Seorang pria berdiri di depan jendela yang terbuka lebar. Dilihatnya langit biru cerah tak berawan dengan kedua bola mata yang berwarna emas pucat. Isogai Yuma tersenyum sedih saat dia mendongakan kepalanya untuk melihat langit yang lebih diatas.

Sebenarnya, dia adalah benih semua ini. Dia adalah akar masalah ini, tapi...dia sama sekali tidak ingin memetik bunga berwarna merah darah yang ditanamnya itu.

Apakah...Apa yang kulakukan ini benar-benar bisa membantu mereka?

Nagisa berada tepat di belakangnya, menunduk melihat lantai polos yang menampakan bayangan kesedihannya.

Mereka ragu...Jika ini akan berhasil. Entah apa yang dikatakan gurita kuning yang baru saja pergi dengan kecepatan 20 Mach-nya, tapi mereka sama sekali tidak bisa mempercayainya. Ini Karma yang mereka bicarakan, Ace kelas 3-E jenius itu. Lelaki bersurai merah itu tidak akan membuat kesalahan sekecil apapun, terbukti bagaimana polisi berusaha menangkapnya tapi sama sekali tidak membuahkan apapun setelah penyelidikan mereka.

Akabane Karma adalah pembunuh. Bukan...Iblis merah yang sebenarnya pembunuh, tapi dia adalah salah satu bagian dari Karma.

Tapi...Mereka telah membuat Akabane Karma menjadi pembunuh, membunuh Asano Gakushu.

Seandainya...Kecelakaan itu tidak terjadi. Kecelakaan kecil yang selalu dianggap remeh Karma itu, bukan hanya kecelakaan kecil.

Karena kecelakaan tersebut mengubah segalanya, mengubah hubungan mereka berdua, juga mengubah seluruh kehidupan Akabane Karma.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 05:

OXO

Ini bukan hanya karena pekerjaan, aku bahkan tidak peduli dengan uang yang kudapat dari CEO yang merupakan klien ku itu. Karma selalu berpikir demikian, dan memang kenyataannya demikian.

Asano Gakushu itu...Sangat mengganggunya. Aku ingin menghancurkan eksistensinya, itu yang ditanamkan Karma pada pikirannya semenjak dia bertatap muka dengan Gakushu setelah berpisah selama 10 tahun.

Entahlah...keberadaan lelaki itu mulai nyata baginya setelah dia memeluknya saat di ruang kesehatan. Gakushu sang musuh begitu khawatir padanya, memeluknya seolah dia adalah kekasihnya.

Hari itu, dimana Karma membuka matanya lebar-lebar. Baru kali itu dia melihat Asano Gakushu dengan pandangan yang berbeda. Lalu tiba-tiba saja, lelaki itu—Gakushu— menjauh darinya, berpura-pura semuanya tak pernah terjadi.

Apa maksudnya?— Ketika mereka bertemu lagi, Gakushu melihatnya seperti ingin mengatakan sesuatu. Dan sekarang pria itu menyembunyikan sesuatu dari Karma.

"Aku tidak punya...Mana mungkin aku punya penawar itu"

Sakakibara yang kelihatannya ingin memberitahunya sesuatu, Gakushu mencegah. Terserahlah, mati saja bersama rahasiamu itu, pikir Karma.

Seolah ada masalah dengan jantungnya, setiap kali melihat wajah Asano Gakushu, organ satu itu berdetak dengan cepat.

Begitu juga sekarang. Dadanya sakit, melihat pria itu kesakitan...rasanya dia juga mengalami sakit itu.

"Pembohong! Nagisa bilang kau mempunyainya, kau memintanya pada Okuda bukan!?" Sakakibara bersikeras meminta penawarnya. Ekpresi dingin Karma meluluh ketika mendengarnya "Apa...Nagisa?," tanyanya bingung "Kenapa kau tahu itu dari Nagisa?"

"Mana mungkin aku menjelaskannya sekarang brengsek! Kau pasti mempunyainya bukan!? Keluarkan sekarang dan kau akan tahu apa yang sedang terjadi disini!"

"Oh...Aku akan tahu apa yang terjadi setelah aku membiarkan pria itu hidup?," alis Karma terangkat satu, gestur meremehkan yang biasa dia buat "Sebenarnya mau sekali, tapi sayangnya aku tidak membawanya sekarang"

"Kenapa kau tidak membawa penawarnya?" kali ini Yukiko yang bertanya "Kau membawa racunnya kenapa kau tidak membawa penawarnya!?"

Keadaan semakin genting dan panik, rasanya tidak ada oksigen di ruangan itu. Setiap kali menghirup udara, hanya kesesakan saja yang dirasakan mereka bertiga yang terlibat.

"Tentu saja...Karena aku—" belum selesai Karma membalas apa yang dikatakan Yukiko sebelumnya, tubuhnya terlempar menabrak dinding.

Tentakel kuning menjeratnya, mengangkat tubuhnya ke udara sampai kedua sama sekali tak menyentuh lantai putih di bawahnya. Kedua mantan murid buangan mengenal betul, milik siapa tentakel kuning tersebut.

Karma selalu menyimpannya, gantungan kunci yang terbuat dari bahan anti-sensei. Segera dia memasukan tangannya ke saku, melingkarkan cincin gantungan dan menyentuh salah satu tentakel kuning yang mengikatnya.

Reaksi yang diharapkannya; tentekel itu meleleh. Karma segera melakukan hal yang sama sampai tubuhnya terjatuh ke lantai "Hei...Jangan bercanda, kau datang di saat yang tidak tempat sensei. Kita tidak sedang melakukan reuni"

"Nurufufufu..."

Tawa khas itu membuatnya bergidik. Karma tersenyum miris mengetahui kalau mantan wali kelasnya di SMP akan ikut campur dalam masalah ini.

"Koro-sensei, kau tidak berhak melakukan apapun"

Kepala bulat itu, cengiran menyebalkan itu, sekarang tersaji di depan mata emas Karma. Mau berapa tahunpun, guru mereka yang satu itu tidak akan berubah.

"Fufufu..." tawa yang menjengkelkan itu masih keluar dari cengiran itu "Karma-kun mau sampai kapan membohongi diri sendiri?" tentakel empuk itu berusaha menyentuh pipi Karma yang memerah karena marah, tapi akhirnya di tapik dengan kasar. "Jangan menyentuhku, gurita" geram Karma melihat tajam "Mengingat dirimu di masa lalu...Kau pasti ikut andil dalam masalah ini"

"Yang lebih penting lagi, penawarnya Karma-kun" Koro-sensei mengabaikan semua tuduhan tersebut, dan kembali ke tujuan awalnya; membujuk Karma.

"Sudah kubilang aku tidak membawanya"

"WAKTUNYA HANYA LIMA MENIT!" Yukiko berteriak sekuat tenaga, menarik perhatian seluruh ruangan. Untung saja ruang kesehatan ada di pojok lorong, tidak akan ada yang mendengar kehebohan yang terjadi di dalam sini. "Ada apa denganmu Karma-kun? Kudengar masa-masa kalian saat di SMA kalian begitu indah"

Apa yang dikatakan wanita itu? Selama SMA, setelah pertama kalinya pria berambut jingga itu memeluknya, lalu dia mengabaikannya seolah mereka tidak mengenal satu sama lain!.

Untuk pertama kalinya.Benar...Karma tidak ingat apa yang terjadi di antara mereka sebelumnya. Sebelum kecelakaan yang dialaminya...

"Kumohon...Karma-kun," Yukiko menundukan kepalanya, air mata kembali menetes dari pelupuk matanya "Aku yakin...Aku yakin kalian sebenarnya tidak ingin hubungan kalian...seperti ini bukan?"

Sebuah kerutan muncul di dahi Karma, dia menunduk melihat kedua kakinya sendiri. Dia mendengar Koro-sensei bertanya padanya "Sebenarnya...Kenapa kau mau membunuh Asano-kun?"

Kenapa? Itu juga aku mau tahu...Sialan, sebenarnya rasa sakit yang kurasakan ini...Apa?

Dia ingat...Betapa kesalnya dia ketika Asano mengacuhkannya, bertingkah jika hubungan mereka bukan apapun. Bukan teman, bukan musuh, lalu apa? Sepasang kekasihpun mereka bukan!?

"Akabane.." kali ini Sakakibara memanggil namanya lembut "Mungkin kau tidak ingat. Tapi kalian pernah pacaran sampai setahun lebih, satu setengah tahun lebih tepatnya." pria Kariage itu memberitahu—Kali ini dia sukses melanjutkan kalimatnya, karena Gakushu sudah menutup matanya seperti tertidur. Mendengarnya, Karma hanya bisa ber "Ha?"

"Aku...Pernah menjadi kekasih orang itu?"

"Fufufufu...Sensei juga pernah mendengarnya, dari Nagisa dan kawan-kawan. Tidak disangka meskipun kalian semua berpisah kalian tetap akrab, Sensei senang mengetahuinya. Tapi ketika kalian putus dan bahkan sampai pada tahap seperti ini, Sensei sangat sedih tahu..." Gurita itu mulai terisak, dan itu tangisan—entah palsu atau sengguhan— menyebalkan.

Kedua pundaknya Karma menurun. Rasa penyesalan mulai mengerogoti dirinya, tapi di sisi lain dia tidak menyesal. Hanya pecundang saja yang menyesali perbuatannya—tidak—mau tidak mau dia harus menjadi pecundang sekarang.

Karma tersenyum, senyuman yang selalu dia gunakan untuk menyembunyikan kesedihannya. Tapi topeng itu sama dengan yang dipakainya ketika meremehkan sesuatu. Dengan sikap arogan dia mendongak, melihat sekelilingnya dengan tatapan malas—atau jika kau lebih mengerti tentang lelaki itu, sebenarnya dia telah menyerah. "Percuma saja" mulainya

"Aku memang tidak membawa penawar itu," lanjutnya pelan "Aku meninggalkannya di apartemenku. Waktunya tidak lebih lama daripada tiga menit lagi, dalam waktu segitu kau bahkan belum bisa keluar dari bangunan ini"

Kenapa dia meninggalkannya?— untuk menjawabnya Karma harus mengakuinya. Mengakui jika Asano Gakushu itu spesial. Tapi bukan berarti dia tidak akan membunuh pria itu.

Sebuah penyesalan...Itu jawabannya. Dia tahu, jika dia mempunyai penawar itu dan tidak menyelamatkannya. Jiwanya akan hancur, dia akan tengelam dalam kesengsaraan yang dimanakan; penyesalan.

Dia akan menyesal seumur hidup, setiap malam dia akan bermimpi buruk. Mimpi yang mengulang-ulang kejadian hari ini, hari dimana dia membunuh Asano Gakushu. Apa yang dia beberkan pada orang-orang ini—fakta dia adalah pembunuh— hanya untuk memukulnya lebih jauh. Dia akan kabur...kabur dari ingatan mengenai hari ini, dia akan berusaha mati-matian untuk membuang memori ini. Dan, di saat bersamaan...Hari ini akan menjadi hari yang paling diingatnya. Dia tidak akan lepas, tidak akan melepaskan ingatannya mengenai hari ini. Dia akan selalu ingat bahwa dia adalah orang yang membunuh Asano Gakushu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Saat itu Karma masih berada di dapur sekolah. Dia memang berancana memasukan racun Okuda ke dalam makanan atau minuman, tapi apa? Mana dia tahu apa yang akan dimakan atau diminum targetnya—Terlebih lagi, masalah utamanya adalah; bagaimana memberikannya pada sang target.

Pria bersurai merah itu memasukan beberapa roti Yakisoba kedalam kereta untuk di pindahkan ke etalase kantin. Kedua matanya tidak berkedip, karena dia sedang sibuk memikirkan rencana pembunuhannya. Belum sempat dia mendorong kereta—berisi tumpukan roti—tersebut, dia mendengar suara familiar yang memanggil Nana.

"Nana-chan~"

Itu suara Sakakibara, dasar padahal sudah menikah. Karma segera mengendap, bersembunyi di balik dinding, lalu menguping.

"Oh..Sakakibara-san, ada keperluan apa?"

"Bisa aku minta sekantong kopi, persediaan kopi di ruang guru habis"

"Tunggu sebentar. Oh, maaf...hanya tersisa setengah toples, butuh waktu untuk mencarinya di lemari penyimpan"

"Hmm...Mood Asano akan bertambah buruk. Kalau begitu...Bisa buatkan secangkir untuknya?"

"Tentu"

"Aku akan menunggu di meja kantin"

Setelah itu Sakakibara pergi, meninggalkan wanita pirang itu sendirian. Belum saja Nana menggerakan tubuhnya, Karma memanggilnya lalu berdiri di sebelahnya.

"Nana-chan, roti Yakisobanya sudah kupindahkan ke kereta"

"Oh terima kasih Akabane-sama. Aku akan membuat kopi dulu, apakah Akabane-sama mau?"

"Mau sih...Tunggu, bagaimana kalau aku yang membuatkannya?"

"Eh? Tapi...aku harus membuat satu untuk pak kepala dewan"

"Aku akan membuatnya, kamu pindah saja roti-roti itu ke etalase. Bibi Miko telah menunggumu"

"Mmm...Baiklah. Tapi biar aku saja yang mengantarkannya, aku tidak mau merepotkan Akabane-sama lebih dari ini"

"Hahaha...Apa yang kau katakan? Aku sendiri yang menawari, aku tidak kerepotan. Tapi...memang harus kau yang mengantar kopi ini"

Setelah itu Nana meninggalkan Karma sendirian. Pria bersurai merah itu segera menyeduh kopi, membuatnya seperti cairan hitam itu sama dengan alkohol yang biasa dia racik. Sementara tangan kanannya dia gunakan untuk mengaduk kopi, tangannya yang lain mengambil botol racun dari saku celananya.

Meletakan teko, dia membuka botol kecil tersebut lalu menuangkan cairan bening tersebut ke dalam minuman.

Setelah itu—untuk memastikan siapapun tidak akan salah dengan cangkir lain— Karma belum membuat yang lain tapi dia memanggil Nana, meminta wanita itu mengantarkannya pada Sakakibara. Jika beruntung—Sakakibara maksudnya— cangkir itu tidak akan berpindah ke tangan yang lain, kecuali Gakushu sang target.

Setelah membuat dua cangkir kopi untuknya dan Nana, dia duduk. Bertopang dagu, dia menghela nafas panjang. Setelah dipikir-pikir...Kenapa dia melakukan semua ini? Ada dendam apa sampai dia mau-maunya membunuh Gakushu?— Karma tidak gila akan uang. Dia juga bukan tipe pembunuh yang mengutamakan pekerjaan, karena dia memiliki pedoman 'aturan itu untuk dilanggar' yah...itu pedoman sisa dari masa sekolahnya.

Lalu kenapa?

Kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa

Kata kenapa berkali-kali diulangnya sampai dia sendiri bisa menjadi gila.

"Payah...Aku ini, hanya seperti anjing buangan"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah kejadian di ruang kesehatan, sikap Gakushu pada Karma mendingin. Dia sama sekali tidak mengerti, rasanya pemuda berambut jingga itu enggan bersama dengannya.

"Hei Asano, hari ini apa kau tidak mau belajar di rumahku?"

"Oh, hari ini aku ada bimbel," jawab Gakushu tanpa menoleh pada Karma yang berada di sebelahnya "Kau kan pintar. Apalagi biasanya kau tak pernah mengajakku, itu sedikit mencurigakan"

"Hmm..." pandangan Karma ke depan melihat papan tanpa guru. Tapi kedua mata emas remaja itu melirik teman sebangkunya, memperhatikan gerak-gerik Gakushu yang sedang merapikan bukunya. " Sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan guru tadi." katanya bohong. Dia terbiasa menarik mengsanya untuk terjerat jaringnya, kebiasaan itu terbentuk untuk menarik Koro-sensei. Tapi...

"Benarkah? Pelajari saja sendiri, rangkingmu kan ada diatasku"

Raut malas dari Karma tidak menghilang, menyandarkan tubuhnya dia menghisap kembali jus kotakannya "Tapi...Semester lalu kau mengalahkanku." Gumamnya mungkin tidak di dengar oleh teman sebangkunya.


Bel pelajaran dimulai telah berbunyi. Karma masih berbaring di atap, melihat langit biru yang senada dengan rambut sahabatnya yang bersekolah di tempat lain. Ini tidak menyenangkan, biasanya ketika bel istirahat berakhir dan dia belum kembali. Gakushu akan menjemputnya, menyeretnya untuk kembali ke kelas.

Setidaknya itu yang selalu dilakukan Gakushu, sebelum kejadian ruang kesehatan dan...Kecelakaan.

Seperti anjing buangan...

"Apa aku telah dibuang?...Sebenarnya...Apa yang kulakukan?"


Suatu hari Gakushu tengah melamun. Jam itu adalah jam pelajaran olahraga. Karma si pemalas membolos di ruang kesehatan, melihat anak-anak sekelasnya bermain sepak bola dari jendela. Seharusnya sepak bola itu permainan kesukaan Gakushu, tapi kenapa pemuda itu melamun dan terlihat malas untuk melakoni permainan tersebut?.

Sebuah bola mengenai kepala Gakushu, melihatnya mata Karma membulat. Guru mata pelajaran menyuruh pemuda yang baru saja berciuman dengan bola untuk segera ke ruang kesehatan, mengompres kepalanya. Sama sekali tidak keren, kenapa orang seperti Gakushu melakukan kedogolan seperti itu?.

Pemilik surai jingga itu masuk keruang kesehatan, tersenyum kecil pada Karma "Kau melihatnya? Tertawalah, bukannya kau juga sering menjahili ku dengan cara yang sama?"

"Dan kau bisa menghindari semua bola yang kulemparkan padamu"

Gakushu tidak menjawab, atau, lebih tepatnya dia tidak bisa menjawab. Dia terlihat begitu letih, membuat Karma makin penasaran saja. Karma ingin bertanya, tapi takut jika jawaban pemuda itu 'Aku belajar untuk ujian' mungkin dia akan memukulnya karena telah berbohong. Asano Gakushu itu jenius, dia tidak perlu seperti orang bodoh yang belajar matian-matian.

"Guru kesehatan sedang keluar, biar aku saja yang mengompres kepalamu itu"

Karma mendekat, berusaha menyentuh kepala jingga itu. sebelum keinginannya terwujud, tangan Gakushu melarangnya "Jangan menyentuhku Akabane"

Deg!

Untuk beberapa detik, jantung pemuda bersurai merah itu berhenti. Apa yang kuharapkan?, batin Karma setelahnya. Dia tertawa kecil, benar...Mereka hanyalah...Apa?

"Kita buat ini jelas Akabane...Kita bukan teman, tapi bukan musuh karena aku tidak membencimu"

Lalu apa?

"...Orang asing, apa kau pikir aku bisa pura-pura tidak mengenalmu?." tanpa saja kalimat itu melesat dari mulut Karma yang bergetar "Sebenarnya...Apa yang telah ku lakukan padamu? Apa salahku?"

"Kau tidak salah apapun Akabane. Hanya aku saja yang terlalu pengecut..."


Setelah itu, Karma berhenti mendekati Gakushu. Hubungan mereka sudah jelas, diperjelas sendiri dari mulut Gakushu. Menyebalkan sekali, apa yang telah diharapkan Karma?

"Dia...Benar-benar mengabaikanku"

Ingin sekali dia menampar wajah tampan Asano muda itu. Setelah segala usahanya untuk mendapatkan rangking satu di semester 2 ini, Asano Gakushu masih tetap bungkam.

Sama sekali tidak ada ejek mengejek satu sama lain, sama sekali tidak ada ancaman kalau dia akan merebut kembali rangkingnya.


"Apa yang kau lakukan disini Akabane?"

Wajah ketua OSIS menunjukan rasa tidak sukanya saat Karma duduk di kursi ruangannya. Karma mengusap meja OSIS yang berbahan dari kayu jati, seringai meremehkan terbentuk dari bibir kecilnya "Mengantarkan bunga?" jawabnya dengan nada bertanya, sengaja membuat jengkel si ketua OSIS.

Akhir bulan ini mereka akan lulus. Karma berada di rangking satu, dan Gakushu di peringkat dua. Ketua OSIS itu sampai sekarang tidak mengatakan apapun untuk membela harga dirinya yang jatuh, diinjak oleh Karma.

Dan itu membuat Akabane Karma sebal sekali, bahkan membencinya.

"Para adik kelas yang merupakan Fansmu, terlalu takut untuk meletakan semua hadiah ini ke ruang OSIS," lanjut Karma lalu berdiri dari kursi tahta Gakushu "Kau keren, tapi menakutkan. Menurutku tidak juga...hanya akhir-akhir ini saja kau menyebalkan A-sa-no-kun"

"Kalau kau sudah selesai dengan urusanmu, kau bisa pergi Akabane"

Tch...Bahkan dia tidak membalas ejekan halus yang baru saja kukatakan, batin Karma yang sudah marah. "Kau membuatku mual, ketua OSIS Asano Gakushu"

"..."

Tidak ada jawaban, Gakushu hanya diam mematung. Membiarkan mantan pacarnya—yang tidak mengetahui apapun—pergi meninggalkan hidupnya, tanpa berkata apapun lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dengan itu...saat itu adalah saat-saat terakhir mereka bertemu, sebelum menjadi pembunuh dan targetnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aka...Akabane-sama?"

Karma sadar dari lamunannya, karena kenangan masa lalunya. Kedua manik hijau Nana yang bulat melihatnya cemas, agak membuatnya sedikit enggan untuk memulai percakapan.

"Akabane-sama baik-baik saja?"

Syukurlah, wanita itu yang bertanya duluan. Karma menghela nafas, membuang rasa penat yang ditimbulkan masa lalunya "Aku baik-baik saja"

"Sungguh?"

"Iya, Nana-chan tidak perlu mengkhawatirkanku"

Wanita itu menghela nafas lega "Syukurlah," ujarnya lembut dicampur dengan kesenangan yang terukir di wajah cantiknya "Akabane-sama jika merasa lapar, aku bisa membuatkan sesuatu"

Nana begitu memperhatikannya, beda dengan 'seseorang'. Tanpa sadar dia berucap "Enak ya...Kalau kau diperhatikan oleh seseorang."

Wanita pirang tersebut, kali ini menunjukan raut sedih "Aku selalu memperhatikan Akabane-sama"

Aku tahu itu, pikir Karma. Dengan lembut dia mengusap puncak kepala Nana "Percuma saja kau memperhatikanku Nana-chan. Sayang sekali, itu hanya akan terbuang percuma." Saat itu dalam hati kecil Karma, dia berdoa agar wanita di depannya ini mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya.

Karena...Aku hanyalah anjing yang di buang...

"Apa...Akabane-sama menyukai seseorang" wanita itu tidak menangis. Dia sudah dewasa, dan dia pernah ditolak orang yang di sukainya—Karma— "Jika memang ada..." dia tidak akan menangis.

"Sayangnya...Aku juga tidak tahu Nana-chan"

Karena...sebenarnya aku ini hanya ingin diperhatikan

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

OXO

Karena...sebenarnya aku ini hanya ingin diperhatikan

"Tapi...Ketika dia tahu, meskipun dia tahu kalau akan membunuhnya. Dia diam saja, membiarkanku membunuhnya"

Karma kembali berbicara di depan Koro-sensei dan yang lainnya setelah menyelesaikan seuntas flashback di kepalanya "Jika dia memang mau mati, aku akan menurutinya. Dan aku sudah mendapatkan hukuman setimpal, bahkan lebih berat daripada aku mendapat eksekusi"

Kepala gurita kuning itu bergeleng pelan, tapi dalam hati dia sama sekali tidak bisa mentolerir kebodohan mantan muridnya yang satu ini "Jika itu kau, apabila itu kau. Bukan berarti dia sama sekali tidak peduli padamu, Karma-kun"

"Mau kau mengatakan apapun, dia akan mati" balas Karma cepat sekaligus sengit, saat ini dia tidak butuh kata-kata bijak apapun "Bahkan dengan kecepatan 20-Mach mu, kau tidak akan menyelamatkannya"

Seolah tidak mendengar ocehan itu, Koro-sensei melanjutkan "Cobalah berbicara dengannya. Tidak di neraka maupun di surga nanti, tapi sekarang di dunia ini," tentakelnya berhasil menyentuh surai lembut berwarna merah. Guru itu tahu, kalau muridnya itu sedih sekali sekarang "Bertanyalah. Yang membuat kalian sampai seperti ini karena kalian kurang komunikasi, harga diri dan kekerasan kepala kalian berperan banyak atas kekecauan ini"

"...Penawarnya tidak ada, ini tinggal satu menit dan—"

"Apa kau mau memberinya penawar Karma-kun?"

"!?"

Ketiga manusia yang masih sehat menatap gurita itu. Segera Sakakibara berteriak "KALAU KAU PUNYA SEGERA BERI DIA—"

Yukiko menarik lengan suaminya, memaksa lelaki itu duduk di sebelahnya "Jangan ikut campur dulu Ren-kun. Aku yakin...Aku yakin Karma-kun akan memilih pilihan bijaksana"

"Kau memiliki...Penawarnya?" tanya Karma pelan, menatap makhluk yang lebih tinggi darinya. Dia bernafas dengan cepat, antara tegang dan lega.

"Apa kau ingin menyelamatkannya?" seringaian licik kembali terukir di senyum bola kuning tersebut.

"..."

"Kau tidak ingat apapun ketika kalian masih berpacaran, mungkin dia punya alasan untuk menghindarimu." Yukiko berusaha membujuk dengan halus, sementara Sakakibara hanya mengangguk sebagai pendukung.

Mungkin iya...Apa aku terlalu keras kepala ya?

Karma mengepalkan kedua tangannya, kedelapan kuku jarinya mensuuk dagingnya. Dia butuh rasa sakit sekarang, ini pilihannya...Nyawa Gakushu ada di tangannya. Karma selalu menginginkannya, menginginkan perhatian pria yang tergeltak hampir mati di sana.

Apakah aku pantas mendapatkannya sekarang?

"Koro-sensei," panggilnya lemah. Karma terduduk lemas diatas lantai, tetesan air mata berjatuhan, rasa basah dirasakan di wajahnya "Terima kasih..Aku sudah lelah"

Aku sudah lelah merasa tersakiti, aku tahu...Asano pun merasa demikian

"Kumohon..."

To be Continue

A/N:

Chapter 5 completed! gagal deh keingian untuk menamatkan nya di Ch ini.

Sudah terjawab bagaimana Karma meracuni Gakushu. Saya sengaja memberikan pentunjuk seminimal mungkin. Adegan Asano meminum kopi dan juga adegan Nana dan Karma yang berada di kantin, yang sebenarnya gak penting.

Maa...gak ada alasan khusus. Mungkin chapter ini akan menjadi tulisanku yang paling ruet kaya benang kusut. Dari inti, flashback 1 lalu ke flashback 2 lalu kembali lagi ke inti. Waw itu berputar sekali alurnya, macam roller coaster.

Yang pusing dan binggung, angkat tangan!

The reply time

To Misacchin-san :

Iya saya suka Danganronpa sekarang lagi ngikutin yang baru tuh, agak kesel juga nunggu setiap minggu. /biasanya nunggu tamat dulu baru liat/

Saya juga suka Komaeda, Naegi si pahlawan juga imut.

Asano ama Karma itu rada gak beres emang. Terkadang antara tingginya harga diri ama pengecut itu hampir sama. – Stiil thx for reading and review

To Tofu Enak-san:

Iya...Karma jahat di awal, tapi tuh Asano juga jahat. Hiks

Saya senang kalau ternyata gak OOC ya, kirain mereka di sini jadi tambah songong gitu. Ngaku cinta aja gak mau— Thx for reading and review!

To Xhakira-san:

Ok, masih baca ya? Thank a lot~ \^^/

To Akano Tsuki-san :

Hi saya senang kalau Tsuki-san Kill to kill. Ya, saya akan terus semangat untuk...membuat Asano hidup. Kita bela Yukiko ama Koro-sensei buat bujuk Karma! /ren dilupakan tuh/ THX For reading and Review

To Leny-san :

Mungkin kepala Karma harus di gebuk atau tubrukin ke tembok biar ingat hahaha... thx for reading and review

To Chindleion-san :

Tenang, gak usah di baca ulang. Karena memang baru dijelasin sekarang. Tapi gomen kalo beneran di baca ulang lho hehe..

Sesama nonton Danganronpa? /tos

Still thx for reading and review!

To Kuroyuki-san :

Masalah kopi baru di jelasin sih haha...

Kalau bisa mungkin kita akan menampar Karma untuk sadar , bujukan Koro-sensei mempan gak ya? Thx for reading and review!