- To Little To Late -
Chapter 3
Fem Naruto x Sasuke
Rated : M
©Masashi Kishimoto
Hurt, Drama, Romance
.
.
Mungkin abal, mungkin Gaje, Typo bertebaran dimana mana, gkk sesuai EYD, bahasa absurd, nyeleneh, seenaknya, alur kecepetan.
.
Dont Like, Dont Read!
.
.
Bertahun tahun Naruto mencoba melupakan sosok pria yang sangat dicintainya. Yang telah membuatnya jatuh cinta dan memperjuangkannya. Namun membuat Naruto menyerah karena cintanya tak pernah membuat pria itu berubah. Dan kini pria yang selama ini Naruto rindukan menampakan lagi dirinya lagi dihadapannya. Meskipun bukan sebuah kesengajaan, namun itu cukup membuat Naruto kembali mengingat masa mas dimana Naruto memperjungkan pria itu.
"Apa kabarmu, Naruto?", tanya sang pemuda.
"Aku baik, bagaimana denganmu?"
Dengan sisa sisa keberanian Naruto menghadapi dan bertatap muka langsung dengan pria yang dicintainya. Namun Naruto tak bisa menahan semuanya lebih lama. potongan potongan kenangan manis dan menyakitkan berusaha saling mendahului untuk masuk kedalam fikirannya. Mengorek kembali luka lama yang sebenarnya bisa terobati dengan melihatnya lagi.
"Aku tidak begitu baik. Kemana saja kau selama ini Naruto, aku merindukanmu."
"Kau masih sama seperti dulu tak ingin mengingat hal itu lagi!"
"Kau membenciku?"
"Tidak. Aku tidak membencimu, aku hanya tak ingin teringat masa lalu"
"Maafkan aku Naruto, aku mencintaimu"
Dalam sekejap potongan potongan kenangan yang telah Naruto kubur kini menyeruak, menyesakan dadanya. Detak jantungnya kini semakin cepat, rahangnya mengeras, deru nafasnya berubah gelisah. Dan matanya terpejam, kembali berputar kenangan yang dulu pernah dialaminya namun telah lama terkubur dan tak terjamah.
.
.
Flashback On...
.
Hari yang cerah sangat cocok untuk mengahabiskan waktu bersama orang terkasih. Begitu juga Naruto yang kini tengah bersama Sasuke. Naruto tahu, Sasuke tidak suka keramaian. Dan karena alasan itulah mereka berada disini. Dipinggir sungai dengan pemandangan pegunungan dan udara yang sejuk.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Namun entah apa yang kini difikirkan Sasuke. Hanya terdiam dan memandang kosong tanpa tahu apa yang mengganggu fikirannya. Ini biasa terjadi namun akan berakhir dengan sebuah hal yang tak akan terduga.
"Ne Suke, apa yang sedang kau fikirkan?"
"Hn"
"Kau selalu menjawabku seperti itu, tapi aku tak mengerti. Jawablah yang benar Suke!"
"Kau berisik"
"Kau selalu saja begitu, baiklah sebaiknya aku pulang"
"Untuk apa kau pulang?"
"Lebih baik aku pulang, dari pada aku disini bersama denganmu tapi seperti sendirian"
"Lalu kau mau apa?"
"Sudah aku katakan Suke, aku ingin pulang"
"Aku tanya untuk apa kau pulang?"
"Aku bukan patung Suke, yang bisa kau diamkan dan biarkan. Bukankah aku ini kekasihmu? Tapi sepertinya kau tak menganggapku ada. Jadi aku ingin pulang"
Plaaaaaaaak...
Naruto tak tahu apa yang sebenarmya terjadi, tapi wajahnya terasa panas dan perih. Menyebabkan telinganya berdengung dan tak bisa menggerakan lagi rahangnya untuk berbicara. Hanya air mata yang kini menetes dari iris sapphire miliknya. Naruto menangis dalam diam dan hanya mematung, hingga Sasuke mengucapkan sesuatu.
"Jangan pernah kau meninggalkanku.", Naruto masih terdiam tak berkutik.
"Aku tak ingin kau tinggalah disini bersamaku, nanti kau baru boleh pulang jika aku ijinkan", Naruto masih terdiam tak menyahuti ataupun bergerak dari rasa terkejutnya.
"Jawab aku Naruto!", Sasuke berteriak tepat ditelinga Naruto dan berhasil membuat Naruto terduduk dengan air mata yang masih menetes.
"Kau bisa bicara tidak, hah?"
"Kau menamparku Suke?"
"Jawab yang benar!", Sasuke kembali berteriak.
"Kau melukaiku", hanya ungkapan rasa terkejut dan tak percaya yang Naruto ucapkan.
"Lalu apa maumu, hah?", emosi Sasuke memuncak.
"Aku ingin pulang Suke, aku kira kau pemuda yang baik. Bahkan aku telah memberikan segala yang kupunya untukmu. Tapi apa yang aku dapatkan darimu Suke?"
"Jawab pertanyaanku Naruto!"
"Baru saja kau meniduriku dan sekarang kau telah menamparku. Kau fikir aku ini apa?",Naruto berteriak dan terisak.
"Lihat aku Suke, pernahkah aku menyakitimu? Atau mengecewakanmu?", lanjut Naruto terisak.
"Sekarang apa maumu?"
"Aku ingin pulang Sasuke, kau tak usah mengantarku. Aku pulang."
Naruto mengambil tas yang disampirkan pada bahunya. Merapikan pakaian yang dikenakannya, dan langsung meninggalkan Sasuke sendirian. Naruto sedikit tertatih dalam berjalan karena melewati jalan setapak yang akan menghubungkan tempat itu dengan jalan raya. Namun sebelum Naruto sampai dijalan besar, Sasuke menarik lengannya dan menuntunnya dengan kasar untuk mengikuti langkah Sasuke.
"Apa yang kau lakukan, aku ingin pulang!"
"Ikut aku!"
"Tidak, aku ingin pulang teme!"
"Bisa diam tidak, dan berhenti menangis!", teriak Sasuke dengan menghempaskan Naruto hingga terjatuh ditanah.
"Kau kasar Sasuke,"
"Lalu setelah kau tahu aku kasar, kau mau apa?"
"sudah aku bilang padamu berapa kali, aku ingin pulang. Pulang!", teriak Naruto. Dan sebuah tamparan kembali berhasil mendarat dipipi gempal Naruto untuk kedua kalinya.
"Kau berani teriak padaku,memangnya kau siapa hah?"
Naruto hanya terisak dan memegang pipinya yang perih dan terasa panas akibat tamparan yang dilakukan Sasuke. Bukan seperti ini yang Naruto inginkan. Naruto menyayangi Sasuke dan begitu mencintainya. Tapi apa yang Naruto dapatkan, ini hanya sebagian kecil dari apa yang pernah Sasuke lakukan. Hanya ucapan kasar itu sudah biasa Naruto dengar dari Sasuke. Tapi sebuah tamparan benar benar membuat Naruto merasa kecewa dan sangat tersakiti.
"Lalu apa maumu Suke?"
"Kau ingin pulang? pergilah dan jangan kau datang lagi padaku!", teriak Sasuke.
"Baiklah aku akan pulang."
Naruto berdiri dari posisi terduduknya,membersihkan kotoran tanah yang menempel pada celananya sambil berjalan. Tanpa menatap Sasuke, Naruto menghapus jejak air mata dipipinya. Merapikan rambutnya untuk menutupi luka lebam disekitar pipinya yang menjadi tempat tamparan Sasuke bersarang.
'Apa salahku Kami-sama, aku mencintainya dan selama ini begitu sabar menghadapi segala sikap dingin Sasuke padaku. Bisakah kau memberiku kekuatan untuk terus berada disampingnya hingga batasku? Aku mohon Kami-sama aku begitu mencintainya', Naruto selalu mendoakan yang terbaik untuk Sasuke. Namun perilaku yang diterima Naruto selalu berbeda. Sasuke bisa bersikap manis jika menginginkan Naruto. Tapi bisa berubah menjadi kasar, egois dan juga tempramen tanpa sebab dan Naruto menjadi tempat Sasuke melampiaskan kekesalannya.
Seperti saat Ini, berjalan sendirian dengan fikiran kosong. Hari berubah menjadi gelap dan suhu terasa semakin dingin. Naruto masih berjalan menelusuri jalan tanpa tentu arah. Air mata masih setia menemani Naruto. Langit seolah tahu apa yang menyelimuti hati Naruto. Perlahan hujanpun turun dan membasahi jalanan kota Konoha.
Naruto hanya mengenakan kemeja lengan panjang yang tangannya digulung hingga siku. Celana pendek diatas lutut dan sepatu sk*ters yang membalut kakinya yang memucat karena kedinginan. Surai kuning keemasannya basah. Bibirnya membiru dan tubuh Naruto mulai bergetar.
'Apa aku salah telah mencintainya, Kami-sama', Naruto terus bertanya dalam hati. didalam tasnya, ponsel Naruto terus bergetar namun tak kunjung Naruto menjawab panggilan itu. Naruto terus berjalan tak tentu arah. Saat Naruto akan menyeberangi jalan, Naruto tak menyadari jika sebuah mini bus akan melintas, seorang pemuda yang mengendarai motor melihat Naruto yang tak menyadari jika sedikit saja terlambat menyelamatkanya. Naruto pasti telah mengalami ke celakaan. Pemuda itu membiarkan motornya berhenti dipinggir jalan, lalu membuka helm yang dikenakannya.
Tanpa pikir panjang pemuda itu berlari menerjang tubuh Naruto yang masih berjalan menyeberangi jalan ditengah hujan. Pemuda itu berhasil menyelamatkan Naruto meskipun harus terhempas dan membuat tubuhnya dan tubuh Naruto berguling karena dorongan yang disebabkan pemuda itu. Naruto masih tak menyadari apa yang terjadi, matanya terpejam dan masih terisak.
"Apa yang kau lakukan, bodoh! Kau ingin mati, kau ingin meninggalkanku?
'Kami-sama apakah aku bermimpi mendengar suara Sasuke? Aku tak ingin meninggalkannya.', batin Naruto. Naruto masih memejamkan matanya. Namun kesadarannya mulai hilang, karena kedinginan dan begitu tertekannya Naruto atas apa yang telah terjadi padanya.
"Hei dobe. Kau ingin meninggalkanku?", tanya pemuda itu a.k.a Sasuke.
Naruto mulai membuka matanya yang telah sembab akibat menangis dan bertambah bengkak karena iritasi air hujan. Naruto masih berada didalam dekapan Sasuke.
"Sasuke...", dan sekejap Naruto kehilangan kesadarannya.
.
Flashback Off...
.
.
"Naruto, aku merindukanmu."
"Kau selalu mengatakannya seperti dulu Suke"
"Tapi..."
"aku juga merindukanmu"
"Kau tidak membohongikukan, Naruto?"
"Aku selalu berkata jujur padamu Suke, tapi seperti yang kau tahu. Aku tidak mendapatkan kepercayaanmu"
"Aku menyesal Naruto"
"Penyesalan tidak datang diawal Sasuke. Penyesalan akan datang terlambat. Seperti saat ini"
"Apa maksudmu Naruto?"
"Kau ingat saat aku pergi meninggalkanmu disungai waktu itu? Dan aku hampir tertabrak mini bus yang melintas saat hujan dulu Suke?", tanya Naruto. Sasuke terdiam.
"Kau menamparku, dan menyuruhku untuk tidak mendatangimu lagi. Tapi kau malah datang padaku disaat aku membutuhkanmu!"
Sasuke terdiam, memandangi gadisnya yang telah lama dirindukannya. Sasuke mengingat lagi apa yang terjadi seperti yang naruto ucapkan. Tanpa sadar Sasuke menatap tangannya yang kini berada diatas meja kafe tempat Sasuke tak sengaja melihat Naruto sedang duduk sendirian menikmati segelas espresso panas kesukaanya.
"Maafkan aku Naruto, aku telah bersikap kasar padamu"
"Tak ada yang perlu dimaafkan, Suke. Aku selalu memaafkanmu meski kau tak memintanya padaku"
Naruto tersenyum lembut namun Sasuke bisa melihat sorot masa kerinduan dan juga terluka dalam tatapan mata Naruto. Sasuke tahu benar apa saja ya g telah dia perbuat pada Naruto hingga akhirnya Naruto memutuskan meninggalkannya dan memilih untuk pergi ke paris empat tahun lalu. Perasaan bersalah itu selalu menghantui Sasuke. Meskipun telah mencoba melupakannya, tapi hanya Naruto yang mampu mengimbangi dan membuat Sasuke terjatuh dalam cinta Naruto.
Sasuke tahu betapa hatinya merindukan dekapan hangat menatap tangan Naruto, dan terbayang lagi masa lalu yang sangat dirindukannya. Bahkan hingga saat ini, Sasuke masih merasakan sentuhannya.
.
.
Flashback On...
.
.
Naruto sedang duduk disebuah taman bunga dipinggiran kota Konoha. Dengan pemandangan indah dihadapannya, Naruto bisa melihat keindahan yang begitu besar. Pohon Sakura yang berguguran menggugurkan daunnya menambah kesan bahagia yang tertinggal dalam hatinya.
Dan Sasuke yang tengah merebahkan tubuhnya dalam pangkuan Naruto seakan terhanyut dengan belayan tangan Naruto dikepalanya. Terasa lembut dan begitu nyaman. Sasuke memandang wajah Naruto dari bawah, begitu menyilaukannya dan membuat Sasuke tertarik kedalam grafitasi keinginan untuk memiliki sapphirenya selalu menghanyutkan pandangannya agar tidak berpaling dari Naruto.
.
.
Flashback Off...
.
.
"Kau tahu Naruto, tak ada lagi yang mengusap kepalaku selembut sentuhan tanganmu"
"Kau selalu memintaku melakukannya bukan?"
"Karena aku tak ingin ada pria lain yang tertidur diatas pangkuanmu dan merasakan sentuhan itu."
"Kau selalu protektif seperti biasanya, eh?"
"Mungkin jika aku diberi kesempatan lagi, aku ingin merasakan sentuhan itu lagi darimu"
"Kau terlalu berharap Sasuke!"
"Seperti ucapanmu dulu, mengharapkan apa yang kau perjuangkan itu tidak begitu?"
"Jadi kau berharap padaku?"
"Ya aku masih mengharapkanmu, Naruto!"
Naruto memutus kontak mata dengan Sasuke, karena tatapan itu membuatnya kembali teringat masa masa dimana Naruto berusaha mempertahankan hubungannya dengan Sasuke.
.
.
Flashback On...
.
.
Naruto menjalani hari seperti biasanya, sekolah dan ketika waktu bel pulang berbunyi Naruto langsung pergi ketempat biasanya ia menunggu Sasuke. Orang tua Naruto tak pernah tahu jika putrinya telah memiliki kekasih. Namun tak pernah berkomentar jika Naruto pulang terlambat ataupun pergi bersama temannya.
Ino dan Hinata tahu benar apa yang dilakukan Naruto, maka dari itu mereka selalu mendukung apapun yang dilakukan Naruto. Termasuk hubungannya dengan Sasuke. Meskipun Sakura selalu saja membuat Naruto tertekan karena dituduh merebut Sasuke. Namun Naruto selalu beranggapan jika seseorang tidak lagi memiliki hubungan apapun selain pertemanan maka orang itu berhak menjalani hubungan dengan siapapun. Karena cinta atau perasaan tak akan pernah bisa dituntut untuk selalu mencintai satu orang.
"Jadi sekarang kau akan pergi ketaman belakang Naru, janji ya besok kita pergi bersama?"
"Iya Ino aku janji, nah sekarang aku duluan ya?"
"Ha-hati hati Na-Naruto"
"Baiklah, kalian juga hati hati ya?"
"Jaa!"
"Jaa..."
Naruto mulai melangkahkan kakinya untuk pergi ke taamn belakang menunggu Sasuke. Entah apa yang akan dilakukannya hari ini. Hari ini begitu menyesakkan hatinya. Teringat ucapan Sakura saat istirahat.
"Kau curang, kau penghianat dan kau bukan temanku!"
"Aku tak masalah kai sebut penghianat dan curang Sakura. Tapi aku tidak melakukannya."
"Kau merebut Sasuke dariku"
"Sekarang kau tanya Sasuke,apa aku merebutnya darimu?"
"Cih, kau selalu berkilat Naruto!"
"Apapun yang kau katakan aku tak pernah melakukannya. Meskipun ya aku berhubungan dengan Sasuke tapi itu setelah kalian putus. Dan Sasuke berhak menjalin hubungan dengan siapapun bahkan sekalipun itu aku. Jika memang Sasuke tak lagi ingin berhubungan denganku aku akan melepaskannya bahkan sebelum dia memintanya!"
Guratan kesedihan masih terlihat diwajah Naruto. Tapi apa boleh buat? Bukankah jatuh cinta itu tak bisa ditentukan pada siapapun? Bahkan Naruto telah jatuh cinta pada Sasuke saat pertama kali melihatnya. Dan itu jauh sebelum Sakura mengenalnya.
"Apa yang sekarang harus aku lakukan?"
"Teruslah berada disampingku, Naruto!"
"Sasuke, kau mengagetkanku Teme!"
"Hn. Sudah lama?"
"Aku baru saja sampai"
Naruto terdiam dan hanyut dalam pikirannya sendiri. Naruto memandangi langit yang kini tanpa awan, terlihat membiru dan menyejukkan. Angin yang berhembuspun membawa aroma liar yang menenangkan. Indah. Ya begitu indah semua yang kini dirasakannya. Sekalipun terkadang Sasuke berlaku kasar padanya. Tapi tak mampu meruntuhkan perasaan yang dimilikinya.
Naruto terus memandangi Sasuke yang kini hanyut dalam permainan gitarnya. Sasuke memainkan sebuah lagu. Begitu damai namun Naruto tahu lirik dari lagu itu memiliki arti tersendiri baginya.
"Kau bernyanyi seperti menggambarkan dirimu sendiri Suke!"
"Hm?"
"Lelaki pembohong. Ya itu seperti dirimu"
"maksudmu?"
"Kau mencintai seseorang, tapi kau tidak jujur pada hatimu sendiri"
"Aku mencintaimu."
"Aku juga"
Naruto terus memandangi Sasuke. Baginya memiliki Sasuke sudah memenuhi segala impiannya. 'Kami-sama bolehkah aku berharap, Sasuke menjadi pendampingku selamanya?'
" Kenapa kau terus memandangiku seperti itu, dobe?"
"Bolehkan aku berharap padamu, teme?"
"Hm?"
"Jika aku mengharapkan sesuatu yang aku perjuangkan, itu tidak salahkan teme?", Sasuke tahu jika Naruto memanggilnya seperti itu berarti dia sedang serius.
"Ya, itu tidak apa. Memangnya apa yang kau harapkan?"
"Aku mengharapkan keajaiban darimu"
"Apa?"
"Kau berubah, menjadi sosok lelaki yang lebih baik"
"Jadi kau berfikir aku tidak baik?"
"Tidak, bukan seperti itu"
"Lalu?"
"Kau baik Sasuke, hanya kau sering berlaku kasar padaku. Aku hanya berharap kau bisa berubah, tidak lagi tempramen dan bisa mengerti aku!"
"Kau fikir aku tidak pernah mengerti dirimu?"
"Terkadang kau selalu egois Sasuke. Kau tak mengakui kesalahanmu bahkan kau sering tak ingin kalah dalam segala hal. Suke tidak selamanya aku ada untuk mengingatkanmu. Aku tak memaksamu, tapi bolehkah aku berharap kau bisa berubah menjadi lebih baik lagi dari hari ini?"
"Hn."
"Aku berharap Kami-sama mendengar doaku untukmu"
Naruto tersenyum kearah Sasuke dan bersandar dibahunya. Sasuke sadar apa yang selama ini dilakukannya mungkin menyakiti Naruto. Tidak. Itu sangat meyakiti Naruto. Sasuke sadar dia selalu kasar jika sedang emosi bahkan pernah membiarkan Naruto menangis sendirian kala itu Sasuke marah dan melampiaskan semuanya pada Naruto. Egois memang. Tapi itulah yang membuatnya tak ingin kehilangan Naruto.
.
.
Flashback Off...
.
.
Sasuke masih menatap rindu sosok wanita yang berada dihadapannya saat ini. Sangat terlihat perubahan yang ada pada diri gadis pujaannya. Naruto kini terlihat dewasa, meskipun tidak ada yang berubah dari wajah Naruto. Masih terlihat seperti gadis remaja pada umumnya meskipun telah beumur kepala dua. Siapa saja yang melihatnya pasti mengira jika Naruto adalah gadis remaja usia sekolah. Tak akan ada yang mengira jika Naruto kini adalah seorang desiner yang handal dan bahkan pakaiannya banyak digunakan oleh para entertainer.
Sasuke kini merupakan CEO dari perusahaan Uchiha Corp. yang merupakan anak perusahaan dari Sharingan Corp. yang dipimpin oleh kakaknya. Banyak wanita yang mencuri pandang, bahkan tetang terangan menggoda Sasuke meskipun Naruto duduk bersama di satu meja yang sama di cafe itu.
"Kau selalu mencuri perhatian seperti biasanya, Suke"
"Kau masih terlihat seperti anak anak Naruto"
"Haaah, itulah resiko wanita sepertiku. Ya, tapi itu menguntungkanku"
"Aku tak suka jika kau didekati pria lain"
"Memangnya kau siapa Sasuke, kau bukan keluargaku, kekasihku ataupun siapaku"
"Jujur Naruto, aku ingin kau kembali padaku"
"Kau terlalu berandai andai Suke, sudah cukup aku bertahan untuk berada disampingmu. Sebaiknya aku pulang"
"Hn. Kau tinggal dimana?"
"Kau terlalu banyak tahu tentangku saat ini Suke"
"Salahkah jika aku kini yang memperjuangkanmu?"
"Tidak. Hanya saja aku tak ingin kau terlalu memasuki kehidupanku lagi"
"Aku mencintaimu"
Naruto hanya memandang Sasuke tepat kedalam matanya obsidiannya. Sasuke tahu perasaan Naruto masih sama. Dan Sasuke yakin Naruto masih mencintainya. Hanya butuh waktu untuk meyakinkannya.
"Aku pulang Suke"
Naruto beranjak meninggalkan Sasuke yang masih memandangi kepergian Naruto. Betapa sesaknya dada Naruto saat berhadapan dengan Sasuke, pria yang sangat dirindukannya. '
"Aku juga mencintaimu, Sasuke" hanya sebuah bisikan yang tak terdengar oleh siapapun dan hanya tersampaikan oleh angin yang berhembus menerpa wajah Sasuke.
.
.
.
TBC
.
.
.
Chapter 3 selesai. Dapet gkk fell nya? Semoga iya, masih banyak flashback nya, belum semua di tuangkan dlam chap ini, semoga chap selanjutnya bisa ya? Hmm... ah yg nanya tentang perubahan Sakura nanti ada sesinya tersendiri, kalo ini ending y gkk tau d chapter berapa. yg pasti sya lgii proses ngtik chapter 7 d sela sela kesibukan kerja, semoga gkk terbengkalai ya minna.. umph... maunya happy end atau sad end? saya masih bingung nentuin endingnya, soalnya cerita ini gkk saya rancang kerangka ceritanya dlu.. saya langsung ketik aja kalo ada ide. hehhee... gomen masih amatiran.. berhubung ini masih bulan ramadhan jadi lemon y gkk d kluarin dlu ya minna.. nantinya takut batal, hehhee
akhir kata mohon riview nya ya minna...
salam,
Yoona Ramdanii
