TODAY THE LOVE BEGIN

Rate : M

Genre : Romance and school life

.

.

Fic ke-4 chapter 2 udah jadi ! Yeii \^o^/... Ini chapter terakhir nih... Membuat akhir yang baik susahnya minta ampun deh ! Chapter 2 ini membuatku STERS ~... Ideku kayak lampu yang udah gak seterang dulu lagi... Sigh ~... Pusing jadinya nih... Tapi tak apa deh, yang penting fic ke-4 ku chap 2 ini selesai dengan baik, dan semoga dapat membuat pembaca terhibur ^_^... Yah, walupun isinya banyakan gaje dan konyol menurutku... Gomena (_ _). Dichapter terakhir ini, Rin dan Len jadi pemeran utama... Memang sih dari awal mereka pemeran utamanya... He..he.. Gitu aja ya, and...

ENJOY READING !

.

.

Len memandang kearahnya dan bertanya dengan dingin

" Kau siapa ? "

Seketika itu, pikiran Rin langsung kosong. Pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut orang yang disukainya terus terngiang-ngiang dikepalanya. ' A-apa aku gak salah dengar ?' Tanyanya dalam hati dengan pandangan mata yang bingung sekaligus takut.

" Oni-chan ! Kau tidak sedang gegar otak ! Berhentilah berpura-pura..." Bentak Lenka, yang berkacak pinggang.

" Sigh... " Len menghela nafasnya dan menatap Lenka lalu berkata " Dasar, padahal ekspresiku sudah bagus ! Kau mengacaukannya Lenka ! " Ujar Len, memegang kedua pundak adiknya itu.

" Kau tidak bisa menipu ku dengan ekspresi seperti itu oni-chan ! " Ucap Lenka dan langsung memasnag senyum kemenangan.

" Co-cotto matte, Len nii-chan hanya bercanda kan ? " Tanya Kaito memastikan dengan wajahnya yang sudah gugup dan bercucuran keringat dingin.

" Tentu saja ! Oni-chan gak pernah serius tau ! " Kata Lenka menyakinkan Kaito.

" Wah, Len nii-chan membuatku terkejut ! " Kata Kaito yang kali ini menunjukan ekspresi kagetnya, dan lega.

" he...he... " Cengir Len, dan lalu melihat kearah Rin. Rin hanya bisa terdiam tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

" Gomenasai Rin-chan ! Kau sampe kaget begitu..." Kata Len meminta maaf, sembari menghampiri Rin. Seketika itu badan Rin seperti balon yang kempes, dan langsung terduduk di lantai dengan lemas.

" Ehh, Rin-chan jangan duduk disitu " Ujar Len, dan lalu membantu Rin berdiri.

Rin merasa sesuatu membasahi pipinya. " Jangan nangis Rin-chan ! Aku hanya bercanda..." Kata Len berusaha menenangkan Rin. Rin tak bisa membendung air matanya lagi, dan langsung menangis didepan Len. " Gomenasai Rin-chan.." Kata Len sambil memeluk Rin yang menangis. Kejadian itu langsung menjadi berita heboh kelas 2-3.

Setelah selesai menangis, Rin bertanya dengan wajah cemberut pada Len. " Len nii-chan, kenapa aku yang jadi sasarannya ? "

" Em, kenapa ya ? Ah ! Mungkin kau yang paling mudah terjebak..." kata Len sambil cengingiran.

Rin mengembungkan kedua pipinya dan wajahnya yang semakin cemberut lalu berkata " jahat ! "

" He..he... Gomen, gomen..." Balas Len meminta maaf entah sudah yang keberapa kali.

" Tapi bener juga, Rin yang terjebak pertama kali..." Tambah Kaito

" Em, benar..." Kata Lenka setuju, sambil mengangguk-anggukan kepalanya

" Kalian ! " Teriak Rin pada kedua temannya.

" Jangan marah-marah Rin ! " Kata Kaito sambil cengingiran.

Rin menatap Kaito dengan death glarenya, dan langsung membuat Kaito terdiam. Len tertawa melihat hal itu, dan lalu dilanjutkan tawa menggelegar dari Kaito, kemudia Lenka dan Rin yang tertawa dengan manis.

Len pov

Kuhentikan tawaku. Raut wajahku menunjukan kecemasan. ' Aku tak bisa melakukannya...' gumamku. " Len nii-chan, hari minggu besok kita ketaman bermain yuk ! " Kata Kaito yang menghentikan lamunanku. " A, eh, Boleh saja... " Jawabku sedikit tersentak kaget.

" Baiklah, jam 9 pagi ! " kata Kaito . Dan disetujui oleh Lenka dan Rin. ' Aku tak bisa mengingkari janjiku padanya..' Kata ku dalam hati dengan semakin cemas. Setibaku dan Lenka dirumah, aku langsung merebahkan diri dikasur ku, sambil terus berpikir dan akhirnya mengingat hal itu.

" Rin... Gomenassai..." Kata ku dengan lengan kanan yang menutup pandangan ku.

Seminggu sebelum aku pindah ke Tokyo. Aku murid teladan disekolah lamaku. Tapi semua berubah sejak Rei Kagane merekrut ku menjadi wakil nya. Rei Kogane, ketua osis yang menurut pandangan orang luar baik dan bijaksana. Tapi menurut ku, dia seorang yang picik bagaikan ular. Tidak banyak yang mengetahui kasus-kasus yang menimpanya, sebab ayahnya dengan mudah menutup semua itu.

Awalnya hubungan ku dengannya cukup baik. Aku orang yang dengan mudah bercerita banyak hal. Tentang keluarga, dan teman kecilku yaitu Rin Kagamine. Aku menceritakan segalanya pada Rei, dan dia pun tertarik pada Rin. Dia ingin melihat Rin dan mengobrol dengannya. Pikirku, itu hal wajar sebab aku sering menyebut nama Rin dalam setiap ceritaku. Tak kusangka Rei mencari informasi tentang Rin. Dia mengehatui semuanya. Semua tentang kehidupan Rin di Tokyo, dan berkata padaku dengan senyum liciknya " Aku menyukai Rin... " . Pikiranku kosong mendengar perkataanya. Entah apa yang harus kulakukan.

Aku tak tau kenapa Rei bisa mengetahui semua tentang kehidupan Rin di Tokyo. Dan lagi, dia meminta ayahnya bekerja sama dengan ayah Rin yang seorang pengusaha. Saat kucari tau, ternyata dia hanya ingin mempermainkan setiap wanita yang menurutnya menarik. Dan sasarannya adalah Rin. Bodohnya aku sudah mempercayai dan menceritakan semua itu. Rei memintaku memperkenalkan Rin padanya. Aku dengan tegas menolaknya. Rei tersenyum licik dan berkata padaku " baiklah, kalau kau tak ingin memperkenalkan ku dengan Rin... Tapi, aku tak tanggung kalau ada sesuatu yang terjadi pada adik kesayanganmu... " Dia sangat licik. Amarahku tak bisa kubendung saat itu, dan tinju ku melayang tepat di pipi kananya. "Brengsek kau Rei ! " umpatku padanya.

Rei hanya tersenyum licik dan berkata " Aku tak jamin adik mu baik-baik saja loh... " tambahnya dengan tubuh yang bersandar di tembok ruangan. " Apa yang akan kau lakukan pada Lenka ?!" tanyaku dengan geram. " Entahlah... Mungkin membuatnya sedikit terluka... Atau membuatnya harus bersimbah darah ..." Ucapnya dengan tersenyum sungguh licik, dan pandangan yang membuat ku ingin memukulnya sekali lagi. Kuremas kuat kepalan tangan ku, menahan amarah yang sudah sampai batas. " Oh, begini saja... Buat Rin membencimu, dan adik mu akan baik-baik saja.. " katanya dengan bola mata yang melebar dan senyum mengerikan.

Aku memandangnya dengan geram, dan tangan yang terkepal kuat. "cih, jangan bercanda !? Kau kira aku akan melakukannya!? " ludahku, dan melemparkan pandangan menghina padanya

" aku tak terlalu berharap kau melakukannya kok... Yah, kalau kau memang mau adik mu berimbah darah... Ditambah kalau itu didepan wajahmu itu Len... " Dia masih terlihat sangat tenang mengucapkan setiap pernyataannya. Tentu saja aku tidak ingin Lenka, adik ku terluka hanya gara-gara keegoisan ku. Tapi, aku juga tak ingin Rin membenciku. Aku terlalu bingung untuk memutuskan secara matang. Saat itu, tanpa berpikir dua kali, aku terpaksa melakukan perintahnya. Aku sekilas melihat senyum kemenangan di wajahnya. Aku hanya bisa diam hingga tiba di Tokyo.

Berat untuk membuat Rin membenciku. Dan lagi, aku tak bisa menceritakan hal ini pada siapapun. Termasuk kedua orang tua ku. Hanya satu orang yang kuberitau. Dia sahabat penaku sejak aku pindah ke Osaka. Namanya Rinto Kagane. Aku belum pernah meihatnya, dan kami hanya bisa surat menyurat. Aku menceritakan semuanya padanya. Rinto berkata bahwa, dia akan membantuku. Dia akan pindah ke Tokyo juga, dan bersekolah di Vocaloid Academy. Aku melarangnya. Tapi, dia tak mau mendengarkan ku, dan bilang ibunya menyetujui keinginannya. Pada saat itu, aku berpikir bahwa Rintolah orang yang bisa kupercayai.

Kuhembuskan nafasku pelan ' Apa yang harus kulakukan lagi ? ' Pikirku yang mulai bingung. Terlalu lama berpikir dan mengingat hal itu, membuatku lelah dan akhirnya tertidur.

Paginya. Kubuka mataku perlahan. Melihat kekanan dan kiri. Kulihat jam yang terletak disebelah tempat tidurku. Waktu menunjukan pukul 06.10 pagi. Tak biasanya aku bangun sepagi ini. Aku bangun dan melihat cahaya matahari yang masuk lewat celah-celah tirai. ' Silau' batinku

Aku berpikir untuk membersihkan diri sebelum keluar kamar. Setelah itu, memakai T-shrit biru dengan gambar naga. Krek.. Kubuka pintu kamarku, dan berjalan keluar kamar. Sepi. Itulah yang sekarang sedang kulihat. Ya, ini masih terlalu pagi untuk bangun. Kulangkahkan kaki ku ke dapur.

Tap tap tap suara langkah kaki yang mendekat ke dapur. " ohyou... " sapa seseorang dari belakangku. Kubalikan badanku dna melihat Lenka menggosok matanya dan masih memakai piyamanya. " Ohayou Lenka... " sapaku balik dengan tersenyum tipis.

" Oni-chan ingin sarapan ? " Tanyanya, sembari melangkah menuju lemari pendingin

" e, a... iya sih... " Jawabku sedikit terbata-bata

" Baiklah aku akan memasakannya.. Tunggu saja ya... " Katanya sembari memakai apron biru tua.

" Baiklah " balasku dan berjalan keruang tamu. Duduk disofa empuk, dan menyalakan tv dipagi hari dan melihat siaran yang kelihatan nya menarik, itu yang kulakukan. Kulihat layar ponsel ku. Ada satu email masuk..

From : Rinto Kagane

To : Len Kagamina

Subject : Halo...

Kau sudah masuk sekolah Len ?

' Rinto' gumamku saat membaca pesannya. Ku ketik pesan balasan untuknya.

From : Len Kagamina

To : Rinto Kagane

Subject : Re: Halo...

Sudah.. Bagaimana dengan mu ? Kalau sudah, beritau aku kau dikelas berapa...

Kutekan tombol send, dan mulai menunggu balasannya. Tak butuh waktu lama untuk menunggu. Rinto sangat cepat membalas pesanku

From : Rinto Kagane

To : Len Kagamina

Subject : (None)

Aku lebih cepat 2 hari dari mu. 1-3... Kau sendiri ? Bagaimana kalau hari ini kita bertemu... Aku ingin melihatmu langsung...

Selesai membaca isi pesannya, aku tak menyangka selama ini dia lebih muda dari ku.

From : Len Kagamina

To : Rinto Kagane

Subject : Re (None)

2-3.. Baiklah... Dimana ?

Kutekan tombol send dan mulai menunggu lagi. Kali ini pesan nya cukup lama masuk. Entah mungkin dia sedang berpikir atau apalah...

From : Rinto Kagane

To : Len Kagamina

Subject : Kau senior ku ?

Aku tak menyangka kalau kau setahun lebih tua dari ku... Tak apa... Di vocaloid academy. Aku akan menunggu mu didepan gerbang. Jam 08.00... Jangan telat... !

Aku tersenyum membaca balasannya. ' Kenapa harus di sekolah ' tanya ku dalam hati

From : Len Kagamina

To : Rinto Kagane

Subject : Re : Kau senior ku ?

Baiklah...

Kukirim pesan terkahirku, dan menaruh ponsel ku di meja. Aroma lezat tercium dari arah dapur. Perut ku berbunyi setelah mencium aroma lezat itu.

" Oni-chan ! Sarapan sudah siap ! " Teriak Lenka dari arah dapur

" Hai ! "Balasku dan berlari kecil kedapur.

Kuihat sarapan yang telah Lenka buat. Omelet dengan saus diatasnya. " Wuah ! Sepertinya enak ! " Kataku dengan pandangan berbinar melihat sarapan lezat dipagi hari. Lenka tertawa puas dan berkata dengan bangganya " Hehe... Tentu saja enak ! Aku ini sudah pandai memasak oni-chan ! " Katanya dengan nada menyombongkan diri. " Ya, ya... " Balasku dan duduk dikursi. Lenka pun duduk dikursi depan ku. Kuambil sumpitku dan berkata " Itadakimasu ! " Setelah berkata itu, kulahap omelet yang menggodaku itu. Gigitan pertama " O-i-shii..." Kataku. " Makan lah sepuasmu oni-chan ! " Kata Lenka dan mulai melahap omeletnya.

Kami melahap sarapan kami dengan bahagia. Selesai itu, kubantu Lenka merapikan meja dan berkata " Lenka, aku ingin pergi kesuatu tempat... Bolehkan ? " Tanyaku

" Tentu saja boleh ! Mau kemana ? Ingin kuantar oni-chan ? " kata Lenka menawarkan diri sambil mencuci piring-piring kotor.

"Tak usah... tempatnya dekat kok..." Tolak ku dengan baik, dan berjalan meninggalkan Lenka didapur sambil mencuci piring-piring kotor itu. ' Sekarang jam berapa ? ' Tanya ku dalam hati. Kulirik jam tangan hitam ku. Pukul 06.50. ' Aku masih punya banyak waktu...' pikirku.

" Apa yang akan kulakukan ? " Tanya ku pada diri sendiri. Tak ada yang bisa kukerjakan. Aku berpikir untuk sedikit bermain disekitar sini. " Lenka, aku akan jalan-jalan... " Kata ku dan memakai sepatuku

" Hai ! Hati-hati dijalan ! " Balas Lenka

Kubuka pintu. Udara pagi yang segar dan dingin. " Brr... " ucapku karna udara dingin yang menembus kulit-kulit ku.

Aku berjalan keluar. Melihat sekeliling. Banyak orang yang juga melakukan aktifitasnya dihari sepagi ini. Misalnya para pengangkut sampah, dan orang-orang yang jalan bersama hewan peliharaannya. 'Hah ~... Hari yang damai...' batin ku sambil menghela nafas pendek.

Sekitar 15 menit aku berkeliling. Aku berpikir untuk pulang dan menghangatkan diri, karna udara yang dingin ini mulai menusuk ku. Dan lagi, aku tak memakai baju tambahan. Hanya jaket biru gelap yang menjadi penghangat ku. ' Sebaiknya aku lari.. Udara semakin dingin.. Hah ~... Andai tadi aku pake baju yang lebih tebal... Disini dingin sekali ! ' Kata ku dalam hati, dengan menyesal.

Aku berlari hingga kulihat gerbang rumahku yang berwarna coklat tua. Kulihat ada sebuah mobil hitam yang parkir didepan gerbang. ' Ada tamu ? ' Batin ku. Kuperhatikan dengan seksama plat mobil hitam itu. Aku tau siapa yang datang kerumah. Bola mata ku melebar. Langkah ku terhenti karna memperhatikan mobil itu. Perasaan cemas dan takut menghampiri ku. ' Rei...' batin ku. Aku kembali berlari dengan cepat kerumah. Membuka pintu dengan kasar. Kulihat sepasang sepatu. Dengan cepat kulangkahkan kakiku kedalam rumah tanpa melepas sepatuku. Lenka melihatku pulang dan berkata " Loh sudah pulang. Kenapa tak bilang ? Oh ya, ada tamu untukmu..." Kata Rin, tapi tak kupedulikan. Aku berjalan menuju ruang tamu. " oh, halo Len..." sapa orang itu, yang tak lain adalah Rei.

Dengan wajah marah, aku bertanya padanya dengan kasar " Ada perlu apa kau disini ! "

" Len, duduklah... Jangan memasang wajah menyeramkan seperti itu.. " Balasnya dengan sangat santai.

"Jawab saja pertanyaan ku ! "Bentak ku dengan amarah yang meluap-luap. Dia tersenyum licik dan berkata " Aku hanya ingin tau perkembangannya kok... Kau sudah melakukannya kan ? "

" Oni-chan... dia temanmu kan ? Aku akan membuatkan teh untuknya... " Kata Lenka dan pergi kedapur. Dan sekarang diruang tamu hanya ada aku dan Rei. Amarahku semakin tak tertahankan hanya karna melihat wajahnya yang menyebalkan. Tanganku ingin segera meninjunya disini. Tapi kutahan dan berusaha bersikap tenang didepannya.

" Bagaimana ? Sudah sejauh mana kau melakukannya ? " Tanya Rei lagi.

Aku berdiri dihadapannya dan berkata " Kau hanya perlu menunggu hasilnya. Sekarang cepatlah pulang ! " Bentak ku

" Jangan begitu Len... Aku ingin menyapa adik mu sebentar lagi.. Oh ya, mulai besok aku akan bersekolah di Vocaloid Academy... Bagus kan ? " Katanya memberitau.

" Itu bukan urusan ku ! Cepatlah pulang, atau aku akan segera memukulmu... " Ancam ku.

Rei menghela nafasnya dan berkata " Hai, hai... aku pulang... " Dia berdiri dari sofa dan berjalan menuju pintu depan. " Eh, sudah mau pulang ? " Tanya Lenka yang kaget melihat, Rei membuka pintu depan, dan udara dingin menerpanya.

" Jaa ne Len, Lenka-chan... " ujarnya padaku dan Lenka sambil melambaikan tangan dengan gaya manis.

Lenka balik melambaikan tangan padanya dengan tersenyum manis. Rei akhirnya pergi. Dan tentu saja, amarahku masih sangat meluap-luap. Dengan polosnya Lenka bertanya padaku " Dari mana dia tau namaku ya ? Oni-chan, itu teman mu kan ? "

Aku menjawab dengan nada keras " Dia bukan temanku... " Setelah berkata begitu, aku lalu memasuki kamarku, tak kulihat lagi ekspresi Lenka yang pasti akan mengomeliku. Kujatuhkan diriku di kasur. Beberapa kali helaan nafasku terasa sangat panas. Kulirik jam tangan hitamku. 'Pukul 07.05' kataku dalam hati melihat arah jarum jam. " sial" umpatku sambil memukul bantal pisangku, cukup keras.

"Sial " umpatku lagi. " sial, sial, sial ! " selagi lagi dengan nada tinggi. ' Rei sialan ! ' umpatku pada Rei dalam hati sambil memukul bantalku itu dengan sekeras kubisa. Teru, dan terus kupukul, menganggap bantal itu Rei. Merasa sudah kelelahan, kulempar bantal itu, dan jatuh kelantai.

" Ini tidak ada gunanya..." kataku

Kubangkitkan diri dari kasur, dan melangkah kekamar mandi. Kusiram air kewajaku. Aku sudah tidak tau apa lagi yang harus kulakukan. Otak ku serasa mau pecah cuma memikirkan cara untuk mengentikan rencana busuk Rei.

Kulihat diriku dicermin. Kuhela nafasku kuat. " Brengsek ! " umpatku keras. 30 menit berlalu, dengan diriku terus mengumpat tak jelas. Rasa marah ku, tak bisa hilang.

Tok, tok, tok. Suara ketokan pintu dan disusul suara Lenka dari luar " Oni-chan, ingin ikut ketaman bermain gak ? " Tanya Lenka

Ku tenangkan diriku sebentar dan menjawab pertanyaan Lenka " Gomena Lenka, hari ini aku tak bisa ikut. Tolong bilang permintaan maaf ku pada Rin dan Kaito ya.. " Jawabku

" Eeh ? kenapa ? " Tanya Lenka dengan suara yang berat

" Aku sudah ada janji dengan seorang teman... Gomena... " Kata ku menjelaskan dan meminta maaf sekali lagi.

" Baiklah... tidak apa-apa... " kata Lenka, yang sepertinya sudah pergi dari depan kamarku.

" Aku harus menemui Rinto... " ujarku, dan bersiap-siap untuk menemui Rinto divocaloid Academy. Kuambil mantel kuningku, dan memakainya. Syal ku yang berwarna senada dengan jaket, kulingkarkan dileher.

Aku berjalan keluar kamar dan melihat Lenka yang sedang duduk diruang tamu, sedang asyik menonton. " Oni-chan mau pergi ? " Tanya Lenka, yang melihatku berjalan keluar rumah. " ya, aku mau menemui temanku.. " balasku, sambil memakai sepatuku, dan berjalan keluar rumah. " Hati-hati dijalan ! " Pesan Lenka.

Aku berlari, dengan udara dingin yang menerpaku. Rambut blond ku, bertiup mengikuti udara dingin. Gerbang vocaloid academy telah telihat. Kumasuki gerbang sekolah itu, dengan langkah yang semakin melambat. Dengan nafas yang sedikit terengah-engah, kulihat kesekeliling, mencari Rinto. Aku memang belum melihatnya langsung, setidaknya dia sudah pernah memberitaukan ciri-cirinya. Rambutnya berwarna kuning dengan beberapa jepitan dibagian poninya, dan tubuhnya yang tidak terlalu beda jauh denganku.

Mata ku bergerak kesekeliling, untuk terus mencari. Nihil. Rinto sepertinya belum datang. Kulirik jam tangan ku, dan sedikit tergaket dengan waktu yang kulihat. " pukul 7.35..." ujarku " Tentu saja Rinto belum datang... Masih ada 25 menit sebelum jam janjian... " Gumamku sambil mengehela nafas kecewa. Ya, ini memang salah ku juga sih... 'Apa boleh buat, aku harus menunggu Rinto disini, dengan udara dingin yang bisa menghilangkan panasnya tubuhku' Batinku

Aku berlari, dan membiarkan tubuhku kedinginan hanya untuk berusaha melupakan setiap kejadian yang membuat emosiku tak tertahankan lagi. Pikiran ku penuh dengan hal-hal menyebalkan. Kupejamkan mataku dan berusaha menenangkan diri.

TAP TAP TAP

Langkah seseorang yang mendekat. Kubuka mataku, dan melihat asal langakah itu. Seorang anak laki-laki, dengan jaket kuning gelap, dan syal merah terang melingkar dilehernya. Beberapa jepit, menahan poninya yang panjang. Matanya berwarna brown terang menatap kearahku dan rambut kuningnya sedikit yang tertiup angin, membuat karismanya terlihat jelas.

Dia melangkah kearahku, dengan kedua tangannya yang dimasukan disaku jaketnya erat. Terlihat dia sedikit menghembuskan nafasnya yang kelihatan putih. ' Inikah Rinto ? ' tanyaku dalam hati, dengan masih memandanginya.

" Yo, Len... " kata orang itu, dengan seulas senyum tipis yang ditujukan untuk ku.

" Rinto ! Tak kusangka kau akan datang secepat ini juga ! " Balasku gembira, bahwa orang itu memang Rinto.

" Hem... Tentu saja... " balasnya padaku. " Lalu, bisa kau ceritakan keadaannya sekarang ? " tanya Rinto langsung to-the-point.

Wajahku langsung berubah masam, mendengar pertanyaan yang diajukannya, dan terdiam. Rinto memandangiku, lalu berkata " Sebaiknya kita menghangatkan diri dulu di kantor ibuku. " Ajaknya, dan berjalan masuk ke sekolah. " Loh, memangnya boleh ya ? " tanyaku dengan mngikutinya.

" Hn... Boleh saja kok... Ibuku, kepala sekolah disini... " Jawabnya, dan itu sudah dapat membuatku membeku ditempat.

Rinto berbalik melihatku dan dengan senyumnya yang mungkin bisa membuat banyak wanita pingsan, dan berkata " Jangan seperti itu.. Bersikaplah santai.. " katanya dan kembali berjalan. Kubalas tersenyum ringan padanya, dan kami mulai mengobrol lebih jauh.

Rinto mengajak ku ke ruang kepala sekolah. Aku cengo saat dia membuka pintu ruang kepala sekolah dengan santainya. " Kau tak salah ruangan kan Rinto ? " Tanyaku tak percaya, seraya menahan langkah kakinya yang hampir memasuki ruangan itu.

" Tentu saja, udara diluar dingin.. Aku harus mengahangatkan diri disini... " Jawabnya, dan melangkah kan kakinya keruangan yang memang hangat. " Cotto matte... " Tahan ku lagi

" Apa lagi ? " Tanyanya berbalik melihatku dengan sedikit kerutan diwajahnya

" Apa betul kita harus masuk ? Kau tak meminta izin dulu ? " Tanyaku bertubi-tubi

" Kau berisik ! Ikut saja... " Jawabnya, dan menarik tanganku memasuki ruang kepala sekolah.

" Rinto ? kau datang... " ujar seseorang dari dalam ruangan itu.

" Hm... Aku ingin menghangatkan diri disini..." Balas Rinto padanya. Kulihat orang itu. Wanita muda, dengan rambut coklat pendek dan pakaian serba merah, juga senyum yang ramah. " Mauklah, aku sudah membuatkan teh hangat untuk kalian... " Kata wanita itu lagi, dngan tersenyum ramah padaku dan Rinto.

Rinto duduk disalah satu sofa merah, dan aku mengikutinya. " Siapa itu ? " Tanyaku pada Rinto dengan berbisik. " Ibuku.. " Jawab Rinto, dengan menyenderkan diri disofa empuk itu. Aku cengo mendnegar jawabannya. Rinto melihatku menampakan wajah cengo ku, dan berkata " Tak perlu berwajah aneh seperti itu... " Ujar Rinto padaku

Aku berdehem, lalu kembali bertanya pada Rinto " Ibumu kepala sekolah ? " Rinto mengangguk menjawab pertanyaan ku. Dan sekali lagi, aku kembali cengo. Rinto melihatnya lagi dan menghela nafasnya. Ibu Rinto menghindangkan secangkir teh padaku dan Rinto, dan juga kue kering.

" Jadi, Rinto... " panggil ibunya dengan suara yang terdengar halus... " Hm ? " ujar Rinto sambil menyeruput tehnya yang masih panas. " Mana wanita yang biasanya kau ajak kemari ? " Tanya ibunya dan pertanyaan itu berhasil membuat Rinto menyemburkan tehnya, karna kaget.

" Ri-rinto ! " ujarku, yang terkena semburan tehnya itu.

" uhuk, uhuk... Go-gomen... " ucapnya, dan berusaha berbicara dengan jelas.

" Kenapa dengan mu Rinto ? " Tanya ibunya lagi. 'Sepertinya ibunya tak terlalu khawatir Rinto tersedak seperti itu...' kataku dalam hati

" Ti-tidak apa-apa... " jawab Rinto.

" Jadi... tentang pertanyaan yang tadi... " Kata ibunya lagi.

" Dia... aku tak mengajaknya... " jawab Rinto dengan semburat merah yang belum pernah kulihat sebelumnya. " Rinto, kau sudah punya pacar ? " tanyaku spontan. Rinto mengarahkan pandangan malu. " Ceritakan padaku ! " ujarku sedikit memaksanya.

" A..aku... "

" Wah, Len-kun belum tau ya ? " Tanya ibunya yang memotong perkataan Rinto.

" I..iya " jawabku sedikit heran ' Dari mana ibunya tau nama ku ?' tanyaku dalam hati

Ibunya menunjukan senyum licik, dan berkata " Pacar Rinto itu, Le..." saat akan menyebutkan nama pacar Rinto, dengan kecepatan seperti kilat Rinto menutup mulut ibunya dengan kue kering yang diambilnya dan disumpal dimulut ibunya. " guh.. umh.. buhg...ighno " Ibunya tersedak.

Rinto malah menghela nafas lega, dan berkata padaku " Jangan dengarkan perkataan ibuku !" katanya dengan semburat merah.

" Ha-hai... " jawabku dengan terkejut

Baiklah, setelah beberapa menit berlalu, Rinto kembali duduk disofa sebelahku, dan mengalihkan topik. " Bagaimana dengan Rin ? " tanyanya dnegan tampang serius

" Ba-bagaimana ? Aku sudah tak tau harus melakukan apa.. " Jawabku, dengan memegang cangkir teh itu.

" Apa kau benar-benar akan membuat Rin membencimu ? " tanyanya

Aku menundukan kepala dan menjawabnya " Entahlah... " . " Sebaiknya kau tak melakukannya... " kata Rinto memberi saran.

" Tapi, adik ku yang akan menjadi pelampiasannya, kalau aku tak melakukannya.. " kataku dengan nada gelisah

" Itu hanya menjadi alasan mu tau... " ucap Rinto

Aku melihatnya dengan tatapan bingung " Itu hanya menjadi alasanmu... Kalau kau menyayangi keduanya, kau pun harus melindungi keduanya... " kata Rinto dan melihat kearah ku.

Kembali kutunduk kan kepala melihat kebawah. " Aku... Tak bis amelindungi keduanya kalau selemah ini..." Ujar ku

" Kau tak lemah... Kalau pun ya, maka aku akan menjadi kekuatan mu... " Balasnya dengan senyum yang mengembang. Melihatnya tersenyum seperti itu, membuatku berterima kasih dan dapat membuat keputusan pasti .

" Yosh ! Rinto, bantu aku untuk membuat Rin membenci ku ! " Kataku tegas dan pasti

" Kau serius ? " Tanya nya meyakinkan ku

Kuanggukan kepala pasti dan menjawab " Jalan ini.. Adalah pilihan ku... " kataku lagi.

Rinto menghela nafasnya ringan dan berkata " Aku akan membantu sebisa ku ... "

" Arigatou Rinto... " kata ku padanya dengan senyum tipis.

Rinto memberikan beberapa saran. Hampir semua saran yang diberikan akurat. Tapi, itu belum bisa dipastikan.

Setelah seminggu berlalu, sejak pertemuan pertama ku dengan Rinto. Aku mencoba beberapa saran yang diberikannya. Tapi hasilnya... tidak memuaskan sama sekali.

" Bagaimana ini Rinto ! " Kata ku dengan tampang bingung pada Rinto yang menyandarkan dirinya di pohon.

" Ada apa ? ' tanyanya

" A...aku sudah mencoba setiap saranmu ! Tapi.. tapi, dia bukannya membenciku malah mengekor terus padaku ! " kataku menjelaskan hanya intinya.

" Hah ? apa maksudmu ? " tanya Rinto lagi, yang tak mengerti arti perkataanku.

" Aku mencoba setiap saran mu, dia bukannya membenciku dia malah mengekor padaku ! Bagaimana ini !? " kataku lagi histeris

" te..tenanglah ! " kata Rinto

" Saran pertama mu, aku membuat diriku terkesan galak dan egois. Dia malah menunjukan kehangatannya, dan tersenyum terus pada setiap perkataan ku ! Dan lagi wajahnya saat tersenyum sangat manis ! Aku jadi tak bisa menahan diriku lebih lama. "ceritaku langsung

" Lalu, saran kedua ku ? " tanya Rinto

" Itupun tak berhasil. Aku mencoba menghindarinya. Saat dia mendekat, aku berpura-pura tak mendengar panggilannya. Dan itu berhasil membuatnya mengejarku, dan bertanya padaku. Bagaimana aku sanggup menjawab saat dia memasang wajah memelasnya itu !? Yang ada, aku jadi ingin memeluknya ! Wuaaah ! " ceritaku lagi, dengan kehisterisan yang sudah tak dapat dibendung

Rinto kembali menanyakan saran ketiganya padaku. " Saran ketiga mu itu, membuatku harus merasakan detak jantung yang hebat ! " Kataku dengan semburat merah

" A-apa maksudmu ? "

" Aku bilang padanya, bahwa kau membencinya. Dan juga kupasang tampang dingin, super dingin malahan. Tapi, dia malah bilang begini " Kalau Len nii-chan membenciku, maka akan kubuat menyukai ku ! " Dan itu berhasil membuat jantungku berdetak kencang, juga wajahku yang memerah.. " jelasku

" Baiklah, lalu sekarang apa yang akan kau lakukan ? "

" A-aku bertanya padamu ! Apa yang sebaiknya kulakukan ? " Kataku lagi

Rinto terdiam, berpikir apa yang harus kulakukan selanjutnya. " Baiklah, ini langkah terkahirmu. " Kata Rinto dengan tampang seriusnya.

" A..ap ? " Tanyaku penasaran

" Kau... harus membuatnya ketakutan... " Ucapnya dengan seriusnya

" Ba-bagaimana caranya ? " Tanyaku lagi. Rinto berbisik ditelingaku, dan spontan wajahku merona merah. " K-kau gila ! Mana mungkin kulakukan hal seperti itu ! " kataku dengan nada agak tinggi, dan rasa malu yang bercampur.

" Ini jalan terkahir Len... " kata-kata Rinto seperti membuatku tak punya pilihan lain lagi. " Setidaknya, kau harus mencoba cara itu... " Lanjutnya.

Aku tak menjawab nya, dan akhirnya Rinto pergi meninggalkan ku. 'aku memang tak punya cara lain...' batinku.

Esoknya

Pulang sekolah. Kuminta Rin agar menemuiku di atap gedung. Tentu saja Rin datang, dengan wajah polosnya. Aku mendekatinya perlahan-lahan. Menyudutkannya di antara kedua lengan ku, dan dinding dibelakangnya.

" Le-Len nii-chan ? " panggilnya bingung.

" Rin..." kusebut namanya dengan lembut

" A...ada a...apa ? " tanyanya tergagap, dengan wajah bersemu merah

Kuserang leher jenjangnya secara mendadak. Itu membuat Rin mengeluarkan sedikit jeritan kaget.

" A-apa yang kau lakukan Len nii-chan ? " Tanyanya kaget sambil berusaha mendorong kepala ku dari lehernya. Tak kupedulikan pertanyaannya, dan tetap melakukan aktifitasku dileher putihnya. Kujilat, dan kugigit mengakibatkan bercak-bercak merah.

" Hya, hn... Be-berhen.. mn..ti... " Pintanya dengan beberapa erangan

Kutahan kedua tangannya, dan menempelkannya di dinding. " Len nii-chan.. ukh hn... "

" Bukankah ini yang kau inginkan ? " Kata ku dnegan nada meremehkan

" A-apa maksud hn.. mu ? " Tanyanya lagi

Kuhentikan kegiatanku, dan memandangnya lurus. Bola mata aquanya bertemu dengan bola mataku. Pandangan bingung sekaligus takut terlihat dari caranya melihatku. Aku berusaha menampilkan tatapan dingin padanya. " Kau, membuatku harus melakukan semua hal ini Rin... " kataku, dan kali ini tangan ku menyentuh bahu kanannya, dan sedikit meremasnya.

" A...aku ? A-apa yang sudah kulakukan padamu Len nii-chan ? "

Aku tak menjawab pertanyaannya, dan malah menyerang telinga kanannya. " Hya ! Le-len nii-chan... La-lakukanlah sesukamu... " katanya

Perkataannya membuatku berhenti, dan memandangnya, dengan tatapan kaget juga bingung. " Ka-kalau Len nii-chan marah karena aku, maka lakukanlah yang Len nii-chan ingin.. Ak-aku tak akan menolaknya... " Katanya menjelaskan, dengan senyum lembut dan terlihat bersinar dimataku.

Aku tak bisa lama melihat wajahnya yang besinar dan manis seperti itu. Hatiku terasa tercabik-cabik, mengingat apa yang akan kulakukan padanya, dan dia tak membenciku. Malah mempersilahkanku melakukan sesukaku. ' Aku tak bisa...' gumamku dalam hati

Kulepas cengkraman tanganku darinya. " Gomenasai Rin..." gumamku, dan langsung pergi dari hadapannya.

" Co-cotto matte ! " Ujarnya berusaha menghentikan langkahku.

Tak ku pedulikan, dan terus berjalan meninggalkannya. Aku merasa bodoh dan brengsek. Aku tak akan pernah bisa membuat Rin membenciku. Yang ada, aku akan terus membuatnya menerima semua perlakuanku.

Kuraih telepon genggamku dari saku celana. Kutekan beberapa tombol, dan menelepon seseorang. Saat nada sambung sudah terdengar, dan suara halo dari seberang sana sudah terdengar, aku berkata

" Rinto, aku memang tak bisa melakukan nya. Kita terpaksa melakukan rencana terkahir... " ucapku, dengan senyum tipis.

" Baiklah, " kata Rinto dari seberang sana.

" Sebelumnya, Arigatou Rinto... " kataku

" Hm... tapi, ijinkan aku meminta sesuatu saat semua ini selesai... " kata Rinto

" Ya ! Apapun ! " Kataku lagi dengan nada suara gembira

" Baiklah, kututp teleponnya... " Kata Rinto, dan obrolan singkat kami berhenti

Kupandangi layar ponselku, dan kembali menelepon seseorang. Nada sambung sudah terdengar.

" Halo... " ujarku dengan nada suara datar

" Ah, Len... ada apa ? Tumben kau meneleponku ! " katanya dengan nada suara senang

" Rei, aku tak bisa melakukan perintahmu." Kataku singkat

" Baiklah, tapi apa adik mu akan baik-baik saja ? khu khu khu... aku sudah mempersiapkan orang untuk membuatnya menjadi karya seni indah loh... " ancam Rei

" Akan kulindungi... " ujar ku.

" He... apa katamu ? Melindungi ? keduanya ? hahahaha... Tidak mungkin Len... " kata Rei meledek ku

" Pasti akan kulindungi... Semua yang berharga bagi ku ! Akan kulindungi sekuat tenaga ! " Balasku dengan tegas

" Hm... baiklah, terserah padamu saja... tapi kita akan lihat akhirnya Len... jaa ne ! " Kata Rei dan langsung menutup teleponnya.

' Sudah.. Aku sudah mengatakannya...' batinku. Kulirik jam tangan hitam ku. Pukul 17.10 . Tiba-tiba ponsel ku bergetar. Kulihat, dan ternyata Rinto menelepon ku.

" Halo, " kataku

" Gawat Len ! Lenka diculik ! " kata Rinto dari seberang sana dengan nafas terengah-engah

Aku sungguh terkejut dengan pemberitahuan Rinto. " Ke-kemana mereka ? " tanyaku panik

" Aku masih belum tau ! Tapi, sepertinya ke gudang kosong di jalan xxxxxxx" kata Rinto ( Gomena pembaca, author gak bisa nulis nama jalannya. Takut salah... *Bungkuk*)

" Aku akan segera kesana ! " kataku dan langsung menutup telepon.

Aku berlari ketempat yang dibilang Rinto. ' Lenka, tunggulah ! ' batinku

Kugunakan seluruh kekuatan ku. Setiba ditempat itu, ternyata Rinto juga sudah sampai. " Lenka, ada disini... " ujar Rinto, dan mendorong pintu kayu yang sudah agak bobrok.

Brak.

Begitu pintu terbuka, terlihat beberapa pria dewasa, dengan membawa sebalok kayu tipis, namun sepertinya berat.

" Wah, wah... kau datang terlalu cepat Len... Dan lagi, kau membawa seorang teman bersama mu. Sungguh kejam... khu khu khu... " Kata seseorang, yang sudah sangat kukenal. Ya, itulah Rei. Dirinya muncul dari balik kerumunan pria dewasa. Tampangnya yang menyebalkan, membuatku meremas kedua tanganku kuat. " Dimana Lenka.." tanyaku dengan nada suara marah yang tertahan.

" Sabar, pertunjukan seni baru akan dimulai, dan kau sudha mau mengacaukannya ? Ck,ck ck... Tidak baik Len... " kata Rei dengan tersenyum licik

" Jawab... atau kau akan tamat hari ini... " ancam ku dengan pandangan membunuh

" Hn... Baiklah... " Ujar Rei, dan mencetikan jarinya. Seketika itu juga, salah seorang dari anak buahnya membawa Lenka yang terduduk di sebuah kursi, dengan tubuh yang terikat. Wajah di Lenka sedikit lebam, entah karna apa. Tapi itu sudah cukup membuatku hilang kendali.

" Lepaskan Lenka... " kataku dengan nada tinggi

" Lakukan sendiri... " Balas Rei, dan kembali mencetikan jarinya, dan anak buahnya menyerbu aku dan Rinto.

Tanpa pikir panjang, aku dan Rinto pun meladeni beberapa anak buah Rei yang ternyata tak sekuat yang kupikir. Beberapa dari mereka memang memakai senjata, tapi itu tak membuat ku takut. Aku dan Rinto memukul mereka tanpa ampun.

BAK BUK BAK BUAK...

" Ha..ha..ha... " suara tersengah-engah ku. Aku dan Rinto berhasil mengahabisi mereka. Dan sekarnag tersisa Rei sendiri. " Lepaskan Lenka... " kata ku dengan amarah yang sudah sangat memuncak. Rei mendecik kesal, dan berkata " huh, kau kira aku akan melepaskannya dengan mudah, hanya karna kau mengalahkan anak buahku itu ? Tidak ! Keluarlah ! " ucapnya dengan teriakan menggelegar. Tiba-tiba keluarlah orang-orang dengan pakaian serba hitam, dan dalam jumlah banyak. " Ini adalah bodyguard ayahku... khu khu khu... " Jelas Rei

" Semuanya, ma... " saat Rei akan menyuruh para bodyguarnya menyerangku dan Rinto, suara seorang wanita mengehentikannya

" Matte ! "

Dan spontan kami semua melihat keasal suara itu. Seorang wanita dengan baju serba hitam, dan pita putih di atas kepalanya.

" Oh, jadi ini yang kau lakukan setelah jauh dariku ya Rei sayang ? " kata wanita itu dengan aura hitam disekelilingnya

' Rei sayang ? Siapa dia ? ' tanya ku dalam hati

" R-Rui !? " teriak Rei kaget

" Siapa itu Rui ? " tanya Rinto padaku. Aku hanya menggelengkan kepala tanda tak tau.

" Rei sayang, kau sudah berani menjauh dariku, dan kini mulai berkelahi lagi ? ck ck ck... Berarti tanggal pernikahan kita akan dimajukan... " Kata wanita yang bernama Rui itu

" A-apa !? " teriak Rei kaget

" Ya, dan pernikahannya akan diselenggarakan minggu depan ! " Kata Rui lagi dengan wajah gembira

" Rei menikah ? " tanya ku dan Rinto berbarengan kaget

Rui melihat ku dan Rinto dari kejauhan, lalu berkata " oh, itu teman-teman mu Rei ? " tanya Rui

Rei tak menjawab pertanyaannya, karna masih syok dengan pernyataan pernikahan itu.

" Ah, perkenalkan namaku Rui Kasane... Aku tunangan Rei... Minggu depan kami akan menikah... Aku akan memberikan undangan pada kalian... Siapa nama kalian ? " tanyanya sopan dan tersenyum ramah

" Me-menikah ? Tu..nangan ? Apa maksudnya ? " tanya ku tak mengerti

Rui tersenyum lagi dan menjelaskan " Aku sudah ditunangkan dengan Rei sejak umur kami 10 tahun... Aku menyukai Rei apa adanya, dan bersedia menjadi tunangannya. Tapi, ya bisa kalian lihat sendiri, Rei tak menyukai ku. Tapi walaupun begitu aku tak menyerah dan terus mengejarnya. Minggu lalu dia ke Tokyo, dan itu membuatku mengejarnya, dan melihatnya melakukan tindakan seperti ini... Jadi, atas namanya aku mohon maaf... Oh ya, kalian boleh melepaskan wanita yang disana... Lalu, ucapkan terima kasihku pada Rin... " Jelasnya, dan menarik Rei beserta para bodyguradnya pergi.

Aku dan Rinto masih tidak bisa mengerti, namun kami hanya bersyukur semuanya telah selesai. Rinto melepaskan ikatan Lenka, dan mengendongnya ala bridal style. Aku dan Rinto membawa pulang Lenka kerumah. Kutempelkan kompres pada beberapa lebam di wajahnya. Aku sedikit menyesal telah membuat Lenka mengalami hal seperti ini. Selagi mengompres lebamnya, aku juga melihat bercak merah di beberapa bagian lehernya. Kuhela nafasku dan bergumam pelan " Gomenasai Lenka... "

Tok tok tok

Suara ketukan pintu dan disusul suara Rinto " Bolehkah aku masuk ? " tanyanya meminta ijin.

" Ya, masuklah... " kata ku, dan pintu terbuka dengan Rinto yang sudah membersihkan dirinya.

" Lenka, baik-baik saja kan ? " tanyanya dengan nada cemas.

" ada sedikit lebam, dan bercak merah dilehernya. Tapi, keseluruhan dia baik-baik saja kok ! " kataku, dan dengan senyum tipis

Kulihat wajah Rinto yang sedikit bersemu merah, dan sedikit tertawa geli melihat wajahnya seperti itu. " Oh, aku juga akan mandi... Tolong jaga Lenka ya.. " kataku, dan langsung keluar dari kamar Lenka, meninggalkan Rinto didalam.

' Rinto akan cocok dengan Lenka.. hi hi hi... " Batinku

Setelah selesai membersihkan diri, aku kembali kekamar Lenka. Memutar knop pintu dengan perlahan. Terlihat Rinto dan Rin ?

" Eh ? "

" Len ni-chan ! Lenka kenapa ? apa yang terjadi padanya ? " Tanya Rin ketika melihatku

" Ri-rin ? kenapa bisa ada disini ? " tanya ku balik

" Aku yang memberitaunya... " Kata Rinto

Rin melihat kearah ku dengan kecemasan. Kuhela nafas dan mulai bercerita padanya. Semua yang terjadi, dari awal hingga akhir. Rin mengerti cerita ku, dan berkata " Hasurnya Len nii-chan bilang... Aku pun akan membantu kan... " katanya

" Semua sudah berlalu Rin... " balasku

" Semua memang sudah berlalu, dan untunglah semua selamat... " kata Rinto menambahkan

" Ya... " balas Rin dengan berusaha tersenyum

Setelah beberapa hari kemudian, Lenka pun mengetahuinya. Dia terus bertanya padaku. Yah, mau apa lagi, aku terus menjawab setiap pertanyaanya. Dan sebuah kebenaran mengejutkan. Rinto meminta persetujuan berpacaran dari ku. Awalnya kupikir dia hanya bercanda, dan ternyata dia serius. Sekarang Rinto berpacaran dengan Lenka dan menjadi berita heboh disekolah. ' Jadi ini toh permintaannya...' gumamku dalam hati.

Yah, dan semuanya berakhir bahagia... Itulah pikiranku. Tapi sepertinya belum bagi Rinto

" Len... " panggilnya

"hn ? " sahutku

" Kapan kau akan bilang Rin ? " tanya nya

" Bi-bilang apa ? " tanyaku kaget

" Kau suka kan pada Rin... Kenapa belum bilang padanya ? " Tanya Rinto lagi dengan nada meledek ku

" A..aku..." wajahku bersemburat merah

" Kau apa ? Belum sanggup ? Serangan jantungmu kambuh ? " katanya menggodaku dengan sedikit cengingiran

" Aku akan menyatakan perasaan ku saat waktunya tiba... " jawabku dengan wajah memerah

" Hah... kau terlalu lama... menyedihkan " kata Rinto. " Bilang saja kau tak punya nyali untuk melakukannya.. Dasar payah... Kau sungguh menyedihkan tau ! Kalu begini, Rin bisa diambil orang lain setelah perjuangan mu itu. " Kata Rinto mulai memanas-manasi ku

" Cukup Rinto ! " kataku dengan nada agak marah

" Kalau begitu lakukan sekarang juga Len... Cari dia dan katakan perasaan mu... " Perintah Rinto

Normal Pov

Len cukup termakan omongan Rinto dan melakukannya. Dia mencari Rin, dan setelah menemukannya, dia membawa Rin keatap gedung tempat yang cocok.

" Ada apa Len nii-chan ? " Tanya Rin

Len tak tau harus mengatakan apa didepan Rin. Wajahanya sudah terlihat cukup merah.

" A..aku... sebenarnya...su... "

" Su ? sushi ? " kata Rin melanjutkan, namun salah

" Bu-bukan ! Aku, su...su.."

" Sumpah ? "

" Bukan ! bukan ! "

" Terus apa dong ? " tanya Rin tak mengerti

Len menghirup nafas, dan berusaha mengatakannya dengan lancar

" Aku suka padamu... " Kata Len dengan kegugupan dan malu berat

Dan kata-kata itu berhasil membuat Rin bersemburat merah. " A-apa betul ? " tanya Rin memastikan

Aku menangguk mantap dengan wajah yang juga memerah. " A-aku juga suka Len nii-chan... " ucap Rin malu-malu. Hatiku sungguh senang. Seperti melayang diudara. Len memeluk Rin secara tiba-tiba, saking senangnya. " Rin... " panggilnya

" Len nii-chan... "

Mereka berdua berpelukan di atap. Tapi setelah itu, jadi canggung dan tak tau harus berbuat apa.

...FIN...

Omake

Len Pov

Pagi yang cerah. Awal liburan musim panas telah tiba. 'Senangnya... Aku bisa berkencan dengan Rin setiap hari nih ! ' Kataku dalam hati dengan tersenyum bahagia.

Ku buka gorden kamarku. Matahari sudah bersinar terang. " silau.." gumamku. Aku berjalan keluar kamar. " Ohayou Oni-chan ! " Sapa Lenka dengan tiba-tiba, dari sampingku.

" O-ohayou... " sapa ku balik dengan sedikit terkejut.

Kulihat penampilanya. Baju terusan bewarna cream selutu dengan rompi jeans, dna tas tangan 'Rapi... ' Batinku

" Mau kemana ? " Tanyaku yang sedikit penasaran

" Eh, em.. aku mau pergi sama Rinto... " Jawabnya dengan sedikit malu-malu

" Kapan pulang ? " Tanyaku lagi, dengan nada meledek

" Em.. Mu-mungkin sore... " jawabnya lagi

" Baiklah... Kau boleh pergi... tapi ingat jangan sampai malam ! " Kataku mengingatkannya.

" Hai ! " ujarnya ceria, dan pergi dari hadapanku.

'Hah... aku lupa mengembalikan kaset itu...' kata ku dalam hati.

Flash Back

2 hari sebelumnya

Aku dan Rinto sedang mengobrol mengenai liburan musim panas nanti. Kami bertukar ide untuk liburan. Hingga Rinto menanyakan hal yang tak terduga bagiku.

" Hey, Len... Kau sudah melakukannya dengan Rin ? " tanyanya dengan tiba-tiba sekali

" Eh ? Melakukan apa ? " kata ku pura-pura tak tau. Sebenarnya aku tau, hanya saja aku tak ingin membicarakan hal-hal seperti itu.

" Melakukan sex " kata Len langsung

" Be..belum.." jawab ku jujur dengan wajah merah

" Berarti liburan ini menjadi kesempatanmu... Kau harus melakukannya Len... " kata Rinto memberitaukan

" Memangnya harus ya ? " tanyaku ragu-ragu

" Ya, tentu saja... Kau harus melihat ini, pengetahuan tambahan untukmu saat pertama kali.. " katanya dan menunjukan sesuatu yang membuat mataku terbelalak kaget.

" Da-dari mana kau dapat benda seperti itu ? " tanya ku yang kaget melihat kaset film p*** didepan mataku.

" Kau tak perlu tau.. Nonton ini dan kau pasti dapat banyak pelajaran... " katanya dan memberikan kaset film itu padaku, lalu langsung pergi.

End Flash back

'Lenka sudah pergi. Aku sendiri dirumah... ' Pikirku " Apa yang harus kulakukan ? " gumamku. Dan seketika itu, aku mendapat sebuah ide. Aku mengambil jaketku, dan pergi keluar untuk membeli sesuatu. Tak lupa kukunci pintu rumah.

Aku berjalan menyusuri trotoar jalan. Aku yakin Lenka pasti akan pulang malam. Kenapa aku seyakin ini ? Ya, karna Rinto sudah meminta ijin padaku. Jadi, aku harus memasak makan malam ku sendiri. Untuk itu, aku punya ide untuk mengajak Rin makan malam bersama ku. Ya, itu bisa menjadi hal yang menyenangkan. Aku akan membeli bahan-bahannya.

Sesampaiku disebuah super market, kuambil keranjang dan mulai berkeliling melihat bahan makanan apa saja yang kubutuhkan.

' Apa yang sebaiknya kumasak ya ? ' pikirku

" Ah, Kare ! " kata ku tiba-tiba dan membuat orang-orang disekitar ku kaget.

Aku sedikit malu, dan berjalan membungkuk kan badan. ' Untuk makanan penutupnya, puding jeruk... Rin suka jeruk... ' kata ku dalam hati sambil tersenyum.

Aku membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk kedua masakan ku, dan berjalan pulang. Kutaruh barang belanjaan ku dimeja dapur. Kutinggalkan belanjaanku, dan membuka jaket ku, lalu menggantungnya di gantungan baju. Kunyalakan tv, dan duduk di sofa ruang tamu. Kulihat siaran-siara tv yang kelihatannya menarik.

Kelihatannya tak ada yang menarik sama sekali. Jadi kupikir sebaiknya aku menonton kaset yang diberikan Rinto. Kuputar kaset yang berdurasi 2 jam 30 menit itu.

Pembukaan dari film itu terlihat. 'Gambar awalnya saja sudah vulgar' pikirku Seorang wanita berpakaian sangat terbuka. Belahan dadanya dapat terlihat sangat jelas. ' Dari mana dia dapat film kayak gini sih ? ' tanya ku dalam hati.

Aku sangat serius menonton film itu, sampai tak tau waktu. Entah jam berapa sekarang. Kulirik jam dinding. Pukul 15.45 . ' Sudah sore juga...' pikirku. 'Sebaiknya aku segera memasak.' Kataku dalam hati, dan berjalan menuju dapur. Kukenakan celemek biru langitku, dan mulai memasak.

Yang pertama ku buat adalah hidangan penutupnya. Ya, karna itu yang membutuhkan waktu. Setelah itu kare yang menjadi hidangan utamanya.

2 jam lebih aku terus berada didapur. Kulirik jam tangan hitamku. ' 17.50.. Sebaiknya aku mandi...' pikirku, dan melepas celemek biru langit ku, dan mengambil handuk bermotif pisang lalu kekamar mandi.

Kubersihkan diriku. Selesai itu, kupakai baju rumahku. T-shrit kuning bergambar naga, dan celana jeans pendek. ' Aku akan memberitau Rin..' batinku, dan mengambil ponselku, dan mengetik pesan untuk Rin

From : Len

To : Rin

Subject : Rin...

Rin,Lenka tak pulang malam ini... Mau kah menemaniku makan malam ? Aku sudah membuatkan makanan yang enak loh... Datanglah jam 19.00... Kutunggu ya...

Selesai mengetik pesan ku, aku menekan tombol send. Ponsel ku berdering dengan tiba-tiba, dan hampir saja aku menjatuhkannya. Kulihat, ada 1 pesan masuk...

From : Lenka

To : oni-chan

Subject : Gomenasai...

Oni-chan gomenasai ! Aku tak bisa pulang malam ini ! Makan malamnya oni-chan buat sendiri saja ya ! Rinto tidak mengijinkan ku pulang... Sekali lagi gomenasai Oni-chan !

Kulihat isi pesan yang membuatku sedikit tertawa kecil. ' Rinto tak mengijinkan mu pulang ? Kau akan menerima hukuman dari nya Lenka... ' kata ku dalam hati dengan sedikit tertawa kecil. Sekali lagi, ponsel ku berdering. Dan 1 pesan masuk terlihat.

From : Rin Kagamine

To : Len nii-chan

Subject : Re: Rin

Makan malam ? Betulkah ? Aku mau ! Kenapa Lenka tak pulang ? Apa di kencan sama Rinto ? Ukh, Lenka... dia tega ninggalin Len nii-chan... Aku akan datang secepatnya !

Aku tersenyum membaca pesan Rin. Kuketik balasan nya

From : Len

To : Rin

Subject : Hahaha...

Lenka memang pergi sama Rinto, jadi Rin harus menemani ku makan malam... Datanglah secepat mungkin...

Kutekan tombol send, dan kembali menunggu balasan pesannya. Bukannya ponsel ku yang berbunyi, malah bel pintu yang berbunyi. ' Siapa ya...' tanya ku dalam hati dan berjalan kearah pintu depan. Kubuka pintu itu, dan terlihat lah Rin, dengan mantel coklat muda, dan syal kuning tersenyum kearah ku.

" Rin !? " kata ku kaget melihatnya sudah ada didepan rumah ku. " Ke-kenapa secepat ini ? " tanya ku kaget

" Sudah kubilang kan akan datang secepat mungkin... " balas Rin dan tetap tersenyum manis padaku

" Hah, baiklah... Masuklah Rin.. " kataku, dan mempersilahkan Rin masuk. Rin melepas mantel dan syalnya. Kuambil kedua benda itu, dan berkata "Silahkan duduk, aku akan menaruh mantelmu... " Kataku, dan berjalan meninggalkannya diruang tamu. Setelah menggantung mantel dan syalnya di gantungan baju, aku kemballi keruang tamu, dan melihatnya sudah duduk di salah satu sofa dengan manisnya.

Aku duduk disebelahnya dan berkata " Jadi, ingin makan sekarang ? " Tawarku

" Boleh... Lagi pula, aku memang sedikit lapar.. hehe " jawabnya, dengan cengingiran. Tertawa melihatnya, dan berkata " Baiklah, ayo... Masakan ku enak loh ! " kataku, dan mengajak Rin ke ruang makan. Ku persilahkan Rin duduk duluan, dengan memberikan kursi padanya.

Makanan sudah tersedia. Kare dan salad buah. " Woah ! Sepertinya enak ! " kata Rin, dengan pandangan berbinar-binar. " Silahkan dicoba ! " kataku.

Rin tersenyum senang dan berkata " Itadakimasu ! " setelah berkata begitu, Rin langsung melahap Karenya. Suapan pertama " Enak nya ! " ujarnya, dengan wajah berseri-seri

" Hehe, sudha kubilangkan masakan ku enak... " kataku sedikit membanggakan diri.

Rin mengangguk, dan kembali memakan karenya. Aku pun tak ingin ketinggalan mencoba masakanku sendiri. Kami berdua menikmati karen kami, dan tak lupa salad buahnya juga.

Setelah selesai melahap kare, makanan penutup telah tersedia. Ku berikan puding jeruk pada Rin, dan mempersilahkannya mencoba.

" Puding jeruk !? Wah ... haup..." suapan pertamanya, memperlihatkan wajahnya yang sangat manis. 'Aku jadi ingin melahapnya' pikirku.

Setelah puas, dan perut kami sudah kenyang, aku mengajak Rin mengobrol diruang tamu. Kami mengobrol banyak hal. Senangnya melihat Rin tertawa, dan tersenyum dengan bahagia.

" Len nii-chan... itu punya Len nii-chan ? " tanya Rin sambil menunjuk sesuatu

Aku melihat apa yang ditunjukanya. Dan langsung terkaget. 'Kaset film itu ! Belum kusimpan!' kata ku dalam hati dengan panik

" E..eh.. Itu, bu-bukan punya ku kok ! " Jawabku tergagap

" Oh, Ayo kita nonton ! " Ajak Rin , dan membuat ku terkejut setengah mati

" Eh !? Ja-jangan ! " kataku melarangnya,

" Memangnya kenapa ? Aku ingin lihat film apa ini..." balas Rin, dan kini beranjak dari tempatnya duduk kearah dvd playerku.

" Ja-jangan Rin ! " Kata ku lagi, tapi terlambat. Dia sudah menekan tombol play, dan film itu telah terputar. ' Gawat ' batin ku, sambil menepuk dahi dengan tampang cemas.

" Len nii-chan sering menonton yang seperti ini ? " tanyanya dengan ekspresi penasaran, dan matanya yang tak beralih dari layar tv sedikit pun.

" Ha-hanya hari ini... " jawab ku

" Len nii-chan suka ? " tanyanya lagi

" E..h... um... "

" Ayolah, jangan bohong padaku... " katanya sedikit memaksaku menjawab

" A..se-sedikit " jawab ku takut-takut

" Begitu... " katanya dan mengakhiri percakapan kami.

Rin terlihat serius menonton film itu. Apa lagi dibagian orgasmenya. 'Aku tak bisa membiarkannya menonton terus. Harus ku hentikan ! ' pikirku, dan mengambil ancang-ancang untuk berbicara, namun terhenti oleh Rin yang berbalik melihatku

" Len nii-chan ingin melihat yang asli ? " Tanyanya

" Eh, yang asli ? Ma-maksud mu Rin ? " tanya ku tak mengerti

Rin tak menjawabnya, dan malah membuka setengah bajunya, dan mengangkat rok nya. Branya, ia lepas dan memperlihatkan kedua buah dadanya yang tak terlalu besar, atau terlalu kecil. Aku tercengang melihatnya. Mataku tak bisa berkedip walau hanya sedetik saja. ' Da-dadanya... Terlihat sangat berbeda saat masih kecil... A-aku ingin lihat vaginanya...' pikirku dengan wajah yang bersemburat merah.

" Ini sedikit memalukan... Tapi, akan kutunjukan yang asli... " kata Rin, dengan tangan kirinya meremas dada dan tangan kanan memegang vaginanya dari luar celana.

" Ya-yang asli ? " kataku mengulang pernyataanya

" Yup ! Bagaimana wanita mengeluarkan cairannya..." setelah berkata begitu, Rin mulai memainkan kedua tangannya. Yang kiri meremas-remas dadanya dan putingnya yang berwarna merah muda, dan yang kanan menggosok-gosok vaginanya dari luar celana, itu membuat Rin mendesah dengan erotisnya

" Ahn... Hhn...Hn.. Mn... Aah~..."

" Len nii-chan... Bisakah kau lihat ? " tanyanya padaku, dengan jari telunjuk dan jempol menjempit puttingnya, lalu berkata lagi " Putingku menjadi keras, karna kau menontonku... In-ini terasa nikmat.. Tangan ku tak ingin berhenti... " Katanya dengan tetap melakukan aktifitas yang bisa membuatnya orgasme.

" Hn... a-aku akan keluar ! " katanya, dan dengan satu kali gerakan. Rin mengeluarkan cairannya tepat didepan mataku.

" Hnn... Len nii-chan lihatlah, aku keluar ! " katanya, sambil memperlihatkan vaginanya yang basah padaku.

" Kau lihat Len nii-chan, aku menyemburkan cairnan ku.. Kini giliran mu Len nii-chan... " katanya.

Aku tak bisa menahan diriku lagi. Bendaku sepertinya sudah menegang, hanya karna melihat ini. Dengan tak terduga, kulepas celana dalamnya, dan merasakan vaginanya yang basah.

" Hyaa ?! Len nii-chan. ! " Katanya memanggil namaku.

Aku tak peduli, dan tetap merasakan vagina beserta cairannya yang terasa manis asin. " Len- Len nii-chan ma-matte ! A-aku baru saja keluar, jadi vagina ku masih sensitive... ! Igh...Ah ~... Dan lagi, berhenti membuat suara seperti itu 1 " katanya yang tersinggung dengan caraku menjilat clitorisnya yang membuat suara rakus.

" Tenanglah, aku akan lembut... " kataku, dan menahan kedua pahanya, dan membuatnya membuka lebar kakinya.

Kujilat terus clitorisnya, dan membuatnya terus mendesah erotis

" AAAH... Jangan clitoris ku ! Ah.. Hya~... " pintanya.

Aku mencoba memasukan lidah ku kedalamnya,

" Hyaa... Li-lidah mu masuk kedalam... Haa... " katanya sambil memegang kepalaku.

Kumainkan lidahku didalamnya, membuatnya kembali orgasme untuk yang kedua kali

" Ah ! Aah ! Tidak... berhenti Hn ! Aku akan menyemburkannya diwajahmu ! " ujarnya, dengan cairannya yang menyembur diwajahku.

Kukeluarkan lidahku dari dalamnya, dan melihatnya. " Kau keluar Rin... "

Wajah sayunya meminta maaf dengan manisnya " y-ya... Gomenasai Len nii-chan... "

" Apa itu terasa nikmat ? " tanyaku, dengan sedikit menjilat cairannya yang tersisa.

" Y-ya..." jawabnya. Aku tersenyum nakal, dan berkata padanya sambil mensejajarkan tubuhku dengannya. " Bagus ! Aku akan membuat mu merasakan yang lebih... " Kataku dengan senyum mesum, dan meremas dadanya serta mengisap putingnya.

" Fuaa ? H-hey ! Aah ! Hyaan ! Aah ! " kuhisap, dan kumainkan dada serta putingnya sembarang. Putingnya kumainkan dengan lidahku. Dan sesekali kugigit.

"Le-len niichan berhenti ! Kau membuatku terangsang. Ha.. Fuaa ! Uhii ! Ah ! " pintanya

Kujepit kedua putingnya dengan jari dan mulutku, dan itu membuatnya orgasme lagi untuk yang ketiga kalinya " A-aku keluar... " katanya dengan wajah sayunya yang sangat amat manis. Kulepas bendaku yang sudah sempit dicelana, dan menyelipkannya diantara paha Rin yang putih bersih, dan basah. Kurasakan semburan cairannya pada penisku, dan berkata " Kau keluar lagi Rin... " kataku dengan nada suara mesum

" Ti-tidak mungkin... haa... haa." katanya menyangkal.

" Tapi ini nyata Rin... lihatlah..." ujarku, dengan tangan kanan yang berpindah di vaginanya, dan mulai meremas, dan memijit clitorisnya. Kunikmati leher jenjang putihnya, dan memberikan beberapa kissmark.

" Hyaa ! Se-semua ini salah mu Len nii-chan ! Hnn..." Tuduhnya

" Nuh uh... Kau orang pertama yang memulainya... " balasku, dan kembali membuatnya orgasme.

" Ma-matte... Waktunya habis... Bi-biarkan aku istirahat... " pinta Rin

Tak kudengarkan permintaan Rin, dan malah menjatuhkannya di sofa, dan berkata

" Tidak mau.. Aku ingin melakukannya dengan mu Rin... " ujarku

" A...aku juga ah ~ " balas Rin.

" Tapi, apa ini ? Kau sudah sangat lemas.. " kataku, dan membuka vaginanya dengan jariku

" Hyaa ! "

" Aku dapat memasukan 2 jari kedalam sini... " Kataku, dan memasukan jari telunjuk dan tengah ku kedalam vagina Rin. " Ah ~~~~~~~~~~~~~~ " Rin mendesah panjang ketika kedua jariku sudah berada didalamnya, dan mulai merasakanya menjepit kedua jariku. Kugerakan keluar masuk jariku, membuatnya lebih mengeluarkan desahan-desahannya

" Ah ~ Ah ! Hi ! Ah ~~ ! " Desahannya membuatnya terus mengeluarkan cairannya. Aku tak menghentikan gerakan jariku, walau tau dia sudah orgasme. Aku malah mempercepat gerakanku. Kujilat bagian lehernya lebih lagi.

" Len- Len niichan.. kau satu-satunya orang yang pernah melihatku seperti ini...AAH ~~~~~~~ " Ujarnya dan terus orgasme

' Aku senang, Rin menyukainya... Aku ingin lebih menggodanya... ' kataku dalam hati sambil melirik wajah Rin. " Aah ! Ah ! Hng ~~~~~ " desahnya terus.

" Le-Len niichan berhenti ! Ah ! Aku tidak bisa berhenti orgasme ! Ah ! Aku kehilangan pikiran ku ! Ah ! " ujarnya dan terus orgasme, dengan jariku yang tetap bergerak didalamnya. Tangan ku yang satu tetap meremas dadanya.

Jariku kukeluarkan beserta cairannya yang sekali lagi menyembur keluar dengan banyaknya, dan teriakannya " B-berhenti AAH ~~~ "

" Aku akan mati... Ini terlalu banyak untukku.. otak ku seperti tergoreng... " Gumamnya dengan wajah yang memerah, dan tubuh yang sangat basah. " Rin... Cairan mu terasa enak... " kataku dengan menjilati kedua jari ku yang basah.

Rin melihat penis ku dan berkata dengan sedikit terkejut " Len nii-chan... penismu berdenyut... Itu imut... " Ujarnya dengan sedikit tertawa geli.

" Kau juga imut, Rin... Aku menginginkan mu Rin..." balasku, sambil sedikit menyentuh vagina Rin dengan penisku.

" Haa. Ya, silahkan ambil milku yang pertama... haa. Haa.. " Kata Rin, sambil membuka kedua kakinya, memperlihatkan vaginanya yang basah, dan berwarna merah.

Kumasukan penisku perlahan kedalam liangnya yang sempit dan sangat basah. " Ah... ! Uaaah ! " Jeritnya ketika penisku seutuhnya berada didalamnya.

" A..aku bisa merasakannya didalam ku Len nii-chan... Ini sangat panas... Ha. Ha.. Uhn.. " Ucap Rin

" Aku akan bergerak perlahan... " kataku, dan mulai bergerak dengan pelan.

" Len nii-chan... Ra-rasanya ni...nikmat Hn... ah ~~..." katanya

Aku mulai kesal karna dia terus memanggilku Len nii-chan. " Jangan panggil aku Len nii-chan lagi.. Aku tak suka panggilan itu... Panggil namaku... Len... " kataku memberitaunya

" Ta-tapi Len nii-chan..." 'Dia memanggilku seperti itu lagi. '

" Kau sudah diberitau tapi tak mau melakukannya ? Kau akan kuberi hukuman Rin... Selama itu, kau harus bisa memanggil namaku... " Ucapku dengan senyum mesum, dan langsung menyerang telinganya yang tanpa pertahanan.

" Aaah, jangan telinga...ku..." Pinta Rin dengan tubuh yang menggeliat

"Tapi ini hukuman mu Rin... Dan juga, ini terlihat enak..." kataku, dengan kedua tangan meremas dadanya.

" Berhenti mengatakan hal aneh... " Balas Rin dengan tubuh yang masih menggeliat.

" Apa telingamu sensitif ? " Tanya ku, sembari menjilat, dan menggigit telinganya

" Ti.. tidak... ! Ahiiii...! Ah.. ah.. ah... " Sangkalnya

" Kau mulai merintih Rin... " Balasku

" I-itu karna kau menjilati telingaku . Ahnn ~~... " ujarnya

Penisku bergerak makin cepat didalam nya. Rasanya dia mulai menyukai nya. " Oh astaga... Penismu... Ini mulai terasa nikmat..." Katanya sambil menutup mata menikmatinya

" Kalau begitu aku akan sedikit lebih kasar.. " kataku, dan menghentak penisku masuk kedalamnya dnegan kasar.

" Nyaaaaa?! Eeeek ! " Teriaknya sedikit terkejut akibat perlakukanku yang mendadak kasar.

" Ah ! Ah ! AAH ! Vaginaku mengeluarkan suara yang aneh... Ah ~ " katanya dengan erangan yang sungguh merdu ditelingaku.

" Rin... Ini terasa hebat... " Kataku

" Aku juga... Le-Len..." balas Rin dengan tersenyum manis saat mengucapkan namaku.

" I-ini terasa seperti penismu menciumi vaginaku... " ujarnya

" ayo berciuman juga Rin... " kataku mengusulkan

" Baiklah..." balasnya, dan bibir kami berdua bersentuhan. Menciuminya, ketika penisku bergerak didalamnya terasa lebih nikmat dari apapun. Lidahku meminta jalan masuk kedalam mulutnya, dan dia memberikannya dengan mudah. Kumainkan lidahnya. Melilitnya bersama lidahku, dan menariknya keluar. Kulepas ciuman nikmat itu, dan seutas saliva bening , menyambungkan lidahku dan lidah Rin. Tanganku tetap meremas dadanya. " Rin... Vagian mu semakin basah ketika kita berciuman... " kataku padanya, dengan terus menggerakn penisku dengan agak kasar.

" A..aku tidak bisa menahannya ! Aku sangat senang kau mencium ku ! Aku tidak bisa menghentikan tubuhku bereaksi ! " balas Rin

Aku tersenyum padanya, dan kembali menciumnya dengan lebih kasar. Selagi penisku terus bergerak teratur, ternyata Rin kembali menyemprotkan cairannya. Kembali kulepas ciuman panas kami dan berkata " Kau menyemburkan nya lagi... Apa kau ingin menyalahkan ciumanku untuk ini ? " Tanyaku, sambil melihat tempat bersatunya aku dan Rin.

" I-ini terasa sangat nikmat ! Aku tidak bisa mengontrol tubuhku sama sekali...! " Balas Rin beserta erangan dan desahannya

" Jadi, kau orgasme karna kau merasakan kenikmatan kan ? " tanyaku lagi dan menggerakan penisku teratur, namun semakin kasar. " Len, apa yang kau lakukan ? " Tanyanya yang meraskan genjatan penisku yang kasar.

" Rasakan ini... " kataku dan menusuknya dengan sangat kasar, dan dalam.

"Jangan menusuknya ketika aku orgasme ! AAAH ! AH ! AAH ! Penismu masuk sangat dalam ! " katanya dengan erangan dan desahan erotisnya yang kusukai.

Kutusuk lebih dalam penisku, hingga kutemukan area lebih sensitifnya, membuatny alebih banyak mengeluarkan cairannya.

" Tidak...! Aku tidak bisa menahannya lagi ! Ah ! Igh ! Jangan hentakan ketika aku orgasme ! Ah ! Aku orgasme dengan gila... Aaaah ! " Erangnya

" Hya ! penismu bergerak masuk dan keluar ! Rasanya luar biasa ! " Ujarnya

" Inikah titik sensitif mu, Rin ? Aku akan fokus pada titik itu " kataku dengan tusukan lebih dalam dan kasar, sambil menekan clitorisnya dengan jari jempolku.

" Ah ! Ah ! Aah ! Tidak Len.. kau tega... " Ujarnya, dengan berusaha menahan tangan ku.

Ku pegang kedua tangannya, dan bergerak lebih kasar lagi. " HYAA ! Kau lebih kasar... Ini terasa menakjubkan... Haa ! Ah ! Igh ! Ah ! "

" Agh ! Kau menusuk vaginaku, dan bermain dengan clitorisku...HYAA ! " Ujar Rin

Desahan, erangan dan rintihan kenikmatan terus keluar dari mulutnya. Aku tak hanya bermain dengan vagina, tapi dengan seluruh tubuhnya. Aku ingin memenuhi Rin dengan spermaku. Seutuhnya. Karna Rin milikku.

Aku mulai merasa, sesuatu akan keluar. " R-Rin, aku akan keluar... ! "

" Ya ! Berikan aku sperma mu Len ! Ah ! Ah ! Ah ! Ah ! Ah ! AH ~ "

Hentakan ku makin cepat dan kasar. Penisku sudah akan mengeluarkan spermanya. " Bolehkah kukeluarkan didalam ? " Tanya ku meminta ijin

" Ha.. Ah ! Te-tentu ! Ka-karna aku ingin menjadi milik Len seorang ! " Balas Rin dengan perkataannya yang membuatku semakin menyukainya.

" A-aku akan keluar juga Len ! " Kata Rin memberitau

Gerakan penisku makin cepat, kasar, dan brutal. Rasanya sudah hampir keluar, dan sekali hentakan keras

CROT CROT CROT

" AH ! HYAAA ! AH ! " Jerit Rin ketika sperma ku keluar didalamnya.

" Ha... ha... Rin Aishiteru..." kataku

" A-asishiteru mo..." balas Rin dengan tersenyum padaku. Kucium bibir Rin untuk mengakhiri permainan kami.

Rin terlihat sangat lelah. Tubuhnya sudah tak bertenaga, dan akhrinya tertidur di sofa. Kukeluarkan penisku, dan melihat betapa banyaknya sperma ku keluar. Kubersihkan sisa-sisa nya dengan tisu, dan menggendong Rin ke kamar ku. Ku tiduri Rin di kasurku, dan menyelimutinya.

" Oyasuminasai Rin... " kataku, dan akhirnya tertidur disebelah Rin.

End Len pov

Malam yang panjang. Len dan Rin melakukan sexnya yang pertama. Sedangkan Lenka dan Rinto, mereka pun melakukannya, namun tak sesederhana Len dan Rin. Ya, itukan karna Lenka dan Rinto sudah lebih berpengalaman. Ya, sebenarnya bukan keinginan Lenka melakkukannya, Rinto yang menginginkan semua itu, dan mulai melakukan sex mereka dengan penuh keceriaan... Begitulah menurut author ini...

...FIN...

Akhirnya, akhirnya ! Selesai juga nih Fic... Setelah berhari-hari begadang, demi nyelesain nih Fic ! Man abanyak gangguannya lagi ! Woaah... Syukurlah selesai juga... Gomenasai, kalau updatenya lama banget, soalnya author belum punya ide-ide yang bagus... Dan lagi gomena kalau kosa kata dan penulisan kalimat yang tidak benar ! _ Author kurang meratiin... Oh ya, arigatou udah mau baca fic gaje + ber Lemon gini...

PLEASE REVIEW