- To Little To Late -

Chapter 4

Fem Naruto x Sasuke

Rated : M

©Masashi Kishimoto

Hurt, Drama, Romance

.

.

Mungkin abal, mungkin Gaje, Typo bertebaran dimana mana, gkk sesuai EYD, bahasa absurd, nyeleneh, seenaknya, alur kecepetan.

.

Dont Like, Dont Read!

.

.

Setelah pertemuan itu rasa rindu yang terus menghantui Naruto bukan menghilang, namun makin menyesakkan dan semakin membuat Naruto menginginkan kembali Sasuke. Sosok pria yang kini tengah mengisi hatinya. Tak ada yang lain yang dapat memalingkan Naruto, selain dari Sasuke. Tapi apapun yang dirasakannya sekarang Naruto tak ingin menemui Sasuke lagi.

Masa lalu yang telah dilaluinya kembali membayanginya. rasa takut dan rasa kecewa kembali terbayang jika seandainya Naruto membiarkan Sasuke kembali hadir dalam hidupnya. Sekalipun ingin, rasanya Naruto terus dibayangi masa lalu yang membuatnya menyerah untuk memperjuangkan Sasuke.

Sedangkan Sasuke yang masih berharap pada Naruto hanya dapat menunggu dan terus berusaha untuk kembali meyakinkan Naruto bahwa dirinya telah berubah. Bukan hanya pada Naruto, tapi Sasuke ingin sebuah pembuktian pada dirinya sendiri.

Setelah pertemuan itu, Sasuke kembali menaruh harapan besar jika Naruto akan bersedia kembali padanya. Namun sepertinya tak semudah yang dibayangkan. Naruto kini telah bermetamorfosis menjadi sosok wanita dewasa yang berfikiran logis fan sangat memperhitungkan baik dan buruknya sebuah keputusan. Apalagi dengan kondisi Sasuke yang tengah banyak memberikan kenangan menyakitkan untuk Naruto saat mereka menjalin kasih. Menyesal. Hanya itu yang kini menghinggapi hati Sasuke.

Betapa kehilangan yang besar saat Sasuke tahu Naruto memutuskan untuk meninggalkannya dan pergi entah kemana. Tak pernah sedikitpun kabar yang Sasuke terima dari Naruto. Hanya sebuah tamparan besar yang Sasuke dapatkan dalam hidupnya mengingat hanya Narutolah yang bisa mengimbangi keegoisannya. Dan juga tak ada yang bisa mengerti dirinya selain Naruto. Hanya Naruto yang bisa meredam rasa marah kecewa dan juga kesepian saat Sasuke merasakan dipecundangi keadaan.

"Rasanya ingin memilikimu lagi Naruto, apakah aku tak termaafkan?'

Sasuke kini berada disebuah apartemen mewah miliknya. Disana ada Shikamaru, kiba dan juga Nejii. Mereka bukan hanya sahabat bagi Sasuke tapi mereka sudah seperti saudara yang sangat mengerti dirinya selain Naruto.

"Memangnya kau sudah bertemu dengannya lagi setelah empat tahun berlalu, Sasu?", tanya Kiba.

"Ya, aku sudah bertemu dengannya. Dia membuatku kembali jatuh cinta padanya", sahut Sasuke.

"Benarkah, sejak kapan kau jadi romantis begini, heh?",timpal Nejii.

"Yang pasti setelah dia bertemu Naruto dia berubah, baik badboy dan sekarang romantis", sahut Kiba.

"Mendokusei, sebenarnya apa rencanamu sekarang Sasuke?", tanya Shikamaru.

"Hn, entahlah yang pasti aku ingin bertemu dengannya lagi"

.

.

Naruto telah sampai dirumah yang kini dia tempati sendirian. Bukan rumahnya yang dulu dihuninya bersama kedua orang tuanya. Karena mereka telah berpisah dan telah memiliki kehidupan masing masing. Mengingatnya membuat Naruto merindukan saat saat keluarganya masih utuh. Kushina pasti menyambutnya saat pulang dan Minato pasti akan merecoki semua kegiatan Naruto.

Naruto hanya tersenyum kecut saat mengingatnya. Hanya karena Tousannya dipecat, kaasannya meminta untuk bercerai. Naruto sering berfikir jika sebuah cinta bisa membutakan akal sehat, maka cinta akan membuat setiap manusia mengejar apa yang diinginkannya. Tapi ketika cinta itu hilang maka hanya akan ada rasa hampa saat manusia itu kehilangan cintanya.

Ya, Naruto merasakan kehampaan saat Sasuke tak ada disampingnya. 'Aku merindukanmu, sangat.', tapi sepertinya Naruto tak ingin mengalami hal yang sama. Naruto tak ingin merasakan hal hal yang akan membuatnga kembali terbaring dirumah sakit akibat perilaku buruk Sasuke.

.

Flashback On...

.

Naruto tengah berjalan menuju sekolahnya. Terlihat Sasuke yang sedang berjalan didepannya, namun Naruto tak ingin menyusulnya hanya berjalan santai dan menikmati udara pagi mungkin itu dapat membantu menyegarkan fikirannya. Namun sepertinya waktu sudah menunjukkan jika seharusnya Naruto sudah berada didalam kelas untuk memulai kegiatan belajarnya. Dan bel berbunyi disaat Naruto masih berjalan dan belum sampai dikelas bahkan area sekolah.

Bel berbunyi begitu nyaring hingga terdengar keluar area sekolah. Semua siswa yang masih berjalan akhirnya saling mendahului, berlari menuju sekolah. Begitu juga dengan Naruto. Naruto berlari dan mendahului Sasuke tanpa mengajaknya untuk berjalan bersama atau berlari bersama. Sasuke melihat Naruto dengan pandangan datar namun hatinya merasa marah, entah apa yang sebenarnya difikirkan Sasuke

Sesampainya dikelas Naruto menerima mendapati ponselnya bergetar, Naruto mengambilnya dari saku seragamnya. Kemudian membuka aplikasi pesan yang menandakan ada sebuah pesan yang diterimanya.

From: Sasuke

Kau meninggalkanku berjalan sendirian. Apa kau ingin meninggalkanku?

'Apa yang sebenarnya kau fikirkan Suke?', Naruto hanya merasa tak masuk akal Sasuke bisa berfikiran seperti ini. Apanya yang salah dengannya? Hanya tidak mengajaknya untuk berlari bersama dan itu membuatnya marah? Astaga, Sasuke kau benar benar.

To: Sasuke

Kau tidak dengar jika bel sudah berbunyi? Aku kesiangan, sekarang pelajaran pertama Orochi-sensei.

From:Sasuke

Alasan. Bilang saja kau ingin meninggalkanku.

To: Sasuke

Sebenarnya apa yang ada difikiranmu Suke? Aku tidak mengerti.

From: Sasuke

Keluar kau. aku tunggu diatap sekolah. Sekarang.

To: Sasuke

Tapi Orochi-sensei sudah ada dikelas. Nanti aku akan menemuimu saat pelajaran Orochi-sensei selesai.

From: Sasuke

Sekarang. Atau kau ingin aku menyusulmu ke kelas, hah?

Naruto tidak membalas pesan Sasuke dan membiarkannya. Toh menurutnya pelajaran Orochimaru-sensei lebih penting karena Naruto sudah sering ijin padanya. Rasanya akan menjadi masalah besar jika Naruto harus ijin lagi pada guru yang terkenal killer itu.

Naruto mengerjakan tugas yang diberikan Orochimaru, dan larut dalam fikiran menyelesaikan tugas itu. Tanpa disadari ada seseorang yang mengetuk pintu kelas. Orochimaru yang merasa terganggu membiarkan ketukan pintu itu. Namun itu semakin keras dan mengganggu seisi kelas. Kemudian Orochimaru membuka pintu dan berbicara dengannya.

"Ada apa?"

"Maaf sensei, saya menggangu.", jawab sang tamu tak diundang.

"Hm,"

"Bisakah saya bertemu Naruto?"

"Ada perlu apa?"

"Ada hal penting sensei, ini masalah keluarga"

"Baiklah", kemudian Orochimaru masuk dan memanggil Naruto. "Naruto, ada yang mencarimu keluarlah"

Namun Naruto tidak menyahuti. Ino yang duduk berdekatan dengan Naruto menyadariketidak fokusan Naruto. Yang akhirnya menegur Naruto dengan menyenggol lengan Naruto.

"Ada apa Ino?"

"Kau dipanggil Orochimaru-sensei", Naruto melihat kedepan kelas dan menemukan sensei-nya memandangi Naruto.

"Ha'i sensei.", dengan cepat Naruto berdiri dan berjalan keluar Dengan tak lupa mengucapkan terimakasih pada Ino.

Ternyata yang berada dihadapan Naruto adalah Sasuke. Ternyata apa yang diucapkan Sasuke benar benar dilakukannya. Naruto melupakan hal ini,dan menghiraukannya. Dan beginilah keadaannya, Sasuke berbuat nekat dan kini berani menyusul Naruto ke kelas.

"Ada apa?", Naruto bertanya pada Sasuke.

"Ikut Aku. Sekarang!", itu adakah sebuah perintah mutlak yang tak bisa dibantah.

"Tapi..."

"Sekarang atau kau tak akan melihatku lagi"

Sebuah ancaman yang sukses membuat Naruto diam dan hanya bisa menuruti semua ucapan Sasuke. Narutopun mengikuti kemana Sasuke membawanya pergi kali ini. Hanya tertunduk dan menahan sakit, karena pergelangan tangan yang digenggam erat oleh Sasuke. Terlihat memerah dan membuat Naruto tidak bisa melepaskannya.

Sasuke membawa Naruto ke atap sekolah,sesampainya diatap Sasuke menghempaskan Naruto hingga jatuh terduduk dihadapan Sasuke. Naruto meringis dan memegangi kakinya yang sakit terkilir.

"Kau ini kenapa Sasu?", tanya Naruto.

"Seharusnya aku yang tanya padamu. Kenapa kau meninggalkanku tadi, hah?", teriak Sasuke.

Beginilah jika Sasuke telah bertingkah hanya ucapan tapi tindakanyapun akan menyakitkan. Bahkan Naruto yang sudah sering menghadapi Sasuke, masih dibuat terperangah karena mood Sasuke yang bisa berubah drastis kapanpun tanpa bisa diprediksi dan dikontrol.

"Sasuke, sudah aku bilang. Pelajaran pertama hari ini adalah Orochi-sensei aku sudah sering ijin padanya aku tidak ingin membuat nilaiku buruk saat tes nanti."

"Lalu kenapa kau melewatiku, kau malah berlari dan meninggalkanku?"

"Kau tidak mendengar bel yang sudah berbunyi Suke, kau sudah besar apa harus aku menuntunmu ke sekolah?", jawab Naruto frustasi.

"Kau berani berbicara begitu padaku?"

"Sasuke berfikirlah dewasa kau seharusnya bi-..."

Plaaaaaaak...

Seketika Naruto bungkam, pipi kirinya memerah menggambarkan bekas tangan yang telah menamparnya. Naruto tak sadar air matanya telah membasahi wajahnya. Naruto menangis dalam diam. Ini sudah yang kesekian kalinya, dan Naruto masih bertahan. Tapi apa hanya karena masalah Naruto meninggalkan Sasuke untuk pergi ke kelas duluan. Naruto harus menanggung rasa sakit ini?

"Kau gadis brengsek. Kau meninggalkanku. Kau mau aku hajar hah?"

Naruto menatap Sasuke tepat diiris obsidian miliknya. Naruto terdiam. Sudah cukup. Ini yang terakhir kalinya. Bukan hanya sakit dibagian tubuhnya,namun hatinya terasa perih. Rasa cinta yang dimilikinya tak lagi mampu mengobati perihnya perlakuan Sasuke yang ditemanya. .

"Kau boleh menghajarku sesuka hatimu Suke!"

Plaaaaaaaak...

Kembali sebuah tamparan diterima Naruto. Bukan perih yang Naruto rasakan,namun rasa kecewa yang kini menyergap hati dan fikiran Naruto.

"Mau masih menghajarku, heh Suke?"

Dan Naruto terhempas saat Sasuke menggenggam tangannya dan kemudian menariknya, dengan sekuat tenaga Sasuke membanting tubuh mungil Naruto. Dan Naruto jatuh terduduk membentur tembok pembatas. Naruto merasakan hangat dikeningnya. Naruto tersenyum. Entah sudah berapa banyak luka yang diterimanya selama menjalin hubungan dengan Sasuke selama sepuluh bulan terakhir.

Bukan perubahan yang baik menurut Naruto,tapi semakin lama Sasuke seperti semakin membuat Naruto tak bisa melepaskan diri. Terlintas bayangan saat Sasuke memberikannya sebuah ucapan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah berubah kalung dengan inisial S dan N. Naruto tersenyum dan memegang kalung yang kini dipakainya.

'Haruskah aku menyerah sekarang?', Naruto membalikkan posisinya dan menghadap Sasuke lagi. Sasuke bisa melihat darah yang menetes dikening Naruto. Tersirat rasa bersalah namun sepertinya emosi lebih menguasai akal sehat Sasuke. Bukannya menolong Sasuke malah menjambak surai kuning keemasan Naruto yang diikat poni tail.

"Jadi kau ingin aku menghajarmu?"

"Jika itu bisa memuaskanmu, untuk apa aku memintamu melepaskanku jika pada akhirnya aku harus menerima keegoisanmu?"

Sasuke langsung menarik rambut Naruto hingga beberapa helai rambutnya terlepas dan meninggalkan rasa sakit dan pusing dikepala Naruto.

"Aakh...", rintih Naruto.

"Itulah jika kau berani melawanku"

"Apa artiku untukmu Suke?", Naruto terisak menerima perlakuan Sasuke.

"Kau bilang mencintaiku tapi apa yang kau lakukan padaku? Kau fikir aku akan terus diam dan memaafkanmu Suke?"

"Kau fikir aku akan meminta maaf padamu hah?"

"Ya sepertinya egomu terlalu tinggi hingga akupun bisa kau perlakukan seperti sampah. Kau akan merasakan apa yang aku rasakan saat aku tak lagi ada disampingmu Suke. Aku mencintaimu. Tapi..."

"Tapi apa haah?", sela Sasuke.

"Sepertinya aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Maafkan aku Suke"

"Jadi kau ingin kita berpisah?"

"Ya sebaiknya begitu.", Naruto menyeka darah yang menghalangi pandangannya.

"Kau berani memutuskanku?"

Plaaaaaaaak...

"Kau tidak berhak meninggalkanku!", teriak Sasuke.

"Kau bahkan masih menamparku?"

"Kau gadis brengsek"

"Ya aku brengsek, bahkan lebih brengsek darimu yang sudah melukaiku!", teriak Naruto.

Naruto yang berusaha masih terduduk berusaha berdiri dan berpegangan pada tembok pembatas. Sudah cukup. Ini yang terakhir. Naruto tak lagi sanggup menghadapi sikap Sasuke yang seperti angin. Tak bisa ditebak seperti apa dan bagaimana menghadapinya.

Rasa pusing dan sakit seketika menggoyahkan posisi Naruto yang kini mencoba untuk berdiri. Pandangannya kabur dan tak bisa melihat dengan fokus. Sasuke memandang datar Naruto. Naruto hanya bisa tersenyum pahit, hatinya serasa tak berbentuk. Naruto mencintai pemuda yang kini ada dihadapannya. Namun Naruto tak bisa terus bertahan seperti ini.

"Sebaiknya aku masuk kelas. Semoga kau bahagia karena telah membuatku meredakan keegoisan dan emosimu Suke. Aku mencintaimu. Selamat tinggal"

Naruto mencoba untuk melangkahkan kakinya, dan berusaha menahan kesadarannya hingga sampai dikelas. Namun mengingat kondisinya yang mengenaskan rasanya tidak baik, mengingat akan menimbulkan kecurigaan dimata teman sekelasnya termasuk Ino dan Hinata.

Namun disaat Naruto akan membuka pintu turun kekelasnya di lantai dua, kesadaran Naruto perlahan menghilang. Naruto ingat sesaat Naruto akan jatuh dan menghempas lantai dan berguling di tangga karena tak bisa menjaga keseimbangan. Terdengar Sasuke berteriak menyebutkan namanya. Dan sekejap pandangan dan fikiran Naruto menghilang.

Saat tersadar Naruto berada di UKS dengan Sasuke yang menungguinya dengan sisa sisa air mata di kedua pipinya. Naruto menatap Sasuke yang tengah tertidur. Naruto mengusap kepala Sasuke lembut, terasa ngilu di sikunya. Naruto bisa melihat guratan kekhawatiran diwajah Sasuke yang tertidur. Terlihat sangat tampan seperti bayi menurutnya. Namun jika teringat kembali apa yang telah diperbuat Sasuke terhadapnya, hanya rasa sakit yang tertinggal dihati dan fikirannya.

Bukan, bukan luka fisik yang Naruto fikirkan sekarang. Tapi apakah keputusannya meninggalkan Sasuke, bisa membuatnya menjadi lebih baik. Karena sebelumnya Naruto pernah melakukan hal serupa. Tapi apa yang terjadi? Sasuke kembali mabuk mabukkan, kembali menjadi pemuda liar yang seperti kehilangan arah. Dan Naruto tak menginginkan itu terjadi. Naruto terlalu mencintai Sasuke.

Sasuke menyadari seseorang tengah mengusap kepalanya lembut. Berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya dan melihat siapa yang memberikan perlakuan hangat dan nyaman seperti ini. Saat iris obsidian itu terlihat, bisa dipastikan jika kini Naruto tengah tersenyum padanya. Sangat menenangkan.

"Bagaimana tidurmu Suke, nyenyak?"

"Kau sudah sadar? Maafkan aku."

"Ssssst, sudah tidak apa. Aku baik baik saja!"

"Gara gara aku kau terluka, maafkan aku Naruto"

"Sudahlah Suke, semuanya telah terjadi."

"Apa ada yang sakit? pusing? Kau mau aku melakukan apa? Asal..."

"Asal...?"

"Asal kau tidak memintaku untuk pergi menjauh dari, dan kau tidak memintaku untuk membiarkanmu pergi"

"Jadi aku ingin aku disini bersamamu?"

"Ya, jika kau mau memaafkanku"

"Kemarilah", Naruto menuntun Sasuke ke dalam pelukannya.

Sasuke terdiam, menikmati dekapan lembut dan hangat dari Naruto. Sasuke sadar hanya Naruto yang bisa membuatnya nyaman seperti ini. Naruto tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Malah Naruto yang sangat mengerti jika dirinya bertingkah kasar pada Naruto. Dan sikapnya tadi sudah sangat keterlaluan entah apa yang akan dilakukannya jika Naruto kembali meninggalkannya. Pasti Sasuke bertingkah konyol lagi hingga membahayakan nyawanya sendiri.

"Maafkan aku Naru. Aku mencintaimu"

"aku juga mencintaimu Suke. Lihatlah aku masih disini bersamamu"

Sasuke membalas pelukan Naruto dengan erat, seperti enggan melepaskan Naruto. Naruto tahu sebenarnya Sasuke begitu mencintainnya, namun tak bisa mengespresikan apa yang sebenarnya membuatnya tak suka hingga berlaku kasar dan bersikap agresif seperti yang telah dilakukannya. Baik Naruto dan Sasuke sama sama saling mencintai, tapi mereka memiliki cara masing masing untuk menunjukkannya.

.

Flashback Off...

.

Naruto tersenyum mengingatnya, namun bekas tamparan itu masih bisa Naruto rasakan. Dokter yang menangani Naruto pernah berkata jika saraf yang berada dipipinya tegang dan jika mengalami hal serupa dapat dipastikan jika Naruto tidak bisa menggerakan lagi rahangnya yang memar dan meninggalkan rasa sakit hingga sekarang.

Naruto mengusap pipinya yang dulu sering menjadi tempat Sasuke menamparnya. Terkadang Naruto merindukan saat saat dimana mereka bertengkar. Jika di ingat ingat mungkin setiap harinya Naruto dan Sasuke hanya bertengkar. Tapi itulah yang membuatnya begitu merindukan Sasuke. Karena Sasuke selalu bisa membuatnya nyaman ketika berada disampingnya.

"Kau selalu membuatku merindukanmu, Sasuke"

Naruto berharap jika seandainya bisa mengulang kembali masa masa bersama Sasuke. Mungkin Naruto tak akan pernah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan Sasuke, seandainya sikap Sasuke bisa sedikit tak pernah berharap banyak, hanya sedikit perubahan yang ditunjukan Sasuke itu sudah membuat Naruto bisa bertahan dan mungkin sekarang masih bersama Sasuke. Tapi kenyataannya, Sasuke masih terlalu egois dan sering termakan emosi dan membuat Naruto jengah dan merasa apa yang dilakukannya sia sia.

Pertemuannya kembali dengan Sasuke, membuatnya kembali terngiang semua kenangan tentang Sasuke. Hanya Sasuke yang mampu membuat Naruto tersenyum dan merasakan cinta. Tapi sikap Sasuke membuat Naruto pergi meninggalkannya. Rasa cinta ternyata tak cukup merubah sikap seseorang. Beruntung Naruto tidak mendapatkan pemuda yang berpura pura baik dihadapannya. Naruto mencintai dan menyayangi Sasuke karena kejujuran dan keterbukaannya dalam bersikap. Meskipun perlakuan kasar yang Naruto terima namun itu tidak membuat Naruto menyesal akan keputusannya. Butuh kesabaran besar dan keyakinan yang kuat jika ingin terus berada disamping Sasuke. Dan Naruto saat itu tidak memilikinya.

Bukankah masa remaja penuh akan keegoisan? Begitu juga dengan Naruto. Sekarang Naruto berharap sikap Sasuke telah berubah. Siapapun gadis yang menjadi kekasih Sasuke tidak mengalami hal yang sama dengan apa yang telah di alami Naruto. Bukankah waktu bisa merubah segalanya? Menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk itu adalah sebuah pilihan. Namun sebuah keyakinan sangat penting untuk mengambil sebuah keputusan dalam memilih.

.

.

.

TBC

.

.

.

Chapter 4 akhirnya selesai. Nah bagaimana minna? kependekan? Gomen. Idenya udc mentok jadi yang beginilah adanya. Semoga suka dengan sikap mereka yang absurd ya? Mohon riviewnya ya minna...

salam,

Yoona Ramdanii