.
.
.
Dragoste Eterna
.
.
.
.
Author : Gelda Lee
Genre : Fantasy, Romance, Hurt/comfort
ON-GOING
cast:
- Min Yoongi (BTS SUGA)
- Park Jimin (BTS JIMIN)
- Other BTS Members
- Other Kpop idol
Disclaimer: I don't own the cast, I just use their name for my story
"kalian tidak boleh saling jatuh cinta" bagaimana jika kami melanggarnya?
Chapter 4- The Prophecy
Screaming Woods, England- 12 Maret 1930
"Hahh… Hahh.." Jimin terengah saat memasuki hutan. Dia memang pernah berlari lebih jauh dan lebih lama dari ini, tetapi berlari sambil membawa seseorang itu jauh lebih melelahkan terutama jika orang itu terus memberontak. Yoongi melihat Jimin yang mulai kelelahan dan langsung melepaskan diri dari pelukan Jimin. dia berdiri dan langsung menampar Jimin. saking kerasnya, Jimin sampai jatuh tersungkur dan di pipinya ada bekas tamparan yang sangat jelas.
"sudah puas? Kau puas membunuh teman-temanku? Kau puas membunuh kaumku? Kau pasti tidak tahu rasanya kehilangan seorang sahabat yang sudah kau anggap keluarga.. DAN AKU TIDAK INGIN DITOLONG OLEHMU! KUKIRA AKU BISA MEMPERCAYAIMU, DAN INI BALASANNYA! KAU PEMBUNUH KEJI!" teriak Yoongi sambil melampiaskan seluruh kemarahan dan kesedihannya pada Jimin.
Yoongi menendang, memukul, dan melukai sekujur tubuh Jimin. Jimin sama sekali tidak membalas, dia hanya terdiam dan sesekali meringis saat mendapat serangan yang cukup keras dari Yoongi. Setelah beberapa menit dan tubuh Jimin dipenuhi oleh luka dan lebam, Yoongi berhenti. Dia menarik nafas dan menatap benci kearah Jimin.
"sudah selesai sweetheart?" Tanya Jimin sambil tersenyum. "kau.. bisa-bisanya kau masih tersenyum disaat aku sedang hancur begini. Kau puas melihatku tersiksa hah?!" geram Yoongi sambil menendang perut Jimin. Jimin meringis kesakitan, kemudian mencoba untuk berdiri dan mendekatkan dirinya pada Yoongi.
Yoongi sontak mundur untuk menghindari Jimin, tetapi Jimin lebih cepat. Dia langsung menarik tangan Yoongi dan memeluknya. "apa yang- lepaskan aku keparat!" teriak Yoongi sambil memberontak. Tidak menghiraukan perkataan Yoongi, Jimin malah semakin mengeratkan pelukannya. Perlahan-lahan Yoongi berhenti memberontak.
"hyung, aku tahu kau merasa kehilangan.. tetapi bukan cuma kau yang merasakannya. Aku tahu perasaan saat sahabatmu mati meninggalkanmu, bahkan saat keluargamu mati didepan matamu sendiri. Kau tidak sendirian hyung" gumam Jimin. Yoongi hanya terdiam.
"alasanku menyelamatkanmu, karena aku menyayangimu dan aku tidak ingin kehilangan dirimu..asalkan kau hidup, itu saja sudah cukup bagiku" ujar Jimin. Yoongi kaget mendengar perkataan Jimin barusan. 'namja ini.. menyayangiku?' pikirnya. "tapi-" Jimin langsung melepaskan pelukannya dan mengulurkan pistol milik Yoongi yang sempat diambilnya dari saku Yoongi, "kalau kau ingin balas dendam.. bunuh saja aku" ujar Jimin.
"m-mwo? Kau bercanda kan?" Tanya Yoongi. Jimin menggeleng dan memberikan pistol itu pada Yoongi. "bunuh saja aku, kalau itu memang keinginanmu. Aku tidak akan menyesali apapun.." ujar Jimin. dia kembali duduk dan memejamkan matanya, menunggu saat-saat dirinya untuk mati. Yah, dia tidak akan menyesali apapun karena setidaknya dia mati ditangan orang yang paling disayanginya.
Tiba-tiba, Jimin merasakan sesuatu yang hangat dan dia membuka matanya. Yang terlihat pertama kali adalah Yoongi yang memeluknya dan Jimin bisa merasakan bajunya yang sedikit basah, Yoongi menangis. "h-hyung?" ujar Jimin agak shock, masalahnya ini pertama kalinya Yoongi menangis didepannya.
"kau bodoh.. memangnya aku bisa membunuh seseorang yang sudah menyelamatkanku?! Dasar payah.." Gumam Yoongi sambil terus terisak. Jimin memberanikan diri untuk memeluknya dan mengelus rambut Yoongi, berusaha menenangkan namja yang lebih tua darinya itu. "yang terpenting sekarang kau aman hyung, aku ada disampingmu" gumam Jimin. Yoongi mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Yoongi mendorong paksa Jimin agar lepas dari pelukannya dan dia menghapus air matanya. "jangan katakan pada siapapun soal ini, arra?!" ancam Yoongi yang terlihat sangat lucu dimata Jimin. "aku mengerti Sweetheart" ujar Jimin sambil terkekeh sementara Yoongi hanya mendengus.
Jimin berusaha berdiri tetapi luka dan lebam yang dibuat Yoongi membuatnya sulit untuk bergerak. Yoongi hanya menatap Jimin datar, kemudian dia bergerak dan memapah Jimin. "kajja.." gumam Yoongi. Jimin tersenyum, sebenarnya luka di tubuhnya tidak terlalu sakit tapi dia sengaja berpura-pura kesakitan. Tidak ada salahnya kan melihat sisi manis dari (calon) pacarmu sendiri?
"aigoo, tumben sekali hyung mau membantuku" goda Jimin, sementara yang digoda hanya memasang wajah datar. "jangan berharap terlalu tinggi bocah, aku hanya membantu karena merasa bersalah" ujar Yoongi ketus. "merasa bersalah atau ada perasaan lain hm?" goda Jimin lagi. "diam atau kulempar kau sampai ke Alaska.." geram Yoongi. Jimin tertawa,"arraseo.. dasar Tsundere" kekeh jimin. "apa katamu?!" teriak Yoongi. Jimin tertawa makin kencang karena tingkah Yoongi yang seperti gadis PMS.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka sampai di sebuah desa yang berada ditengah-tengah hutan itu. Tetapi keadaan desa ini agak aneh, tidak ada seorangpun yang terlihat. Padahal biasanya desa manusia akan ramai, tapi desa ini benar-benar sepi dan menampakkan aura misterius yang mencekam.
Tiba-tiba, Yoongi melihat seorang namja yang memakai jubah hitam. Yoongi sebenarnya tidak ingin mendekatinya karena ragu, tapi dia butuh bantuan untuk mengobati Jimin. "permisi.." gumam Yoongi sambil mendekati namja itu. "I've been expecting you. Hello Yoongi hyung.." gumam namja itu sambil memandang wajah Yoongi. " menunggu kami? dari mana kau tahu namaku?" Tanya Yoongi. "akan kujelaskan nanti, sekarang ikut aku. Kau mau mengobati Jimin hyung kan? Kurasa aku bisa membantumu" ujar namja misterius itu sambil berjalan. Yoongi mengikutinya dengan susah payah karena disaat seperti ini Jimin malah tertidur dan Yoongi terpaksa menggendongnya.
Namja misterius itu berjalan semakin jauh dari desa, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah gubuk kecil. Namja misterius itu membuka pintu dan membantu Yoongi mengangkat Jimin. Jimin dibaringkan di tempat tidur yang berada didalam gubuk tersebut, lalu namja itu memeriksa Jimin dengan seksama. "kutebak pasti kalian bertengkar tadi, pukulanmu benar-benar membuatnya terluka parah" kekeh namja itu sementara Yoongi merasa malu. Yoongi penasaran dengan namja yang saat ini sedang memeriksa Jimin, dia lebih pendek darinya dan memiliki wajah yang nyaris sama persis dengannya tapi bukan itu yang membuatnya penasaran.
"kau pasti bingung kenapa aku bisa mengenal kalian berdua, iya kan hyung?" Tanya namja itu. Yoongi kaget," kau bisa membaca pikiranku? Seingatku manusia tidak bisa membaca pikiran.." gumam Yoongi. Namja itu hanya terkekeh. "yah, bisa dibilang ya dan tidak. kalian juga akan tau nanti.. namaku Woozi, jika kau ingin tahu.." ujar namja itu. Yoongi mengernyit, nama itu sepertinya tidak asing baginya. dia seperti pernah mendengarnya entah dimana.
Woozi terus bekerja menangani Jimin. setelah lukanya dibersihkan dan diberi sedikit tanaman herbal, Woozi merapalkan sesuatu yang tidak dimengerti Yoongi. Ajaibnya, luka Jimin langsung menutup dan lebamnya mulai hilang. Yoongi terkejut, dia ingat siapa Woozi. "bukannya.. kau yang dulu meramalkan tentang The Curse?" Tanya Yoongi. "ah, kau menyadarinya. kalian menyebutnya The Curse? Memang aku yang meramalkan itu" ujar Woozi sambil tersenyum. Yoongi shock, masalahnya itu sudah terjadi sekitar puluhan tahun yang lalu dan Yoongi tahu bahwa Woozi adalah salah satu Great Wizard Consociato Nationum. Yoongi mengira Woozi pasti sudah tua, bahkan mungkin sudah meninggal. dia tidak menyangka bahwa Woozi jauh lebih muda darinya.
"aku menggunakan Time Travel karena itulah aku tidak pernah tua hyung" gumam Woozi yang membuat Yoongi kaget. "kau membaca pikiranku lagi.." gerutunya, sementara Woozi hanya tertawa. "aku memang meramalkan tentang The Curse, tetapi Consociato Nationum yang saat itu mendengar ramalanku hanya mendengarkan sebagian dan mereka langsung mengambil tindakan yang gegabah.." ujar Woozi muram.
"jadi semua kekacauan itu hanya setengah dari ramalanmu?" Tanya Yoongi. Woozi mengangguk," mereka belum mengetahui bahwa akan ada sesuatu yang jauh lebih besar dari The Curse" sahut Woozi. "sesuatu yang jauh lebih besar?" Tanya Yoongi. Dia benar-benar penasaran tentang apa yang akan terjadi, apakah sesuatu itu akan lebih buruk? Atau justru sebaliknya?
"kau mau mendengarnya hyung?" Tanya Woozi. "a-aku? Kenapa harus aku?" Tanya Yoongi shock. Woozi tersenyum, "karena ramalan itu ada hubungannya denganmu dan Jimin hyung" ujar Woozi. Yoongi menelan ludahnya, kenapa dia dan Jimin?
Setelah beberapa menit, Yoongi menghela nafasnya. "baiklah, tapi tunggu sampai Jimin bangun. Aku tidak mau hanya aku yang mengetahuinya jika itu menyangkut kami berdua" ujar Yoongi. "tidak perlu menunggu, aku sudah bangun kok" ujar Jimin malas. Yoongi langsung menatap Jimin yang balas memandangnya disertai senyuman lembut. Yoongi langsung mengalihkan pandangan sambil menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.
Woozi yang melihat semuanya hanya tertawa geli melihat dua orang yang sangat dikenalnya itu canggung satu sama lain. 'ternyata mereka dulu seperti ini..' pikir Woozi. "baiklah, apa kalian siap mendengarnya?" Tanya Woozi. Jimin dan Yoongi mengangguk, saatnya mereka mendengar apa yang nantinya akan menjadi takdir mereka. Entah itu baik ataupun buruk, mereka akan tetap menjalaninya.
TO BE CONTINUED
YO, GELDA LEE HERE! gue tau updatenya telat, maaf T-T soalnya tiba-tiba lagi ilang mood dan ga ada ide buat tulisan soal ramalannya.. niatnya mau dibikin kayak semacam puisi (ngerti kan maksud gue? ga ngerti ya rapopo T-T) tapi gue ga becus bikin puisi, lihat aja lah di chapt selanjutnya kayak gimana. soal romance, maaf klo garing banget, efek jones jadi nyesek sendiri nulisnya wkwk *ditabo reader* maaf klo chapt sebelumnya ternyata lebih pendek, gue kira udah agak lebih panjang pas dicek di word. gue hanya seonggok (?) manusia yang menjadi MinYoon hard shipper.. Lastly, Mind To Review?
Rgeards,
Gelda Lee
