"Aku tidak tahu kalau Koro-sensei ternyata masih di bumi"

"Makhluk itu mengaku kalau dia lahir di bumi, tentu saja dia akan tetap di bumi kan?"

"Rencana menghancurkan bumi di gagalkannya hanya karena ingin me-makcomblangkan Asano dan Karma?"

Ocehan yang terakhir hanya di respon yang lainnya hanya dengan helaan nafas. Maehara Hiroto memang yang paling tahu bagaimana caranya untuk mencairkan suasana.

Okuda Manami berada di samping pria bersurai orange-coklat tersebut. Mendengar ocehannya tentang situasi ini membuat wanita itu tersenyum kecil, setidaknya dia mulai tenang karena semua temannya berada di sini sekarang.

Mereka semua—alumni murid SMP Kunugigaoka kelas 3-E— berada di suatu ruangan rapat, ala perusahaan besar. Tujuan utama mereka berkumpul, bersatu setelah berbencar di tempat yang jauh, tentu saja bukan Akabane Karma dan Asano Gakushu yang merupakan inti cerita ini.

Koro-sensei...Benar, gurita kuning itu yang mengumpulkan mereka semua. Siapa yang bisa menolak jika diundang mantan wali kelas mereka tersebut?—Buat jelas saja, mereka tidak kangen guru gurita itu, hanya penasaran kenapa setelah sekian tahun menghilang makhluk itu muncul kembali.

Menyatukan Asano dan Karma...Hanya untuk selingan waktu saja bukan?

Semua yang tidak terlibat dalam cirkum rencana yang dibuat Koro-sensei berpikir demikian. Tapi setelah mendengar—dari mantan ketua kelas mereka—keseluruhan cerita asal muasal masalah ini terjadi.

Mereka tidak berpikir jika gurita satu itu melakukan semua ini hanya untuk selingan waktu.

"Tapi serius...Karma-kun menjadi pembunuh?," Nakamura Rio bertanya pada Nagisa di sebelahnya "Kupikir dia melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dan mengambil jurusan yang berhubungan dengan Hukum"

"Entah apa yang dipikirkannya," timpal Hayami Rinka "Aku sering ditanyai begitu, tapi untuk Karma-kun..."

"Dia memang pernah kembali bersekolah...Tapi seperti yang kalian dengar barusan, dia bekerja sebagai pembunuh bayaran...dan Bartender" Nagisa memberitahu "Aku dan Isogai-kun yang memulai semua ini, tapi itu semua rencana Koro-sensei."

"Kenapa kau mau melakukannya? Sekarang kita bukan muridnya, dia bisa saja menyakiti kita," nada bicara Hazama Kirara terdengar sangsi "Apa makhluk itu bersama kalian selama ini?"

"Sebenarnya," mantan ketua kelas mengeluarkan suaranya "Kami sudah bersamanya selama tiga tahun. Seperti yang kau lihat...Perusahaan ini di bangun atas kerja keras Koro-sensei. CEO-nya aku dan Nagisa saat ini adalah seketarisku" pria itu mebeberkan segalanya.

"Bukannya yang harusnya memiliki niat menjadi pembunuh itu kau, Nagisa?" tanya Terasaka Ryoma setengah bercanda.

"Itu hanya bakat, bakat," Nagisa mengibaskan tangannya pelan sambil tersenyum malas "Meskipun aku tidak merasa tersanjung mendengar orang memujiku 'memiliki bakat sebagai pembunuh'."

"...Mengenai racun itu. Okuda apa kau yang membuatnya?" Nakamura melihat wanita yang sedari tadi diam saja "Apakah itu benar-benar mematikan?"

"...Iya...Sangat mematikan setelah 30 menit" jawab wanita berkepang satu it dengan enggan "Itu juga salahku memberikannya. Waktu itu aku tidak tahu kalau targetnya adalah Asano-kun"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 06:

Akabane...Tidak mengingatku. Kenyataan itu sungguh memukul Gakushu. Sempat remaja tersebut kehilangan kewarasannya—Tidak, dia tidak bertingkah gila seperti kebanyakan orang sinting.

Di dalam kamarnya dia tertawa, tertawa seolah ada yang lucu dengan kenyataan jika Karma tidak mengingat masa-masa romantis mereka. Ini kesempatannya untuk membuat semuanya kembali normal, membuat semuanya menjadi jelas.

Mereka tidak bisa menjadi sepasang kekasih. Diingatnya lagi apa yang telah terjadi. Tidak ada pengakuan, tidak ada kata-kata sayang, semuanya terjadi begitu saja.

Sekarang kutanya pada diriku sendiri, apakah aku mencintai Akabane?

"Hahaha...Aku tidak tahu...Aku tidak tahu lagi"

Remaja itu duduk diatas ranjangnya, memeluk kedua kakinya. Dia yakin dia masih normal, lalu kenapa dia tertawa? Tidak ada yang lucu disini!

"...Tapi," Ketika mengingat waktu-waktu menyenangkan bersama remaja bersurai merah itu, bahkan mengenang ulah usil remaja tersebut. Dia merindukannya, dia ingin kembali ke masa-masa itu. "Bagaimana bisa aku mendapatkannya?"

Aku takut...

Aku takut, aku tidak bisa membangun kembali hubungan itu.

Semuanya terjadi begitu saja, itu berarti hubungan mereka yang lalu adalah hasil kerja mereka. Mereka berdua membangun hubungan itu bersama, meskipun tidak tahu asa muasal bagaimana bisa mereka merasakannya. Merasakan perasaan manis yang di sebut; cinta.

"Maaf...Maafkan aku Akabane"

"Aku...Aku terlalu takut, seorang pengecut..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Penawar yang di buat Okuda benar-benar tidak berasa dan tidak berbau, Karma yakin jika racunnya juga demikian.

Bagaimana dia tahu?

Karma meminumnya tanpa menelannya, lalu di salurkannya ke mulut Gakushu yang tertidur. Tidak perlu waktu lama untuk memberikan cairan yang seperti air itu ke dalam mulut pria berambut jingga yang tubuhnya hampir mendingin. Entah bagaimana bisa suhu tinggi sebelumnya datang lalu pergi begitu saja dari tubuh Gakushu, obat-obatan kimia selalu membuat Karma terkagum-kagum.

"Kenapa kau tidak memberikannya dengan cara normal?"

Bukan, pertanyaan itu bukan ditujukan untuk Karma. Malah Karma sendirilah yang bertanya pada di gurita kuning yang sangat ingin di belahnya sekarang "Seperti, memberikan botol itu kepadaku?" tunjuknya dengan tatapan mengancam pada mantan gurunya.

Ini seperti...pertemuan pertama mereka terulang kembali.

"Nurufufufu..." tawa itu lagi. Gurita kuning itu berjalan mendekati kasur Gakushu, melihat warna wajah pria uang baru saja di beri penawar. Semenit sebelum waktu yang diberikan sang racun hampir habis. Sungguh beruntung sekali Asano Gakushu itu, Karma masih memikirkan 'cinta'nya dan bujukan-bujukan yang dilontarkan Koro-sensei juga cukup mempan.

Pria bersurai merah itu mengakuinya. Mengaku, jika dia ingin menyelamatkan Gakushu, dan sekali lagi berbicara dengannya. Tidak di Neraka maupun Surga melainkan berbicara di dunia fana ini.

"Ini bukan bom waktu yang sedang kita bicarakan. Jangan-jangan pria ini sudah mati beberapa menit yang lalu, bisa saja dia tidak tahan dengan racun Manami-chan." Ujar Koro-sensei sama sekali tidak meringankan suasana "Yang kubutuhkan adalah kejujuranmu. Jujur bahwa kau masih ingin menyelamatkannya nyawanya" seringaian lebar yang ditunjukan makhluk itu membuatnya memiliki kesan sadis.

"Penawar itu kau yang memintanya, tentu saja aku memberikan obat itu padamu bukan pada pria itu"

"Dan menaruhnya dimulutku begitu? Dasar mesum" Karma berucap sinis. Semua yang terjadi membuatnya lelah. Ingin bersantai sedikit, dia menyandarkan tubuhnya ke dinding. Merasa sedang dilihat, Karma menelengkan kepalanya ke arah pasangan suami-istri yang sangat dikenalnya itu.

Yukiko tersenyum padanya seraya mengerakan tangannya untuk mengusap air matanya "Kita akan tunggu Asano-kun bangun" ucapnya. Ada kecemasan pada nada wanita itu, namun ada juga kelegaan disana. Salahkan perkataan Koro-sensei sebelumnya, mereka sama sekali belum bisa tenang sekarang.

Karma menghela nafas panjang, rasanya waktu berlalu begitu lambat sebelumnya. Kedua kakinya bergerak menuju pintu "Urusanku sudah selesai." Ucapnya dingin lalu mengeser pintu, berniat menggalkan ruangan tersebut.

Suara berat Sakakibara menghentikannya "Kau mau kemana?"

"Jika dia selamat dia tidak akan ingin melihat wajahku. Aku adalah orang terakhir yang ingin dilihatnya" balas Karma sebelum menghilang di balik pintu yang tertutup.

OXO

Aku menyukaimu, apakah kau juga merasakan hal yang sama?

Sebenarnya, selama 10 tahun ini, Asano Gakushu selalu ingin menyakan hal tersebut pada Karma. Ketika mereka berpisah, tak menatap satu sama lain, dia merasa dia adalah orang yang paling tersakiti.

Tapi nyatanya tidak

Dia hanya ragu. Dia tidak tahu apakah Karma juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakannya. Dalam hatinya dia telah mengakui jika dia mencintai Karma, tapi terlalu takut untuk mengatakannya.

Selama mereka berpacaran. Dia merasa dia adalah orang yang paling beruntung di dunia ini. Tapi hubungan yang tidak berasal itu memberinya beban berat.

Apakah Karma berpacaran dengannya itu...Hanya untuk main-main atau memang dia juga menyukai Gakushu?.

Kiranya hubungan tak jelas itu akan bertahan lama. Mereka memiliki kepribadian yang mirip, juga pikiran yang terbuka untuk seseorang yang pintar. Rasa cemburu tak pernah membakar keduanya, tuduh menuduh atau menduga-duga hal negatif juga tidak pernah. Mereka saling percaya, atau hanya Karma saja yang tidak peduli.

Aku tidak mengetahuinya.

Ketika Karma kehilangan setengah ingatannya. Pernah terpikir di benaknya untuk mengaku pada lelaki itu, dan membangun hubungan dengannya. Tapi...Bayangan tentang penolakan terus menghantuinya.

Bagaimana kalau Karma tidak menyukainya?

Bagaimana kalau dia tidak merasakan hal yang sama denganku?

Gakushu bimbang, yang membuatnya merasaka demikian adalah rasa takutnya. Dia tidak berani mendengar penolakan langsung dari Karma, membayangkan-pun tidak ingin.

Menguasai, menaklukan, memanipulasi, dan kemenangan. Semua itu yang selalu dikatakan ayahnya. Di hadapan Karma, apakah Asano muda ini bisa mengatakan salah satunya?

Ada satu kata yang ingin diraih Gakushu sebenarnya, yaitu; Memiliki.

"Aku ingin memilikinya, dan aku ingin menjadi miliknya"

Hubungan secara mutual lah yang ingin didapatkannya. Binggung bagaimana cara mendapatkannya dan berakhir ketakutan.

Apakah dia masih pantas menyandang nama keluarga Asano. Jika ayahnya mengetahuinya, dia hanya akan mendapatkan...Ejekan.

Dia gagal menjadi seorang Asano...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kedua iris Violet terbuka, kembali bersinar setelah tidur yang panjang. Bukan langit-langit yang dilihatnya, melainkan wajah teman beserta istrinya yang dilihat duluan.

Tunggu...Kenapa dia masih bisa melihat kedua orang itu?

Yukiko tersenyum lega, sementara Sakakibara tertawa seolah dia baru saja mendapatkan lelucon terbaik tahun ini.

"...Dimana..Ini?"

Wajar saja dia merasa kebingungan. Sebelumnya dia berada di ambang kematian dan sudah pasti alamatnya menuju Neraka. Lalu...Bagaimana bisa dia kembali ke dunia Fana ini? bertemu dengan kedua orang yang familiar dan mereka memandangnya seolah dia hidup kembali.

Memaksakan diri, dia mendudukan dirinya. Daripada mendengarkan kedua keryawannya, dia lebih tertarik dengan makhluk aneh yang sedang menyengir kepadanya. "Koro...Sensei?" panggilnya ragu. Dia tidak pernah mengenal makhluk itu, melihatnya tanpa penyamaranpun baru sekali ini.

"Nurufufufu...Kau selamat rupanya"

"...Dan aku binggung karenanya." balas Gakushu lalu melihat kedua orang yang lebih di kenalnya. Samar-samar dia merasakan rasa stroberi di lidahnya, mungkin Cuma bayangannya saja tapi mengingatkannya pada orang yang disukainya. Pandangannya berlari kesana-kemari, mencari sosok yang bersurai merah tapi tidak menemukannya. "Dimana Akabane?"

"Entahlah, dia pergi begitu saja" jawab Sakakibara cepat "Kau bisa bertemu dengannya di lain hari. Untuk saat ini beristirahatlah."

"Ren-kun," Yukiko menyipitkan matanya, tanda tidak suka dengan masukan suaminya "Kau bisa mengejarnya, tapi jangan paksakan dirimu."

"He eh...Saran yang bagus dari perawat." Nada bicara Sakakibara terdengar menyindir tapi juga jahil. Berkatnya dia mendapatkan satu pukulan di belakang kepala dari istrinya.

Rupanya Yukiko setelah menikah agak kasar ya?

"Saran yang buruk sebagai perawat, tapi bagus sebagai wanita bukan?"

"Kau saja yang terlalu banyak melihat drama"

Ini pertama kalinya dia melihat Sakakibara berdebat dengan seorang wanita, bahkan membuat Gakushu yang beruntung ini geli melihatnya. Dia baru saja selamat dari kematian, tidak ada salahnya bukan dia tertawa?

"Hahaha...Jadi, aku mendapatkan ijin untuk pergi dari ruangan ini bukan, Kanzaki-sensei?"

Sebelum mendapatkan jawabannya, Gakushu telah turun dari ranjangnya. Wanita yang dimaksudnya hanya mengangguk, sementara kedua laki-laki di ruangan tersebut hanya memperhatikan kepergiannya.

Manik berwarna gelap milik Yukiko sama sekali tidak melepaskan sosok Gakushu, sebelum pria itu menghilang di balik pintu. Setelah itu dia melihat Koro-sensei dan suaminya secara bergiliran. Sorotan mata yang lembut tadi berubah menjadi sengit sekarang "Jadi, bagaimana bisa ini terjadi?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

OXO

Karma berada di pinggir jurang, tepat dimana dia menjatuhkan dirinya beberapa tahun yang lalu. Tidak perlu membalikkan tubuhnya untuk mengetahui siapa yang datang "Kau selamat." ujarnya seraya tersenyum tipis.

Senyuman itu tidak bisa dilihat orang di belakangnya, dan dia memang tidak mau menunjukannya. "Apa Koro-sensei masih berada di ruangan itu?"

"Kau sama sekali tidak peduli padaku"

Kurang ajar, pikir Karma. Tiba-tiba saja amarah menyulut di dalam dirinya, lalu memuncak ke ubun-ubunnya. Dengan cepat dia menoleh "Kenapa aku harus peduli pada orang yang mengabaikanku?!" ujarnya cepat juga sengit. Pria bersurai jingga itu bisa melihat rona merah—karena amarah—di pipi pujaan hatinya tersebut.

Angin berhembus kencang, kedua surai berbeda warna berkibar menutupi pandangan keduanya. Hanya terdengar suara ranting dan dedaunan diantara mereka, seolah alam pun bertariak meminta keduanya untuk berbicara satu sama lain.

Masih tidak ada yang berbicara.

Jurang di dekat mereka, gunung yang mereka pijak. Kenangan SMP mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan kekacauan yang terjadi satu jam yang lalu. Ketika SMP, Karma belajar di gunung ini, membuka pikirannya setelah terjun dari jurang di belakangnya, dan berusaha membunuh targetnya. Sementara Gakushu, dia sama sekali tidak tertarik dengan metode pembelajaran yang di banggakan ayahnya, dia hanya ingin bersaing dengan ayahnya. Lalu...setelah berkali-kali kalah dari kelas End, dia mulai peduli dengan yang namanya orang lain.

Benar...Selama SMP mereka tidak pernah menghabiskan waktu bersama.

Gunung yang dipijak mereka ini, tidak berguna di hadapan Gakushu. Tapi gunung ini menyimpan sejuta kenangan bagi Karma.

Jika ditanya kapan momen paling penting diantara keduanya. Jawabannya adalah; Kekacauan satu jam yang lalu.

"Nah..." Karma memecahkan barir kesunyian diantaranya "Kenapa kau masuk SMA Kunugigaoka?"

"..."

Tidak mendengar jawaban, Karma menjawabnya sendiri "Karena ayahmu ada disana kan?," tebaknya. Dia memandang pria di depannya tersebut seperti akan mencincangnya, tapi sama sekali tidak niat untuk melakukannya "Kalau aku. Alasanku masuk SMA itu adalah..Karena dirimu"

Kedua manik Gakushu melebar, dia tidak pernah tahu hal itu. kedua mata berwarna ungunya melihat Karma seolah mencari sesuatu yang hilang, dadanya naik turun bertanda dia panik sekaligus...Senang.

Benarkah?, tanyanya dalam hati. Dia tidak percaya ini, apakah semenjak SMP Karma tertarik padanya?.

"Tidak ada orang selain dirimu yang bisa membuatku tertarik Asano. Kau adalah...Rivalku, aku tertarik padamu karena aku tahu kau tipe orang yang tak mudah menyerah"

Rupanya gitu toh, Gakushu mulai kecewa.

Atau lebih baik jangan dulu, Karma masih melanjutkan kalimatnya.

"Tapi..." seolah kalimat yang ingin diucapkannya selanjutnya tidak mau keluar dari mulutnya. Karma menjeda dialognya cukup lama. Kepalanya menunduk sementara dua tangannya dikepalkan. "Asano-kun..Aku..."

Pria bersurai merah itu nampak gugup, kedua pundaknya bergetar. Gakushu yang melihatnya merasa khawatir dan mulai melangkahkan kakinya untuk mendekat. "Aku menyukaimu" tapi tiba-tiba saja kalimat Karma dilanjutkan, dengan cepat kilat. Rasanya seperti serangan kejut secara tiba-tiba, Gakushu membeku di tempat. "A...Apa?"

Dia tidak tuli, tapi dia ingin mendengarkannya sekali lagi. Menyakinkannya apakah ini bukan salah paham atau...Mungkin saja ini Cuma mimpi, sebelum dia berangkat ke Neraka. Gakushu masih tidak percaya kalau dia selamat dari pembunuhan rupanya.

"Sudah kubilang—" ucapan Karma terpotong, baru saja dia ingin membentak orang tuli di depannya. Dataran yang dipijaknya ternyata terlalu rapuh, dia terlalu di pinggir rupanya. Tanah yang diinjaknya runtuh, dan Karma terjatuh.

Gakushu meneriakan nama Akabane sekuat tenaga, berusaha mengejar dan menangkap tangan pria yang baru saja mengaku padanya. Iya...Baru saja mereka akan mengutarakan perasaan masing, kejadian ini terjadi.

Entah tiba-tiba saja otak jeniusnya tidak berfungsi, tanpa pikir panjang Gakushu meloncat. Karma yang terjatuh duluan berteriak padanya "Apa yang kau lakukan, idiot!"

Jika beruntung mereka hanya akan sekarat di bawah sana, setidaknya mereka memiliki waktu untuk saling berbicara. Sebelum pergi ke Neraka, yang pasti tidak akan berbaik hati untuk mempertemukan mereka.

Sesuatu yang bersifat lentur dan empuk mengeliling perutnya, lalu juga perut Karma. Tiba-tiba saja hukum gaya gravitasi tidak dituruti oleh mereka berdua. Setelah di lihat baik-baik, benda yang melilit mereka adalah tentakel.

Seketika itu juga wajah Gakushu dipenuhi siku-siku. "Akabane! Kau merencakannya bukan?!" teriaknya ketika saling berhadapan, duduk diatas jaring laba-laba yang terbuat dari Koro-sensei.

Karma menjulurkan ujung lidahnya lalu tertawa terbahak-bahak "Hahaha kau benar-benar terjun! Aku hanya ingin menagih janji mantan wali kelasku, nee Koro-sensei?" pria itu melihat ke bawah, berbicara pada kepala bulat kuning yang tersenyum "Kau bilang jika aku ingin terjun bebas seperti dulu, kau akan pasti akan menangkapku"

"Nurufufufu, Sensei selalu siap menangkapmu Karma-kun." Balas gurita tersebut seraya mengusap puncak kepala Karma dengan salah satu tentakelnya.

"Dasar...Aku sangat mengkhawatirkanmu tahu," ujar Gakushu malas "Percuma saja ternyata."

Karma tersenyum licik lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Gakushu "Hmm...Padahal jika Koro-sensei lupa dengan janjinya, kita bisa mati bersama. Kau lebih memilih itu, Asano-kun?"

Wajah Gakushu memerah, dengan cepat dia menoleh ke arah lain, menolak bertatap muka dengan Karma "Kau tidak pernah serius Akabane!" katanya halus juga lirih. Dia mulai bertanya-tanya apakah pengakuan sebelumnya itu sungguhan?

"...Aku lebih dari serius Asano." Karma melemparkan pandangannya ke tempat lain. Mereka berada di udara, hutan di bawah sana masih jauh. Angin sejuk membuat suasana menjadi tenang, mereka berdua benar-benar mengabaikan Koro-sensei yang mengangkat mereka.

Tidak masalah, Koro-sensei dengan senang hati melihat pertunjukan langsung AsaKaru.

"Selain aku tahu jika Koro-sensei akan menyelamatkanku. Aku berjudi dengan diriku sendiri, apakah kau akan meloncat bersamaku atau tidak," beber Karma "Kau meloncat untukku." Pria itu tersenyum tulus, jujur saja dia sangat bahagia sekarang.

Dia peduli padaku. Akhirnya Gakushu menunjukan perhatiannya, Karma benar-benar senang sekali. Gakushu mengacak rambut merah stroberi Karma lalu mencubit pipi yang agak memanas "Aku selalu peduli padamu, bodoh." katanya seolah dia tahu apa yang membuat Karma tersenyum sesenang itu.

"...Terima kasih" kedua bola mata emas itu tertutup, menikmati sentuhan yang selalu di dambakannya

"Akabane...Mengenai sebelumnya." kali ini Gakushu yang bersikap gugup. Pria yang hampir saja terbunuh menjauhkan tangannya, tapi di tahan oleh Karma

"Kau tidak perlu membalasnya," Kata Karma "Aku saja yang terlalu egois." akunya. Tidak habis pikir, jika akan datang waktunya untuk iblis merah mengakui kesalahannya "Sampai hampir membunuhmu. Padahal, aku sendiri yang melupakanmu. Seandainya aku mengingatnya...Tapi..Bahkan sampai sekarang aku tidak mengingatnya, tidak secuilpun."

"Tapi semua bermula karena aku terlalu pengecut," kali ini si arrogant Gakushu mencoba mengakui kesalahannya "Aku menjauhimu karena...Aku takut kau menolakku"

"...Maksudmu?" Karma menaikan salah satu alisnya. Dengan wajah polosnya dia menutupi kenyataan jika sebenarnya dia mengharapkan jawaban, yang sesuai dengan perkiraannya.

"Aku menyukaimu...Tidak, aku mencintaimu Akabane." Akhirnya Gakushu mengatakannya. Alhasil, wajahnya merah padam. Mereka pikir mereka sudah umur berapa? Mereka bukan di usia yang memberitahu perasaanmu pada pujaan hati dengan malu-malu.

Tapi, rasanya seperti kembali ke masa lalu bukan?

Bertingkah seperti anak sekolah yang polos.

"Hehehe..Senang mengetahuinya," Karma menerima pelukan erat dari Gakushu. Baru saja pria tersebut akan memberinya ciuman, tapi dia menghentikannya, dengan membatasi bibir mereka dengan telapak tangannya "Sebelum itu. Koro-sensei bisa bawa kami ke atas?." tanyanya melirik ke arah kepala Koro-sensei dengan satu tentakel memegang kamera

"Fufufufu...Menyadarinya ya?"

Sementara itu, Gakushu sedang cemberut. Tidak menyadari kehadiran orang lain, apakah dia memang harus membuang nama Asano sekarang?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

OXO

Setelah semua yang terjadi, akhirnya Akabane Karma berada di sebuah bangunan tinggi, tempat dimana sahabatnye bekerja. Mengikuti Koro-sensei, dia sampai ke sebuah ruang rapat, dimana wajah-wajah familiar melihatnya dengan tatapan tak percaya.

"Karma-kun!"

Semua berseru, tapi tidak ada nada senang disana, yang ada hanyalah kekagetan. Teman-temannya itu juga masih duduk di tempat masing-masing, tidak menyambutnya dengan senyuman atau apapun.

"Berita menyebar dengan cepat huh." ujar Karma seraya memasuki ruangan. Dia tidak perlu repot-repot mencari tempat duduk, karena memang dia tidak berniat untuk duduk. Karma berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding

"Jadi...Munurut kalian apa yang sedang terjadi he?"

"...Mengenai Asano-kun," Okuda memberanikan dirinya "Dia—"

"Masih hidup, bahkan dia sekarang berada dalam perjalanan ke dinas," jawab Karma cepat dan memotong kalimat temannya "Racunnya ampuh sekali kok, jika kau mau tahu." tambahnya santai, tapi memiliki kesan meremehkan seperti biasa.

Mendengar itu, Nagisa dan Isogai bisa bernafas lega sekarang.

"Jadi...Kau sudah berbaikan dengannya?" kali ini Maehara yang bertanya. Pertanyaan kali ini terasa lebih ringan untuk di dengar, membuat yang lain menghilangkan perasaan gelisahnya dan hanya melihat subjek dengan tatapan penasaran.

"Tentu." kali ini Karma tidak menjawab banyak. Jelas saja, masa dia mau mengumbar kalau dirinya telah membangun kembali hubungan cinta mereka?

"Lalu...Kenapa kau menjadi pembunuh?" pertanyaan kembali serius. Kali ini orang yang tidak terlibat langsung menanyakannya "Sebelumnya kau bilang kalau kau mau menjadi Birokrat" tanya Nakamura.

Karma mengaruk pipinya, dia tidak datang menghadiri ajang wawancara, tapi kok jadi begini?. Sebelum pria yang ditanya memikirkan jawabannya, Isogai berdiri dari kursinya "Waktu itu jiwa pemberontak Karma-kun kembali lagi, " jawab mantan ketua kelas. Jawaban itu sama sekali tidak masuk akal, membuat Nakamura melempar pandangan jengkel pada Isogai "Maksudku, tiba-tiba saja Karma-kun merasa lebih cocok menjadi pembunuh, mungkin?" katanya berusaha membujuk Nakamura untuk berhenti menyentuh pertanyaan tersebut.

Yang berdiri di pojok hanya terkekeh geli mendengarnya. Mungkin ada benarnya juga, pikirnya. Meskipun jawaban Isogai itu hanya untuk melindunginya yang telah berbuat salah tanpa alasan khusus. "Apalagi, aku sudah membicarakannya dengan Asano-kun." Timpalnya

"Mengenai apa?," tanya Hayami "Kau akan menikah dengannya?"— Yang lain menatap wanita itu tak percaya. Entah itu lelucon atau serius, wajah Rinka Hayami susah untuk di tebak. Tapi...tidak biasanya dia mengatakan hal semacam itu.

Kedua bola mata emas milik Karma berputar dengan malas, bersamaan dengan menghela nafas panjang "Pertanyaan kalian sudah habis bukan?" tanyanya mengabaikan pertanyaan konyol—tapi mungkin terjadi—Hayami, lalu mengakhiri wawancara dengan dia sebagai narasumbernya.

"Tukar posisi," katanya lalu melihat ke arah Nagisa dan Isogai bersamaan "Kurang lebih aku tahu apa sedang terjadi. Tapi aku akan memastikan nyawa kalian berada di dalam tubuh kalian sekitar 10 tahun atau lebih lagi, jika kalian menjelaskan apa yang terjadi." ancamnya dengan senyum manis di bibirnya.

"Dengan otak pintarmu itu, mungkin kau sudah tahu semuanya," tidak disangka, Terasaka lah yang menimpali "CEO yang menyuruhmu membunuh, dan orang yang memberitahu Asano kalau dia diincar adalah Isogai. Penawar yang dibuat Okuda-san dua, yaitu yang ada di apartemenmu dan yang di bawa gurita kuning itu" ocehnya mengantikan Isogai. "Aku sama sekali tidak mengerti apa tujuan kita dikumpulkan disini."

"Dan...Semua itu adalah rencanaku Karma-kun," tambah Koro-sensei "Setelah kau membawa racun yang di buat Manami-chan, Nagisa memberitahunya untuk menurut padamu dan membuat penawar. Aku tahu kalau kau akan melakukan sesuatu dengan penawar yang kau dapat, maka karna itu aku meminta Manami-chan untuk membuatkannya lagi."

"He eh, kurang lebih seperti yang kubayangkan" Karma mengangguk pelan "Lalu, alasannya?" tanyanya lagi

"Koro-sensei kan selalu ingin me-makcomblangkan kita," kali ini juga yang menjawab juga orang lain "Ingat uji nyali yang dibuatnya saat kita berlibur di pulau kecil itu?" tanya Okajika Taiga "Heh, dia sendiri yang malah ketakutan."

"Hanya sesimpel itu?" Karme mendengus seraya melipat lengannya di depan dadanya. Dia masih kesal dengan rencana pembunuh yang gagal dan...Jati diri yang terumbar percuma. Apa dia masih bisa bergerak di dunia bawah ya, kalau begini? "Lalu untuk apa kita berkumpul begini?"

"Nurufufufufu,"Bola kuning macam smile icon itu, berubah menjadi memiliki garis hijau, yang sangat menyebalkan jika kau tahu artinya apa "Untuk apa? Tentu saja reuni setelah 10 tahun bukan?" jawab Koro-sensei seolah dia telah menjawab pertanyaan terbodoh di dunia.

Terasaka memukul meja seraya berdiri "Jangan berbicara seolah semuanya sudah jelas! Kau sama sekali tidak mengatakan apapun Gurita!" serunya sambil menunjuk-nunjuk.

"Kanzaki-san sebentar lagi akan datang," Kayano Kaede menepuk tangannya pelan sambil tersenyum girang "Sudah kuduga kita akan melakukan reuni."

"Ha?," Nakamura berkeringat mendengarnya "Kita datang dan disuguhi masalah Karma dan Asano. Hampir saja kepala sekolah muda itu mati! Mana ada yang menduga panggilan ini untuk reuni?"

"Maa...Kita kelas pembunuh, jadi mungkin mantan guru gurita kita membuat kejutan yang cocok untuk kita," timpal Nagisa "Aku juga tidak tahu kalau Koro-sensei akan mengundang kalian semua."

Isogai tertawa garing "Karena kita sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kalau kita makan bersama?" tawarnya

"Iya sudahlah. Begitu saja..."

Mungkin reuni yang di selengarakan tiba-tiba tersebut tidak banyak persiapan, tapi mereka senang menyiapkan segala sesuatu untuk membuat mereka sendiri senang. Mantan murid kelas End berpesta pora sampai tengah malam, seolah mereka tidak akan hidup besok harinya.

Reuni yang meriah, meskipun dilakukan karena paksaan 'toh kita sudah berkumpul, mau apalagi?'

Kemampuan Bartender Karma sangat berguna pada acara tersebut. Koro-sensei telah merancanakannya, dia membangun satu ruangan luas kedap suara untuk para mantan muridnya berpesta. Bahkan meja Bartender disiapkan segala, dan mereka semua memaksa Karma untuk melayani mereka layaknya tamu.

Dia memang ijin libur untuk hari ini, tapi sama saja dia bekerja kalau seperti ini.

"Minum saja whiski itu, memangnya kau cewek?!" Karma mengerutkan dahinya.

Maehara mengerucutkan bibirnya "Ayolah, aku ingin melihatmu bekerja. Bagaimana sosok Karma-kun sebagai bartender huh?"

Mereka semua memakai pakaian bebas, sementara Karma memakai tuxedonya. Ini pelecehan namanya, bukannya ini reuni? Seharusnya dia juga ikut bersenang-senang!

"Grr...Baiklah, kalau kau sangat memaksa," dengan sangat berat hati Karma meracik sesuatu. Banyak temannya melihat dari dekat, tapi tidak sedikit juga yang melihatnya dari jauh.

Seolah semua perhatian terfokus pada mantan Ace kelas mereka, bising-bising yang sebelumnya agak mereda. Tanpa banyak berbicara Karma memberikan Black Russian pada Maehara. "Cocktail kesukaanku...Yah..Untuk saat ini." katanya sambil tersenyum tipis.

Ngomong-ngomong, aku tidak tahu apakah Asano suka Black Russian yang kubuat tempo hari, tanyanya dalam hati.

...

"Baiklah, mantan teman-temanku aku pulang duluan." ujar Karma yang sudah berganti dengan pakaian normalnya. Kata mantan di pertekanan, membuat seisi ruangan protes 'Sekalian saja bukan teman!' begitu sekiranya, meskipun dengan penyampaian yang berbeda.

Mengabaikan semua teriakan, Karma meninggalkan altar pesta. Dengan langkah malas karena lelah, dia keluar dari bangunan yang sudah tak dihuni oleh para pekerjanya.

Dia sama sekali tidak terkejut dengan sosok pria berambut jingga yang berdiri di depan pintu. Karma tersenyum "Yo" sapanya singkat. Sapaan yang biasa dipakai Karma di masa lalu, membuat kedua bernostalgia. Mereka sering menunggu sama lain, meskipun saat itu mereka adalah rival.

Sebelum semua hal buruk terjadi, sebenarnya mereka teman baik.

"Apa rasa rindumu sudah terobati? Kau sangat menyayangi mereka bukan?"

"Rasa sayangku padamu jauh lebih besar dari pada rasa sayangku terhadap mereka," aku Karma dengan seringaian jahil "Jadi kau menjembutku sayang?"

"Dimana mobilmu?" lanjut Karma setelah tidak melihat salah satu kendaraan mewah Gakushu "Kau menjemput pacarmu tanpa kendaraan?"

"Heh, ada masalah?" Gakushu menggaet tangan Karma lalu menariknya untuk mengikutinya "Asal kau tahu, aku tidak pernah mengendarai mobil semenjak kita berpisah. Aku kesekolah naik bus"

"Kenapa?" Karma mengikuti Gakushu begitu saja. Gakushu mengengam tangannya kuat tapi juga lembut. Berjalan berduaan seperti itu membuat Karma agak sedikit gugup, tapi di lain sisi, kelihatannya Gakushu biasa saja.

"Aku selalu ingin berjalan seperti ini," jawab Gakushu menoleh pada Karma. Dia tersenyum lembut, senyuman tertulus yang pernah dilihat Karma.

Senyuman itu bak malaikat, ternyata anak lipan itu juga bisa tersenyum demikian. "Berjalan dan mengobrol dengan orang yang kusukai, bukannya itu menyenangkan?" kali ini serentet gigi yang rapi ditunjukan pria yang biasanya suram, kali ini Gakushu benar-benar terlihat seperti anak-anak.

Rona merah timbul di wajah porselen Karma. Entah kenapa Karma jadi ingin memukul kekasihnya tersebut. "Berhenti mengatakan sesuatu yang memalukan. Kenapa tiba-tiba saja kau menjadi begitu jujur?"

"Maa..Aku tidak mau hampir terbunuh seperti tadi"

"Aku masih seorang pembunuh lho~" kata Karma dengan nada bernyanyi "Kita sudah membicarakannya tadi siang"

"Tapi...Setidaknya pindahlah ke apartemen yang lebih bagus" Gakushu meminta hal yang sama untuk hari ini "Lebih baik kita membeli apartemen, dan tinggal bersama"

"Tidak. Meski reot begitu, sudah kubeli tahu"

"Kau bisa menjualnya kembali"

"Ayolah Asano-kun, aku tahu kalau kau suka memonopolis berbagai hal tapi jangan aku"

Langkah Gakushu behenti, mau tidak mau Karma juga. Mata violet Gakushu menatap mata emas Karma dengan intim, dan mengeluarkan kilatan yang memabukan. Tanpa disadari oleh si pembunuh, sang mantan target telah menarik kerahnya dan menciumnya.

Ciuman pertama mereka setelah sekian lama. Karma terbuai oleh lidah Gakushu yang melilit dengan lidahnya, rasanya manis sekali dan panas dalam waktu bersamaan. Mantan targetnya menghisap lidahnya lalu mengigit bibirnya dengan gemas. Rasanya semua energinya terambil. Karma hampir saja terjatuh, jika saja Gakushu tidak memeganginya.

"Aku lebih suka rasa stroberi daripada whiski, Bartender-kun" goda Gakushu dengan seringaian licik. Dia begitu senang dengan reaksi manis yang ditunjukan mantan pembunuhnya, wajah pria tersebut memerah padam senada dengan rambutnya.

"Dasar mesum, kau pikir kita dimana?" Karma menoleh kanan-kiri melihat sekelilingnya.

"Hmm...Kita berganti peran huh?"

"Ha?"

"Otak lemahmu tidak akan bisa mengingatnya"

"APA!?"

Gakushu tertawa lalu berjalan duluan meninggalkan Karma. Tidak apa-apa, toh dia tahu kalau pacarnya itu akan mengejarnya.

Karma berlarian di belakangnya sambil berteriak "APA MAKSUDMU!?" berusaha mengejar pacar yang telah...mengoloknya (sedikit) "Apa kau tidak ingat aku rangking 1 dan kau rangking 2? OI LIPAN BUSUK!"

END

A/N:

Kill to Kill telah tamat, dengan tak jelasnya. Chapter kali ini cukup lama membuatnya, karena saya bergerak lebih lambat daripada biasanya.

Terima kasih banyak yang sudah membaca sampai sini, semoga kalian menikmati karya pertama saya di Fandom ini. Agak jelek sih, tapi saya yakin shiper AsaKaru/KaruAsa masih bisa membacanya Hahaha... /abaikan kalimat terakhir ini/

The Reply Time :

Tofu Enak-san :

Terima kasih telah membaca Kill to Kill sampai Chapter 5, semoga masih membaca chapter ini. Mereka berdua...Bahagia, mungkin?—Thx For review

Leny-san :

Terima kasih telah membaca Chapter 5, semoga masih baca yang ini yah. Mereka bersatu? Mmm setidaknya mereka berdua pacaran, masalah bersatu kelihatannya Gakushu-kun harus membujuk Karma lebih keras lagi—Thx For review

Xhakira-san:

Senang mendapatkan pembaca setia, seperti Xhakira-san. Semoga masih membaca sampai Chapter terakhir ini— Thx For review

FOR OTHERS:

THANKYOU FOR READING : )

BUT, STILL MIND TO GIMME YOUR REVIEW ?

[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[[