.

.

.

-4-

Bond

.

.

.


Monitor segiempat berbagai ukuran menyala dan melingkupi satu tubuh yang sedari tadi tampak memandangi diagram berhologram. Dipenuhi angka-angka binary yang rumit dan kompleks. Sinar dari arah layar memantul tepat di kedua kaca specs-nya. Sembari menggigiti kuku dan bergumam tak jelas, sosok ini tak sedetik pun memejamkan mata meski efek radiasi monitor akan semakin merabunkan mata miliknya. Sesekali pula, pemilik specs berwujud wanita berambut ekor kuda ini akan bangkit dari kursinya dan memukul meja penuh nafsu. Setelah duduk dan menghembuskan nafas panjang-panjang untuk menenangkan diri, barulah ia merebahkan tubuh di kursi roda yang didudukinya. Dengusan penuh kontradiksi menjadi penutup final atas begitu banyaknya realita yang dijumpainya selama kurang lebih empat jam berturut-turut.

Menengok ke belakang, jam dinding menunjukkan angka satu dini hari. Tak ada rasa ngantuk maupun lelah yang mengaburkan pandangannya. Ia setia dengan jenis pekerjaannya kali ini. Menginvestigasi keseluruhan transkrip data untuk diubah sepenuhnya menjadi file yang dapat dibaca oleh aplikasi pemutar video dan suara.

"Jadi, begitu ya."—menundukkan wajah dan membenarkan letak gagang kacamata yang selalu terjatuh dari puncak hidung. Meninggalkan wilayah dunia digital untuk sementara dan menuju dapur untuk menyeduh secangkir kopi. Punggung bersandar pada tembok yang dingin, bibir menyeruput kopi pahit, dan ada wajah yang menahan terlalu banyak emosi. Hingga airmata turut membasahi kerah jas putih selutut miliknya.

Sejak pertama—ya—awal perjumpaan keduanya. Wanita ini menyadari banyak hal yang selalu disembunyikan apik oleh orang itu. Dengan topeng tanpa ekspresi, tatapan mata lelah, bersama kata-kata yang menusuk—semuanya adalah dalih. Karenanya, ia cukup memahami bagaimana kehilangan karena kematian adalah pemegang rekor kesedihan tiap individu. Bukan oleh kematian itu sendiri, tetapi lebih kepada sosok-sosok yang tak lagi bersanding dengannya meski diminta berulang kali. Kekosongan justru mengisi ruangan yang tersedia. Sebab itu, Hanji—wanita ini—beringsut dari posisi awal, lalu terduduk diam hingga menangis layaknya seorang gadis yang baru saja kehilangan boneka teddy kesayangan.

Untuk beberapa menit, ia tetap di sana. Kantung berwarna ungu kehitaman di bawah mata hazel itu memberat tiap kali ia berusaha untuk membukanya. Namun, kesadarannya penuh kembali kala bunyi alarm yang bersumber dari arah pintu berbunyi tiga kali tanpa henti.

Memaksa diri tuk bangkit, Hanji melangkah mendekati arah suara. Melirik dari kaca penyusup, adalah wajah oval bulat disertai rambut oranye pastel yang tampak menyembul. Ada dua alis yang mengkerut dan diperparah dengan ekspresi super cemas.

Dalam kerelaan, pintu membuka perlahan. Tanpa basa-basi panjang, sosok gadis teknokrat yang beberapa saat lalu telah mendatanginya kian menghambur masuk. Memandangi ada bekas-bekas airmata dan cairan pekat jernih yang turun dari lubang hidungnya, pertanyaan besar membuat gadis bernama Petra Ral itu memeluk si wanita, "are you ok? Kau—terlihat sangat kacau, Hanji."

"Ha-ha. Aku baik-baik saja kok. Err—kurasa."

Senyum menjadi penawar hati dari Petra, "boleh aku duduk? Maaf, aku menginvasi kamarmu. Kau tahu, aku sangat capek kalau harus menggedor pintu baja laboratorium milikmu. Jadi—setelah menimbang-nimbang begitu lama, aku akhirnya berniat mengunjungimu lagi untuk yang kedua kalinya. Instingku berkata demikian." tutur gadis itu cepat. Ia mengambil salah satu sofa mungil untuk didudukinya. Si pemilik kamar yang kebetulan nampak dipenuhi kekalutan hanya memberi tatapan kosong. "Hanji, kau yakin kalau kau—baik-baik saja, bukan? Aku merasa—"

"Yeah, I'm fine. Hanya saja—kau mau kubuatkan apa? Dan—oh ya, maaf soal tadi sore. Aku terlalu bersemangat sampai-sampai mengusirmu begitu saja. Hahaha." Di balik tawa yang diumbar, ada nada pahit di baliknya. Petra menyadari akan hal itu. Ia justru kembali memeluk wanita di hadapannya.

"Katakan padaku jika terjadi sesuatu yang membuatmu menjadi seperti ini, Hanji. Kau tentu bukan satu di antara wanita-wanita yang mudah meneteskan airmata, 'kan? Kalau kau sampai begini, pasti ada sesuatu. Sesuatu yang teramat menyedihkan."

Hanji dituntun untuk bersantai sejenak di salah satu sofa. Petra terduduk kembali di sofa yang dipilihnya. Setelah menarik dan menghembuskan nafas banyak-banyak, wanita berkacamata kotak itu mengangkat wajah sembari membersihkan embun di kaca specs-nya. Ia membuka suara, "aku tidak tahu apakah ini salah atau tidak. Tetapi, aku percaya padamu, Petra. Sebelum membeberkan kisah yang sesungguhya, maukah kau untuk menyimpan hal ini dan tidak memberitahunya kepada siapapun? Kau harus berjanji padaku."

Wajah serius wanita itu membuat Petra meneguk ludah. Namun, senyum yang mengembang di bibirnya menjadi jawaban yang melebihi kejujuran itu sendiri.

"I will."

Sedikit meneleng ke samping dan menghampiri barisan monitor yang memenuhi meja kerja miliknya, Hanji mengambil sebuah benda berbentuk kubikel kecil yang tak lagi bersinar. Dengan hati-hati, ia meletakkan benda aneh tersebut di atas meja lain yang memisahkan dirinya dan Petra. Tak ada kata yang terdengar kemudian. Hanji membiarkan Petra membuat kesimpulan.

"Kau tahu benda apa itu? Kau yang menyerahkan padaku sore tadi, bukan?" Pertanyaan pembuka ini semakin meningkatkan rasa penasaran gadis yang kini berbalut pakaian istirahat, bukan lagi seragam semi militer harian. Hanji memangku dagu di antara buku-buku jemarinya. Memberi tatapan serius ke arah Petra. Kubikel mini itu berguling layaknya dadu catur dalam permainan jigsaw dan berhenti di tepian meja. Warna metaliknya terpantul oleh sinar lampu ruangan yang sedikit remang.

Gadis itu menggeleng lemah, "Korporal hanya menitipkan benda ini padaku. Sepertinya sangat penting, jadi aku tidak ingin berpikiran macam-macam."

"Hn, itu karena kau masih sangat polos, dear," Mendengar hal ini, Petra bersungut, "clue-nya adalah—blackbox."

Tepat ketika Hanji menyebutkan kata kunci yang nantinya akan memberi petunjuk besar arah pembicaraan keduanya, kecurigaan gadis ini bertambah dua kali lipat. Ia menggigiti bibirnya resah. Mengerutkan kening yang diakhiri dengan konklusi terbesar di benaknya. Spontan, hanya mulut yang tertangkup dalam tangan yang bisa ditawarkan gadis itu. Seolah, ia tak bisa mempercayai benda apa yang dititipkan Levi padanya petang tadi.

"Han-Hanji—ti-ti-tidak mungkin Korporal memiliki benda i—"

"Memang tidak secara resmi. Lebih tepatnya—si pendek itu mencurinya. Ya. Benda ini adalah microchip otak sekunder Rogue Titan. Berisi semua memori yang berhubungan dengan kejadian terbesar di masa lalu. Dan—si pendek itu memintaku untuk menyelidikinya. Untuk apa, sampai detik ini aku masih menduga-duganya. Yep."

Tabir rahasia terbuka perlahan. Mengungkap misteri yang akan membawa masa depan ke sebuah adegan di masa lalu. Menggiring apapun untuk dilahap secara utuh oleh memori-memori tak bertuan. Rogue Titan adalah bukti sejarah peradaban manusia. Namun, di saat kehancurannya menyebabkan penderitaan. Ada penjelasan yang akan terbongkar dari sebuah kotak kecil. Bagai Pandora box.

Let's bring the darkness back.

"Permasalahan yang kuhadapi kali ini adalah menemukan momen yang tepat untuk memerlihatkan kenyataan yang tak pernah terungkap selama kurang lebih sepuluh tahun belakangan. Tentang kematian Irvin, awal peluncuran Rogue Titan, hingga—huh—bagaimana Levi mampu bertahan hidup hingga sekarang. Nyaris tak ada satupun yang bisa kupahami. Yang kulakukan selama mengobrak-abrik data dalam microchip itu hanya melotot, menahan tangis, dan—menyaksikan memori yang sangat tidak menyenangkan. Kuharap si pendek itu sudah memikirkan matang-matang apapun yang tengah direncanakannya sekarang. Sebab, sudah terlambat jika ingin menarik kembali apa yang telah dikorbankannya." Hanji mencoba memberi penuturan. Tetapi, badai kekalutan masih melanda dirinya. Wanita itu melindungi diri dengan memeluk tubuhnya. Petra ikut terdiam. Turut memandangi kegelisahan Hanji yang tertutupi oleh pertahanan diri. Mengakhiri suasana tidak menyenangkan itu, ia lekas berdiri. Melangkah menuju dapur kembali. "Oh iya, kau mungkin butuh sesuatu untuk menghangatkan tubuhmu. Di luar benar-benar dingin. Brr. Anyway, kau ingin minum apa, dear? Kopi? Coklat?"

Perhatian si gadis membuyar. Ia pun berdiri tegap dan menahan sosok yang akan menghilang, "Hanji!"

"Huh? Apa?"

Kembali menggigit bibir bawahnya dan berpikir. Lama hingga bunyi alarm aneh berdenging membuat kepala berdenyut-denyut. Sontak, keduanya menoleh ke arah sumber suara. Yakni, tepat di salah satu monitor milik Hanji. Wanita itu melompat dan menganalisa cepat penyebab bunyi alarm yang membising ribut. Membuka data-data yang muncul sesaat setelahnya, Petra membuat suara.

"Itu—Wings of Freedom. Ya. Aku bisa tahu dari kode sinyal yang dilepaskannya ke udara. Sepertinya, Levi mematikan inti mesin."

Hanji melotot tajam, "apa?! Dasar si cebol itu! Apa yang ada dalam otaknya, huh? Mematikan mesin Jaeger selagi berada dalam lautan sama saja dengan cari mati!"

"Tidak kecuali ia ingin berganti posisi." lanjut si gadis tanpa berkedip. Terus memerhatikan titik koordinat Jaeger milik Levi tersebut. "Kurasa—kurasa ia akan bertukar tempat dengan kopilot Jaeger di depannya."

Melebarkan titik pelacakan dan memunculkan gambar analog dua Jaeger yang saling berhadapan. Hanji nyaris meremukkan mouse papan tombol komputer miliknya. Dalam suara yang hampir berbisik, ia berujar.

"Rogue Titan."


Alarm pintu gerbang Shatterdome terdengar bersautan. Memberi efek dengung yang memekikkan. Beberapa menit berlalu oleh bising sempurna yang nyaris melumpuhkan pendengaran manusia normal. Bukan secara kebetulan alarm terebut harus mengusir begitu banyak keributan yang kini mengacaukan poin konsentrasi para teknisi di dalam lapangan komando unit-unit Jaeger milik Scouting Legion. Mulut Shatterdome menganga dan memuntahkan sebuah kepala magnus dengan dua biji mata seluas lapangan tenis. Menyala-nyala dan berkedip bagai pohon natal yang berkerlap-kerlip di antara gelapnya malam suci. Warna biru metalik dengan perak baja nitrat saling memantulkan sinar yang berasal dari lampu sorot raksasa gerbang peluncuran. Saat bagian paling superior dari tubuhnya menyatu dengan pars inferior, bunyi desing layaknya peluit sasangkala kian meluruhkan serta menyepikan suasana seketika. Sekonyong-konyong, muncullah sebuah sosok raksasa dengan dua buah sayap yang siap menerbangkan mimpinya ke manapun tempat yang disukainya. Angin serta badai ombak Pasifik ikut mengiringi kedatangan dan kepergian benda berkonsistensi plat titanium murni setinggi delapan ribu kaki tersebut.

Wings of Freedom menyusul para Jaeger yang telah terlebih dahulu menyapa kengerian lain di tiap dayuh peluh Pasifik dan lautannya.

Persiapan neural handshake bagi Levi tak pernah sesulit saat ia harus berhadapan dengan sepasang mata turquoise hangat. Lalu, drift. Baginya, berbagi memori dengan siapapun adalah hal yang paling mudah. Kuncinya terletak pada satu poin. Ia tak membawa prasangka apapun terhadap calon partnernya. Termasuk membuang jauh-jauh memori masa lalu dan menyisakan kekosongan yang bersifat stabil dalam memory storage miliknya. Layaknya kartu penyimpan kenangan, pemrograman khusus akan bekerja tepat ketika perintah penghapusan sementara terlaksana. Jika disamakan dengan recycle bin dalam komputer, maka seperti itu pula cara otak korporal berwajah minim ekspresi ini bertindak. Luka-luka selama pertempuran adalah pengingat akan takdir yang mendekati kematian. Mengajarinya tuk tetap bertahan hidup, sesulit apapun juga, dan mengendalikan R.A.B.I.T. Apa yang tersimpan dalam hati maupun benak pria berusia tiga puluh satu tahun ini hanyalah misteri lain yang sulit terlihat saat proses drift berlangsung.

Teriakan massa dan serangkaian percobaan pemutusan jaringan konektor antara inti mesin Jaeger dengan pusat kendali dalam Shatterdome sama sekali tidak mengacaukan apapun yang telah terjadi. Selama drift berlangsung, maka raksasa bertubuh baja tersebut akan bergantung sepenuhnya pada dua belah otak pengendalinya, yakni pilot beserta kopilot yang telah mengalami penyatuan kolektif melalui transformasi neural handshake. Dalam kata lain, Jaeger bersayap ini diluncurkan tanpa komando resmi chief Komandan kesatuan, Commander Pixis. Lebih singkatnya, kabur.

Kegelisahan, kemarahan, dan kekalutan bercampur aduk menjadi satu seketika. Layar demi layar hologram milik pusat kendali Shatterdome yang kini dikuasai sepenuhnya oleh sang komandan memerlihatkan teknis Wings of Freedom melepaskan diri tanpa perintah. Sungguh mengesankan. Armin yang berusia paling inferior dibanding teknisi lainnya tersenyum diam-diam saat mendapatkan Jaeger bersayap tersebut sanggup bertahan dari serangkaian kesulitan peluncuran yang tidak secara utuh. Dibutuhkan kemampuan yang melebihi pengalaman seribu kali jam terbang agar proses drift tanpa disertai pengendalian velositas perjalanan syaraf dari satu kabel ke kabel lainnya dari luar tidak menyebabkan kerusakan di organ internal para pilot itu sendiri. Levi maupun Mike mengetahui pasti bagaimana Pixis mengatur pion serta bidak caturnya untuk tetap berada di atas papan yang dipenuhi dengan pasir magnetis. Tujuannya hanya satu hal dan korporal bertubuh mungil ini jauh lebih pandai dalam urusan melepaskan diri dari belenggu rantai sebuah permainan yang sejak awal merusak sistem pengaturan Jaeger. Sejarah berubah oleh perilaku diktator seorang kakek tua dengan kebencian yang mendalam dengan adegan demi adegan masa lalu saat Rogue Titan berjalan terombang-ambing di antara dua samudera dan dua benua hingga terdampar dalam posisi mengenaskan di puncak kutub. Menyisakan luka menyayat di hati satu-satunya pilot yang kini hidup dan membawa pulang serpihan tubuh Jaeger terkuat sepanjang masa tersebut. Seorang diri.

Mike Zacharius melewati begitu banyak jembatan berkelok berbentuk klise memori dalam mode penyatuan dua hemisfer otak. Terkadang ia menemukan secuil tampilan gambar beberapa manusia tak bergerak berwarna hitam putih yang menghilang dalam hitungan nanosekon. Ia tentu mampu membedakan memori milik siapa yang berseliweran dan berlarian ke sana kemari saat drift memberinya akses cukup besar terhadap isi otak partnernya itu, namun hasil yang cukup nihil menjadi titik final begitu kesadaran memaksanya tuk membuka mata. Hanya deburan ombak Pasifik disertai badai topan berkecepatan dua ribu knot yang setia menggantikan sapaan selamat datang.

'Aku yakin kau akan keluar dengan atau tanpa perintah dari kakek tua itu.'

Kata-kata itu kian terngiang dalam benak Levi. Seolah mendengung teramat jelas bahkan tak perlu berbicara sekalipun. Mike merasakan sejumput penyesalan, namun lebih banyak dibarengi dengan tamparan kenyataan yang sudah seharusnya diutarakannya sejak awal. Bahkan, jauh—jauh—jauh sebelum semuanya harus kembali terulang meski dalam kisah yang berbeda. Sepintas, pria itu mendapatkan Levi yang semakin mengeriputkan kulit-kulit wajahnya. Karenanya, ia hanya mampu menghembuskan nafas panjang dan ikut merasakan keresahan yang selalu terbaluti kekosongan di sana. Sekali lagi, ia berbisik kecil dalam bentuk doa walau tak yakin akan benar-benar dijawab begitu saja oleh-Nya. Menjadi pilot Jaeger pun, ia tetap berwujud manusia. Seorang hamba Tuhan yang kerapkali dilingkupi salah dan dosa. Kengerian di wajah pria ini tidak menjustifikasi hatinya. Buktinya, ia akan mengujungi kapel di akhir pekan untuk menemui Sang Pencipta. Menyebutkan begitu banyak nama untuk diberkahi selama hidupnya. Dunia yang kini ditinggalinya memang terlalu indah, tetapi kejam di saat yang bersamaan. Namun, ia cukup bersyukur dengan hal-hal kecil di sekitar. Sebab, sekali lagi, kilatan drift membawanya ke sebuah memori tua akan masa kecil sang pilot bermata opal itu.

'My Lord, gives us strength. Give him another reason to keep staying alive.'*)

Mode penyatuan memori diakhiri dengan kesuksesan. Berdiri tegak di antara deburan ombak Pasifik.

'Kita akan mengaktifkan mode penyelaman.' bisik Levi dari dalam benaknya. Sang kopilot mengangguk dan menerima instruksi sang pilot tanpa menyanggah satu kata pun.

Layar virtual berhologram berpiksel menampilkan situasi dalam bentuk digital akan medan tempur mereka. Dapat digerakkan sesuka hati dengan seluruh anggota tubuh para pilot Jaeger di dalam kabin kemudi. Warna biru yang menghambur di bawah kaki-kaki keduanya ditransfigurasi sebagai air lautan Pasifik. Dengan tenaga jet turbo yang menempel di punggung Jaeger tersebut, tingkat kecepatan penyelaman mereka nyaris mencapai sepuluh kali lipat kapal selam militer milik UN. Keputusan singkat Levi kali ini adalah bentuk perintah yang absolut. Mike, sang kopilot, memilih menautkan konsentrasinya secara maksimal pada sayap-sayap Wings of Freedom yang telah beralih fungsi menjadi selayaknya sirip-sirip ikan. Menembus deru ombak dari lautan luas di sekitarnya.

Mereka berada sejauh delapanratus meter dari pusat peluncuran Shatterdome. Selama itu pula, komunikasi di antara pilot Jaeger edisi Mark III ini terjadi melalui drift yang berjalan dengan mulus. Selain itu, ada kenyataan lain yang perlu dipertegas. Pelepasan yang ilegal memaksa keduanya bergerak sesuai insting.

"Levi, aku menemukan sesuatu."

"Show me." titah Levi terdengar monoton bernada rendah. Seketika pula, dari tampilan layar peta pengintai berbentuk lingkaran berlapis milik Mike menunjukkan lampu merah yang berkedip-kedip tiada henti. Setelah membuat kesimpulan, sang pilot memejamkan sepasang biji pualam hitam miliknya, lalu menghentikan langkah. Sosok kopilot di sisi kirinya turut mengikut. Turbin-turbin raksasa di sepanjang garis punggung metalik Wings of Freedom berhenti berputar dan tergantikan oleh sayap bersirip kecil. "Kita sudah berada tidak jauh dari Rogue Titan."

Kumis pirang Mike bergerak-gerak tak wajar, sel-sel penghidunya kembali menggila, dan pola endusannya mengalami perubahan drastis. Sontak, benaknya menjerit tajam, 'tung-tunggu, Levi. Kurasa ada yang aneh di sini.'

Monitor besar diturunkan dari celah di langit-langit ruangan kemudi pilot Jaeger secara otomatis. Menggantung tepat di antara kokpit pilot dan kopilot. Spontan, Levi mematikan sistem digital dan membuat mode penguncian persisten selama beberapa menit. Dengan begitu, gerakan Wings of Freedom tidak akan terombang-ambing meski tekanan bawah laut selama menyelam meningkat pesat. Hitam putih bergaris berkerlap-kerlip seolah ingin memunculkan sebuah gambar tiga dimensi. Kening sang korporal mengernyit tajam, menyipitkan mata, dan memastikan sendiri bila biji opal miliknya menemukan siluet wajah oval terbungkus helm plat hitam metalik. Mike, di sisi lain, mendesis. Menggumamkan kecurigaan perihal Komandan Pixis yang saat ini, tentu, berusaha memblokade sistem pelacakan Jaeger ini. Kekurangan yang sudah seharusnya diatisipasi sejak awal. Bahkan, Mike cukup berterima kasih pada si kakek tua sebab keduanya berhasil mencapai jarak sejauh ini dari garis batas Shatterdome tanpa bantuan pusat kendali inti.

"Pixis merencanakan sesuatu, Levi. Tetapi, sungguh gegabah baginya jika membiarkan kita berjalan tanpa tujuan, bukan?" Mike berasumsi lain. Menunggu beberapa sekon sebelum monitor analog memerlihatkan Eren yang bersusah payah berbicara. Sepintas, ada darah yang mengalir di pelipis-pelipis wajahnya meski terkaver sempurna oleh helm Jaeger-nya. "Sudah kubilang, 'kan? Kau pasti akan keluar dari sana dengan atau tanpa perintahnya."

'Th-thanks Lord!'

Pekikan rasa syukur bocah bermata turquoise dari balik monitor terdengar samar-samar dan sesekali terputus. Levi semakin mengerutkan kening.

"Kenapa kau mengontak kami, Eren?" Tanya sang korporal dalam nada minor yang menyeramkan. Bocah bernama Eren itu meneguk ludah, mencoba membuka suara sebelum pilot Jaeger generasi ketiga ini memotong lagi. Kebiasaan lama yang sangat buruk, "kau seharusnya tetap berada di bawah komando pusat kemudi Shatterdome." Tuntutan seorang hakim pada terdakwa semacam ini semakin membuat adrenalin Eren mencapai ubun-ubun kepalanya.

Monitor utama Jaeger memiliki sifat dua arah. Menggunakannya untuk melakukan komunikasi dengan Jaeger lain akan memutus koneksi ke pusat kontrol pemberi perintah yang dikuasai sepenuhnya oleh Komandan Pixis. Mencoba mengalihkan kontak akan berakibat terlalu fatal. Resiko terburuk ialah serangan tiba-tiba dari arah tak terduga meski dengan zona pelacakan milik Jaeger. Belum lagi gambaran analog milik Jaeger Eren dan Mikasa tersebut sangat bergantung pada fungsi manual. Contoh sederhananya, mobil mainan bergerak oleh pengendali remot. Namun, secara fungsional, benda tersebut takkan membuat pola kinetis tanpa manusia yang berperan sebagai pengemudi riil.

Salah. Mengingat siapa pemilik Jaeger generasi pertama itu, Levi seharusnya lebih waspada. Bukan pada keputusan imbisil bocah itu, melainkan alasan di balik pemutusan sepihak koneksi antara Pixis dengannya. Mengamati wajah Eren yang dipenuhi dengan peluh dan darah, ada pertarungan yang mungkin sulit untuk diakhirinya.

"Mike, kau bica melacak jumlah kaiju yang berada pada radius lima ratus meter dari Jaeger ini bertumpu?" titah Levi tenang. Ia kembali memagutkan mata ke arah layar monitor yang mengalami gangguan pengembalian sinyal. "Eren, biar kutanya sekali lagi. Kenapa kau memu—"

'Kor-corporal! Ka-kami diserang! Terlalu banyak Kaiju kategori I dan II yang mendekati kami. Sonar pelacakan manual telah dimatikan sesuai perintah Komandan Pixis!'

"Untuk itulah kau sebaiknya tidak bertindak bodoh dengan menghubungi kami, bocah. Jika aku adalah kau, kontak dengan pusat harus tetap berjalan dengan semestinya. Tsk—"

'Ti-tidak. Maafkan aku, Korporal. Te-tetapi, ada hal yang lebih buruk daripada itu.'

"Huh?" Levi semakin memicingkan kedua kelopak biji opalnya. Gerakan cepat dari kamera monitor milik Rogue Titan berbalik arah dan memerlihatkan suasana pusat kendali kokpit mereka. Sisi kiri kokpit merupakan wilayah yuridiksi Mikasa sebagai kopilot. Bising sirine samar-samar terdengar beberapa kali meski terganggu oleh sinyal yang terputus sesaat. Ion-ion elektris memancarkan cahaya berkerlip layaknya bola mini di pohon Natal. Plat-plat berinti platina yang berfungsi sebagai penghubung neural handshake milik kopilot Rogue Titan mengalami kerusakan minor. Akibatnya, perintah transmisi saraf antara otak Mikasa dengan Jaeger miliknya terputus total hingga seluruh gerakan motoris yang mengalir melalui serabut anterior*) inti penampang neuron tidak berjalan sesuai fungsi normal. Probabilitas sang kopilot lah yang mengalami gangguan tersebut sedari awal adalah konklusi yang dapat ditarik, hingga berdampat amat besar terhadap anggota gerak Jaeger yang dikontrolnya.

Tanpa mengkalkulasi jenis kerusakan yang terjadi pada Jaeger itu, Levi dapat memerkirakan sumber penyebab gangguan. Penggunaan senjata yang berlebihan diperparah dengan kaiju-kaiju yang seolah berlomba-lomba menyerang Jaeger Mark I tersebut. Perkiraan terburuk adalah seluruh jalur neuron yang mengatur gerakan motoris kontralateral sang kopilot akan melumpuh total. Sebelum kecurigaan Levi benar-benar terjadi, satu-satunya jalan keluar ialah dengan mengganti inti belahan otak yang lama dengan cerebrum normal.

Pertanyaannya saat ini yakni—dengan siapa Mikasa akan berganti tempat?

"Eren, apa kopilotmu masih dapat menggerakkan tangan kirinya?" Tanya Levi sembari mengecek cetak biru Rogue Titan melalui layar hologram miliknya. Suara klik kecil terdengar beberapa kali, bukti bila pria itu sedang menghitung besarnya kerusakan jika inti serabut motoriknya terganggu secara parsial.

Buru-buru bocah Yaeger itu memaksa sang kopilot mengikuti instruksinya. Namun, nihil. Sebagian besar penampang penghubung platina di sepanjang lengan kiri Mikasa seperti mengeras dan sulit digerakkan secara manual olehnya. Gadis itu memekik tajam di tengah-tengah usaha kerasnya mengangkat anggota gerak yang entah mengapa seolah terkena plegia—kelumpuhan—yang diakibatkan oleh korsleting neuron motorik sang Jaeger. Eren meneriakkan hal yang sama, tetapi lagi-lagi hasil nol besar semakin memperburuk kerutan kasar di wajahnya. Peluh serta darah kembali menetes walau dari balik kaca helm yang kini melindungi bagian kepala hingga leher miliknya. Suasana dalam kokpit kendali berubah drastis. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa beberapa kaiju yang berhasil menukik tajam ke arah mereka setengah jam lalu menyerang secara bersamaan. Alhasil, perubahan pola serangan yang tersusun dalam otak Mikasa dan Eren menghasilkan loncatan-loncatan ion abnormal di sepanjang jalur saraf motorik mereka. Kesepakatan tidak sinergis adalah penyebab utama. Akan tetapi, Mikasa lah yang harus menganggung efek sampingnya.

Bunyi mendenging bertalu-talu membuat sang korporal berbalik cepat. Memandangi Mike dalam ketidakyakinan.

"Levi, satu kaiju kurasa telah mendekati garis pantai The Wall. Lalu—tiga kaiju lainnya masih mengelilingi Rogue Titan. Tampaknya, belum ada serangan lagi sejak Jaeger mereka tidak bisa digerakkan dengan normal," ujar pria berkumis itu dengan tatapan tajam. Memerlihatkan bintik kemerahan berjumlah banyak di sebuah symbol segitiga bernama Rogue Titan, "apa yang harus kita lakukan?"

"…"

'Korporal! A-a-apa yang harus aku lakukan?' pekik Eren putus asa.

"Kita berada dua ratus meter dari Rogue Titan. Kuharap ada hal yang bisa kita lakukan sebelum—kaiju-kaiju itu mendekati kita, Levi." Tepat saat Mike menengok kembali ke depan, benturan keras terasa hingga membuat baik tubuhnya maupun sang pilot terhempas ke belakang. Tubuh Wings of Freedom menabrak puncak bebatuan dari dasar lautan Pasifik. Suara ombak dan deburan air dalam mode penyelaman membias seketika. Alarm darurat kembali berdenging ribut. Sonar Jaeger generasi ketiga tersebut memerikirakan sejumlah lebih dari tiga kaiju berukuran kecil berenang membentuk gerakan rotasi di hadapan keduanya. Ekor salah satu kaiju tipe akuatik digunakan untuk menampar wajah dan dada baja sang Jaeger yang belum sepenuhnya bangkit dari posisi terduduk. Namun, tangan-tangan cepatnya menangkap ujung sirip ekor milik kaiju tersebut dan membantingnya pada batu-batu magnus. Sontak, kaiju itu hilang kesadaran beberapa saat dan dimanfaatkan oleh Levi sebagai pengganti bat pemukul.

Pose bertarung Levi dan Mike bertumpu pada kuda-kuda ala Shaolin. Saat kaiju lain berusaha menyerang dengan cakar-cakarnya yang tajam, tubuh kaiju tipe akuatik di genggaman sang Jaeger menahan cengkeraman kuatnya, seolah berfungsi layaknya tameng. Walau sisa tubuhnya pun akhirnya tercabik-cabik, mode penguncian siku serta martil bertenaga radioaktif ditembakkan dari telapak tangan hingga menembus perut kaiju tersebut. Cairan kehijauan menyebar di antara likuid bening lautan Pasifik. Agar pandangan tidak terdistorsi oleh bahan pekat milik para kaiju ini, bergerak menjauh adalah satu-satunya opsi.

"Masih ada satu kaiju lagi, Levi." Mike memperingatkan partnernya dalam kewaspadaan. "Yang ini kurasa terlalu merepotkan. Sebab—"

"—it has wings like us." lanjut sang korporal. Dengusan Mike mengakhiri percakapan singkat keduanya. Layar monitor pusat yang baru saja menghubungkan keduanya dengan Rogue Titan mengalami pemutusan sinyal sempurna. Gambaran digital yang tersisa menjadi penunjuk terakhir untuk mengetahui keberadaan Jaeger generasi Mark I tersebut.

"Yeah. Benar-benar merepotkan. Che."

'GRAAAAAAAAAH!'

Pekikan kaiju bersayap menembus lautan gelap Pasifik yang diliputi oleh angin badai. Hujan yang menderas menjadi bukti bila langit sedang tidak berpihak pada Jaeger-Jaeger itu. Gemuruh yang meluluhlantakkan bumi mengiringi kepergian Wings of Freedom dari dasar lautan dan menemui dunia luar tanpa setitik cahaya. Kanvas langit tampak jauh lebih luas kali ini. Kaki-kaki kaiju tipe reptil bersayap itu mengangkat tubuh Jaeger milik Levi dan Mike ke angkasa. Setelah berada setinggi mungkin dari permukaan air, sontak kaiju tersebut menjatuhkannya tepat di atas puncak bebatuan yang nampak. Bunyi benturan keras mengakibatkan adanya ombak kecil yang berpusar tiba-tiba. Nyeri yang menusuk mengalir di poin yang sama di sepanjang garis tubuh makhluk kerdil yang mengendalikan Jaeger ini dari dalam.

"Shit! It hurts like hell!" Sumpah serapah Mike menggaung dalam otak Levi. Memilih bangkit, pria blondy ini sigap mengeluarkan senjata terbaik Jaeger miliknya. Dua buah sayap berinti titanium metalik mengembang di atas lautan samudera yang tak tenang. Turbin-turbin pemutar diaktifkan dengan kecepatan penuh hingga menciptakan letupan api merah di antara sayap-sayap yang bergerak. Hanya butuh sepersekian detik hingga kaiju dan Jaeger bersayap tersebut berhadapan sejajar.

Wings of Freedom mengambil inisiatif terlebih dahulu. Menyerang kaiju di depan keduanya dengan tangan terbuka. Layaknya pemain sumo, tahanan tubuh sang Jaeger yang jauh lebih kuat sukses mengakibatkan kaiju tersebut tersungkur jatuh ke dasar laut. Putaran hingga rotasi di tubuhnya sanggup melumpuhkan musuh yang masih mengatur kesadaran di bawah sana. Lagi, pekikan menggaung dari pita suara milik kaiju itu adalah simbolisasi dari respon penyerangan balik berbentuk penerbangan yang lebih tinggi meski kilatan petir dari arah langit hitam pekat nyaris menembaki tubuhnya sendiri. Gerakan manuver berputar diarahkan pada Jaeger bersayap tersebut. Alih-alih menghindar, cakar-cakar kaiju bermuka unggas ini tertancap sepenuhnya pada punggung sang Jaeger. Merobek, mencakar, dan mengiris sayap-sayap titaniumnya hingga meluruh jatuh. Levi melepaskan sisa sayap yang ada dengan perintah manual untuk membebaskan diri dari cengkeraman mengunci milik kaiju kategori dua itu. Dengan paruhnya yang tajam, sontak lambung mesin Wings of Freedom dikoyaknya, namun belum sempat merusak bagian terpenting dari pusat distribusi energi Jaeger.

Sekumpulan turbin raksasa di tubuh sang Jaeger berputar maksimal. Menghasilkan api yang memaksa kaiju buruk rupa itu melepaskan cakar-cakarnya dari tubuh Wings of Freedom. Sulit untuk mengontrol kecepatan jatuh dalam posisi horizontal dengan wajah menghadap langit. Levi dan Mike sama-sama merasakan efek gravitasi layaknya melakukan bungee jumping tanpa tali pelindung. Dari arah kejauhan sana, kaiju yang murka terbang menukik hingga menyebabkan benturan antara dua tubuh berbeda materi. Sekali lagi, masih dengan cakar-cakar di kedua kakinya, diangkatnya kembali tubuh sang Jaeger menuju langit dan menembus atmosfir bumi.

"Levi! Kaiju sialan ini membuat kita berada di luar batas lapisan stratosfer! Inti energi mesin akan mati jika kita menembus lapisan lebih daripada ini!" pekik Mike. "LEVI!"

"Quiet!" teriak sang pilot dengan nada mayor. Sosok kopilot di sebelahnya terdiam seketika. Terlihat jauh lebih pasrah dengan keadaan. Tanpa banyak mengumbar kata, Levi menggerakkan lengan kanan miliknya seolah berupaya mengeluarkan sesuatu dari arah sana. Potongan demi potongan pisau baja menyatu hingga membentuk pedang raksasa yang melekat sempurna di lengan Wings of Freedom. Mike mengikuti gerakan sang pilot. Ia selalu lupa dengan senjata yang tersembunyi apik dari dalam tubuh Jaeger-nya itu.

Dengan satu kali tebasan, posisi selayaknya melemparkan tali pancingan ke lautan luas, dan suara memekik tajam kian mengudara di sekitar mereka. Sontak, suasana tanpa gravitasi di luar batas atmosfir bumi membiaskan segala suara dan meredamnya. Jatuh perlahan-lahan, melambat, lalu mengikuti pola gravitasi bumi saat mencapai lapisan ozon. Aroma hangus terasa membakar plat-plat baja Wings of Freedom.

Sebagai permohonan terakhir, Mike Zacharius menoleh memandangi sosok pemimpin yang dihormatinya lebih dari apapun juga. Bahkan, sejak pertama kali keduanya dipertemukan oleh suatu even di masa lalu. Bagaimana kedua biji opal milik sang korporal muda yang selalu tampak remeh, merendahkan, lelah, dan menyembunyikan banyak misteri di dalamnya; menatapnya dari sudut yang sulit untuk ditebak. Cara pria itu berpikir, mengungkapkan asa, dan menampilkan emosi hanyalah segelintir misteri yang tiada siapapun dapat menebaknya. Jika saja—ya—pria mungil ini lebih membuka hatinya setelah masa lalu terburuk dalam hidupnya berakhir, ia akan menjadi manusia dengan sejuta kebahagiaan.

'Maafkan aku, Corporal.'

Drift keduanya memerlihatkan sepotong memori di suatu masa teramat lampau. Mike menyadari memori itu bukanlah miliknya. Diawali dengan seorang anak perempuan yang tengah berlarian memutari pemuda berusia belasan tahun. Musim salju membuat kedua sosok itu kian tersenyum, terutama saat pemuda yang mungkin saja adalah abang si gadis membuatkan untuk si gadis sebuah boneka salju berbentuk teddy. Potongan lain ikut berhamburan. Kali ini adalah api bersama asap hitam pekat mengelilingi satu blok perumahan. Ada suara tangis menyayat sembilu menjadi nada penutup memori. Sebaris pasukan berzirah mendatangi rumah kayu di antara tumpukan salju. Mendobrak isinya dan menyisakan lenguh tangis seorang wanita paruh baya. Ada bocah bermata sehitam opal menyaksikan sesi hukuman mati di hadapannya. Barak-barak kemiliteran. Penyerangan kaiju. The Wall. Senjata api dan tank-tank di sepanjang jalanan ibukota. Balas dendam. Pemusnahan suatu kaum. Irvin Smith. Jaeger. Rogue Titan.

Rogue Titan.

Irvin Smith.

'NOOO!'

Hingga teriakan penuh keputusasaan. Milik Levi.

Sebuah Jaeger dengan kondisi tubuh yang tak lagi utuh. Berjalan seorang diri. Hanya mengikuti insting. Dan terjatuh di daratan es membekukan pulau arktik.

Mike Zacharius melihat segalanya. Sudut paling gelap dari memori sang korporal. Seakan terbuka dan lepas begitu saja. Tanpa disadarinya, air mata meleleh dari sudut-sudut sana. Mungkin—ya—inilah alasan rasional atas kemampuan sang pemilik memori dalam melakukan drift-nya. Semudah membalikkan telapak tangan.

Yang pada akhirnya, keduanya disapa oleh sosok benda berukuran lebih magnus di bawah sana. Rogue Titan yang berhasil direstorasi di bawah komando sang chief commander, Dot Pixis, menyangga jatuhnya sebuah Jaeger dari langit. Just like—the angel from the sky.

'Levi, I got you.'

'Ir-Irvin?'

'Corporal! Paman Mike! Kalian baik-baik saja?!'

'Tidak. Itu bukan kau. Itu—'

'Cor-corporal!'

"Brat. Levi, Eren. Panggil aku—Levi."

'Syu-syukurlah. Kurasa, waktunya sangat tepat saat Wings of Freedom terjatuh dari atas sana. Akan sangat buruk nantinya jika kalian kubiarkan jatuh tanpa pengalas apapun juga. Hei, Mikasa—kalau bukan karenamu, mungkin saja—'

Suara milik Eren semakin mengecil dan mengecil. Menyisakan sepi yang begitu hening. Levi melirik ke samping, di mana sang partner tampak menengadah menatap langit-langit. Tersenyum kecil lalu tertawa menahan kesedihan.

"Kita menang, Levi. Kita menang." bisik pria berkumis ini lega.

Kalkulasi bocah yang lebih mementingkan insting dibanding kenyataan yang ada menjadi kunci pembuka rahasia yang selama ini tersimpan dalam memori Rogue Titan. Meski mahfum sulit menggerakkan anggota tubuh yang bersifat kontralateral dari pengaturan sang kopilotnya sendiri, ada kekuatan lain yang seakan mendesak tuk segera bangkit. Membuat Jaeger itu berdiri menjulang kembali dan menjadikan tubuhnya sebagai wadah agar Wings of Freedom tetap utuh. Ombak raksasa sontak mewakili efek samping tekanan tinggi dari beban yang kini ditahan sempurna oleh Jaeger generasi satu tersebut.

"Ya, kita menang."

Ada hal lain yang perlu perhatian lebih sesaat kemudian. Setelah menegakkan posisi tubuh, Jaeger Levi tersebut berbalik dan berhadapan dengan Jaeger generasi satu milik Eren dan Mikasa. Saling mendekatkan diri hingga terdiam sempurna. Mike menyadari keputusan sang pilot. Hanya mengangguk lemah, lalu menyiapkan pelepasan neural handshake di antara keduanya. Mesin Wings of Freedom telah dimatikan secara keseluruhan oleh perintah masing-masing pilot. Sebelum mengucapkan salam perpisahan, korporal berusia tiga puluh satu tahun itu menyisipkan beberapa pesan saat keduanya mencoba mengakhiri drift yang terkoneksi selama kurang lebih dua jam. Pantulan sinar wajah pria itu membiaskan banyak ketakutan meski memori-memori menyedihkan di masa lalunya menjelaskan karakter dirinya saat ini. Menegaskan siapa ia sesungguhnya.

"Apa yang telah kau lihat tidak memiliki arti sama sekali. Semuanya hanya berupa memori. Yang tersisa adalah masa depan. Fight the scream by looking at the future.*)"

Mike menarik sudut bibirnya, lalu mendengus. "yeah, I got it."

Detik berikutnya, Levi membuka pintu terowongan di puncak kepala Wings of Freedom. Menghadapi seorang diri badai Pasifik yang murka.

Dalam jarak sedekat ini pun, sang korporal masih merasakan degup jantungnya berdentum semakin gila. Kedua mata Rogue Titan bersinar terang dan seolah ingin melahapnya dalam ketakutan yang abadi. Tidak. Tentu, tidak. Alasan mengapa ia rela melepaskan Wings of Freedom adalah ikatan yang muncul kembali setelah sekian lama direbut dengan paksa oleh seseorang di masa lalu.

No more fear.

No more tears.

No more. No more.

"EREN! BIARKAN AKU MENGGANTIKAN POSISI KOPILOTMU!"

Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

.

.

.


To Be Continued


Author's Note:

Glossary :

*) My Lord, gives us strength. Give him another reason to keep staying alive—Tuhan, berikan kami kekuatan. Berikan ia alasan lain untuk tetap hidup.

*) Serabut anterior itu kalau kita dilihat medulla spinalis (perhatikan anatomi saraf tulang belakang) berfungsi sebagai saraf motorik. Anterior itu sendiri artinya depan.

*) Fight the scream by looking at the future—lawan ketakutan dengan memerhatikan masa depan.

Dialog yang diitemin (bold) bukan dari masa sekarang ya, tapi dari masa lalu. Cring, cring.

Dengan apdetnya chapter empat, maka untuk sementara waktu saya akan menghilang lagi. Wuehehehe. #dibuang

Mungkin plotnya dipercepat ya, soalnya gak mau jadi banyak chapter. (ye itu kan salah elo sebagai penulisnya) Gomen, gomen. Karena ditambah juga, masih panjang juga kalau mau nyampe ke main event-nya. Hihi.

Di chapter ini, Wings of Freedom bisa diluncurkan tanpa perintah ataupun aba-aba dari pusat kendali Shatterdome. Aslinya sih gak bisa ya. Wong, yang ngelepasin baut-baut kawatnya siapa hayo? Nyihihi. Tapi di penpik ini, anggap aja bisa ya. LOL #makindibuangkeangkasa

Makin kebuka kan rahasianya? Tentang apa ini dan apa itu. Terus, hurray! Levi punya spot khusus di chapter empat. Yay! XD

Secara keseluruhan, di chapter ini sudah mulai membuka perlahan demi perlahan misteri yang sempat saya uraikan di chapter terdahulu. Nantinya, akan ketebak sendiri gimana endingnya. :3

Segitu dulu ya dari saya. Review sangat diapresiasi. Sankyuu. :D