Selamat membaca Chapter 7 ^^

.

.

.

.


Esok pagi nya kami pun siap berangkat. Rei dan Rui memberi tau kami tempat-tempat mana yang biasa di kunjungi oleh ke-6 pengawal tersebut. Kami beruntung karena salah satu dari mereka kemungkinan berada di tempat yang tidak jauh dari kota DeLusia.

Kami berjalan sampai akhirnya kami tiba di sebuah padang bunga yang sangat indah.

"Dia di sini!" kata Rui, kami semua melihat ke sekitar

Dan nampak lah seorang anak laki-laki yang terlihat seumuran dengan Rui dan Rei. Dia sedang duduk di tengah-tengah padang bunga. Kami semua berhati-hati.

"Tidak baik mengkroyok anak kecil" ucap anak laki-laki itu

Kemudian bunga-bunga yang bermekaran di tempat itu layu dengan seketika. Anak itu pun berdiri dan membalikan badannya pada kami.

"Siapa dia?" tanya Gumi

"Hibiki Lui…" jawab Rei

"satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas…ahh kalian banyak sekali! Kalau begini aku bisa kerepotan untuk menggambar kalian" ucap Lui sambil mengeluarkan sebuah buku gambar dan pensil

"Gawat!" Rei berlari ke arah Lui

Kemampuan Lui adalah salah satu kemampuan yang aku takuti. Tapi dengan terus menyerangnya dari dekat mungkin itu tidak akan memberinya waktu untuk menggambar.

"Hmm…" Lui mulai menggambar

"Lui!" Rei berusaha memukul Lui

Kemudian badan Lui mengeluarkan sayap seperti malaikat dan Lui pun terbang untuk menghindari pukulan Rei.

"Dengan begini aku bisa leluasa menggambar kalian" ucap Lui

Ini gawat! Sepertinya tadi dia menggambarkan dirinya sendiri dengan sayap!

"Kita harus cepat! Karena Lui hanya butuh satu detik untuk menggambar satu orang!" ucap Rui

"Defender.." Rin bersiap menyerang

"Icewolf Bite" Rin menggunakan kemampuannya

"Ups.." Lui berhasil menghindar

"Pertama-tama aku akan menggambar mu.." Lui melirik ke arah Miku

"Aku tidak akan membiarkan mu melukai Miku-nee!" ucap Rei

"Hm?" Lui tersenyum

"Gol—"

Lui menendang Rei sebelum Rei menyelesaikan kalimat sihir nya.

"Summoner pengganggu! Lebih baik aku membunuh mu terlebih dahulu!" ucap Lui

"Onii-chan!" Rui menghampiri Rei

"Crush Punch" Rin mencoba menyerang Lui sekali lagi

Dan lagi-lagi Lui menghindar. Dia pun terbang lebih tinggi dari yang tadi.

"Blind" Kaito tiba-tiba menyerang

"Len! Serahkan ini pada ku dan juga Rei! Kau dan yang lainnya pergi lah! Bawa Miku-sama bersama mu!" kata Kaito

"Aku akan tinggal di sini.." kata Luka

"Baiklah! Kita percayakan ini pada mereka bertiga!" teriak Meiko

Kami pun menuruti perkataan Kaito. Aku berharap semoga mereka tidak akan mati di tangan bocah itu. Kami berlari menuju tempat selanjutnya.

". . ." Miku menghentikan langkahnya

"Ada apa?" tanya ku

"Protect…Power…Reraise" Miku menggunakan sihir nya

Miku kelihatannya mengkhawatirkan Rei, Kaito dan Luka. Lalu Lily menarik lengan Miku dan kami pun melanjutkan perjalanan tanpa mereka bertiga.

Belum terlalu lama kami berlari, hujan pun mulai turun.

"Hujan…" kata ku

"Ini pasti sihir milik Luka…" Gakupo melihat ke belakang

"Aku yakin mereka pasti menang….pasti menang…" teriak Rui

"Mereka pasti menang…" ucap Miku sambil tersenyum

Tiba-tiba Rui menghentikan langkah kaki nya.

"Ada apa Rui?" tanya CUL

"Ada yang mendekat!" jawab nya

Tak perlu menunggu lama…seorang perempuan pun muncul di hadapan kami.

"Death Song…"

"Semuanya tutup telinga kalian!" teriak Rui, kami pun menuruti nya

Perempuan ini…aku yakin dia pasti yang bernama Mayu! Seorang perempuan yang dapat membunuh musuh nya hanya dengan nyanyian.

"Lama tidak jumpa…" sapa perempuan itu pada Rui

"Mayu…"

Tiba-tiba ada sebuah peluru dari arah kiri yang hampir mengenai ku.

"S-sial!" kata ku

"Itu pasti Dell!" Gakupo melirik ke arah kiri

"Aku serahkan dia pada kalian!" ucap Gakupo yang bergegas lari kea rah kiri

"Aku ikut!" Meiko mengikuti Gakupo

"Kalian juga pergi lah! Serahkan perempuan ini pada kami! Bertiga!" ucap CUL

"CUL!"

"Jangan khawatir! Aku tidak akan mati di tangan orang-orang seperti mereka" CUL membelai kepala Rin

"Tapi…CUL!"

"Rin! Percayalah padanya!" kata ku yang langsung menggendong Rin

Kami pun melanjutkan perjalanan tanpa Meiko, Gakupo, CUL, Gumi, dan Lily. Aku yakin mereka pasti menang. Jika Lui, Miku, dan Dell sudah muncul maka sisanya adalah USee, Teto, dan Ted. Kami harus segera menemukan mereka agar kami mendapatkan jalan masuk ke dalam negeri Ururu.

"Aku rasa seluruh pengawal sudah mengetahui rencana kita makanya kenapa mereka langsung menyerang kita" ucap SeeU

"Aku rasa juga begitu" kata Miku

Cukup lama kami berlari dan itu cukup banyak menguras tenaga. Pada akhirnya kami pun memutuskan untuk beristirahat sebentar tanpa menghilangkan rasa waspada.

Tap…tap…tap…kami mendengar langkah kaki seseorang. Kamudian SeeU pun membalikan badannya.

"K-kakak…" SeeU terkejut

"Ternyata benar kalian ada disini" ucap pria yang pasti bernama USee

"Ramalan ku tepat, ternyata kalian benar-benar datang untuk menyerang" lanjut nya

"Kenapa kau mau menjadi pengawal Ratu iblis itu?" SeeU mengeluarkan sebuah tongkat

"Tentu saja…karena aku mengagumi nya" ucap nya dengan nada yang sangat menyebalkan di telinga ku

"Kau meninggalkan ku demi menjadi orang jahat?!" SeeU kesal

". . ." USee terdiam

"Len…pergi lah…biarkan aku yang melawan USee…" kata SeeU

"Tapi…"

"KATA KU PERGI!" bentak SeeU

"B-baiklah.." kata ku

"Aku akan membantu SeeU di sini, pergi lah Len" ucap Miku

"Aku juga!" ucap Rui sambil tersenyum pada ku

Aku tidak bisa menghalangi keinginan mereka. Ya…mau bagaimana lagi, akhirnya aku pun melanjutkan perjalanan berdua bersama Rin. Rui bilang jika kami tidak boleh terpisah karena itu lah aku tidak melepaskan genggaman tangan ku pada Rin.

"L-len…" Rin terjatuh

"R-rin!" aku segera menghentikan langkah ku

"Kau kenapa?" tanya ku

"Ngh…" wajah Rin pucat

Ini bencana! Rin jatuh sakit di saat yang tidak tepat. Aku tidak mungkin harus kembali ke kota DeLusia untuk membawa Rin ke dokter. Lalu aku pun menggendong nya dan mencari tempat yang aman untuk merawatnya. Dan pada akhirnya aku pun menemukan sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Aku mengintip dari jendela nya dan sepertinya rumah ini tidak berpenghuni karena di dalam rumah sudah cukup berdebu. Aku pun masuk dan membaringkan Rin di sebuah kasur yang sudah ku bersihkan sebelumnya.

"Aku ambil air dulu ya" kata ku pada Rin

"Okaa-san…Otou-san…Onii-chan…" Rin mengigau

Aku rasa Rin sedang bermimpi bertemu dengan keluarganya. Tapi apa Kaito dan yang lainnya masih bertarung ya? Aargh…Tuhan…ku mohon lindungi mereka.

Ketika aku kembali ke kamar aku melihat Rin sudah tidak ada di tempat tidurnya. Aku pun keluar dan mencari nya. Ternyata dia sedang duduk manis di teras.

"Sudah lebih baik?" tanya ku, Rin menganggukan kepala nya

"Syukurlah…" aku lega

"Apa mereka masih bertarung ya…" ucap ku

"Mungkin…" kata Rin

"Aku mengkhawatirkan Rei dan Rui" kata ku sambil melihat ke langit

"Hm…" Rin menatap ke arah ku

"Melihat kebersamaan mereka membuat ku teringat pada adik perempuan ku yang sudah tiada. Suatu hari kami sekeluarga berlibur bersama ke sebuah pantai. Tapi tiba-tiba adik ku terseret ombak dan terbawa ke tengah laut. Orang tua ku meminta pertolongan pada penjaga pantai tapi mereka tak menemukan tubuh nya. Saat itu aku benar-benar merasa gagal menjadi seorang kakak. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Dan setelah kejadian itu ayah sangat tertekan dan kehilangan akal sehat nya sampai pada akhirnya dia mengakhiri hidupnya sendiri. Dan itu membuat ku semakin terpukul di tambah lagi setelah satu minggu kematian ayah, ibu mengalami kecelakaan yang juga merenggut nyawa nya. Saat itu aku merasa tak punya tujuan lagi untuk hidup. Aku yang waktu itu masih berumur 5 tahun sudah kehilangan semua orang yang berharga bagi ku. Dan setiap aku melihat Rei dan Rui terkadang aku merasa sangat iri, andai adik ku masih ada mungkin aku tidak akan merasa kesepian seperti ini…" kata ku sambil berusaha menahan sesak di dada

". . ." Rin masih menatap ke arah ku

"Dan ketika pertama kali aku bertemu dengan mu, aku merasa kau begitu mirip dengan adik ku. Pita besar yang selalu kau gunakan, kecintaan mu pada buah jeruk, itu semua benar-benar membuat ku teringat pada nya" lanjut ku, Rin langsung berdiri

"Itu karena aku..."

"Rin…" aku bingung

"Karena aku—"


Makasih buat yang udah mau baca ^^

kelanjutannya segera menyusul ~