Hana Hime
.
.
Naruto ©Masashi Kishimoto
Story (Hana Hime) by Aoi YU Hara
Original Idea by Aoi YU Hara
Genre : Romance and Supernatural
Pair : SasuSakuGaa slight SaiHina (just for this chapter)
Warning : OOCness, Sakura-centric, etc
_Chapter 1_
"A Beginning"
.
=0o0=
.
"Ini untuk Sakura dan Sasuke," Sang Putri Hyuuga memberikan 2 tangkai bunga masing-masing kepada Sakura dan Sasuke. Hinata cilik itu memasang tawanya ketika melihat wajah kedua sahabatnya.
"Ini maksudnya apa, Hime-sama?" tanya Sakura cilik yang kini sedang memutar-mutar bunga di tangannya. Sedangkan Sasuke cilik hanya menatap bunga itu dengan pandangan datar.
"Aku merestui kalian berdua sebagai raja dan ratu, seperti Okaa-sama dan Otou-sama. Hiduplah dengan bahagia," kata Hinata sambil menyatukan kedua tangan Sakura dan Sasuke yang bebas.
"Eh?" Sakura menatap Sasuke yang memandangnya balik. "Tidak! Aku tidak mau kalau sama Sasuke."
Sasuke yang mendengar perkataan Sakura memajukan bibirnya, ngambek layaknya anak kecil lainnya. "Aku juga, siapa juga yang mau sama Sakura. Sakura kan jelek. Aku sukanya sama perempuan cantik seperti Okaa-san."
Perkataan Sasuke membuat wajah Sakura memerah. "Lalu Sasuke merasa Sasuke tampan? Aku juga sukanya sama lelaki tampan seperti Neji-sama!-eh-ups!" Sakura menutup bibirnya dengan tangannya yang memegang bunga, kini dirinya menjadi pusat perhatian Hinata yang melongo dan Sasuke yang wajahnya terlihat marah?
"Eh, Sakura suka Neji-nii-sama?" tanya Hinata masih dengan wajah terkejut.
"Ti-tidak! Bukan begitu Hinata-sama. Hanya-ah!-entahlah."
"Tidak boleh!" teriak Hinata tiba-tiba.
"Ke-kenapa?" Sakura kaget dengan teriakan Hinata, ia menurunkan tangannya yang tanpa sadar ternyata masih berpegangan dengan Sasuke.
"Karena Sakura sama Sasuke harus sama-sama. Sasuke nggak boleh jahat, Sakura cantik kok." Sakura merona mendengarnya. "Dan Sakura." Sakura menatap Hinata. "Sakura nggak boleh suka sama Neji-nii. Sakura sama Sasuke. Harus."
Hinata meraih tangan kanan Sasuke dan meraih tangan kiri Sakura lalu disatukannya, "Bunga ini, yang kuberikan buat kalian itu tanda kalau kalian adalah satu. Tanda-err-cinta. Ya, cinta," ujar sang putri Hyuuga dengan manis. "Aku merelakan kalian bersama. Bahagia selamanya."
"Tapi aku tidak mau sama Sasuke," gerutu Sakura sebal. Ia melirik Sasuke dari sudut matanya.
"Sakura."
"Baik, baik Hinata-sama, aku mau deh sama Sasuke. Sasuke?" Kini Sakura dan Hinata menatap Sasuke yang diam.
"Baiklah, aku mau sama Sakura tapi kalau sudah besar sama Hinata-sama ya?" ujar Sasuke tanpa berpikir panjang.
"Eh?" Sakura menatap horror Sasuke. "Sasuke, kau suka Hinata-sama ya?"
"Ti-tidak! Siapa bilang?" Sasuke memalingkan wajahnya, semburat tipis sewarna rambut Sakura tampak muncul di kedua sisi wajah Sasuke.
"Hayoo... Ngaku!"
"Tidak!"
"Iya!"
"Tidak!"
"Iya!"
"Ti..."
"Sudah," potong Hinata cepat. "Sekarang nggak usah bahas yang Sasuke katakan. Nah, sekarang kalian berdua harus mengucapkan janji untuk bersama selamanya."
"Huh!"
"Ayolah."
Sasuke menatap Sakura, Sakura menatap Sasuke lalu mereka berhadap-hadapan.
"Ayo, Sakura duluan." Hinata menyatukan kedua tangan Sakura dan Sasuke, jadi sekarang seluruh tangan mereka berdua menggenggam 2 tangkai bunga berwarna merah muda dan ungu.
"Sakura akan selalu sama-sama Sasuke. Saat Sasuke sakit atau nggak, Sakura akan selalu menemaninya. Selamanya," ucap Sakura meniru ucapan Hinata setelahnya.
"Gantian Sasuke."
"Sasuke mau sama-sama Sakura, saat sakit atau nggak, Sasuke akan selalu menemaninya. Selamanya," ucap Sasuke sambil menatap kedua emerald Sakura.
"Sekarang Sasuke cium Sakura."
"EH?"
"Ayo!"
"Ta—" Sakura akan membantahnya namun, kecupan nan singkat di pipi kanannya menghentikan ucapannya. Menatap penuh horror ke Sasuke untuk kedua kalinya. "ME-MESUM!"
"—SUM!" Sakura bangun dari tidur singkatnya, ia menarik napas panjangnya dan kemudian menghembuskannya. Ia melihat ke luar jendela. Masih tampak pagi. "Sial! Bagaimana bisa aku bermimpi saat—Argh!" Sakura membenamkan kepalanya ke bantal. "Argh! Aku tidak bisa tidur lagi," gerutunya kesal. Jadi Sakura beranjak dari tidurnya, membenahi kasur kecil yang ditidurinya selama seminggu ini.
Ditatapnya sekeliling kamar, barang-barangnya sudah ditata kemarin, tidak banyak hanya 1 tas gendong berukuran medium. Sakura yang tidur hanya 2 jam, masih merasa kantuk, sesekali ia tampak menguap. Setelah ke kamar mandi untuk menunaikan panggilan alam dan mengusap mukanya juga melakukan ritual pagi lainnya. Sakura bersiap keluar sudah menggunakan pakaian pengawalnya yang berwarna merah.
"Kau mau kemana pagi-pagi seperti ini?" Sakura terlonjak kaget ketika suara yang amat dikenalnya terdengar. Ia berdiri dan membalikkan tubuhnya, menatap rekan sekaligus sahabatnya yang juga sudah berpakaian pengawalnya.
"Sasuke! Kukira kau masih tidur." Sakura menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Jawab pertanyaanku, Sakura."
"Hanya pergi eum untuk berlatih? Dan mungkin aku akan pergi ke hutan, hanya untuk melihat-lihat saja," tambah Sakura ketika melihat Sasuke akan membantah perkataannya.
"Aku ikut. Tunggu sebentar, aku akan ambil pedang."
"A-apa? Hei, Sasuke!"
.
=0o0=
.
Akhirnya Sakura yang niat awal ingin menikmati air terjun di hutan harus di urungkannya. Karena pemuda menyebalkan yang kini berada di sampingnya, ikut berjalan dengannya ke arah hutan.
"Menyebalkan. Sialan. Dasar Pantat Ayam," rutuk Sakura dalam hati selama perjalanan. "Berhenti," ucap Sakura menghentikan langkah Sasuke. "Kita akan berlatih disini dan karena kau dengan baik hati mau menemaniku," ("Aku tidak menemanimu," gerutu Sasuke.) "maka terimalah permintaanku untuk latih tanding denganmu. Bagaimana Sasuke-sama?"
Sasuke menaikkan alisnya, pemakaian suffiks-sama oleh Sakura menandakan dirinya sedang kesal. Tapi kesal karena apa?
"Hn." Sasuke menarik pedangnya keluar. Kini 2 pedang bermata tajam tampak saling beradu.
"Hanya latih tanding saja kurasa tidak menarik, bagaimana kalau kita taruhan?"
"Sa—"
"Jika aku kalah, kau boleh mengikutiku berkeliling hutan ini dan jika aku menang kau tidak boleh mengikutiku berkeliling hutan ini. Dan jika kita seri lebih baik kita pulang."
"Sakura."
"Durasi hanya sampai matahari di atas kita."
Sasuke memicingkan matanya. "Ada apa denganmu, Sakura?" Ia menurunkan sedikit pedangnya.
"Duel atau kembali?"
"Saku—"
"Sasuke!"
"Baiklah." Sasuke menaikkan pedangnya. Dan akhirnya Sakura dan Sasuke berlatih tanding keahlian masing-masing. Dua pengawal Sang Putri saling beradu pedang, tempat yang awalnya sepi itu kini ramai dengan suara beradunya pedang.
Sasuke yang dengan setengah hati menyanggupi permintaan Sakura hanya menggunakan setengah dari kekuatannya sehingga Sakura menyerangnya dengan penuh dan tak main-main.
"Gunakan seluruh kekuatanmu, Sasuke. Aku tak mau menang taruhan karena dikasihani olehmu," ucap Sakura dingin.
Sasuke yang menyadari Sakura tak main-main, mulai menggunakan seluruh kekuatannya. "Baiklah jika itu keinginanmu."
Dan dimulailah adu pedang itu dengan seluruh kekuatan masing-masing. Latih tanding terakhir, Sakura kalah hanya dalam waktu 20 menit tapi sekarang 30 menit berlalu dan dia masih kuat menyerangku? Dia ternyata berkembang pesat. Batin Sasuke sedikit gembira akan perkembangan Sakura.
"Sasuke," panggil Sakura disela adu tandingnya.
"Hn?" Sasuke melompat rendah ketika Sakura mengarahkan pedangnya ke bawah tubuhnya.
"Kau mencintai Hinata-sama?"
CTRANK! Gerakan mereka berdua terhenti, Sasuke menatap Sakura dalam.
"Kau, apa yang kau katakan?" tanya Sasuke memastikan.
"Kau suka—cinta—Hinata-sama?"
"Sakura aku—"
Sakura yang memasang wajah serius sedetik kemudian tersenyum tipis. "Kau kalah," ucapnya sebelum memukul titik mati tangan Sasuke, membuat Sasuke melepaskan pedangnya dan detik selanjutnya pedang Sakura terhunus ke jantungnya dimana berada.
"Cih!"
"Aku menang," Sakura tersenyum senang. Ia menurunkan pedangnya dan memasukkannya ke tempat pedangnya berada. "Sekarang kau kembalilah. Aku akan berkeliling sendirian. Jangan ikuti aku, oke? Sampai ketemu..."
"Sakura." Sasuke menangkap pergelangan tangan Sakura sebelum ia beranjak. "Boleh aku menjawab pertanyaanmu tadi?"
Sakura menaikkan salah satu alisnya, bingung. "Apa?"
"Soal aku menyukai Hinata-sama, aku sudah tidak menyukainya lagi. Kini, ada seseorang yang lain yang kusuka. Seseorang yang keras kepala dan tak pernah merasa puas. Ia maunya menang sendiri. Dia, gadis yang menyebalkan," kata Sasuke sambil menatap langsung ke mata Sakura.
Sakura tertegun. Ciri-ciri itu? Sial! Tidak mungkin, kan, Sasuke suka—aku? Ucap Sakura dalam hati.
"A-aku harus pergi, jaa ne." Sakura berlari menembus hutan, meninggalkan Sasuke yang menatapnya dengan sedih.
.
=0o0=
.
Sakura terus berlari menembus hutan. Setelah merasa lelah, ia pun jatuh bersandar di salah satu pohon. Wajahnya memerah karena lelah dan juga penyataan tidak langsung Sasuke, jantungnya berdegup sangat kencang. Ia memegangi dimana jantungnya berada.
"Kami," Sakura menatap ke atas dimana langit biru terbentang luas. "Apa yang harus ku lakukan? Dan perasaan apa ini?"
Tapi, Sakura sadar siapa dirinya dan siapa Uchiha Sasuke. Sakura hanya seorang gadis yang beruntung dirawat oleh Hyuuga Hiashi, asal-usulnya tidak jelas. Dia tak pantas untuk seorang Uchiha. Seperti dulu saat aku masih menyukai Neji-sama, aku tidak pantas dengannya ataupun dengan siapapun. Aku tidak pantas. Sakura mengusap pipinya yang mulai meneteskan air mata.
Meskipun kini Uchiha—setau masyarakat kebanyakan—hanya tinggal 2 orang yaitu Uchiha Sasuke dan kakeknya sendiri, Uchiha Madara, namun, ketenarannya dan tingginya derajat Uchiha tidak pernah dilupakan oleh orang-orang. Sebelum kejadian itu dimana Uchiha adalah salah satu keluarga terpandang, menjadi kerabat dekat dengan Hyuuga, Uchiha meski berada di kota yang sama dengan Istana Hyuuga, mereka tidak pernah merasa terikat dengan istana itu. Uchiha bukan orang yang suka tunduk pada perintah orang lain. Meski begitu, tali persahabatan antara Uchiha dan Hyuuga tidak membuat mereka saling melukai malah saling membantu.
Sayang, kejadian itu membuat semuanya berubah, keluarga yang dulunya amat dielu-elukan oleh masyarakat kini hilang, tak berbekas, hanya meninggalkan Uchiha Sasuke dan Sang Kakek, Uchiha Madara yang sudah terlalu tua untuk mengurusi Keluarga Uchiha. Akhirnya Sasuke dirawat di Kediaman Hyuuga, menjadi pengawal pribadi Sang Putri.
Kejadian yang terjadi ketika Sasuke berumur 7 tahun mengubah pribadinya. Sakura tau, karena ia dan Sasuke juga Hinata bersama-sama semenjak kecil, bermain dan tertawa bersama. Dulu, Sasuke dengan mudahnya tertawa sekarang untuk tersenyum pun itu hal yang paling sulit dilakukannya.
Tapi apa benar Sakura tak merasakan apa-apa setelah pernyataan Sasuke? Tidak. Sakura merasakan sesuatu hanya saja ia tidak tau, perasaan apa yang menyelimutinya kini?
Jika benar itu perasaan cinta pun, sulit membayangkan dirinya bisa bersama Sasuke. Mustahil!
Dan hal ini lantas menimbulkan perasaan kecewa akan hidupnya lagi. Kenapa ia dibuang? Kenapa bisa ia berada di Kediaman Hyuuga? Sudah sangat lama, ia melupakaan perasaan penasarannya tentang keluarganya, keluarga barunya lebih berharga dibanding keluarga yang bahkan membuangnya.
Keluarga baruku lebih berharga. Ucap Sakura kepada Sang Raja, Hiashi Hyuuga ketika Hiashi menawarkannya untuk mencarikan keluarganya. Bukan, bukan karena Sakura tak penasaran hanya saja ia tak ingin merepotkan Hiashi lagi. Dan alasannya itu memang benar, ia lebih mementingkan keluarganya yang sekarang daripada keluarga kandungnya.
.
=0o0=
.
Air terjun itu berada tak jauh dari pohon yang dijadikannya tempat bersandar tadi dan benar seperti kata Shimura Sai, tempat itu indah sekali. Sakura meletakkan pedangnya di atas batu besar yang ada di tepi air terjun itu juga melepas alas kakinya. Setelah itu ia membasuh mukanya, menghapus jejak-jejak air matanya. Setelah selesai ia mencelupkan kedua kakinya kedalam air, dingin.
Beberapa lama kemudian, muncul suara dari arah semak-semak. Sakura dengan instingnya segera meraih pedangnya, menatap sekelilingnya.
"Ada orang datang. Sial. Beruntung jika itu penduduk tapi aura ini, cukup kuat," ucapnya lirih. Sakura mengambil pedangnya dan alas kakinya yang kemudian disembunyikan ke tempat yang tak terlihat. Segera ia menenggelamkan dirinya ke air, hingga seluruh tubuhnya tak terlihat.
Dan tepat saat ia menenggelamkan dirinya, muncul 2 orang berpakaian hitam-hitam dengan pedang di tangan mereka. Kain yang diikatkan di lengannya yang berlambang bulan sabit dengan goresan miring menunjukkan mereka adalah anggota dari perkumpulan samurai bayaran. Terlihat mereka sedang berbicara serius.
"Salah satu dari mereka dikabarkan ada disini. Salah satu penduduk desa melihatnya," ucap salah satu dari 2 sosok itu.
"Siapa? Dan kenapa dia ada disini? Jika menghitung waktu, kira-kira waktunya masih 2 tahun lagi kan. Terlalu cepat kurasa bagi mereka bergerak sekarang."
"Kau benar." Dua orang itu berhenti dan menatap air terjun di depan mereka. "Jika yang mereka cari adalah Hana Hime, apa berarti Hana Hime ada di daerah ini?"
"Bukankah itu kenapa kita berada disini? Jika kita mendapatkan dulu Hana Hime, tentu akan terjual mahal bukan?"
"Ah, kau benar." Kemudian dua samurai bayaran itu melanjutkan perjalanannya setelah berhenti sejenak menikmati air terjun, bahkan samurai terkejam pun akan tunduk pada indahnya air terjun ini.
Setelah 2 sosok samurai itu menghilang, Sakura segera keluar dari air. Ia mengambil oksigen banyak-banyak setelah keluar dari air. Air sedingin es itu kini sangat mempengaruhinya, tubuhnya menggigil hebat. Sial!
Tapi informasi yang didapatkannya tadi lebih penting ia pikirkan daripada tubuhnya yang kedinginan hebat. Siapa 'mereka' dan apa itu 'Hana Hime? Pertanyaan yang kini muncul di otaknya. Awalnya ia menduga Hana Hime adalah Hinata tapi terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia berpikir akan menanyakannya kepada Hiashi karena ia merasa informasi ini penting.
"Kurasa aku harus segera kembali sebelum mati kedinginan disini," gerutu Sakura setelah mengambil alas kaki yang disembunyikannya.
.
=0o0=
.
"Sa-sakura? Ada apa dengan tubuhmu?" Gaara segera menanyakan ada apa dengan dirinya setelah memasuki kawasan Kediaman Shimura.
"Hanya, tercebur?" Sakura akan masuk ke dalam rumah tapi tangan Gaara menghentikannya.
"Kau berbohong."
Sakura mendengus, Gaara tak bisa dibohongi, itu kenyataannya. "Baiklah, aku bohong. Akan aku ceritakan setelah kita kembali ke istana. Mengerti? Sekarang biarkan aku lewat karena aku kedinginan."
Gaara menurutinya, ia mengangguk kecil. Sakura tersenyum simpul sebelum masuk ke rumah. Ia menatap kepergian Sakura di balik pintu dengan wajah sedih? Atau kecewa? Kecewa dengan apa Gaara?
"Sampai kapan kau mau berdiri disitu terus, hm?" ucap seseorang membuyarkan semua lamunan Gaara. Gaara menatap tajam pemuda onyx di sampingnya yang sedang bersender nyaman di dinding.
"Sasuke," panggil Gaara lirih.
"Hn?"
"Apa kau merasa Sakura menyukaimu?" Sasuke menghentikan gerakannya menatap pohon-pohon di depannya. Ia beralih menatap Gaara. "Apa kau—?"
"Aku tidak tau," ungkapnya jujur. "Dia hanya berlari, tadi. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Saat itu aku merasa dia mungkin masih mencintai Neji."
"Mungkin dia tak tau maksud perkataanmu?" kata Gaara sinis.
"Setidak jelasnya pernyataanku, Sakura bukan gadis bodoh, dia pasti tau siapa yang aku maksud tadi." Sasuke melipat kedua tangannya di dada. "Lalu bagaimana denganmu?"
Gaara menerawang ke langit. "Aku ingin mengatakannya juga, kau tentu tau. Tapi melihat keadaan bagaimana kau dicampakkan, aku tak ingin mengambil resiko."
"Aku tak dicampakkan, jika kau mau tau."
"Berlari menghindar setelah pernyataan cinta, apa yang disebut kalau bukan dicampakkan, Uchiha-sama?" Gaara tersenyum meremehkan.
"Hn." Sasuke memalingkan mukanya kesal. Dicampakkan? Cih!
Gaara melangkah masuk. "Berhenti bermuka masam seperti itu, Sasuke. Ah ya, aku ingat, bagaimana nanti jika kau bertemu dengan Sakura? Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tidak akan melakukan apa-apa," kata Sasuke sambil berjalan masuk mendahului Gaara.
"Benarkah, eh, Sasuke?" Gaara mengikuti di belakangnya.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam, muncul sosok lain dari balik tembok, sosok berkulit sangat pucat yang tersenyum dengan senyum andalannya. "Wah, aku mendapat berita menarik," ucapnya kepada dirinya sendiri.
.
=0o0=
.
Tok Tok Tok
"Masuk, tidak aku kunci," kata seseorang dari dalam kamar.
Gadis berambut merah muda itu yang kini telah berganti pakaian yang hampir mirip dengan pakaian sebelumnya, hanya saja berwarna hitam dengan warna putih di tepinya.
Sakura melangkah masuk, "Kau sudah siap, Hinata-sama?"
Di dalamnya gadis bermata lavender tersenyum tipis kemudian mengangguk. "Kita akan berangkat sekarang?"
"Ya, matahari sudah tinggi."
"Baiklah." Hinata merapikan yukata berwarna abu-abunya.
"Kalau begitu aku keluar dulu. Akan kupanggil pelayan untuk mengambil barang Hime-sama, tunggulah sebentar," pamit Sakura dengan sopan.
Hinata mengangguk.
Tidak berselang lama, beberapa pelayan masuk, membawa beberapa barang Hinata. Setelah pamit kepada Hinata, pelayan itu pergi keluar diikuti Hinata di belakangnya.
"Hinata," panggil seseorang setelah Hinata keluar kamar.
Hinata membalikkan tubuhnya, "Sai?"
"Kau akan segera kembali?"
"Ya, aku tidak mungkin meninggalkan istana terlalu lama," jawab Hinata.
Sai mendekati Hinata, diangkatnya tangan kanannya kemudian mengelus pipi kiri Hinata. Hinata hanya diam atas perbuatan Sai.
"Aku pasti merindukanmu," ucap Sai tulus.
Hinata mengangkat tangannya, memegangi tangan Sai yang berada di pipinya. "Aku juga."
Tangan Sai turun, ia kemudian menarik Hinata kedalam pelukannya. "Aku masih menunggumu, Hinata."
"Mengertilah, Sai. Aku tidak bisa. Aku—"
"Ya, aku mengerti. Kau mencintai orang lain tapi aku ingin egois. Aku," Sai menghentikan ucapannya sejenak. "Aku berharap masih ada celah bagiku. Karena itu aku akan menunggumu berhenti mencintai dia."
"Terimakasih dan maaf."
"Hinata, apa hubungan sebenarnya ketiga pengawalmu itu?" tanya Sai setelah melepas pelukannya.
"Apa?" tanya Hinata balik.
"Apa kau tidak apa-apa? Kupikir mereka mencintai gadis itu. Padahal kau mencintai—"
Hinata segera memotong ucapan Sai. "Tidak, aku tidak apa. Biarkan saja seperti ini untuk sementara."
"Kau yakin?"
"Entahlah." Hinata melihat keluar jendela ketiga pengawal pribadinya sedang bersenda gurau—err—tepatnya hanya si rambut pink. "Mereka terlihat akrab, bukan, Sai?"
"Hn."
Hinata menatap ketiga pengawalnya dengan pandangan tak terbaca. Lavendernya mengamati Sakura dengan saksama. Tersirat raut sedih dan penyesalan pada mukanya, namun segera terganti dengan raut wajah tersipu melihat salah satu pemuda di samping Sakura tersenyum tipis. Dan pemuda di sampingnya menangkap raut wajah Hinata.
"Kau sangat mencintainya, eh, Hinata?" ucap Sai dalam hati.
.
=0o0=
.
"Sialan kau, Sasuke!" Sakura menatap tajam ke onyx Sasuke. "Kukira apa, ternyata hanya bercanda. Yokatta."
Sasuke mengangkat alisnya. "Kau... Bersyukur?"
"Hahaha tentu saja. Kupikir kau serius! Ternyata kau hanya membalas perkataanku yang sebelumnya." Sakura tertawa senang.
Di samping kiri Sakura, Gaara terlihat tersenyum meremehkan. "Menarik sekali, kan, Sasuke?"
Sasuke memasang death-glare andalannya yang dibalas hanya dengan tawa kecil Gaara.
Sakura berhenti tertawa, memandang kosong depannya. "Karena itu akan jadi hal yang mustahil jika kau serius, Sasuke."
"Apa?" Sasuke mengalihkan perhatiannya ke Sakura.
"Benar kan, Gaara?" Sakura menyenggol Gaara di sebelahnya. "Bukankah seorang Uchiha tidak cocok dengan gadis yang tidak jelas asal-usulnya?" Ia tersenyum tipis, tapi matanya tersirat kesedihan yang mendalam.
"Sakura," panggil Gaara dan Sasuke bersamaan. Gaara melirik Sasuke dengan ekor matanya.
"Kenapa kau bicara seperti itu, Sakura? Aku kan sudah katakan, pernyataan tadi hanyalah bercanda," ujar Sasuke lain dari kata hatinya yang mengatakan Aku serius, Sakura.
"Aduh, maaf aku membuat suasana menjadi canggung ya? Sudahlah jangan pikirkan hal itu, lagi. Hahaha..." tawa renyah Sakura, ia kemudian merangkul kedua lengan sahabatnya. "Ayo kita bersiap."
"Baiklah," jawab Gaara.
"Hn." Sasuke tersenyum amat tipis.
Lalu mereka bertiga berjalan beriringan menuju kereta kuda yang sudah disiapkan untuk dinaiki Hinata. Sedang, barang-barang Hinata dibawa oleh beberapa pelayan Hinata. Barang milik Sasuke, Gaara dan Sakura yang notabene hanya sedikit, dibawa sendiri.
Setelah persiapan ini-itu, mereka bersiap berangkat. Hinata berpamitan untuk terakhir kalinya kepada Shimura Sai dan kakeknya, Shimura Danzou.
"Uchiha-san," panggil Danzou pada Sasuke. Sasuke mengalihkan perhatiannya kepada Danzou. "Ucapkan salamku pada kakekmu, katakan padanya, aku akan menantangnya bermain shogi jika bertemu," ucapnya dengan tampang datar.
"Aa, baiklah, Shimura-sama." Sasuke sedikit ber-ojigi sebelum berjalan ke sisi lain kereta kuda. "Kami permisi dulu."
"Ya, berhati-hatilah. Dan jangan hilangkan kewaspadaan kalian. Aku dengar ada kabar beberapa buronan melarikan diri ke hutan," kata Sai.
"Terimakasih atas perhatiaannya, Tuan." Gantian Sakura yang berojigi yang dibalas dengan senyum tipis Sai.
Dan setelah itu kereta kuda itu melaju meninggalkan kediaman Shimura. Perjalanan dari Kediaman Shimura ke Istana Hyuuga tak terlalu jauh namun, karena Kediaman Shimura yang terletak di daerah perbatasan dan terhalangi hutan lebat membuat mereka harus berhati-hati jika tak ingin mengambil resiko bertemu penjahat yang berkeliaran di hutan, meskipun hanya buronan
Setelah 2 jam perjalanan tanpa istirahat, mereka sampai di hutan. Mereka harus melewati hutan dahulu sebelum sampai di kota untuk pergi ke Istana Hyuuga yang terletak di jantung kota.
Suasana sepi hutan membuat ketiga pengawal pribadi putri diam. Ya, mereka diam namun, kewaspadaan mereka ditingkatkan. Setiap ada suara kecil mereka akan siap sedia jika andai tiba-tiba ada musuh menyerang.
Dan dugaan Shimura Sai terbukti benar, sekitar 20 buronan menghadang mereka, di tangan mereka terlihat pedang dan senjata lainnya.
"Wah, lihat siapa yang berkunjung," ucap salah satu dari mereka yang diduga pemimpinnya. "Serahkan harta benda kalian, atau kami bunuh. Cepat," ancam pemimpin itu.
"Cih, tikus bodoh." Sasuke mengeluarkan pedangnya, Gaara mengikuti di belakangnya. "Sakura, kau jaga putri biar aku dan Gaara yang membersihkan mereka," ucapnya dingin.
"Ya baiklah," ujar Sakura santai seperti tak terjadi sesuatu di depannya. Ia beralih menatap orang yang berada di kereta. "Hinata-sama tak perlu khawatir, Sasuke dan Gaara akan segera menghentikan kekacauan ini."
"Ya, aku mengerti."
Gaara dan Sasuke maju ke depan. "Sepuluh, sepuluh, Sasuke?"
"Ya, itu impas."
"Baiklah."
"Sial, kalian cari mati ya? Mana mungkin 2 orang bisa mengalahkan kita berdua-puluh. Jangan bercanda," tawa si pemimpin itu sinis.
Sasuke dan Gaara hanya menyeringai. "Kalian salah."
Detik berikutnya 2 pemuda tampan itu melesat maju, mengayunkan pedangnya ke arah penjahat itu. Dan tak butuh waktu lama hingga tinggal 5 buronan saja.
"Pergi, pergi, pergi!" teriak si pemimpin panik. Mereka berlima pun segera berlari ke arah hutan.
"Sakura, jaga Hime-sama. Kami akan segera kembali." Sasuke dan Gaara segera mengikuti 5 penjahat itu.
"Hei, sudahlah! Dasar, seenaknya sendiri, tinggal biarkan saja, kenapa, sih? Bodoh," rutuk Sakura kesal. "Hei, kalian. Ayo cepat, singkirkan tikus-tikus di depan agar tidak menghalangi jalan kita," kata Sakura kepada beberapa pelayan disana.
"Baik," jawab beberapa pelayan itu sebelum menyingkirkan tikus-tikus itu. Err penjahat-penjahat itu tidak mati. Sasuke dan Gaara hanya memukul titik mati mereka. Di kota ini, penjahat pun harus diadili, tidak boleh dibunuh tanpa perintah karena itu sama dengan pelanggaran hukum. Karena itu, Sasuke dan Gaara tidak akan membunuh tanpa perintah, apalagi penjahat-penjahat tadi hanyalah buronan yang kelaparan.
Sreek.
Suara ranting terinjak, membuat Sakura waspada. Ia berbalik menatap ke dalam hutan. Ada orang yang sedang mematai-matai kami. Shit! Aku tidak bisa meninggalkan Hime-sama sendirian, tapi aku juga harus memeriksa sekecil kemungkinan penjahat yang ada. Ucap Sakura dalam hati. Selain itu, informan di air terjun tadi mengatakan ada salah satu dari 'mereka' ada di sini. Kalau aku bisa menyelidikinya dan mendapatkan info lebih mungkin bisa dimanfaatkan.
Kemudian ia memanggil 2 prajurit lainnya yang juga ditugaskan mengantar Hinata. "Kalian, tolong jaga, Hime-sama. Ada yang harus kuselidiki."
"Baik, Haruno-san."
Setelah itu Sakura masuk ke dalam hutan. "Suara tadi berasal dari sini, aku yakin." Ia mengamati sekelilingnya dan terlihat seseorang yang baru saja berlari tak jauh darinya. "Itu dia." Segera ia mengejar sosok itu.
"Aku merasakan sesuatu yang amat kuat dari orang di depanku ini, siapa dia? Dan kenapa mengamati kami, tadi?" Sakura mengeratkan pegangannya pada pedang. "Sialan! Jika dia lebih kuat dariku, aku bisa mati." Ia bersembunyi dari balik pohon ketika orang di depannya berhenti.
Jubah hitam bercorak awan merah itu berkibar tertiup angin. Sosok yang memiliki mata sewarna merah darah itu menatap ke langit kemudian beralih menatap pohon dimana Sakura berlindung.
"Keluarlah," ucap sosok itu dingin.
"Ketahuan, sial," rutuk Sakura lirih. Ia keluar dari persembunyiannya, menatap sosok di depannya yang masih membelakanginya. "Kau siapa?" Sakura mengeratkan pegangannya pada pedang hinga buku-buku jarinya memutih.
Sosok itu dengan gerakan perlahan berbalik dan saat berikutnya mata Sakura melebar.
.
.
.
"Tachi-nii?"
.
=0o0=
.
TBC
A/N :
Aoi : Sekarang sudah jelas kan, perasaannya Gaara dan Sasuke? Mereka suka sama Sakura tapi aku juga nggak pengin buat hubungan yang tidak baik hanya karena perasaan cinta, mereka malah saling memberi saran (kalau itu disebut saran XD) Dan sedikit info, pakaian yang dipakai Sakura dkk itu kayak yang ada di samurai-samurai Jepang gitu hanya saja lebih simple. Aku juga bingung mendeskripsikannya. Hehe, jadi silakan reader berimajinasi sendiri tentang pakaian mereka.
Sasuke : Tidak membalas review?
Aoi : Waah, terimakasih Tuan Uchiha telah mengingatkan. Buat reviewer login sudah saya balas lewat PM, special buat Luca Marvell saya balas disini juga. Apa pakaian yang digunakan Sakura dkk? Err, seperti yang sudah saya jelaskan, silakan reader berimajinasi sendiri tentang pakaian Sakura dkk. Tapi sedikit info, setting jaman di fic ini kira-kira jaman dahulu sekali nah, karena saya males ubek-ubek sejarah Jepang jadi nggak saya cantumin settingnya. Mohon dimaklumi ya...
Sakura : Untuk Hidan, mako-chan makasih yaa, berminat review lagi? Lalu lya hatake ; aku rasa Aoi nggak pernah menyatakan Kakashi jahat lho… Dan Aoi emang new di FFN tapi dia dah cukup lama di dunia tulis menulis, sampai chapter berapa? Entah, Aoi juga nggak tau. Benar kan Aoi?
Aoi : Emm iya, selanjutnya itsuka dan L ; makasih reviewnya.
Sakura : Sekarang, gantian aku yang tanya, aku Hana Hime kan, Aoi-chan?
Aoi : Ehm? Entahlah. Info lagi, untuk genre fantasy saya ubah menjadi supernatural karena saya merasa genre itu lebih cocok untuk fic ini. Sekian.
Sasuke : Aku lagi berpikir apa jangan-jangan kejadian Uchiha itu sama kayak yang di manga ya, Aoi?
Aoi : Mungkin ya mungkin tidak. Udah ya. Sekarang,
.
.
.
Mind to review?
Sign,
Aoi
