Conceal the Truth

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Warn: Typo(s), OOC, and many more

DLDR

RnR

.

.

.

Tubuhnya lemah di susul matanya yang terlihat sayu. Kantong mata dan juga memar di punggung kakinya terlihat mencolok. Menjelaskan segala keadaan yang dirasakan olehnya saat ini.

Potongan kain yukata di bagian bawahnya terlipat ketika dirinya memutuskan untuk duduk di sisi tempat tidurnya. Bukan untuk beristirahat atau memikirkan kejadian yang tadi siang di alaminya. Melainkan hanya sekedar bersantai, sembari memandang bulan yang kini sudah berbentuk bulat sempurna.

Tidak ada lelah maupun keluhan yang terlontar keluar dari bibirnya, walau setiap hari ia harus bekerja keras membuat gerobak dorong dan kereta kuda di bengkel Danzo-sama. Dua tahun adalah waktu yang cukup untuk dirinya membiasakan diri dengan semua itu.

Rambut cokelatnya terkuncir rapih dengan model kepangan di setiap sisinya. Yukata malam yang baru dua kali ia pakai berwarna biru gelap, terlihat menyatu dengan gelapnya ruangan yang minim cahaya. Pupilnya turun bersamaan dengan bergeraknya dua jempol kakinya yang terasa sedikit nyeri. Terpukul palu. Itu sudah biasa baginya.

"Yang Mulia Puteri, apakah anda sudah tidur?" seseorang bertanya dari balik pintu sembari mengetuk benda keras tersebut.

Tidak ada jawaban. Membuat orang lain berpikir bahwa ia sudah tidur adalah cara terbaik untuk menghindarkan dirinya dari ramuan beraroma memuakkan itu.

Sudah bertahun-tahun Tenten harus tahan mencium dan meminum obat-obatan yang terbuat dari bahan herbal itu. Namun sebanyak apapun ia meminumnya, tetap tidak dapat membantunya menjadi lebih baik.

Tepat di samping jendela kamarnya, sebuah pajangan bambu dengan barisan kalimat bertinta putih diamati olehnya. Kepalanya menunduk meratapi keadaanya. Berulang kali, setiap hari, dari jarak dan waktu yang sama, Tenten membaca sebaris kalimat yang ditulis mendiang Ibunya. Namun semuanya sia-sia, ia tetap tak dapat membaca dan memahami arti dari tulisan itu. Sedikitpun.

Hidup di dalam istana dan menjadi seorang putri tunggal Kaisar, tidak serta merta membuat Tenten bahagia. Atas semua pencapaian yang dicapai oleh Ayahnya, justru Tenten merasa semakin tercekik seiring sepak terjang Ayahnya yang semakin nyata di mata rakyatnya. Terlebih dengan keadaanya.

"Coba pikir, apa yang akan Kaisar Ryu katakan jika mengetahui keadaan Yang Mulia Puteri yang sebenarnya?"

Mereka memikirkan perasaan Kaisar Ryu? Tapi para tetua bodoh itu tidak memikirkan perasaan Tenten yang diam-diam mendengar pembicaraan itu?

"Jika sampai waktunya tiba dan dia belum pulih juga, terpaksa kami harus mengasingkannya."

Ancaman pengasingan menyambangi Tenten setiap malam. Hal itu membuatnya takut setengah mati dan acap kali membuatnya sulit tidur. Apa salahnya dengan kelainan yang dialaminya? Lagipula semua ini juga bukan inginnya. Ia bersumpah dia bukanlah aib yang menularkan penyakit mematikan pada orang di sekitarnya. Kenapa harus mendapatkan ancaman pengasingan? Apa kehadirannya adalah aib bagi pemerintahan istana?

"Sampai kapan aku harus hidup seperti ini Ibu?"

.

Di lain tempat, sebuah ayunan kayu diisi oleh seorang pria yang beranjak dewasa. Sudah sejak satu jam yang lalu ia duduk disana sembari menatap tinggi permadani gelap yang di hiasi ratusan cahaya kecil menggemaskan.

Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah panggung miliknya. Berjalan pelan menuju halamannya yang di kelilingi pagar bambu setinggi satu meter. Di tangannya tersaji manisan kesemek dan juga segelas air putih dan beberapa potong semangka. Ia meletakkan semua itu di atas sebuah kursi bambu tak jauh dari tempat ayunan berdiri.

"Silahkan Neji-sama." ucapnya sembari duduk di sana.

Wajah putihnya terlihat berkilau ketika sinar bulan menimpanya. Walau sudah berumur, namun Neji harus mengakui, bahwa mantan gurunya itu masih terlihat cantik hingga saat ini.

"Sudah kubilang untuk memperlakukanku sama seperti muridmu yang lain bukan?" kata Neji sesaat setelah menoleh pada wanita berambut pirang itu.

Tsunade. Wanita cantik bernama Tsunade sekaligus mantan gurunya itu hanya menunduk sungkan.

"Aku sedang berusaha Neji-sama." jawabnya lirih.

Senyum samar muncul begitu saja dari Neji setelah mendengar jawaban Tsunade.

Jemari Tsunade bermain. Bibirnya mengatup berulang kali. Dahinya berkerut di sertai raut cemas membingkai jelas wajah itu. Jelas ia ingin menanyakan sesuatu namun ragu untuk mengatakannya.

"Sebenarnya aku ingin mengatakan maksud kedatanganku kemari sejak tadi. Tapi karena Tsunade-san yang terlihat sibuk dengan pasien-pasien tadi, aku mengurungkan niatku."

Penuturan Neji barusan melunturkan ke khawatiran di dalam dirinya. Bibir berlapis lipstick merah itu tersenyum tipis.

"Maaf Neji-sama. Setiap sore rumah ini akan selalu di penuhi oleh para pasien yang membutuhkan pengobatan." kata Tsunade menjelaskan keadaan rumahnya secara singkat.

Pria itu mengangguk paham. Udara malam begitu dingin. Namun semua itu seolah berhasil ditepis dengan sendirinya oleh badannya. Mungkin karena saat ini dirinya sedang merasa gembira.

"Sungguh itu sama sekali bukan masalah. Bahkan jika Tsunade-san mau, aku bisa membantu. Anggap saja sebagai bayaran selama aku tinggal di sini." kata Neji.

"S-sungguh. Neji-sama tidak perlu melakukan itu. Tenagaku dan Shizune sudah lebih dari cukup untuk menangani mereka semua. " balas Tsunade cepat. "Lagipula rumahku terbuka untuk siapaun."

Neji menoleh. Lagi-lagi Tsunade melihat senyuman itu di wajah pria bergaris wajah tegas itu. Meski suasana gelap dan hanya ada lampu 5 watt di beranda rumahnya, namun mata Tsunade cukup jeli itu menyadari ekspresi salah satu murid tercerdasnya itu.

"Aku sedang mencari seseorang,"

"S-siapa? Aku mengenal semua orang di desa ini." Sela wanita itu antusias. Sesaat kemudian ia kembali bungkam saat Neji menatapnya datar walau tanpa melepas senyumnya. "M-maaf Neji-sama."

Hyuuga itu menghela napas panjang lalu kembali berbicara,

"Lebih tepatnya aku merindukannya. Tsunade-san tidak perlu repot membantuku. Aku sudah bertemu dengannya tadi siang sebelum kemari."

"Benarkah? Siapa dia? Aku tidak menyangka Neji-sama memiliki teman di sini." ungkapnya sedikit terkejut.

"Pertemanan itu universal. Kita bisa berteman dengan siapapun dan di belahan bumi manapun."

Tsunade mengangguk paham. Benar yang Neji katakan. Berteman adalah hal yang dapat dilakukan oleh siapapapun dan dimanapun.

"Aku belum bisa menjelaskan siapa dia Tsunade-san. Akan tiba waktunya semuanya tahu. Saat dia lelah atau memutuskan untuk berhenti berperan dibalik topengnya dan menyerah untuk berdiri sebagai bayanganya yang tidak nyata." tutur Neji tanpa menjelaskan semuanya secara signifikan.

Hanya anggukan samar yang ditunjukkan Tsunade sebagai balasan. Sungguh ia benar-benar tidak tahu apa maksud Neji barusan.

"Boleh aku bertanya satu hal padamu Tsunade-san?" tanya pria itu menghadap gurunya.

"Tentu."

"Apa yang kau tahu tentang pria bernama Naoto?"

Hening sesaat. Tsunade menimbang jawaban apa yang tepat untuk mendeskripsikan seorang Naoto yang cukup lama ia kenal.

"Naoto teman Lee dan Kiba itu?" tanyanya balik.

Anggukan Neji menjadi balasan dari pertanyaan Tsunade.

"Naoto.. dia adalah pria yang baik dan setia kawan. Meski tidak cukup pandai, dia adalah pria yang bertanggung jawab dan pekerja keras." jelasnya singkat.

Mata Neji berkedut dibagian kelopaknya. Tidak cukup pandai?

"Tidak cukup pandai?" tanya Neji mengulangi kalimat yang baru saja wanita itu katakan.

Tsunade mengangguk sebelum akhirnya menganggapi jawaban Neji.

"Dia pengidap disleksia."

"Disleksia?"

"Bukan penyakit. Melainkan gangguan dimana ia jarang dan cenderung tidak mampu mengolah bahasa yang baik dan tidak memiliki kemampuan belajar yang menyebabkan otak gagal mengenali simbol-simbol tertentu."

"Sejak kapan?"

"Entahlah. Sejak pertama mengenalnya, aku sudah mengetahui keadaanya yang seperti itu." jawabnya mengedikkan bahu.

Neji tertegun. Kenapa ia sama sekali tidak mengetahui hal itu jika memang kelainan itu sudah diidap gadis itu sejak lama. Tapi jika dipikir lagi, Yang Mulia Puteri bukanlah orang yang bodoh. Buktinya saat sore, di musim semi 8 tahun yang lalu, Neji membiarkan gadis itu mengerjakan pekerjaan rumahnya yang diberikan oleh Tsunade sendiri. Saat itu Neji malas mengerjakannya karena dirinya sedang tidak dalam mood untuk memikirkan hal-hal yang terlampau rumit.

Itu artinya bukan kelainan bawaan lahir. Namun sesuatu telah terjadi pada Yang Mulia Puteri. Lalu, apakah hal itu yang mendasari penyamarannya? Atau ada alasan lain dibalik sosok Naoto yang di perankannya?

"Neji-sama.." Tsunade memanggil pelan Neji yang secara tiba-tiba melamum setelah mendengar penjelasannya.

"Tsunade-san, apa kau tahu apa yang mendasari kelainan itu?" tanyanya tiba-tiba.

Wanita itu jelas terkejut. Sikap Neji berubah setiap detik tanpa dapat ia prediksi.

"Faktor keturunan,"

Neji kembali diam. Ia menggeleng samar dan meyakini pendapat pribadinya. Ia yakin bukan faktor keturunan yang menyebabkan hal itu terjadi. Fakta mutlak yang membuktikan itu semua adalah tidak lain Kaisar Seiyu yang masuk dalam kategori 3 Kaisar tercerdas di antara Kaisar 7 bangsa besar. Sedangkan Miraie, yang tidak lain mendiang Permaisuri adalah wanita pencetus kerja sama antar bangsa dalam bidang perairan. Jadi faktor keturunan adalah penyebab yang bisa dibantah dengan mutlak.

"Penyebab lain?" tanya Neji sembari bergeser mendekat ke arah Tsunade.

Wanita itu terlihat berpikir sesuatu. Kedua manik madunya mengarah keatas mengingat beberapa kalimat yang pernah ia baca di buku hypnoterapy beberapa waktu yang lalu.

"Kecelakaan yang menyebabkan trauma otak. Hal itu bisa juga menjadi penyebab disleksia." jawabnya setelah menimbang beberapa lama.

Kecelakaan? Insiden macam apa yang menyebabkan keadaan Yang Mulia Puteri menjadi begitu buruk?

To Be Continued..

Fast upadate? Sepertinya tidak juga XD

Mulai saat ini mungkin aku gak akan banyak omong dan hanya akan berbicara seperlunya saja XD Kecuali jika ada yang bertanya, aku janji akan aku jawab. Tapi kalo untuk basa-basi kayanya gak akan lagi XD

Oh iya, aku mau kasih sedikit gift buat kalian khusus untuk fanfic ini. Untuk review terbaik *menurut aku*, satu karakter yang kalian inginkan untuk ikut berperan dalam fanfic ini. So, siapkan review terbaik kalian *terserah mau kritik, saran, atau masukan. Fansgirling juga di terima kok XD* dan jangan lupa cantumkan nama karakter favorit kalian di bawahnya ya :3

Terserah mau karakter Naruto atau Xover sekalipun. Di mohon chara yang dipilih bukan chara yang sudah keluar di dua chapter ini ya :"D Akan dua review untuk dipilih. Jadi, let's play guys ^_^

Rahasia: Kamu pasti tau kok Naoto siapa XD Alasan nyamar belum terkuak ya XD Akam segera di jelaskan kok. Tapi bukan di chapter ini. Sabar ya :3

Lenny Chan: Aih~ peluk balikk :* Karena memang puteri tumbuh dengan baik. Buktinya dia bisa bikin gerobak kan XD Gak ada kok review yang gak. Semua review itu penting dan asupan semangat buat aku XD ShinoTen, KibaTen, DeiTen masih ngantri ya XD Aku belum dapet idenya XD

Done! Untuk yang log in, seperti biasa cek di PM masing-masing. See you soon semua *emot lope*