- To Little To Late -
Chapter 9
Fem Naruto x Sasuke
Rated : M
©Masashi Kishimoto
Hurt, Drama, Romance
.
.
Mungkin abal, mungkin Gaje, Typo bertebaran dimana
mana, gkk sesuai EYD, bahasa absurd, nyeleneh,
seenaknya, alur kecepetan.
.
Dont Like, Dont Read!
.
.
Tiga bulan setelah kejadian penculikan dan pemerkosaan yang dilakukan Gaara pada Naruto. Kini Naruto kembali menjalani hari harinya bersama Sasuke. Sasuke tak membiarkan Naruto untuk mengerjakan hal berat. Yah Sasuke begitu overprotective pada Naruto sekarang.
Namun kali ini mungkin akan menjadi badai yang kesekian kalinya untuk hubungan mereka berdua.
From : xxxxxxxxx897
Sasuke-kun aku akan menunggumu .
With love
MS
Naruto menemukan sebuah pesan di ponsel Sasuke. Jelas jika pesan itu berisi pesan cinta. Bukan apa apa, hanya saja ini terlalu mendadak untuk Naruto yang mulai terbiasa lagi dengan kehadiran Sasuke disisinya.
"Mungkin hanya orang iseng", pikir Naruto mencoba positif thinking.
.
.
.
hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan waktupun terus berlalu seolah tak memirkikan mereka yang terseret arus waktu yang berlalu begitu cepat.
Naruto mencoba selalu mengerti dengan sikap Sasuke yang begitu cuek,tapi kecurigaan Naruto menguar saat makin seringnya dia menemukan e-mail yang begitu mesra. Seperti saat ini Naruto tengah membaca e-mail dari nomor yang sama yang isinya begitu memilukan. bukan, itu bukan handpone Sasuke. Melainkan ponsel miliknya sendiri.
Mata Naruto membola,saat dilihatnya foto Sasuke yg tengah di pelukmesra seorang wanita bersurai kuning pucat. Bahkan tidak hanya satu foto. Menyakitkan. Sangat.
Inikah yang didapatnya setelah sekian lama dia bersabar dengan tingkah Sasuke yang menurutnya kini berubah menjadi lebih dingin. Apa ini karna Naruto memutuskan untuk kembali terjun kedunia model seperti dulu? Apa mungkin Naruto lebih sibuk dengan pekerjaannya sekarang? Entahlah.
.
.
.
"Kau sudah melihat e-mailku Naru?"
"Ya, aku mengerti. Mungkin untuk kesekian kalinya aku harus mengaku kalah. Aku akan melepaskannya... lagi"
"Bukan maksudku untuk menyakitimu Naru, kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Ku tak ingin kau di sakiti lagi olehnya Naru"
"Aku tau, kau yang paling mengerti aku Shika. Tapi mungkin aku akan melakukannya"
"Biarkan aku yang menghajarnya untukmu Naru. Agar dia tahu siapa yang benar benar mencintainya."
"Tidak Shika, biarkan mereka"
"Apa maksudmu, Naru?"
"Aku akan membiarkan Sasuke memilih. Jika dia memintaku bertahan maka aku akan bertahan. Tapi jika Sasuke memilih wanita itu maka dia harus merelakan aku pergi"
"Tapi apa kau kuat menghadapinya Naru?"
"Yah i'm fine Shika. bukan kali ini saja aku hadapi rasa sakit. Bahkan aku sudah lupa bagaimana caranya aku menangisi hidupku."
"Kau terlalu memaksakan hatimu Naru"
"Tidak Shika. Jika aku berlaripun menghindari segalanya tak akan ada habisnya. Aku akan menyelesaikan semuanya."
"Baiklah jika itu mau mu Naru. Take care to youre heart ok? call me ok!"
"Ok!"
.
.
.
Naruto tahu jika semuanya pasti mencapai batas akhir. Dan ini adalah batas akhir untuk Naruto bertahan setelah hampir satu tahun membiarkan Sasuke bermain api dibelakangnya. Ya kini Naruto tahu siapa wanita yang ada dalam foto itu bersama Sasuke
"Kau tahu Sas, aku sudah tahu semuanya."
"Apa maksudmu Naru?"
"Ini, lihatlah", Naruto memberikan amplop coklat.
Sasuke membuka dan mengeluarkan isi amplop itu. Dia melihat potret dirinya bersama seorang wanita yang tengah memeluknya dari belakang. Iris Onyx miliknya membola.
"Dari mana kau mendapatkan foto ini, Naru?"
"Tak penting dari mana aku mndapatkannya, Sasuke."
"Tapi ini.."
"Katakan padaku kau memilih siapa?", potong Naruto cepat.
"Ini sulit Naru", jawab Sasuke dengan Nada lirih.
"Aku tahu orang tuamu, tak pernah tau hubungan kita. kau fikir aku ingin seperti terus Sasuke? jawabannya adalah tidak. Aku ingin seperti orang normal lainnya. Biarkan masa lalu yang berantakan tapi tidak dengan masa depanku."
"Aku tahu, ku mohon bersabarlah!"
"Tidak, aku tak bisa melewati batas lagi Sasuke."
"Dengarkan aku, Naru!"
"Tidak!", teriak Naruto.
"Ku mohon!"
Likuid beningpun lolos dari bendungan mata onyx milik Sasuke. Sasuke tak menyangka jika Naruto bisa seperti ini. Ya dia tahu jika wanita yang ada dihadapannya bukan lagi sosok yang dikenalnya dulu. Rasanya mungkin Sasuke merindukan Naruto yang dulu. Akibat rasa sakit yang pernah ditorehkannya, luka yang dulu dibuatnya, dan kini kekecewaan yang ditimbulkannya. Pasti cepat atau lambat membuatnya kehilangan sosok wanita blonde yang sangat mengerti dirinya. Sasuke tak ingin kehilangan Naruto untuk yang kedua kalinya. Tapi apa yang harus dia lakukan untuk menahan Naruto-nya?
Praaaaaaaang!
"Naruto!"
Sasuke melihat pecahan kaca berserakan dilantai. Tercium bau anyir darah menguar diruangan yang ditempati wanita yang kini menatap dingin kearahnya. Padahal mata sewarna langit musim panas itu selalu menatanya lembut. Penuh perhatian. Selalu terpancar kerinduan. Tapi kini mata itu menatapnya datar, tanpa air mata. Tersirat kekecewaan,dan rasa sakit yang menyakitin perasannya.
Sasuke berlari menghampiri Naruto, hatinya mencelos melihat darah segar keluar dari tagannya yang menggenggam pecahan kaca itu.
"Jangan mendekat Sasuke!"
"Naru dengarkan aku"
"Tidak semuanya sudah jelas, kau tinggal memilih aku atau wanita itu?"
"Lepaskan kaca itu Naru!"
"Jawab saja Sasuke, aku tak akan pernah sama lagi dengan gadis yang dulu kau mainkan!"
"Naru, aku mohon dengarkan aku!"
Yah Sasuke menangis, tak menyangka jika wanita dihadapannya memiliki sikap yang tak pernah sekalipun Sasuke tahu. Pandangan itu tak lagi meneduhkan, semuanya terbalik begitu saja. Ini diluar kendalinya. Dan untuk pertama kalinya Sasuke merasakan hatinya sakit, dan merasa sangat takut dengan kenyataan yang akan dihadapinya esok.
"Jangan permainkan aku lagi Sasuke. Pergilah aku tak ingin melihatmu sementara waktu"
"Tidak Naruto, biarkan aku disini menemanimu!"
"Baiklah jika kau ingin tetap tinggal, maka biarkan aku yang pergi"
Naruto mengeluarkan semua pakaiannya dari lemari dan memasukannya kedalam kopor. Sasuke tak bergeming, ini terlalu menekannya. Ini diluar batas kendalinya. Tidak. Ini tidak benar.
"Apa yang kau lakukan hah?"
"Aku akan pergi, bukankah kau tak ingin pergi?"
"Ku mohon Naruto. Dengarkan aku dulu!"
"Semuanya sudah jelas Sasuke,tak ada lagi yang perlu kau jelaskan padaku"
"Jika kau pergi maka aku akan kembali ke kehidupanku yang dulu Naruto!"
"Aku tak perduli lagi, kau menghilangkan kepercayaanku padamu"
"Tapi semuanya itu tidak benar!", teriak Sasuke.
"Apanya yang tidak benar Suke? lantas jika semuanya hanya omong kosong. Dari mana foto itu berasal haaah?", teriak Naruto frustasi.
"Itu... itu..."
"Kau tak bisa menjawabnya Suke?"
"Naruto aku bisa jelaskan..."
"Cukup Sasuke, aku lelah biarkan aku pergi"
"Tidak, jangan tinggalkan aku lagii Naru..."
"fikirkanlah Sasuke, jika kau sudah memutuskan maka hubungi aku. Tapi selama kau belum memutuskan jangan cari aku."
"Tidak Naru..."
"Aku pergi"
.
.
.
Sudah hampir tiga bulan Sasuke mencari keberadaan Naruto. Tapi seolah ada yang menyembunyikannya. Bahkan Shikamaru pun enggan untuk membantunya. Yah ini semua salahnya.
Wanita yang ada difoto memeluknya itu adalah Miroku Shion. Wanita yang sebelumny mengisi hari hari nya saat Naruto tak ada. Saat Sasuke memutuskan untuk mencari kembali Naruto, dia sudah meninggalkannya. Tapi beberapa bulan yang lalu Shion menemuinya lagi dan menemani hari hari dimana dirinya frustasi kan keberadan Naruto.
"Jujurlah padaku, siapa wanita itu sebenarnya?"
"Dia Shion, dia mengingatkanku pada Naruto."
"Lalu apa yang kau lakukan?"
"Aku merindukan Naruto dan mendatanginya"
"Lanjutkan Sas, kau perlu berbagi bebanmu padaku",sahut Neji.
"Hn."
"Lalu bagaimana bisa foto itu ada pada Naruto?"
"Shikamaru yang memeberikannya, dia menemukan foto itu dari file yang dikirimkan Shion tiga bulan yang lalu. Dia bilang merindukanku. Aku kira dia tak mendokumentasikannya."
"Apa yang Shikamaru katakan padamu?"
"Dia bilang jika aku brengsek.."
"Haha bukankah kita memang brengsek hei Uchiha?", potong Nejii.
"Ya kau benar, tapi Shikamaru mengingatkan satu hal."
"..."
"Naruto akan lebih tersakiti jika mengetahu semunya"
"jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Entahlah"
.
.
.
Drtt... Drtt..
from: 08xxxxxxxxxxx
Aku tahu kau pasti terluka, tapi terimalah kenyataan jika Sasuke sudah berpaling darimu. Uzumaki Naruto
Naruto Pov..
Entah sudah berapa pesan yang masuk dalam e-mailku dengan kata yang smaa seperti ini. Jujur aku tak lagi perduli siapa yang menerorku. Yang pasti itu adalah nomor yang sama dengan nomor yang dulu aku lihat diponsel milik laki laki yang membuatku kecewa untuk yang kedua kalinya, Sasuke.
Terkadang aku merindukannya. Tapi untuk saat ini lebih baik aku menjauh darinya. Dan disinilah aku sekarang disebuah pulau kecil dipinggiran pulau Konoha. Tak ada yang dapat menggangguku disini. Disini aku bebas melakukan apapun. Pulau ini milik nenekku, Senju Tsunade. Aku tidak membawa Ino dan Hinata bersamaku. Aku hanya mengabari mereka sesekali jika aku tak malas.
Aku tahu ini mungkin sikap kekanakanku. Tapi menurutku ini yang terbaik untuk saat ini.
Aku sempat berfikir jika mungkin aku harus meninggalkan Sasuke. Cukup sudah semuanya telah aku perjuangkan untuknya. Ya dia laki laki yang sangat aku cintai. Tapi mungkin ini batasku, dan aku harus mengambil keputusan.
Aku lelah. Aku ingin berhenti. Aku ingin menyerah, meninggalkan semuanya yang telah aku miliki saat ini. Aku tak ingin kembali. Hidupku bukan lelucon yang bisa kapan saja dilontarkan. Bukan pula sebuah game yang bisa dimainkan kapan saja.
Tak ada lagi air mata yang bisa aku keluarkan untuk menangisi hidupku. Tak ada lagi pelukan hangat yang dapat menenangkanku. Aku hanya milikku sendiri. Dan ini saatnya aku pergi.
.
.
.
Sasuke Pov...
Ini sudah lima bulan berlalu. Aku masih belum bisa menemukan Naruto. Naru,kau dimana? Entahlah dia berada dibelahan bumi bagian mana. Aku tak tahu. Aku kehilangannya dalam sekejap. Yah mungkin ini salahku yang mencoba menghilangkan masalahku, dengan jalan yang salah.
Kenapa aku begitu bodoh? haaaaaah...
Kau dimana Naruto? pertanyaan itu sudah berkali kali aku lontarkan pada semua orang. Bahkan aku tak bisa menemukan jejaknya.
Hari ini aku masih tinggal d apaprtemenku bersama Naruto. Semuanya mengingatkan aku bagaimana senyumnya menghangatkan hatiku. Mungkin senyum itu tak bisa lagi aku lihat. Pelukan hangatnya tak bisa lagi aku rasakan. Kecupanbibirnya tak akan lagi aku dapatkan. Semuanya membuatku seolah jadi pecundang.
Bukankah aku memang seorang pecundang? Eh...
Aku memang brengsek. Bahkan aku tak lagi mempunyai muka untuk bertemu lagi dengannya. Matahatiku, Naruto. Aku sangat merindukannya. Tapi apa aku masih mempunyai kesempatan untuk menemuinya lagii? Hati ini sesak.
Ting.. tong..
Kubuka pintu dengan wajah kusutku.
"Ada perlu apa?"
"Benarkah ini apartemen dari Uchiha Sasuke?"
"Hn"
"Ini ada kiriman surat untuk anda, silahkan ditanda tangani di sini. Terimakasih"
Surat? Tak ada alamat pengirimnya. Aku buka surat itu. dan aku baca
Dear my lovely, Sasuke...
Maaf Sasuke. Aku begitu mencintaimu. Tapi maaf aku tak sanggup. Aku tak bisa. Semuanya terlalu sulit. Yah kau torehkan luka d atas luka yang kau torehkan dulu. dan bodohnya aku kembali dalam pelukanmu yang menyakitiku. Semuanya berakhir Sasuke. Aku mengaku kalah dari semua ini. Maaf. Aku tak bermaksud menyakitimu. Tapi mungkin ini yang terbaik. Pergilah Sasuke. Bawa semua hatiku bersamamu. Biarlah aku dalam ketiadaan yang kini aku genggam. Kau tersenyumlah, Sasuke. Aku pergi.
Uzumaki Naruto
.
.
.
"Shika, kau Naruto dimana?", Sasuke tergesa memasuki rumah Naruto yang kini ditinggali bersama oleh Shikamaru, Nejii, Sai, Ino dan Hinata.
"Dia akan pergi meninggalkan kita", sahut Ino.
"Apa maksudmu?"
"Naruto akan pergi, meninggalkan semua kenangannya disini", sahut Ino dengan rahang mengeras.
"Apa maksud kalian?"
"Sasuke tenanglah.", pinta Nejii.
"Jelaskan padaku apa maksud kalian?", teriak Sasuke.
"Hari ini Naruto akan meninggalkan Konoha, kami akan menemuinya sekarang dibandara. Mungkin Ini kesempatan terakhir sebelum Naruto pergi"
"Kalian tahu keberadaan Naruto?"
"Yah kami tahu, tapi aku melarang mereka memberitahumu", jawab Shikamaru.
"Kenapa kau lakukan ini padaku?"
"Karna aku tahu, Naruto akan tersakiti lagi jika dia bertemu denganmu"
"Brengsek!"
.
.
.
Tak pernah terfikir sedikitpun oleh Sasuke jika akhirnya akan seperti ini. Ya, Sasuke menyesali semuanya. Bahkan dengan bodohnya Sasuke bisa melakukan ini adalah sebuah hal fatal untuknya.
Tidak, seharusnya Naruto bisa mendengarkannya terlebih dahulu sebelum memutuskan semuanya. Ini sulit untuk Sasuke melepaskan lagi Naruto yang kini jadi bagian hidupnya. Ayolah, Sasuke berharap ini semua hanya sebuah mimpi yang ketika dirinya terbangun semuanya baik baik saja. Tapi semuanya tak semudah itu.
Sasuke mengambil langkah besar untuk mencari sosok yang lebih dari tiga bulan belakangan ini dirindukannya. Tapi tak terlihat sedikitpun meski hanya bayangannya saja. Apa sebegitu jahatnya Sasuke hingga bayangan Narutopun tak ingin menampakkan kegelapannya? Apakah ini setimpal dengan semua hal yang telah dilakukannya? Sasuke menyesal, sangat. Namun semuanya seakan percuma.
"Kau dimana Naru?"
Shikamaru melihat kondisi Sasuke lebih buruk dari sebelumnya. Tapi haruskah dia membiarkan siluet rapuh wanita yang telah dianggap sebagai adiknya itu tersakiti lagi oleh laki laki yang kini terlihat sangat kacau dihadapannya ini?
"Apa kau mencintainya, Sasuke?"
"Dia bagian dari hidupku"
"Jika dia memintamu untuk melepasnya, apa kau akan memenuhi keinginannya?"
"Bagaimana aku bisa melepaskannya untuk yang kedua kalinya Shikamaru?"
"Karna mungkin itu yang akan dipintanya darimu untuk yang terakhir kali"
"Apa maksudmu?"
"Yah Shikamaru benar Sasuke"
Iris Onyx milik Sasuke membola. Ini suara yang sangat dirindukannya. Tapi mendengarnya begitu menyakitkan. Entahlah, semoga bukan hal buruk yang terjadi.
Sasuke membalikkan badannya, menghadap ke arah datangnya suara yang dirindukannya, suara Naruto.
"Naruto...", dengan lirih Sasuke memanggil wanita yang kini ada dihadapannya.
"Ya ini aku"
"Kau, kemana saja?", Sasuke melangkahkan kakinya untuk menghampiri Naruto.
"Jangan mendekat Sasuke"
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin ucapkan selamat tinggal padamu"
"Apa maksudmu?"
"Sebaiknya kita akhiri semuanya, lanjutkan hidupmu Sasuke."
"Tapi aku ingin bersamamu"
"Aku tidak bisa"
"Tapi kenapa, Naru?"
"Semuanya telah berakhir"
"Kau harus mendengarku"
"Cukup Sasuke, aku lelah."
"Kita ulang semuanya dari awal lagi, Naruto. Kita pernah melewati yang lebih sakit dari ini"
"Ya dan itu lebih dari empat tahun yang lalu, sebelum semuanya aku ketahui"
"Jangan tinggalkan aku lagi, Naruto"
"Kau pasti bisa jalani semuanya tanpaku"
"Tidak, kau tidak bisa berbuat ini padaku"
"Bukankah ada Shion yang bisa menemanimu?"
"Dia bukan siapa siapa untukku!"
"Begitupun denganku, aku bukan siapa siapa untukmu Suke"
"Aku mencintaimu Naru"
"Aku juga mencintaimu Suke"
"Tapi kenapa kau lakukan ini?"
"Karena aku tak sanggup jalani semuanya lagi dengamu."
"Kau tidak bisa tinggalkan aku sendiri", teriak Sasuke frustasi"
"Maafkan aku Sasuke, hidupku berakhir ketika aku tahu kau berbohong padaku. Aku bahkan terlanjur percaya lagi padamu. Dan untuk kesekian kalinya aku gantungkan lagi harapanku padamu. Tapi apa yang aku dapat?"
"..."
"Aku tak mendapatkan apapun Sasuke. Hanya sebuah rasa sakit dan rasa kecewa atas perasaan cintaku padamu"
"Ku mohon Naruto"
Sasuke jatuh terduduk dikaki Naruto, seolah memohon untuk tak meninggalkannya. Begitu banyak pasang mata yang melihat kerapuhan Sasuke. Tapi apa yang dirasakan Sasuke bukan lagi sebuah permohonan. Melainkan sebuah rasa yang tak terbendung dalam ketidakberdayaan untuk menahan Naruto terus ada disisinya.
Naruto bersimpuh dihadapan Sasuke. Memandang wajahnya untuk yang terakhir kali. Penerbangannya akan tiba sebentar lagi. Waktunya tidak banyak. Dan ini saatnya Naruto melepaskan perasaan sesak yang selama ini mengganggunya.
Naruto telah bertekat, jika hatinya telah dia berikan seutuhnya pada laki laki yang kini tertunduk bersimpuh memohon padanya untuk tak meninggalkannya. Memberikan seluruh hatinya dan meninggalkannya disini. Di Konoha.
"Sasuke..."
Terlihat air mata terus mengalir dari pelupuk mata nya. Ini berat namun harus Naruto lakukan. Biarlah untuk yang kesekian kalinya dia kehilangan dan merelakan semuanya. Belajar dari titik terendah lagi untuk menata hidupnya. Melepaskan dan merelakan semuanya.
"Kau dengar aku Sasuke?"
Hanya sebuah lirikan dari mata yang kini tengah menangisi takdir yang akan menertawakan mereka.
"Aku mencintaimu, sangat"
Dikecupnya gumpalan daging dan menyesap saja sisa vodka disela sela ciumannya.
"Tersenyumlah Sasuke, kau jelek jika menangis!"
Dihapusnya air mata yang sedari tadi membasahi wajah si pria yang masih menatapnya sarat terluka dalam. Meskipun pada akhirnya pertahanan Naruto runtuh kala melihat sorot mata yang seakan tak bernyawa dari sosok laki laki yang dicintainya.
"Kau harus menjalani hidup dengan senyuman Sasuke, karena aku juga melakukannya"
Naruto memeluk tubuh rapuh laki laki dihapannya dengan erat. Bau mint yang menguar dihirupnya dalam, mengingatkan jika semuanya akan sulit untuk dilupakan.
"Lanjutkan hidupmu Sasuke. Aku titip hatiku. tersenyumlah"
Dilepaskannya pelukan yang sarat akan rasa mencinta itu. Tangannya mengelus rahang tegas si pria penuh cinta. Dikecupnya pipi yang kini berubah tirus. Ditatapnya mata sewarna obsidian itu dalam. Seolah mengatakan semuanya akan baik baik saja.
"Aku mencintaimu, Sasuke"
Naruto mengecup lama kening Sasuke. Air mata kini mengalir sedemikian derasnya membasahi pipi. Dadanya terasa sesak, enggan meninggalkan semuanya. Tapi Naruto tahu pasti, jika semuanya tak akan pernah sama.
"Selamat tinggal, tersenyumlah Sasuke. Aku menyayangimu"
Naruto bangkit dan bergegas berbalik melangkahkan kaki dengan tergesa. Takut jika keyakinannya akan goyah jika menatap lagi mata yang tersakiti dengan keputusannya.
'Maaf Sasuke, aku mencintaimu. Maaf' . Naruto memasukki kabin penumpang meninggalkan segala rasa sakit, mimpi dan harapan yang pernah ditatanya lagi disini. Namun semuanya telah usai. Takkan ada lagi air mata, meskipun Naruto tahu dirinya dan Sasuke sama sama terluka
.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Holla minna...
berapa lama sya nelantarin ini fic? Gomen sya sibuk.. baru sempet nulis tiga minggu terakhir yang sempet rombak ulang smua bagian dari mendapatkannya chap ini...
Gimana? mengecwkan? sesuai sma judulnya, jadi akhirnya sad ending... maff buat readers yg minta happy end,sya ingkar jji..
mohon reviewnya ya, spa tau bisa bikin fic baru lagi hehe...
ok slamat membaca minna
salam,
Yoona Ramdanii
