Ini lanjutan dari chapter sebelumnya ^^
Selamat membaca nyan ^^
.
.
.
.
Setelah mendengar permintaan dari Rin, Rui pun pergi dan meminta Rei untuk menunggunya. Aku pun mendekati Rin dan menanyakan soal permintaannya pada Rui tapi dia tidak merespon lalu pergi. Aku mencoba mengejarnya tapi Kaito menahan tangan kiri ku. Dia bilang jika aku harus membiarkan Rin sendirian dulu. Aku pun menurutinya.
"Apa kalian akan membunuh ku dan juga Rui?" tanya Rei gemetaran
"Kami tidak akan membunuh mu jika kau memberi tau kami sesuatu yang sangat penting" jawab Kaito dengan dingin
Rei terdiam dan suasana di sana semakin menakutkan.
"Lebih baik kita makan malam dulu, ayo semuanya masuk. Rei juga ya" kata Luka, Rei menggelengkan kepalanya
"Ada apa? Kau harus makan agar tenaga mu pulih" Luka menarik lengan Rei
Akhirnya Rei pun masuk ke dalam bersama kami. Di sana Rei hanya terdiam tanpa menyentuh makanannya.
"Kenapa kau diam?" tanya Miku yang langsung duduk di samping Rei
". . ." Rei tidak menjawab
"Kalau tidak di makan nanti makanannya dingin.." kata Miku sambil mengelus kepala Rei
"….Hiks…" Rei meneteskan air mata
Semua mata tertuju pada Rei.
"Aku…aku malu…di tolong oleh musuh…aku…benar-benar malu" ucap Rei
"Kalau begitu jadilah teman kami! Dengan begitu kau tidak akan merasa malu!" cetus Rin yang baru datang
". . ." Rei diam
"Kalau kau tetap memutuskan untuk menjadi musuh kami, maka suatu saat kami pasti akan membunuh mu" ucap Gakupo
"Aku…aku takut…" kata Rei
"Takut pada Ratu?" tanya ku, Rei diam menandakan Iya
"Kami akan melindungi mu. Kami tak akan membiarkan Ratu membawa mu kembali ke tempat itu" Luka memeluk Rei
"Aku…" Rei tak bisa berkata-kata lagi
Tak lama kemudian Rui pun datang dengan membawa sesuatu di dalam karung. Itu terlihat sedikit mencurigakan. Tapi aku yakin jika Rui tidak ada niat untuk menyerang kami saat ini.
"Akhirnya kau datang juga.." ucap Rin
"I-ini.." Rui gemetaran
"Rin? Itu kah yang kau minta darinya?" tanya Gakupo, Rin mengangguk
"Apa isi dari karung itu?" Meiko penasaran
"Ini adalah…" Rin menebas karung itu
"…Jeruk…" ucapnya dengan santai
Dengan refleks aku pun menghantamkan kepala ku ke meja dan di ikuti oleh Kaito, kemudian Gakupo, lalu Meiko, dan yang terakhir oleh Miku. Aku tidak menyangka ternyata yang dia minta hanyalah satu karung jeruk. Apa-apaan ini…
"A-ada apa?" tanya nya dengan muka datar, semua menggelengkan kepala
"Rei…" Rui menghampiri saudara kembarnya tersebut
"Baiklah…percakapan di cukupkan sampai di sini, bersiap-siaplah karena besok kita akan melanjutkan perjalanan ke kota DeLusia" seru Meiko dengan bersemangat
"Pergi lagi? Tapi kenapa?" kata ku
"Bukankah kau ingin mengetahui apa kekuatan mu yang sebenarnya?" tanya Luka
"I-iya sih…" aku melihat kedua tangan ku
"Karena itu mari temui SeeU, dia teman kami juga" kata Luka
Mereka semua pun pergi menuju kamarnya masing-masing. Rei dan Rui kelihatannya akan tidur bersama Luka. Tinggal lah aku dan Miku di ruangan itu. Jujur saja sebenarnya aku mempunyai banyak pertanyaan soal ini semua. Soal Akita Neru, lalu seseorang yang mereka sebut Ratu, dan yang lainnya.
"Ano…Miku-sama…"
"Hm?"
"Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan" kata ku
"Katakanlah.." jawabnya dengan senyuman
"Sebenarnya…ada apa dengan semua ini? Kenapa orang-orang seperti Neru, Rui, Rei menyerang kalian?" tanya ku
"Eh? Benar juga…Len belum tau apa-apa ya? Biar ku ceritakan dari awal. 4 tahun yang lalu…ketika orang tua ku masih hidup, negeri Ururu negeri dimana aku lahir adalah negeri yang indah dan damai. Tapi semua itu berubah saat bangsa Necromancer datang dan mengambil alih sistem pemerintahan negeri itu. Mereka membunuh setiap orang yang tidak mematuhi aturan mereka. Mereka juga membunuh kedua orang tua ku" jawab nya
"Lalu…bagaimana bisa kau selamat?" tanya ku lagi
"Hidup ku di selamatkan oleh Kaito, dan yang lainnya. Yaaa bisa di bilang dia, Meiko, Gakupo, dan Luka adalah pengawal setia ku. Mereka berjanji pada ku akan merebut kembali negeri Ururu…" Miku menghapus air mata yang sempat mengalir ke pipi nya
"Tapi…apa alasan bangsa Necromancer menyerang negeri Ururu?" aku semakin penasaran, Miku menggelengkan kepala
"Aku sendiri tidak tau..." jawabnya
Aku tidak berani bertanya lagi setelah melihat Miku kembali meneteskan air matanya. Sekarang aku tau latar belakang masalah yang ada di tempat ini. Tapi jika Rei dan Rui memutuskan untuk bergabung bersama Miku, maka itu akan menjadi keuntungan yang besar karena mereka berdua adalah salah satu penyihir yang berasal dari sana. Ah…lebih baik sekarang aku beristirahat…
Pagi harinya kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ke kota DeLusia. Aku pun segera berlari keluar penginapan.
"Sekarang pilihan ada di tangan kalian…" aku mendengar suara Gakupo dan aku pun mempercepat langkah kaki ku
"Kalau kalian ingin bergabung bersama kami, ikuti kami. Tapi jika sebaliknya, tetaplah di sini"
". . ." Rei dan Rui diam
Gakupo dan yang lainnya mulai melangkahkan kaki mereka, aku pun segera menyusul. Aku melihat Rei dan Rui yang masih diam di posisinya. Aku melihat raut wajah mereka yang masih kelihatan bimbang. Aku tau ini adalah pilihan yang sulit…berhianat pada Ratu demi kebebasan atau tetap setia pada Ratu demi mempertahankan hidup. Karena aku yakin jika mereka berhianat maka Ratu tak akan segan-segan untuk membunuh mereka. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka terbunuh begitu saja.
"Kami tidak akan membiarkan kalian mati…" kata ku sambil terus berjalan melewati mereka
"Mereka masih diam di tempat…" ucap Luka dengan nada khawatir
"Itu hak mereka…setidaknya kita sudah berbaik hati pada mereka" kata Rin sambil mengunyah jeruk
'Tap tap tap' Tak lama kemudian kami mendengar langkah kaki. Kami serempak membalikan badan dan ternyata itulah yang si kembar pilih…ikut bersama kami.
"Benarkah kami boleh ikut?" tanya Rui
"Tentu saja iya…" jawab Gakupo
"Benarkah?" Rui mencoba meyakinkan sekali lagi
"Iya, kalian boleh ikut" jawab Gakupo lagi
"Benarkah?"
"Iya.."
"Benarkah?"
"Iya.."
"Benarkah?"
"Iya…"
"Benarkah?"
"IYA!" Gakupo mulai kesal dan segera menarik lengan kedua anak itu
"Terimakasih paman…" ucap Rei
"Jangan panggil aku paman! Begini-begini aku masih muda!" Gakupo mengacak-ngacak rambut Rei
"Sekarang anggota kita bertambah 3 orang ya? Ada Len, Rei, dan Rui…semoga kehadiran kalian dapat membuat kita semua semakin kuat" kata Meiko sambil merangkul ku
Iya…aku harap aku bisa segera mengetahui kekuatan ku yang sebenarnya agar aku bisa ikut membantu Miku mengambil negerinya kembali…yaaa…kota De Lusiaaaa kami dataaang….
Maaf kalau nggk menarik :'
Btw makasih yang udah mau baca ^^
Jgn lupa nanti baca chapter selanjutnya yaa ~
