- To Little To Late -

Chapter 5

Fem Naruto x Sasuke

Rated : M

©Masashi Kishimoto

Hurt, Drama, Romance

.

.

Mungkin abal, mungkin Gaje, Typo bertebaran dimana mana, gkk sesuai EYD, bahasa absurd, nyeleneh, seenaknya, alur kecepetan.

.

Dont Like, Dont Read!

.

.

Seminggu berlalu dan Naruto masih terbayang wajah Sasuke yang menurutnya tampan, *eh. Tentu saja, dengan setelan jas hitam serta dasi biru yang menyempurnakan penampilannya. Pasti bisa membuat setiap wanita terpesona akan ketampanan dan kesan berkharisma yang melihatnya. Begitu juga dengan Naruto yang seakan tertatik grafitasi Sasuke karena hanyut dalam tatapan pemilik iris onyxsnya.

"Haaaaaaah"

Naruto menghela nafas lelah, karena selama seminggu setelah pertemuan tak sengaja itu terjadi telah membuatnya selalu terbayang wajah Sasuke. Jatuh cinta pada orang yang sama dua kali itu rasanya semakin membuat Naruto bimbang. Hatinya menginginkan Sasuke, tapi akal sehatnya menginginkan untuk menjauh dan melupakan Sasuke. Sudah ia lakukan sebenarnya semenjak memutuskan untuk pergi dari sisi Sasuke empat tahun lalu

Tapi apa yang didapatnya? Hanya kekosongan. Menjalin hubungan kasih dengan Sasuke membuat hidupnya penuh dengan warna. Entah itu kecewa, bahagia, menyesal karena telah menjadi kekasih Sasuke, ataupum merasakan istimewa karena diperlakukan lembut oleh si pemuda raven. Dan sekarang terulang lagi. Ya perasaan nano nano itu terulang lagi.

Ino yang saat ini bekerja pada Naruto begitu juga Hinata, menyadari perubahan mood yang tampak jelas diwajah sahabat blonde-nya. Dan mereka tahu hanya satu hal yang bisa membuat Naruto menjadi Out Of Caracter, menurutnya. Yaitu Sasuke. Tapi dimana Naruto bertemu dengan pria dengan wajah datar itu? Tentu saja jika mereka menanyakannya Naruto pasti akan menolak menjawabnya. Karena 'Tak ada hubungannya aku seperti ini dengan si teme brengsek itu', itulah yang selalu diucapkan Naruto setiap kali Ino ataupun Hinata bertanya padanya.

"Nee, Naru kau kenapa?", tanya Hinata yang kini tak lagi gagap.

"Iya, kau seperti habis bertemu dengan hantu Suke saja!", timpal Ino.

"Yah begitulah"

Sungguh diluar dugaan. Ino dan Hinata saling pandang, dan merasa jawaban Naruto berbeda dari biasanya. Nah sekarang Ino tengah menyeringai. Bukan berarti Naruto tidak menyadarinya, hanya saja sangat malas rasanya meladeni Ino yang kini akan terus bertanya mengenai jawabannya yang menurutnya keceplosan.

"Jadi maksudmu, kau sudah bertemu Sasuke?"

"Ya begitulah"

"Kapan? Kenapa kau tidak bercerita pada kami?"

"Minggu lalu, tidak sengaja di Hokage's Cafe"

"Lalu apa yang terjadi Naru?", tanya Hinata.

"Dia bilang masih mencintaiku"

"Benarkah?", tanya Ino penasaran.

"Ya begitulah yang si teme itu katakan padaku"

"Kau masih mencintainya Naruto?"

"Kau lebih tahu diriku Ino"

"Bagaimana jika Sasuke menginginkamu lagi, Naru?"

"Entahlah Hinata, aku takut", terlihat guratan kekecewaan yang nampak diwajah Naruto.

Ino dan Hinata tahu benar bagaimana sikap Sasuke saat dulu mereka masih sekolah dan Naruto menjadi kekasihnya. Bahkan Hinata sering kali mengobati luka Naruto yang disebabkan kekasaran Sasuke. Sedangkan Ino hanya mengomel karena Naruto selalu membela Sasuke sekalipun Naruto telah disakiti.

.

Flashback On...

.

Saat Naruto memasuki kelas terlihat beberapa luka memar disekitar kakinya. Ino dan Hinata menyadari hal itu. 'Pasti ulah Sasuke', begitulah fikiran Ino saat pertama kali melihat luka yang sering Naruto alami. Hinata yang mlihatnya langsung mengeluarkan kotak P3K yang sering dibawanya. Karena akhir akhir ini Naruto sering mengalami luka yang tidak tahu penyebabnya. Hanya saja Ino sering mengatakan jika luka yang dimiliki Naruto itu karena perangai Sasuke yang tempramental. Sering berlaku kasar pada Naruto.

"Kau terluka lagi, eh Naruto?", namun tak ada jawaban apapun dari Naruto.

"Ke-kemarilah Naruto duduk di-disampingku, biarku obati lu-lukamu", pinta Hinata.

Narutopun duduk disamping Hinata yang sebenarnya tempat duduk Sakura. Namun sekarang entah kemana sang empu bangku itu.

"Akhir akhir ini kau sering sekali terluka, apakah Sasuke kasar padamu?", tanya Ino.

"Su-sudahlah Ino ja-jangan memberondong Naru de-dengan pertanyaan seperti itu"

"Tidak Hinata, ini tidak bisa dibiarkan. Ingat terakhir kali Naruto masuk rumah sakit? Dia mengalami luka memar di kepala dan seluruh badanya. Dan yang paling parah pelipis Naruto sobek dan mengeluarkan darah. Apa kau lupa?"

"Ino sudahlah, aku tidak apa apa"

"Tidak apa apa bagaimana? Kau terluka Naruto!"

"Ini salahku Ino, jangan salahkan Sasuke", bela Naruto.

"Kau terlalu baik Naru, kau disakiti seperti ini saja kau masih membela kekasih mu yang tempramental itu?"

"Ino, aku tahu kau khawatir padaku. Tapi sungguh aku tidak apa apa ini hanya luka kecil besok juga pasti sembuh"

"Kau selalu berkata seperti itu. Tapi apa kenyataannya? Kau terluka dan terluka lagi Naruto!"

"I-ino cukup, kau terla-lalu keras berteriak", lerai Hinata.

"Haaaa, kau kepala batu Naruto", akhirnya Ino mengalah.

"Nah, su-sudah selesai Naru. Apa masih terasa ngilu?"

"Tidak, ini sudah cukup. Terimakasih Hinata kau yang terbaik", Naruto tersenyum lima jari pada Hinata dan memeluknya.

"Hn, Drama Queen!", provokasi Sakura yang baru sampai dikelas.

"Apa maksudmu?", sangar Ino.

"Drama Queen, temanmu itu drama queen. Selalu menarik perhatian orang.", lanjut Sakura.

"Lalu kau sendiri apa?", tanya Ino.

"Apa maksudmu?"

"Kau selalu berkata ngelantur saat aku, Naruto dan Hinata bersama. Kau fikir aku tuli? bilang saja jika kau masih menggoda Sasuke dengan bertingkah seperti gadis murahan"

"Sialan kau Ino!"

"Lebih lagi, kau selalu mengumbar dada ratamu didepan Sasuke. Kau fikir Sasuke mau melihatnya? Sekalipun Naruto drama queen, tapi dia mendapatkan perhatian lebih dari Sasuke!"

Telak. Sebuah perkataan telak, yang membungkam Sakura. Memang benar, jika harus membandingkan antara Naruto dan Sakura. Siapapun akan memilih Naruto. Meskipun sikapnya yang sering kekanakan dan begitu polos namun Naruto sering berkata jujur dan tak bisa menutupi masalah apapun dari Ino ataupun Hinata. Naruto mudah ditebak karena sikapnya yang terbuka dan selalu ekspresif. Sakura hanya terdiam dan meninggalkan kelas karena ucapan Ino benar adanya dan itu telah membuat Sakura malu karena menjadi bahan pergunjingan biang gosip dikelasnya.

.

Flashback Off...

.

Ino hanya menghela nafas lelah menghadapi sahabat blonde-nya ini. Tak ada satu katapun yang bisa Naruto dengar dan meresap kedalam fikirannya jika sudah menyangkut Sasuke. Kenapa? Karena Naruto sangat mencintai Sasuke sekalipun sudah berkali kali disakiti hingga terluka baik fikiran, mental, maupun fisik. Tapi apa yang Sasuke lakukan? Masih bersikap sama. Dan sekarang Ino Khawatir jika nanti Naruto kembali pada Sasuke, makan kejadian empat tahun lalu akan terulang lagi. Dan Ino tidak ingin melihat Naruto menangis. Karena sudah cukup menurutnya penderitaan Naruto. Setelah orang tuanya bercerai Naruto tinggal bersama neneknya, Tsunade. Namun setelah Tsunade meninggal Naruto tinggal sendirian. Bahkan sering kali Ino dan Hinata menginap di rumah Naruto hanya untuk menemani sahabatnya agar tidak merasakan sendrian lagi.

"Haaah, sudahlah lupakan masalah Sasuke. Nee, Naruto bolehkah aku tinggal bersamamu?"

"Iya Naruto aku juga ingin tinggal bersamamu", sahut Hinata.

"Maksud kalian?"

"Iya kami tinggal bersama denganmu bertiga dirumahmu. Kau tinggal sendirian dirumah itukan?", sahut Ino.

"Benarkah kalian akan tinggal bersamaku?"

"Jika kau mengijinkan", tambah Ino.

"Tentu saja rumahku pasti ramai karena ada kalian bersamaku", mata Naruto berbinar mendengar penuturan Ino dan Hinata.

Benar saja mood Naruto seketika berubah mendengar Ino dan Hinata akan pindah kerumahnya dan tinggal bersamanya. Bukan hanya Naruto, tapi Ino dan Hinatapun merasa senang karena mereka pasti akan sering bersama.

"Sudah lama aku tidak mendengar tentang Sakura, bagaimana kabarnya?", tanya Naruto.

"Kau tahu Naruto dia bekerja di klub malam, menjadi seorang penari disana"

"Benarkah?"

"Iya, hanya itu yang aku tahu saat terakhir kali bertemu dengannya", sahut Ino.

"Memangnya kapan kau bertemu dengannya Ino?", tanya Hinata.

"Minggu lalu sat aku klubing"

Naruto dan Hinata hanya beroh ria. Tidak ingin melanjutkan perbincangan mengenai sahabat Pink mereka yang sudah lama memusuhi Naruto.

.

.

Skip Time

.

.

Hari adalah hari terakhir mereka bekerja di butik. Ino dan Hinata sudah pulang lebih dahulu karena mereka akan mempersiapkan kepindahan mereka hari ini. Naruto yang sudah sampai lebih dahulu dirumahnya mulai merapikan kamar yang akan ditempati Ino dan Hinata.

Naruto tahu selera kedua temannya. Semenjak minggu lalu Naruto sudah mengganti cat kamar yang akan mereka tempati, kamar yang akan Ino tempati di cat ulang menggunakan warna baby yellow. Sedangkan kamar yang akan Hinata tempati di cat ulang dengan warna soft purple. Kini Naruto tengah mengganti Badcover dikamar Ino dan Hinata. Menata setiap barang yang menurutnya bisa memperindah kamar yang nantinya kan menjadi milik sahabatnya itu.

Rumah yang dimiliki Naruto adalah peninggalan neneknya, Tsunade. Setahun yang lalu Tsunade meninggal, dan rumah ini menjadi milik Naruto beserta semua aset milik Tsunade. Dari mulai rumah, sebuah mobil, sebuah restoran dan juga semua deposito yang dimilikinya di Bank. Namun Naruto tidak menggunakan harta itu seenak udelnya. Naruto menyimpannya bahkan belum pernah digunakannya.

Hanya penghasilah dari restoran yang diterimanya itupun berupa gajih karena Naruto mengelola restoran itu. Sedangkan mobil masih terparkir rapih sejak terakhir kali Tsunade menggunakannya. Sedangkan deposito, Naruto tidak tahu berapa jumbelahnya. Yang tak pernah digunakan Naruto.

"Nah selesai"

Naruto sudah merapikan dan membereskan kamar tempat Ino fan Hinata tinggal nanti. Dan sekarang Naruto menuju dapur untuk makan malam. Naruto mulai memasak masakan rumahan. Sup miso, kare dan juga smoked Tuna menjadi menu makan malamnya. Terdengar klakson didepan rumah Naruto. Naruto langsung menuju pintu untuk menyambut kedatangan sahabatnya.

Rumah Naruto terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama adalah bagian rumah yang paling bawah, karena posisinya berada di dalam tanah, disana berupa garasi dan juga tempat olahraga. Lantai dua adalah ruang tamu, ruang keluarga,ruang makan dan dapur. Sedangakn lantai tiga terdiri dari sebuah perpustakaan dan empat kamar tidur. Dibagian belakang rumahnya terdapat gazebo yang berdiri diatas kolam ikan dan sebuah kolam renang. Asri dan juga sangat menenangkan.

Ting...Tong...

"Sebentar...",Naruto berteriak sambil berjalan menuju pintu.

Naruto membukakan pintu. Senyum Naruto langsung mengembang. Terlihat Ino dan Hinata bersama dengan Nejii. Mereka membawa koper berukuran besar. Entah berapa jumlahnya, yang pasti milik Ino lebih banyak.

"Ayo masuk.", Naruto mempersilahkan.

"Kau tinggal disini sendirian, Naru?", tanya Hinata.

"Ya, semenjak nenek Tsunade meninggal aku sendirian"

"Memangnya kau tidak merasa kesepian Naru?", tanya Ino.

"Sedikit, tapi aku bisa mengatasinya"

"Haaah, kau ini. Jadi dimana kamarku?", sahut Ino.

"Ayo aku tunjukan"

Ino dan Hinata mengikuti Naruto dari belakang. Mereka sadar rumah sebesar ini hanya ditempati oleh seorang wanita seperti Naruto? Pasti sangat kesepian, pikir Ino dan Hinata. Tapi semuanya begitu rapi,bersih dan sangat nyaman. Itu adalah nilai plus dari sikap Naruto yang perfeksionis. Tidak aneh memang, meskipun seorang diri Naruto bisa menghendel semuanya sendirian.

"Nah Ini kamarmu Ino, ini kamar Hinata. Dan kamarku disana", Naruto menunjuk sebuah pintu yang berada diujung lorong.

"Wah Naruto, kau selalu pintar memilih furnitur", teriak Ino saat melihat kamarnya.

"Iya, ini sangat indah Naruto", sahut Hinata saat melihat kondisi kamarnya seperti taman bunga lavender. Bunga kesukaannya.

"Heehe, aku hanya berusaha membuat kalian nyaman tinggal bersamaku"

"Jadi dimana aku harus meletakkan ini Hinata?", Nejii bertanya.

"Aah, aku sampai lupa jika ada kak Nejii disini. Letakkan disini saja, maaf merepotkan",sahut Hinata.

"Tidak apa apa. Kau selalu membuat adikku senang berada dekat denganmu Naruto", Nejii menatap Naruto.

"Kau bisa saja Nejii, aku hanya tak ingin melihat sahabatku tidak nyaman", sahut Naruto.

"Ya meskipun kau selalu membuat kami khawatir, namun kau adalah sahabat terbaik untukku dan Hinata", timpal Ino.

"Kau ini", Naruto hanya tersenyum lima jari kearah Ino. Sedangkan Hinata hanya tersenyum melihat interakso ketiganya.

'Panas saja Sasuke selalu merindukanmu, kau selalu bisa membuat orang terdekatmu nyaman dan senang. Naruto', tanpa ada yang tahu jika Nejii memberitahukan alamat rumah Naruto pada Sasuke. Mengingat jika sahabat ravennya itu selalu melamun dan tidak fokus pada pekerjaannya setelah bertemu dengan Naruto beberapa waktu yang lalu.

"Baiklah, saatnya makan malam. Sebaiknya kau makan malam disini saja Nejii", pinta Naruto.

"Baiklah, jika itu maumu", sahut Nejii.

Naruto, Ino, Hinata dan Nejii pun turun ke ruang makan untuk makan malam. Tidak terasa memang. Namun selama makan malam berlangsung, Nejii tak hentinya menggunakan ponsel miliknya. Naruto tidak mempermaslahkannya, karena Naruto, Ino dan Hianta sibuk mengobrol.

To: Sasuke

From: Nejii

Kau pasti tidak akan menyangka, jika aku sekarang sedang bersama dengan Naruto.

Tidak butuh waktu yang lama untuk Nejii menunggu Sasuke membalas pesan yang dikirimkannya. Karena apapun itu asalkan tentang Naruto, Sasuke pasti akan langsung meresponnya.

From: Sasuke

to: Nejii

Apa yang kau lakukan? Dimana kau?

Nejii hanya tersenyum melihat pesan balasan dari Sasuke.

To: Sasuke

From: Nejii

Aku sedang makan malam dirumah Naruto, aku mengantar Hinata sepupuku. Karena mulai hari ini dia tinggal bersama Naruto dan Ino.

From: Sasuke

To: Nejii

Benarkah? beritahu aku dimana alamat rumah Naruto.

To: Sasuke

From: Nejii

Distrik Senju blok A no. 10

Tak ada lagi balasan dari Sasuke, dan Nejii melanjutkan acara makan malam nya yang tertunda karena meladeni Sasuke. Memang merepotkan jika itu menyangkut Naruto untuk Sasuke. Semuanya pasti menjadi runyam karena ketidak sabaran Sasuke.

Makan malampun selesai dan Nejiipun pamit pulang. Naruto mengantar kepulangan Nejii bersama dengan Hinata. Nejii menyadari sesuatu. Ada sebuah mobil lamborgini hitam yang terparkir didepan rumah Naruto. Nejii tahu benar siap pemilik mobil tersebut. Hanya menyeringai dan Nejiipun langsung menancap gas saat telah masuk kedalam mobil.

"Kau berubah jadi penguntit, heh?", serunya saat melihat siapa pemilik mobil Lamborgini itu.

.

.

sebelumya...

.

.

Saat Sasuke mendapatkan pesan dari Nejii. Rahangnya mengeras dan membanting ponselnya ketempat tidurnya. Hei, Sasuke tahu benar jika sahabatnya tidak pernah membohonginya. Namun semudah itukah Naruto akrab dengan Nejii? Hingga mengajaknya makan malam bersama dirumah Naruto, itu hal yang membuatnya kesal. Bahkan saat pertemuannya Naruto sangat terlihat memaksakan dirinya untuk beramah tamah pada Sasuke. Sedangkan Nejii? Dia dengan begitu mudahnya masuk kerumah Naruto dan akrab dalam waktu singkat? Hell No! Ini tak boleh dibiarkan.

Kini Sasuke sudah berada tepat didepan sebuah rumah. Dari alamat yang diperolehnya benar jika itu alamat yang dimaksud Nejii adalah rumah Naruto. Rumahnya cukup besar dan terkesan nyaman. Terlihat dua mobil terparkir didepan rumah Naruto. Dan salah satunya adakah milik Nejii. Dan Sasuke tahu itu.

Sasuke melihat jika pintu rumah Naruto terbuka, terlihat Naruto keluar lebih dulu. Kemudian Nejii menyusul bersama dengan Hinata. Rahang Sasuke mengeras, ternyata apa yang diucapkan Nejii benar. Dia berada dirumah Naruto bersama dengan Hinata sepupunya. Namun saat pandangan Sasuke jatuh pada Naruto, yang mengenakan hotpans yang memperlihatkan kaki jenjang dan lekukan pada bagian pribadinya. Sasuke meneguk ludahnya sendiri. Dipadukan dengan sebuah Ucansee longgar yang memperlihatkan branya, Sasuke memalingkan wajahnya.

Naruto yang kini terlihat sangat sexy, dengan pakaiannya membuat Sasuke terbayang akan masa lalunya bersama dengan Naruto. 'Andai saja aku tidak membuatmu pergi pasti kau masih berada disampingku. Naruto.', batin Sasuke.

.

.

Flashback On...

.

.

Kini Sasuke berada diapartemen miliknya yang diberikan Itachi padanya. Berhubung teman temannya Shikamaru, Kiba, dan Nejii sering menghabiskan waktu bahkan menginap. Maka Apartemen diberikan Itachi. Sikap mereka yang sering membawa gadis ke tempatnya membuatnya risih dan memutuskan untuk pindah.

Naruto kini berada dalam dekapannya. Ya, meskipun mereka masih remaja namun pergaulan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa dilakukannya. Sasuke bisa melihat wajah Naruto yang memerah dan kissmark yang menghiasi leher hingga dada Naruto. Bukan hal baru menurutnya. Namun setiap kali Sasuke menikmati Naruto, serasa membuatnya selalu menginginkannya lagi dan lagi. Belum puas rasanya jika Sasuke belum melihat lumeran miliknya keluar dari bagian kenikmatan Naruto. Tenang saja Naruto tidak akan hamil hanya karena Sasuke mengeluarkan sel pembuahan itu didalam rahim Naruto.

Keringat membasahi tubuh keduanya. Bahkan Naruto dibuat lemas oleh Sasuke. Entah sudah berapa kali Sasuke mengeluarkan spermanya, begitu pula Naruto yang kelelahan. Namun sepertinya Sasuke belum menunjukkan tanda akan membiarkan Naruto tidur kali ini.

"Suke, aku lemas bisakah kita lanjutkan nanti?", tanya Naruto.

"Tidak, kau ingin membuatku merasakan rasa sakit karena tidak mengeluarkannya?"

"Tapi..."

Sebelum melanjutkan kata katanya, Naruto telah dibungkam dengan ciuman panas yang membuat Naruto merasa kembali terhipnotis karena perilaku Sasuke. Naruto menikmatinya, setiap inci tubuhnya mendapatkan sentuhan lembut dari Sasuke. Naruto merasa penuh karena Sasuke berada didalam tubuhnya.

Sasuke terus membuat Naruto mengerang, dan menggumamkan namanya. Sasuke terus memompa dan terus memperdalam sentuhannya. Membuat Naruto mengejang dan mengeluarkan cairan cintanya. Naruto meninggalkan bekas cakaran ditubuh Sasuke. Perih, namun rasanya tidak sebanding dengan kenikmatan yang didapatkan Sasuke.

"Hah, kau tau Naruto kau selalu membuatku ingin terus menyiksamu seperti ini"

"Kau ingin aku pingsan karena terus dibuat orgasme karena perlakuanmu, Suke. Aaakh...", Naruto menimpali disela sela erangan yang keluarkannya.

"Tak apa, asal kau hanya melakukannya bersamaku"

"Kau egois Suke!", Naruto semakin keras mengerang dan bergumam.

"Keluarkan suara Naru!"

"Aaaaaakh Suke, kau...", tubuh Naruto kembali bergetar dan menegang.

Sungguh lelah, sangat melelahkan. Ini bukan pertama kalinya Naruto melakukannya dengan Sasuke. Tapi rasanya selalu seperti saat pertama Naruto menyerahkan segalanya pada Sasuke. Naruto menikmati setiap inci tubuhnya yang dimasuki Sasuke. Terasa milik Sasuke berkedut dan membengkak membuat miliknya terasa semakin penuh. Sasuke mengeluarkan miliknya dan membiarkan muntahan sperma membasahi tubuh polos Naruto.

Naruto hanya terdiam menutup matanya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Lelah. Hingga Naruto tertidur tanpa membersihkan badannya terlebih dahulu. Sasuke hanya tersenyum melihat tingkah Naruto yang kini terlihat damai dalam tidurnya. Sasuke membersihkan tubuhnya ke dikamarnya. Hanya lima belas menit, dan Sasuke sudah keluar dengan keadaan rambut yang basah dan tubuh yang hanya dibalut selembar handuk untuk menutupi bagian pribadinya.

Setelah mengenakan pakaiannya, Sasuke menghampiri Naruto yang kini tertidur tanpa mengubah posisinya yang terlentang. Sasuke adalah pemuda normal yang telah meniduri Naruto. Tapi jika disuguhi pemandangan erotis saat Naruto tertidur dengan posisi kaki jenjangnya masih mengangkang, dan tubuh polos yang tak tertutupi apapun dengan leleran sperma diatas tubuh Naruto. membuat akal sehat Sasuke dirasuki pikiran mesum, lagi.

"Tanpa kau sadari, tanpa perlu kau menggodaku. Kau berhasil membuang akal sehatku rusak, Naruto"

Dengan perlahan Sasuke membersihkan sisa sisa sperma yang membasahi tubuh Naruto. Sasuke tidak ingin membangunkan Naruto yang kini terlelap karena kelelahan. Dengan air yang diambilnya Sasuke membasuh tubuh Naruto, membersihkan keringat dan sisa sisa sperma miliknya yang menimbulkan aroma khas yang menguar. Dengan telaten Sasuke membenarkan posisi tidur Naruto kemudian menyelimutinya.

Sangat jarang sasuke bersikap lembut pada Naruto. Sasuke sering kali terkesan cuek, gois dan mau menang sendiri. Namun jika seperti saat ini, tanpa dimintapun Sasuke mau mengurus Naruto yang seperti anak kecil menurutnya. Wajah damai Naruto selalu menjadi pemandangan terindah untuk Sasuke jika Naruto terlelap disampingnya seperti saat ini.

"Kau milikku Naruto,selamanya"

.

.

Flashback Off...

.

.

Sasuke menyadari jika Nejii kini telah memacu mobilnya keluar dari pekarangan rumah Naruto. Hatinya panas. 'Bisa bisanya kau mengenakan pakaian seperti itu dihadapan pria lain selain aku?'. Cemburu. Satu kata yang kini tepat menggambarkan suasana hati Sasuke.

"Seharusnya kau menutup tubuhmu, Naruto!"

Rahang Sasuke mengeras, dan menghidupkan mobilnya untuk menyusul Nejii. Hatinya kini dirundung rasa cemburu. Karena melihat Naruto dengan pakaian sexy nya. Itu sangat mengganggu fikiran Sasuke.

"Sial, dia begitu menggoda"

Sasuke menggebrak stir mobil yang dipegangnya. Benar benar cara ampuh membuat Sasuke cemburu dan membuat gairahnya tersulut. Hanya dengan melihat Naruto seperti itu, bagaimana jika Naruto berada tepat dihadapanya? Mungkin tanpa fikir panjang, Sasuke bisa menerkam Naruto.

.

.

"Haaah, lelahnya!", seru Ino.

"Kau itu sebenarnya mau pindahan apa menjual barang, hingga semua barangmu kau bawa?", sahut Naruto.

"Kau tahu sendirikan jika kebutuhanku itu banyak Naruto. Dari mulai sepatu, tas, pakaian, alat make up hingga semua alat kecantikanku!"

"Ya, dirumahmu saja kamarmu sudah seperti salon pribadi Ino", timpal Hinata.

"Ini tidak sampai setengahnya dari semua barangku dirunah"

"Ya, ya sesukamu saja Ino. Ini kamarmu, kau berhak mengisi apapun.", sahut Naruto dengan cekikikan.

"baiklah, baiklah", jawab Ino bosan.

Ino sangat gila belanja, beruntung keluarganya tidak mempermasalhkan apapun yang diperbuat Ino. Sedangkan Hinata adalah seorang gadis pemalu. Tak akan berbicara jika belum ditanya. Tapi itu dulu, sebelum Hinata memutuskan tinggal dan menempuh pendidikan yang sama dengan Naruto dan Ino di bidang Fashion Design di Paris, empat tahun lalu.

Ino, Hinata dan Naruto sama sama memiliki ketertarikan pada fashion sejak dibangku sekolah dasar. Dan sekarang Ketiganya membangun bisnis bersama dibidang fashion. Memiliki kantor merangkap butik di pusat kota Konoha dan meraih popularitas atas karya yang telah dibuatnya membuat ketiganya dikenal sebagai designer handal di Konoha. Banyak yang sudah memakai jasa mereka. Hinata yang mendalami bidang gaun pengantin. Sedangkan Ino dan Naruto mendalami bidang gaun malam dan pakaian santai.

"Bagaimana jika sekarang kita pergi ke klub?", seru Ino.

"Kau ini gila pesta Ino", sahut Hinata.

"Tak apakan, lagi pula sudah lama kita tidak pergi bersama sejak Naruto di Suna"

"Hmm, tapi apa tidak apa apa Ino?", sahut Naruto.

"Bukankah kau sering ke klub saat di Suna, Naruto?"

"Memang, tapi..."

"Sudahlah, ayo sekarang kalian ganti pakaian kalian ya kita pergi"

Naruto dan Hinata menuruti perkataan Ino. Kembali kekamar untuk berganti pakaian. Naruto tahu benar pakaian apa yang seharusnya dikenakan saat pergi ke klub malam. Naruto memilih sebuah mini dres hitam yang mengekspos punggungnya. Dengan berpotongan rendah, namun sebuah kain transparan hitam membungkus bagian pundak Naruto. Meski begitu namun masih terlihat menggoda karena belahan lehernya yang rendah.

Saat Naruto keluar dari kamar, Ino sudah menunggunyam Sedangkan Hinata masih berada didalam kamarnya.

"Kau sexy, seperti biasa Naruto.", sahut Ino saat melihat Naruto.

Mini dres, potongan leher yang rendah, bagian transparan yang membalut pundaknya namun mengekspos bagian punggungnya, serta kaki jenjangnya yang dibalut heels tujuh senti. Ino sangat perfect untuk gaya Naruto. Apalagi rambutnya yang hanya diikat sekenanya dan meninggalkan beberapa anak rambut menghiasi wajahnya. Itu sangat membuat Naruto terlihat sempurna.

Saat Hinata Keluar kamar, dengan hanya menggunakan kemeja lengan panjang dan sebuah celana hotpans serta sepatu kats. Itu sudah membuat Hinata terlihat berbeda. Namun sepertinya tidak sesuai dengan pakaian yang dikenakan Naruto dan Ino.

"Kenapa kau menggunakan pakaian seperti itu?"

"Memangnya aku harus memakai pakaian seperti apa?"

"Setidaknya gunakan atasan yang sesuai. Kita bukan pergi ke mall Hinata", timpal Ino.

"Haaah, kau make over saja dia Ino"

"Benar juga, kau ikut aku Hinata"

"Haaaah, baiklah!"

Hinata tahu persis apa yang akan dilakukan Ino padanya. Bukan hanya menyuruhnya mengganti pakaian, namun pasti akan mendandaninya. Hinata tahu Ino tak akan membuatnya kecewa dengan hasil kerjanya. Namun Hinata belum terbiasa dengan riasan dan pakaian yang lebih terbuka.

Setelah setengah jam berlalu, Ino dan Hinata keluar kamar. Dan terlihat sekali perbedaan saat pertama Hinata keluar kamar dengan sekarang. Hianta kini mengenakan Hotpans yang tadi dipakainya. Namun Ino menyuruh Hinata mengganti baju dan sepatu yang digunakannya. Ino memberikan baju tanpa lengan dengan leher yang tertutup, namun rambutnya Ino ikat poni tail rapi dan tinggi. Sedangkan sepatunya diganti menggunakan Heels hitam senada dengan baju yang dikenakan Hinata.

"Nah, begitu lebih baik", seru Naruto saat melihat Hinata.

"Lets plat girl, we start the party!", seru Ino.

Ketiganya lalu turun dan menuju garasi mobil. Naruto yang kini bersiap untuk menyetir. Tak lupa Ino mengunci setiap jendela. Sedangkan Hinata menutup semua tirai. Dan terakhir Ino mengunci pintu rumah mereka. a.k.a rumah Naruto. Setelah merasa semua terkunci, Ino dan Hinata masuk ke mobil.

"Jadi kita pergi kemana malam ini?", tanya Naruto.

"Kita ke Akatsuki Club saja Naru, disana malam ini sedang ladies Night!"

"Baiklah, lets go!", seru Naruto.

Terdengar alunan musik R&B didalam mobil Naruto. Menghentak dan membuat Ino bergoyang dan bernyanyi mengikuti irama lagu. Sedangkan Hinata terlihat sedang memainkan ponselnya.

"Hay, Hinata kau sedang apa?", tanya Ino yang menyadari tingkah sahabatnya itu.

"Kak Nejii menanyakan apa yang sedang aku lakukan"

"Lalu kau bilang apa?"

"Aku bilang akan pergi ke klub Akatsuki bersama kalian", sahutnya.

"Oohh"

Narutopun masih terfokus untuk menyetir. Hatinya merasa tenang karena kehadiran kedua sahabatnya ini membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Namun Naruto tidak tahu hal apa yang akan terjadi saat dirinya berada di Klub nanti. Semoga apapun yang terjadi tidak membuatnya kembali kengalami mood yang buruk.

.

.

.

TBC

.

.

.

Chapter 5 selesai. Gimana nih lemonnya? Berasa gkk? Semoga feel y dapet dan minna san Suka ya? Haaah, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini ya. Semoga lancar dan menjadi berkah. amin.

Mohon riview nya ya minna,riview kalian sangat membantu untuk membenahi cara penulisan atau alur Fic ini.

salam,

Yoona Ramdanii