Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.
Rating: T untuk ekspilisit.
Special Thanks: Readers, Review-ers, yang numpang lewat. Maaf saya tak bisa memberikan apresiasi lebih.
Genre: Adventure, Suspense
Warning(s): Multichapter, drabble, character death, mungkin saja tidak diskontinu.
A/N: Baik, saya masih hidup dan saya emang WB.
Chapter ini akan menjadi chapter yang sangat sangat memuaskan (lebay), karena saya memutuskan untuk merangkumnya jadi satu daripada memutusnya jadi beberapa bagian. Chapter ini akan menjadi turnabout climax yang saya pastikan menjadi sesuatu yang seru. Oh ya, rekomendasi buat adegan battle Yukiko dengan tamu spesial kita yang akan terjadi nanti, adalah lagu milik komposer Persona, Shoji Meguro yaitu I'll Face Myself -Battle- yang ada di album Persona 4 Reincarnation,
Dan—yah, saya ingin dengar komentar soal chapter fail ini—yang akhirnya saya selesaikan akibat mumet belajar Pascal.
Akhir kata, stay tuned!
.
"Nanako-chan—itu Personamu?"
Bagaikan genderang, bagaikan sesuatu yang samasekali tidak terngiang, bagaikan hal yang jarang. Dojima Nanako yang disangka mereka bukan siapa-siapa tanpa sengaja sudah masuk ke dalam perputaran dosa. Bahkan, tanpa suara Persona milik gadis kecil itu dapat menyeimbangi sang Kunino-sagiri, musuh lama mereka. Tanpa berkata lagi, melihat Izanami-Ookami masih bergulat sengit, yang lain pun memberi tangan—
Rokuten Maoh menghujam petir, Yamato Takeru menyerang dengan kegelapan, Susano-O meredam dengan angin serta Suzuka Gongen dan Kamui berparade es—sang pemilik Izanagi hanya membantu serangan penutup sebelum akhirnya Kunino-sagiri habis dalam cakaran Izanami.
Ketika suasana mulai menghening, Nanako tetap tersenyum dan seluruh yang dewasa darinya masih diam seribu bahasa.
Kenapa Nanako mendapat Persona?—Kenapa Nanako harus ikut terluka disini?
Yukiko kala itu mengambil kembali kunci—Boundary Key yang selama ini ia tidak hiraukan—kini telah menyala merah darah.
"Senpai, pintu terdekat di sini berarti—rumah Dojima-san, kan?" Rise memecah keheningan. "Apa jangan-jangan…kamar Souji-senpai?"
A Lone Prayer
2011-2012 (c) Kuroi-Oneesan
.
—Colosseo Purgatorio, Heaven's Feel
Teddie berusaha menjelaskan pada Nanako, dan Nanako memberikan penjelasan pada mereka semua soal Persona yang ia miliki ketika memasuki kediaman Dojima. Mereke berniat rehat sejenak sebelum membuka pintu kamar Souji dengan Boundary Key.
(Bukannya mereka banyak waktu, hati mereka belum siap.)
Sementara, Yosuke dan Kanji mencoba mengontak Adachi sekaligus mencari keberadaan Margaret yang sudah hilang dari mereka sejak tadi. Sisa dari mereka mendengarkan penjelasan Nanako. Gadis kecil itu bilang bahwa ketika ia tertidur di ruang tamu, ia sudah bersama nona peri—maksudnya, Izanami—dan rumahnya kosong selain keberadaan dirinya, bahkan ayahnya tidak ada. Namun Nanako entah kenapa berlagak seperti biasanya, terlebih lagi, gadis kecil itu mengontrol Persona-nya dengan mudah.
Boundary Key, kunci yang diberikan Igor, kunci yang menjadi awal perjalanan Yukiko, kunci yang telah membuka berbagai pintu dan sampai kini, berhasil mempersatukan Investigation Team tanpa keberadaan sang leader. Namun, pintu yang sekarang harus ia buka adalah sesuatu yang sangat berat—pintu kamar Souji Seta.
Apakah kenyataan, akhir menuju akhir, ada di sana?
"Yukiko?"
"Aku ingin ke atas sebentar..."
Chie memanggil nama gadis berambut hitam yang sudah mendaki tangga tersebut dengan kunci di tangan. Chie hanya membiarkan Yukiko pergi, namun ada seseorang di depan kamar yang ia tuju tengah berdiri tegap seperti memeriksa—
—Shirogane Naoto.
Detektif itu menyadari bahwa seseorang datang, sehingga sang detektif wanita itu menghadap sang senpai yang lebih dewasa, dengan topi di tarik sedikit ke bawah.
"Sudah siap, senpai?" ucapnya, meyakinkan sang pemegang kunci. "Aku yakin hatimu tidak sekuat yang terlihat di luar, namun ada satu hal yang ingin kusimpulkan, sebelum kau membuka pintu ini."
"Ada apa, Naoto-kun?"
"Philemon sepertinya orang dibalik ini semua." Naoto menjelaskan. "Pria itu terdengar tahu segalanya, dan dari nada bicaranya, ingin kita mundur dari pencarian kita. Sungguh nada yang bersahabat."
Yukiko mendesah pelan, ia mengusap sedikit wajahnya dengan sebelah telapak tangan.
"Aku juga tidak yakin kalau pintu ini adalah jawaban yang kita inginkan." Detektif itu meneruskan. "Namun kita tidak punya pilihan lain, setidaknya, untuk membuka kebenaran dunia ini..."
"Ya, aku tahu itu." Yukiko mengangguk. "Hanya...aku lelah."
"Senpai, kau tidak punya jawaban—kau tidak punya alasan apa-apa dalam mencari Souji-senpai, bahkan menyatukan kita semua lagi?"
"Naoto-kun, aku..."
"—Senpai. Aku tidak mau mendengar jawaban tidak yakin lagi."
Rise muncul dari beberapa tangga di bawah, menampakkan senyumnya. Naoto yang baru menyadari obrolan mereka disadap sempurna oleh sang idol hanya menghela nafas pendek. Sementara Yukiko tampak tersentak melihat Rise, dan juga perubahan ekspresi pada Naoto.
"Jawaban hidupku...ya?" Yukiko memutar kunci di tangannya. "Sesaat sebelum aku menerima kunci ini, aku juga ditanya seperti itu, hanya saja jawabanku—belum ada."
Rise berkacak pinggang sebelah, "Tenang saja, senpai! Kita semua ini bersama, kan?" gadis itu berucap dengan nada lumayan tinggi. "Chie-senpai dan Yosuke-senpai pasti akan menyahuti senpai untuk tidak menyerah, kan?"
"Hmph, kadang kalimatmu ada positifnya juga, Rise-san."
"Mou! Apa maksudmu, Naoto-kun!"
Apapun yang terjadi, memori ini harus kuterima.—Pasti akan kutemukan jawabanku.
x x x
(Ketika pintu terbuka—semuanya terlihat terang.)
"Kalian harusnya bahagia bisa kuundang ke upacara pemakaman pemimpin kalian tersayang ini—" tawanya memekik, sangatlah puas. "Wild Card Souji akan kupakai untuk menciptakan awal yang baru! Awal yang lebih bahagia dari semua akhir!"
Sebuah kartu muncul dari dalam Compendium Elizabeth, kartu indah yang memiliki tujuh warna—
"Tidak—JANGAN!"
"Dalam hati kalian, kalian sangat, SANGAT menginginkan sosok Souji! Itulah KEHANCURAN kalian! Yang membawa kartu ini lemah dan mudah kukendalikan!"
Elizabeth membawa kartu tersebut ke udara. Para sisa anggota yang dihempaskan Erebus berusaha meraihnya, walaupun usaha mereka tidak tersampaikan—
Kartu tersebut menguraikan cahaya besar, menuju ke arah Great Seal yang disebutkan Elizabeth, menyamarkan aura kematian yang menyesakkan dari tempat tersebut ke dalam ruang cahaya. Namun—
"Amaterasu!"
Yosuke dengan nafas yang terputus melihat api menginterupsi arah sang surai perak. Naoto, Chie dan Teddie berusaha berdiri kembali, melihat seorang dari mereka datang tiba-tiba, darimana gerangan ia datang? "A...magi...?"
"Rokuten Maoh!"
Sesosok raksasa menyambut Erebus, menahan makhluk berkepala kembar hitam itu sejenak. Rise yang terbangun lebih telat memperhatikan sang pemilik Persona lamat-lamat dan memproses apa yang terjadi—
"Kanji-kun?" panggil Rise pelan.
"Di luar sana, Inaba meranggas, tahu?" Kanji berucap dengan nada tidak enak. "Semuanya menjadi seperti kuburan hidup terselubung kabut, dan ketika aku menghubungi kalian, hanya Amagi-senpai yang mengangkat dan kami mencari kalian..."
"JELASINNYA NANTI DULU, AYO KITA TOLONG AMAGI DAN JUGA PARTNER!" sahut Yosuke lantang.
Sementara, Yukiko berusaha keras agar Elizabeth yang terlihat tidak segan dengan kehadirannya dengan keinginan membunuh luar biasa tidak menyentuhnya dengan berbagai serangan dan pertahanan dengan Amaterasu yang ia miliki. Elizabeth hanya menyerang dengan menggunakan Persona Pixie, setidaknya sisa anggota lain menyelamatkan Souji dan menghentikan Wild Card—
"Yamato Takeru, Vorpal—"
"Michael, Heaven's Blade!"
—Kejadian itu terlihat jelas. Setiap detiknya terlihat sangat, sangat, jelas. Di iris mata abu-abu yang terbuka tepat ketika teman-temannya memanggil. Di telinga teman-temannya ketika semuanya berusaha meraih. Di benak sang gadis pengguna Yamato Takeru yang berusaha menghentikan sang gadis perak. Suara tajam pisau pedang yang menusuk dalam kain serta daging—
"YUKIKO!"
(Benda yang keluar, semerah warna cardigan kesukaannya.)
—Teriakan memecah keheningan. Darah keluar tanpa akhir. Gadis penyuka warna merah itu terkulai di tanah, tanpa nyawa. Sang wanita bersurai perak memanfaatkan momentum, Wild Card yang terlepas dari pegangan, terlepas akibat teriakan pilu sang pemilik kartu dimanfaatkan—
"LEPASKAN!" pekik Chie, lagi. "KAU MELUKAI—"
(Namun, Elizabeth sudah pergi—)
Setelah Elizabeth pergi, tidak ada suara di antara mereka. Teddie berusaha segenap tenaga melakukan healing. Sudah tidak ada nafas di dekat wanita muda tersebut. Hati yang telah menghitam, semangat yang telah padam, segala kesedihan yang menikam, semuanya meredam.
"Yukiko...sudah tiada."
"Usaha kita tidak berguna."
"Sensei tidak kembali—"
"Apa artinya? Kita percuma kembali, di luar tidak ada apa-apa."
"Untuk apa Persona kita?"
"Kalkulasi bodoh, semua ini—!"
Seketika, seluruh dari mereka mengeluarkan suara hati yang sama—
(Andaikan semua rangkaian ini—Persona ini—semuanya—tidak pernah ada.)
x x x
"Dosaku..." Yukiko berucap, seraya menatap kedua belah tangannya yang kosong. "...adalah karena aku penyebab segala ini terjadi...?"
Seperti pintu-pintu sebelumnya, mereka tidak muncul kembali di rumah Nanako, melainkan tempat lain. Kali ini, mereka sampai di Hill Overlooking Town, seperti biasa juga Philemon berdiri di sana, di tengah dimana angin berhembus pelan dan lembut merayap kota Inaba. Namun kali ini, Chie dan Rise menahan Yukiko untuk mendekati Philemon. Naoto, Kanji dan Yosuke berada di baris depan. Lalu Teddie bersama Nanako berada di baris paling belakang, dengan Teddie memeluk Nanako.
"Wah, wah. Tampaknya kalian semua mencurigaiku, eh?" Philemon tidak menoleh, wajahnya masih terlihat menatap kota yang kala itu tenang. Inaba memang selalu tenang, kota bertajuk pedesaan yang memanjakan walau sepi.
"Siapa kau sebenarnya?" Yosuke memulai, "Aku merasa ganjil ketika Naoto bilang kau tampak tahu segalanya."
"...Ah, kalian sebegitu inginnya mengetahui makhluk hina ini?" Philemon tertawa kecil. "Bagaimana dengan sedikit permainan, hm? Kalian tampak capek dengan segala kerumitan ini."
Entah karena memang lelah, Yosuke tidak lagi berkata, langsung saja ia mencengkeram pria berbalut putih tersebut dengan kedua tangannya yang gemetaran. Perilaku raskalnya tersebut tidak dihentikan siapapun, melainkan seperti didukung oleh semuanya. Teddie menyuruh Nanako untuk tetap berada di belakangnya.
"Aku bilang, siapa kau, pengecut!" ucap Yosuke.
Philemon tetap diam, ia tidak menatap Yosuke seperti yang ia tampilkan dari topengnya, ia menatap semua hadirin di sana kecuali Yosuke, jelas sangat merendahkan sang pemuda yang akrab dengan headphone oranyenya tersebut.
"Kalian masih haus kebenaran? Sebenarnya yang kalian cari cuma si picik Souji, kan? Buat apa kalian mencari yang sudah pergi? Sudahlah. Kalian anak kecil tidak bisa jadi dewasa, hm?"
Hendak Yosuke melayangkan tinju, namun sang pria menjentikkan jari—dan segalanya menghilang, kecuali Yukiko. Gadis merah itu hanya menatap Philemon yang dengan mudahnya memindahkan mereka lagi di suatu tempat yang tidak asing. Hamparan langit malam yang membentang luas, Yukiko berdiri di tengah podium yang terbuat dari porselen yang dikelilingi tujuh sampai delapan patung malaikat berwarna putih.
"Ini...dungeon Nanako-chan?" bisiknya parau.
Kenihilan disekitarnya terasa nyata, lagi. Sama seperti saat ia menjejak pertama kali ke dunia dimana Shadow telah menjelma menjadi manusia, dunia tanpa Souji sebagai pahlawan, dunia yang semata-mata dibuat belum diketahui alasannya oleh mereka. Awalnya memang terasa kosong, namun sosok karismatik Philemon masih disana, tepat beberapa meter di depan Yukiko, masih mengenakan topeng dengan senyum tak lekang.
"Fuh," Philemon menepuk kedua tangannya serta membenarkan kerahnya. "Kalian mengetahui kebenaran, dan ini balasan kalian kepada orang yang sudah memberi kalian kebenaran?"
"PHILEMON!" pekik Yukiko. "Kau—dimana teman-temanku!"
"Kau tidak lihat? Mereka ada disini."
Jentikan jari sekali lagi dilantunkan, patung-patung pajangan itu berganti menjadi seluruh teman-temannya, masing-masing ditahan oleh pedang patung malaikat dan dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Kau tahu, Amagi Yukiko. Kaulah dosa yang diakibatkan mereka," Philemon terkekeh, menyita perhatian Yukiko pada patung di sekelilingnya. "Mereka yang mempunyai Persona, menolak Persona mereka sendiri demi mendapatkan lagi kehidupan bersama kau dan Souji Seta dan juga dunia akibat Elizabeth menyempurnakan kekuatan Shadow untuk rencananya, memunculkan dunia yang tidak seharusnya ada, sebuah paradoxdimana Shadow menguasai dunia."
Yukiko membisu.
"Hei, aku punya ide bagus. Bagaimana kalau kau membunuh mereka semua?" Philemon menghampiri Yukiko, menawarkan tangan harga penawaran. "Bukan hal yang buruk, bukan? Mereka yang menyebabkan dosa, dan mereka ingin mati seperti kau dan Souji, pilihan yang bagus, hm?"
—
"Jangan dengarkan dia, Yukiko!"
"Chie...?"
"Senpai, jangan, senpai! Kita sudah sampai sejauh ini!"
"...Rise-chan?"
"Kita kesini bukan untuk mati, Amagi!"
"Yosuke-kun..."
"Senpai, hajar saja badut itu! Jangan biarkan dia menghancurkan mimpi kami!"
"Kanji-kun..."
"Kami memang kangen pada sensei, kuma! Tapi kami juga ingin hidup, kuma!"
"Teddie?"
"Kuatkan hatimu, senpai."
—
"Kau bisa mendengarnya?"
Yukiko tidak menyadari ia berada di Velvet Room sejak tadi, suara-suara memanggilnya setelah ia mendengarkan celotehan Philemon. Kini kakek tua berhidung bengkok ada di depannya memegang sebuah buku tebal bercetak Persona Compendium.
"Semua orang melakukan perjalanan demi menemukan kebenaran mereka sendiri, sepahit apapun yang mereka akan temui," Igor tertawa kecil. "Sama sepertimu juga, nona muda."
Igor membelai halaman tengah buku tebal tersebut, mempersembahkan sebuah kartu bercahaya pada Yukiko. Boundary Key yang selama ini ia pegang berpindah tangan ke jemari pucat Igor.
"Sekarang pergilah...hapus semua yang menghalangi jalanmu..."
—
PLAK
Tangan terbuka Philemon diusirnya dengan sekali tepukan kipas kesayangannya.
"Jadi kau lebih memilih untuk menentangku? Pilihan yang bijaksana...juga nekat."
(Namun kilat di mata Yukiko tidak berubah,)
Philemon naik ke udara dengan megahnya, langit malam menyambut sang pemuda putih itu dengan tenang. Seperti yang bisa Yukiko duga, Philemon menampakkan warnanya—sebuah kartu untuk pemanggilan Persona sudah di genggamannya, "Datanglah, Izanagi-Ookami!"
Gentar sedikit, Yukiko memantapkan langkah, memasang ancang-ancang siap dengan kipasnya.
"Aku memilih Persona yang bagus, bukan?" ujarnya. "Kau siap melawanku?"
Yukiko tidak menjawab,
"Kalau begitu biar kumainkan serangan pembuka, Garudyne!"
Genderang pertandingan dibunyikan, segara angin mulai menabrakkan arah ke sang gadis penyuka merah. Dengan mahir ia berkelit, menampilkan warna Persona-nya-
"Rokuten-Maoh, Ziodyne!"
Dilawannya angin dengan serangan gencar listrik, namun sang lawan tak kalah cerdik dalam memainkan apa yang ada ditangannya. Sesaat hujan petir reda, disambutnya lagi Yukiko dengan Izanagi-Ookami.
"Niflheim!"
"Ugh—" Es, hal yang dibenci Yukiko. Namun karena Persona yang ia pakai menggantikan Rokuten Maoh, ia tidak menderita cacat sedikitpun dan keluar dari bongkahan es dengan prima. "—Suzuka Gongen, Heaven's Blade!"
Sang Persona penyandang Arcana kereta kencana melompat maju dengan dua mata pedangnya, mendekati sosok putih tak tergoreskan Izanagi. Berkelit sejenak disana, hingga akhirnya Izanagi berhasil sedikit ia pukul mundur.
"Izanagi-Okami, Mind Charge!" pertandingan memanas dan memuncak. Philemon hendak mengeluarkan senjata pamungkas, Yukiko tak punya pilihan selain melindungi diri.
"Change, Yamato-Takeru!" Yukiko memukulkan tarotnya. "Megidolalon—!"
"Kurang cepat, Amagi Yukiko!" teriak sang lawan, "Megidolaon!"
Nuklir milik sang pemulai pesta sudah meledak lebih dahulu memenuhi arena, menyeret sang gadis ke pinggir ring. Dengan luka mental yang dideritanya nyaris ia tidak mampu maju lagi menantang sang penjamunya, Yamato-Takeru setidaknya sudah mengurangi penderitaan yang harus ia alami akibat serangan barusan. Philemon hanya melayang rendah, hendak meluncurkan serangan berikutnya dengan Persona serba sempurna Izanagi-Okami.
(Persona itu, Persona milik 'dia'—orang yang ingin ia capai.)
"Kamui, Diarama." Digapainya lagi tarotnya, mulai menyembuhkan diri.
Philemon hanya tersenyum simpul, "Kau pintar memanfaatkan situasi juga, Amagi." Ia menepukkan tangannya sekali, memanggil tarotnya kembali. "Narukami!"
"Izanami-Ookami, Fury of Yasogami!" teriaknya, mencoba melawan awan petir yang menuju arahnya. Sekali dipanggil, Izanami bertemu dengan Izanagi yang melesat, jemari hitamnya mencengkeram Persona putih tersebut, tidak mengindahkan bagaimana ia akan berontak. Menahan rasa sakit masing-masing, kedua petarung maju, mulai bertemu dalam kontak fisik.
"Change—" Yukiko merubah alur, "—Amaterasu!"
Bersama Persona-nya, Yukiko mengepakkan sayapnya.
(Sang burung merah keluar dari sangkarnya, bulu-bulunyanya berpendar putih tertimpa sinar mentari yang seakan menyambutnya.)
Kipas ditangan di arahkannya tepat ke daerah yang ditujunya, yaitu sang kupu-kupu penyendiri yang sayapnya mulai patah lekang beban.
(Philemon tak kuasa mengelak, sama seperti Persona-nya yang tak sanggup menahan serangan langsung Amaterasu.)
PRAK
Pecah, topeng Philemon retak dan satu persatu pecahannya luruh akibat pukulan hook telak Yukiko menggunakan kipasnya. Menampilkan siapa dibaliknya, sosok yang sama sekali tidak ingin dilihatnya saat ini. Rambut abu-abu teratur, iris tajam berwarna abu-abu dan polesan senyum yang tulus—
(Burung itu akhirnya bertemu dengan sang kupu-kupu.)
"Kau..." lirihnya, "Souji—kun?"
Gadis itu terjatuh di lututnya, kipas masih ditangannya, jemarinya gemetar, pupilnya membelalak menatap ke celah topeng kupu-kupu tersebut. Pria yang selama ini ada, pria yang dianggapnya sebagai awal dari perjalanannya di dunia dosanya, pria yang kala tadi mengkhianatinya dan mengarahkan pedang, kini terbuka bahwa dialah sang raja—
(Sang kupu-kupu hanya tersenyum miris.)
"Hai, Yukiko."
.
To be continued.
