Ini dia kelanjutan ceritanya , I hope u like it...


Chapter II

Zombie...

" Itu adalah Efek samping dari sihir terlarang yang kami ceritakan tadi, Mereka semua berubah menjadi Mayat Hidup…"

" Appaaaaaaa." Mendengar hal itu, tentu saja semua anggota Fairy Tail yang ada disana berteriak kaget, kecuali Natsu. Bagaimana tidak? Lawan mereka kan Zombi dan yang mereka tau, Zombie itu akan sulit untuk dimusnahkan. Tentu saja, kalau zombie mudah dikalahkan, pasti film-film tentang Zombie akan membosankan, benar kan?! Back to the story…

" Aku tau sihir itu bisa menimbulkan efek samping yang mengerikan, tapi aku tidak menyangka efek sampingnya seperti ini." Seru Erza.

" Ja..ja..jadi..k..kalian ingin kami mengalahkan semua Zombie itu? Itu mustahil, kita pasti akan jadi Zombie juga." Lucy tampak gemetar.

" Benar, mustahil mengalahkan mereka semua…Kalian pasti bercanda, kan?.." Gray juga sependapat dengan Lucy.

" Apa ini? Penyihir Fairy Tail tidak pernah gemetar ketakutan seperti ini. Kalian payah, kalau kalian semua takut, biar aku saja yang menghabisi mereka semua.." Teriak Natsu dengan senyum khasnya.

" Dasar bodoh! biar sekeras apapun kau mencoba, kau pasti tidak akan bisa mengalahkan mereka." Gray memang tidak suka dengan sifat Natsu yang seperti itu, dia selalu saja merasa bisa melakukan segalanya, dan itu sangat menyebalkan.

" Siapa yang kau panggil bodoh, Hah?! Dasar bocah es.." Natsu mulai kesal sekarang.

" Apa?! Dengar napas api, hanya karena kau seorang Dragon Slayer, itu bukan berarti kau yang paling kuat di Fairy Tail. Camkan itu napas api.!" Gray juga mulai kesal.

" Oh..tentu saja aku yang paling kuat. Aku bahkan lebih kuat darimu, Gray..."

" Oh ya! Kau terlalu banyak bicara napas api, kau akan menyesal nanti. Akan kutunjukkan bahwa aku jauh lebih kuat darimu napas api" Gray tidak mau kalah.

" Sudahlah salamander, akui saja. Gray-sama memang lebih kuat daripada kau" Juvia tidak tinggal diam, tentu saja dia akan membela Gray-sama.

" Kau tidak perlu ikut campur, lagipula kau anggota baru Juvia, tau apa kau tentang Gray? Semua anggota Guild juga tau, kalau aku yang paling kuat, benar kan Lucy, Happy?!"

" Aye..Natsu..." Ucap happy dengan senyum imutnya

" Terserah kau saja Natsu." Jawab Lucy singkat, kemudian dia pergi menjauh. Lucy memang tidak suka terlibat dengan perseteruan mereka, lagipula mereka berdua hanya sekumpulan orang bodoh, begitulah yang dipikirkan Lucy.

" Hey kalian! Berhenti bertengkar.." Bentak Erza, tapi Natsu dan Gray tidak mempedulikan kata-kata Erza.

" Lihatlah disekitarmu Natsu. Erza, Mirajane, Gildarts, mereka lebih kuat darimu."

" Biarkan saja, setidaknya aku lebih kuat darimu bocah es.."

" Natsu, Gray, BERHENTI." Erza mulai kehilangan kesabaran.

" Siapa bilang kau lebih kuat dariku?!. Aku lah yang lebih kuat darimu."

" Bagaimana kalau kita bertanding, kau pasti akan kalah bocah es."

" Natsu…Gray…." Oh berita buruk, sepertinya Erza sudah kehilangan kesabaran. Lucy, Juvia, dan Trio Earthen Claw hanya bisa geleng kepala melihat tingkat kedua Penyihir Fairy Tail itu.

" Oke, kita akan bertanding, dengan begitu akan lebih jelas kalau aku lebih kuat daripada kau." Gray bersikeras.

" Jangan terlalu yakin dulu, bahkan aku pasti bisa meng-"

" BISAKAH KALIAN BERDUA BERHENTI…." Belum sempat Natsu selesai berbicara, Erza mengayunkan pedangnya diantara Gray dan Natsu, seketika itu juga mereka berhenti berdebat tentang hal-yang-tidak-penting-itu. Bukan hanya itu, kekuatan dari pedang itu membuat lantai hingga tembok didepan Erza hancur, ya..bagian belakang bangunan Guild itu hancur akibat serangan Erza yang awalnya hanya dimaksudkan untuk menghentikan pertengkaran Natsu dan Gray.

Hebat, walaupun bangunan Guild mereka dihancurkan oleh anggota dari serikat lain, mereka tetap tidak melakukan apapun, seharusnya mereka marah pada Erza karena dia sudah menghancurkan Guild Earthen Claw ini. Ya, Lucy memang benar tapi ini bukan saatnya untuk menghawatirkan bangunan Guild itu…

" H..he..hey, k..kenapa kalian cuma diam saja saat Guild kalian dihancurkan?" Lucy memberanikan diri untuk bertanya, walau dia takut juga kalau mereka akan marah dan malah menghajarnya.

" Ini bukan saatnya untuk menghawatirkan hal itu." Jawab Yuko.

" Apa? Kenapa kau bilang begitu?"

" Karena itu." Yuko menunjuk bagian belakang bangunan Guild itu. Dari sana, munculah satu-persatu Zombie itu. Mereka mulai panik sekarang.

" Z..Z..ZOMBIE." Lucy berteriak keras sekali sehingga menyebabkan Zombie itu mengarah ke tangga. Zombie tidak bisa melihat, tapi dia bisa merasakan kehadiran manusia, peka terhadap suara ( seperti teriakan Lucy tadi yang membuat para Zombie naik ke tangga) dan cahaya.

" Magic Power : dinding batu.." Zike membuat dinding batu di tangga, untuk menghalangi Zombie itu menuju ke tempat mereka sekarang.

" Baiklah, akan kubuktikan kalau aku bisa menghancurkan semua Zom-apa-lah-itu-namanya. Fire Magic: Drago-" Belum sempat Natsu menyelesaikan aksinya, Zoy menghentikannya.

" Kenapa kalian selalu saja menghentikanku." Geram Natsu.

" Dengar, tugas kalian bukan menghancurkan mereka."

" Apaaa?" Ucap Natsu dkk serentak.

" Mereka hanya manusia biasa yang terkena efek sihir terlarang itu." Jelas Zoy

" Jadi apa yang harus kami lakukan?" Tanya Erza, Yuko mendekati Erza untuk menunjukkan gambar sebuah buku.

" Buku apa ini?"

" Buku yang menghancurkan kehidupan di kota ini"

"…."

" Ini buku yang berisi sihir terlarang itu, di buku ini juga, ada mantra yang bisa menghapuskan sihir itu selamanya."

" Dimana kami bisa menemukan buku itu?" Juvia akhirnya bicara juga setelah berdiam diri sejak tadi.

" Di pusat kota, disana ada perpustakaan besar. Di ruang bawah tanah didalam perpustakaan itulah buku itu disembunyikan" Jelas Yuko panjang lebar.

" Di sembunyikan?"

" Master Rein yang menyembunyikannya."

" Kalian juga harus hati-hati dengan para Zombie itu. Kalau kau digigit, kau akan berubah menjadi Zombie, walaupun kekuatanmu masih ada."

" Berarti tidak masalah kalau digigit, kan kekuatan sihirnya tetap ada."

" Dasar Bodoh! Maksudnya, kau tetap akan berubah menjadi Zombie, bedanya kau akan menjadi Zombie yang mempunyai kekuatan sihir dan Zombie yang mempunyai kekuatan sihir itu akan susah untuk dikalahkan."

" Aku masih belum mengerti?"

" Ha..ha..Itulah Natsu."

" Nanti juga kau akan mengerti, setelah melihat penjaga buku itu."

" Penjaga?"

" Ya, buku itu dijaga oleh Master Rein yang juga menjadi Zombie, karena itulah kami tidak bisa menghadapinya. Tapi aku yakin, kalian pasti bisa mengalahkannya."

" Oh..itu akan sangat menyusahkan, tapi kami akan berusaha."

" Hey, kalian sudah selesai bicaranya, soalnya dinding batu ini sudah tidak kuat lagi menampung para Zombie itu." Dinding batu Zike mulai retak.

" Kau bisa berhenti Zike, karena kita akan berangkat sekarang."

" Tunggu..Kalian mau kemana?"

" Kami akan membantu warga yang masih bertahan, mereka pasti memerlukan makanan, tapi kami akan menyusul kalian nanti." Warga yang tidak berubah menjadi Zombie tetap bertahan dirumah mereka masing-masing, tapi mereka tidak bisa pergi keluar untuk mencari makanan, karena para Zombie itu memenuhi seluruh Jalan di kota Rocvern Hill itu.

Trio Earthen Claw itu pergi dan dinding batu yang dibuat Zike tadi telah hilang.

" Kalau begitu kita juga harus berangkat, kita akan berpencar dan bertemu lagi di perpustakaan itu nanti. Ayo Happy..!".

" Aye Erza, akhirnya ada juga yang peduli padaku." Happy merentangkan sayapnya, kalau biasanya dia terbang bersama Natsu, sekarang dia menjadi rekan Erza. Mereka terbang melalui jendela.

Sementara itu NatsuLucy dan GrayJuvia masih berada di Guild itu ditemani para Zombie yang sekarang sudah berada di lantai atas…

" Hey guys, kita juga harus berangkat! Kalau tidak, kita akan berubah menjadi Zombie.." Lucy semakin mendekati jendela.

" Tenanglah Lucy, mereka hanya makhluk tak berotak. Kau tidak perlu Takut!." Sepertinya ucapan Natsu tidak menenangkan Lucy sedikitpun.

" Ice Wizard: prison." Gray membuat sangkar besar dari es dan mengurung para Zombie itu disana. " Ayo Juvia, kita harus pergi dari sini." Gray berlari menuju ke arah jendela.

" Tapi Gray-sama, kalau kita melompat, kita akan mendarat di gerombolan Zombie itu." Juvia menunjuk gerombolan Zombie yang berkumpul tepat di pintu depan Guild.

" Tenanglah Juvia, aku akan melindungimu dari makhluk jelek itu." Ucap Gray yang sukses membuat wajah Juvia memerah. " Hey Natsu, ini saat yang tepat untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat, kalau kau berhasil mengalahkan Master Guild itu, kau menang." Sambung Gray, dia menggenggam lengan Juvia kemudian mereka berdua melompat keluar tanpa menunggu jawaban Natsu.

Sangkar Es Gray telah hilang, secara bergerombol, para Zombie itu menuju ke tempat Natsu dan Lucy yang kini berada di ujung ruangan.

Baiklah Gray, akan kubuktikan bahwa aku lebih kuat. "Ayo Lucy kita hancurkan mereka semua."

" Apa? Tapi Natsu, kita tidak boleh-"

" Lucy, percayalah padaku." Natsu menatap Lucy.

Aku harus percaya pada Natsu, lagipula aku yakin, kalau ada sesuatu yang menimpaku, dia akan menyelamatkanku.

" Baiklah Natsu." Natsu menggenggam lengan Lucy…

Mereka berdua berlari ke arah gerombolan Zombie itu, kira – kira apa yang direncanakan Natsu… … …

To be continue…


Sorry Readers, chapter kali ini terlalu banyak berbasa-basi, tapi chapter III nanti akan lebih seru...

cerita romance NaLu dan GrUvia, juga pertengkaran Juvia dengan Lucy? penasaran? :) ikuti terus kelanjutan ceritanya

Dan Review nya kutunggu.. ( beri saran atau komentarnya ya)

Thanks Reader.. ^ ^