"Ini racun paling mematikan yang pernah kubuat, bahkan aku tidak membuat vaksinnya"
Seorang wanita memberikan sebuah botol kecil pada Karma. Racun yang tak berwarna juga tak berbau, mungkin bisa menipu Koro-sensei tapi mempan atau tidaknya tidak ada yang tahu. Pembuat racun ini, Okuda Manami sama sekali belum menjajalkannya pada gurita kuning tersebut.
"Tentu saja. Jika ini memang terminum oleh Koro-sensei kau tidak perlu penawarnya"
Si pembunuh tersenyum pada botol racun tersebut. "Jika pada Koro-sensei tidak mempan, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi dengan manusia bukan?"
"Karma-kun...Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?"
Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba saja mantan teman satu sekolahnya yang bernama Akabane Karma menghubunginya, dan bertanya mengenai racun yang pernah di buatnya semasa di kelas End. Okuda Manami mana pernah melupakan racikannya sendiri, terutama jika menyangkut target mereka yang sudah menghilang.
Temannya itu meminta racun buatannya, sungguh aneh sekali.
"Aku tidak bisa memberitahumu," Karma mencondongkan badannya, mendekati wajah wanita yang telah memerah itu. Kedua iris emasnya itu melihat kedalam kedua manik lavender di balik bingkai kacamata itu "Tapi..Seperti yang kita tahu. Pembunuh selalu mengantongi beberapa rencana dalam rencana utama mereka"
Wajah mereka dekat sekali, Okuda berniat menjauh namun Karma menahan pundaknya untuk mempertahankan jarak mereka. "Target seperti Koro-sensei itu...Mau tidak mau dia harus mati bukan? Apalagi kemungkinannya untuk mati tidak sampai 10 persen"
"Tapi jika orang lain, mungkin aku akan berubah pikiran"
Saat itu juga, kepala Okuda terasa seperti dipukul begitu keras. Karma mau membunuh seseorang? Siapa dan kenapa— Semua anggota kelas End yang di beri misi khusus berpencar, mereka sama sekali tidak bertemu sama lain sampai hari ini. Okuda memang bertemu dengan banyak teman lamanya, tapi tidak dengan Karma. Pria berambut merah itu juga seolah menghilang seperti Koro-sensei, dan sekarang muncul begitu saja di depannya.
"Karma-kun. Aku tidak bisa membiarkan—" sebelum wanita berkacamata itu menyelesaikan kalimatnya, Karma mengecup dahinya. "Maka karna itu buat penawarnya ya...Okuda-chan," kata pria itu lalu melepas semua kontak dengan lawan bicaranya "Akan kuambil malam ini. Seharusnya tidak susah bukan? Itu hanya racun yang kau buat semasa kau SMP"
Dia sudah berubah banyak, pikir Okuda setengah bengong.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 03:
Karma kembali ke apartemennya. Begitu terkejutnya dia ketika mendapati sosok Nagisa di depan pintu. Pria berambut biru itu tersenyum pada sahabat lamanya lalu melambaikan tangannya.
Seharusnya pekerja sejenis Nagisa tidak bisa berkeliaran begitu saja di jam segini. Astaga, baru saja dia ingat jika ini hari adalah hari Minggu pantas saja Okuda masih berada di rumahnya pagi ini.
Tapi, bukan hanya itu saja bukan? Alasan kedatangan Nagisa pasti berhubungan dengan seseorang yang memiliki rambut jingga.
"Pagi, Karma-kun"
"Sebenarnya banyak pertanyaan untukmu, Nagisa-kun. Tapi bagaimana kalau kumulai dari; darimana kau tahu rumahku?"
"...Pengumpulan Informasi selalu menjadi point plus untukku," mulai Nagisa "Dan aku mengetahuinya, Karma-kun."
Iris biru langit itu melihat kearahnya. Karma tersenyum kecil lalu balik bertanya "Apa yang kau ketahui?,"
Nagisa menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu menelengkan kepalanya melihat Karma "Kau adalah iblis merah dan amplop itu tidak berisi foto-foto wanita," Jawabnya "Aku datang sepagi ini hanya untuk bertanya apakah itu benar atau tidak?"
Karma sama sekali tidak habis pikir, jika orang pertama yang akan mengetahui identitasnya adalah Nagisa Shiota. Mulanya dia berpikir kalau dia akan memberitahu Okuda, karena telah meminta racun padanya. Bayangan mengenai Okuda akan marah dan kecewa padanya membuatnya enggan untuk memberitahu, tapi akhirnya sahabatnya malah mengetahuinya tanpa di beritahu. "Atau kau diberitahu atasanmu?"
"Aku menguping. Mana mungkin dia memberitahu rencana kriminalitas seperti itu padaku"
Mulut Karma membulat o sebagai respon. Dia sama sekali tidak menyangkalnya, toh memang benar mengumpulkan informasi itu juga salah satu kelebihan pria cantik di depannya ini.
"Kau mendapatkanku. Lalu apa? Kau mau mencegahku?"
"Seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku tahu kalau kau tidak suka diikut campuri urusannya, Karma-kun"
"Lalu apa maumu?"
Nagisa tersenyum, rona merah tipis di pipinya membuatnya semakin manis. Hari ini dia tidak memakai setelan jas yang ketat itu, dia memakai baju kasual—kaos putih dengan jeans hitam dan sepatu olahraga—, dengan itu dia mengajak Karma; jalan-jalan.
"Periksa kepalamu itu Nagisa. Mana ada orang yang sudah tahu kalau itu pembunuh, namun masih mengajaknya jalan-jalan?"
"Hmm?... Apa maksudmu? Kita sudah lama tidak bertemu dan tidak ada salahnya bukan berjalan-jalan di bawah sinar matahari. Kau terlalu banyak bermain di dunia malam, bisa membuat kulitmu semakin pucat"
Nagisa mengoceh, kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Dengan langkah malas dia mendekati mesin penjual minuman, lalu membeli sekotak jus kesukaannya. "Sebenarnya kau tak terlalu berubah." Komen Nagisa dari belakang.
"Hanya untuk urusan ini?," tanya Karma sambil mengacungkan kotak yang belum ditusuknya dengan sedotan "Kupikir kau akan kecewa setelah mengetahui pekerjaanku yang sebenarnya."
"Aku tidak terlalu peduli. Bukannya setelah lulus sekolah, memang murid itu akan mengambil jalannya sendiri?, tapi kalau pilihanmu melanjutkan 'pembunuhan' aku juga tidak bisa bilang apa-apa"
Karma berdehem lalu menusukan sedotan ke lubang kerdus minuman. Cukup lama mereka berputar-putar di sekitar taman, sampai akhirnya sosok familiar menghentikan langkah mereka berdua.
Asano Gakushu duduk di kursi taman sambil mengiming-imingi peranakan Golden Retriever dengan sepotong sosis. Anjing kecil itu meloncat, mengogong kecil sambil mengoyangkan ekornya, dia sangat senang ketika sosis sapi itu di dapatkannya.
Biasanya pria itu selalu memakai setelan jas, kali ini pak kepala dewan tampil berbeda dengan baju kasualnya. Rambut Orange itu tertutup topi Baseball, kesan santainya semakin menonjol dengan setelan hem berwarna biru dan celana tiga perempat berbahan jean, bahkan pria itu tidak memakai sepatu melainkan sepatu sandal santai berwarna hitam.
Ketiga pasang mata saling melihat satu sama lain, dan di saat bersamaan situasi menegang. Nagisa memang berada di dalam circum tersebut, namun tidak terlibat dalam ketegangan. Pria bersurai biru itu berusaha mencairkan suasana "Sudah lama tidak bertemu Asano-kun," sapanya lalu mendekati anjing golden yang manis itu "Kau memeliharanya?"
"Begitulah. Ibunya milik tetangaku, dan pemiliknya tidak bisa merawat anak-anak anjing itu sendirian, jadi dia memberikannya padaku"
"Siapa namanya?"
Gakushu tampak cukup terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Nagisa. Bukannya seharusnya normal, seseorang bertanya tentang nama hewan peliharaanmu?.
Dengan seenaknya Karma duduk di sebelah Gakushu, lalu memangku anak anjing berbulu emas itu. Tangannya membelai bulu halus binatang tersebut, sementara kedua matanya melihat wajah Gakushu yang sedang berhadapan dengan Nagisa. Rona merah timbul di kedua pipi pria pemilik Golden Retriever, tipis dan hanya bisa ditangkap oleh pandangan Karma.
"...Ada banyak nama yang kupikirkan, tapi aku sama sekali tidak bisa memutuskannya"
"Lalu kau memanggilnya apa?"
"Pemilik sebelumnya memanggil setiap anak anjing dengan Doggie, jadi aku hanya mengikutinya"
"Heh, payah," Karma mengolok tiba-tiba "Apa kecerdasanmu menurun? Biar aku saja yang memberinya nama." Katanya lalu mengangkat anjing itu ke wajahnya. kelihatannya Doggie menyukai Karma, dengan semangat dia menggonggong dan menjilati pria berkepala merah yang baru dikenalnya.
"Terserah. Kalau kau yang memberinya nama aku tidak masalah"
"Hmm...Ba—" Karma berhenti. Kalimat Jika kau mau dan apabila itu kau kelihatannya sering di dengarnya dari mulut Asano muda itu, dan itu membuat Karma sedikit curiga.
Kedua orang yang bersama dengannya menatapnya heran, seolah bertanya kenapa kau berhenti.
Berpura-pura tidak menyadari tatapan itu, Karma melanjutkan "Bagaimana kalau Scarlet?"
"Eh? Apa dia perempuan?," Nagisa bertanya-tanya, melihat wajah lucu anak anjing itu lalu ke Karma "Pantas saja dia menyukaimu Karma!," guyonnya sambil menanggut-manggut "Semua perempuan benar-benar menyukaimu."
Seolah anak anjing itu mengerti, dia menyalak ke arah Nagisa seolah seperti dia setuju pada perkataan pria itu. Kedua sahabat yang sudah lama tak bertemu itu tertawa lebar, sementara Gakushu hanya tersenyum tipis sambil mengeleng pelan. Kekanak-kanakan sekali, pikirnya.
"Baiklah! Mulai hari ini namamu Scarlet." seru Karma sambil mengacak bulu di kepala hewan itu. *Guk!— Satu gongongan diberikan pada pemiliknya yang sedari tadi bungkam. Dengan kedua mata bulatnya yang seperti boneka itu, Scarlet memandang tuannya. Anjing itu benar-benar pintar, seolah berkata pada tuannya 'Sudah kubilang nama Scarlet itu bagus tuan'
Sebenarnya, sebelum Karma menamai anjing itu Scarlet, Gakushu juga ingin menamainya dengan nama yang sama. Scarlet, warna yang selalu melekat di benaknya, rasanya malu juga kalau mengingat wajah 'seseorang' setiap kali memanggil anjingmu bukan?.
Dan ternyata seseorang itu malah punya ide yang sama dengannya.
...
Nagisa punya urusan mendadak dan melengos pergi meninggalkan kedua pria yang lain. Gakushu dan Karma hanya saling menatap lalu dengan canggung kepala dewan yang sedang liburan itu mengajaknya untuk berkeliling.
Demi Scarlet yang imut itu, tentu saja Karma mengiyakan. Pria bersurai merah itu yang membawa tali Scarlet sementara Gakushu sang pemilik berjalan di samping Karma.
Kelihatannya Akabane sangat menikmatinya, pikir Gakushu tersenyum dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mungkin Akabane Karma tak akan mengingatnya, tapi dia akan selalu mengingatnya. Masa-masa dimana mereka berhubungan. Diantara mereka tidak tahu kapan dan siapa yang memulai duluan, bahkan bagaimana mereka bisa menjalin hubungan, itu semua masih misteri.
Misteri segitiga permuda maupun misteri kebenaran eksistensi alien, semuanya tidak bermutu jika sudah disuguhkan untuk kedua remaja itu.
Tidak ada menyatakan cinta, tak ada yang mengaku sayang, namun mereka adalah sepasang kekasih. Berpelukan, berciuman, sampai tidur bersama, sudah mereka lakukan selama setahun lebih.
Berbeda dari pasangan lain, tapi mereka memiliki ikatan yang lebih erat daripada segalanya. Seharusnya begitu...Tapi kenyataan jika semua itu terbangun tanpa adanya permulaan, sebenarnya itu begitu rapuh, lebih dari apapun.
Seerat apapun, namun saat dibakar tali itu akan terbakar. Dan sekarang hanya menjadi debu...
*Drap drap drap
Dengan panik Asano Gakushu berlarian di koridor sekolah. Beberapa menit yang lalu salah satu teman sekelas Karma memberitahunya jika remaja itu mengalami kecelakaan.
Hanya kecelakaan kecil, namun kepala Karma terbentur cukup keras dengan tanah dan membuat kepalanya mengalami pendarahan ringan.
Gakushu paling tahu sikap Karma yang acap kali sering meremehkan kondisi tubuhnya, dan kekasihnya itu pasti menolak untuk di bawa keruman sakit. Maka karna itu, sekarang dia berlarian menuju ruang kesehatan dan mengabaikan teguran guru yang melarangnya berlarian di lorong sekolah.
Sebagai ketua OSIS memang mudah saja dia mengikuti peraturan itu, tapi sebagai Gakushu; pacar Karma, dia menolak untuk mengikuti aturan itu untuk saat ini.
Ketika membuka pintu ruang kesehatan, dia menemukan Karma yang duduk santai menikmati minuman kotakannya. Kepala Karma di balut perban dan kelihatannya dia masih baik-baik saja.
Kedua mata emas remaja itu menatapnya heran, dan semua pertanyaan bisa di baca dari sinar mata keheranan itu.
"Kudengar kau kecelakaan," terangnya seraya mengatur nafas "Kau baik-baik saja?"
"...Kenapa kau peduli denganku?" Karma bertanya dan menaikan kedua alisnya "Aku hanya terjatuh. Kenapa kau melihatku seperti aku akan mati hanya karena terbentur tanah?"
"Hei...Maka karna itu aku sangat khawatir tahu!"
"Iya, Iya aku menghargai rasa khawatirmu padaku...A-sa-no-kun"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
OXO
Dan itu adalah akhir dari hubungan kami, batin Gakushu mengakhiri ingatan pahit di masa lalu. Saat ini Karma sedang bermain bersama Scarlet, berlarian di sekitar air mancur.
Padahal hari sudah mulai malam dan pasti airnya dingin sekali. Bisa dilihat kaos hitam yang dikenakan Karma basah, dan bulu emas Scarlet mulai loyo dan berkali-kali anjing itu menguncangkan tubuhnya untuk mengeringkan badannya, tapi kelihatannya keduanya masih bersemangat berputar-putar di sekitar air yang muncrat.
"Rumahku cukup dekat dari sini. Beritahu aku dimana rumahmu Asano!"
"...Mana aku mau memberitahu iblis merah yang mengincar nyawaku rumahku"
Balasan yang sama sekali tidak di duga Karma. jadi, akhirnya targetnya tahu kalau dia adalah iblis merah, dan itu juga karena kebaikannya. "Karena Russian Cocktail?"
"Yaah...Dari pertama aku kan memang mencurigaimu sebagai iblis merah?"
Scarlet berlarian kearah pemiliknya, dan Gakushu memberikan kedua lengannya untuk mengendong anak anjing itu. Tanpa sadar Karma bertanya-tanya; bagaimana rasanya dipeluk oleh pria itu, pria dingin yang menganggap dirinya adalah absolut.
Wajahnya mulai memanas, apa gerangan dia berpikir demikian?.
"Tapi aku sudah kubilang jika itu kau, apapun tidak masalah bukan?"
"Ha?" Karma menoleh, pikirannya masih melayang entah kemana membuatnya telat menangkap ucapan pria tersebut. Gakushu menyeringai padanya "Jadi...Apakah kau bisa membunuhku Akabane, tidak, Iblis merah?"
"Rumahku, seharusnya kau mengetahuinya. Tapi sudahlah, itu berada di belokan pojokan, dari sana hanya berjarak tiga blok"
"...Siapa sangka kalau rumah kita cukup dekat. Tapi aku tidak akan memberitahumu, bisa saja kau menjadikanku target"
"Apartemen kumuhmu itu berada di arah berlawanan dengan rumahku, tapi memang dekat dengan taman ini. Baru saja Nagisa memberitahuku...melalui E-mail." Gakushu memberitahu sambil menunjukan Hp-nya.
Wajah Karma di penuhi siku-siku, dalam hati mengumpat si sialan itu membela lipan itu atau apa!?
...
Sebelum Karma pergi ke Bar tempatnya bekerja, sesuai perkataannya tadi pagi jika dia akan mengambil penawar racun yang di buat oleh Okuda. Dia tidak benar-benar akan menemui perempuan itu, di depan rumah dia mengirim pesan pada Okuda jika mereka tak perlu bertemu dan taruh saja penawar itu di kotak surat.
Agak membingungkan, tapi wanita itu menurutinya.
Jelas sekali jika Karma itu akan membunuh seseorang, dan itu perbuatan jahat nan dosa, tapi Okuda Manami sama sekali tak mencegahnya. Mungkin Okuda berpikir selama dia memberikan penawar, ada kemungkinan Karma akan menyembuhkan targetnya.
Mustahil, pikir Karma seraya memasukan tangannya ke kotak surat. Sebuah botol coklat berada di genggamannya, sama seperti racunnya, penawarnya juga berwarna bening.
Dengan itu dia meninggalkan rumah itu dan kemungkinan selamanya dia tidak akan kembali. Kenapa dia tidak menusuk targetnya seperti pekerjaannya yang sebelumnya? Entahlah, dia hanya berpikir kalau terlalu sayang jika tubuh Asano Gakushu yang sempurna itu cacat.
Mengenai racun...Mungkin dia hanya ingin bertemu dengan Okuda Manami, dan sesuai janjinya pada wanita itu kalau dia yang akan mencoba pertama kali keampuhan obat beracun itu. Atau barangkali... Karma hanya ingin membunuh Gakushu dengan campur tangan orang-orang yang dikenalnya, tidak memakai bantuan dari luar, seperti toko obat?.
Karena...Asano Gakushu itu, spesial?
"Jangan bercanda ah," Karma menyisir poninya kebelakang dengan jarinya. Hari ini dia memakai Tuxedo malam seperti kebanyakan Bartender, begitu rapi dan tampan. Para pelanggan wanita segera mengelilingi, berkerumun hanya untuk melihat wajahnya, dan tentu saja Karma segera menawarkan minuman karena itu memang pekerjaannya.
"Tidak seperti biasanya Karma-kun, ada apa gerangan?"
Salah satu pelangannya bertanya. Karma tidak bisa menjawabnya, karena memang tidak ada alasan khusus untuk berpakaian layaknya Bartender, dan dia memang Bartender. Dengan senyum elegan dia memberikan dua gelas Martini pada setiap gadis "Hmm...Apa aku tidak cocok perpakaian begini?" godanya, hanya untuk menghindari pertanyaan sebenarnya.
"Ti..Tidak Akabane-sama sangat cocok mengenakannya!" wanita yang satunya memuji dengan malu-malu dan teman-temannya yang lain mengangguk setuju.
Di sisi lain Karma tidak memperhatikan mereka. Astaga, sebenarnya dia tidak pernah punya hobi bermain dengan wanita— tidak seperti teman sekelasnya di SMP dulu—, dan menjadi bintang di Bar ini tidak pernah berada di dalam skenarionya.
Memang sih terkadang dia terlalu banyak bermain dengan para perempuan itu, hanya untuk membuat kesal manejer saja sih.
Senyumnya merekah ketika seorang tamu laki-laki mendekati meja, dan memesan segelas besar bir. Itu kesempatannya untuk menjauh dari para wanita, hanya cukup bilang "Aku harus bekerja. Bagaimana kalau kalian duduk di tempat yang lebih nyaman?" tawarnya seraya menoleh ke pojokan tempat dimana sofa merah masih kosong.
Sejam telah berlalu, Karma mulai bosan juga mengantuk. Berkat Nagisa tadi dia sama sekali tidak tidur, padahal dia berencana untuk tidur setelah bertemu dengan Okuda.
Dengan malas dia duduk di kursi tinggi berbahan kayu. Iseng dia merogoh saku celananya, dimana dia menyimpan botol racun. Tiba-tiba saja dia mempunyai ide bagus, sudah dua hari berlalu dia dan masih belum memberitahu berita bagus untuk kliennya.
Tidak akan menunggu lama lagi, Asano Gakushu akan mati. Sesuai permintaan sang target Akabane Karma yang akan membunuhnya, bukan iblis merah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Iya, Iya aku menghargai rasa khawatirmu padaku...A-sa-no-kun"
Tiba-tiba saja Asano Gakushu datang ke ruang kesehatan. Kelihatannya pemuda itu berlari, bisa dilihat dari nafasnya tersenggal-senggal.
Dia bilang jika dia mengkhawatirkanku, batin Karma seraya melihat pemuda bersura jingga itu. Dia sama sekali tidak mengerti, bukannya mereka berdua seharusnya saling bermusuhan? Lalu kenapa pemuda itu datang lalu memeluknya begitu erat dan bertanya dengan nada cemas "Kau benar-benar tidak apa-apa?"
"Ini bukan lelucon, ada apa denganmu?" kata Karma lirih lalu segera dia membalas "Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja!"
"Baguslah. Kau bisa membuatku mati jantungan"
Mati jantungan. Apa segitunya Asano sangat mengkhawatirkan dirinya? Karma sama sekali tidak mengerti, tapi lebih baik dia tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin saja yang kepalanya terbentur itu bukan dia, melainkan si Asano muda itu.
"Ketua OSIS, gerbang sekolah hancur karena sebuah mobil menabraknya. Dan aku berada di dekat gerbang itu, wajar saja jika aku terkena dampaknya...Yah,kalau kau mau tahu kronologinya kenapa aku bisa berakhir disini"
"...Kau, berada di dekat gerbang?...Jangan katakan kalau kau mau bolos, Akabane!"
"Hahaha..."
Mereka berdua tertawa bersama. Tapi itu bukan awal kebahagian mereka. Karena Gakushu berpikir jika itu adalah akhir segalanya, sementara bagi Karma itu hanyalah langkah awal yang kecil untuk menuju hubungan mereka.
Tapi sayang sekali, langkah tersebut berhenti. Akhirnya mereka berdua malah memilih jalan yang berbeda, dimana mereka bertemu lagi sebagai; pembunuh dan targetnya.
To Be Continue
A/N:
Chapter ketiga Kill to Kill Completed!
Baiklah, dugaan Chindleion-san jika Gakushu dan Karma dulu pernah pacaran pas SMA, PING PONG itu benar sekali, dan terjawab di chapter ini.
Lalu kenapa berakhir? Seharusnya sudah bisa ditebak ketika disebutkan kalau Karma ternyata pernah kecelakaan.
Mengenai siapa yang punya perasaan, mmm...siapa ya? Mungkin bisa dilihat di Chapter selanjutnya #eng-ing-eng /jadi inget Kuro-chan si kucing cyborg
The reply time:
To Chindleion-san:
Selama tebakannya benar, mereka memang pacaran pas SMA. Sebenarnya plot cerita ini garing dan mudah di tebak kok, semoga masih menikmati Kill to Kill. Dan terima kasih selalu menjadi pe-review pertama.
To Kuroyukidesu-san:
Seharusnya saya tulis Kuroyuki-san desu ya? Haha...maaf salah kalimat pembuka.
Salam kenal, dan terima kasih untuk me-review chapter sebelumnya. Mm...mengenai review chapter pertama, maaf saya belum mendapatkannya. /memang mau ditagih?/
Asano bentar lagi ke bunuh kok, karena kelihatannya Karma udah punya ide siip untuk ngebunuh tuh, haha
Mengenai banyak chapter, kalau dilihat dari alur veritanya sih bentar lagi End /duh, kok kasih bocoran?/ tapi kalau ditanya jumlah, ah paling Ch 5 atau paling ngenes sih 6, moga-moga besok udh End ya. Kadang saya ini suka nambah-nambah plot gak penting soalnya...
Anyway thanks for reading!
To Xhakira-san:
Hi, senang kalau Xhakira-san masih menikmati Kill to Kill. Tenang saya sedang masuk kilat-update-mode kok. Thanks for reading
