.

.

.

-5-

Resolution of Truth

.

.

.

Kita membenarkan sebuah teori. Alien datang ke bumi untuk melakukan serangkaian percobaan. Mereka berasal dari celah-celah dimensi galaksi di angkasa luar. Menempuh perjalanan dan ekspedisi terpanjang sejarah peradaban kaumnya guna menemukan suatu dunia baru. Tujuannya apa masih berupa pertanyaan-pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban. Siapa saja dapat berasumsi, berkonklusi, hingga meramalkan dengan energi spiritual non sains. Lempeng benda asing yang tiba pertama kali ke bumi dan mengadakan kontak dengan manusia dimulai sejak berjuta-juta tahun lalu. Jauh sebelum pilar-pilar Piramida hingga Stonehenge secara ajaib berdiri tegak di atas daratan pasir maupun tanah landai. Sesungguhnya, manusia memiliki batas intelegensia sehingga memecahkan misteri berdirinya bangunan-bangunan mezolitikum semacam itu hanya akan diakhiri dengan perdebatan tak berusai. Itulah yang berputar-putar dalam benak masing-masing manusia.

Tetapi tak adakah satu manusia pun di luar sana yang menduga-duga hal yang sebaliknya? Bagaimana jika alien-alien tersebut hidup dan berevolusi tepat di bawah kaki kita sendiri? Jauh, jauh, amat jauh dari inti bumi. Kedatangan perdana makhluk-makhluk setengah reptil diprakarsai saat lempeng bumi masih terlalu rapuh. Menumbuhkan benih-benih DNA mereka yang masih sekecil mikroorganisme. Akibat perubahan susunan genetik disertai begitu banyaknya mutasi yang terjadi di alam liar bumi menjadi dasar penyebab ukuran tubuh yang menyentuh angka ratusan kaki dari dasar laut. Ekosistem yang sangat bergantung pada senyawa karbon dipercaya adalah rumah terbaik para Kaiju—alien yang berdiam diri di sebuah dimensi antara dua lempeng tektonik Pasifik.

Sejarah mencetak banyak replika masa lalu meski tak dibarengi bukti otentik. Tulisan-tulisan tangan manusia, baik gambar hingga sandi morse—semuanya ingin memberi suatu peringatan kepada mereka yang akan hidup di masa depan. Scouting Legion mempelajari dan memercayai tanda-tanda peringatan para leluhur. Mencoba memecahkan dengan kemampuan struktural mereka rahasia di balik penyerangan submisif monster-monster bertaring tersebut. Menilai bentuk penyerangan yang semakin terampil seolah mereka turut mengikuti pola tingkah otak manusia bekerja. Bagi para anggota kesatuan pemburu ini, kaiju hanya segelintir masalah sosial, politik, serta kemanusiaan yang sesungguhnya. Refleksi tak riil dari cara Tuhan mengakhiri dunia yang telah diciptakan-Nya.

Rosario yang dikenakan pemuda tujuh belas tahun ini mengingatkannya pada satu hari sebelum kaiju kategori IV merenggut nyawa ayah ibunya. Benda kenangan di malam Paskah. Saat pembangunan The Wall diakhiri dengan gegap gempita serta sorak kemenangan, tak ada yang menyadari bila keesokan hari kala sinar mentari menyingsing di perbatasan horizon, semuanya akan berubah. Menghentikan apapun yang sanggup untuk diakhiri. Restorasi The Wall menjadi wacana bualan semata. Sebab, dugaan kekuatan beton-beton setinggi ribuan kaki itu tidak membuktikan apa-apa. Runtuhnya sang tembok oleh kaiju hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang membiaskan mimpi. Pemuda ini masih berusia tujuh tahun dan di saat yang bersamaan, status yatim piatu harus pula ditelannya bulat-bulat. Armin Arlert adalah nama pemuda itu.

Kedua mata biru lautnya tergenang oleh tamparan masa kini. Bukan airmata yang mengaburkan pandangan, melainkan pemandangan visual atas dua Jaeger yang saling berhadapan seolah mencari pertolongan Tuhan. Sosok kecil di puncak Wings of Freedom mendekati Jaeger generasi satu di hadapannya. Menapak di titian jembatan penghubung antara dua Jaeger. Tutup terowongan di puncak kepala Rogue Titan membuka, seakan menelan ososk manusia yang melompat tanpa beban ke dalamnya. Sulit untuk dipercaya, tetapi hanya itulah satu-satunya cara agar rencana tetap berjalan di atas kendali penuh. Pemuda ini tak dapat menyanggah keputusan korporal muda yang tergabung dalam kesatuan Scouting Legion saat usianya masih terbilang cukup muda—lima belas tahun. Sejarah pernah menyebutkan bila kemampuan drift pria berpostur sedang itu sebaik pilot-pilot Jaeger pro walau usia miliknya tepat terhitung di angka yang teramat kecil. Usia tidak membuktikan apapun. Dalam urusan mengendalikan Jaeger, yang dibutuhkan hanyalah keunikan tersendiri dari masing-masing pilot. Kecerdasan, kekuatan, dan kepemimpinan adalah omong kosong. Petinju kelas atas, doktor di bidang sains, hingga Presiden sekalipun gagal dalam uji coba kontrol mesin perang berukuran gigantik itu. Kemampuan membuat koneksi memori dengan partner Jaeger adalah keutamaan di atas prioritas.

Levi mengandalkan ilmu naturalisme sehingga proses drift berlangsung dalam ukuran pikosekon. Membiarkan memori masa lalu dan masa kini mengalir layaknya air terjun. Kekhawatiran blokade memori oleh pengejaran R.A.B.I.T terletak pada keinginan si pilot untuk tetap menerima kenyataan di balik kenyataan. Saat berada dalam posisi neural handshake, seluruh panca indera pilot akan terhubung sepenuhnya pada baut konektor berinti transmisi sinyal buatan. Emosi, perasaan, dan logika sang manusia di dalamnya akan direkam oleh memori milik Jaeger. Jika tahanan pilot melenceng selama proses drift, yang pasti dan akan terjadi, maka Jaeger akan bertindak berdasarkan insting naluriah. Mencoba memertahankan kestabilan kondisi psikis yang terenggut oleh stress emosional. Singkatnya, memori yang tampak kembali bagai potongan adegan film oleh kelima indera sang pilot akan dianggap oleh Jaeger sebagai musuh. Sebab, jauh sebelum itu, keinginan terpendam yang terekam secara otomais dalam memory storage manusia akan ditransfigurasi sebagai perintah. Dan, Jaeger akan dengan mudah menghancurkan apapun yang tentu saja diartikan sebagai sebuah ancaman. Baik di alam memori maupun dunia riil sekalipun.

Tak ada yang berani berbuat dan bertindak di tengah-tengah kondisi tak terkendali seperti saat ini. Jam perang berukuran magnus milik Shatterdome wilayah North Coast yang masih bergerak adalah bukti bila masih ada pertempuran yang belum usai. Komandan Pixis tampak superior dengan arah tatapan yang sepenuhnya terletak pada titik koordinat dua Jaeger di luar garis pantai Shatterdome. Belum lagi sinyal pengembalian dari Jaeger milik ayah-anak Leonhardt dari kejauhan menunjukkan posisinya. Armin yang jauh lebih tegar mencoba memecah keheningan. Menggenggam erat Rosario miliknya dan berharap Tuhan masih menunjukkan jalan atas kuasa-Nya.

"Apa—yang akan kita lakukan, Sir? Saya tidak tahu apakah ini terdengar lancang atau tidak, tetapi—keputusan Korporal Levi cukup benar. Bisa Anda lihat sendiri bagaimana kopilot Rogue Titan tak dapat menggerakkan lengannya oleh kerusakan transmisi sinyal elektrik di antara plat konektor Jaeger dan otak miliknya. Menggantinya dengan kopilot lain tidak berarti salah, kurasa." Tidak juga ingin membenarkan, tidak pula memberi tuntutan. Pemuda pirang ini menegaskan kata-kata miliknya dengan ketegasan yang bersifat rasional. Tak ada artinya menyelamatkan dua sosok sahabat sekaligus jika alasan pelepasan tidak disertai kelogisan. Anggap ini adalah cara pemuda itu berasumsi. Kemampuan berbicara dan berideologi yang dimilikinya mampu membuka celah kesombongan banyak kaum.

Mengamati bagaimana kakek tua itu mendesah panjang, Armin merasa telah menggenggam kartu truf. Lima As sekaligus.

Diakhiri dengan anggukan bersama air wajah lelah, konfesi Pixis terdengar di tiap sudut Shatterdome. Pengeras suara dari arah mic pusat kendali Jaeger memperdengarkan sebuah titah yang sulit untuk dicerna oleh logika. Sesaat kemudian, banyak bising keributan dari arah mana saja terlebih saat Hanji, si wanita peneliti kaiju, bersama gadis teknokrat berparas anggun di sampingnya cukup syok mendengar pengakuan yang mungkin hingga kiamat pun takkan terjadi. Keduanya saling bertukar pandang sejenak dan kembali memusatkan fokus sementara ada hal lain yang membutuhkan perhatian khusus. Benda mungil berbentuk boks tiga dimensi mencuarkan cahaya biru berhologram. Seolah dapat menyala sendiri walau tak diberi perintah sekalipun. Di antara keremangan cahaya ruangan tengah si empunya kamar, ada begitu banyak potongan memoriam yang berhasil terekam selama Rogue Titan berada dalam mode hidup. Kenangan bertahun-tahun silam kian memutar abadi oleh proyektor udara. Sontak, dua sosok yang masih terperangah dengan kejadian di hari naas ini berbalik. Memandangi tanpa mengatupkan bibir.

Hanji membiarkan si gadis membuat konklusinya seorang diri.

Petra membulatkan mata. Membuat langkah-langkah pendek. Mengimajinasikan adegan demi adegan berupa sinkronisasi memori saat proses drift berlangsung. Kadang dan sesekali ia akan memiringkan wajah ke satu sisi untuk mengenali wajah-wajah yang bergerak terlalu cepat di antara potongan layar berhologram biru. Kian bermunculan meski tidak membuat tampilan film utuh. Bibirnya bergetar hebat. Kedua alis miliknya berkedut. Asap beku mulai tampak dari tiap hembusan nafasnya. Entah efek udara yang menurun oleh suasana Pasifik yang sedang tidak stabil atau pemanas ruangan yang rusak, tetapi pucat pasi mewarnai air muka gadis itu. Ia tertahan tepat kala secara otomatis, ada potongan gambar dalam layar yang terhenti seolah ingin menunjukkan sesuatu. Memberitahukan informasi penting yang tersembunyi selama sepuluh tahun tak pernah terungkap. Terbungkus apik oleh kebohongan demi kebohongan yang tersebar luas.

Wanita berpostur tinggi ini membuka suara, menyusun kata demi kata yang sulit dipahami oleh si gadis, dan memerlihatkan kenyataan. Namun, lagi—ada ketidakyakinan dalam degup jantung Petra. Begitu sulit hanya untuk menerima mentah-mentah kronologis yang berputar-putar. Masa lalu kelam pernah mewarnai Scouting Legion. Tetapi, atas nama kemanusiaan—kasus sepuluh tahun itu tersekam oleh abu keabadian. Pengadilan memutuskan menutup buku kasus tersebut dan hidup kembali berjalan dengan semestinya. Tak ada penyesalan.

"Kau tahu alasan mengapa si pendek itu menitipkan benda ini kepadamu padahal dia bisa saja langsung mendatangiku sebelum bertindak konyol dengan kabur bersama Jaeger miliknya, hm?" Pertanyaan Hanji menusuk-nusuk tulang rusuk gadis berwajah manis itu. Guna menjaga tiap dentum dalam ruang iga miliknya kembali normal, ia memeluk diri. Berharap mendapatkan rasa aman dengan menyudutkan hati serta pikiran meski beberapa saat lalu, ia telah berhasil menguatkan apapun yang akan membuatnya terjatuh. Mungkin inilah yang bertanggung jawab atas wajah kusut Hanji. Ya. Konklusi si gadis akhirnya memberi jawaban yang teramat tepat. Hanji bergumam sembari melepas specs-nya. "Itu karena ia dapat mempercayaimu, Petra. Dan, ia ingin agar kau membantunya. Kau paham maksudku, bukan?"

Walau alarm pusat kendali Shatterdome berdenging bertalu-talu tiada henti, ruangan pribadi sang peneliti tiada beda dengan kaleng bekas tak bersisa. Bagi Petra, segalanya berubah vakum. Kosong tanpa sedikitpun suara yang mengisinya. Dasar nafasnya seolah kehilangan begitu banyak oksigen. Direnggut secara paksa oleh tamparan realita yang baru saja ditemuinya. Kedua kakinya melemas seperti bubur. Tetapi, kekuatan di balik kata-kata Hanji membuatnya utuh secara harafiah. Ia menoleh, mengamati sepasang mata yang diterangi oleh keberanian. Cengiran khas si wanita mengubah ketakutan si gadis menjadi sepercik perlawanan.

"Kalau begitu, apa yang bisa kulakukan, Hanji?" Pertanyaan Petra membuat senyum di sudut bibir Hanji melebar. Meletakkan bingkai specs dan melewati sosok si gadis. Mengambil inti memori otak sekunder Rogue Titan sepuluh tahun lalu dan memasukkannya ke dalam boks pembaca data. Nominal-nominal binary bermunculan satu persatu. Dengan cekatan, wanita itu membongkar susunan nominal biner yang tertutupi sempurna oleh nilai nol dan satu hingga sekumpulan folder kian tampak di antara angka-angka tersebut. Trik sulap yang dapat dipecahkan oleh sekumpulan geek yang memahami dengan benar bagaimana matematika bekerja.

"Sebenarnya memintamu melakukan hal ini sama saja dengan gantung diri. Tapi—ya mau bagaimana lagi. Cuma ini jalan keluar yang bisa terpikirkan olehku. Konyol sih tapi cari mati juga. Hahaha." Rupanya, keceriaan yang sempat menghilang dari pribadi Hanji telah berkumpul secara utuh dalam jiwanya. Raut keriput penuh keseriusan meliputi bingkai wajahnya. Bibirnya bergerak ke sana kemari, ciri khas seorang peneliti sekaligus pemikir. Ada banyak kalkulasi matematis dan teoritis yang dikumpulkan oleh benaknya. Ingin mengaburkan pandangan sebagai gadis lemah tidak berguna jika diturunkan ke lapangan, Petra berseru tak sabaran. Hanji berkedip-kedip tak wajar. Pandangannya membulat seketika, "kau—benar-benar yakin mau melakukan hal ini, dear?"

Petra mengangguk-angguk penuh semangat. Hanji menyipitkan mata dan mengerutkan alis. Ia bahkan memajukan beberapa senti bibirnya untuk menimbang-nimbang. Menggerakkan kaki dan kepala ke sembarang arah. Sembari melipat tangan di dada, lagi-lagi, ada perhitungan panjang sedang dilakukannya. Bukannya meragukan keahlian gadis berwajah tenang di hadapannya itu. Teknokrat semacam Petra bekerja berdasarkan aturan jelas, di mana menyambung dan melepas baut konektor mesin akan menghasilkan dampak yang sinergis. Singkatnya, hukum sebab-akibat. Terlalu banyak yang membebani benak wanita bermuka suram ini. Kendatipun demikian, gadis itu hanya menyunggingkan senyum dan tertawa kecil. Senyum yang semula lenyap mengembang kembali bagai mawar di antara dandelion putih.

"Aku tidak selemah yang kau bayangkan, Hanji. Trust me."

"Hee. Kuharap kau bisa mempertanggungjawabkan pengakuanmu itu, dear. Akan kucatat baik-baik." Kikikan Hanji digunakannya sebagai alasan meneguk ludah perlahan. Ada ide berbumbu ketidaknormalan yang tentunya tersimpulkan oleh otak gila wanita itu. Sudah saatnya meninggalkan jauh-jauh kewarasan kali ini. Yang dibutuhkan adalah sedikit api untuk membakar topeng kebohongan.

"Alrite' then! Sudah diputuskan. Tapi, aku mau agar kau tidak bekerja sendiri, dear. Sebaiknya, kau meminta bantuan seseorang yang menurutmu—erm—bisa diandalkan. Sebab, aku membutuhkan lebih dari sebuah laptop, layar virtual, dan sambungan listrik. I need all of it! Semua layar dan monitor digital milik Shatterdome akan kuretas! Bahkan milik pusat kendali sekalipun! Hahaha!" pekiknya sembari menunjukkan ekspresi menyeramkan. Niat gilanya berimplikasi pada tawa yang tak terkontrol. "Karena itulah, kau tak bisa bekerja seorang diri. Setidaknya, kau dapat meminta bantuan seseorang yang kau kenal dan kira-kira paham cara meretas sistem terkunci. Ok?"

"Hanya itu, 'kan? Tidak ada lagi?" tanya si gadis.

"Hanya itu. Ya." ujar Hanji memberi nada penegasan. Keduanya mendekati arah pintu. "Aku akan memberimu detail hal yang harus kau lakukan sebelum menjalankan rencana yang sesungguhnya, Petra. Gunakan ini untuk berkomunikasi denganku."

Arah pandang si gadis tepat pada benda berbentuk telur dengan tombol-tombol kecil serta layar analog layaknya kalkulator usang. Kerutan di alis berwarna pastel miliknya mewakili pertanyaan yang ingin diungkapkan tetapi memilih bungkam adalah pilihan terbaik.

"Oh, memangnya kau tidak pernah memiliki pager ya? Astaga. Anak-anak zaman sekarang. Ckck." Komentar berbau humor si wanita berkacamata kotak menjawab dengusan Petra. "Haha. Ya, ya. Hanya benda ini yang tidak akan terlacak oleh sinyal digital. Hah, dunia yang terlalu maju terkadang dapat membuat kita jadi bodoh. Bodoh karena dunia dapat mengetahui apapun yang kita lakukan. Scary, rite'?" Tambah Hanji. Mengakhiri percakapan keduanya dengan ekspresi takut yang dibuat-buat. Bahkan, ia sempat menepuk-nepuk pelan puncak kepala pastel oranye milik gadis di depannya itu.

Petra memutar bola mata miliknya. Didikte dengan guyonan teknologi semakin membuatnya ingin beranjak sesegera mungkin dari ruangan itu. Sekali lagi, Petra mengangguk mahfum. Setelah meyakinkan diri, ia berbalik sejenak. Masih mengamati bekas-bekas potongan memori milik Jaeger generasi pertama itu saat kisah tragis sepuluh tahun lalu tepat tertunjuk kepadanya. Melihat wajah penuh keputusasaan sang korporal berhasil membuat kerumitan bentuk emosi di dasar hatinya. Meremukkan sisi paling tegar di jiwanya. Terlebih terhadap kenyataan oleh kesedihan karena kematianlah adalah penyebabnya. Benar kata Hanji. Kematian tak memberi tangis secara langsung, namun mereka yang telah pergi akan meninggalkan air mata tak berkesudahan bagi yang hidup. Buru-buru gadis itu membuang prasangka buru yang merayap cepat di antara kelogisannya. Ada hal lain yang perlu dikerjakan untuk mengungkap kenyataan yang lebih dari sekadar kebenaran.

Menutup identitas oleh tutup kepala hoody yang dikenakannya dan segera berlalu. Gadis itu melambaikan tangan sebentar sebelum Hanji membisikkan good luck padanya. Langkah Petra lebar-lebar dan sedikit berlari. Tepat di ujung koridor, hanya ada bayang hitam yang tampak dari sudut hazel Hanji. Bunyi pintu yang berderit menutup kontak personalitas keduanya.


Pasifik berubah liar.

Kecepatan ombak meningkat sepuluh knot tiap menitnya. Awan kelabu disertai langit hitam menunjukkan perjalanan yang akan sulit untuk ditempuh begitu saja. Kejadian alam semacam ini hanyalah satu di antara berkah Tuhan di atas bumi-Nya. Ia memerlihatkan kebesaran-kebesaran-Nya melalui keajaiban yang sulit untuk dilalui oleh manusia. Badai, topan, serta hujan adalah cara alam berbicara kepada makhluk hidup di sekitarnya. Pesan berbentuk tanda-tanda yang dapat dengan mudah dibaca oleh siapapun. Hindari dan berlari. Itulah dua kata yang terkumpul di setiap deburan ombak dan amarah langit Pasifik pada kelakuan manusia serta kaiju. Sudah menjadi alarm penting untuk menjauhi apa yang akan menyebabkan kecacatan. Jika alam berkata demikian, manusia harus mengikutinya. Namun, berada dalam Jaeger adalah cerita lain. Seolah, manusia dapat menembus ombak terdahsyat apapun jika diselimuti oleh kekuatan para Jaeger.

Eren mengakui hal itu. Pemuda bermata turquoise ini menemukan kenyataan serupa saat untuk pertama kalinya ia diterjunkan ke lautan Pasifik atas misi kemanusiaan. Menjadi pilot Jaeger adalah impian masa kanak-kanak yang lekas terwujud saat kepahitan masa lalu memaksanya tumbuh di antara pengorbanan besar mereka yang telah tiada. Ayah yang mati secara tragis bersama sekumpulan cetak biru dan data-data penting Jaeger ciptaannya, bersama pula Shatterdome wilayah Antlantik yang diledakkan secara misterius. Bagai rantai dengan hubungan menyeramkan. Bagi otak Eren muda, melalui hari ini sudah cukup untuk menghirup udara segar di hari esok. Ketakutan atas kematian tak pernah terbersit oleh benaknya sekalipun kematian itu sendiri akan mengakhiri banyak kisah atas hidupnya.

Ombak Pasifik terdengar menderu-deru saat puncak terowongan yang memisahkan antara pilot-pilot Jaeger dengan dunia luar terbuka menganga. Tapak-tapak kaki baja yang bersahutan dengan lantai besi ruangan kokpit kendali Jaeger menghentikan sementara degup jantungnya yang sempat menggila. Buru-buru pemuda itu melepas koneksi neural handshake antara dirinya dan Mikasa, sang kopilot. Aktivasi drift terputus total. Helm pelindung kepala dan leher terlepas otomatis. Membiarkan si gadis menyaksikan tanpa batas atas apa yang telah terjadi di sekelilingnya. Mikasa dapat bernafas lega untuk sementara. Berjuta-juta liter oksigen diraupnya dengan serakah. Tubuh letihnya terjatuh seketika. Eren memapah gadis itu dan menghampirinya untuk beristirahat sejenak. Dingin yang membekukan terasa di telapak tangan si gadis. Kekhawatiran membuat pemuda ini tak berpikir dua kali.

Dipeluknya erat si gadis, berharap tubuhnya dapat meradiasi energi berbentuk kalor. Darah yang telah mengering mewarnai sisi wajah pucat Mikasa. Namun, senyum kecil masih diperlihatkannya. Menguatkan kelemahan Eren atas penderitaan. Sontak, suara tapak kaki berhenti seketika.

Eren menoleh cepat, mendapatkan sebuah sosok yang telah dinantinya, meski masih memasang ekspresi kalut yang kian bercampur aduk. Emosi dalam dirinya seolah tak dapat lagi dibendung sia-sia. Mikasa, sang kopilot, turut mengamati dengan tatapan kosong tubuh tegap sang korporal di kejauhan sana. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencoba memisahkan diri dengan pemuda yang dipeluknya. Keduanya saling berdiri meski Mikasa membutuhkan sedikit bantuan.

"Kor-korporal." bisik Eren kecil. Sosok pengendali Jaeger bersayap generasi ketiga tersebut mengangguk sekali. Menautkan mata ke arah kopilot Rogue Titan yang berada dalam kondisi tidak terlalu baik. Sejauh dari apa yang telah dianalisanya sebelum mendarat di Jaeger generasi pertama ini, kebenaran bila kerusakan penampang konektor motorik yang menghubungkan otak Jaeger dengan otak sang kopilot adalah prediksi mendekati nilai absolut. Pria itu menghela nafas panjang, membuat langkah pendek dan perlahan, mendekati dua remaja bermental baja tersebut. Satu tangan sang korporal terulur tepat di hadapan Mikasa. Gadis berambut opal sebahu itu memberikan tatapan bertanya. Hanya anggukan penuh keyakinan yang bisa ditawari olehnya. "Now, go ahead. Kau akan baik-baik saja, Mikasa."

Air mata turun di antara sudut-sudut sana. Membentuk sungai tak berarak di sepanjang garis wajahnya. Eren melepas papahannya dan memberikan apa yang diminta pria berpostur sedang itu. Levi, sang korporal, menerima Mikasa dan membantunya berjalan hingga mencapai puncak tangga terowongan. Gadis itu sempat menoleh untuk melihat pemuda yang selama ini telah mengikat takdir dengannya. Sebelum ia benar-benar harus dipisahkan oleh takdir jua.

"I'm sorry, Eren. I'm sorry." bisik si gadis di antara tangis.

"Aku akan kembali setelah mengevakuasinya ke tempat yang lebih aman." tutur pria itu tenang. Eren mengangguk. Detik berikutnya, kekosongan kembali mengisi seisi ruangan kokpit.

Tak ada yang perlu disesali. Begitu cara pemuda ini memberi sugesti pada benaknya yang kacau. Usia yang mendekati angka kematangan seharusnya mengajarinya sesuatu hal. Bahwa, even-even semacam ini pasti dan akan terjadi suatu saat nanti. Entah kapan, ia tak ingin mengira-ngira. Hanya memerlukan kebijaksanaan untuk melihat ke dalam sudut yang lebih jauh. Kembali kepada tujuan awal, pemuda bermarga Yaeger ini meraih helm pelindung kepala miliknya dan menatap dalam-dalam suasana Pasifik yang nampak dari monitor utama Rogue Titan. Hanya ombak dan angin ribut yang setia menemani tiap pertarungan miliknya. Sudah sepantasnya, bukan?

Menunggu untuk beberapa menit lamanya hingga ada sosok yang masih terbalut sempurna oleh kostum kebesaran para pilot Jaeger. Diselubungi oleh setidaknya ribuan penyalur transmisi sinyal ke setiap sel tubuh untuk dihubungkan ke otak Jaeger. Berwarna hitam metalik dengan baut-baut besi yang memanjang di keseluruhan tulang belakang. Lalu, simbol Scouting Legion berbentuk sayap kebebasan tercetak di bahu-bahu sekeras baja. Ada wajah yang terbungkus oleh kekuatan tak bernama. Keriput di pertemuan alis Eren mengindikasikan ada peperangan yang akan segera dimulai kembali.

"Gadis itu sudah aman bersama Mike. Keduanya akan baik-baik saja selama berada di dalam Wings of Freedom. Aku yakin, pesawat evakuator akan tiba sebentar lagi. Sebelum itu—kita harus segera menjauh dari sini. Satu kaiju kategori IV yang berhasil lepas dari parameter penjagaan tiga Jaeger yang telah diturunkan sebelumnya berada tiga ratus meter dari garis pantai The Wall. Itulah rencana kita, Eren," tutur Levi seraya mengenakan helm pelindung dan mengamati tempat di mana sebentar lagi ia akan melakukan drift dengan pemuda bermata turquoise itu. Ada seringai yang tertarik di salah satu sudut bibirnya kemudian. Menggumamkan sesuatu hal, "just like the old times."

Eren menyiapkan diri dalam titik konsentrasi penuh setelah ia kembali menyalakan inti mesin Rogue Titan. Lampu-lampu berkerlap-kerlip mewarnai isi kokpit ruang kendali Jaeger. Sontak, ada cahaya terang menyoroti sosok keduanya yang telah terikat sempurna pada plat penampang konektor di masing-masing wilayah pilot dan kopilot. Pemuda itu terdengar mengambil nafas panjang dan menghembuskannya. Menghirup lalu dihembuskan. Beberapa kali dilakukannya untuk mengurangi perasaan aneh yang tiba-tiba saja bermunculan di segala arah dalam tubuhnya. Bagai seribu kupu-kupu berusaha terbang dari dasar perut.

"Korporal." cicit pemuda berusia dua belas tahun lebih muda dari sosok pria di kejauhan sana.

"Hn?"

Ia menoleh. Berlama-lama mengamati pria yang kini menggantikan posisi Mikasa sebagai kopilotnya. Meski Levi turut mengikuti arah pandang pemuda itu, tak ada ketakutan yang terpancar dari arah turquoise Eren. Levi memberikan senyum yang cepat lenyap dari bibirnya.

"Seperti yang pernah kukatakan padamu, bocah. Aku akan kembali jika Jaeger ini yang memintaku untuk kembali. Jika ini memang adalah pilihannya, maka apa yang kau lihat bukanlah mimpi," kata-kata Levi menambah kekuatan di hati Eren. Pemuda itu pun menoleh lurus ke depan dan memasang fokus, "bersiaplah, brat. Kita akan melakukan drift. Aku punya tiga hal untukmu, Eren. Peringatan pertama, kau harus rileks."

"Yeah." jawab Eren sembari menutup mata. Persiapan neural handshake mulai dilaksanakan. Kalibrasi inti saraf antara pilot dan kopilot bersama Jaeger sedang dimuat dalam memori raksasa raksasa bertubuh gigantik itu. Suara-suara perintah dan penyelesaian tahap awal mengakhiri sesi koneksi muatan saraf.

"Kedua, tetap berada pada realita." lanjut Levi. Pemuda di sampingnya mengangguk paham. "Ketiga—"

"Don't chase the 'rabbit', rite'?"—jangan kejar 'kelincinya'. Tentu, kelinci yang dimaksud Eren adalah sistem pengacau memori yang seringkali merusak sistem komunikasi normal antara pilot bersama Jaeger-nya. Hal yang jelas-jelas selalu dan selalu mengganggu konsentrasi pemuda ini selama berbulan-bulan lamanya. Yang entah mengapa, tanpa diketahuinya, bersumber dari keterikatan Jaeger tersebut dengan materi DNA miliknya. Seolah, raksasa ini benar-benar mengenali Eren bahkan sebelum ia dilahirkan. Senyum pemuda itu mengedarkan aura kebebasan, "hari ini Anda banyak bicara—umm—Levi."

Sejenak melebarkan mata karena keterkejutan, Levi mengakhirinya dengan dengusan, "kau salah, Eren. Banyak bicara sudah menjadi sifat alami yang kumiliki. Kau hanya berada pada momen yang kurang tepat." tukasnya tajam. Perintah dalam suara wanita membuat gerakan penampang plat konektor antar pilot muai dipersiapkan untuk proses drift. Eren, di sisi lain, masih disibukkan dengan degup jantung serta nafas yang tercekat. Bibirnya berkomat-kamit membisikkan hal-hal yang mampu membuat ketenangan mengalir bagai air selama menjalani serangkaian perjalanan memori melalui sistem drift.

'Biarkan ia mengalir. Biarkan ia mengalir. Let it flow. Jangan kejar 'kelincinya'. Jangan kejar 'kelincinya'.' Mendengar bisikan dalam benak si pemuda membuat seringai tampan lagi-lagi tertarik di sudut-sudut bibir Levi.

'Dasar bocah.'

"Levi—itu kau, 'kan?" Bocah pemilik sepasang biji turquoise bening itu membuka mata dan menghadapi gambaran-gambaran memori yang saling bersilangan. Bibirnya menyebutkan sebuah realita hingga tanpa berbicara secara verbal pun, sang korporal dapat memberi jawaban. Pertanyaan yang selama ini begitu tabu bahkan hanya untuk mengungkap suatu kebenaran sekalipun, "satu-satunya pilot Jaeger yang berhasil membawa Rogue Titan seorang diri menyusuri dua benua sekaligus. Meski pada akhirnya terjatuh karena kelelahan di daratan Arktik. Itu—kau. Aku tidak salah, bukan?"

Levi sempat terdiam. Sensoris maupun motoriknya melambat sepersekian detik. Nyaris melenceng dari penyambungan silang drift. Untuk beberapa saat, ia berusaha mengendalikan diri. Mengontrol emosi yang meletup-letup secara tiba-tiba, 'ya.' Jawabnya singkat. Berkat itu, Eren melepas tawa kecut.

"Kalau begitu, aku adalah orang yang paling beruntung. Haha."

'Bersiap untuk melakukan drift'—perintah berupa hitungan mundur dimulai, '—three, two, one.'

Matahari.

Itulah benda pertama yang tampak dalam pengelihatan Eren. Berbentuk koin perak bertahtakan sinar teramat terik yang membuatnya harus memicingkan mata. Dalam ukuran nanosekon, sekumpulan awan putih berbentuk gumpalan kapas mengumpul dan berubah warna hingga butiran air deras terjatuh bersama sambaran petir dari langit. Melihat ke bawah, tepat di kedua kakinya, ada jalan panjang tak beraspal yang seluruhnya tertutupi oleh pasir. Tepat di hadapannya adalah jalan tak berujung yang semakin mengecil. Namun, perlahan dan pasti, ada tapak-tapak tegas bagai serombongan kuda perang berlari ke arahnya. Ia menengok ke belakang, tetapi tak ada siapapun. Langit menggelap seketika, menurunkan hujan, lalu para kuda berdatangan menembus tubuhnya yang translusen. Kemudian, ada api membakar beberapa gedung-gedung pencakar langit disertai kedatangan kaiju kategori II bernama Onibaba. Capit-capitnya mencengkeram puncak gedung yang tersisa dan meremukkannya hingga tak menjadi abu. Teriakan orang-orang yang berlarian berkumandang seolah menjadi melodi pembuka kematian. Berikutnya, seorang anak lelaki berpakaian musim dingin hanya berdiam diri tanpa melakukan gerakan apapun. Meski Onibaba tepat berada sejauh berates meter dari atas kepala miliknya.

'Levi!'

Teriakan wanita paruh baya bergema ke sekitar. Mata turquoise si pemuda menyaksikan sendiri suatu kengerian yang sulit dielakkan meski di berada di alam bawah sadarnya sekalipun. Ia melangkah mendekat, semakin mendekat, lalu berlari. Si anak lelaki masih terdiam di tempat. Onibaba bergerak maju selangkah demi selangkah dan tepat menghadap si bocah bermata opal. Getaran gemuruh suara kaiju tipe krustasea itu menghancurkan kaca-kaca mobil dan gedung-gedung berukuran lebih kecil dari tubuhnya. Masih, bukannya memilih lari, si bocah berpose layaknya menantang maut.

'LEVI! Lari!' Spontan, Eren dapat meneriakkan sebuah nama. Tetapi, si bocah tak peduli. Memandangi langit yang begitu luas seakan benar-benar tak mempercayai apa yang dilihatnya. Pemuda ini kini berada tepat menyentuh punggung si bocah. Digoyang-goyangkannya tubuh mungil, namun tiada daya yang mampu mengubah pendirian si bocah. 'Ada apa denganmu, huh?! Cepat lari!'

"Eren."

Panggilan lain menyadarkannya. Ia cepat berbalik, menemukan sebuah sosok versi dewasa dari si bocah. Ia membulatkan mata tak percaya. Kembali menoleh, tubuh kecil si bocah sudah tak berada lagi di sana. Namun, Onibaba setia menjulang tinggi di hadapan keduanya. Menbuat jarak sempit.

Hingga—

'Ini hanya potongan memori. Sebuah masa lalu yang tak memiliki hubungan apapun dengan realita. Buka matamu lebar-lebar, Eren.'—bagai suara lain mendengung dalam benaknya. Pemuda itu berada di ambang ketakutannya. Mencengkeram jemari dalam genggaman erat. 'Lihat dan perhatikan.'

Sebuah sinar terarah seluruhnya pada tubuh si kaiju. Laser berkekuatan berjuta-juta ion elektrik menembus perut Onibaba. Ia tersungkur jatuh kemudian. Tepat saat Levi mengarahkan telapak tangannya yang kosong, di kala itu pula ada kenyataan yang semakin terlihat jelas. Siluet hitam setinggi ratusan kaki turut menjulang bersama sosok kaiju itu. Matahari memberi akses bayangan cukup besar hanya untuk memerlihatkan tubuhnya yang magnus. Bertindak sangat superior di antara sepi. Vakum sementara mengisi sekeliling keduanya. Rogue Titan muncul bersama-sama dengan awan petang hari. Tak ada hujan, tak ada petir. Sepasang turquoise itu semakin membulat lebar. Jaeger miliknya—tidak—milik keduanya telah berdiri di kejauhan sana. Tepat di balik punggung sang korporal. Visualisasi memori yang selalu terputus selama ia mengejar R.A.B.I.T.

"Ini adalah memori yang sejak awal ingin diperlihatkan Rogue Titan padamu."

Levi memutus jarak di antara keduanya. Berdiri bersanding bersama si bocah. Mengarahkan pandangan seutuhnya pada sosok Onibaba yang tak lagi hidup.

"Akan kujelaskan padamu satu hal yang mungkin tak pernah kau sadari dan ketahui selama ini. Jaeger generasi pertama yang khusus diciptakan oleh Ayahmu ini didesain sesuai sifat biologisnya. Satu keistimewaan yang hanya dimiliki Jaeger unik ini, tentu."

Pemuda di samping Levi memilih menutup suara. Arah pandangannya jelas pada satu titik fokus. Sang korporal melanjutkan, "ia menilai jenis memori pilot-pilot yang selama ini berhasil mengendalikan otaknya berdasar pada inti DNA mereka. Singkatnya—it is a memory flesh*). Karena itu, meski direstorasi sekalipun, berjuta-juta kali, takkan ada yang berubah dalam memori miliknya selama inti otak primer dan sekunder tetap menyatu. Hanya saja—karena aku mengambil paksa memori sekundernya, alasan kau kerapkali mengalami mode R.A.B.I.T semakin jelas. Ia mencoba memuat apapun yang terekam dalam ingatanmu. Tetapi, hasilnya selalu nihil. Ia—berusaha mengenaliku sebenarnya. Karena—"

"Kau dan Wakil Komandan Irvin adalah dua pilot pertama Rogue Titan. Ya, aku paham," potong Eren. Membuat kesimpulan bermakna. Emosi penuh kontradiksi mewarnai wajahnya, "tetapi, ada hal lain yang belum kupahami. Kenapa—" Menggigit bibir bawah sembari mengeratkan genggaman, "—kenapa semua hal yang akhir-akhir ini kian terjadi padaku, tidak, di sekelilingku seolah berpusat pada satu poin. Aku tidak tahu apa itu tapi—aku yakin semua ini ada hubungannya dengan kematian Ayahku. Ya."

Keraguan sempat terbersit dalam kata yang telah terucap sempurna oleh bibir si pemuda. Namun, Levi memastikan seorang diri butuh waktu yang tidak lama hanya untuk mengungkap seribu rahasia yang selama ini terbungkus oleh api dalam sekam. Maka dari itu, alasan cukup realistis mendorong niatnya tuk melakukan apapun demi kebenaran. Mencuri microchip otak sekunder Jaeger terkuat sejagad itu hanya secuil tindakan kriminal yang sukses dilakukannya. Menyerahkannya pada politisi kesatuan akan menyebabkan kerugian besar. Sebab, prognosis akhir dari kasus tersebut sudah dapat diprediksi meskipun tanpa menggunakan perhitungan kasar. Dengan melihat pun, sudah jelas akan mengarah ke mana nasib Rogue Titan. Jaeger unik nan istimewa ini akan terkubur seumur hidup—selamanya—bersama besi-besi rongsokan lainnya di gudang penyimpanan. Sama saja dengan peti mati.

Ia memercayakan segalanya di tangan-tangan dingin seorang wanita gila berkacamata dan seorang bocah yang hingga saat ini masih menyimpan seratus persen kopi DNA milik sang Ayah. Satu-satunya harta karun yang mampu membongkar segalanya.

"Eren." panggil sang korporal. Ia berbalik dan melangkah menjauhi tubuh Onibaba. Menghadap sosok Rogue Titan. "Let's take a walk while we share some secrets.*)"

Maka, perjalanan panjang menuju masa lalu telah dimulai.

.

.

.


To Be Continued


Author's Note:

Glossary:

*) Memory flesh itu—ingat snitch gak? Itu lho bola emas bersayap mungil yang sering-sering dikejar dan sempet ketelen sama Harry Potter. Wkwk. Memorinya si Rogue Titan bersifat layaknya Snitch. Pengingat daging. Bagi yang suka dan doyan sama HarPot pasti ngeh deh. Hehe.

*) Let's take a walk while we share some secrets—aku akan membagi beberapa rahasia sambil jalan.

Woaaaah. Udah kebuka, 'kan? Rahasia demi rahasia? Hehehehe. Adegan perangnya di-skip dulu, 'kan di chapter sebelumnya udah ada. Sekarang adalah masa-masa krusial. XD

Kira-kira apa ya yang direncanain sama si Hanji dan Petra. Trus, siapa ya yang bakalan nolongin Petra. Saya rasa, para reader udah bisa nebak siapa itu. Siapa lagi kalau bukan—plak—tunggu di chapter depan ya. Nyihihihi.

Sepertinya, saya bohongin diri sendiri ya. Lalala. Padahal rencana mau hiatus dulu sebelum masuk ke chapter selanjutnya, tapi tangan udah gatel banget. Gak sanggup kalau gak diketik segera. Hihi. :'D

Terima kasih yang sebesar-besarnya buat semuanya yang udah baca, terutama yang review (cipok Ambu dan Furu) di tiap chapternya. Saya berharap semoga gak bosen ya. :''3

Let's save the best part for later. Yup. :D

Konkrit dan review akan sangat diapresiasi. Terima kasih.