Sebuah ruangan putih yang besar, dengan penghuninya yang sedang menghadap jendela besar yang terbuka.

Angin meniup surainya yang berwarna jingga, warna yang sama dengan warna langit beberapa jam yang lalu. Lamunan pria itu terbuyarkan dengan suara lelaki yang familiar. Tanpa menoleh dia bertanya pada tamunya "Apa keperluanmu?," nadanya terdengar dingin sekali.

Pria yang baru saja datang tidak bisa melihat sosok pemilik ruangan, namun pencahayaan minim tidak membuatnya lupa siapa yang berdiri membelakanginya itu.

"Asano-san ada sebuah surat untukmu"

Lelaki bermarga Asano tidak membalas apapun, tanpa banyak bicara pria si pengantar surat meletakan kirimannya di atas meja kepala sekolah.

Tidak lama kemudian suara pintu tertutup dan sepinya suasana kembali lagi.

Beberapa menit setelahnya, Asano menoleh ke arah mejanya. Surat bertuliskan nama Isogai Yuuma sama sekali tidak membuatnya senang. Menyipitkan matanya dia bertanya "Mau apa dia?"

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 02:

Bangunan utama Kunigigaoka tetap megah seperti yang diingat oleh alumninya.

Akabane Karma, saat ini sedang berada di depan gerbang sekolah dengan pakaian kasualnya. Pria itu memakai kemeja hitam dengan jeans biru yang panjang, kakinya yang beralaskan sepatu olahraga berwarna putih dengan garis-garis hitam, menginjak lapangan depan sekolah megah tersebut.

Banyak murid perempuan memandanginya, bertanya-tanya 'ada urusan apa pria secakep dia berada di sini?' dengan volume berbisik-bisik.

Karma mengabaikannya, tujuannya kemari hanya untuk memeriksa targetnya. Situasi yang menguntungkan semenjak dia adalah almuni, meskipun dia berada di kelas buangan.

Dengan santai dia berjalan menyusuri koridor sekolah, beberapa guru yang menegurnya di abaikannya sampai membuat kehebohan. Dia adalah Akabane Karma, mantan preman di sekolah ini. Tentu saja untuk memanggil kepala sekolah hanya ada cara seperti ini, Akabane Karma akan membuat kepala sekolah saat ini bernostalgia.

Salah seorang guru mengingatnya dan memanggil namanya dengan membentak. Pria berambut putih—warna hitam yang terkabur dihisap usia— itu mengancamnya akan memanggilkan keamanan untuknya jika detik itu tidak mengatakan apapun tentang alasannya kemari, atau tidak segera pergi dari tempat berkedok sekolah ini.

Tapi pilihan pertama akan mempermudahku

"Asano Gakushu, aku ingin bertemu dengannya" katanya yang sedari tadi bungkam.

"Aku disini"

Mengejutkan. Targetnya sendiri mendatanginya, kelihatannya si ketua dewan muda itu datang atas dasar keinginannya sendiri setelah mendengar ribut-ribut di sekitar kelas.

"Apa kau butuh sesuatu dariku, Akabane Karma?"

Cukup beberapa detik Karma menunjukan rasa keterkejutannya sebelum dia kembali ke wajahnya yang meremehkan itu.

"Kau mengingatku"

Aneh, si sombong berambut jingga itu mengalihkan pandangannya. Wajahnya yang dingin itu berubah menjadi enggan, namun di saat bersamaan ingin mengatakan sesuatu. Tidak lama kemudian Asano Gakushu kembali normal "Aku hafal semua anak-anak sengangkatanku. Jangan remehkan kelas A, sampah dari kelas End," balasnya tidak lupa dengan olokan yang biasa dipakai dimasa lalu.

"Hmm...Sayangnya 'sampah' ini berkali-kali mengalahkanmu di ujian Matematika"

Karma balik mengolok, bahkan lebih tajam karena mereka berdua saat ini sedang dikelilingi oleh para murid. Para murid yang mengelilingi tempat kejadian mulai berbisik-bisik lalu melihat Asano dengan tatapan curiga. Tentu saja, bagaimana mungkin kepala sekolah mereka sekarang ternyata dulunya kalah dengan anak buangan macam Karma? Entah para murid generasi sekarang ini percaya atau tidak, tapi kenyataannya memang demikian.

Asano Gakushu, seharusnya malu berat sekarang. Biasanya rasa malunya itu hanya akan digantikan amarah, lalu menatap musuhnya dengan 'tatapan lipan' yang sudah turun menurun itu dan sekelilingnya akan merasakan aura gelap yang dingin dan menusuk kulit.

Tapi, Asano yang di depan Karma ini, hanya diam lalu mengalihkan pandangannya. Wajah itu lagi, wajah yang ingin mengatakan sesuatu pada pria berambut merah di depannya. Asano sekarang lesu, seolah seperti anak yang tidak diberikan mainan oleh orang tuanya.

Dengan kata lain di sana juga ada kekecewaan.

"Tidak baik membiarkan pembicaraan pribadi di dengar orang luar," kali ini Karma mendahului pembicaraan "Kau tidak mau mengajakku ke ruanganmu, pak kepala dewan?"

"Tentu..."

OXO

Tidak ada yang bisa di dapatkan Karma dari targetnya melainkan keanehan yang janggal dari diri Asano Gakushu. Iris violet pria itu sama sekali tidak ada diingatan Karma, bahkan itu diluar sepengetahuannya. Tentu saja, dia tidak pernah ingat jika bola mata violet itu begitu redup, tidak setajam sebelumnya. Seiingatnya Asano adalah tipe lelaki yang bisa membunuh mental seseorang hanya dengan tatapan. Ya, tatapan lipan itu.

Setengah jam dia bertatapan dengan iris violet yang indah itu, malah rasanya malas untuk membunuhnya. Dengan kecewa dia kembali ke apartemennya, merebahkan tubuhnya ke sofa hitam yang lebih sering dipakainya ketimbang kasur yang berada di kamar. Bahkan kamarnya itu seperti tidak pernah di tiduri, masih terlihat baru dan rapi, tapi berdebu.

Foto Asano berada di bawah tubuhnya, rupanya dia menimpanya. Sekali lagi dia lihat sepasang manik violet itu, kali ini hanya dari foto. Dalam hatinya dia bertanya-tanya kenapa si brengsek itu menjadi begitu, apa yang terjadi dengannya?.

"Maa...dia hanya akan mati ditanganku"

Di tanganku— Karma melihat tangannya sendiri lalu tersenyum sedih. Dari posisi berbaringnya, dia duduk lalu melempar foto itu sembarangan. Secara acak dia mengambil sebuah buku di lantai, dibukanya bukan untuk di baca melainkan menaruhnya di wajahnya ketika dia kembali berbaring dan tidur.

...

Seperti biasa. Malamnya dia bekerja di Bar, entah untuk melayani orang yang mau minum atau bermain dengan para wanita. Yang mana saja boleh, karena disini dia adalah Akabane Karma.

Profilnya sebagai preman sekolah yang menjarah siapapun yang membuatnya untung, membantunya membuat lingkungan yang tepat untuk seorang pembunuh. Sebelum dia bekerja sebagai Bartender—bahkan dia belum belajar bagaimana cara meracik alkohol—, penjara adalah hotel baginya. Keluar masuk penjara sudah bagaikan caranya untuk makan gratis waktu itu.

Sama sekali bukan perkara besar baginya untuk membuat masalah seperti itu. ingat? dia adalah berandalan jenius dari Kunigigaoka, hal seperti ini sudah biasa untuknya, maupun keluarganya yang sudah tak terlalu peduli padanya.

Semua itu dibuatnya untuk membuat lingkungan yang cocok untuk 'Akabane Karma', satu-satunya yang bisa menjangkau iblis merah. Bahkan dia membuat semua korbannya menumpahkan banyak darah agar nama iblis merah menjadi merah. Lebih tepatnya, dia tidak ingin orang lain berpikir jika nama iblis merah datang dari rambut merah, dan mulai mencurigai 'Akabane Karma'.

Dan dia harus membuat Asano mati dengan kondisi serupa.

Setelah itu, kelakuan buruk Akabane Karma dirasa sudah cukup, terlebih lagi dia bisa bekerja sebagai Bartender di sebuah Bar. Kerusuhan yang dibuatnya selama tiga tahun mereda lalu lenyap, saat ini dia hanya menjadi Bartender tampan yang suka bermain wanita. Setiap kali orang bertanya padanya, dia hanya akan menjawab "Aku sudah lelah. Mana aku mau berurusan dengan anjing pemerintah itu lagi " dengan wajah malas dan meremehkan khas miliknya itu.

"Karma, kembalilah ke tempatmu!"

Ini kedua kalinya sang manejer meneriakinya. Diikuti dengan rengekan para wanita, Karma melambaikan tangannya sambil mengedipkan salah satu matanya, tanda perpisahan. Tapi toh Karma masih di dalam Bar kok, Cuma tidak bisa duduk bersama mereka.

Setelah menyelesaikan—meracik—segelas minuman, dia berencana untuk ke kebelakang dan menggoda koki perempuan di dapur. Sayangnya seorang pelanggan datang dan duduk di hadapannya. Rambut jingga itu adalah milik pria yang dia temui tadi siang. Tanpa banyak berpikir Karma memberikannya segelas minuman "Aku merekomendasikan Black Russian," katanya lalu mengeser gelas itu kearah Asano.

Sepasang iris violet itu menatap cairan hitam di dalam gelas, tidak mengatakan apapun dia meminumnya.

"Maa..pelanggan wanitaku menyukainya, jadi aku tidak tahu apakah kau menyukainya," oceh Karma sambil mengelap tangannya. Dilihatnya Asano menyisakan cocktail buatannya, lalu mengadah melihat manik emasnya.

Mereka saling bertatapan, di saat itu rasanya semua kebisingan yang di buat pelanggan lain menghilang entah kemana.

Rasanya waktu berhenti, bahkan pikiran Karma untuk membunuh lelaki di depannya ini juga ikut menghilang seperti bising-bising di sekelilingnya itu. barangkali, dia masih penasaran apa yang membuat Gakushu berubah banyak dan rasa penasaran mengalahkan ke-profesionalannya.

"Kudengar," akhirnya Asano mengeluarkan suaranya "Kau adalah satu-satunya orang yang berhubungan dengan iblis merah"

"...Begitulah," jawab Karma singkat seraya menaikan kedua pundaknya. Dia sama sekali tidak mau tahu jika targetnya itu ternyata mengetahui jika dirinya diincar iblis merah. Bukannya itu semakin menyenangkan? Seharusnya pria itu kembali seperti dirinya yang dulu, dirinya yang tampak kuat dan ,mengerikan sekaligus dingin.

"Kau yakin iblis merah itu bukan kau?"

"jangan men-judge ku iblis merah hanya karena ciri fisikku, Asano-kun"

Mereka bertukar kata untuk sesaat lalu diam kembali menjerat situasi mereka. kedua pasang mata itu saling menatap, saling menggali benak lawan di depannya itu.

Asano Gakushu yang pertama memutuskan kontak mereka, bergerak untuk merogoh saku dadanya— dia masih memakai setelan jas rapi—. Selembar kertas di letakannya di atas meja, pembatas mereka berdua di Bar ini.

"Iblis merah akan membunuhku"

Asano mengatakan isi dari kertas kucel tersebut. Bukan hanya sekedar membacanya, tapi kata membunuhkumenunjukan siapa yang akan menjadi korban si iblis merah. Benar, saat ini sang target berada di wilayah terdekat pengincarnya.

Karma mendekatkan wajahnya, menyeringai jahat seperti yang biasa dia lakukan di masa sekolahnya "Kau takut?," tanyanya "Kau mau aku memohon pada si iblis merah agar kau tak di bunuh?"

Siapapun yang melihat Karma saat ini, dia akan melihat jika pria itu ditumbuhi tanduk kecil dan sayap kekelawar khas iblis. Tidak pengecualian bagi mata Gakushu, sebagai balasan pria itu tersenyum kecil, juga menunjukan gestur meremehkan "Apakah iblis itu bisa membunuhku?"

"Sayangnya aku tidak bisa memberitahumu saat kau telah mati dan pergi ke Neraka. Apa? Atau kau mau bilang jika kau akan pergi ke Surga?"

Tidak," Asano menjeda "Aku hanya berpikir, akan lebih baik jika kau yang membunuhku daripada si iblis merah itu"

Aku yang membunuhmu heh. Karma menghilangkan senyumannya lalu mulai membuka sebuah botol Vodka. Dituangkannya alkohol itu ke sebuah gelas bening yang serupa dengan gelas yang sebelumnya di berikan pada Asano, lalu di tambahkan Kahlua. Itu resep Black Russian, namun kali ini sang bartender berkepala merah menambahkan minuman itu dengan Cream lalu es seperti minuman sebelumnya.

"White Russian"

Itu minuman yang jelas sama dengan sebelumnya lalu berubah warna dan mungkin juga rasanya. Kedua mata violet Asano melihat Karma meminum racikannya sendiri, bayangan lelaki itu meminum koktail tersebut timbul di maniknya. Bagaikan kedua matanya itu adalah sebuah kaca.

Asano Gakushu tidak pernah bosan melihat sosok Akabane Karma, sejak dulu, sejak mereka berada di SMP dan semuanya semakin jelas saat SMA.

Sayangnya, selain semakin jelas tapi bersamaan semuanya hancur. Hancur berkeping-keping, lalu menjadi debu. Akabane Karma, saat ini kau hanyalah tumpukan debu dimataku, batin Asano bersamaan dengan Karma meletakan gelasnya.

"Sudah kuduga. Minuman seperti ini bukan seleraku"

"...Memang, aku bertanya-tanya kenapa bocah yang dulunya selalu minum jus stroberi kotakan sekarang menjadi Bartender"

"Jangan mulai lagi pak kepala dewan. Baru saja aku akan mulai mengajakmu berbicara dengan 'normal'"

"Jika ingin berbicara denganku. Ceritakan sesuatu tentang si iblis merah itu"

"Maa..Tidak ada cerita yang dapat kutawarkan untukmu tentang si iblis merah, tapi aku ingin menjelaskan tentang kedua minuman yang kutunjukan padamu tadi, pak kepala dewan." Dengan sikunya dia menopang badannya yang mencondong kearah Asano, lalu dengan tangannya yang lain dia memutar gelas bening yang pendek itu "Aku Bartender bukan pusat informasi yang berkedok sebagai Bartender di film-film detektif"

Senyuman usil itu sama sekali tidak membuat Gakushu kesal, itu senyuman yang paling di sukainya dan dia senang bisa melihat itu lagi. "Kalau begitu berikan aku sebotol Wine, yang paling tua di rakmu itu"

Karma manarik mundur tubuhnya, mata emasnya itu berkilauan "Hou...Lebih baik kau membaginya juga padaku." katanya sambil tersenyum.

OXO

Ketika mereka memasuki semester akhir, para murid di kumpulkan di aula untuk di beri kata-kata motivasi yang di sampaikan kepala sekolah. Mungkin bagi anak kelas 1 dan 2, tantangan terakhir mereka di tahun itu hanya ujian kenaikan. Namun bagi anak-anak kelas 3, ujian nasional adalah musuh utama mereka di tahun tersebut.

Tidak ada waktu, bahkan tidak ada gunjingan yang di tujukan pada anak-anak kelas End.

Kepala dewan—jabatan yang masih di pegang oleh Asano Gakuhou saat itu—Lelaki bersurai merah gelap itu memberikan pidato panjang tentang masa depan dan apa yang harus para murid lakukan untuk menghadapi ujian— Semuanya tentu saja menggugah jiwa semua murid, pria itu paling tahu bagaimana memanipulasi seseorang, tidak , tapi semua orang.

Seharusnya anak tunggal dari pria tersebut memiliki talenta yang serupa, dan memang iya. Karisma seorang pemimpin ada dalam diri Gakushu, begitu juga dengan kecerdasan, paras, semuanya!.

Tapi itu semua itu menghilang saat berhadapan dengan Akabane Karma.

Dimulai dari kecerdasan; rangking Gakushu telah di rebutnya.

Saat itulah, saat dimana Gakushu kehilangan segalanya. Harga dirinya, kepercayaan dirinya, terlebih lagi ketika dia mendapatkan sorotan mata itu dari ayahnya. Sorotan mata yang meremehkan, dan sama sekali tidak bisa dibantahnya.

Bukan. Kehilangan rangkingnya bukan awal dari semuanya, tapi itu semua telah menjadi akhir baginya. Gakushu bersumpah akan menjatuhkan Karma kedalam jurang yang paling dalam, sampai lelaki itu tidak akan bisa memanjat kembali.

Lalu apa?

Toh, semuanya benar-benar tidak mempan di hadapan Karma.

Pada akhirnya, ketika memasuki SMA, keduanya dipertemukan lagi. Apa? Apakah ini lelucon? Jika iya, ini sama sekali tidak lucu, ini tidak akan membuatku tertawa!, pikir Gakushu ketika melihat wajah Akabane Karma di upacara penerimaan murid baru.

Mereka lebih sering bertemu. Karma sama sekali tidak berubah, namun tampak lebih tenang daripada tahun lalu. Jika diperhatikan lebih baik, mantan-mantan anak 3-E yang lain juga demikian. Satu persatu anak-anak kelas End itu menyebar, berbaur bersama anak-anak lain, seolah mereka tidak pernah dikandangkan di tempat sampah itu.

Gakushu sama sekali tidak mengerti, apakah selama ini yang dia cari di dalam kelas itu menghilang?. 'Rahasia' yang di sembunyikan ayahnya, begitu juga dengan anak-anak mantan buangan itu.

Anak-anak buangan. Siapa sangka jika Karma pernah menjadi salah satu orang yang masuk dalam kategori tersebut?.

Akabane Karma mungkin tidak memiliki karisma seorang pemimpin, tapi apa yang melekat dalam diri Gakushu juga melekat padanya.

Selain kecerdasan, juga tampang. Wajahnya itu sering sekali dikatakan seperti Asano—selama SMA pertengkaran mereka selalu di picu karena itu— berarti dia termasuk tampan bukan?, apalagi dengan sifat bengalnya itu—para perempuan terkadang menyukai sisi liar dari seorang laki-laki. Dan itu memiliki daya tarik Plus untuk Karma, dan Min untuk Gakushu.

Pada suatu hari—bahkan keduanya tidak mengingat pasti kapan— mereka berdua berjalan berdampingan, masih saling melemparkan kalimat pedas padas satu sama lain. Entah ada angin apa, tapi tiba-tiba saja Gakushu ingin bertanya apa yang selama ini ingin ditanyakannya.

Pemuda itu berhenti beberapa saat—tepat di garis antara pintu gerbang sekolah dengan halaman sekolah—, membiarkan Karma berada dua langkan di depannya.

"Hei, bukannya kau sedikit berubah Karma?," mulai Gakushu "Kira-kira apa yang membuatmu 'merasa' berubah?"

Karma menoleh lalu membalikan badannya sepenuhnya. Sakura yang berguguran, berterbangan menguyur mereka berdua membuat suasana lebih dramatis. Wajah pemuda bersurai merah terang itu sama sekali tak terlihat, tertutup poni-poninya. Tidak lama kemudian dia berucap "Nah..." suaranya terlalu lembut, hampir membuat Gakushu mengerakan kakinya untuk mendekat.

Sebelum itu Karma melanjutkan "Targetku menghilang. Apa aku bisa ganti membunuhmu saja Asano-kun?"

Membunuh. Waktu itu Gakushu sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud lelaki itu, namun setelah dia menggantikan posisi Gakuhou, dia mengerti apa yang telah terjadi.

Dia mulai berpikir, ternyata dia tidak secerdas apa yang dipikirkannya. Masa dia sama sekali tidak mencurigai guru aneh, berhidung pesek, wali kelas 3-E itu?. Dia benar-benar bodoh, dia dan juga murid-murid gedung utama.

Membunuh, anak-anak buangan itu adalah pembunuh.

Begitu juga dengan Akabane Karma...

...

Di tengah mereka menikmati Wine termewah bar tersebut, keduanya melamun di dunianya masing-masing.

Jarang sekali menemukan Karma bersanding dengan pelanggan laki-laki, terutama dengan salah satu kenalannya. Setahu pekerja di bar itu, Karma adalah orang yang misterius, jarang menceritakan masalahnya sendiri.

Jadi, mana tahu kalau kalau si mantan berandal itu memiliki teman semacam Gakushu, pria yang terlihat lebih jelas.

Gakushu mengisi kembali gelas tingginya lalu gelas milik Karma yang di sebelanhnya. Sempat si bartender mebelalak kaget untuk beberapa detik lalu tersenyum "Mengenai si iblis merah. Apa yang kau pikirkan?"

"Bukannya aku yang seharusnya bertanya, Akabane?"

"...Black Russian dan juga White Russian, apa menurutmu keduanya sama?"

"Kau menambahkan cream pada Black Russian"

Karma mengangguk lalu tersenyum pada Gakushu "Kau benar," katanya lalu meneguk winenya, seolah enggan untuk menghabiskannya. Di letakannya gelas cantik itu, jarinya menyuntuh bibir gelas. "Aku dan iblis merah, seperti dua coktail yang kusajikan padamu"

Apa yang kupikirkan?, pikir Karma. Baru saja dia memberi petunjuk pada targetnya, semuanya akan menjadi bertambah susah.

Gakushu melihat arlojinya lalu berdiri. Dia sama sekali tidak mengatakan tentang petunjuk yang dikatakan Karma sebelumnya, dan kelihatannya hari ini dia masih belum mau meladeni masalah itu. Tangannya membelai surai merah Karma— Itu sama sekali bukan kesengajaan, Gakushu hanya tanpa sadar melakukannya. Keduanya membelalak kaget, lalu pura-pura hal tersebut tak pernah terjadi.

Meletakan beberapa lembar Yen, Gakushu berkata jika lebih baik Karma menghabiskan sisa winenya. Dan dengan senang hati si Bartender yang belum di gaji— bulan ini— meminum wine gratis tersebut. Dia sekarang bisa merasakan perasaan Koro-sensei huh.

OXO

Asano Gakushu kembali ke rumahnya. Ini memalukan, namun diumurnya yang dewasa ini dia masih tinggal bersama ayahnya—Mantan kepala dewan, berkali-kali meminta anak tunggalnya berkencan dengan beberapa wanita. Mungkin itu adalah pertama kalinya Gakuhou melakukan perannya dengan baik, sebagai orang tua.

Gakushu sama sekali tidak bisa membayangkan dirinya bersama wanita. Tidak, dia bukan Homo. Hanya saja belum ada wanita yang menarik perhatiannya. Bahkan,semenjak masa sekolahnya belum ada seseorang yang membuatnya tertarik kecuali ayahnya sendiri—karena ingin mengalahkan pria itu—, lalu Akabane Karma yang tiba-tiba muncul di kehidupannya.

Hari ini juga ayahnya tidak berada dirumah. Gakuhou tidak akan pernah menjadi orang tua yang pensiun, sampai saat ini pria itu bekerja di belakang Gakushu. Keberadaa Gakushu hanya sebuah pajangan, hiasan yang dijadikan topeng. Sementara itu Gakuhou akan mengurus sesuatu yang lebih penting, dan pria yang lebih muda sama sekali tidak peduli apa itu.

Semenjak Karma hanya menjadi 'debu' baginya, semua tidak penting lagi.

Menguap, Gakushu naik ke atas kamarnya. Kamar pria itu dua—tidak—lima kali lebih luas daripada apartemen Karma. Dinding kamar bercat putih bersih, dengan lantai keramik serupa dengan petak catur. Tidak banyak perabotan di dalamnya; ranjang berukuran King, dua buah rak buku dan juga lemari pakaian yang cukup besar.

Di dekat ranjangnya terdapat sebuah jendela besar, bertirai coklat krim. Mungkin panduan warna yang aneh untuk ruangannya, namun dia adalah laki-laki yang tak pandai mendekor kamarnya. Di sebelah pintu terdapat meja kerja, yang dulunya untuk meja belajarnya dan sekarang sudah diganti. Sebenarnya, sebelum dia menemui Karma dia sudah pulang ke rumah bahkan mengerjakan setangah tugasnya.

Dia meninggalkan laptopnya dalam mode sleep. Di tekannya tombol, sambil menunggu dia menanggalkan pakaian yang terlalu rapi itu. Sebelum dia sempat menanggalkan jasnya, laptopnya berbunyi, sebuah notifikasi E-mail muncul.

Salah satu guru—Sakakibara Ren— mengatahui jika dia bertemu dengan Karma.—Entah apa yang dipikirkan seluruh anggota Five Virtuosos, mereka semua tetap berada di Kunigigaoka meskipun mereka sudah lulus, dan berganti peran menjadi guru. Segitu inginnya terus di perintah Asano Gakushu?— sang kepala dewan mengerutkan dahinya, sama sekali tak suka jika seseorang mengetahui keberadaan Karma dan dirinya bersama.

Dengan cepat dia mengirim balasan, meminta—memerintah lebih tepatnya— Sakakibara untuk tutup mulut, sama sekali tidak peduli jika mantan temannya itu sebanarnya hanya bertanya.

Tapi bagaimana bisa Sakakibara mengetahuinya?

Pinggiran kota Tokyo bukan tempat untuk seseotang seperti Sakakibara yang suka gemerlap malam ibukota itu. Bar dimana Karma bekerja cukup jauh dari pusat kota dan tempatnya kumayan tersembunyi.

Jadi, bagaimana bisa?

Sekali lagi Gakushu menguap. Di sebelah ranjangnya terdapat meja kecil dimana jam weker diletakan. Diambilnya jam tersebut. Tengah malam, sebaiknya dia segera beristirahat. Tidak ingin membuang tenaga lagi, Gakushu tidak mengganti pakaiannya dan hanya melepaskan jaket jasnya saja. Lalu mengambrukan diri diatas ranjang besar berukuran King.

Menutup kedua matanya, entah apakah dia bisa bermimpi hari ini.

To Be Continue...

A/N:

Maa...Saya tidak tahu apakah chapter kali ini saya sudah menjabarkan setengah dari isi cerita Kill to Kill ini. Tapi kali ini lebih panjang dari sebelumnya, ya sama sebagai Author sudah ketemu kok jalan cerita ini mau kemana, kemarin-kemarin masih ngawang-ngawang gitu hehe...

Saya ucapkan terima kasih untuk kedua nama User(?) yang telah me-review Kill to Kill yang jelas gak jelas ini cerita.

To Chindleion:

Salam kenal Chindlelon-san,

Maa..Karma susah ngebunuh Asano, karna mungkin kokoronya gak kuat. Tapi kayanya Asano yang sedang lesu (dan baru saya jampang di atas) begitu mudah untuk di bunuh haha.

Anyway thanks for reading

To Xhakira :

Salam kenal Xhakira-san,

Iya saya lanjutin kok, ini saya mampang lagi disini. Senang kalau Xhakira-san menikmati membaca Kill to Kill ; ) Thank for reading

A/N:

Yang lain juga banyak yang follow dan fav kok, saya ucapkan terima kasih banyak.

THANK YOU FOR READING EVERYONE!