Warning : adegan perang Jaeger dan Kaiju. Biar makin nyesek, dengerin OST 1-nya Attack on Titan sambil dibaca ya, terutama trek nomer 1, 5, 7, dan 12.


.

.

.

-2-

Battle on Pacific

.

.

.


Urutan serangan dimulai oleh Jaeger dengan kemampuan mimikri. Menghilangkan jejak, menyusup di antara ribut deburan ombak dan badai. Mengubah warna mereka yang semula seputih gading rusa hingga berpolikromatis layaknya bunglon. Kaiju kategori dua memiliki ukuran separuh lebih minimal dibanding rekannya yang entah menyembunyikan diri di mana. Saat duri-duri beracun tepat terarah pada Eureka Strike, hanyalah batu koral raksasa dengan lautan keabuan yang tampak sebagai objek sasaran. Auman Kaiju tak ramah itu membuncah dan semakin menaikkan kadar adrenalin dua manusia yang sibuk bermain-main dengan pengatur warna kulit tubuh magnus mereka. Jean Kirstein mengumbar tawa dan geram secara bersamaan. Di sisi lain, sang kopilot jauh lebih serius kali ini. Ketakutan samar masih terlihat jelas di antara dengusannya kala petir memberi cahaya jelas pada bias warna yang terbentuk sehingga menghancurkan sistem penyamaran mereka.

"Tenanglah, Marco! Kita tidak akan mati kali ini. Not this time!" pekik sang pilot seraya mengarahkan bazooka berbahan biji martil raksasa ke arah Sawney—Kaiju kategori dua tipe kombinasi reptil dan akuatik bersirip. Nama imut pemberian Hanji. "Hoi, Sawney! We're gonna give you a damn hard punch!"

Ion-ion listrik merusak dan memutus komunikasi sensoris penerima perintah milik Eureka Strike. Untuk sementara, perintah penyatuan dengan alam sekitar menjadi invalid. Salah satu kekurangan yang menyulitkan mesin Jaeger milik Jean dan Marco tersebut. Butuh sekitar setengah jam hingga permintaan yang sama dapat diterima kembali oleh sel-sel sensoris sang Jaeger. Guna mengalihkan perhatian Sawney, martil yang semula tepat mengenai sisi sirip kirinya dijadikan target 'X' bila Kaiju berwajah buruk rupa itu kembali menyelam ke dalam lautan Samudera Pasifik. Dan, hal itulah yang benar dilakukannya.

Jean mengumpat saat mengetahui Sawney mampu membaca taktiknya. Untung saja, Kaiju kategori dua tidak memiliki kekuatan regenerasi. Penunjuk keberadaan dan faktor penyulit penyelaman monster kombinasi akuatik dan reptil ini menguntungkan Jaeger lain yang siap mengambil garis pimpinan.

"Reiner! You're on!" Jean mundur beberapa langkah dari batas garis peperangan. Ia memersiapkan diri selagi mengisi tenaga untuk pertarungan berikutnya. Plus, menunggu hingga setidaknya tiga puluh menit ke depan.

Bukannya memilih maju, tetapi tetap terdiam di tempat. Jean melotot tajam saat perintahnya dihiraukan begitu saja. Reiner menjawab dengan nada lelah, "dude, kau salah jika menyuruhku maju selagi Kaiju kategori dua satu itu tepat berada di bawah kita dan berenang-renang dengan bahagia. Sebaiknya, kau meminta Annie untuk melakukan pengintaian jarak dekat. Tubuh ringannya mudah melakukan penyelaman hingga ke dasar. Hah."

"Apa?! Tapi, kau bisa menembakkan bom cahaya ke dalam laut!"

Kali ini, Bertholdt mendesah panjang. Ia mengambil alih percakapan berdasarkan intuisinya yang setajam belati. Walau membenci hitungan matematis, instingnya mampu mengalahkan dua jenis Kaiju dengan tingkat penyerangan berbeda. Pilot Jaeger terbesar dan terkeras ini jauh lebih memahami ilmu analisa penyerangan dibanding mengandalkan kemampuan karakter masing-masing Jaeger. Apa gunanya mengeluarkan senjata jikalau tak tepat sasaran? Begitu pikirnya. Marco mengangguk-angguk, berusaha membenarkan pendapat Bertholdt sementara Jean masih bergulat dengan benaknya yang dipenuhi dengan kalkulasi periodik dan empirik.

The Lady Curse melangkah cepat ke depan meski kumpulan air yang mengelilingi mereka menyulitkan gerakan kinetis dan motoris normal. Tubuhnya yang serupa dewi Athena menjulang tinggi dengan anggun walau asbtraksi ekspresi terlihat jelas di wajah berbahan plat baja metalik. Kedua biji matanya menyala layaknya cahaya bulan baru. Semakin membesar dan sanggup menyinari lapisan samudera yang gelap. Tanpa aba-aba, kedua lengan miliknya terunjuk ke langit. Bersamaan dengan lompatan ringan, sekonyong-konyong hanya bunyi kecipak deras yang mengaburkan sosok Lady ini. Kemampuannya menyelam dengan velositas tinggi sanggup memberi deru suara yang lamat-lamat terdengar keras. Gerumul air di atas permukaan mengindikasikan adanya pertarungan sengit antara sang wanita bertubuh raksasa itu dengan Kaiju kategori dua bernama Sawney. Sekitar sepuluh menit berlalu hingga salah satu lengan ramping sang Lady kian terlihat sedikit demi sedikit dari bawah permukaan. Semburan cairan hijau tiba-tiba mengucur dari mulut Sawney. Dengan lompatan tinggi hingga menimbulkan ombak besar, Annie dalam balutan Jaeger-nya memisahkan kepala dan perut Sawney di langit.

Jean nyaris memuntahkan sisa sarapan paginya, sedangkan Reiner berusaha membayangkan jus bayam buatan sang nenek yang rasanya tidak karuan.

Begitu lengket dan berbau asam. Racun korosif milik Sawney menyelimuti tubuh indah Lady Curse hingga sulit untuk bergerak. Marco dengan sigap menyuruh rekan sebelah tubuh Jaeger-nya tuk menyiramkan cairan basa ke arah wajah hingga turun ke betis Jaeger anggun tersebut.

"Thanks, Marco." Adalah ungkapan rasa terima kasih Annie yang cukup jarang diberikannya.

Setelah masing-masing Jaeger kembali ke urutan pos mereka, Jean diam-diam membisik walau tentu saja tanpa berbicara pun, Marco dapat mendengarnya jelas.

"Bleh, that's gross."

'Bersyukurlah bukan Jaeger kita yang terkena cairan itu, Jean.' timpal Marco tanpa membuka suara. Sang pilot menoleh secepat kilat. Merasa cukup malu dengan apa yang baru saja diucapkannya. Pemuda itu memberi maaf kecil pada sang kopilot. Respon Jean bertanggung jawab atas senyum tipis yang melengkung di bibir Marco. Selama bersama-sama berada di dalam tubuh gigantik Eureka Strike, di situlah keduanya kian mengenal walau tanpa bahasa verbal. Berbagi memori dan isi hati sudah lebih dari cukup. Menjelaskan apapun yang ingin dipertanyakan. Karenanya, Marco kian mengucap syukur yang teramat pada Tuhan terlebih saat ia harus dipasangkan dengan siswa Jaeger's Academy terhebat kelima setelah Reiner dan Bertholdt. Mikasa dan Eren adalah dua teratas yang tak bisa diganggu gugat, begitu pikirnya. Dapat menjalankan mesin Jaeger saja menjadi satu dari dua impian yang tak pernah terkira dalam dua puluh tahun hidupnya.

Hingga khayalan kecil sang kopilot harus terpecah saat Kaiju kategori tiga dan empat datang secara bersamaan. Sang Lady masih sibuk mengatur distribusi energi di blok terbelakang. Selain Rogue Titan, masih ada satu Jaeger lain dengan kekuatan nuklir meski intensitasnya jauh lebih rendah. Karena itu, raksasa anggun ini perlu diturunkan. Reiner dan Bertholdt mengambil kendali penyerangan sekaligus. Tubuhnya yang cukup besar mampu menebas dan mencekik leher Kaiju kategori tiga tipe reptil murni. Lawan yang sepadan dengan kemampuan fisik si Jaeger. Auman dahsyat Armored Titan menggaung ke seluruh penjuru samudera. Tak hanya geraman yang mampu dilakukan oleh raksasa dengan lima ribu pasang plat baja di tubuhnya ini. Serangan demi serangan kombat mulai dilayangkan di berbagai titik organ terlemah para Kaiju terutama perut mereka. Hati diyakini menyimpan pasokan sirkulasi vital Kaiju—begitulah yang disebutkan dalam laporan penelitian Hanji beberapa bulan lalu. Saat hati Kaiju dirobek, maka mereka dengan kemampuan beregenerasi tak dapat hidup kembali. Fungsi normal hidup mereka seolah diatur tepat di satu organ. Karenanya, semakin menguntungkan para Jaeger, terlebih dengan kekuatan meninju dan mengiris.

Robin—Kaiju kategori tiga jenis reptil murni—tumbang di atas laut. Membuat bunyi deburan air yang teramat keras. Armored Titan segera melangkah maju, memastikan dengan sendirinya kematian Kaiju tersebut dalam jarak dekat. Namun sialnya, Robin jua dilengkapi dengan semburan cairan asam berwarna keunguan. Jauh lebih lengket dibanding milik Sawney. Jaeger Reiner dan Bertholdt tampak kesulitan melepaskan diri dari jerat senjata kimia dengan sifat korosif melebihi sianida. Plat-plat baja di tubuh magnusnya meluruh pelan-pelan.

"Argh!" pekik Reiner sembari membuat pose seolah berusaha menarik kedua lengannya dari benda yang mengikat kuat.

"Reiner! Aku akan mengaktifkan mode beku. Selama itu, gunakan tangan kirimu untuk memotong lidahnya!" Ide Bertholdt segera dilaksanakan sang kopilot. Mode beku merupakan kelebihan lain yang dimiliki Armored Titan. Semacam kumpulan gas karbondioksida yang dimampatkan dengan tekanan tinggi hingga berada pada puncak viskositasnya. Sesuai prakiraannya, Bertholdt melepas mode beku dari arah bahu kanannya dan mengenai sepanjang jerat keunguan lengket yang semakin mengeras itu. Dengan sekali tebasan, Reiner memotong lidah Kaiju itu yang telah berubah warna menjadi seputih es. Hanya serpihan bekuan es yang terjatuh. Dengan cepat, keduanya memilih mundur sementara Robin berusaha berdiri.

Jean dan Marco bermimikri kembali. Menghilang ditelan kabut dan lautan luas sembari menembaki Kaiju kategori empat dari berbagai arah. Martil-martilnya membuat cairan serupa darah dari tubuh Kaiju tersebut menyemprot ke arah mana saja. Raung dan pekikan beresonansi kuat dan nyaris mengganggu sinyal relay dari pusat kontrol Shatterdome. Lagi-lagi, Kaiju dengan kemampuan bising suara hadir di antara serangan yang sudah cukup berat untuk diatasi. Tiga Jaeger yang diturunkan harus menutup kuping jika tidak mau mendapatkan kematian sel-sel pendengarannya.

"Armin! Armin!" teriak Jean. Si empunya nama sukses memunculkan wajahnya dari layar virtual dalam mesin Jaeger. Pemuda itu sibuk memanggil pengatur kendali di kemudi pusat Shatterdome. Berusaha menginformasikan situasi mereka terkini yang sebentar lagi akan mengalami gangguan koneksi.

Armin Arlert, pemuda yang jauh meyakinkan dengan balutan jaket biru ketimbang suit hitam berbahan palidium. Kejeniusannya dalam mengatur susunan pertempuran sebelum penyerangan yang sesungguhnya menjadi indikator kesuksesan para pilot dan kopilot Jaeger. Meski masih terbilang daun muda, kesungguhannya mengabdikan diri sebagai salah satu aset berharga milik Scouting Legion tak boleh diremehkan. Posisinya yang teramat vital meski tak turun secara langsung ke dalam Jaeger seolah dijadikan penunjuk darurat saat pilot-pilot Jaeger tersebut kehilangan arah. Kontak personalitas harus tetap terhubung selama pertempuran. Sejauh apapun jarak yang memisahkan mereka—antara Jaeger dengan Shatterdome. Walau, riwayat terburuk pernah tercatat bertahun-tahun lalu. Saat Rogue Titan pertama kali diluncurkan. Kerusakan total Jaeger tertua ini hanya menyisakan luka mendalam. Karenanya, kabar burung berhantu disebarkan untuk menutupi kebenaran yang sesungguhnya.

Beberapa kali sinyal terputus, kembali normal, hingga akhirnya terputus total. Reiner dan Annie jua mengambil inisiatif serupa. Mengontak Armin ataupun pihak dari pusat komando jika kemungkinan terburuk terjadi. Namun, selama itu pula, Kaiju bermata tiga di hadapan mereka tak sekalipun berhenti memekikkan suara miliknya. Beresonansi kuat hingga proses mimikri Jaeger Jean dan Marco mengalami kerusakan. Satu-satunya pengalihan perhatian ialah dengan menyerang secara bersamaan. Lady Curse, walau dengan kondisi yang belum stabil sepenuhnya, berlari cepat ke arah Kaiju kategori tiga. Membungkam tubuhnya dan menembakkan martil tenaga nuklir dalam range dekat. Dengan bantuan Reiner, pisau titaniumnya membelah perut Robin dalam sekali tebasan. Jean bergerak sedikit demi sedikit, membentuk rotasi di atas air dan meletakkan pemicu bom di kaki Kaiju kategori empat. Saat bom meledak dalam hitungan tiga detik, hanya separuh dari tubuhnya yang terbelah. Euforia menggantikan suasana mencekam.

Naas. Monster raksasa berkaki empat itu kembali menjulang.

Hidup. Tanpa cacat.

Melakukan regenerasi dengan cepat.

"No, it can't be—"

Annie mendesah, "yes, it can. Kaiju brengsek ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Satu-satunya rencana yang mampu menghancurkannya hingga menjadi kepingan ialah melontarkan nuklir berkekuatan tinggi ke dalam tubuhnya sendiri. Simpelnya, ia harus menelan bulat-bulat martil dengan radiasi tinggi."

'Tne only one could possibly do it is—Rogue Titan' bisikan Annie terdengar di dalam keenam kepala pilot Jaeger lainnya. 'Aku mengaktifkan mode sinyal mandiri. Hanya kita berenam yang dapat berkomunikasi. Pihak pusat takkan bisa mendengarnya. Dengarkan aku semuanya, aku dan Ayahku akan menuntun Kaiju kategori empat itu menjauh dari Shatterdome. Kalian berdua pastikan tak ada Kaiju lain yang datang kemari dalam jarak radius satu kilometer. Aku yakin, si brengsek ini berusaha memanggil kawan-kawannya.'

"I-itu artinya, kita tetap harus menunggu Mikasa dan Eren! Rencana semula tidak seperti itu, Annie!" teriak Bertholdt. Reiner mendengar dengung aneh saat rekannya berbicara dalam pitch tinggi.

'Ya, aku tahu itu. Tetapi—sampai kapan kita harus menunggu?'

Pertempuran baru saja berlalu selama dua jam, namun hasilnya dapat dikonklusikan. Mereka menunduk, mengerutkan kening, mengepalkan jemari, menjalin doa entah untuk siapa—apakah untuk Tuhan atau yang lainnya—kemudian menatap lelah.

'Guys, aku tahu menjadi pilot Jaeger amat berat. Kematian adalah satu-satunya masa depan yang cerah untuk kita semua. Namun, kuharap kalian tidak menjadikan kematian itu sendiri sebagai akhir dari segalanya.'

'Are you with me or not?'

Tak ada jawaban lain, bukan? Ataukah masih ada kesempatan untuk memilih? Dua Jaeger lainnya siap menerima perintah dari sang Lady. Mempersiapkan apapun demi masa depan kaum mereka—manusia. Ke arah kepunahan atau kemenangan? Mereka tak pernah tahu. Yang ada dalam benak dan hati masing-masing masihlah berupa impian kecil yang sangat murni.

'Kita semua harus siap.'

Hingga—

—gerakan ketiganya tepat terhenti saat—

'J—an! An-n-ie! Re-i-er!'

Suara Armin seolah menjadi terompet sang Mikail. Sinyal yang sempat terputus total kembali terkoneksi walau dalam waktu sepersekian detik.

Itu sudah lebih dari cukup, bukan?

Sebelum—

"GRAAAAAAAAAAAAAAAAAH!"


Eren tiba dengan peluh di sepanjang pelipis wajahnya. Ia tidak segera mencapai dek pergantian suit dan malah mengikuti intuisinya. Menuju pusat kemudi umum di puncak teratas Shatterdome. Layar-layar raksasa memasang begitu banyak potongan adegan pertempuran yang sempat terekam antara para Kaiju dengan Jaeger di luar garis perbatasan North Coast. Nafasnya yang tercekat sulit diatur selama kedua turquoise-nya menyaksikan irama demi irama penyerangan yang telah dilakukan oleh Eureka Strike, Armored Titan, dan Lady Curse—jauh sebelum koneksi sinyal relay terputus oleh gangguan transmisi dari arah Kaiju kategori empat tak bernama tersebut. Resonansi bising suara yang dikeluarkan dari pita suara miliknya berdampak buruk terhadap pengembalian sinyal yang menghubungkan pusat komando dengan Jaeger-Jaeger tersebut. Di sisi lain, pemuda Yeager itu mengarahkan pandangannya pada Armin. Tampak jelas kerutan kasar tergambar di wajah imutnya. Beberapa kali pemuda pirang itu berteriak di depan layar berwarna hitam putih. Entah pada layar siapa.

"Ar—min?" panggilnya lemah.

"JEAN! ANNIE! REINER!"

"JEAN! ANNIE! REINER! JEAN! ANNIE! REINER—"

"Jean—Annie—Rei—ner."

Pemuda itu beringsut dan tertunduk. Mungkin juga menangis.

Tetapi, tidak mahfum menangis untuk siapa.

Langkah kaki Eren melemah. Layaknya jelly atau juga bubur. Lemas dan sulit digerakkan. Pada saat yang bersamaan, ia memandangi enam wajah yang dahulu saling berbagi memori dengannya. Namun, wajah-wajah tersebut memerlihatkan ekspresi yang menyakitkan. Beberapa dari mereka memilih maju ke depan, mendekati Armin seolah ingin menguatkan pemuda itu, tetapi sama sekali tidak memberikan sebuah alasan agar ia bangkit kembali. Nyaris, pemuda bermata turquoise ini terjebak di antara banyaknya manusia yang membanjir di sekelilingnya. Ia kebingungan. Seseorang bahkan menabraknya tanpa melihat ke sekeliling. Tak peduli siapa yang ditabraknya, entah itu pilot termuda dan terbaik seantero Shatterdome.

"Eren!"

Hingga Mikasa hadir dengan irama nafas yang juga sama-sama tidak beraturan. Sepertinya, gadis bersyal merah itu berlari dari basement hingga menuju lantai teratas Shatterdome. Dengan raut wajah tak tertebak, ia melangkah perlahan dan memutuskan untuk menarik tangan Eren. Membawa pemuda itu menjauh selagi masih bisa. Dibawanya lari si pemuda hanya untuk menerima realita yang sebenarnya.

"Dari mana saja kau?" tanya Mikasa di antara kesibukannya mengatur nafas. "Aku yakin, rencana awal masih bisa berakhir dengan kemenangan jika kita turun bersama. Selain itu—kita akan membawa pulang yang lain. Kita harus membuktikan pada Armin tentang janji kita, bukan? Ma-maka dari itu, Eren—"

Konfesi penuh keyakinan terdengar di antara ancaman Mikasa. Sebaliknya, wajah Eren masih diliputi kebimbangan. Karenanya, gadis yatim piatu itu kembali pada rasa bersalah. Tanpa menyebutkan dalih, hanya ada ajakan berbentuk fisik yang bisa ditawarkannya. Sembari menggenggam erat tangan si pemuda, ia merasa masih memegang kartu truf dari pertempuran yang riil.

Yang tentu saja berkaitan dengan memenangkan hati sang Jaeger tertua—Rogue Titan.

"Hm. Maafkan aku, Mikasa."

"Huh?"

Eren tampak menggigit bibir bawahnya. Kekacauan dan gemuruh mengancam kewarasannya, "jika nantinya aku kembali terjatuh dalam mode R.A.B.I.T, aku tidak tahu—aku tidak bisa memastikan keselamatan kita berdua. Tidak—aku tidak yakin bisa melindungimu."

Gadis itu menyunggingkan senyumnya. Sebuah senyum teraneh yang pernah dirajutnya, "it's ok. Kau—tidak perlu melindungiku, Eren. Karena, semuanya akan baik-baik saja." Sebab, akulah yang kali ini akan melindungimu, Eren.

Galangan terbawah Shatterdome menyerupai lapangan berbahan dasar plat baja, bukan tembok balok yang kerapkali digunakan untuk membangun rumah-rumah. Sebagian besar ruangan berkapasitan lima ratus orang tersebut diisi dengan boks boks mesin berkaliber mini hingga magnum. Tampilan para manusia berlarian ke sana ke mari tampak dua kali lebih jelas. Kesibukan yang bertambah lima kali lipat di sekeliling tidak sama sekali mengganggu konsentrasi Mikasa. Gadis itu berlari kecil ke arah pintu dua dimensi yang terbuka secara otomatis, kemudian diikuti oleh Eren. Selayaknya tabung vakum udara menuju angkasa, mereka seperti disedot dengan kecepatan tinggi menuju ke atas. Segera setelah keduanya tiba di pusat kontrol Jaeger, masing-masing dari mereka berpisah untuk berganti suit. Tak lama, Mikasa hadir dengan jaket berbahan palidium berwarna hitam pekat dengan sisi-sisinya yang terbuat dari besi metalik. Tim pengatur admisi kelayakan terbang menyerahkan helmet khusus kepada si gadis dan regulasi perihal neural handshake yang tidak lama lagi akan menghubungkan otak miliknya dengan otak sang pilot.

Eren tiba lebih dulu dan berbicara empat mata bersama salah seorang yang sedari tadi berdiri di galangan pintu Jaeger miliknya. Entah pembicaraan macam apa yang terjadi di keduanya. Mikasa hanya mampu menebak tanpa menanggapi. Ia sempat menarik sudut bibirnya, membentuk senyum simpul, dan memasuki ruangan berbentuk lingkaran yang keseluruhannya nyaris terbuat dari atap-atap proyeksi langit. Berwarna biru tua dengan titik-titik kuning layaknya bintang di malam hari. Sepatu baja yang dikenakannya membuat suara dentuman yang kian berbenturan dengan lantai dasar kemudi Jaeger.

Gadis itu mengambil nafas dan membuangnya perlahan. Memejamkan mata sembari berbisik. Eren memunculkan diri tepat di belakang Mikasa. Menyentuh pundak gadis itu seraya mengangguk. Seolah mengajak tuk kembali berjumpa dengan kengerian lain di lautan Pasifik. Namun, menunjukkan ketegaran di balik ketakutan yang pasti membiaskan tujuan awal.

"This is the fate."

"Yeah."

Eren dan Mikasa meletakkan kedua kaki milik mereka tepat di atas besi pelindung kaki sekaligus pengatur gerakan tungkai bawah Jaeger. Rasa nyeri bagai digigit semut terasa perlahan-lahan, menjalar dari ujung jemari-jemari kaki hingga separuh dari tubuhnya. Empat tangan terayun ke atas dan ditangkap cepat oleh kendali lain yang juga akan terhubung secara otomatis dengan lengan-lengan Rogue Titan. Yang terakhir berupa persiapan penyatuan neural handshake. Sesaat sebelum perintah berbentuk suara wanita terdengar, kedua anak manusia yang dipertemukan oleh takdir unik di masa lalu ini mengamati lautan Pasifik yang semakin menggelap. Mikasa mencuri pandang ke arah Eren, namun tepat berhenti saat lagi—lagi—dan lagi, memori itu saling terbagi satu sama lain. Ia melihat, menyaksikan dengan semua panca indera miliknya kengerian macam apa yang selalu menghantui Eren cilik hingga saat ini. Banyak ketakutan yang membutakan hati pemuda bertekad baja itu, namun ada kotak berisi keyakinan yang masih terkunci erat. Akan terbuka di waktu yang tepat. Apapun yang terjadi di masa depan masih berupa teka-teki. Ia lebih memfokuskan diri pada musuh dan jenis perburuan kali ini.

Layar piksel tiba-tiba saja muncul di hadapan keduanya, menampilkan wajah Hanji yang terfokus penuh. Hidungnya tepat melekat pada layar.

"Ereeen! Kali ini, pastikan untuk benar-benar memasukkan martil nuklir yang sudah disiapkan sejak awal ke dalam mulut Bean, ok? You hear me? Eren!" pekik wanita berkacamata kotak itu.

"Copy." Respon terpendek Eren. Bersama dengan intonasi lemas. Tetapi, segera berubah saat Hanji mengambil alih mic dari tangan Armin. Kebiasaan buruk wanita aneh ini.

"Ah! Satu lagi, sebelum kau memutus koneksiku. Ehem! Jika rencana awal gagal, jangan khawatir. Si pendek itu akan turun. But, make sure to win, 'kay?"

Piksel demi piksel layar hologram tersebut menghilang. Terputus dan mati. Membisu tanpa suara apapun. Namun, Eren mengerutkan kening. Mengepalkan kesepuluh jemarinya di antara kesabaran yang kian berkurang. Tidak semestinya pria itu diturunkan kembali. Ia—ia sudah terlalu sakit. Kekalutan ini lagi-lagi memicu terbentuknya letupan aneh yang kerapkali merusak tahanan impulsnya pada Rogue Titan.

Mikasa memerhatikan walau tak ingin menyanggahi isi pikiran Eren. Dengan senyum, gadis itu mengangkat lengan dan menempelkannya tepat di dada miliknya. "Kita akan menang, Eren."

Mendengar pengakuan implisit Mikasa, sang pilot membulatkan maksimal bening turquoise-nya yang sempat menggelap. Dipenuhi dengan begitu banyak prasangka buruk. "Yeah. We'll win."—so, he needn't to die anymore.

Lalu, yang dapat ditangkap oleh sel-sel pendengaran Eren maupun Mikasa hanyalah dengung yang berasal dari inti mesin Rogue Titan. Jaeger mereka mulai diluncurkan dari mulut menganga Shatterdome. Diterbangkan dengan kecepatan tinggi hingga suara debaman keras dari sekumpulan air Samudera Pasifik berbenturan dengan tubuh raksasa ganas berteknologi nuklir itu. Hujan nampaknya mengurangi tingkat fortuna mereka. Badai dan ombak menyusahkan kedua tungkai Rogue Titan tuk berjalan hingga berlari. Selama masih berada di dalam garis perbatasan North Coast, sang kopilot—Mikasa—memutuskan untuk mengaktifkan sensor pengintai. Menganggap seluruh sekelilingnya merupakan medan perang yang benar-benar merugikan. Belum lagi kedatangan Kaiju lain tipe akuatik yang bersembunyi di bawah laut.

Dengan fokus yang terpecah belah, Eren memastikan bila area depan dan kiri merupakan kendalinya. Selebihnya diambil alih oleh Mikasa. Meski dalam mode Jaeger, kedua otak mereka difungsikan secara tunggal, tetapi bila dibutuhkan sewaktu-waktu, kemampuan memisah pusat perhatian dapat diaktifkan. Kekurangannya hanya terletak pada kesepakatan sistem penyerangan yang akan digunakan. Untuk itu, selagi Eren masih sibuk melebarkan area defensifnya, Mikasa turut mempeluas jangkauan pengintainya. Beberapa menit keduanya menunggu dalam kewaspadaan tinggi hingga sensor pengintai milik si gadis memerlihatkan kode merah dari arah jam tiga.

Masih empat ratus meter sebelum mencapai garis akhir perbatasan North Coast dengan Pasifik, namun Kaiju kategori lebih inferior telah memunculkan diri. Secepat yang dapat diperkirakan, Kaiju tipe akuatik berwajah ikan itu terbang dengan velositas tinggi dan melompat ke arah Rogue Titan. Eren memutuskan untuk mengeluarkan belati dari punggung sang Jaeger dan melemparkannya tepat di perut Kaiju tersebut. Semburan cairan hijau pekat berbahan dasar asam berhambur dari angkasa. Mikasa mengangkat tangan kirinya dan menyemprotkan cairan basa berbentuk likuid putih dari telapak tangan magnusnya sebelum materi korosif milik Kaiju itu melengket di sekujur tubuh gigantik sang Jaeger. Kombinasi penyerangan yang dibuat dalam waktu kurang dari satu detik berasal sepenuhnya oleh dwilogi otak namun dengan fungsi tunggal. Mengesankan.

"Mikasa, pastikan area sensorismu melebihi radius normal. Kita harus menemukan yang lain." tutur Eren. Jawaban gadis itu hanya berupa anggukan mafhum.

Rogue Titan berdiri cukup superior di antara lautan Pasifik yang teramat luas. Langkah-langkahnya yang tegas nyaris mencapai bahu jalan menuju akhir batas North Coast. Setelah diberi izin oleh pusat komando Shatterdome, Eren dan Mikasa menemui kengerian lain yang entah terasa membekukan tubuh mereka. Kewaspadaan keduanya bertambah tiga kali lipat dari awal. Selama menunggu kedatangan serangan Kaiju kategori empat yang telah diberi nama oleh Hanji dengan Bean, Mikasa sibuk memperlebar tinjauan pengintainya demi tanda-tanda kehidupan dari tiga Jaeger yang telah lebih dahulu diturunkan ke area pertempuran. Namun, hanya kenihilan yang didapatkannya.

"Perluas lagi, Mikasa! Aku yakin mereka masih berada di sekitar kita!" tuntut Eren dalam benaknya.

"Sudah kucoba, Eren! Beri aku waktu lebih banyak lagi!"

Pemuda itu menggemerutukkan geriginya dan mengambil langkah-langkah lebar dan cepat. Mikasa menyesuaikan keputusan Eren tersebut walau harus lebih banyak memusatkan fokusnya pada sensoris pengintainya yang akan diperluas melebihi batas normal. Deburan ombak dan kamuflase hujan yang menyulitkan mereka dijadikan alasan klasik. Walau benar adanya, tetap saja sangat menyebalkan. Suara bising dari arah pusat komando Shatterdome terdengar samar-samar. Eren mengaktifkan kembali layar hologram Jaeger miliknya.

"Armin? Ada apa?"

"Eren, Mikasa! Aku berhasil menerima sinyal balik dari Jaeger Annie dan Ayahnya, tetapi terlalu lemah. Pusat relay Shatterdome mengalami pemutusan tiba-tiba oleh karena efek resonansi suara Kaiju kategori empat beberapa saat yang lalu. Namun, masih ada satu cara lagi untuk menemukan mereka!"

Armin menegaskan pernyataannya seraya memerlihatkan di hadapan Eren dan Mikasa sebuah tabung kecil yang tergambar di sebuah kertas berwarna biru. Pemuda pirang itu menunjuk gambar tabung silver bertuliskan transmission detector.

"Kau mengerti, Eren?"

"Huh?"

Mikasa membuka suara, "ya, aku paham, Armin. Kita hanya perlu meletakkan tabung itu ke dasar lautan lalu membukanya, bukan?"

Anggukan kuat Armin menjadi jawaban yang diinginkan si gadis, "I see. Alat pemancar sekaligus pemindai sinyal seperti yang sering digunakan oleh kapal-kapal perang zaman dahulu. Dengan mengandalkan suara, mereka dapat mengetahui posisi benda yang juga dapat mengeluarkan resonansi. Dengan kata lain, ultrasound resonance. Teknologi murahan tapi masih berguna tampaknya."

"Jadi—" Kata-kara Eren terpotong.

"Eren! Dengan tabung ini, kalian dapat menemukan lokasi Annie, Reiner dan juga Jean!" pekik Armin.

Dengan gerakan cepat, Mikasa membuka tombol aktivasi berwarna silver yang terletak di bawah lengan kanannya. Setelah memencet tombol tersebut, plat besi di sisi paha bawah Rogue Titan terbuka sedikit. Benda berbentuk tabung yang mirip dalam gambar Armin baru saja terlontar. Dengan sigap, Mikasa menangkap benda tersebut dan membaca tulisan yang tertera di atas tubuh si tabung.

"Kalau kau sulit memahaminya, bayangkan saja lumba-lumba atau juga kelelawar, Eren. Gelombang suara yang mereka keluarkan akan kembali beresonansi dan diterima sebagai objek berbentuk. Dengan kata lain mirip dengan sonar pada kapal selam. Dan, objek-objek tersebut akan dicurigai sebagai mangsa yang patut untuk dikejar atau dihindari." Penjelasan Mikasa pada akhirnya memberi konklusi di dalam benak Eren. Pemuda itu segera mengarahkan pandangannya ke depan dan ikut memutuskan gerakan mereka selanjutnya. Keduanya pun menunduk dan membuat tubuh Rogue Titan tertimbun air sepenuhnya.

Mode penyelaman diaktifkan dan keduanya menuju dasar terdalam dari lautan Pasifik. Tanah di bagian terdasar Samudera Pasifik tersebut dijadikan area penancapan tabung silver bertuliskan transmission detector tersebut. Setelah menarik ujung teratasnya, ada lampu merah yang kian berkedip. Menunggu hingga bekerja maksimal, Rogue Titan memilih terdiam sementara ada desing aneh yang menguar dari sumbu mesin detektor itu.

Sialnya, tak hanya menjawab transmisi suara yang berasal dari benda metalik, benda tersebut turut memanggil Kaiju-Kaiju lain yang tertarik dengan bising dengungan.

Sensoris pengintai Mikasa menyala-nyala tak wajar. Memerlihatkan sejumlah Kaiju kategori satu dan dua bertubuh kecil yang kian mendekati keduanya dengan kecepatan di luar prakiraan.

Pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai nampaknya.

"Rogue Titan's battle mode activated."

Misil, peluru kaliber kecil hingga raksasa, busur bom, granat cahaya, dan dua samurai bermata terbalik siap untuk dihujankan pada lebih dari sepuluh Kaiju.

"Eren."

"Hm?"

"…nothing. I just—"

Pemuda itu menawarkan senyuman hangatnya. Secerah mentari walau ada kabut yang terlihat jelas di wajahnya. Membuat bulir airmata turun di sudut obsidian Mikasa.

I do not want to die. Not this time.

.

.

.


To Be Continued


Author's Note:

Yay! Chapter dua apdet. Yay! Tapi adegan tempurnya agak garing ya. Heheh. Ngejelasin suasana perang dalam kata-kata itu memang rada nelangsa. (nguyelnguyeltanah) Sebaliknya, ngedeskrip adegan romansa jauh lebih indah sepertinya. Dan, emang bener sih. (makinnyungsep) Jadi, maaf ya kawan kalau chapter ini panjangnya sampai pengen bikin muntah. Haiks.

Saya suka saya suka saya suka saya sukaaaa banget sama Jaeger-Jaeger-nya Annie, Reiner, dan Jean. Saya agak bingung buat ngasih deskrip soal gambaran umum Jaeger mereka. Kalo ada yang bersedia buat gambarin saya, saya seneng banget lho! Heheh.

Alasan kenapa Rogue Titan gak diturunin bersamaan dengan tiga Jaeger lainnya itu karena… pertama, sebelumnya, Jaeger-nya Eren dan Mikasa ini udah dipake buat ngelawan Kaiju kategori empat. Membutuhkan sekitar setengah hari sebenarnya buat ngebenerin dan ngisi fuel Jaeger sampai full lho. Gak bisa cepet apalagi kalu udah di-force habis-habisan. Kedua, rencana penyerangan mereka mengandalkan teknologi nuklir si Rogue Titan, di mana juga butuh waktu pengisian hingga mencapai tingkat radiasi tinggi. Dan, ketiga sih—biar ada kesan mendalam gimana tiga Jaeger yang lain mengalami desperado terhadap hidup. (author-nyadibakar) Wekekek.

Oh iya, huge thanks buat yang follow dan review fanfiksi ini lho. Heheh. Gegara si efefen lagi heboh-hebohnya mindahin server, jadinya semua yang nge-review jadi guest. ;^;

Oke deh, ditunggu kelanjutannya ya. (ditabok)

Mind to review?