Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.
Rating: T untuk ekspilisit.
Special Thanks: Readers, Review-ers, yang numpang lewat. Maaf saya tak bisa memberikan apresiasi lebih.
Genre: Adventure, Suspense
Warning(s): Multichapter, drabble, character death, mungkin saja tidak diskontinu.
A/N: Chapter ini akan pendek, karena merupakan bridge dari arc Colosseo menuju arc Final Door. Sebelum Final Door, akan ada sedikit jeda filler yang menceritakan keadaan anggota IT sekarang tanpa Philemon. Akhir kata, enjoy! xD
A Lone Prayer
2012 (c) Kuroi-Oneesan
—Colosseo Purgatorio, Edelweiss
Ketika topeng sudah terbuka, beginilah adanya. Gadis itu terjatuh di kedua lututnya, membiarkan senjatanya menyentuh tanah dengan indahnya. Derai air mata mengucur dengan derasnya, sementara pemuda di hadapannya diam tanpa kata, hanya senyum terbuka. Sosok yang selama ini menjadi penyokongnya, musuh dalam selimutnya, tidak lain tidak bukan adalah—
"Yukiko," suara itu memanggil dengan jelas.
(Kupu-kupu itu terbang menuju sang burung yang terhenti. Angin masih berhembus kencang menghalangi perjalanan mereka. Walau langit tatkala pergi, mereka kelelahan untuk mencapainya.)
"Souji-kun...kenapa—kau?"
"Aku bukanlah Souji yang kau kenal," helanya. "Aku adalah sosok 'Souji Seta' yang sudah tidak memiliki apapun. Diriku adalah 'sisa' dari orang yang kau cintai—yang disegel di Great Seal oleh Elizabeth."
Yukiko yang tadi menunduk kini menengadah, namun tak kuasa berdiri di atas kakinya sendiri. Menatap Souji di sana yang tidak lagi mengenakan kulit topeng. Pemuda itu tersenyum, kekurangannya seakan ia tidak memiliki ekspresi, seakan itu semua hanya polesan semata.
"Kau tahu, Universe Arcana memiliki berbagai guna. Salah satunya adalah untuk mengabulkan permintaan yang paling dari yang paling." Souji menyerahkan sebelah tangannya kepada Yukiko. "Waktu terus berulang, Souji Seta selalu mengalami rangkaian kejadian sama hingga hari ini. Ia meminta untuk dipertemukan lagi dengan dunianya, padahal ia sudah tidak ada di sini."
Pria bergelas abu-abu tipis itu masih menjaga tangannya di depan Yukiko, menunggu Yukiko untuk mengambil tangannya. Gadis itu tidak berkomentar, tidak juga bereaksi. "Amagi Yukiko, bisa kubilang semua ini ada karena keinginan terakhir Souji Seta sebelum dirinya tersegel. Keinginan untuk lepas dari takdir di segel, keinginan agar semuanya berjalan sebagaimana normal."
Air mata masih mengalir di pelupuk mata hitam pewaris tunggal Amagi ryoukan tersebut. Cerita ini bagaikan buku bergambar baginya. Ia sulit menerima kenyataan bahwa dirinya bukanlah Amagi Yukiko yang sebenarnya, melainkan sebuah 'individu' yang dibuat dalam dunia setelah Souji tiada.—Dunia di mana Souji menjadi sosok absolut sebelum kuasanya di segel dalam Great Seal oleh Elizabeth. Yukiko yang asli sudah tewas ditikam Erebus, semuanya jatuh dalam keputusasaan ketika itu. Souji-lah yang membuat dunia dalam sangkar Shadow ini berarti, membuat anomali bernama Yukiko ada dan harapan bahwa segalanya bisa tertuntaskan—agar dunia tidak berada dalam sangkar Shadow lagi.
"Ambil tanganku, Yukiko. Jangan ragu."
.
Terpejam, kuambil tangannya yang dingin. Aku tidak berani menatap matanya yang seakan transparan, bisa melihat apapun di dalam benakku bagai membaca buku. Kubuka mataku, dan pemandangan jauh berbeda. Velvet Room kini berada, tangan dingin Souji masih menggenggamku erat seperti tak ingin diriku lepas.
"Oho, kau membawa Boundary Vessel bersamamu, tamuku." Igor, pria tua berhidung bengkok itu terkekeh. "Dengan ini, Boundary Key dapat disempurnakan, dan jalan menuju kebenaran akan terkuak."
Kebenaranku, aku sudah mengetahuinya dan tidak akan melihat lagi ke belakang seakan aku tidak pernah mengetahuinya. Kebenaran yang dimaksudkan Igor mungkin kebenaran lain, kebenaran yang dicari oleh Souji sebelum perjalanannya terhenti di sana.
Aku memejamkan mataku lagi, beberapa arus balik memoriku tergambar di dalam pikiranku. Menemui Rise, Teddie, Naoto, melawan Shadows, Yosuke, Chie, Kanji bahkan Adachi dan Margaret. Kejadian itu berlalu cepat bagai mimpi di tempat tiada ujung. Giliranku untuk menyelamatkanmu, kan, Souji-kun?
Aku mencuri pandang ke sisi mataku, Souji ada di sana, tersenyum padaku. Ia mengambil sebelah tanganku yang ia tidak genggam, kini kedua tanganku ia pegang dengan erat.
"Pergilah, Yukiko. Semoga kau bisa menyelamatkan diriku."
(Dan sang kupu-kupu pergi bagai helaian bunga gugur menyambut musim dingin.)
.
To be continued. - Next Arc ~ Final Door
