Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.
Rating: T untuk ekspilisit.
Special Thanks: Readers, Review-ers, yang numpang lewat. Maaf saya tak bisa memberikan apresiasi lebih.
Genre: Adventure, Suspense
Warning(s): Multichapter, drabble, character death, mungkin saja tidak diskontinu.
A/N: Yak, seperti yang saya janjikan, sebuah chapter filler. Setidaknya pasti pembaca bingung, siapa Yukiko di cerita ini?
Kalau ada yang bertanya, kemana aja saya selama ini-err, anggap aja saya malas /plak
.
—Hall of The Fallen: ~Prelude of Finale~
Aku menemukan diriku dan yang lain kembali dalam keadaan utuh ke tempat di mana semua berawal, di depan kuil Tatsuhime tanpa tahu sejak kapan kami sudah berdiri di sana, menatap langit dan jalanan sepi. Mereka hanya tersenyum kepadaku—walau senyum Chie terlihat miris, miris sekali. Yosuke menunjuk Aiya dan mengajak kami semua masuk walau tak ada siapapun di sana untuk memesan makanan.
"Yukiko—"
"Biar aku saja yang bicara lebih dulu, Chie." potongku cepat ketika semua telah mengambil tempat duduk. Mereka pasti sudah mendengarnya di sana, tidak telingaku saja.
"Senpai, kami belum bisa percaya bahwa kau hanya karangan di dunia ini, sama seperti segalanya—sama seperti semua Shadow yang terulang." Naoto menurunkan topinya. "Kami mendengarmu, senpai."
Aku menarik nafas sejenak,
"Elizabeth mengganti Souji untuk menjadi Great Seal untuk menyelamatkan—orang yang sudah ada di sana sebelumnya. Souji 'dihapus' dari dunia ini, sehingga tidak ada Persona-user untuk membasmi Shadow setelahnya, dunia inilah realita yang terbentuk..."
Rasanya lidahku getir.
"Amagi Yukiko sudah meninggal saat kalian hendak menyelamatkan Souji saat itu." Cara diriku sendiri mengucap namaku terasa aneh. "Jadi... aku bukanlah Yukiko kalian. Hanya Yukiko dari dunia 'ini' yang dibuat untuk keperluan 'sini'."
"Senpai." Rise menaikkan tangannya. "Tapi kenapa—kenapa Senpai memiliki Izanagi? Kenapa kau yang mengingatkan kami?"
"Aku adalah anomali." Aku berucap lagi. "Aku hanya terbuat dari kalian—kalian yang kehilangan Souji, kalian yang kehilangan Amagi Yukiko, dunia ini merefleksikan keinginan kalian sehingga aku tercipta. 'Aku' adalah harapan kalian."
Kanji menggeleng. "Aku masih tidak bisa percaya."
Margaret mendecak. "Fenomena seperti ini memang pernah sekali ada; menurut catatan adikku, ketika pemilik Great Seal—Arisato Minato—telah memilih jalannya, teman-temannya tenggelam dalam kegelapan yang besar, dan mereka mengundang diri mereka sendiri ke dalam kenyataan bahwa segalanya belum berakhir. Mungkin ini seperti itu..."
"Ini belum berakhir..." sang detektif wanita berpangku tangan. "Jadi, dengan Elizabeth menggunakan senpai untuk mengganti tugas Arisato Minato-san, kita juga tenggelam ke keadaan yang sama? Kita tenggelam ke dalam keputusasaan dan Shadows 'bereaksi' terhadap permohonan kita?"
Rise menjentikkan jarinya, "Aah, aku ingat monster mata bulat pelangi itu mengatakan hal serupa, apa itu—yang menurutnya 'apa keinginan kita adalah keinginan mereka juga'?"
"Keinginan kita saat itu adalah Yukiko dan Souji-kun kembali...kan? Dan inilah yang terjadi?" Chie ikut menyimpulkan.
Tak lama sebuah kesepakatan terkumpul dalam satu meja, sama seperti hari-hari mereka berkumpul dan membicarakan seputar kasus aneh yang menyerang kota yang mereka cintai itu. Segalanya yang sudah terjadi takkan bisa ditarik kembali; segala yang telah dimulai harus diselesaikan, apapun yang mereka perbuat harus mereka tanggung sendiri kompensasinya.
(Mereka sendirilah yang menjadi penyebab munculnya segala anomali ini—nafsu dan keinginan sesaat merekalah yang menjadikan segalanya rumit.)
"Oh ya Amagi, kunci apa yang kau dapat dari Philemon?" tukas Yosuke segera ketika aura tegang mulai mengendur.
Yukiko membuka kepalan tangannya, untuk menemukan sebuah kunci yang kini berkilauan gemerlap—tidaklah warna monoton yang bercahaya sendiri, namun tujuh warna yang memendarkan kilaunya masing-masing, menyatu dan memancarkan keindahan semata.
"Ini adalah...Key of the Beginning—kunci ini akan membuka pintu menuju awal dari segalanya." Yukiko merapal apa yang diucapkan Igor di tempat tak berbatas waktu dan ruang barusan. "Dengan ini, kita akan menghentikan Elizabeth."
Semua yang di sana mengangguk, tak luput Margaret sendiri.
"Pintu apa yang harus kita buka sekarang?" tanya Rise penasaran
"...Rumah Souji-kun."
.
To be continued.
