.
.
.
-3-
Secrets Inside the Past
.
.
.
Drift.
Penghubung dua hemisfer otak manusia yang bersifat kolektif. Menyusun dua otak hingga menjadi tunggal. Neural handshake akan membentuk semacam jembatan imajiner agar transmisi saraf dari kedua belah otak dapat saling berjalan. Mengalir bagai kabel-kabel listrik dalam velositas kurang dari satu nanosekon. Sistem kontralateral membuat manusia berdiri dalam keseimbangan yang sempurna. Otak kanan diciptakan untuk menggerakkan anggota gerak kiri, begitu pula sebaliknya. Jika dahulu manusia menjadikan unggas sebagai cetak biru pesawat terbang, maka teknologi serupa akan diterapkan pada Jaeger. Bedanya, manusia adalah pecobaaan yang paling tepat.
Menyesuaikan kemampuan manusia dengan Jaeger adalah keimbisilan. Raksasa setinggi awan tersebut membutuhkan lebih daripada puluhan juta neuron sehingga seluruh bagian dari tubuhnya dapat digerakkan tanpa kesalahan. Dahulu, Jaeger diciptakan dengan menggunakan metode manusia tunggal. Seperti yang sudah dilaporkan sebelumnya, otak Jaeger menyerupai dinosaurus. Bahwa, semakin besar tubuh suatu makhluk maka organ pusat kendalinya harus memiliki tingkat intelegensia yang sepadan. Banyak dari manusia yang diujicobakan mengalami serangkaian sindrom kerusakan saraf, mulai dari strok hingga amnesia, yang lebih parah adalah kematian mendadak. Karenanya, penerapan dua hemisfer otak dari dua manusia yang berbeda adalah pengembangan ilmu yang telah diteliti secara cermat.
Dua pilot. Satu Jaeger.
Akan tetapi, jumlah buruan mereka semakin meningkat. Bermultiplikasi sesuai teori postulat linier angka. Formulasi matematis menjadi jelas seketika. Hanji, satu di antara kaiju groupie* pilihan sang Korporal menemukan hal yang terlalu menarik. Dalam waktu kurang dari duapuluhempat jam, sepuluh Kaiju dipastikan akan berdatangan dan berusaha mendekati The Wall. Beberapa Kaiju kategori rendah memilih berada di depan garis peperangan. Mengelilingi tubuh Rogue Titan yang diam menunggu perintah dari sentra komando Shatterdome.
Di lain pihak, Armin dan beberapa staf teknisi Shatterdome memulai penyidikan mendalam mengenai perubahan pola serangan para Kaiju yang semakin membabi buta. Jam magnus harus kembali menyala-nyala dan menunjukkan angka empat sebagai jam dan limapuluhlima sebagai menit. Komandan Pixis tiba bersama wajah penuh kerutan yang tentu hanya ditampilkannya di saat-saat tak menentu semacam ini. Jauh di lubuk hatinya, ia berharap untuk tidak kehilangan para pilotnya—lagi. Buku-buku jemarinya mengeras kala menggenggam kayu penopang bobot tubuh akibat tulang-tulang yang kian mengeropos.
"Commander!" pekik Hanji. Ia tak sempat menegakkan bingkai kacamata berbentuk kotak di puncak hidungnya dan berlari cepat.
"Apa yang saat ini bisa kau perkirakan, Hanji?"
Di antara diam dan murka, kakek tua itu meletakkan fokus pandangan seutuhnya pada layar-layar virtual beserta hologram cetak biru mesin ketiga Jaeger yang menghilang dari zona sonar. Satu-satunya peninggalan sisa yang terus diupayakan untuk dianalisa. Dalam radius yang menjauhi pusat penerimaan sinyal kembali milik Shatterdome, ditemukan secuil harapan dari Jaeger milik keluarga Leonhardt itu. Lady Curse dilengkapi dengan teknologi nuklir berintensitas radiasi minimum. Meski demikian, mesin yang menyusun sembilan puluh persen tubuhnya tidak sepenuhnya terkoneksi secara digital. Berbeda dengan mesin Jaeger kebanyakan, gambaran analog yang mungkin saja dapat dilacak oleh sonar murahan tersebut mampu memindai keberadaannya walaupun berada sejauh mungkin dari inti perletakannya.
"Kami menangkap ada lebih dari tujuh hingga delapan Kaiju kategori satu dan dua berusaha mendekati sonar yang telah berhasil diletakkan oleh Rogue Titan. Mustahil untuk ditangani tanpa back up, meskipun kategori para kaiju itu berada jauh di bawah Sawney dan Bean. Walau demikian, kami akan tetap berada pada rencana awal. Memastikan jika bom nuklir berkapasitas tinggi benar-benar dilahap oleh Kaiju kategori empat yang kurasa—saat ini sedang menuju The Wall. Mereka berhasil menjebol garis pertahanan Shatterdome. Belum lagi para pilot Jaeger lain yang masih menghilang dari zona pelacakan. Kondisi ini terlalu menyulitkan, Sir. Kurasa, akan sangat tepat bila kita menurunkan orang i—"
"Keep going. Kita tidak boleh kehilangan lebih dari ini."
Hanji mendelik. Memutar tubuhnya dan mengepalkan tangan kuat-kuat. Armin memandangi kegusaran yang tersemat jelas di wajah wanita berkuncir itu.
"Ta-tapi! Dia satu-satunya harapan kita, Sir! A-aku yakin Levi mampu—"
DAG!
Bunyi dua benda keras yang saling berpukulan satu sama lain mengakhiri argumen Hanji. Ia segera menutup mulut, namun hatinya masih sekeras baja. Pixis menggunakan tongkat kayu sebagai media final sebuah sidang terbuka, yang tentu saja hanya akan dimenangkan olehnya. Semuana ikut menundukkan kepala seolah berusaha melindungi diri dari amarah sang komandan.
Alasan faktual mengapa Levi hanya diterjunkan ke misi-misi di luar perbatasan adalah sebuah dalih. Implikasi dari keinginan untuk membuang sosok yang membuat sang putra tercinta meninggalkan dunia kejam ini begitu saja. Naas, mungkin dia tidak mati diterkam ataupun dimakan bulat-bulat oleh para Kaiju. Hanya—Wings of Freedom seolah berusaha menghukum hati dan fisiknya. Menyisakan penderitaan meski di tengah-tengah harapan bertahan hidup. Berikan ia guillotine, maka dengan senang hati ia akan menjadi Marry Antoinette. Sebab, hukuman mati jauh lebih meyakinkan untuk dilalui dibanding mengikis perlahan demi perlahan lapisan jiwanya yang telah terlebih dahulu meninggalkan jasmani.
Wanita ini menyadari berdasarkan intuisi feminism miliknya. Ia sering diperlakukan layaknya lelaki tak berperasaan, namun lihat apa yang terekam di balik rongga kacamata itu. Sedikit demi sedikit, apapun yang mampu dikumpulkannya akan menyusun bukti hidup yang menyakitkan.
"Melakukan hal ini sama saja dengan membunuhnya perlahan-lahan, Sir. Kau dan aku paham bila Levi dan Eren seharusnya berada di dalam Jaeger itu!"
"…"
"—DAN AKU YAKIN PUTRAMU JAUH LEBIH MENDERITA DIBANDING LE—"
"Quiet."—bisik Pixis di antara bibirnya yang mengering.
"—VI! ROGUE TITAN AKAN KEMBALI HANCUR UNTUK YANG KEDUA KALINYA!"
"I SAID QUIET!"
Mendengung seolah berada di dalam gua berstalakmit. Seketika, hening yang mematikan bahkan membiaskan berbagai macam bunyi dari mesin-mesin purwarupa dalam ruang kontrol. Armin bergidik dalam diam, ia menyadari kesalahan yang terbungkam di antara para pembesar Scouting Legion bertumpu hanya pada satu masalah saja. Karena itu, ia memutuskan tuk menjadi pendengar yang baik. Tidak—bukan ia seorang yang berpikir demikian. Kisah lama dalam buku kehidupan unit kesatuan ini mungkin akan kembali terbuka. Menceritakan sebuah judul telah terbakar dalam sekam oleh sang komandan.
"Aku sudah memberimu ancaman non verbal, tetapi kau tetap saja keras kepala. Di sini adalah aku yang berkuasa dan kau harus menerima hal itu, Mam." Ada getar di balik pita suara milik Pixis. Ia menoleh sedikit untuk menyaksikan raut wajah Hanji.
Hanji kembali membuka suara dengan ketegasan yang sama, "ini adalah realita, Sir. Suka ataupun tidak, Rogue Titan akan berusaha mengonsumsi apapun yang ada dalam memori Eren. Dan, kita berdua bahkan Levi sekalipun sudah tahu hal yang lebih baik daripada itu."
Pekikan Hanji menghempaskan banyak kenyataan untuk dibuka perlahan-lahan. Ada luka lama yang ingin dikorek kembali. Tanpa berbalik pun, wanita ini melangkah jauh-jauh, meninggalkan terlalu banyak pemikiran yang tak diselesaikannya. Ia sudah cukup muak. Terlalu muak. Langkahnya cepat-cepat dan terburu-buru. Amarah memakan logikanya.
"And, maaf karena sudah berbicara dengan suara lantang, Sir. Dengan segala hormat, Anda bisa mengeluarkan surat skorsing ataupun apapun juga jika menurut Anda perlu kepada saya. Selamat sore. Saya permisi dulu."
Katakan jika hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu adalah konsekuensi perbuatan di masa depan. Layaknya firman Tuhan yang tertulis di atas batu. Apa yang tergambar di wajah-wajah penuh tanya di sekeliling adalah bagian lain dari kisah yang membutuhkan jawaban. Banyak pasang mata bersamaan dengan bisik-bisikan mendengung sesat seketika. Armin, si bocah yang kali ini memimpin penyampaian komando dari atasan Shatterdome, lebih memfokuskan diri pada kenyataan pasti. Bukan soal masa lalu yang harus digorek kembali. Melainkan serangkaian gambaran yang berkedip-kedip dari salah satu layar analog kendali.
Senyum sedikit berkembang di sudut-sudut bibirnya. Pemuda itu sontak berbalik dan meneriakkan sebuah konklusi yang ditemukannya.
"S-Sir! Kuharap Anda bersedia melihat ini—"
Gerakan rotasi sonar analog berwarna hitam keabuan di layar Armin memerlihatkan titik biru kecil yang berpendar.
"We got her! We got her, Sir! Keberadaan The Lady Curse dipastikan berada tak jauh dari garis tepi pantai Wall of Kaiju!"
Sang kakek tua menghembuskan nafas panjang. Melemaskan otot-ototnya yang berkontraksi oleh amarah sesaat. Sudah saatnya untuk tidak lagi bertindak gegabah. Membuang jauh-jauh sisi emosionalitas yang menutup logika. Apa yang telah pergi dari dirinya hanyalah sebagian kecil dari masa lalu yang patut dikubur dalam-dalam. Membuka kembali peti mati kesedihan hanya akan memberi kemunduran mental. Berharap mampu mengendalikan segalanya, Komandan Pixis mengarahkan perintahnya untuk yang terakhir kali.
'I'm sorry, my son.'
Tak ada yang menyadari jika air mata telah membuat hujan di antara pejaman mata lelah miliknya.
The drift.
Sistem unik yang berhasil membuat dua manusia memiliki sebuah otak tunggal. Namun, disusun oleh belahan kiri serta kanan milik masing-masing pilot. Apa yang ada dalam benak salah satunya akan membuat layar baru di benak yang lainnya. Memerlukan hal khusus untuk membentuk sistem ini agar mendekati nilai kesempurnaan. Bukan pada kecerdasan absolut, stamina fisik, maupun tingkat spiritual di antara keduanya. Ada hal lain yang menjadikan the drift sebagai satu-satunya konektor dua hati, dua benak, dan dua memori antara dua pilot Jaeger.
The bond—ikatan.
Semakin erat ikatan yang terbentuk di antara keduanya, maka semakin kuat pula Jaeger itu bertempur.
Teori yang melankolis, namun memiliki tingkat validitas mencapai angka absolut.
Kaiju kategori V—lima. Disebut dalam riwayat peperangan yang terjadi selama berdekade waktu sebagai satu-satunya Kaiju dengan kemampuan destruktif di atas segalanya. Saat tahap awal pembangunan The Wall of Kaiju di atas pondasi baja bermateri titanium di sepanjang garis laut Atlantik hingga Kutub Selatan selesai dilakukan, naas tak ada yang tersisa saat Kaiju tersebut hadir di antara peralihan dua lempeng tektonik dasar lautan Pasifik. Peradaban manusia kembali berduka. Pemusnahan massal terjadi di mana-mana. Dua ratus kubik lebih hingga berjuta-juta ton pecahan tembok The Wall of Kaiju meruntuhkan dua pertiga kamp-kamp pengungsian. Mayat-mayat bergelimpahan di mana-mana. Di setiap sudut perkampungan, setidaknya mereka akan menemukan satu tubuh yang membusuk bersama remahan kulit Kaiju. Membutuhkan lebih dari lima ratus pekerja sukarela untuk diturunkan ke tiap pelosok hanya demi mengumpulkan korban-korban Kaiju itu. Sebuah prosesi penguburan massif dilaksanakan untuk menghormati mereka yang terlebih dulu telah meninggalkan yang masih hidup.
Tidak hingga Mark I ciptaan nanomachine engineer, Grisha Jaeger, diputuskan untuk diluncurkan. Program Jaeger dikerjakan berdasarkan kemampuan mesin berteknologi mutakhir milik kemiliteran UN. Disebut sebagai DARPA*.
Wakil Komandan Irvin Smith dan Korporal Muda Levi. Dua pilot yang saling berbagi segalanya saat berada di dalam balutan mesin raksasa Jaeger mereka.
Keduanya membawa Mark I yang tak bernama tersebut mendekati lempeng tektonik Pasifik. Berhadapan langsung dengan Kaiju kategori V. Tanpa sapaan, hanya pukulan telak di wajah Kaiju tersebut. Tusukan, robekan, hingga tinju membabi buta dihadiahi oleh raksasa Jaeger itu. Empat pasang mata menilai sistematika gerakan lawan. Sinergisme dua cerebrum yang kuat memberi keputusan strategi dan taktik sempurna. Namun, dalam suatu kesempurnaan selalu ada celah kecil yang akan membuka tabir ketidaksempurnaan manusia. Mereka bukanlah Tuhan. Itulah konotasi yang telupakan.
Sebuah kapal tanker muncul di antara deru ombak Pasifik. Sekumpulan pekerja yang hidup berharap jika mentari masih terbit dari arah Timur. Bahwa, ini bukanlah tanda-tanda akhir dunia mereka. Irvin, sang pilot utama, menyadari keanehan di area defensifnya. Tanpa meminta persetujuan pusat komando yang saat itu dipimpin oleh chief kesatuan Scouting Legion, Komandan Pixis, alih-alih meminimaliskan waktu penyerangan—ada hal lain yang mengganggu benaknya. Mode penguncian rotasi berhasil menyelamatkan kapal tanker beserta sekelompok manusia di dalamnya. Ombak yang menderu keras mengurangi visualitas sang Jaeger selama beberapa detik. Kala petir tampak bagai ion-ion yang menyebar di langit, di saat itu pula ada takdir yang baru saja Tuhan tulis di atas buku kehidupan.
Pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai.
'DAAR!
Levi terbangun dari sofa oleh sebuah mimpi kelam di masa lalu. Entah mengapa bulu-bulu kuduk miliknya berdiri tanpa disadari. Ia menoleh, menemukan hujan badai yang membutakan kedua mata obsidian itu. Jendela kaca secara otomatis memisahkan dirinya dengan lautan Pasifik di luar sana. Sejenak ia menekuk tubuh, memandangi ujung sepatu, dan memijit-mijit keningnya yang tak lagi nyeri. Efek minuman beralkohol mungkin, ia tak berani berasumsi. Sebab, rasa nyeri di sekujur tubuhnya bukan lagi bagian dari simtom sistemik yang saat ini menggerogoti sel-sel tersebut. Ia turut memadangi kedua telapak tangan yang masih pucat. Efek radiasi Jaeger terlalu menyeramkan, indeed.
"Sudah berapa lama aku tertidur?"
Masih dengan posisi tertekuk dan menyisakan arah pandangan yang terkabut oleh poni-poni rambut sehitam opal. Pria di awal-awal usia tiga puluh tahun itu menemukan bayangan hitam tak jauh berdiri dari sosoknya. Adalah Mike Zacharius, partner Jaeger sekaligus bertindak sebagai asisten tetapnya selama bertugas di Shatterdome milik kesatuan Scouting Legion. Rambut pirang dengan kumis dan jenggot, benar-benar tipikal pria dewasa yang mencintai hidup. Wajahnya terbilang menyerupai kaum hippies. Lagi-lagi, ia mengendus-endus sesuatu di udara.
"Hentikan hobimu itu saat berada di dekatku."
"Hh, sorry. Can't help it."
Sang korporal muda menegakkan posisi dan merapikan stelannya. Terakhir, ia melirik ke sisi sebelah di mana seember air es beserta kain putih yang terbias oleh merah darah tersampir di sisinya. Dibuangnya jauh-jauh prasangka yang kerapkali mendesak tuk keluar dari dasar perutnya. Ia bukan lagi seorang pemuda. Bahkan, terlahir di suatu masa terkelam pun mengajarinya tuk mengubur emosional berbentuk cinta. Selama beberapa menit, Levi menghiraukan aklamasi Mike. Ia tidak meminta pengulangan, namun segera menghentikan pria itu berbicara.
"Anything else?"
"—kau tidak mendengarku, bukan?" ujar Mike kalem. Menawarkan tatapan menyidir sembari melipat tangan.
"Tsk. Yang kau bicarakan hanya mengenai segerombol kaiju yang berusaha mendekati The Wall. Kita semua tahu tujuan awal monster brengsek itu adalah pertahanan terakhir kita." tutur Levi tak pusing. Ia membenarkan letak tumpukan berkas-berkas di atas mejanya. Berusaha menjauhkan mata dari partner Jaeger-nya.
Mike, tentu saja membenci konfrontasi yang tak sanggup dimenangkannya, terlebih dari sosok yang selama ini saling berbagi memori dengannya. Kendatipun demikian, ada hal kecil lain yang membuatnya merasa sulit untuk mengelak dari pria kecil di hadapannya itu. Mike, secara terbuka, berhasil mengomentari cara korporal muda itu mengatur baris kepemimpinannya, terutama saat golongan petinggi Scouting Legion mengikutkannya pada suatu sesi latihan combat pemilihan calon pilot Jaeger di institusi resmi bertitel Jaeger's Academy. Meski miskin verbal, ia selalu mahfum ada keinginan kuat yang tersirat dari mata lelah Levi untuk beradu tanding dengan bocah bermata zambrud itu. Pemuda cilik berusia tanggung yang mewarisi bakat DNA sang kakek dan ayahnya—pengukir sejarah dalam dunia teknologi peradaban manusia. Walau, pada akhirnya, pria berkumis ini harus menerima dengan keterpaksaan saat kakek tua nan botak bernama Pixis memisahkan Levi dan si bocah melalui sanggahan terbuka. Tak ada satupun pernyataan penolakan, baik di pihak sang korporal maupun si bocah.
Levi berhenti berharap dan meminta, begitu pula Mike.
Pria ini menghela nafas panjang sembari menggaruk-garuk tengkuk. Ia berbalik dan melangkah keluar.
"Then, aku akan menunggu di bawah."
"Huh?"
Langkahnya terhenti. Senyum lebar menghiasi wajah tua pria pirang itu, "we're gonna kick those Kaiju's asses."
Levi mendengus, menahan tawa kecut, "kau sangat payah dalam membuat lelucon, Mike. Tentu kita tidak akan ditu—"
"Yah, dibilang begitu pun, aku semakin tidak yakin." Tepat saat sirine Shatterdome kembali bernyanyi-nyanyi dengan nada monoton, kedua kaki besarnya menginjak panel tembus cahaya. Nyaris menghilangkan aroma dan bayangan miliknya. "Aku percaya kali ini kau akan benar-benar keluar. Dengan ataupun tanpa perintah si kakek. Bye, see you at the neural handshake—or someone else's brain. Haha."
Mungkin, mungkin saja, Levi melewatkan satu di antara banyaknya kalimat yang terlisan dari Mike. Jika saja—ya—ia lebih memerhatikan apa yang pria itu katakan, tentu gambaran nyata dari situasi saat ini takkan meruntuhkan sisi logisnya. Buru-buru ia menyalakan layar hologram yang secara langsung terhubung dengan kamera Shatterdome. Buruk, terlalu menyeramkan, seperti masa lalu yang terulang kembali. Bagai buku yang telah lama ditutupnya memilih untuk terbuka tanpa diminta.
Tiga Jaeger seolah menghilang ditelan kabut dan badai Pasifik. Hanya Rogue Titan yang masih berdiri sejajar dengan setidaknya dua ekor kaiju tipe semi-reptil di antara deburan keras ombak. Lengan-lengan baja miliknya menebas moncong serta ekor kaiju-kaiju tersebut sekaligus. Diakhiri dengan mosi rotasi dan teknik pengunci siku, dapat dipastikan kemenangan mutlak dipegang oleh sang Jaeger.
Kembali mengingat fragmen di masa lalu, ada postulasi yang menjawab begitu banyak pertanyaan. Sembari mengepalkan jemari kuat-kuat, sang korporal mengetahui hal paling fundamental yang selama ini kian mengacaukan benaknya. Alasan mengapa Pixis menyerahkan Wings of Freedom semenjak kejadian naas bertahun-tahun lalu padanya, jenis-jenis misi perburuan Kaiju di luar garis perbatasan north coast, kemudian—kenyataan bila Rogue Titan tak lagi diperbolehkannya tuk dikendalikan. Semua alasan yang ada berfokus pada satu titik. Meski telah menyadari hal tersebut sejak awal, Levi menganggap jika kematian Irvin Smith menjadi kandidat penyebab terbesar. Tidak, malah sebaliknya. Bukan pada kematian sang wakil komandan, namun tepat pada kemampuan lain yang dahulu hingga saat ini masih dimiliki oleh Jaeger tertua dari generasi Mark III tersebut.
Lalu, menjelaskan dan bertanggung jawab terhadap mode R.A.B.I.T yang kerap dialami Eren selama beberapa bulan terakhir ini. Ya. Selama bocah itu berada di dalam Jaeger-nya.
Kerutan kasar di persimpangan antara kedua alisnya mengindikasikan adanya kekecewaan yang bercampur emosi lain. Tak pernah sebelumnya, ia merasakan benih-benih ketakutan seperti ini. Seolah emosi-emosi yang berupaya dikuburnya dalam-dalam berusaha menyeruak dari dasar jiwanya yang telah terkunci rapat.
Kali ini, pria pemilik Wings of Freedom itu akan memastikan seorang diri bila kehilangan demi memertahankan peradaban manusia tak perlu terulang lagi untuk kesekian kalinya. Persetan dengan perintah maupun aturan yang mengikat. Baginya, nyawa Eren sama saja dengan separuh jiwanya yang terbawa pergi oleh Irvin di alam baka.
Sekali lagi, kengerian Pasifik akan menuai terlalu banyak darah kali ini. Levi meyakini hal tersebut. Sebab, prognosis pertempuran telah terlukis jelas. Bukannya terlalu hiperbolis, namun intuisi pria ini selalu berada di puncak segitiga rantai kehidupan.
Berada di antara timbunan tubuh Kaiju yang dikeringkan secara utuh menggunakan amonia adalah bentuk keisengan sesaat milik Hanji. Perbuatannya membuat aroma menusuk hidung bertebaran di seantero ruangan pribadi yang disediakan kesatuan untuknya. Tabung-tabung berisi potongan organ-organ vital Kaiju berseliweran di mana-mana. Belum lagi kabel-kabel serta kertas-kertas yang berserakan di sekelilingnya. Anggap saja dia adalah benar seorang kaiju groupies—panggilan Levi terkhusus padanya. Namun, inilah hidup yang dicintai sekaligus dibencinya. Menjadi peneliti Kaiju sama sekali tak pernah telintas dalam seribu mimpi masa ciliknya. Kecuali jika kaiju-kaiju yang berani dimutilasinya adalah sekumpulan monster menyeramkan yang telah berhasil merenggut nyawa orang-orang tak berdosa.
Ia masih normal, tentu. Masih berbentuk manusia, tetapi dengan otak yang tergila-gila dengan segala hal yang berbau kaiju. Levi menemukan wanita ini di sebuah bar mini saat misi terakhir bersama Irvin di Tokyo, Jepang, membuahkan kemenangan yang menghentakkan bumi. Hanji hanyalah seorang laboran di sebuah institusi biohazard milih swasta—yang secara tidak langsung sangat bergantung pada donator kaya raya. Tugasnya? Seorang pengendali sekaligus pengatur kadar toksisitas lingkungan akibat pengaruh buruk yang dibawa oleh kaiju-kaiju itu. Pemotongan gaji yang memalukan di akhir tahun menjadikan wanita setengah waras ini tenggelam dalam alkohol. Ia mabuk, begitu katanya, namun masih mampu mengisi teka-teki silang dengan cermat dan cepat. Ada ketertarikan tersendiri yang secara ajaib muncul di pikiran sang korporal muda kala wanita itu mencecarinya perihal teori-teori matematis berbau sains akan kedatangan kaiju di masa depan. Membawa pulang wanita gila ini akan menjadi kado paling mujarab untuk memulihkan kondisi Scouting Legion yang kian memanas akibat penurunan populasi manusia semenjak serangan kaiju kategori tiga di San Fransisco, USA, beberapa minggu lalu.
"Well, seperti yang kau lihat sendiri. Kaiju-kaiju ini akan mengalami evolusi. Artinya, tak lama lagi mereka akan mampu membaca pola penyerangan kita. Kurasa, pihak militer saat ini hanyalah sekumpulan tupai-tupai tak berotak atau mungkin saja—umm—chipmunk? Menggunakan peluru, katanya? Heh, membunuh kaiju kategori empat sama saja membuat kaiju baru. Hahahaha. Chipmunk—haha—dulu, waktu aku masih sangat mungil, ibuku membelikan seekor chipmunk untukku tapi yahh—malah kujadikan hewan percobaan untuk karneval sains sekolah. Sedih sekali nasibnya."
Levi memerhatikan tanpa minat, tentu saja. Meski Hanji tertawa terbahak-bahak seorang diri, ia terlalu sibuk mengamati perubahan warna pada wine dalam sloki miliknya.
"Hn. Kuharap teorimu memiliki bukti nyata."
"Huh? K-kau percaya?"
Seringai Levi mengakhiri pembicaraan di malam berhujan itu. Mantel hitam yang dikenakannya bagai sepasang sayap yang seolah menyembunyikan sosoknya di antara temaramnya sinar. Hanji menyipitkan mata, berusaha mengingat-ingat binatang nokturnal yang pandai melarikan diri.
"Meet me at the Tokyo Bay, 11 p.m. Biarkan petinggi Scouting Legion mendengarkan kisahmu itu, Mam."
Memutar kembali kaset masa lalu adalah hal yang paling dibenci Hanji. Saat ia meringsut bangun dari keterpurukan, yang didapatkannya hanyalah tatapan sendu seorang gadis berparas ayu bernama Petra Ral. Salah satu asisten teknokrat yang tergabung dalam usaha merestorasi Rogue Titan.
"Oui, Petra?"
"Umm. Aku sebenarnya memang berniat mendatangi ruanganmu, tetapi aku malah berpapasan dengannya. Jadi, aku punya dua alasan kuat mengapa aku berada di sini sekarang." Jawabnya diakhiri dengan senyum. Gadis ini selalu paham cara menyejukkan hati orang-orang yang kalut.
Wanita itu segera bangkit dan membereskan sisa potongan organ Kaiju yang melekat di jas laboratoriumnya. Ia menegakkan bingkai kacamata miliknya tinggi-tinggi.
"Memangnya ada apa? Dan—siapa sosok yang kau temui?"
Gadis manis itu tersenyum tipis, "Korporal Levi, tentu."
"That shortie? Di mana? Di mana? DI MANA DIAAA?" Spontan, peneliti kaiju itu melompat dan berlari menuju pintu. Memutar-mutar grendel besi berbentuk mirip stiran pada kapal tanker. Bukan sapaan hangat yang didapatkannya kemudian, melainkan tatapan kaget beberapa pekerja yang sibuk mendorong sisa ransum ke arah geladak bunker. Petra nampak menggembungkan pipi menahan tawa.
"Well, dia sudah pergi tentunya. Jangan khawatir, dia menitipkan pesan kok untukmu. Ah—"
"Oh ya? Apa yang dikatakan si pendek itu, huh? Aku curiga dia hanya membawakan surat permintaan pengunduran diri dari si kakek botak itu untukku. Hahaha. Yah, lagipula aku sudah tidak peduli. Kalau diusir pun, masih ada Shatterdome lain yang bisa kutinggali—or else." ucapnya sembari mengudikkan bahu tak yakin.
Si gadis berpakaian jas serta blazer pastel namun dilengkapi dengan bawahan semi militer itu melangkah mendekati salah satu pojok teraman di ruangan mungil milik Hanji. Ia menepikan diri sementara si peneliti berbakat tersebut merapikan sisa-sisa organ kaiju yang bergelimpahan. Susah payah ia mengangkat satu belahan otak sekunder kaiju yang berbau amonia kembali ke dalam tabung kaca. Buru-buru Petra ikut membantu kegiatan Hanji. Selama kurang lebih limabelas menit, acara bersih-membersihkan versi mini itu pun selesai. Hanji mengelap keringan yang bercucuran di dahi dan tengkuknya oleh kain bersih yang telah ditawarkan Petra.
"Merci."
"Sama-sama. Oh iya, aku jadi penasaran. Sebenarnya Hanji berasal dari mana? Soalnya dari tadi, kau menggunakan beberapa kosakata dalam bahasa Perancis." tanya si gadis manis setelah menerima segelas botol kaca berisi soda perisa lemon dari tangan Hanji.
Menghabiskan tanpa sisa bersama bunyi tegukan, lalu diakhiri dengan sendawa keras, gadis berkacamata kotak itu melanjutkan dengan kikikan, "yah, boleh dibilang aku ini setengah berdarah Perancis dan setengah berdarah Asia. Nenek dari pihak ibuku memang lahir di Lyon, tetapi kakekku bukan orang Perancis asli. Mereka memutuskan untuk hijrah ke Jepang karena ada propaganda ras saat itu. Hanya sebatas itu yang kutahu. Sedangkan ayahku berwarga negara Jepang. Hehe. Dan—kau melupakan dua alasan kenapa kau ada di sini, Petra dear."
"Ups, sorry. Itu yang sesungguhnya ingin kusampaikan padamu. Erm, aku ke sini karena—aku tertarik dengan satu hal." tuturnya seraya menyandarkan punggung di tepian meja tinggi. Kedua mata birunya mengikuti gerakan air dalam botol soda.
"Tertarik akan hal?" lanjut Hanji tanpa menoleh ke arah si gadis. Petra menawarkan senyuman—lagi.
"Tentang apa yang terjadi di antara kau, wakil komandan Irvin, dan juga—corporal."
"Oh. Oke." Hanji menaikkan alis tinggi-tinggi. Tidak terlalu tertarik dengan pangkal diskusi yang ingin dimulai oleh Petra.
"Suatu hari nanti, aku berharap bisa mengendarai Jaeger. Satu kali, aku pernah mengikuti simulasi percobaan pilot dan nilaiku lumayan bagus. Tetapi, komandan chief yang saat itu bertugas hanya memberiku jawaban singkat. Selamanya, aku tak bisa berada di dalam Jaeger. Awalnya, aku sulit memahami. Hingga suatu hari saat kaiju kategori IV muncul pertama kali di perbatasan garis perang Shatterdome ini. Aku—terlalu lemah dalam mengatur emosi dan perasaan. Kedua hal itu malah akan menjebloskan kita ke dalam mode R.A.B.I.T, bukan? Tapi, seandainya saja ada yang menanyakan hal ini padaku—dengan siapa aku ingin melakukan drift, spontan aku akan langsung menjawab—"
Hanji segera memotong, "—dengan Levi, yeah. Apa aku salah?"
Pipi si gadis memerah seketika. Wanita nyentrik bernama Hanji itu berbicara kembali, "asal kau tahu saja, dia itu mampu melakukan drift dengan siapapun yang dia mau. Percayalah. Err—kau tidak mau menghabisi soda itu? Hehe." Telunjuknya tepat mengarah pada botol soda dalam genggaman Petra. Sepertinya tidak laku.
"Oh, here! Haha. Kurasa, kau benar-benar kehausan ya, Hanji."
"Yeah, terribly. Kakek tua itu membuatku haus darah seketika. No, aku hanya bercanda. Hahaha. Tapi—kalau aku jadi kau dan benar-benar tergila-gila dengan si pendek itu—" Petra refleks menginjak kaki Hanji, "—ouch! Dasar kau ini. Yahh, selamanya sih tidak mungkin, bahkan sampai aku dimakan kaiju pun—aku sama sekali tidak menyimpan perasaan apapun padanya. Hmm, dia itu—terlalu sulit untuk dipahami. But! Kalau aku jadi kau, maka aku tidak akan bersedia berbagi otak dengannya. Never."
"Kenapa?"
Hanji melirik dari sudut ekor mata miliknya. Lalu, melihat ke arah kesepuluh jemari kakinya, "karena—berbagi memori dengan orang yang sama-sama memiliki masa lalu kelam itu tidak terlalu menyenangkan sebenarnya."
"Ada rahasia yang tidak ingin dibagi, itulah prinsipku. Kuharap, selamanya akan tetap seperti itu." sambungnya tanpa beban dan diakhiri dengan bibir yang mengulum senyum, "mengenai Irvin—aku tidak yakin dengan kejadian yang aktual, meski tanpa melihat pun, aku bisa menebak apa yang si pendek itu berusaha lupakan. Hahh. Sejujurnya, aku belum ditetapkan sebagai bagian dari kesatuan ini secara ofisial—setidaknya sampai kasus itu terjadi sih." Menggaruk-garuk tengkuk dan mengatur pandangan pada tentakel-tentakel otak sekunder kaiju yang bergerak-gerak dalam cairan tabung kaca, "Levi menginginkan kebebasan, maka dari itu, Rogue Titan diserahtugaskan kepada pilot lain yang lebih kompaktibel. Kini, Wings of Freedom adalah miliknya. Tetapi, aku yakin, suatu hari nanti si pendek itu akan berada di dalam Jaeger yang seharusnya tetap dipercayakan kepadanya. I believe it, no matter what."
"Kau—benar-benar percaya akan hal itu, Hanji?" konfesi ketidakyakinan mengubah air wajah Petra seketika. Buru-buru gadis itu menggelengkan kepala sebelum wanita yang saat ini mengajaknya beradu dalam pembicaraan menengok cepat ke arahnya. "Maaf, aku hanya—"
Hanji semakin melebarkan senyumnya, memerlihatkan deretan gigi yang putih, "croyant est chose fondamentale pour la derive.*" Dan, Hanji resmi menghabiskan dua botol soda lemon sekaligus. Dalam tegukan rakus dan membuang botol soda milik Petra ke sembarang arah, "ups."
Petra mengerutkan alis seraya melipat tangan di dada. Mengerucutkan bibir layaknya balita yang merajuk.
"Aku harus membereskan sampah-sampah ini jika saja kakek tua benar-benar akan menendang bokongku. Haha. Kau mau membantu, Petra dear?"
Gadis manis itu menggeleng-gelengkan kepala, namun cukup lega mendengar sedikit hal dari percakapan yang berlangsung selama beberapa menit itu. Mendekati pusat keramaian dari laboratorium Hanji, Petra menemukan sebuah ingatan yang menjadi titik awal keberadaannya di tempat ini. Sontak, ia mengobok-obok saku dalam jas miliknya dan mengeluarkan benda berbentuk kotak tiga dimensi berbalut besi perak. Diserahkannya benda aneh itu pada Hanji.
"Eh?"
"Ini—benda yang dititipkan Levi padaku. Katanya, masukkan saja kode sandinya, maka kau akan tahu apa maksudnya. Kurasa ada hal penting di dalamnya. Dan juga—ah! Gara-gara perbincangan ini, aku hampir lupa dengan alasanku kemari. Sebenarnya, Komandan Pixis sangat marah padamu, Hanji. Tapi—beliau memintaku untuk memberitahumu bahwa kau diberi akses memberi perintah pada Jaeger yang masih bertempur di luar sana. Seolah-olah, beliau merasa tertampar dengan argumenmu itu. Berkatmu juga, kurasa beliau menyadari sesuatu. Secara implisit, tentu."
Sekonyong-konyong, Hanji berbalik ragu. Melotot dan nyaris meremukkan benda berlendir aneh yang digenggamnya. Ada kilatan tajam yang seolah menyambar dari arah kaca di antara bingkai specs yang dikenakan olehnya. Rupanya, wanita itu kembali pada mode geek.
"K-k-kau tidak bercanda, bukan, hm Petra?"
Selangkah demi selangkah, dengan hati-hati dan teramat pelan, wanita berjas putih selutut itu mendekati Petra. Di sisi lain, si gadis menengok ke segala sisi, berharap ada hal yang mampu menyelematkannya dari terkaman predator aneh di hadapannya itu. Tetapi, bukannya mundur, ia memilih tuk berdiri tegap dan tersenyum cerah.
"AAAA! I-I-ITU ARTINYA SI CEBOL ITU AKAN TURUN! AAAA! HARUS CEPAT! HARUS CEPAT!"
"Huh? A-apanya yang harus cepat, Hanji?" tanya Petra dalam kebingungan. Dalam mosi secepat cahaya, Hanji menepuk dan nyaris mencengkeram kedua bahu gadis berambut pastel oranye itu. Wajahnya yang teramat dekat meski tertutupi oleh bayang-bayang hitam menyeramkan cukup menjawab pertanyaan yang segera muncul di benaknya. Si peneliti tertawa, terkikik, dan tersenyum-senyum tak wajar. Sebaliknya, yang merasa terintimidasi hanya menawarkan tatapan malas.
"Hanji?"
Tepukan dan usapan pelan di puncak kepala Petra mengakhiri percakapan keduanya. Hanji memutar tubuh gadis itu dan mendorongnya menjauhi ruangan yang disesaki dengan formulasi-formulasi mengerikan ciptaan sang creator. Hanji melambaikan tangan ke arah Petra sebagai salam perpisahan dan membanting pintu hingga menimbulkan suara berisik. Hasil dari perbuatan nyeleneh Hanji ialah gedoran-gedoran yang tentu saja berasal dari sosok yang berhasil diusirnya dengan ilegal.
Hanji nampak tak peduli. Ia memfokuskan sepenuhnya pada benda berbentuk kotak yang diserahkan Petra padanya. Milik sang korporal yang dititipkan padanya.
"Kuharap kau sudah memikirkan baik-baik akan hal ini, Levi. Dan juga—semoga rencanamu kali ini dapat membuahkan hasil. Yosh. Time to work!"
.
.
.
To Be Continued
Author's Note:
SUPER CLIFFY! YAAAAAY! #ditaboksamareaderberjamaah
DAN BARU BISA APDET! YAAAY! #dibuangkeangkasa :'D
Mohon maaf ya, semuanya. Saya baru nyelesaiin ujian di bagian bedah. Jadi ya, gini deh. #emotnyungsep
Untuk glossary-nya :
*) Hemisfer itu belahan otak. Istilah medisnya.*)
*) Cerebrum artinya otak.
*) Kaiju groupie itu sekumpulan orang yang terlalu maniak sama kaiju.
*)DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency) adalah agensi milik Departemen Pertahanan AS yang bertanggung jawab dalam pengembangan/riset tekonologi militer. Sesuai dalam filmnya juga (Pacific Rim), Jaeger awalnya dikembangkan dari proyeknya DARPA.
*) Mark I itu merujuk pada waktu pengeluaran si Jaeger itu. Semacam edisi gitu deh. Kebetulan kalau di penpik ini, saya jadiin si Rogue Titan sebagai Mark I. sedangkan di Pacific Rim sendiri, Gipsy Danger (Jaeger mainstream) adalah Mark III.
*) Croyant est chose fondamentale pour la derive dalam bahasa Perancis artinya percaya merupakan hal yang paling fundamental dalam melakukan drift. (kayaknya sih salah banget ya translasinya, maklum cuma pakai gugel translet). Hiks.
Okeh, jadi chapter ini hanya memusatkan pada para pembesar Scouting Legion. Hehe. No kiddos here. Wkwk. Juga, ada sedikit petunjuk mengenai kenapa ini dan kenapa itu (maksud lo?). Haha. Tapi endingnya bikin penasaran banget ya? (ditimpukin massa). XD
Ternyata saya bikin porsi Hanji jauh lebih banyak dibanding Levi sendiri. Nyahaha. Hanji itu berkarakter. Jadi, menggambarkan dia secara keseluruhan itu butuh imajinasi. Berkhayal soal wajahnya yang masuk mode nyeremin itu lho setiap kali dia ketemu Kaiju baru. Wkwk.
Buat Teteh Ambu, chapter ini mugi-mugi gak ngebosenin ya. Buat reader lainnya juga. Huks. :')
Duh, chapter ini cepet-cepet diselesaiin pas udahan sama ujian. Jadi, kalau ada yang ngerasa agak aneh (dan memang benar-benar aneh) sama chapter ini, saya minta maaf ya. m_m
Oke deh. Daripada saya nambah-nambahin count words-nya, saya tutup aja dulu ya sesi curhat colongannya author. Hihi.
Happy reading and reviewing! :D
