

"Iya, Teddie. Aku dari—masa yang lain," terdengar jeda. "Percayalah, kalian juga ingin Souji-kun hidup, kan?"

"Senpai, maaf tapi...aku tidak bisa percaya ini dengan cepat..." Rise disana menggeleng. "Yah, aku ingin Souji-senpai hidup, tapi...memori kita dan Persona kita?"

"Ya, kalian tidak akan ingat apa-apa, tetapi Souji Seta akan hidup." Elizabeth menambahkan. "Itu kan yang kalian inginkan?

Semua terdiam.

Naoto menaikkan tangannya.

"Aku akan bertanya. Siapa kau, Elizabeth-san? Kenapa kau tahu soal ini dan itu?" suara Naoto jelas. "Kenapa aku merasa ada keganjilan di ajakan kalian berdua? Sungguh syarat kalian tidak relevan. Memori dan Persona kami—bagaimana bisa menghidupi seseorang yang jelas sudah tiada?"

"Ah, sepertinya kalian pintar juga." Tersungging senyum wanita muda tersebut. "Ada yang hanya bisa aku lakukan yang dapat menghalangi kematian Souji Seta. Bila kujelaskan, itu terlalu rumit."

"Alasanmu tetap tidak bisa kuterima, aku mau jawaban yang konkrit." Naoto masih berseru, Yosuke dan yang lain bingung, tetapi tersirat raut penolakan yang entah kenapa membuat wajah Elizabeth makin mendatar.

"Baik, baik...sebaiknya kalian harus kuperlihatkan sesuatu," Elizabeth mengeluarkan sebuah kartu. "Kalau kalian bisa menang dariku, akan kutunjukkan apa yang sebenarnya terjadi."

"Elizabeth—?" Yukiko di 'sana' seakan tidak setuju.

"Cih, tak ada pilihan lain, ya?" Yosuke merogoh kantung celana terbawahnya, sepasang mata kunai tengah siap di tangannya. "Rise-chan, jangan lupa navigasinya!"

Rise membalas dengan anggukan. "Baik, senpai!"

"Hmhm...kalian sama seperti Souji Seta," Elizabeth meniup kartu di tangannya. "Kusiapkan tempat khusus untuk bertarung kok."

Sayup-sayup ruangan berganti, ke sebuah tempat kosong—

—Tidak, tidak juga sekosong itu.

Ada gerumul awan kuning, latar seperti luar angkasa, sebuah pintu besar berwarna kuning pucat berdiri dengan ornamen mengerikan. Di tengah-tengah pintu tersebut ada sesuatu—seperti batu di tengah-tengah ikatan rantai.

Batu itu...manusia?

Rise disana mendadak jatuh berlutut, tampak seperti merasakan sesuatu yang kuat.

"R-Rise-chan, ada apa, kuma?" Teddie menunduk pada Rise.

Navigator itu memegang kepalanya, gemetaran. "Di-Dibalik sana—a, ada Shadow—besar, mengerikan..."

"Di sana ada Shadow...kuma?"

Setelah beberapa saat, sosok Elizabeth dan 'Yukiko' muncul ke permukaan.

"Yukiko, kau tak keberatan kan, kalau teman-temanmu ini kubunuh?"

Yukiko yang itu...auranya berbeda dengan Yukiko yang tadi menjelaskan di Hill Overlooking Town.

"Hehehe...AHAHAHAHAHAHA! Terserah kau saja, Elizabeth-san!"

"Pantas saja, dia bukan Amagi-senpai yang kita kenal..." Naoto mengernyitkan dahinya.

"Shadow Yukiko? Tunggu! Bukannya waktu itu kita sudah kalahkan Shadow—"

Narasi Chie terpotong seruan Elizabeth.

"Inilah masa depan kalian, dimana Shadow berkuasa! Karena kalian sendiri, Great Seal ini terbuka dan...dan semua manusia saling membunuh! Itu karena kegelapan hati kalian yang memanggil Nyx!"

Elizabeth—wanita muda itu tampak sudah kehilangan kewarasannya.

"Nyx? Great Seal? Argh! Kata-kata yang terlalu tinggi!" sergah Yosuke. "Langsung aja, bisa nggak sih!"

"Karena itulah aku butuh cadangan agar Great Seal bisa selamanya terjaga!" seru Elizabeth lagi. "Itu adalah pemegang Wild Card dan Persona-user seperti kalian!"

"Wild Card...?" Yukiko merapal kata-kata tersebut dengan pelan. Sepertinya Igor yang ada di Velvet Room pernah mengatakan hal itu—tunggu, pemilik Wild Card saat itu kan...Souji-kun?

...

TING

Semuanya berakhir disana, pintu lift terbuka, menunjukkan Junes bagian terbawah, destinasi mereka seharusnya.

"...Elizabeth? Siapa? Cosplayer?" hanya itu yang bisa Adachi komentari. "Hmph, Amagi yang terlihat lebih bodoh dari Amagi sekarang, apa juga itu? Karangan?"

"Senpai dari masa yang lain...?" Rise masih tergagap. "Siapa dia, senpai? Kau kenal dia? Dia dirimu...kan?"

Yukiko hanya bisa terdiam, ia menggelengkan kepalanya. Proyeksi itu, Elizabeth itu, 'dirinya' di masa yang 'lain'. Seperti kata Naoto 'itu tidak konkrit'. Artinya, masih ada pecahan ingatan lain yang harus Yukiko cari.

Dan...tempat mengerikan apa itu?

Surai coklat tua Rise berkaca-kaca, seakan ingin menangis sejadinya. "Senpai, aku ingat perasaan di tempat itu...tapi setelah itu...maaf, aku belum ingat..."

Terdapat jeda,

"Masa depan...seperti yang diucapkan oleh Philemon ya?" Yukiko menunduk. "Semua manusia saling membunuh karena Shadow bernama Nyx itu...?"

Setidaknya pecahan menjadi jelas, ada kesamaan disini. Tetapi apa motif Elizabeth? Seperti apa pula Nyx yang disebut-sebutnya? Lalu, Great Seal?

"Hei, Rise-chan...apa Elizabeth itu...mirip seseorang?" mendadak kata-kata itu muncul dari bibir Yukiko. Rise tak kuasa menaikkan alis.

"Mirip seseorang...maksud senpai, wanita yang melawan kita waktu itu?"

Kebetulan sekali,

Ya, kebetulan. Orang yang tengah mereka bicarakan tengah ada di depan Junes, sedang menyandarkan diri pada tembok, masih memeluk buku tebal dan dengan ekspresi yang sama—tidak berwarna. Surai kuningnya tampak menunggu mereka bertiga sedari tadi.

"Ah..." desah Margaret begitu melihat mereka bertiga keluar dari Junes. "Kalian—"

"Sebentar, aku ingin bertanya..." Yukiko, dengan mengumpulkan keberanian memotong pembicaraan, "Apa kau...kenal dengan Elizabeth-san?"

Anehnya, raut wajah wanita itu seperti syok, mulai terlihat warnanya.

"Elizabeth..." bibirnya mengulang kata tersebut. "Darimana...kalian tahu itu?"

"...Ceritanya panjang," Yukiko mendecak. "Kau mau mendengarkan kami sekali saja?"

Margaret membalas dengan anggukan.

Pembicaraan itu memakan waktu lumayan singkat, mulai dari penjelasan tentang Philemon dan juga soal Elizabeth dan 'Yukiko' lain. Masih ada jurang ingatan di antara penjelasan tersebut, tapi apa daya? Hanya itu yang dapat Yukiko dan Rise jelaskan pada Margaret seraya Adachi menguap tanda bosan.

"Sudah...?" tanya Adachi di sela-sela akhir.

"...Begitu," Margaret berpangku tangan. "Jadi selama ini Elizabeth..."

"Siapa sebenarnya Elizabeth-san, wanita misterius?" tanya Rise.

"Aku punya nama," selanya. "Margaret. Maaf sudah melayangkan pedang ke arah kalian sebelumnya."

"Tidak apa-apa," Yukiko tersenyum.

"Elizabeth itu...adikku. Ia meninggalkan...tugasnya demi seseorang." Margaret, dari nadanya terdengar keputus-asaan. "Aku tidak tahu 'orang' itu siapa, dan aku tidak bisa menghentikan hasratnya untuk 'orang' itu."

"Terlalu rumit, kita masih tidak tahu apa-apa, senpai." Rise menggelengkan kepalanya, agak kesal. "Kupikir kita selangkah lagi menuju Elizabeth-san! Kita seperti berputar di tempat yang sama!"

"Great Seal...Nyx...apa kita tidak punya orang yang tahu lebih banyak soal itu?" Yukiko menghela nafas. "Apa tidak ada orang lain yang bisa kita tanyai?"

Kembali ada jeda, namun tumben-tumbennya Adachi berdehem.

"Bukannya ada satu teman kalian yang tidak hadir disana?" sahut polisi kriminal itu. "Siapa sih...itu lho, si preman ribut yang suka meracau dengan polisi dan gangster itu."

Kanji-kun?

.

To be continued.