- To Little To Late -

Chapter 7

Fem Naruto x Sasuke

Rated : M

©Masashi Kishimoto

Hurt, Drama, Romance

.

.

Mungkin abal, mungkin Gaje, Typo bertebaran dimana mana, gkk sesuai EYD, bahasa absurd, nyeleneh, seenaknya, alur kecepetan.

.

Dont Like, Dont Read!

.

.

Naruto Pov..

.

Aku berada disebuah ruangan,sepertinya ini sebuah kamar. Tunggu. Aku sepertinya mengenal kamar ini. Ini kamar... Sasuke. Apa? Kamar Sasuke? Untuk apa aku ada disini. Seingatku aku tidak pergi bersama Sasuke. Tapi kenapa aku ada disini? Aneh.

Aku tak bisa menggerakan tubuhku. Hei... tangan ku terikat diatas sebuah ranjang? Apa yang sebenarnya terjadi? Oh Kami-sama apa salahku? Tunggu. Apa aku tidak salah lihat? Kemana pakaianku? Hei mana bajuku? Tapi anehnya aku tidak bisa berbicara.

Aku lihat pintu itu terbuka, dan Sasuke masuk ke dalam kamar yang aku tempati. Dia tersenyum padaku. Dan aku membalas senyumannya, ini sangat aneh. Sepertinya aku pernah mengalami hal ini sebelumnya.

"Kau menginginkanku?", tanya Sasuke padaku.

"Puaskan aku, Suke" aku berkata tapi aku tak bisa mengontrol ucapanku sendiri. Ini menyedihkan.

"Your wish is my command honey"

Sasuke mulai membuka satu persatu pakaian yang dikenakanya. Dia sangat terlihat tampan. Tampan? Ya, dia selalu tampan dimataku. Sekalipun dia bersikap cuek dan dingin padaku. Tapi aku menyukainya.

Perlahan dia mulai menjamah tubuhku yang terikat. Mengecup setiap inci dari tubuhku. Tangannya tak berhenti menyentuhku. Sedangkan bibirnya menjamah leherku, dia mengecup dan terasa perih dileherku. Sepertinya dia meninggalkan jejak kepemilikkannya disana.

Aku melihat Sasuke menyeringai padaku, dia masih membenamkan kepalanya diperpotongan leherku namun sekarang agak turun kebagian dadaku. Oh shiit! Dia tau setiap bagian sensitif ditubuhku. Tapi aku menikmatinya.

"Kau suka Naru?"

"Ya,lanjutkan Suke. Aku milikmu!"

Hell No! Aku tak bisa mengontrol setiap ucapanku. Dan apa yang dia lakukan? Dia terus membuatku menggelinjang karena rasa geli dan nikmat di puncak dadaku? Dia menggigitnya. Sakit. Tapi aku menikmatinya. Biarlah sekali ini saja aku membiarkannya menikmati tubuhku. Karena tak ada yang menyentuhku selain Sasuke.

"Aaakh..."

Aku mengejang saat Sasuke menyentuh bagian bawah tubuhku. Aku melebarkan jarak antara kedua kakiku. Entahlah, tubuhku bergerak dengan sendirinya. Sasuke terus menyentuhku, hingga tubuhku mengejang dan mengerang. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuhku. Dan itu sangat membuatku lemas. Aku tak tahu.

"Kau sangat basah, Hime!", Sasuke mengangkat tangannya yang terlihat basah dan menunjukkannya padaku.

Aku menerima semua perlakuan Sasuke terhadapku. Aku hanya bisa terdiam karena kedua tanganku terikat pada sisi ranjang. Dadaku seperti menantang Sasuke untuk menjamahnya, tanpa aku sadari Sasuke meremas dadaku hingga memerah dan meninggalkan bekas disana.

"Kau menyakitiku, Suke", ucapku.

Sasuke mengecup keningku, dan kemudian menciumku. Ini membuatku gila. Dia memabukkanku akan semua tingkahnya. Aku sangat menginginkannya.

Dia mengecup bibirku. Awalnya hanya sebuah lumatan lembut, tapi semakin lama semakin panas dan membuat gairahku membara. Sasuke menuntutku untuk membuka akses untuk menjamah isi mulutku. Dia menggila. Dia mengobrak abrik mulutku, hingga dia melepaskanku karena oksigen yang kian menipis dan menyesakkan dadaku. Aku pastikan nafasku kian memburu dan rasanya tubuhku serasa terbakar. Aku menginginkannya. Aku menginginkan lebih.

"boleh aku masuk Naru?"

"Sepuasmu Suke"

"Kau milikku, Hime!"

Perlahan tapi pasti Sasuke memasuki tubuhku. aku bisa merasakannya. Gerakannya lembut dan tidak menyakitiku. Aku berpegangan pada tali yang mengikat tanganku. Sasuke masih terus membuat kissmark pada tubuhku.

Peluh dan rasa lelah sudah menjalar disetiap inci tubuhku. Namun Sasuke masih belum menunjukkan tanda akan berhenti memompaku. Aku lelah. Aku bisa mendengar Sasuke masih menggumamkan namaku. Aku tak bisa melepaskan diri.

"Suke, bisakah kau berhenti. aku lelah"

"Tidak, hingga aku keluar Naru!"

Aku mengeratkan kakiku pada pinggang Sasuke. Aku mengangkat tubuhku agar Sasuke bisa leluasa memasukiku. Namun Saat Sasuke mengejang dan menyebut namaku. aku tak bisa mendengarnya. Tubuhku seperti tak bisa merasakan apapun. Dan suara siapa itu? Hinata? Dia disini? Terimakasih Kami-sama. Kau menolongku.

.

Naruto Pov Off

.

Naruto masih tertidur sedangkan matahari sudah meninggi. Hinata berusaha untuk membangunkannya.

"Naru ini sudah siang, bangunlah",Hinata menggoyangkan tangan Naruto agar terbangun.

"Aaakh...", suara desahan yang Naruto gumamkan.

"Kau bermimpi Naru?", tanya Hinata.

"Biarkan saja dia tidur Hinata, dia pasti lelah karena semalam", sahut Ino.

"Ini sudah siang Ino,dia belum makan sejak kemarin malam", sahut Hinata.

"Nanti dia akan bangun jika kau sebut nama Sasuke!"

"Benarkah?"

"Coba saja"

"Baiklah, Naru ada Sasuke mencarimu!"

Tanpa diduga Naruto mengerjap ngerjapkan matanya, dan berusaha menyesuaikan diri dengan sinar matahari yang membuat silau matanya.

"Suke?", tanya Naruto.

"Hah dia selalu bisa benci tapi tetap saja dia mencintai Sasuke", tutur Ino melihat tingkah Naruto.

Naruto mengerjap ngerjapkan matanya untuk membiasakan matanya terkena cahaya terang matahari. Perlahan tapi pasti iris shappire itu menampakkan keindahannya. Ino yang duduk di sofa bersebelahan dengan Naruto hanya mendengus geli melihat tingkah Naruto yang sangat lucu saat bangun tidur.

"Ternyata kau masih mencintainya, eh?", tanya Ino.

"Apa maksudmu?"

"Kau masih mencintai Sasuke, ya kan?", sambung Hinata.

"Yah begitulah, kalian lebih tahu bagaimana aku saat ini bukan?"

"Jadi bagaimana jika Sasuke menginginkanmu lagi?"

"Hmm, entahlah Ino. Aku tidak tahu"

"Kenapa?"

"Karena selalu ada bayangannya dimataku. Tapi saat aku melihat wajahnya selalu terlintas rasa sakit disini", Naruto menggenggam dada dan meremasnya seakan menahan rasa sakit yang telah bersarang lama disana.

"jadi, kau akan menerimanya kembali atau tidak?", tanya Ino.

"Jika memang Sasuke berubah mungkin aku akan mencoba untuk membiarkannya mendekatiku hingga aku yakin dia benar benar berubah. Tapi jika dia masih tetap sama, maka akan aku biarkan hiti ini kosong selamanya"

"Kau selalu bicara seolah tidak akan ada cinta yang lain untukmu selain Sasuke!"

"Kau ingat saat Gaara berpacaran denganku?"

"Ya,memangnya kenapa?

"Dia selingkuh Ino, dengan Sakura."

"Apa kau bercanda?"

"tidak. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!"

.

.

Flashback On..

.

.

jauh sebelum Naruto menerima Sasuke, Gaara adalah satu satunya pemuda yang dekat dengan Naruto. Naruto mencoba untuk membuka hati untuk pemuda lain sebelum menemukan sang pangeran tampan yang membuatnya terjatuh kedalam saluran air sekolahnya.

Awalnya semuanya baik baik saja. Hingga pada saat Naruto memergoki Gaara sedang bercumbu mesra dengan Sakura diruang olahraga. Entah apa yang sebenarnya terjadi tapi Naruto hanya bersikap cuek dan seolah tidak perduli. Naruto bisa melihat dengan jelas tubuh Sakura yang setengah telanjang sedang dijamah tangan Gaara.

Naruto tau apa yang terjadi namun tak mengindahkan aktifitas yang kini terlihat jelas dimatanya. Naruto hanya memandang datar dua anak manusia yang mencoba menyatukan diri itu.

"Maaf mengganggu, aku disuruh Guy-sensei mengambil bola kalian lanjutkan"

Gaara terdiam, melihat sikap Naruto yang dingin dan seolah tak perduli. Sedangkan Sakura hanya memandang remeh Naruto.

"Kau lihat Naru,Gaara memilihku", seru Sakura.

"Lalu apa hubungannya denganku?", tanya Naruto.

"Bukankah kau pernah bilang pada Sasuke jika aku berciuman dengan pemuda lain?"

"Aku bahkan tidak tahu yang mana Sasuke. Dia hanya bertanya tentangmu dan bilang padaku jika kau sering menyakitinya. Yah aku sekarang tahu. Ternyata gadis lugu sepertimu bisa berubah menjadi gadis murahan seperti ini!"

Plaaaaak...

"Jaga mulutmu Naruto!",Sakura berteriak.

"Mulutku yang harus aku jaga atau sikapmu, Haruno Sakura?"

"Kau.. lancang sekali kau!'

"Sakura kau temanku, tapi bukan Sakura yang dulu aku kenal. Kau adalah Sakura , tapi bukan temanku. Seorang teman tidak akan saling menyakiti. Kau boleh mengambil Gaara jika ku mau!"

Naruto berbalik dan membiarkan sudut bibirnya terluka. tapi saat Naruto akan keluar , Gaara memanggilnya.

"Naruto!"

"Ya?"

"Maafkan aku."

"Tak perlu ada yang harus dimaafkan Gaara. Kau benar seharusnya aku pandai memilih teman lelaki. Benarkan?"

"Ya Kau benar'

"Sudahlah Gaara, biarkan saja dia kita lanjutkan saja"

"Kau gadis tidak tau diri, Sakura."

"Apa maksudmu?"

"Kau bodoh menyianyiakan seorang teman seperti Naruto!"

"Hei kau baru saja bercinta denganku sekarang kau sudah membela gadis bodoh ini?"

"bukan Naruto yang bodoh tapi kau!"

"Sudahlah Gaara, seharusnya aku jujur padamu sejak awal jika aku hanya menganggapmu teman. Maafkan aku!"

"Tidak Naru, seharusnya aku yang minta maaf karena sikapku ini"

"Tak apa Gaara, aku sudah memaafkanmu. Sekarang kau selesaikan urusanmu dengannya aku lelah berurusan dengannya!"

.

.

Flashback Off

.

.

"Jadi rumor itu benar?"

"Rumor apa maksudmu Ino?", sambung Hinata.

"Jika sebenarnya Sakura merebut Gaara dari Naruto dan juga Sasuke dari Karin?"

"Ya, aku dengar begitu. Bahkan sebenarnya aku mengenal Sasuke pun tanpa sengaja. Kalian tahu sendiri bagaimana hubungan awal hingga akhir antara aku dan Sasuke Sakura selalu membayang bayangi hubunganku. Seolah dialah yang tersakiti. Aku tak tahu apa yang membuatnya menjadi seperti itu.", tutur Naruto.

"Sebenarnya aku pernah mendengarkan Sakura bercerita padaku."

"Apa maksudmu Hinata?", sahut Ino.

"Ya dia -Sakura- merasa jika selama berteman dengan Naruto itu adalah sebuah kesalahan."

"Kesalahan?", beo Naruto.

"Ya."

"Apa maksudnya?", Ino penasaran.

"selama berteman dengan Naruto, dia hanya memanfaatkan kau Naru. Dia bilang kau bisa dimanfaatkan karena kau pintar. Selain itu kau juga populer Sakura hanya memanfaatkanmu saja. Dan pada saat Utakata meminta bantuan Sakura untuk mendekatimu, Sakura merasa kalah. Karena bukan Sakura yang disukai Utakata melainkan kau, Naruto."

"Yang benar saja?", Ino memijat pangkal hidungnya. "Jadi hanya karena masalah itu dia berubah? Ironis sekali.", Ino menampakkan raut wajah tak percaya.

"Bahkan jauh sebelum itu Sakura sebenarnya selalu iri padamu Naru. Kau sangat mudah bergaul dan akrab pada siswa laki laki di Junior High School maupun High School. Dan Sakura sangat iri padamu karena hal itu."

"Astaga, fikiranya kekanakan sekali.", sahut Naruto.

"Ya apa mau dikata Naru, orang sirik ya pasti akan selalu sirik bagaimanapun kita bersikap baik dimatanya hanya akan dianggap kamuflase. Sekali busuk tetap saja tak bisa ditutupi lama lama pasti akan ketahuan baunya.", Sahut Ino..

"Sudahlah Naru, kita hadapi saja apa yang sekarang menjadi masalahmu tentang Sasuke. Untuk apa memikirkan Sakura yang sebenarnya menikammu dari belakang?", sahut Hinata.

"Kau benar."

"Bagaimana jika kita pergi ke pantai untuk berlibur?", sambung Ino.

"Kita sudah lama tidak liburan bersama buka?", sahut Hinata..

"Yosh sudah diputuskan minggu ini kita pergi ke pantai"

Naruto mengangkat tangannya keatas dengan bersemangat seolah lupa dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya tentang sahabat bubble gum-nya -Sakura-. Hinata hanya tersenyum menanggapi perubahan emosi Naruto yang sangat drastis. Memang pada dasarnya Naruto bukan tipe orang yang larut akan masalah. Namun jika bertemu dengan seseorang yang belum mengenalnya pasti akan membuat mereka geleng geleng kepala, tak mengerti dengan sifat sahabat blonde nya ini.

.

.

Skip Time

.

.

Hari sabtu telah tiba. Naruto, Ino dan Hinata tengah bersiap untuk pergi ke pantai seperti yang telah mereka rencanakan sebelumnya. Seperti biasa Ino menjadi lebih over fashionable jika menyangkut liburan. Kenapa? Karena dia bisa cuci mata. Begitulah kira kira sikap centil Ino yang terlewat over hingga membuatnya menjadi seorang playgirl.

Semua itu hanya menjadi sebuah hal yang lumrah dimata Naruto dan Hinata selaku sahabatnya. Mengingat Ino sering bergonta ganti pacar. Apapun itu selama tidak merugikan dirinya sendiri, mereka sebagai sahabat hanya bisa saling mendukung dan mensupport apapun yang dilakukan satu sama lain.

Jauh dimansion Uchiha, Sasuke sangat kesal dan mendeadtglare Nejii yang memberitahu jika Naruto, Hinata serta Ino akan pergi ke pantai hari ini. Karena info dadakan ini merubah segala rencana yang telah disusun rapi oleh Sasuke. Mengingat Sasuke sudah membooking sebuah resto mewah untuk dinner bersama dengan Naruto. Tapi rencana tinggalah rencana. Naruto telah memutuskan untuk pergi, dan tentu saja Sasuke akan menjadi stalker weekend ini.

"Kenapa harus pergi ke pantai sih?", gerutu Sasuke Ooc.

"Ara.. kau seperti tidak tahu Naruto saja", timpa Kiba.

"Sepertinya akan ada yang berubah profesi lagi hari ini..", sahut Nejii.

"Ck, mendokusei na.. kau akan ikut apa tidak Suke?"

"Hn. Menyebalkan.."

.

.

Naruto sudah membooking satu bungalau yang mempunyai fiew cantik. Menghadap ke pantai dan bermandikan cahaya senja membuat bungalau itu terlihat cantik dan romantis. Dengan tiga kamar tidur, satu ruang tamu, dapur dan juga kamar mandi di masing masing kamar membuat bungalau itu nyaman untuk ditinggali selama Naruto, Hinata dan Ino liburan di Kiri.

Hanya dengan waktu dua jam menggunakan pesawat dari Konoha. Naruto, Hinata, dan Ino sudah sampai di Kiri.

"Naruto...!"

Terdengar seorang pemuda memanggil Naruto. Wajahnya tampan, bersurai merah, juga pakaian santai yang dikenakannya membuat pemuda itu terlihat tampan. Naruto yang merasa seseorang tengah memanggilnya, mencari asal suara itu.

"Heii, Naruto kau ingat pemuda itu?", tunjuk Ino pada seorang pemuda bersurai merah yang tengah melambaikan tangannya ke arah Naruto, Hinata dan Ino.

"Eeeerrr, bukankah dia... Gaara?"

"Benar, itu Gaara dia memanggilmu Naru", sahut Hinata.

Pemuda itu terlihat berjalan menuju ke arah tiga gadis yang baru saja turun dari pesawat.

"Haii, lama tak berjumpa. Kau semakin cantik saja Naru!", puji pemuda itu pada Naruto.

"Akh.. Gaara. Terimakasih", sahut Naruto.

"Jadi sedang apa kalian disini?", tanya Gaara.

"Kami sedang liburan, kau?", sahut Ino.

"Aku juga, kebetulan aku sedang menunggu travel untuk ke bungalau Akimichi"

"Akimichi? Bukankah kita menyewa bunglau disana juga Naru?", tanya Hinata.

"Ah ya, kami juga menyewa bungalau disana."

"Jadi kita menuju tempat yang sama?", tanya Garaa.

"Ya, kebetulan sekali.", Naruto tersenyum

"Bagaimana jika kita menunggu bersama saja?", usul Ino.

"Itu bukan ide yang buruk. Baiklah. Aku akan menjadi bodyguard kalian"

"Kau bisa saja Gaara."

Tanpa diduga ternyata mereka bertemu dengan Gaara. Mantan kekasih Naruto. Tidak ada kecanggungan, hanya terlihat lebih akrab setelah bertahun tahun tidak bertemu. Naruto, Ino, Hinata dan Gaara menyewa bungalau ditempat yang sama. Dan mereka terlihat menghabiskan waktu bersama.

"Gaara, bagaimana perusahaanmu di Hokaido?"

"sudah berkembang, lumayan saingannya membuatku kerepotan"

"Jangan merendah begitu, aku yakin kau bos yang handal", kekeh Ino.

"Kau selalu bisa membuat orang lain betah berlama lama mengobrol denganmu jika kau selalu memuji begitu Ino", sahut Hinata.

"Kau benar, padahal aslinya Ino itu super cerewet tahu!", timpal Naruto.

"Kalian selalu saja membuat moodku turun!"

"Kalian terlihat akrab ya? Tapi kemana Sakura, apa kalian tidak mengajaknya?"

Ino, dan Hinata hanya saling pandang kemudian beralih memandang Naruto yang seakan terdiam. Gaara yang menyadari kesalahannya dibuat canggung karena diamnya Naruto.

"Dia bukan bagian dariku, Ino, ataupun Hinata. Kau tahu itu?", tanya Naruto

"Jadi benar Sakura meninggalkan kalian?"

"Gaara, sebaiknya kita jangan membicarakannya lagi. Aku muak!", gerutu Naruto.

"Baiklah, bagaimana jika sore ini kita kepantai melihat sunseet?"

"Ide bagus.", sahut Ino.

"Aku akan menyiapkan makanan dan minuman kecil untuk kita, bagaimana?", usul Hinata.

"Ide bagus,", sahut Gaara.

Ino dan Hinata langsung pergi ke dapur untuk melihat makanan apa saja yang akan dibawanya nanti sore. mengingat ini masih siang dan belum ada makanan apapun yang dibelinya untuk mengisi lemari es.

"Sepetinya aku harus belanja membeli camilan, kalian mau perlu sesuatu biar sekalian aku belikan?", tanya Hinata.

"Tidak terimakasih", Gaara tersenyum.

"Kau Naru?"

"Seperti biasa.", dengan cengiran khasnya.

"Ramen instan?", Narutopun mengangguk sebagai jawaban. "Haaaah, baiklah. Aku pergi bersama Ino. Jaa ne.."

"Hati hati ya?", teriak Naruto dari dalam bungalau.

.

.

Gaara yang tahu jika Naruto kini sendirian.-single- mencoba untuk mendekati dan mendapatkan kembali Naruto. Menjadiakannya lagi kekasih, seperti saat dulu sebelum Sakura masuk kedalam hidupnya dan membuatnya kehilangan Naruto. Gaara menunjukkan seringainya tanpa Naruto sadari yang sedang berjalan ditepi pantai sore ini.

Matahati terlihat mulai membiaskan cahayanya diatas air laut. deru ombak menjadi satu satunya lantunan lagu yang indah menjamahi indra pendengaran Naruto. Begitu indah, bau anyir pantai yang tertiup angin seolah menjadi aroma memabukan untuk Naruto. Damai. Hanya itu yang kini dirasakan Naruto.

Sudah lama, semenjak orang tuanya bercerai. Naruto tak lagi merasakan kedamaian seperti ini. Hatinya selalu diliputi rasa rindu yang membuatnya sesak pada sosok raven yang kini menghantui harinya lagi.

Entahlah. Mungkin takdir akan berkata lain jika Naruto bisa melupakannya. Namun apa yang Naruto dapat sekarang bukanlah ketenangan, tapi kekosongan saat jauh dari sosok pemilik iris onyxs itu.

"haaaaaaah, aku merindukanmu", guman Naruto.

"Apa kau berbicara sesuatu Naru?", tanya Gaara yang kini berjalan disamping Naruto.

Naruto menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya merasa damai disini", sambil memegang dadanya Naruto tersenyum hangat pada Gaara.

"Naru, apa aku boleh bicara sesuatu padamu?"

"Ya, memangnya apa?"

"Aku masih mencarimu"

Naruto berhenti berjalan dan membiarkan Gaara berjalan mendahuluinya. Naruto terdiam dan memandang kosong pada pasir putih yang dipijaknya. Rasa hampa itu kembali menyeruak dalam benaknya. Bukankah jika ada seseorang yang menyatakan cinta seharusnya merasa bahagia? Tapi tidak untuk Naruto.

"Kau kenapa Naru, apa aku salah bicara?"

"Tidak. Hanya saja aku tidak terpikirkan hal itu untuk sekarang"

"Tak apa, aku mengerti Naru"

"Gomen.. aku kembali ke bungalau saja. Tak apa kan Gaara?"

"Ya aku tak apa, mau aku antar?"

"Tak usah, aku bisa pulang sendiri."

"Baiklah, hati hati ya Naruto?"

Kini Naruto berjalan sendirian, menapaki hamparan pasir putih yang dipayungi semburat senja dilangit yang mulai menggelap. Bayangannya terpantul diatas pasir, terlihat jelas jika sang sapphier tak menghiraukan sekelilingnya.

Naruto terus berjalan, tanpa disadarinya Gaara mengikuti Naruto dari belakang. Rasa sakit dan kecewa mengerubungi pemuda bersurai merah itu. Hatinya tak terima jika dirinya ditolak gadis pemilik iris sapphier didepannya.

'Jika aku tak bisa memilikimu, biarlah tak ada yang bisa memilikimu siapapun itu. Naruto'. Gaara menyeringai psikopat melihat Naruto yang tak menyadari kehadirannya. Saat ada kesempatan, Gaara mulai melebarkan langkahnya, kemudian merangkul Naruto dari belakang hingga Naruto terpekik karena perlakuan tak senonoh yang diterimanya.

Saat sadar siapa yang kini mejamah tubuhnya, Naruto terbelalak. Tak percaya siapa yang melakukan pelecehan ini padanya.

"Gaara, apa yang kau lakukan?!"

"Jika aku tak bisa memilikimu, aku tak akan rela jika orang lain yang memilikimu Naruto!"

"Brengsek, lepaskan aku Gaara!"

Gaara kini meremas bukit kembar milik Naruto, meremasnya dengan brutal dan sesekali menciumi tengkuk Naruto..

"Aaaakh, lepas Gaara kumohon!"

Kini Naruto terpekik saat pakaian yang dikenakannya dirobek paksa oleh Gaara yang kini menghimpit tubuh mungil Naruto kesebuah batang pohon dipinggir pantai itu. Naruto tak bisa berbuat banyak karena tangannya kini terkunci akibat cengkraman kuat dari pemuda yang kini menggerayangi tubuhnya.

"Hiks.. lepaskan aku Gaara!"

Naruto terisak, menggigiti bibir bawahnya agar suara erangan tak lolos dari bibirnya. Naruto tahu ini salah, merasa jijik dengan apa yang kini dilakukan Gaara terhadapnya.

"Malam ini kau milikku!", bisik Gaara ditelinga Naruto setelah meninggalkan tanda kepemilikkan dileher jenjang gadis blonde yang ada dalam kungkungannya.

Gaara mulai bertindak brutal saat Naruto memberontak. Sesekali menampar pipi gembil Naruto dan meninggalkan bekas memar diwajahnya. Naruto berdoa dalam hati agar siapapun bisa menolongnya saat ini.

.

.

Sasuke tahu jika sekarang Naruto dan kedua sahabatnya sedang bersenang senang dipantai. Bersukurlah dia karena Nejii sang sahabat memberitahukannya. Tak lama setelah mendapat kabar itu Sasuke langsung menyusul Naruto. Entahlah. Mungkin dia hanya ingin menjadi pangeran tampan berkuda putih yang menolong sang gadis yang sedang terpojok dan terluka? Menggelikan sekali.

Dan disinilah Sasuke sekarang, berjalan sendirian ditepi pantai sambil memandangi semburat senja dikejauhan yang memantul pada ombak dan terkesan seperti sedang menertawakannya? Oh tidak. Itu memalukan. Tapi itu kenyataannya.

Sasuke hanya berjalan tanpa alas kaki. mengenakan stelan outfit yang sangat santai. Kemeja putih polos yang tak dikancingkan, kaos singlet berwarna hitam dengan sebuah kalung berbentuk pusaran angin menggantung dilehernya serta celana pendek selutut berwarna hitam menyempurnakan penampilannya sore ini.

"Kau sedang apa Naru, aku merindukanmu!", gumam Sasuke.

Sasuke melihat dua gadis yang tengah berlari seperti mencari sesuatu. Tapi tunggu dulu bukankah 'Ino dan Hinata? Kemana Naruto?', inner Sasuke sangat ingin tahu dimana keberadaan pujaan hatinya.

"Ahh.. Sasuke sedang apa kau disini?", tanya Ino dengan raut wajah kebingungan.

"Aku sedang jalan jalan, kau sendiri?"

"Aku mencari Naruto, sejak tadi siang dia tidak kembali ini hampir malam!"

"Naruto? Dia disini?", Sasuke pura pura tak tahu. *modus*

"Ya, dia tadi bersama Gaara. Aku khawatir!", sahut Hinata.

Sasuke menautkan sebelah alisnya tak mengerti. Tapi Gaara itu bukankah mantan kekasih Naruto? Ck, sial. Dia keduluan!

"Bukankah tak apa jika dia pergi bersama pemuda lain?"

"Iya itu wajar, jika aku tidak menemukan sobekan pakaian Naruto di pinggir pantai disana!", teriak Ino histeris dengan airmata yang menunggu untuk terjatuh dari pelupuk matanya.

"Apa maksudmu?", Sasuke merasakan firasat buruk.

"Aku takut terjadi sesuatu pada Naruto. Sasuke bantu aku mencarinya ya?!"

Tak menunggu lama, Sasuke langsung menelephone ketiga sahabatnya. Nejii, Kiba dan Shikamaru. Akhirnya mereka berenam mencari keberadaan Naruto. Sasuke dengan Shikamaru, Ino dengan Kibaa, dan Hinata bersama Nejii. Mereka berpencar mencari Naruto.

Waktu sudah hampir tengah malam namun belum terlihat satupun tanda keberadaan Naruto. 'Kau dimana Naru, jawab aku', bagai bisikan yang tersalurkan Naruto yang kini tengah dijamahi Gaara menjawab bisikan itu. 'Suke tolong, aku disini!'.

.

.

Naruto menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Menahan suara desahan agar tak keluar dari bibirnya. Namun apa tang dilakukan Gaara sekarang benar benar menghancurkan dirinya. Ini pelecehan. 'Kami-sama tolonglah!'.

"Kau sangat nikmat Naru. Keluarkan suaramu pelacur!" teriak Gaara dengan menjambak surai matahari milik Naruto.

"Hiks...sa-sakit Gaara, apa salahku padamu?"

"Kau belum aku cicipi Naruto. Aku didahului Sasuke untuk menidurimu.. aaaaaaakh.. kau sempit sekali"

"Tolong hentikan Gaara, aku mohon!"

"Diam, nikmati saja!", teriak Gaara.

Entah setan apa yang kini merasuki Gaara, pinggulnya terus memompa kejantanannya mengobrak abrik liang senggama milik Naruto. Bahkan cairan putih kental sudah menetes dan membasahi kaki jenjang Naruto. Entah sudah berapa kali Gaara melesakkan kejantanannya.

Naruto benar benar benci perlakuan Gaara padanya. Naruto tak bisa melawan. Luka lebam ditubuhnya memberikan efek ngilu dan perih disaat yang bersamaan. Bukan tidak melawan, hanya saja kekuatan seorang pria pasti jauh lebih besar dari pada kekuatan seorang wanita bukan?

Terdengar suara grasak grusuk dari luar ruangan yang kini dipakai Gaara untuk menyetubuhi Naruto. Sebuah gudang peralatan selancar dibawah jembatan dermaga pantai.

"Naruto... kau dimana?"

Naruto menyadari siapa yang mencarinya. Sasuke. Betapa leganya Naruto saat tahu Sasuke ada di Ame dan kini tengah mencarinya. Naruto berusaha berontak dan melepaskan kungkungan Gaara dari tubuhnya. Meskipun Naruto sudah kemas dan tak kuat lagi untuk menopang berat tubuhnya dengan kedua kakinya. Namun Naruto terus melawan Gaara.

"Sasuke! aku disini!"

"Dia kau gais sialan. Kau harus memuaskanku!"

Plakkkk...

Gaara kembali menampar pipi gembil Naruto hingga mengeluarkan darah segar disudut bibirnya. Gaara kembali meraih kaki sebelah kiri milik Naruto kemudian menancapkan kembali kejantanannya. Sambil meremas bukit kembar milik Naruto yang kini tengah memerah akibat remasan dan kekerasan yang dilakukan Gaara pada wanita yang kini dengan terpaksa melayani nafsu bejadnya.

"Hiiiiiks... Suke tolong aku!"

.

.

Sasuke terus berlari hingga keujung pantai dermaga. Gelap memang namun Naruto masih belum ditemukan. Ini sudah pukul sepuluh malam.

"Naruto... kamu dimana?", teriaknya frustasi..

Namun tanpa diduga ada suara yang menyahutinya.

"Suke... aku disini!"

Tunggu. Sasuke langsung mencari asal suara. Namun tak ada jawaban lagi ketika Sasuke kembali berteriak. Namun ada hal ganjil didermaga ini. Gudang yang terletak dibawah dermaga itu terlihat seperti ada cahaya didalamnya.

'Mungkinkah?', batin Sasuke. Dengan cepat Sasuke mengirimkan pesan pada ketiga sahabatnya agar segera menyusul kedermaga. Sasuke memeriksa gudang itu. Namun apa yang dilihatnya kini benar benar membuat hatinya panas.

"Brengsek!"

Ya, kini Sasuke melihat Naruto sedang disetubuhi oleh pemuda dengan surai merah maroon. Dengan air mata dan terisak Naruto tak bisa melawan ketika tubuhnya disentuh oleh tangan kotor milik pemuda yang kini tengah menikmati tubuhnya. Ini keterlaluan.

Tanpa pikir panjang Sasuke mengambil sebuah balok kayu yang tergeletak di samping pintu masuk gudang. Dengan cepat Sasuke langsung mendobrak gudang itu. Pintu yang dobrakpun terbuka fan menimbulkan suara gedubrak yang dengan pasti mengganggu aktifitas yang sedang terjadi didalamnya.

"Apa yang lakukan bangsat!"

Sasuke mengayunkan balok kayu yang kini ada ditangannya. tidak tanggung, Sasuke langsung menghantam kepala pemuda bersurai merah itu hingga tersungkur. Sedangkan Naruto kini ambruk tak sadarkan diri tanpa pakaian yang menutupi tubuhnya.

Terkihat beberapa bercak kemerahan dileher hingga kedada Naruto. Sasuke sangat mengutuk perlakuan keji yang dilakukan pemuda yang kini bangkit dari tersungkurnya.

"Ck, kau mengganggu santap malamku Sasuke!"

"Brengsek, apa yang kau lakukan pada Naruto hah!"

"Tentu saja menikmatinya apa lagi?", dengan santainya Gaara menjawab pertanyaan Sasuke.

Tanpa pikir panjang, Sasuke kembali menghantamkan balok kayu yang masih dipegang ke arah pemuda tadi. Namun tak bisa dipungkiri jika hantaman pertama masih meninggalkan rasa pusing dan nyeri dikepala Gaara. Apalagi sekarang Sasuke menghajarnya lagi.

Gaara kembali terjatuh dengan darah mengalir dikepalanya. Sedangkan Sasuke yang kini tengah kalap karena emosi langsung menjambak surai merah Gaara dan langsung kembali menghajar Gaara dengan tangan kosong.

Wajah Gaara yang tadinya rupawan kini berubah bengkak dan mengeluarkan darah segar dari hidung, mulut dan tentu saja kepalanya yang bocor akibat hantaman balok kayu Sasuke. Beruntung Gaara masih bisa dilepaskan dari amukan Sasuke karena Shikamaru datang memisahkan Sasuke dari atas tubuh Gaara yang kini tak sadarkan diri.

"Brengsek. kau menghancurkan hidupnya. Cih!"

"Sasuke hentikan. Sebaiknya kita bawa saja Naruto dia kedinginan!"

"Dia harus mati ditanganku!",tunjuk Sasuke pada Gaara.

"Sudahlah, cepat kau bawa Naruto. Biar bajingan ini aku yang urus!"

Sasuke melepaskan kemeja yang dikenakannya untuk menutupi tubuh polos Naruto yang tak sadarkan diri. Bau sperma langsung menyengat saat Sasuke mendekati Naruto dan menggendongnya. Sakit dan hancur yang kini dirasakan Sasuke

Sakit, karena melihat wanita yang dicintainya mengalami pelecehan oleh teman tepatnya mantan kekasihnya sendiri. Dan hancur, karena merasa tak bisa melindungi Naruto. Betapa bodoh sikapnya dulu yang sangat tempramental hingga membuat wanita yang kini berada dalam gendongannya mengalami hal seperti ini.

"Naru aku janji akan melindungimu, dengan nyawaku!"

Sasuke mengecup lembut kening Naruto yang kini masih tak sadarkan diri. Tapi tanpa Sasuke sadarai jika Naruto menangis dalam ketidak sadarannya.

.

.

.

.

.

.

TBC.

.

.

.

.

Haaaaaaaaah... akhirnya beres juga chap7 nya.. udc lama chap ini terbengkalai gkk disentuh sama sekali akibat kesibukan saya. mohon maaf minna atas keterlambatan pengupdate-an fic ini.. masih setia menunggu? baiklah... mohon riviewnya ya minna..

salam,

Yoona Ramdanii