Chapter 04:

Pagi, di saat Gakushu di tengah perjalanan menuju ke sekolahnya. Jalanan masih sepi karena dia berangkat lebih pagi daripada anak-anak yang lainnya.

"Asano-kun~"

Itu suara Karma—masih belum jadi kekasihnya— diikuti suara derap kaki. Sebenarnya Gakushu enggan untuk menoleh ke belakang, dimana suara itu berasal. Wajah pemuda bernama Karma itu akan selalu menjadi yang paling terakhir ingin dilihatnya, dan pagi-pagi begini malah bertemu dengannya.

Tapi kalau anak itu sampai berlarian hanya untuk bertemu dengannya, mungkin ada sesuatu yang genting?.

Akhirnya Gakushu menoleh. Raut wajahnya memucat ketika mendapati Karma yang tersenyum manis menghampirinya, bukan, bukan itu yang membuatnya merinding sekarang.

Segerombolan anak SMA sekolah lain berlarian mengejar remaja berambut merah itu, yang masih dengan santainya mengucapkan selamat pagi pada Gakushu.

"A...Apa-apaan ini!?" teriak Gakushu juga malah ikut berlari, mau bagaimana lagi, secara spontan dia merasa dia juga akan ikutan dihajar karena telah dianggap sebagai teman Karma.

Sialan, dia ingin melibatkan ketua OSIS ya?, geram Gakushu dalam hati— Dia tidak akan membiarkan jabatan yang susah payah di raihnya hilang begitu saja, hanya karena bocah bengal, yang dia yakin kalau mereka saling membenci.

Mereka yang mengejar memiliki badan yang lebih tinggi dan badan kekar. Jangan bercanda, meskipun Karma maupun dirinya bisa mengalahkan mereka semua, memangnya mereka mau kesekolah dengan keadaan lecet nan berantakan?

"Sialan kau. Jangan sebarkan kesialanmu padaku juga brengsek!"

"Eh~ padahal aku sangat ingin berangkat sekolah bersamamu"

Sungguh suatu kesialan yang luar biasa sial. Pagi ini dia tidak mandi hanya untuk kembali berkeringat, dan dia masih lelah karena mengerjakan PR semalam kemarin. Gakushu menoleh ke belakang, jarak diantara mereka berdua dengan gerombolan sangar sebelumnya cukup jauh. Dia menarik tangan Karma, membawanya ke sebuah gang kecil di dekat mereka.

Para pengejar itu mengejar mereka di gang yang sempit, dengan cekatan kedua siswa SMA Kunigigaoka itu loncat melewati gerbang tinggi yang terbuat dari jaring kawat. Sebelum mereka semua—para pengejar—juga memanjat pagar yang cukup tinggi, Karma menghancurkan kedua sisi engsel karatan yang menahan pagar tersebut. Alhasil pagar tersebut roboh dan menimpa orang-orang itu.

Gakushu berlari duluan, tidak peduli jika Karma tertinggal. Sayangnya gang tersebut buntu, dan untuk kembali berarti mereka harus kembali melewati para siswa sekolah lain yang beringas itu.

"Dasar, apa yang kau lakukan sampai mereka mengejarmu?"

"Mereka menungguku di depan rumah. Mana mungkin aku tidak masuk sekolah dengan alasan; menghidari geng yang ingin menghajarku? Itu memalukan tahu!" Karma mengoceh sambil menghentakan kakinya berulang kali ke tanah, tentu saja bukan hanya Gakushu saja yang kesal dengan kejadian barusan

"...Aku kan belum bilang apa-apa, tenanglah bodoh," Gakushu berjalan duluan "Kita harus keluar dan kembali ke jalan utama, kau mau kita terlambat?"

Karma mengosok tengkuknya seraya menguap lebar "Video game yang kumainkan belum tamat, apa sebaiknya aku pulang ya" dia berujar di belakang.

Dengan cepat Gakushu menoleh ke remaja di belakangnya memberinya tatapan lipan, apa yang baru saja bocah itu katakan? "Oi! Jadi kau tidak masalah dengan 'menamatkan game' sebagai alasan kau tidak masuk?!" serunya sambil menunjuk, dan dia sama sekali tidak suka seringaian yang di tujukan Karma.

Mereka berdua saling menatap. Iris berwarna emas dan violet saling bertubrukan cukup lama, tanpa mereka sadari, atmosfer di sekitar mereka berubah. Jarak mereka memendek, satu sama lain bisa merasakan nafas seolah sedang bertukar udara dengan intim.

Bahkan mereka tak bisa merasakannya, tak tahu bagaimana ciuman itu berlangsung. Lidah mereka saling bertaut, berputar dengan lembut. Belum ada yang ingin merebut sisi dominan, sampai Karma memutuskan ciuman mereka, dan Gakushu yang menyambungnya kembali yang menjadi dominan.

Salah satu dari pengejar mereka melihat adegan tersebut, mengetahuinya Gakushu memutuskan ciuman mereka, membiarkan Karma terjatuh duduk di tanah, kehabisan nafas.

"Maa...aku tidak tahu apa yang terjadi juga" gumamnya lalu mengulurkan tangannya untuk menarik kerah penonton barusan "Aku tidak ingin mengingatnya, jadi sebaiknya kau tidak mengingatnya juga"

Pemuda berpotongan cepak yang seharusnya lebih kuat—karena dia lebih tinggi dan kekar dari pada Gakushu—, memekik ngeri saat dipandang dengan tatapan lipan yang selalu sukses menekan mental seseorang itu.

*BUK

Pada akhirnya juga, Gakushu yang menghajar habis gerombolan pengejar Karma. Pemuda bersurai merah itu tertawa cekikikan melihat tumpukan tubuh para fans nya "Kau membantu berandalan, ketua OSIS"

"Ciuman tadi membuatku kesal. Akan lebih menguntungkan jika aku melampiaskannya pada mereka." jawab Gakushu sambil merapikan dasinya

"Tapi..Bukannya kau mengundangku?"

"Apa maksudmu huh?...Kau yang maju duluan"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Gakushu terbangun dari tidurnya. Menyebalkan, kenapa dia mimpi buruk ya? Mengenang masa lalu itu sudah tidak ada gunanya sekarang, dia hanya tinggal menunggu serangan Karma, dan masalah mati atau tidak itu tergantung keberuntungannya.

Tubuh Scarlet berada di atasnya, menjilat-jilat pipinya. Tersenyum kecil, Gakushu bangkit dan turun dari kasurnya. Berangkat ke dapur, Gakushu memberi makan Scarlet lalu minum susu dan makan beberapa potong roti tawar.

Hari ini dia tidak begitu banyak pekerjaan, jadi berangkat tidak terlalu terburu-buru. Setelah bergulat dengan Scarlet beberapa saat, dia mandi lalu segera memakai pakaiannya untuk bergegas berangkat kerja.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

OXO

Bel makan siang sudah berbunyi, namun kepala sekolah Kunugigaoka masih berada di ruangannya. Tangannya bergerak lambat mengerjakan semua dokumen keperluan sekolah, sementara tangannya yang lain mengambil cangkir berisikan kopi, lalu meminumnya.

Sakakibara masuk ruangan, memberitahu jika mobil yang akan digunakan Gakushu sudah siap— Kepala dewan hari ini harus menghadiri rapat dinas.

"Baiklah." Gakushu bangkit dari kursinya, sementara Sakakibara sudah berada di ambang pintu, menunggu atasannya untuk keluar dari ruangannya.

Belum sempat Gakushu melangkahkan kakinya untuk mendekati tempat dimana Sakakibara berdiri, dia terjatuh. Kakinya terasa lemas dan memaksanya untuk duduk di atas lantai yang dingin.

Sakakibara segera berlari mendekatinya dan membantu Gakushu untuk berdiri. "Suhumu tinggi sekali." Kata pria itu seraya menatapnya cemas.

Tidak tahu, sama sekali tidak tahu. Pagi ini dia merasa sehat-sehat saja, tapi sekarang tubuhnya terasa capek dan juga panas. Gakushu memejamkan matanya, menarik nafas dari mulutnya lalu mengeluarkannya, kepalanya juga sakit sekali.

"Hei...Kita bisa menunda rapatnya, yang penting istirahatlah dulu Asano." Sakakibara sudah tidak memperdulikan status mereka saat ini, mereka pernah menjadi teman dan itu selamanya, meskipun terkadang dia jengkel juga dengan sikap seenaknya Gakushu. Pria—yang bahkan setelah menjadi gurupun— tetap mempertahankan model rambut Kariage-nya meminjamkan pundaknya, melingkarkan salah satu lengan Gakushu untuk membantunya berdiri dan berjalan.

Dia memastikan jalan yang mereka lewati sepi. Gakushu tipe orang yang suka menjaga harga diri, jika dilihat dalam keadaan lemah seperti ini...Baiklah, sebagai mantan teman, dia masih iba melihat keadaan mantan temannya dalam keadaan seperti ini.

Sepanjang perjalanan mereka menuju ke ruang kesehatan, Gakushu hanya diam saja. Bahkan seorang Asano Gakushu akan kepayahan ketika terserang demam, pria itu hanya berjalan sambil menutup mata, berusaha tabah dan mengalah pada penyakitnya.

...

Kantin sekolah ramai sekali. Mau berapa dekade-pun, kalau membicarakan makan siang dan kantin itu, pasti berhubungan dengan anak-anak sekolah yang berdesakan di dalam ruangan penuh makanan itu bukan?.

"Akabane-sama apakah bosan?"

Kedua iris emas melihat sosok wanita pirang dengan tajam, lalu tersenyum manis "Apa aku terlihat seperti itu?," tanyanya balik, dia memang paling ahli untuk menghindari pertanyaan awal dengan pertanyaan.

Salah satu pelangannya, rupanya dia adalah salah satu pegawai di kantin sekolah Kunigigaoka. Padahal dari semuanya dia yang paling cantik, batin Karma seraya menghela nafas masih tak percaya.

Wanita pirang itu—Nana namanya— adalah primadona kantin. Dia berperangai lembut, sama sekali tidak terlihat kalau suka bermain ke Bar bersama teman-temannya. Tapi mungkin alasannya untuk selalu datang ke Bar— hanya Bar dimana Karma bekerja—, ya hanya karena eksistensi Karma itu sendiri.

Nana pernah menyatakan cintanya pada sang Bartender, dan berakhir di tolak dengan lembut.

Karma merasa seperti bangsat sekarang, karena dia telah memanfaatkan wanita itu. Demi mendapatkan akses masuk ke kantin sekolah—terlebih lagi dia sangat beruntung— dia merayu Nana untuk membiarkannya membantu di kantin. Kata 'merayu' mungkin terdengar berlebihan, karena...sebenarnya Karma hanya bertanya "Apakah aku boleh menemuimu di tempat kerjamu besok, Nana-chan?"

Dan setelah datang kesana, dia pura-pura baik membantu.

Bibi di sebelah Karma bilang jika hari ini anak-anak lebih beringas, dalam sekejap saja makanan kantin sudah ludes. Begitulah, biasanya anak laki-laki membeli dengan kantongan modus ingin melihat Nana, dan sekarang anak perempuan jika melakukan hal yang sama untuk Karma.

"Keberadaan Akabane-sama memang hebat!" seru wanita itu dengan tatapan berbinar ka arah Karma. Yang ditatap hanya terkekeh kecil lalu mengusap puncak kepala kuning itu "Ada-ada saja"

Karma menjadi akrab dengan para penjaga kantin, mereka mengobrol dan bercanda gurau layaknya teman lama. Sampai akhirnya bel istirahat berakhir berbunyi, tanpa sengaja dia menyeringai pada arloji yang melingkar di pergelangannya. Untung saja tidak ada yang melihat karena poninya menutupi.

"Maaf...Aku ada janji dengan seseorang"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

OXO

"Anak-anak kembalilah ke kelas kalian!"

"Tapi Sensei kami tidak enak badan~"

"Hanya alasan saja bukan? Aku tidak akan membiarkan anak-anak membuat tempat ini menjadi tempat membolos"

Setelah anak-anak yang telah ditegurnya keluar dari ruangannya tempat dia bekerja, wanita itu tersenyum senang. Meskipun para murid mengeluh, tapi mereka selalu menuruti apa yamg dikatakannya.

Mungkin dia hanyalah perawat di ruang kesehatan sekolah ini, tapi dia juga ingin ikut andil dalam mendidik murid, sekaligus mengawasi kesehatan mereka.

Wanita yang memiliki paras seperti boneka Jepang, rambut panjang yang lurus dan hitam mengkilap. Baru saja dia akan kembali ke pekerjaannya, pintu geser ruangannya terbuka kembali. Wanita itu menelengkan kepalanya, betapa terkejutnya dia ketika tamu kali ini bukan anak-anak yang mengeluh tidak enak badan, melainkan Kepala dewan beserta suaminya.

"A...Apa dia baik-baik saja?"

Sakakibara merasakan kecemasan istrinya, tentu saja, siapapun akan terkejut jika melihat atasanmu yang perfeksionis itu datang dengan wajah merah karena demam tinggi.

"Yukiko, bisa kau bantu aku membawanya?"

"Ba..Baiklah"

Akhirnya Gakushu bisa berbaring diatas ranjang. Dada pria itu naik turun dengan cepat, dengan mata Violetnya dia menatap pasangan suami-istri tersebut "Aku tidak...Aku tidak yakin...Ji jika ini...De..mam biasa" katanya terputus-putus.

Mata Kanzaki Yukiko meneliti pasiennya "Apa benar? Kenapa kau bisa berpikir demikian?," tanyanya "Tunggu sebentar aku akan mengukur suhumu"

Perawat itu dengan cekatan mengambil termometer yang disimpan di atas meja kerjanya "Buka mulutmu Asano-kun" mintanya, agak aneh sendiri harus memperlakukan atasannya—Apalagi itu Asano— seperti ini.

Sebuah termometer digital dimasukan kedalam mulutnya, dia hanya menurut saja sampai bunya biip terdengar. "Astaga, 40 derajat," ujar si perawat dan sudah sesuai dugaan Gakushu "Apa yang kau lakukan sampai suhumu setinggi ini?," tanya Yukiko dengan mata penasaran juga cemas "Berbaringlah, aku akan mengambilkan kantong es untukmu." Lanjutnya lalu keluar dari ruangan.

Sakakibara mendorong pelan tubuh Gakushu, memintanya untuk berbaring.

Pria bersurai coklat itu duduk di pinggir kasur kosong yang bertempatkan di sebelah milik Gakushu. Dia tidak berani melihat keadaan Gakushu sekarang, ini terlalu tiba-tiba dan misterius sekali. Benar apa yang dikatakan Gakushu, pagi ini dia terlihat sehat dan tidak ada masalah.

Lalu kenapa tiba-tiba saja kondisinya berubah drastis?— Ada yang janggal, pikir Sakakibara. Tidak lama kemudian Kanzaki telah kembali dengan sekantong es, Sakakibara tersenyum melihat wanita itu kembali. Namun seketika itu juga, senyum itu menghilang.

Akabane Karma berada tepat di belakang istrinya. Dia melihat Kanzaki dengan tatapan bertanya dan wanita itu menjelaskan "Karma-kun menjenguk Asano ketika aku memberitahunya kalau Asano sedang sakit."

Tapi...

Tapi itu bukan wajah orang yang ingin menjenguk, Yukiko!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam itu ketika dia mengantarkan surat dari Isogai Yuma ke Asano, dia merasakan kejanggalan. Nagisa adalah orang yang mengantarkan surat itu, lalu diberikannya padanya—Sakakibara—. Dari sanalah, dia merasakan keanehan yang luar biasa.

Bagaimana tidak?— Isogai Yuma dan juga Nagisa Shiota adalah anak buangan, bukan, masalah anak buangan tidak ada hubunganya untuk saat ini. Mereka berdua adalah almuni SMP Kunigigaoka begitu juga dengan dirinya dan Asano Gakushu. Banyak sekali alumni yang berkempul dalam cirkum tertentu, dan berpura-pura kalau tidak ada alasan khusus karenanya.

Sakakibara ragu, apakah sebaiknya dia membuka surat itu lebih dahulu sebelum memberikannya pada Asano? Tapi itu sungguh ketidak sopanan yang luar biasa, maka karnanya dia berganti rencana dengan bertanya pada pria bersurai biru tersebut "Apa urusan Isogai mengirim surat pada Asano?"

Nagisa yang berniat pergi, menoleh ke belakang "Aku tidak bisa mengatakannya," katanya pura-pura kecewa "Kau bisa membukanya kalau kau penasaran Sakakibara-san"

"Mana mungkin"

Tapi memang dia penasaran, tapi untuk saat itu dia menahan rasa penasaran yang mengerogotinya itu. Dia memberikan—secara harfiah dia meletakannya di atas meja Asano, lalu kembali ruang guru karena memang hari itu dia lembur.

Beberapa jam telah berlalu dan dia kembali ke ruangan Asano, pria itu hanya mengambil laptopnya saja, dan membiarkan sisanya di atas meja. Bukan berarti Asano Gakushu adalah yang berantakan, karena 'sisa' yang dimaksud hanya selembar kertas yang sudah keluar dari amplopnya.

"Pak kepala dewan mengenai rapat dinas yang sebentar lagi..."

Sakakibara mendekati meja itu, seraya berbicara dengan Asano. Dalam waktu sekian detik dia dapat membaca inti dari surat yang baru saja di antarkan sebelumnya.

'Membunuh' 'Iblis Merah' 'Kau'

Membaca tiga kata tersebut sudah membuatnya mengerti apa keseluruhan isi surat tersebut. Tubuh Sakakibara bergetar, apa ini? apakah ini teror yang dilakukan oleh anak-anak buangan? Tidak...Mungkin dirinya telah menjadi naif, tapi dia tahu kalau anak-anak kelas End tidak jahat.

Terbukti karena istrinya adalah salah satu dari mereka dan dia baik. Bukan hanya itu...Kenyataan jika anak-anak kelas End berusaha menyelamatkan dunia tidak akan berubah selamanya. –Sakakibara mengetahui misi kelas End setelah menikah dengan Kanzaki.

Keesokannya Akabane Karma berkunjung ke sekolah lalu di malam yang sama mereka bertemu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tapi itu bukan wajah orang yang ingin menjenguk, Yukiko!

Karma menyeringai, tanda kemenangannya. Pria bersurai merak itu sama sekali tidak merepotkan dirinya untuk menyembuyikan niat buruknya yang sudah terlaksanakan.

Dia mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya dengan dahi Gakushu. Panas, hanya itu yang dirasakannya. Ini racun Okuda, racun mematikan itu telah menyatu dengan darah korbannya.

"Racun yang dibuat Smog waktu itu. Okuda mengembangkannya menjadi lebih ganas dan lebih cepat mengerogoti korbannya," beber Karma tidak pada siapapun. Tapi Yukiko mengetahui dan terlibat langsung dalam kejadian itu, tidak mungkin dia lupa apa yang telah di perbuat Smog, terlebih lagi Takaoka.

"...Karma-kun kau mengetahui sesuatu?," tanya Yukiko "Apakah Manami-chan terlibat atas sakitnya Asano-kun?"

Karma menoleh, kedua manik emasnya itu bercahaya tajam melihat wanita cantik tersebut "Tidak," jawabnya singkat. Lalu dilanjutkan penjelasan "Sebenarnya racun ini untuk Koro-sensei, seharusnya lebih mematikan bukan?. Tapi Okuda hanya ingin mencobanya, dia penasaran apakah tubuh gurita itu mempan dengan virus"

"Jika tidak ada hubungannya dengan Okuda, berarti ada hubungannya denganmu bukan?" kali ini Sakakibara angkat bicara "Katakan, apa alasanmu datang ke sini Akabane"

Karma tersenyum, senyum tanpa dosa "Tidak ada alasan khusus. Hanya memeriksa apakah targetku sudah mati atau belum." Ujarnya. Kedua manik itu masih bersinar, seolah menusuk mental siapapun yang melihatnya.

Yukiko membeku tapi di saat bersamaan tubuhnya bergetar. Tatapan mata itu, tatapan mata yang sama dengan milik Nagisa yang sudah ingin membunuh seseorang. "Demi apa kau menyakiti Asano...Bahkan sampai ingin membunuhnya!?," suara wanita itu meninggi, bahkan ini pertama kalinya Sakakibara mendengarnya semarah ini "Karma-kun jawab aku..." wanita itu mendekat menarik lengan baju yang dikenakan Karma "Kenapa...Kenapa kau berbuat jahat?"

Asano Gakushu bukan siapa-siapa baginya, hanya kenalan saja. Tapi Karma, dia berbeda. Karma adalah temannya, dan Yukiko bertanya-tanya kenapa temannya itu melakukan hal sekeji itu. tanpa sadar setetes air mata jatuh dari kedua maniknya yang berwarna coklat madu.

"Brengsek!" Sakakibara mendorong Karma dan menekannya ke tembok "Berikan...Berikan penawarnya Akabane!," mintanya terdengar seperti perintah. Bukan Karma namanya kalau dia menuruti perintah seseorang.

Kedua bola mata emas milik Karma memang melihat sosok Sakakibara yang sedang murka padanya, tapi pikirannya melayang entah kemana.

Ah...Mungkin aku sudah gila. Sebagai pembunuh...Apakah aku gagal?

Aku sudah memberitahu orang-orang ini kalau aku pelakunya, yah...Meskipun si Asano sialan itu belum mati.

Tapi...Kurasa saat ini aku bukan pembunuh, karena yang meracuni Asano itu bukan iblis merah itu aku, dan 'aku' terlalu bosoh untuk menjadi pembunuh.

Benar...Akabane Karma sama sekali tidak punya nyali untuk membunuh dan malah memberi tahu teman-teman lamanya kalau dia berniat membunuh. Dasar pecundang...

"AKABANE APA KAU TIDAK TAHU SIAPA YANG INGIN KAU BUNUH ITU?!," Sakakibara kehabisan kesabaran. Sialan dia tidak akan membiarkan kisah kedua bangsat itu menjadi seperti ini "APA KAU TAHU? DIA...ASANO ITU ADALAH—"

"HENTIKAN!," suara teriakan berasal dari arah ranjang. Gakushu berteriak malah memperparah keadaannya. Pria bersurai jingga yang sekarat itu terbatuk-batuk,darah mulai berceceran di atas lantai dan sprei. Beberapa kali lelaki itu batuk darah, Yukiko segera berlari membantunya mengusap darah.

"Rei...Jangan...Jangan katakan," sungguh ajaib Gakushu tadi bisa berteriak. Sekarang dia hanya bisa berbicara lirih sekaligus serak, bahkan membuat Karma tidak ingin melihat keadaannya sekarang.

Tapi dia harus melihatnya...Nasib targetnya berada di tangannya. "Akabane...Orang yang mau kau bunuh itu...Hanya aku...Kepala dewan sekolah..ini"

"...Aku tidak terlalu peduli..."

Kenyataannya dia sempat penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Sakakibara dan berakhir di hentikan oleh Gakashu. Apakah dia tidak mengetahui sesuatu? Apa dan kenapa dia harus peduli dengan 'identitas' tergetnya.

"30 menit, " kata Karma lalu mendorong pria yang mengencetnya "20 menit sudah kalian habiskan dengan berteriak padaku. Umur pria itu tinggal 10 menit lagi," ujarnya memberitahu seraya menunjuk.

"...Kau punya penawarnya bukan? Kau membawanya bukan?"

"Kenapa aku harus memberitahumu?"

"KARENA DIA ADALAH ORANG YANG PENTING BAGIMU!"

"...KENAPA AKU HARUS MENGANGGAP LIPAN BUSUK ITU PENTING!?"

Sementara keduanya—Ren dan Karma— sedang berdebat. Gakushu hanya tertawa ringan, membuat wanita di sebelahnya menatapnya iba "Ada apa Asano?"

Hanya gelengan yang di dapatkan wanita itu. Asano sama sekali tidak punya tenaga untuk berbicara. Menutup kedua matanya, sekali lagi dia ingin melihat masa lalunya. Yang sangat tidak ingin dia akuinya, jika masa-masa itu adalah masa yang indah dan tak tergantikan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari itu adalah kencan pertama—lebih tepatnya, pertama kalinya jalan-jalan bersama—Gakushu dan Karma. Berkali-kali Gakushu menolak Karma yang mau menjemputnya, hanya karena alasan mau tahu rumah keluarga Asano itu semewah apa. Pada akhirnya pemuda bersurai merah itu menjemput Gakushu, dan mengajaknya pergi ke tempat favoritnya; Game Center.

Gakushu main sampai rasanya mau muntah, kenapa sih si kepala merah itu bisa memainkan mesin seperti itu selama berjam-jam?. Gakushu mulai merajuk dan Karma yang cerdas merasa sangat terhibur ketika kepala jingga itu menunjukan wajah tidak senang.

"Ada apa?" tanya Karma pura-pura tidak tahu.

"...Dari wajahmu, kelihatannya kau bisa membaca apa yang kupikirkan"

"Apa maksudmu? Kenapa juga aku tertarik dengan apa yang kau pikirkan?"

"Jangan berputar-putar Akabane"

Gakushu menghela nafas lelah, kalau begini dia yang harus mengalah "Kau mau makan?. Aku tadi dengar ada Cafe baru di dekat sini"

"Baiklah"

Mereka memesan menu kesukaan masing-masing. Karma memesan segelas Jus stroberi dan pie buah yang di rekomendasikan pelayan, sementara Gakushu hanya memesan secangkir kopi non gula. Pasangan yang aneh, di sela-sela menikmati sajian mereka, keduanya saling melontarkan kalimat-kalimat pedas.

Semua mata memandang kedua lelaki— yang bisa dikatakan tampan— tersebut. mereka bertingkah kekanak-kanakan sekali, dan membuat beberapa pengunjung terkekeh geli dengan kelakukan mereka.

Merasa diperhatikan keduanya berhenti berbicara dan menyelesaikan makanan dan minuman mereka. keluar dari bangunan tersebut wajah keduanya memerah, malu sekali. Dalam hati, mereka menyalahkan satu sama lain.

Sebuah tangan mencengkram kerah Gakushu, membuat lelaki itu mendekati wajah si pemilik tangan. Karma mencium Gakushu, bisa dirasakan buah stroberi dan kopi di lidah mereka. kali ini Karma mendominasi, karena Gakushu sama sekali tidak menyangka serangan tersebut.

Pemuda bersurai jingga jatuh kedalam pelukannya, menatap si penyerang dengan tatapan sayu (A/N: Oi ini masih Asakaru bukan?!)

Reaksi yang manis, pikir Karma lalu membantu Gakushu untuk berdiri dengan benar "Manis sekali." Katanya entah ditujukan untuk pujian atau olokan, sambil menjilat bibirnya sendiri.

"Kau..." nada Gakushu mengancam "Apa yang kau lakukan?! kau pikir kita dimana?" dia segera melihat kanan-kiri memastikan tidak ada penonton seperti acara ciuman pertama mereka.

Dia baru saja bisa bernafas lega setelah memastikan tidak ada orang di jalan yang mereka lewati.

"Balasan karena kau mengambil ciuman pertamaku" jawab Karma datar "Kemarin lusa kau yang memulainya bukan?"

"Itu kau!, mana mungkin aku mencium seseorang yang bukan pacarku?"

"Kau pikir aku apa? Aku bukan makhluk seperti 'kalian' yang mencium sesamanya, apalagi dari semua orang kenapa harus kau?!"

"Apa kau serius berpikir kalau aku termasuk dari yang kau sebut 'kalian' itu?"

Selalu begitu. Setelah melakukanapa yang seharusnya sepasang kekasih lakukan, mereka akan berdebat tanpa henti. Tidak jarang bahkan pukulan melayang di antara keduanya, namun pada kenyataannya tidak ada yang mempermasalahkan tindakan 'gila' tersebut.

Gakushu tidak bisa membayangkan kalau yang dia cium itu orang lain, begitu juga Karma.

Setahun penuh hubungan mereka seperti itu. Akhirnya, Gakushu yang lebih berpikir rasional tidak tahan. Dia merasa dia harus menyelesaikan ini, dan Karma seharusnya berpikir demikian.

Gakushu memanggil Karma keatas atap, bertanya pada pemuda itu sebenarnya apa yang mereka lakukan. Teman? Jika mereka teman, mereka tidak akan melakukan segala hal itu. Musuh? Apalagi musuh, sebenarnya keduanya lebih memilih mengatakan hubungan mereka demikian, tapi apa yang mereka lakukan itu terbanding terbalik; bagaikan surga dan neraka.

Lalu apa?

"Kurasa...Sepasang kekasih," kali ini Karma berbicara, dengan cengiran jenaka "Apa tanpa sadar kita sebenarnya adalah sepasang kekasih?" pemuda itu tertawa, menertawakan kebodohannya dan kebodohan pemuda yang satu lagi.

Diam. Gakushu mematung di tempatnya. Benar juga, kenapa dia baru menyadarinya sekarang.

Dia telah jatuh cinta, tanpa sadar dia telah jatuh cinta.

Di sisi lain, alasan Karma tertawa juga sama dengan kenapa Gakushu mematung.

Dia tertawa...menertawakan kebodohannya, kenapa dia baru menyadarinya sekarang.

To Be Continue

A/N:

Chapter 04 Completed

Saya berusaha mengerjakannya secepat mungkin, selama pengerjakan malah banyak sekali sudah mengirimkan Review. Arigatou na~

Mungkin Ch ini terlihat seperti acak-acakan ya?

Cerita ini hampir mencapai klimak-nya. Sebenarnya saya punya kebiasaan kalau tegang saat menulis, bokong jadi lancip (gak bisa duduk tenang) Dan kemarin malam saya mondar-mandir sendiri sampai ditanya adik 'kmu ngapain?' Mana bisa saya jawab kalau saya gregetan sama AsaKaru yang saya tulis sendiri.

Yukiko nikah sama Ren! Hehe ya, saya agak suka mereka berdua sih.

Okay!, The Reply Time :

To Misacchin-san :

Hi! Salam kenal , senang mengetahui kalau Misacchin-san menyukai Kill to Kill. Terima kasih untuk Review nya

To Takamiya Haruki :

Salam kenal Takamiya Haruki-san. Saya juga ingin meramaikan AsaKaru, senang kalau Shipper Asakaru menyukainya.

Yah...Saya sendiri juga kasian ama mereka berdua. Tapi gitu lho...Ansatsu no Kyoshitsu itu seharusnya pembunuhan kan? Kok gak ada Zetsubou-nya (Pembawaan dari anime Danganronpa)— Dan jadilah ide ini! Gini-gini pengemar genre Angst dan Psychological.

Ah ya mengenai Typo...saya males benahin sih, udah capek males mau baca lagi /plak Gomenasai saya akan lebih hati-hati

Terima kasih buat review-nya

To Kuroyuki-san:

Aloha~

Enaknya ya masih sekolah, dulu saya juga begitu hiks. #baru lulus beberapa bulan yang lalu dia.

Dulu saya lonjak girang kalau ada ff favorite update setelah pulang sekolah liatnya. Rasanya semua ingatan tentang PR hilang entah kemana, hahaha

Terima kasih buat reviewnya!

To Tofu enak-san :

Hi salam kenal Tofu enak-san. Emang suka makan Tofu ya? Saya juga suka, apalagi tahu Kediri, saya tinggal di kediri soalnya hahaha /apaan sih/

Asano mati gak ya? Hmm mending tanya Karmanya ada deh, entah dia niat atau gak bunuh mantan pacarnya itu.

Terima kasih buar review-nya!

To Xhakira-san:

Senang bisa menghibur, terima kasih lagi untuk Reviewnya : )

To Leny-san :

Hi salam kenal. Sebelumnya maaf karena review Leny-san di Ch sebelumnya belum saya moderate, jadi gak muncul dan saya gak tahu sampai saya periksa Email. Terima kasih untuk reviewnya, saya senang Leny-san menyukai Kill to Kill : )

To Chindleion-san:

Hello!

Ya, tebakan Chindleion-san benar-benar hahaha...

Hmm mulai menghipotesa lagi, setiap kali Chindleion-san menebak dan hampir mendekati, saya merasa kalau Chindleion-san adalah Rinka Hayami yang cerdas (Krn foto profilnya) /maaf jd ngomong yg ngak2

Karma itu lagi agak sedeng, tapi kita perlu dia meminta penawar pada Okuda kalau kita masih mau Asano hidup! Tenang... saya juga gak suka Bad end kok... apalagi buat OTP saya yang baru ini hiks...

Tentang scene bar itu...Hahaha...setiap kali melihat wajah Karma pas 7 tahun kemudian, mukanya itu cocok jadi bartender dan jadi deh background itu melekat disini. Beneran...Bukannya yang populer di kalangan cewe itu Asano harusnya.

Trims lagi buat reviewnya : )

To Onozuka Mikado-san:

Hi salam kenal!

Saya senang kalau Mikado-san menyukai Kill to Kill. Saya memang berusaha membuat semua karakter di sini OOC nya seminimal mungkin. Tapi saya merasa Nagisa terlalu OOC kali ya?

Terima kasih buat Reviewnya !