Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.

Rating: T untuk ekspilisit.

Special Thanks: Readers, Review-ers, yang numpang lewat. Maaf saya tak bisa memberikan apresiasi lebih.

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, character death, mungkin saja tidak diskontinu.

A/N: Saya sedang UAS, heheh.

Oke, awalnya bahkan saya ga ada ide buat author notes, cuma ada satu hal yang mengganggu saya berkaitan dengan—kenapa, mengapa, bagaimana, dan siapa yang memasukkan cerita ini ke salah satu Nominasi IFA 2011, bahkan sampai lolos ke tahap polling? Serius saya speechless pas lihat daftar poll—kenapa fanfic buruk ini harus bersanding dengan seluruh fanfic bermental juara itu? Dan bersama para pengarang kelas atas begitu?

Tapi saya sangat berterimakasih pada yang sudah memilih fanfic ini sebagai salah satu representasi dari fandom MegaTen...Ehem, ayo lanjut. Terima kasih atas supportnya!


.

Ketika semua orang merasa kehilangan,
selalu aku yang dilupakan.
Mereka pikir aku tidak tahu kalau aku tahu arti kematian,
bahwa suatu hari semua orang akan pergi dari dunia ini.

Mungkin, karena mereka tidak percaya padaku dan ingin menjaga senyumku.
Kini kurasa penglihatanku pada dunia sudah berbeda,
seperti di cat hitam putih oleh orang yang tidak kutahu,
bukanlah sebuah dunia yang penuh kebahagiaan.

Justru aku bingung,
sebenarnya bukan ini dunia yang kuharapkan.
Ketika aku bertemu Nona Peri, aku merasa semua ini di luar cerita indah.

Kenapa? Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Sebenarnya bukan begini 'kan?

Nona Peri, Nona Peri, apa ini cerita dalam kisah Snow White? Kalau bukan, kisah apa ini?

Nona Peri,
Jawab aku
Apakah aku harus menjadi sesuatu yang lain?

Nona Peri,
Haruskah aku
Melihat dunia ini dengan kedua mataku lagi?

Nona Peri,
Bolehkah aku
Terus terlena dalam nada,
tanpa harus membuat suara?

(Dia pun berjalan keluar jeruji, mencari angin penjawab sepi, menuju pintu bisu tanpa memandang lagi.)


A Lone Prayer

2011 (c) Kuroi-Oneesan


.

Empyrean, Batsu

"...Uh—"

Junes, lagi-lagi Junes, tempat mereka semua bermuara. Suara-suara musik anthem bertajuk ceria yang diputar pelan mengiringi mereka yang tengah termabukkan cahaya. Sayangnya, tidak ada penikmat disana, hanya meja-meja sepi yang berujar. Teman-temannya, semuanya lengkap minus keberadaan sang Souji Seta, Margaret dan Adachi.

Lagi, pemandangan pria berembel-embel Philemon itu hadir di sana, tampak seperti menertawakan mereka semua yang kini baru berkumpul di satu tempat—walau wajahnya jelas tertutup topeng berornamen kupu-kupu emas itu. Philemon yang tadinya berpangku tangan dan bersandar di salah satu meja bundar di tengah-tengah foodcourt Junes itu mulai membuka tangan, sedikit bertepuk tangan.

"Apakah kau—tidak, kalian—sudah menemukan apa yang kalian cari? Sesuatu yang hilang?" ucap Philemon dengan nada terdengar senang.

Sedikit bergidik, Yosuke menjaga jarak. "Y-Yah, kami semua sudah...mengingat semuanya."

"Apa kalian sudah menemukan jalan keluar dari tempat ini?" tanya Philemon lagi. "Kalian tidak perlu dunia tanpa warna seperti ini, kan? Kenapa kalian tidak keluar saja?"

"Bagaimana caranya, hah? Memang kita juga memilih berada disini?" Chie menggertak lebih dulu, gadis penggemar kung-fu itu menaikkan alis dan mengepal tangan di depan sosok karismatik bertopeng itu.

Tidak disangka, Philemon malah menunjuk ke arah Yukiko, bukan menanggapi hardikan Chie atau berusaha meluruskan pembicaraan. "Kalian sudah tahu dosa—dosa gadis penyuka merah itu?"

Semua terdiam, Philemon terkekeh.

"Bagaimana kalau kalian membunuhnya saja, dia kan yang menyebabkan kalian terperangkap disini?"

"Kau—apa maksudmu dengan itu, pria badut?" Penekanan pada kata, Yosuke hendak melompat maju serta merta melayangkan pukulan ke wajah pria itu, sebelum akhirnya ditahan Naoto.

"Tenanglah, senpai. Kita harus mengusut ini dengan kepala dingin." Naoto menaikkan topinya, berusaha mengambil kontrol walaupun hanya sedikit. "Apa kau tahu, apa yang disebut-sebut sebagai dosa di dunia ini? Apa itu sebuah hal absolut yang mengatur dunia ini?"

Pria berbalut putih itu menaruh tangannya dalam posisi berpangku, kembali menarik perhatian para anggota Investigation Team di balik topengnya. "Kenapa kalian tidak bertanya pada sang pembuat dosa sendiri?"

"..."

(Semua melihat ke arah Yukiko dengan pasif.)

Dengan satu tarikan menelan ludah, Chie angkat bicara. "Yukiko—apa itu benar? Kau membuat dosa, katanya?"

Yukiko menggeleng, "A-Aku tidak tahu apapun, Chie..." perlahan tangannya naik, memegangi kepalanya, "Aku ada disini, dengan Izanagi dan, dan—aku disebut-sebut pendosa, aku tidak tahu apa..."

"Bahkan pemilik dosa pun tidak mau mengakuinya sendiri?" Philemon berdehem sekali. "Kalian tidak malu, menjadi temannya?"

"Banyak omong kau, tembok." Kanji sebenarnya sudah tidak segan dengan orang ini, mungkin selain dari lirikan tajam sang detektif wanita, ia takkan berhenti.

Sementara, beruang berparas polos seakan tidak membaca keadaan bicara, "Yuki-chan melakukan kejahatan, kuma? Kenapa Yuki-chan, bukan kita, kuma?"

Sang anak manager Junes kembali bicara, "Amagi tidak hadir saat kita diwawancarai Elizabeth itu, kan? Apa itu sebabnya?"

Hening merayap.

"Tidak, masih belum jelas kalau soal itu, Hanamura-senpai." Naoto menjelaskan kembali apa yang ada di pikirannya. "Kita cuma melihat separuh dari kejadian itu, bagaimana akhir dari sana? Kita tidak tahu, setelah Elizabeth itu mengontrol Erebus—apalah makhluk itu, apa yang terjadi?"

"Ada benarnya juga, Naoto-kun..." Rise mengangguk setuju.

Yosuke menghela nafas, entah tanda mengerti atau tanda masih kebingungan. "Kalau begitu dimana kita harus mencari? Tidak ada Shadows disini—"

"Shadow terakhir itu Shadow Naoto-kun, kan? Seingatku, semuanya datang bergantian seperti saat di Midnight Channel..."

"Tunggu, sesuai urutannya, berarti Shadow berikutnya adalah..." Chie berpose seraya berpikir.

"...Kunino-sagiri?" sang navigator menaikkan alisnya. "Monster dengan, err—love and peace? Shadow Namatame itu?"

Yukiko mengiyakan, Philemon daritadi tidak bicara lagi, membiarkan mereka tenggelam di forum mereka sendiri sambil menyilangkan tangan—ekspresinya tertutup oleh topeng.

"Kau dengar itu, tembok?" Kanji berujar, menghardik Philemon.

Chie melanjutkan, "Kami akan mencari apa yang disebut kalian semua 'dosa',"

Philemon memiringkan kepalanya beberapa derajat ke kanan, "Begitu? Carilah. Aku tidak bisa membantu apa-apa saat ini."

Pria itu berjalan ke sisi meja, membuang pandang ke arah balkon luas membentang Junes, melihat atap-atap di kota Inaba yang berlapis kabut tipis dan sunyi.

"Aku rasa kalian akan menemukan penemuan baru..." pria berbalut putih itu menoleh ke arah belakang, ke arah para anggota Investigation Team yang saling pandang satu sama lain. "Dan penemuan baru itu akan mengubah kalian—"

BRAKKKKK

Sebuah tremor kecil sampai ke kaki-kaki mereka, seperti sebuah benda tengah hancur lebur di suatu tempat. Bukan hanya hancur, sepertinya benda yang dimaksud disini rata dengan tanah karena menimbulkan getaran yang cukup kuat.

"A—Apa itu, kumaaaa!" Teddie bersembunyi di balik meja.

"Rise-san, coba kau scan." Naoto menitah, ia menurunkan topinya sedikit.

Sang navigator segera bertindak, ia memanggil Kanzeon. Anggota lain menyertai dan mengelilinginya.

(Sementara, Philemon sudah hilang dari tempatnya, hanya kupu-kupu biru bisu yang tinggal terbang di orbitnya tanpa jeda.)

Menyadari ketidakadaan Philemon, antara Kanji, Chie dan Yukiko saling tolak-menolak posisi. Mengukur bahwa Philemon—sosok pria yang eksentrik tanpa juntrungannya itu mungkin saja musuh dalam selimut dalam rentetan panjang ini. Mereka bertiga langsung terhenti mendengar navigator membunyikan sinyal.

"Tunggu—ada sesuatu—Shadow, Shadow besar di radius 5 kilometer..."

Naoto menyilangkan tangannya di depan dada, "Lima kilometer...Samegawa?"

"Coba periksa peta Inaba di lantai bawah Junes!" Yosuke menunjuk arah lift. "Ayo, cepat!"

.

Sungai Samegawa,

Belasan menit berlalu dengan larinya mereka dari Junes, tetapi Shadow yang disebut tidak ada di tempat yang disebutkan. Peta Inaba benar menyebutkan Samegawa, namun mereka tidak menemukan apa-apa, hanya beberapa Shadow kecil yang masih bisa ditebas dengan beberapa hitungan.

"Apa benar di sini?" Yosuke menggaruk kepalanya. "Sepertinya kita harus berjalan lagi ke—"

Yukiko menatap jauh ke arah jalanan kecil yang menuju ke arah berlawanan dari mereka datang, "Rumah Souji-kun...dekat dari sini, kan?"

"Jangan-jangan—Shadow itu di sana, kuma...?" Teddie menggigit jari tanda panik.

Mata Rise membelalak, "Nanako-chan...tunggu, dia tidak punya Persona, jadi tidak ikut hitungan, kan?"

Chie sudah mulai berlari, "Ayo ke rumah Souji-kun—kalau rumahnya yang runtuh dan waktu kembali sebelum berkabut, Nanako-chan bisa—"

(Setelah ini, mereka menyesali mengetahui tempat pertemuan tersebut berada.)

.

Beberapa menit berselang, menuju ke Dojima Residence,

Benar saja, dugaan mereka tepat pada bull'seye.Rumah keluarga Dojima sudah luluh lantak, hanya beberapa puing tiang tegak berdiri, namun di sekitar jalanan banyak lubang dalam, sangat dalam, bahkan ada beberapa lubang menghitam—

Terdapat bulu-bulu sayap—tidak, seperti cabikan kain tipis berwarna putih dan tetesan darah segar di atasnya.

"Na-Nanako-chan!"

"Tidak mungkin, Satonaka! Nanako-chan tidak mungkin ada saat waktu Shadow begini!"

"Lalu darah ini...dan lubang menghitam ini kerjaan siapa, senpai...?" Kanji mendengus.

Cahaya terpusat turun di sekitar mereka secara mendadak, beberapa bulu sayap teratur turun bagaikan hujan, dalam hitungan cahaya, sesosok besar yang terbang turun dari langit, berwarna legam dengan pakaian putih yang berukir Love and Peace secara simbolik yang—

—tersayat terbuka oleh sesuatu hitam.

"Sayatan hitam..." ucap Naoto pelan. "Ada yang sudah mendahului kita di sini,"

Yukiko menatap sang detektif, "Maksudmu apa, Naoto-kun?"

Tanpa menjawab, Naoto hanya menunjuk arah Kunino-sagiri sekali lagi, awalnya hanya ada sosok Shadow itu disana, namun mendadak terlihat sosok lain yang dengan kejam menusuk Kunino-sagiri, mencabik-cabik walaupun ia sudah berusaha menghindar. Kunino terbang lagi ke udara, sementara sosok pencabik kejam itu menampakkan sosok yang sudah mereka kenali.

Tangan-tangan kurus yang terlihat merah darah tanpa kulit, tangan jenjang tajam yang sudah menghitam layaknya langit legam itu keluar dengan mengerikan dari kain-kain putih, sosok yang sudah bisa ditilik membusuk seperti kelihatannya—

"Izanami-Ookami...?" pekik Yosuke melihat sosok tersebut. "Tapi dia—bukannya partner yang—"

"Itu nona peri, Yosuke-niichan."

Mereka berenam terpaku di tempat, suara ringan itu seakan membekukan mereka—suara kecil yang biasa mereka dengar. Tak kuasa melihat ke asal suara, gadis itu menampakkan diri, gadis yang biasa tersenyum tanpa beban itu kini berada di depan mereka, tersenyum seperti biasa. Walau kini bedanya, Izanami-Ookami berdiri tegak di belakangnya tanpa maksud apa-apa.

Yukiko dengan lembut membelai rambut Nanako, perasaan shock ditambah mata masih tertuju ke arah mantan musuh mereka.

"Nanako-chan..." suaranya tertatih, "Apa itu Persona-mu?"


.

To be continued