Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.

Rating: T untuk ekspilisit.

Special Thanks: Readers, Review-ers, yang numpang lewat. Maaf saya tak bisa memberikan apresiasi lebih.

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, character death, mungkin saja tidak diskontinu.


.

Karena itu aku pergi dari tempat Master, menuju dimana dia berada. Kalaupun aku kembali, kakakku sudah tidak senang melihatku yang memilih dia disamping tugasku mendampingi tamu berikutnya. Aku membawa buku catatan Masterku, sebagai pedoman untuk memilih ke arah mana. Sumaru Pleiades ialah cerita yang inspiratif namun mengandung makna dalam, sementara DVA System condong pada kenihilan.

(Sebenarnya, aku belum mengerti tentang apa yang dinamakan manusia sebagai perasaan.)

Aku mendatanginya, aku melihat dengan mata kepalaku sosoknya yang dengan tenang memelihara tempat itu. Walau para pengikut bodoh seperti mereka tetap saja meraung-raung ingin membebaskan Nyx. Semuanya menjadi tak berarti karena kutahu sulit untuk membebaskan dia.

(Namun aku menemukan cara lain.)

Sumaru Pleiades, DVA System—mereka tidak bisa dipakai lagi untuk menyelamatkan dia, mereka terlalu apatis untuk ini, mereka sudah banyak menderita pada kerumitan haribaan dunia dan juga Shadows. Walau bisa saja kupakai mereka, tapi pasti kegoncangan dahsyat di dunia ini akan terjadi.

(Karena itulah, kupilih dia sebagai alatku. Seseorang yang merupakan tugas keduaku—seharusnya.)

Hei, pernahkah kalian mendengar kisah pelik itu? Dimana pengorbanan untuk mencapai tujuan harus saja kita keluarkan—kita korbankan? Karena itulah kulaksanakan tugasku. Aku merenggang nyawa di depan makhluk itu, menancapkan cakarku padanya, lalu aku lari dan mengambil jalan lain.

(Wahai, kau yang membisu di sana.)

Ini jalan yang kupilih, kenapa kau tetap saja membisu ketika kau kembali padaku?

(Terlambat.)


A Lone Prayer

2011 (c) Kuroi-Oneesan


.

Judecca, Tsumi

Begitu pintu dijebol bebas, Shadow berupa robot dengan sayap raksasa bagai mainan itu menerjang. Yosuke, Chie dan Teddie yang berhasil lolos dari kecaman mencoba mencari tempat aman untuk bersembunyi, awalnya mereka ingin berlari ke Junes, namun Yosuke membawa mereka berdua sampai ke kantor polisi Inaba. Berlari tanpa arah, para murid Yasogami bersama sosok beruang itu sampai ke kantor polisi, walau sosok Shadow itu belum lenyap, malah, mulai brutal bermain dengan mainan pistolnya.

"Mute Ray!"

"Awas, Satonaka!" Yosuke melompat melakukan cover, sedikit mendorong dirinya dan Chie jauh dari jarak tembakan, sedikit tabrakan dengan meja depan kantor polisi.

"Ki-ki-kita lari sampai ujung, kuma!" Teddie berusaha mengontrol paniknya.

Sesampainya mereka di pintu paling ujung, mereka bertiga dikejutkan dengan keberadaan—Yukiko, Kanji, Rise, Adachi dan juga Naoto.

"Izanagi!"

Sosok karismatik memunculkan pedangnya yang panjang dan pribadinya yang mengagumkan siapapun yang melihatnya. Yosuke serta Chie hanya bisa menganga, sementara Naoto yang melihat siluet musuh menghancurkan pintu tempat mereka berada begitu saja terpaku sejenak.

"Shadow itu—" ucapan Kanji terpotong, Rise ikut menutup mulutnya tanda kaget luar biasa.

"Tunggu, kenapa monster itu, kenapa dia mirip—aku?"

Keringat dingin mulai meluncur turun pada pelipis sang detektif, enggan menarik pelatuk, Yukiko sudah memulai aksi lebih dulu. Menyampingkan kedua teman sekelasnya Yukiko menyuruh Izanagi maju.

"Kau disana ya, pendosa?"

Tidak menggubris panggilan sang Shadow, Izanagi melayang seraya menyongsong pedangnya, mulai bermain dengan irama sang Shadow yang kelewat cepat dibandingnya. Kanji yang tidak senang melihat keadaan mulai ikut dalam permainan—

"Rokuten Maoh, Ziodyne!"

Sosok yang berkali-kali lipat lebih besar dari Izanagi menyeruak dari dalam api biru membara, menghunuskan pukulan baja berisi listrik yang tak padam ke arah sang robot. Robot itu tetap menerjang, dengan mainan pistolnya di tangan. Berkelit, Kanji mengendalikan Rokuten Maoh agak jauh dari arah tempat Persona sang Senpai, mengikuti irama dan mencoba mengancam. Robot itu kembali maju menuju sang Izanagi, walau jalurnya harus di hadang oleh Rokuten Maoh—lagi. Sementara, Margaret tanpa bicara melakukan panggilan terhadap Yoshitsune di sampingnya berjaga-jaga.

"SE—" pekikan tertahan keluar dari mulut sang detektif yang melihat apa yang terjadi di depannya bagai mimpi. "—SERANG DIA!"

Belum sempat pedang Izanagi melukai sang robot, dengan gesit disertai sayapnya, ia sudah menarget mangsa lain—ketiga Persona-user yang tengah kehilangan Persona-nya. Moncong laras mainan itu tepat di belakang Chie, Teddie merunduk, sementara Yosuke masih dengan berani memberi barikade kepada keduanya.

"Ha-Hanamura-kun! Apa yang kau—"

Yukiko berusaha menjangkau, Naoto mulai mengangkat pistolnya, Kanji mengejar sang Shadow, Rise menutup matanya, Adachi berusaha membidik, Margaret memerintahkan Hassou Tobi—

"U-U-UWAAA—PERSONAAAAAAA!"

(Dan cahaya membenamkan mereka semua.)

.

.

.

"Satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk membebaskan dia adalah dengan menukarkannya dengan pengguna Wild Card lain. Aku sudah menemukan Wild Card yang cocok, Wild Card yang sepadan dengan dirinya, Wild Card yang bisa mengisi kekosongan bila ia kuambil dari tempatnya sekarang ini."

Yukiko terbelalak, ia dan semua yang hadir di sekitarnya kembali pada pemandangan yang pernah ia lihat sebelumnya di pintu Junes, pemandangan yang menyulut sinapsisnya.

"Ini—bukannya..." Yosuke menggaruk kepalanya, bergumam pelan. "Beberapa hari setelah Souji—tunggu—apa?"

Chie terdiam sejenak, pemandangan sekitar tempat Great Seal itu, juga sosok bernama Elizabeth di sana, dan sosoknya bersama Yosuke, Chie, Teddie, Rise, dan Naoto di sana—seakan terasa tidak nyata.

"OMONG KOSONG, OMONG KOSONG!" Yosuke menunjuk Elizabeth dengan kesal. "BANYAK MULUT KAU, CEPAT LEPASKAN SOUJI—KEMBALIKAN PARTNER KAMI!"

"Gadis jahat, kembalikan sensei! Usahamu tidak akan berguna, kuma!" Teddie menambahkan.

Elizabeth tetap dengan ekspresi bisnisnya. "Oh? Sepertinya kalian sudah sadar kalau jiwa seorang Souji Seta kuambil untuk menggantikan Great Seal?"

Rise disana ikut berteriak penolakan, "Kau—SESEORANG HIDUP TIDAK BISA MENGHIDUPKAN KEMBALI SESEORANG YANG SUDAH MATI, KAN? KENAPA—KENAPA KAU MALAH AMBIL SOUJI-SENPAI SEENAKNYA DARI HADAPAN KAMI!"

Tangan kanan Chie mengepal, "...DAN JUGA YUKIKO! BERANINYA KAU MENGGUNAKAN SHADOW-NYA UNTUK MEMANCING KAMI—"

Senyum melebar, Elizabeth masih melayang statis. "Apa boleh buat, bukan? Kalian juga sama saja—kalian ingin mengambil Souji yang sudah ditakdirkan mati saat ini, kan? Apa bedanya kalian denganku? Lagipula, Wild Card memang hebat, kan? Sebuah kekosongan yang bisa diisi apa saja, bukankah kalian juga ingin menggunakannya sesekali?"

"Secara logika, perbuatanmu sama saja meniadakan senpai—artinya, kau membuat Shadow—semua yang sudah kita alami menjadi sia-sia!" Naoto disana perlahan maju. "Sama saja kau membuat manusia punah, kau sudah membuat dunia ini penuh Shadow bila kau melakukan hal ini!"

Gadis bersurai perak itu berpangku tangan, mata kuningnya memperhatikan lawan-lawannya dengan tatapan hina. "Lalu? Kalian bisa apa untuk menghentikanku?"

"BRENGSEK—" Yosuke hendak memecah kartunya, namun dengan mudah tubuhnya dilontarkan oleh sesuatu yang besar, membawa Teddie, Chie serta semuanya yang didekatnya dalam satu sapuan—

"...Erebus!" Margaret menahan nafas. "Elizabeth—dia mengendalikan Erebus?"

"Kalian harusnya bahagia bisa ku undang ke upacara pemakaman pemimpin kalian tersayang ini—" tawanya memekik, sangatlah puas. "Wild Card Souji akan kupakai untuk menciptakan awal yang baru! Awal yang lebih bahagia dari semua akhir!"

Sebuah kartu muncul dari dalam Compendium Elizabeth, kartu indah yang memiliki tujuh warna—

"Tidak—JANGAN!"

(Lagi-lagi, cahaya yang mengawali, dan mengakhirinya.)

.

To be continued.


A/N:

Tidak, saya belum ada keinginan untuk menulis apa-apa. Tapi saya nulis seadanya aja. Saya udah ada ide sampai Colosseo Purgatorio, sih. Wow, ternyata cerita ini bisa juga sampai 20-an chapter, saya aja heran kenapa saya bisa kuat nulis segini banyak, cerita ber-chapter terbanyak sepanjang saya mengetik, kira-kira sampai berapa ya, 30? Entah juga.

Referensi, DVA System dan Sumaru Pleiades adalah dua hal penting dari dua seri MegaTen sebelumnya, mungkin penggemar Persona series tahu. Dosa yang disebut-sebut pada Yukiko semakin jelas, namun dunia semakin rumit, siapa dulu yang akan jatuh? Hehe.

See you next chapter, thanks for reading and keep R&R!