I'm listening to Ramin Djawadi's Pacific Rim Soundtrack Nr. 7: Mako while typing this chapter. T3T


.

.

.

-6-

Love

.

.

.

Dek yang terisi ribuan muatan besi dan baja beserta mesin bertenaga uap semakin disesaki oleh ratusan pekerja dengan tubuh yang nyaris dilumuri minyak dan keringat. Sesekali Petra berusaha menutup hidungnya dengan malu-malu meski jaket bertudung yang dikenakannya seratus persen berhasil menutupi identitasnya. Pertanyaannya saat ini: apa yang tengah dilakukan seorang gadis berparas anggun seperti ia di tengah-tengah hutan rimba yang tentu didominasi oleh kekuatan kaum lelaki? Sepintas, gadis ini mengumpat dan mendengus. Beberapa kali, ia juga menyumpahi Hanji. Namun, demi Levi dan semua momen masa lalu yang telah diperlihatkan kepadanya, sungguh ia akan tetap maju ke depan meski dengan cara yang sangat menyalahi norma etik profesinya yang bermartabat. Ah, masa bodoh, pikir si gadis.

Ilegal. Ya.

Gadis berstrata tinggi dengan tingkat pendidikan yang sangat layak pula tak mungkin menginjakkan kaki-kakinya yang mulus dan tanpa cela di bagian terbawah dunia Shatterdome. Kecuali jika ia berniat untuk menemui seorang atau dua orang yang pernah dikenalinya bertahun-tahun lamanya itu. Atau sekadar iseng menyapa, lalu berbagi cerita masa lalu. Bukan, sama sekali bukan seperti itu. Ia mengenal tiga di antara puluhan alumnus Akademi Jaeger di masanya dahulu. Tiga sahabat yang pernah mengukir memori khusus dengannya. Meski seungguhnya, Petra berharap tidak menemui satu diantara dua lainnya. Melangkah sambil mengkhayal tidak pernah menjadi keahlian gadis jenius ini. Sebab, mata biru miliknya memburam sementara banyak uap air akibat panas yang luar biasa menyengat. Buru-buru, ia menyeka dengan punggung tangannya sembari melangkah perlahan-lahan. Tidak bersikap awas membuatnya harus bersinggungan dengan tubuh besar berlapis minyak dan beraroma tinner. Hidung yang nyaris bengkok akibat tubrukan keras.

"Petra?"

"Uh? A-ah! Erd! Kebetulan sekali! Kemari—kemarilah." Mengumpulkan ingatan dan mengusap puncak hidung yang memerah tiba-tiba. Lalu, tersenyum cerah di antara bisikan. Tuhan memberkati. Tanpa harus bersusah payah mengelilingi gang demi gang lelaki bertubuh atletis dan berbau peluh, tersangka yang dicarinya muncul sendiri. Tak peduli, cepat-cepat Petra menarik lengan kekar pria besurai emas itu. Sisi-sisi wajahnya dipenuhi goretan hitam—antara asap atau oil pelumas mesin. Mendapatkan pojok yang lumayan remang dan kurang mencurigakan, keduanya memulai sesi konfrontasi yang misterius. Kepala si gadis celingukan ke berbagai arah. Ia menyempatkan diri mengelus dada dan mengambil oksigen banyak-banyak. Pria di hadapannya menarik alis penuh bimbang. "Senang bisa bertemu denganmu lagi, Erd." Cicitnya. Yang disebut Erd menarik sudut bibir sepintas sebelum menepuk pundak Petra.

"Apa yang kau lakukan di sini? Ini daerah terlarang untuk gadis semacam dirimu dan seorang tekno—"

Sontak, Petra melayangkan ketidaksetujuannya melalui telapak tangan di dada Erd. Dari wajah yang sumringah dan kepayahan, gadis ayu ini mengulum senyum serius bersama raut wajah bernada serupa, "maaf, Erd. Tapi… ada alasan mengapa aku sampai harus berada di sini. Tidak. Sudah seharusnya aku datang kemari. Dengarkan aku—"

"Tapi, di sini sangat berbahaya, Petra. Apa yang akan terjadi nantinya jika penjaga pintu dek terbawah melihatmu? Dan—hey, bagaimana caranya kau bisa masuk ke sini, huh?" cerocos pria berbalut seragam ahli mesin berwarna keabuan. Dilihat dari perawakannya saja, bisa dikonklusikan bila pria satu ini telah melewati lebih dari separuh hidupnya dengan mesin-mesin Jaeger. Mata jeli Petra menangkap sejumput luka mengering akibat sambaran arus listrik, mulai di telapak tangan hingga pipi Erd. Semuanya berasal dari sebab yang sama. "Petra—"

Menghela nafas panjang, lalu menundukkan wajah. Arah mata si gadis melirik ke berbagai sudut secara acak. Menjadi sosok yang berdiri di celah dengan sudut mati membuatnya mampu menebak adanya bahaya yang datang. Meski keduanya diselimuti cahaya yang minim, tak ada yang bisa menduga jika kecoa berukuran besar akan datang berbondong-bondong seolah radar-radar raksasa mereka menangkap sinyal rahasia semacam—perbincangan rahasia di sudut-sudut mati. Belum lagi suara-suara sumbang samar-samar kian terdengar. Petra mengambil alih keadaan. Sekonyong-konyong, ia kembali menarik pergelangan tangan Erd dan mencari tempat yang lebih aman.

"Kita ke ruanganku saja. Saat ini semuanya sedang sibuk menyambung baut-baut yang lepas." tutur Erd. Petra mengikuti sosok besar pria itu seperti anak ayam.

Keduanya mencapai bilik dengan pintu otomatis. Ruangan yang sederhana dengan empat meja di tiap sudutnya. Mereka berhenti di tengah-tengah. Menunggu Erd menyalakan lampu ruangan, Petra di lain pihak merasakan getaran aneh dari arah saku jaket berbulu yang dikenakannya. Pesan Hanji tiba secepat yang diduganya.

'Setelah berhasil menyambung sumber listrik ke komputer utama, aku akan menemuimu di pusat relay. Selamat berjuang.'

"Oke."—bisiknya sembari membalas dengan respon yang serupa.

Lampu kuning dari arah langit-langit menyala satu per satu. Tidak cukup terang, namun cukup untuk tidak saling menabrak satu sama lain. Erd mengambil posisi tepat di hadapan si gadis berjaket tebal. Melipat lengan di dada dan mengerutkan alis. Sudah jelas apa yang diharapkan oleh pria bertubuh atletis ini.

"Um, pertama-tama, aku hanya ingin menyampaikan satu hal sebelum masuk ke pokok perbincangan kita kelak. Err—senang bisa berjumpa lagi denganmu, Erd. Meski kita sama-sama bekerja di satu atap, rasa-rasanya Shatterdome ini melebihi luasnya benua Eropa ya. Haha. Eh—"

Kikuk. Deskripsi paling tepat untuk menggambarkan bagaimana gadis berusia dua puluh delapan tahun ini bersikap. Tidak berubah, sama sekali. Bahkan, dari awal mereka saling mengenal di Akademi Jaeger hingga masa kini. Erd memahami benar bagaimana Petra Ral yang lebih suka menyudutkan diri di kelas dengan monitor-monitor tiga dimensinya miliknya yang berhologram, lalu menyusun ragam cetak biru mesin sesuai perhitungan fisika dan matematis. Kacamata bundar setebal buku karangan Isaac Newton yang kerapkali dibacanya berulang kali telah terganti oleh operasi lasik dan lensa tempelan. Jerawat di sana-sini hilang secara ajaib dengan mantra peeling dan kosmetik natural. Sungguh, waktu mampu mengubah siapapun. Sedangkan, sosok yang sedari tadi sibuk mengkhayalkan masa lalu ini tetap bersikukuh dengan hobinya. Yaitu, mesin dan lapangan.

"—Erd. Erd." Gadis ini berusaha memanggil nyawa Erd yang melayang entah ke mana. "Kau—tidak senang ya bertemu lagi denganku setelah sekian lama?"

"A-ah! Apa yang kau bicarakan, Petra? Tentu aku sangat senang bisa melihatmu lagi. Tetapi—apa yang sudah kau jelaskan sejak tadi sama sekali tidak bisa membuat logikaku berjalan dengan semestinya." kilah Erd. Walau titik fokusnya menjauh, ia mampu menampung semua kalimat yang telah terlisan dari bibir gadis berwajah mungil itu. "Kau ingin aku menyerahkan pasokan cadangan listrik mesin Jaeger untuk menyalakan seluruh komputer digital Shatterdome? Pertama, Petra. Itu adalah permintaan yang sangat mustahil. Kedua, sebagian besar energi yang digunakan oleh seluruh gedung raksasa ini bersumber pada minyak-minyak itu, yang tentu saja akan menjadi listrik kelak. Lalu, ketiga—"

"Ya, aku tahu itu, Erd. Sangat mengetahuinya. Memaksa mengambil sisa energi yang dimiliki Shatterdome setelah mereka mengisi bahan bakar Jaeger habis-habisan adalah perbuatan kriminal. Lebih sembilan puluh persen gedung ini dihidupkan dari listrik-listrik yang kalian hasilkan di bawah sana. Jika aku mengambilnya, maka proses relay ke stasiun-stasiun Jaeger akan putus. Setidaknya, aku akan dipenjara selama puluhan tahun dan kau akan ikut bersamaku. Tetapi, yang lebih buruk daripada dipenjara dan memakan ransum basi adalah kebenaran yang mati bersama para Jaeger ini." tukas Petra. Dalih yang diucapkannya memicu api. Meski sulit beradu dalam sesi perdebatan, gadis ini selalu tahu apa yang diiginkannya. Entah ia tak mafhum dari mana semua keberanian yang menyentak secara tiba-tiba itu berasal. Kerutan di antara alis pastel oranye miliknya membuktikan ada sesuatu yang salah dan Erd ingin memahaminya lebih jauh lagi. "Kumohon padamu, Erd. Kali ini kau harus membantuku. Aku—tidak—kami sangat membutuhkanmu untuk menyediakan kepada kami sisa pasokan listrik Shatterdome agar kami bisa mengalihfungsikan seluruh layar digital gedung magnus ini. Tak ada yang lebih mengetahui bagaimana mesin-mesin itu bekerja selain kau."

Lenguh nafas Erd terdengar memberatkan. Kepala pria itu tertunduk, mengerutkan kening, dan memijit pelipis dengan jemarinya yang kotor oleh oli. Kaca buram di sisi kanannya berhadapan langsung dengan kondisi dek terbawah Shatterdome yang selama kurang lebih delapan tahun terakhir merupakan wilayah yuridiksinya. Sesaat, ia memandangi dengan tatapan kosong. Berjalan perlahan sembari menggenggam teralis. Sejenak menutup mata untuk merasakan kevakuman. Dunia paralel miliknya berputar. Diturunkan langsung untuk memimpin lapangan tertutup sudah menjadi impiannya. Bersinggungan dengan mesin-mesin baja serta dengung baling-baling Jaeger adalah hal yang selalu mengisi hari-harinya. Sudah begitu banyak problematika dan diperparah dengan sebuah permintaan aneh dari sosok gadis di masa lalunya itu. Pertarungan batin tengah bergulir.

"Kau pasti sudah mengkalkulasi segalanya, bukan? Mencoba mencariku hingga berani bertindak sejauh ini. Ini—tidak seperti dirimu, Petra. Kau selalu tunduk di bawah komando atasan dan takkan bergerak selayaknya mata-mata yang mengerti cara membela diri. Meski kita sempat berpisah selama delapan tahun dengan intensitas bertemu yang benar-benar kecil, aku masih bisa tahu bagaimana kau sesungguhnya walau tanpa harus berhadapan secara implisit denganmu. Kita pernah saling mengenal satu sama lain. Tidak hanya kau, tetapi juga Gunther dan tentu—Auruo." ujar Erd jujur. Ia melanjutkan tanpa menengok wajah Petra. "Apa yang telah terjadi padamu? Siapa yang membuatmu menjadi seperti ini, Petra? Katakan padaku. Apa ada—"

Petra memotong cepat. "Tidak ada. Aku berubah karena aku ingin. Tak ada alasan spesial, tentu. Kau mungkin mengenalku dengan baik, Erd. Ya. Akan tetapi, terkadang kau akan benar-benar membuka mata setelah menyaksikan penderitaan orang lain. Tepat di depan matamu. Tanpa kau sadari, kita semua telah berdiri di atas pilar kebohongan dan berteduh di bawah atap kemunafikan. Memang benar aku sangat menghormati aturan kesatuan. Bekerja sebagai teknokrat dan bersumpah untuk mematuhi segalanya. Hanya—tidak untuk saat ini, Erd. Tidak untuk kali ini." balas Petra berapi-api. Keteguhan di balik kata-katanya tergambar jelas melalui ekspresi wajah miliknya. Sungguh, ingin sekali mendengus atau juga tertawa. Namun, kadangkala siapapun harus berkorban untuk mendapatkan sesuatu walaupun itu sama saja dengan membayar atas nyawa sendiri. "Erd. Aku paham, hal ini akan sangat sulit bagimu. Karena itu—"

Sudut mata Erd melirik apa yang tengah dilakukan gadis berambut pastel sebahu itu. Ia pun berbalik. Kembali mencari-cari secercah harapan perubahan di wajah Petra. Nihil. Gadis itu seolah bertindak sebaliknya. Ia nampak merogoh-rogoh sesuatu dari balik jaket berbulu tebal yang dikenakannya. Mengeluarkan benda tipis menyerupai passcard dari arah dompet tipis miliknya. Langkah gadis itu tegas tapi pelan. Mendekati sosok Erd yang kebingungan. Jika saja cahaya dalam bilik itu dua kali lebih terang, tentu akan ada airmata yang terlihat jelas menetes dari sudut mati kelereng berwarna gelap Petra.

Gadis itu meraih tangan kotor Erd. Menggenggam dan membukanya. Meletakkan sebuah kartu berukuran seperti cardname biasa di atas telapak tangan miliknya. Menyerahkan benda berharga terakhir yang akan membuatnya tetap hidup.

"Hanya aku dan beberapa petugas dari kesatuan berpangkat menengah dan tinggi yang memilikinya. Saat pembangunan Center of Wall selesai, kau bisa ke sana dengan memperlihatkan kartu ini. Kau akan aman di sana untuk beberapa tahun ke depan. Ah, kau juga memiliki seorang kekasih, bukan? Ini—ini adalah satu-satunya akses untuk bertahan hidup. Warna perak di kartu ini menandakan kau bisa membawa setidaknya dua orang bersamamu. Karena itu, sebagai ganti permohonanku, kumohon—kumohon dengan tulus padamu, Erd. Kumohon—bantulah aku. Kumohon padamu, Erd—"

'Kumohon… bantulah aku.'

Hujan terlukis jelas di wajahnya. Merintik semakin deras tanpa pemberhentian. Mengarak membuat sungai-sungai mini dan terjatuh bagai embun. Pualam merah membentuk langit gelap. Tangisan itu—mengingatkan sosok Erd Gin pada masa depan yang sulit diraihnya. Yakni, hidup. Hanya hidup dan bernafas di tengah-tengah dunia yang aman. Damai. Tanpa kaiju, tanpa perang, dan tanpa ketakutan.

Dan, seorang gadis lemah yang hanya terdiam menapaki jejak-jejaknya dengan ribuan buku di sudut kelas telah mengantarkannya pada mimpi itu. Menawarkan tiket menuju kehidupan yang baru.

'Kumohon padamu Erd…'

Hidup. Tak ada keinginan lain yang melebihi apapun di dunia ini. Bagi Erd Gin sekalipun.

Jemari-jemari kurus Petra bergetar. Terasa dingin dan membekukan meski suhu ruangan kian meningkat setiap kali residu pembakaran mesin uap bertambah sekian Joule. Tubuh si gadis ikut mengalami tremor hebat. Erd tak ingin menyimpulkan apapun. Ia hanya tahu bila gadis di hadapannya itu telah berubah.

berubah layaknya seorang ksatria.

"Apa kau bersedia menjelaskan kepadaku perihal alasan di balik permintaanmu ini?" tanya Erd, mengarahkan sepasang mata miliknya pada jemari-jemari si gadis yang membeku seperti es. Merasakan dingin yang merambat melalui kulit-kulit pucatnya. "Hei, Petra."

Menaikkan wajah sembari menelisik dan mencari-cari perlindungan di antara kebimbangan. Yang dapat dilakukan gadis itu saat ini hanyalah menggigit bibir sekeras mungkin agar tangis tidak kembali tumpah. Erd memberinya pegangan yang kuat. Menahan tubuh lunglainya. Menawarkan lengan-lengan hangat untuknya bersandar sebentar.

"Maafkan aku, Erd. Pasti yang kau lihat saat ini adalah—haha—seorang gadis lemah yang berusaha membohongi dirinya dengan topeng kepahlawanan, bukan?"

Pria di samping Petra menggeleng, "tidak. Kau terlihat jauh lebih kuat bahkan tanpa harus menyerahkan satu-satunya benda berharga yang akan membuatmu tetap bertahan hidup." Sembari mengembalikan apa yang telah diserahkan kepadanya, Erd menepuk-nepuk puncak kepala berwarna pastel oranye itu. "Jangan kau ulangi lagi, Petra. Kau tahu aku, 'kan? Aku akan membantumu jika itu benar-benar bisa membuatmu merasa tertolong. Begitu pula dengan Gunther dan Auruo. Kalian bertiga adalah teman-teman terbaik yang kumiliki hingga saat ini."

"Ti-tidak! Tidak, tidak. Ka-kau harus mengambil ini, Erd. Aku bersungguh-sungguh! Dan—dan—" Dua kelereng biru Petra berkeliling ke banyak arah seakan pikirannya memecah berkeping-keping. Jemari-jemari mungilnya menggenggam erat tangan besar Erd. Menyerahkan apa yang telah ditawarkannya. Menggeleng-gelengkan kepala berulang kali. "—kau masih memiliki alasan kuat untuk melanjutkan hidup. Kau ingat, 'kan? Dulu, saat kita berempat masih duduk di dalam kelas Akademi Jaeger, kau selalu berkata bahwa kau ingin hidup normal bersama ayah ibumu di dalam The Wall. Menjadi masinis kereta api. Lalu, menikahi seorang gadis cantik di pedesaan. Memiliki banyak anak. Tumbuh tua bersama-sama dan—"

"Petra!"

Erd mengguncang tubuh ringkih si gadis. Berupaya menyadarkannya akan sesuatu. Tetapi, justru sebaliknya. Pria bersurai emas ini seolah menerima tamparan telak atas kenyataan. Realita yang ada dan impiannya mengalami tumpang tindih. Sama sekali jauh daripada apa yang pernah diharapkan. Sedih bercampur amarah menggetarkan hati miliknya. Mencari kebenaran di balik senyum palsu gadis bernama Petra Ral itu.

"Kita berdua mengetahui hal ini lebih baik daripada siapapun. Kita tak bisa selamanya hidup bergantung pada Shatterdome. Sebab, suatu saat nanti, nasib gedung magnus ini akan sama seperti Shatterdome sebelumnya. Para kaiju takkan segan menghabisi semua yang dilihatnya. Setidaknya—ya, Center of Wall akan menjadi habitat teraman untuk belasan tahun ke depan." tutur Petra perlahan. Mengikuti arah pandangan mata Erd. "Kau tahu, dulu saat kita dikelompokkan bersama dalam simulasi pertempuran Jaeger di tengah gunung es, Gunther berhasil memecahkan bongkahan es-es itu dengan sisa energi yang ada. Laser merah yang berasal dari perubahan ion-ion elektris mesin. Kau memperbaiki dek kemudi saat asam kaiju merusak sebagian besar besi-besi penggerak tubuhnya. Sedangkan, Auruo? Haha, aku tidak tahu apakah dia benar-benar rela terjun seorang diri ke dalam lautan beku itu dan meletakkan granat cahaya di salah satu puncak gunung. Aku hanya melihat kalian semua dari dalam Jaeger. Ketakutan hingga tak bisa melakukan apapun."

Menatap intens sepasang kelereng bening, lalu menyulam senyum. Kedua pipi Petra memerah bagai plum masak, "hingga saat ini, aku masih tak bisa memahami diriku sendiri. Apa yang bisa kulakukan dan apa yang dapat kuperjuangkan. Aku—" merogoh-rogoh isi jaket berbulunya dan meletakkan sebuah benda berbentuk kelereng kecil yang dapat menyala-nyala pada Erd. Pria itu menerima bola mini itu dan menatapnya penuh tanya, "—kau masih ingat dengan permainan kecil yang dulu selalu kita mainkan? Saat anak-anak yang lain mengira ini hanyalah marbles biasa, dengan trik-trik sederhana yang kutemukan dalam buku-buku itu, benda ini mampu berfungsi layaknya kamera. Kau bisa melihat segalanya—alasan hingga aku harus melakukan semua ini."

Petra menjauh, memberi ruang gerak untuk pria di hadapannya. Melangkah perlahan menuju pintu, "kuharap kau tidak memberitahu siapapun sebelum kami berhasil menyambung semua layar digital Shatterdome."

Bunyi derit pintu dan debamannya mengakhiri percakapan keduanya. Sebelum benar-benar meninggalkan bilik itu, Petra mendengar suara langkah kaki yang semakin jelas. Pintu itu terbuka lebar sekali lagi. Memperlihatkan wajah sumringah Erd Gin.

"Petra! Aku akan membantumu. Tetapi, hanya kali ini saja."

Di saat itu pula, Petra seolah mendapatkan tumpuan harapan baru. Ia menghapus bulir airmata yang jatuh dan mencoba tersenyum kembali.

"Erd…" bisiknya. "Terima kasih, Erd. Terima kasih."

"Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu, Petra," balasnya mencicit, "aku akan mencoba meminta Gunther untuk ikut membantumu. Jangan khawatir soal dia. Yang perlu kau cemaskan adalah—"

Gadis itu mengangguk lemah, "kau tahu aku selalu bisa menghadapi si sombong Auruo itu, 'kan?"

.

.

.

Parameter penjagaan telah ditembus sempurna oleh Jaeger generasi satu ini. Melangkah menembus ombak Pasifik yang menggila setiap menitnya. Malam terasa begitu panjang untuk dilalui. Begitu pula dengan perjalanan yang tengah dilakukan oleh sosok pilot dan kopilot Rogue Titan. Tungkai-tungkai keduanya bergerak stabil walau lelah terasa meyakinkan. Berada sejauh perut bumi tanpa tahu arah kutub merupakan kondisi yang selalu dialami. Naas, tapi itulah kenyataan. Di sekeliling raksasa berbahan metalik murni ini hanyalah air dengan suhu yang mencapai angka minus derajat. Manusia pasti mengalami kematian, tetapi tidak di saat mereka berlindung di dalam kubah Jaeger.

Eren membisu. Seolah lupa bagaimana caranya hanya untuk mengucapkan barisan huruf saja. Di sisi lain, sang kopilot memilih ikut-ikutan bungkam. Sejauh sonar penjagaan keduanya, belum ada tanda-tanda kaiju kategori manapun yang berusaha menyerang. Berasumsi konyol, para kaiju tersebut mungkin sedang melaksanakan rapat penting untuk melakukan penghancuran massal terhadap tembok tinggi yang telah dibangun secara berlapis oleh manusia. Konstruksi terbaru The Wall yang berada di garis pantai Pasifik dikatakan memiliki nilai absolut yang tinggi. Mendekati kesempurnaan. Lapisan dinding baja berjumlah tiga dengan tipe fasilitas penunjang kehidupan yang berbeda-beda. Para politisi dan orang penting lainnya hidup nyaman di lingkaran sangkar terdalam. Tanpa takut akan penyerangan kaiju yang mendadak.

Pemuda berusia delapan belas tahun itu menggeleng tiba-tiba. Membuat ketidaksinkronan gerakan dengan sang kopilot.

"Eren." Levi mengeja nama si pemuda dengan suaranya yang khas. Pemuda itu buru-buru kembali fokus. "Hn. Perihal pernyataanku tadi, kau ingin aku bermula dari mana, huh?"

Tawaran mendongeng masa lalu bukanlah hobi seorang Levi layaknya sosok Ibu terhadap anaknya di kala malam hari. Sebelum tidur dan bersua dengan mimpi. Tetapi, menilai bagaimana pemuda itu sibuk dengan alam lain di benaknya yang semakin memudahkan bagi Jaeger ini untuk berpindah ke mode R.A.B.I.T, ada faktor pengacau lain yang bisa distimulasi. Apapun bisa dilakukan guna mencegah distraksi alam nyata yang kian berpusat di satu titik fokus ke alam bawah sadar. Sang korporal memulai dengan desah nafas yang panjang sebelum menemui prolog kisahnya.

"Apa yang sesungguhnya terjadi saat Rogue Titan pertama kali diluncurkan? Apa benar Commander Erwin tidak mengikuti instruksi pusat kendali Shatterdome?" pertanyaan Eren tepat sasaran. Nampaknya, ia sudah menyusun dengan baik deretan pertanyaan yang ingin diajukannya sejak tadi. Levi memejamkan mata beberapa saat sebelum berujar.

Layar-layar hologram mencatat sejumlah kalkulasi beruntun akan kondisi fisik serta stamina Rogue Titan. Fokus Levi mendarat pada angka-angka biner yang berubah-ubah tiap detiknya, "apa yang selama ini kau ketahui?" Pertanyaan di balas pertanyaan. Sungguh, inilah yang cukup dibenci Eren. Meski mengagumi profil Levi yang membenci basa-basi dan kaya akan strategi perang, tetap saja, cara pria itu mengungkap kebenaran selalu diawali dengan kalimat pembuka ambigu.

"Tidak ada. Setidaknya begitulah yang sesungguhnya terjadi. Lagipula, aku masih terlalu balita saat tragedi itu dikabarkan ke seluruh penjuru negeri. Dan juga—Ayahku masih hidup saat itu. Baik setelah aku dikirim di Akademi Jaeger bersama yang lainnya, para guru dan instruktur sama sekali tidak pernah mengungkit apapun mengenai masa lalu Rogue Titan. Bahkan, kurasa Jaeger generasi satu ini masih nameless. Itulah yang kutahu."

Levi mendengus. Eren cukup tersinggung. Lagi, pria bermata suram ini mendesah, "berbulan-bulan setelah kematian Erwin, barulah mereka berhasil menemukanku terdampar di Arktik. Seorang kakek tua dan cucunya menolongku satu kali. Aku pun kembali hidup dari maut. Jika saja mereka membiarkanku mati bersama Jaeger ini saat itu, tentu tak perlu ada yang menanggung derita." Spontan, Eren membulatkan mata. Turquoise beningnya mengamati sosok sang korporal meski tampak terlalu buram. Ia melanjutkan. "Ayahmu, Grisha Yaeger, adalah peneliti pertama yang memprakarsai mesin berinti nuklir di tubuh Jaeger. Sebelumnya, raksasa ini diprogram untuk bersifat layaknya mesin tempur biasa. Akan tetapi, menghabisi para kaiju dengan peluru saja tidak cukup. Nuklir menjadi perbincangan yang membuat urat para petinggi tiap negeri adidaya terlihat semakin kusut. Mereka tidak bisa memerkirakan jumlah kerusakan yang ternyata jauh melebihi kehancuran yang telah dibuat oleh para kaiju itu sendiri. Karena itu, ayahmu bertekad untuk menyimpan cetak biru Rogue Titan seorang diri. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Nuklir bisa menjadi alat propaganda dan jelas negeri yang dapat menguasainya akan bertindak sebagai pemegang tongkat kekuasaan tertinggi. Meski dikatakan untuk kemanusiaan, manusia tetaplah manusia. Kita tak bisa memungkiri sifat naluriah yang menginginkan kehormatan melebihi siapapun. Walau itu dengan cara terhina sekalipun."

Penuturan Levi menarik minat pemuda di sebelahnya terhadap masa yang telah lampau lebih dalam. Ia meneguk ludah beberapa kali sebelum benar-benar menyaksikan sendiri semua yang akan dikisahkan kembali oleh sang korporal. Hatinya ikut berdentum, seolah mengikuti emosi Rogue Titan. Adrenalinnya turut memperparah keadaan.

"Lalu—apa yang terjadi setelahnya? Um, maksudku, ketika kau kembali ke Shatterdome."

Sudut mata Levi melirik ke arah Eren. Menyipit tajam dengan intensitas yang cukup lama. Rasa grogi membuat pemuda Yeager itu meletakkan pandangannya pada layar-layar hologram. Sesekali ia berusaha menengok, tetapi Levi masih sibuk mengamati dirinya. Cukup aneh.

"Shatterdome pertama yang didirikan meledak sebelum aku tiba di pulau evakuasi sementara. Hanya itu yang kutahu. Hingga pembangunan Shatterdome di garis batas Pasifik telah melewati tahap akhir, di situlah aku kembali bertugas sebagai prajurit. Dan, di Shatterdome yang pertama itulah Ayahmu berada. Ikut meledak bersama ribuan kopi data dan cetak biru Jaeger pertama berinti nuklir miliknya. Semuanya, tak bersisa. Tetapi, Ayahmu cukup cerdas. Meski tak pernah memberitahu siapapun, sebagai kopilot Jaeger yang didesainnya seorang diri, bisa kutebak ia menyimpan otak sekunder Rogue Titan di tempat yang tidak semestinya. Seolah—ia bisa memerkirakan suatu saat, kelak Jaeger generasi satu ini akan hancur berkeping-keping. Aku dan Erwin menyadari hal itu. Tetapi, ia memilih untuk menyelamatkan kapal tanker berisi minyak yang berlayar melebihi garis parameter hingga kaiju kategori lima brengsek itu menyerang secara membabi buta. Tepat di saat kaiju itu merobek lambung kemudi Jaeger dan menelan Erwin bulat-bulat, sisa radioaktif yang terkumpul dalam tubuh Jaeger ini mengakhiri segalanya. Baik kaiju itu dan juga beberapa daratan Atlantik hingga mencapai habitat manusia terdekat, yakni Pasifik. Berkat itu, selama kurun waktu yang terbilang cukup lama, tak ada lagi kaiju yang menyerang manusia, namun jumlah manusia yang mengalami penyakit akibat radiasi nuklir benda baja ini ikut meningkat drastis. Ironis, bukan?"

Eren berdehem. Masih berjalan di antara deru ombak Pasifik.

"Jadi itu alasan mengapa proyek Jaeger berinti nuklir dihentikan?" beo si pemuda membuat konklusi. Levi mengangguk. "Aku tidak tahu ternyata selama ini aku mengemudikan seonggok raksasa yang membawa-bawa nuklir dalam tubuhnya. Kekuatan radioaktif Rogue Titan benar-benar berasal dari tubuhnya sendiri."

"Hn. Tidak hanya itu. Hei, Eren—"

"Huh?"

Tiba-tiba, Levi menghentikan gerakan kedua tungkainya. Eren mengikuti sesuai perintah dalam kepalanya. Berdiam dalam posisi statis.

"—kelebihan Jaeger milikmu adalah jenis memori yang dimilikinya. Benda ini mungkin hanya seonggok raksasa tak bernyawa. Tetapi, ia mengenal setiap pilot yang berhasil mengendalikannya melalui DNA mereka. Karena itu, meskipun digunakan selama apapun, ia akan tetapi mengenalimu. Ayahmu hanya ingin benda ini dikendalikan oleh dirimu seorang. Ia menunggu hingga kau cukup dewasa untuk menjadi seorang pilot Jaeger. Di saat itu tiba, semua rahasia Jaeger yang tersimpan bersama abu Ayahmu akan menjadi jelas."

"Mak-maksudmu?"

Alarm disertai lampu kemerahan menyala-nyala tak wajar sepersekian detik setelahnya. Spontan, Levi dan Eren mengambil posisi bertahan layaknya seorang petinju yang bersiap menerima serangan musuh. Hening yang terlalu aneh menyingkirkan dengung alarm yang berasal dari pusat kemudi dalam Jaeger. Kian membising ribut seolah ingin memerlihatkan sesuatu yang teramat berbahaya. Sang kopilot, Levi, mengaktifkan layar-layar sonar sejauh parameter penjagaan mereka. Lingkaran-lingkaran merah yang terbentuk kemudian menuntun Rogue Titan bergerak sesuai insting. Sontak, ada benda raksasa yang mampu menggoyahkan posisi berdiri Jaeger generasi tersebut hingga lunglai ke satu sisi. Levi dan Eren berusaha menahan beban berat yang menindih tubuh mereka dari sisi yang berlawanan. Alarm berhenti berbunyi dan radar musuh berkelip-kelip bagai bintang utara.

"Kaiju!"

Tubuh kedua pengendali Rogue Titan berotasi ke kiri. Berpose seolah memeluk benda raksasa yang telah menjatuhkan tubuhnya yang besar. Membuat posisi seperti seorang atlet sumo. Setelah Levi menganalisis cepat kaiju berkategori tiga tipe reptil itu, satu lengan miliknya terangkat tinggi-tinggi ke atas, lalu melingkarkannya di leher si kaiju. Mencekik erat-erat lehernya hingga lidah bercabang dan berliur itu terlihat semakin jelas.

"Eren! Now!" pekik sang korporal.

Pengisian penuh martil bertenaga atom di tangan kanan sang pilot menembus perut buncit kaiju buruk rupa itu. Beberapa kali ditembakkan dengan kekuatan yang sama hingga rasa panas beratus-ratus Joule mampu melelehkan organ-organ tubuh si kaiju. Rogue Titan melangkah mundur. Menjauhi bangkai kaiju yang terjatuh di atas lautan Pasifik yang berombak. Auman penuh kesakitan menguar ke angkasa. Sontak, monster berekor ini berupaya bangkit meski sudah jelas ia akan mati di saat itu juga.

Sekali lagi, duo pilot dan kopilot terlatih ini memasang posisi bertahan dan kembali melayangkan tinjunya yang teramat keras pada wajah kaiju yang berusaha menyerang dengan sisa tenaga yang ada. Jemari-jemari berkuku monster reptil tersebut berhasil menggenggam pundak Rogue Titan dan mencengkeramnya erat-erat. Untuk ukuran kaiju kategori menengah, ketangguhannya untuk tetap menyerang dan bertahan hidup sangat tinggi. Perut yang telah terkoyak bersama kepala yang juga ikut-ikutan hancur tidak membuat raksasa ini berhenti menahan tubuh titanium sang Jaeger. Bahkan, ia menyempatkan diri untuk menyemburkan cairan asam miliknya yang tentu saja dapat dengan mudah dihalau oleh gerakan sinergis Levi dan Eren. Keduanya menunduk, melepas diri pada cengkeraman si kaiju, namun ekor berduri makhluk setinggi ratusan kaki itu melayang dan mengikat tubuh Rogue Titan. Meliuk di sepanjang abdomen dan punggung Jaeger generasi satu tersebut.

"Urgh! Sial-an! Kenapa kaiju ini tidak mati, huh?!" pekik Eren penuh kekesalan. Urat-urat nadinya tampak dua kali lebih jelas.

"Tsk!" Levi mendecih. Memekik tajam saat melepaskan diri dari jeratan ekor berduri si kaiju. Sontak, ia segera mengaktfikan sejumlah martil-martil dari arah bahu Jaeger. Namun, naas. Sebelum ribuan martil itu terbang menuju tubuh kaiju itu, jerat kuat ekor miliknya sukses mengangkat tubuh gigantis sang Jaeger dan melemparnya tanpa ampun ke angkasa. "Damn!"

"Levi!" teriak Eren.

Ledakan besar terlihat bagai pesta kembang api di langit Pasifik. Muntahan tubuh kaiju yang hancur berkeping-keping menyebar ke segala arah. Rogue Titan seolah melayang di angkasa. Tubuhnya yang terlalu magnus dan keras cukup mampu membuat ombak raksasa dengan kecepatan delapan knot. Debaman dan deburan ombak menyatu bersama tubuhnya yang terjatuh. Nyeri yang cukup aneh terasa meyakinkan detik kemudian. Tengkuk sang pilot dan kopilot menabrak benda yang serupa dengan tembok-tembok baja. Lampu-lampu kokpit menyala-mati seperti kerlipan cahaya bintang. Hingga vakum yang cukup lama bergabung dengan gelap seutuhnya.

Tabrakan keras tubuh sang Jaeger bertanggung jawab terhadap matinya sambungan listrik ke berbagai alat komunikasi dan pemancar suar. Baik Levi maupun Eren tampak menahan nyeri yang menjalar di sepanjang saraf tulang belakang keduanya sebelum akhirnya Levi memutuskan untuk menggerakkan jemarinya ke arah layar analog. Lampu-lampu yang sempat terputus kembali menyala perlahan-lahan. Tak ada suara yang terdengar nyata. Bagai bukan lagi berada di tengah-tengah deburan ombak Pasifik. Karena itu, ia membuat kesimpulan.

"Kita menabrak The Wall."

Lenguh nafas yang berat mengisi alunan suara dalam kokpit kendali. Eren masih tak sadarkan diri dan kian bergulat dengan rasa sakit di kepala dan tengkuk miliknya. Sang kopilot merasakan tetesan darah segar dari hidungnya.

'Tsk. Lagi-lagi.' bisiknya membantin.

Untuk beberapa lama, keduanya bersandar pada titian tembok-tembok bata berlapis baja. Saat berusaha menggerakkan tubuh magnusnya, getaran aneh menjalar dari arah belakang. Merayap seolah kecoa-kecoa yang mencium bau makanan. Jari-jari Rogue Titan mencengkeram celah yang sukses dibuatnya akibat membentur cukup keras dengan The Wall. Meringsut sekaligus berdiri dengan susah payah. Lelah yang telah terakumulasi dari pertarungan-pertarungan sebelumnya membebani tiap desah nafas prajurit Scouting Legion tersebut. Ia menengok ke samping, mengamati sosok Eren yang melenguh. Kemudian, membuat komunikasi dalam dunia pikiran mereka masing-masing.

'Oi, Eren. Eren! Bangunlah!'

'Eren!'

Sontak, sepasang kelereng hijau cerah membuka tiba-tiba. Melotot ke segala arah dan mencari-cari sesuatu dalam kebingungan. Dada miliknya mengembang tak beraturan. Meraup oksigen dengan serakah dan menghembuskannya banyak kali. Pemuda Yeager itu membuka helm yang melindungi dirinya dan menunduk seolah menahan sesuatu yang berusaha keluar dari dasar perutnya. Dan, ia pun memuntahkan sisa makanan dalam lambungnya itu.

'Cih, menjijikkan.'—timpal Levi tak ambil pusing.

"Urgh—ngg, ma-maaf. Tapi, rasanya seperti baru saja menyelesaikan lima ronde roller coaster sekaligus." tutur si pemuda dengan wajah lemas. Ia kembali tertunduk risau sembari mengelus-elus perutnya. Dengusan Levi terdengar bagai hembusan nafas berat. Eren mengintip dari sudut mati mata miliknya. "Levi."

Panggilan lemah pemuda yang duduk sebagai pilot Rogue Titan ini hanya dibalas deheman oleh Levi. Anak-anak rambut coklat gelapnya terjatuh menutupi arah pandangan, "sejak kapan kau mulai kesakitan seperti itu?"

"Huh?"

Kepala Eren lunglai ke satu sisi. Posisi sang Jaeger yang seolah bersandar pada tembok besar memudahkannya untuk mengikuti keadaan yang ada. Tanpa menoleh memandangi Levi, ia berbicara sementara masih sulit mengatur nafas dengan normal, "tidak sengaja aku membaca rekaman pemeriksaan kesehatan yang kau sembunyikan di ruanganmu itu. Semuanya menunjukkan hasil yang sama. Ditolak, ditolak, dan ditolak. Kau tetap terjun sebagai seorang pilot Jaeger meski tubuhmu sudah tak mampu lagi menerima lebih banyak radiasi Wings of Freedom. Belum lagi oleh kenyataan yang kau ungkap beberapa saat yang lalu. Bahwa, kau juga telah terkena dampak nuklir Jaeger ini. Disadari atau tidak—itulah alasan mengapa kau lebih memilih untuk tidak kembali ke kesatuan, bukan?"

"Brat. Sudah kukatakan padamu jika Jaeger ini menginginkan agar aku kembali, maka aku akan kembali. Tidak ada hubungannya dengan kondisi menyedihkan yang kualami." balas sang korporal dengan tajam. Walau terdengar monoton, bagi seorang Eren Yeager, segalanya terlalu kontradiktif. "Aku melakukan ini karena Erwin yang memintaku."

"Jadi—jika Comannder Erwin juga menyuruhmu untuk menerjunkan diri ke tebing, maka akan tetap kau lakukan?" Pertanyaan Eren membuat pria itu membulatkan mata tak percaya. "Meski itu sama saja dengan membiarkan kebenaran mati bersama Jaeger ini?"

"Kau tidak tahu apa-apa! Dasar bocah!" teriak Levi. Mengerutkan alis dan keningnya bersama emosi yang tak dapat ditahannya lagi. Kesal, ia mengumpat dalam desisan. Mencengkeram kepala miliknya di antara sesal.

Eren mendengus, "ya. Aku memang masih bocah. Masih sangat bocah, Corporal Levi. Meski berhasil menjadi pilot Rogue Titan pun, bagimu aku tetaplah bocah ingusan yang menyebalkan. Haha." tukasnya dengan tawa yang dibuat-buat. Terdengar ironis sekaligus. "Kau tahu, saat pertama kali aku melakukan tes uji coba drift melalui one to one combat, aku selalu yakin tak dapat mengalahkanmu. Aku bisa melumpuhkan Jean hingga Reiner, tetapi—tidak denganmu ataupun Mikasa. Alasannya?"

Memilih untuk membisu dan menatap lekat-lekat dengan sisa senyum yang ada pada sang kopilot. Lengan kiri miliknya bergerak perlahan seolah ingin meraih sosok Levi. Mata segelap opal mengamati tiap gerakan Eren. Namun, jemari-jemari yang terbungkus seluruhnya oleh metal-metal hitam itu kembali terjatuh.

"Katakan jika ini adalah suatu kesalahan. Tetapi—aku menyukaimu, Corporal."

Hingga detik itu berhenti, suara-suara bising merambat melalui dengung layar-layar kokpit. Menyala-nyala dan memunculkan sinyal pengembalian. Cahaya menusuk mata tersingkap begitu saja dari atas kepala mereka. Suar-suar dari lampu-lampu raksasa memuntahkan sinarnya yang teramat terang. Dua sosok manusia yang lelah menyipitkan mata. Mengamati di balik pertanyaan yang bermunculan. Suara tapak-tapak kaki dan baling-baling heli memaksa sang Jaeger untuk bersikap awas dan waspada. Layar analog mengembang. Banyak pasang mata mengamati keduanya.

Pasukan pelindung perbatasan The Wall dengan garis pantai Pasifik menginvasi Rogue Titan. Akan ada malam yang terasa begitu panjang untuk dilalui.

.

.

.


To be Continued


Author's Note :

Sesi melodramatik ya? T3T

Dari kemaren kayaknya pengen nge-galau aja. Haha.

Yay! Akhirnya bisa ngapdet setelah sebulan ditinggalin. Janji pengen apdet cepet tapi udah keburu masuk bagian baru. Hiks. Setelah ini saya juga pengen ngilang sebulan lagi. Anestesi, yosh! XD

Sesi si Petra sama Erd itu sesuatu ya. Hehe. Biarlah. Biarlah kita sama-sama menikmati sulitnya hidup menjadi prajurit Jaeger. Hoks. ;Q;

Dan Levi! Dan Eren! ASADCQEIFJDPKVL. Maafkan saya yang lebay begini, Ya Tuhan. T3T

Ah! Saya juga mau memberi rasa terima kasih yang sebesar-besarnya pada siapapun yang telah memilih fanfiksi ini hingga bisa diikutkan dalam proses polling IFA 2013. Hihi. Thanks lotta! XD

No more words. Semoga semuanya bisa menikmati chapter ini. Review sangat diapresiasi. :D