Hana Hime

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story (Hana Hime) by Aoi YU Hara

Genre : Romance and Supernatural

Pair : SasuSakuGaa

Warning : OOCness, Sakura-centric, etc

_Chapter 2_

"Family"

.

=0o0=

.

"Tachi-nii?"

Sakura menurunkan pedangnya, menatap sosok di depannya dengan mata lebar dan terkejut. "Itachi-nii, kan?"

"Aa, konnichiwa, Sakura-chan."

.

.

.

"Gaara-san, Sasuke-san," kata 2 pengawal itu ketika melihat Sasuke dan Gaara keluar dari hutan.

"Kita harus cepat, ada berita kalau salah satu anggota dari organisasi rahasia-" Ucapan Gaara terpotong karena Sasuke menyela.

"Dimana Sakura?" Gaara tiba-tiba sadar ia tak melihat Sakura dimanapun.

"Sakura-san pergi ke dalam hutan untuk menyelidiki sesuatu, katanya. Kami tidak mencegahnya karena ia sudah pergi," ucap salah satu dari pengawal itu.

"Sial. Gadis ceroboh itu," geram Sasuke kesal. Ia menatap Gaara. "Kau, tunggu disini, aku akan mencari Sakura."

"Hei, Sasuke! Hei!" Namun, perkataan Gaara sudah tak didengar Sasuke ketika ia sudah masuk ke dalam hutan untuk kedua kalinya.

"Gaara," panggil Hinata dari dalam kereta.

"Ya, Hinata-sama."

"Jangan khawatir, Sakura pasti baik-baik saja jika ada Sasuke. Aku percaya maka kau pun harus percaya," ujar Hinata.

"Iya, aku juga percaya," kata Gaara sembari menatap hutan di hadapannya.

"Ngomong-ngomong, kau tadi mau mengatakan tentang apa, Gaara?"

.

.

.

.

"Kau, Itachi-nii?" Sakura menutup mulutnya, kaget. "Kukira kau sudah—"

"Meninggal," potong Itachi cepat. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu secepat ini, Sakura."

Sakura sudah menurunkan pedangnya. Sekarang ia berhadap-hadapan dengan Itachi. "Nii-san. Kenapa Nii-san tidak kembali ke rumah? Ke-kemana Nii-san selama ini? Sasuke, Sasuke sangat merindukanmu." tanya Sakura sambil mendekat ke arah Itachi.

"Berhenti," perintah Itachi. "Seharusnya kau langsung tau sekarang aku ini seperti apa, Sakura."

"Tetapi kau Itachi! Itachi tetaplah Itachi!" teriak Sakura. Emerald Sakura jatuh memandang jubah yang dipakai Itachi, awan merah. Tiba-tiba ia teringat percakapan samurai bayaran di air terjun.

Salah satu di antara mereka berada disini. Jangan-jangan... Sakura menatap Itachi lurus. "Itachi-nii, kau anggota—Akatsuki?"

Dan anggukan kecil oleh Itachi membuat Sakura terpaku. Akatsuki. Akatsuki.

Berhatilah-hatilah terhadap organisasi Akatsuki. Aku belum tau apa tujuan organisasi mereka, namun, ada baiknya kita tidak berurusan dengan mereka. Aku belum mendapat info lainnya tapi, satu hal yang aku tahu, mereka menggunakan simbol awan merah.

Awan merah. Akatsuki. Itachi. Dan perkataan samurai bayaran itu. Semuanya berhubungan dan mengarah kepada orang di hadapan Sakura.

"Kejadian waktu itu, aku sudah menebak ada yang tidak beres. Kau bisa berada disini. Kau menjadi anggota Akatsuki. Benarkan dugaanku?" tanya Sakura.

Itachi menarik sudut bibirnya. "Seperti dugaanmu, Sakura. Memang ada misteri dibalik kematian seluruh keluarga Uchiha. Sayangnya, ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan hal itu. Ada hal penting yang ingin ku katakan padamu."

Hana Hime. Mereka mencari Hana Hime.

"Apa kau ingin memberitahuku tentang—" Sakura ragu untuk mengatakannya. "Hana Hime?"

"Kau sudah tahu, rupanya."

"Apakah kau mencari Hinata-sama? Ap-apa Hinata-sama adalah Hana Hime? Karena itu kau memata-matai kami." tanyanya buru-buru.

"Hinata? Aah, Putri Hyuuga, benar?" Itachi memasukkan tangannya ke dalam saku yang ada di jubahnya kemudian mengeluarkan batu yang berwarna abu-abu. "Aku memang sedang mencari Hana Hime, sayangnya kau salah dalam satu hal, Sakura. Hinata bukanlah Hana Hime."

"La-lalu kenapa kau memata-matai kami? Satu hal lagi, apa itu Hana Hime?"

Itachi memperlihatkan batu berwarna abu-abunya, dilihatkannya pada Sakura. "Kau tau batu ini, Sakura? Batu ini adalah batu yang akan mendeteksi keberadaan seorang Hana Hime, batu yang hanya ada satu di dunia ini. Batu ini berwarna hitam—awalnya, namun jika dia mendeteksi keberadaan Hana Hime, batu ini akan berubah warna menjadi lebih terang. Dan inilah fakta menarik yang ku dapatkan." Itachi menatap Sakura. "Kau adalah Hana Hime."

"A-apa?!"

.

=0o0=

.

"Sasuke, ayo pulang." Sosok anak lelaki berumur 12 tahun mendekati Sasuke yang sedang duduk bersama Hinata dan Sakura. "Sudah sore."

Sasuke menatap kakaknya. "Sebentar lagi, Nii-san."

"Okaa-san sudah menunggu di rumah, Sasuke. Ayo!" Itachi berjongkok di depan adiknya, Sasuke yang duduk bersebelahan dengan Sakura. Sedang Hinata berada di sisi lainnya.

"Tidak mau, baka-aniki," ucap Sasuke sembari memajukan bibirnya kesal.

"Nii-chan, Nii-chan," panggil Sakura. "Kalau Sasuke-baka tidak mau pulang, biar aku saja."

Sasuke melotot ke arah Sakura. "Tachi-nii jangan mau sama keinginan Sakura. Sakura jelek jangan ganggu aniki-ku."

Itachi terkekeh melihat perdebatan adiknya dan sahabatnya. "Sudah, sudah. Jadi, kalau Sasuke tidak mau Sakura yang pulang dengan Nii-san, ayo Sasuke yang pulang."

"Hmm..." Sasuke melipat kedua tangannya di dada, melirik ke arah Itachi dan kedua sahabatnya.

"Sasuke pulang, sana. Sakura dan aku juga akan kembali ke istana. Besok kita kembali ke taman ini lagi. Oke?" Hinata kini angkat bicara.

"Sasuke boleh main kesini lagi, kan, Nii-san?" tanya Sasuke dengan mata berbinar-binar.

"Iya. Ayo." Itachi berdiri dan mengulurkan tangannya yang diterima Sasuke.

"Dah, Sakura. Dah, Hime-sama." Sasuke melambai-lambaikan tangannya.

"Dah, Sasuke, jangan nakal ya." Sakura memasang 'peace' ketika mendapatkan tatapan tajam dari Sasuke.

"Sampai jumpa, Sasuke. Salam untuk Mikoto-ba-sama dan Fugaku-ji-sama," ucap Hinata.

"Baik, Hime-sama," Sasuke ber-ojigi kemudian mengikuti langkah kakaknya yang semakin menjauh.

Menjauh.

Sasuke mengerjap-erjapkan matanya. Tiba-tiba kenangan akan Itachi muncul di kepalanya. Kenangan saat dirinya berumur 6 tahun saat semuanya masih ada. Uchiha Itachi, kakak yang amat dicintainya hilang sejak kejadian itu, tak ada kabar satupun tentangnya. Banyak orang yang menduga Itachi telah mati namun, Sasuke merasa dia masih hidup.

Namun, bukan hal itu yang kini dikhawatirkannya, dia, Haruno Sakura, yang dengan cerobohnya masuk ke dalam hutan sendirian. Ia teringat info yang diberikan pemimpin buronan.

"Me-mereka, salah satu anggota organisasi A-akatsuki berada di daerah ini. A-aku belum tau, a-apa yang mereka incar namun, kupikir mereka mencari sesuatu yang berhubungan de-dengan HanaHime."

Hana Hime? Sasuke ingat, ia pernah mendengar sesuatu tentang Hana Hime, keluarganya pernah membahasnya. Tapi ia lupa, apa itu Hana Hime.

"Hana Hime, ya."

.

=0o0=

.

"Kau adalah Hana Hime yang terakhir, Sakura." Itachi melemparkan batu di tangannya yang secara sihir terbang ke arah Sakura. Sakura menangkapnya, dan saat ia membuka tangannya, batu itu berwarna putih. "Jika kau ingin tau, Hana Hime—Putri Bunga adalah orang yang memiliki kekuatan yang amat ditakuti. Konon, kekuatannya diturunkan oleh seorang dewa. Dulu, karena kekuatannya yang ditakuti, para samurai dan orang-orang bersekutu untuk memusnahkannya. Sayangnya, mereka tak tau ada satu lagi, Hana Hime tersisa."

"Kau pasti bercanda," ucap Sakura, ia melempar batu itu. "Kau bohong. Mana ada yang begitu, sialan!"

Itachi hanya membalas ucapan Sakura dengan pandangan datar, sedang Sakura mulai mengeratkan pegangannya pada pedangnya. Satu detik adalah waktu yang amat singkat dan dalam satu detik itu Itachi telah berpindah dari tempatnya berdiri semula menjadi berhadapan dengan Sakura.

"Apa itu?" Sakura terkejut dengan pergerakan Itachi. "Ap—Argh!" Sakura merintih kesakitan ketika tangan Itachi menyentuh lehernya dan menekannya cukup keras. Pedang di tangannya terjatuh seketika.

"Kau benar-benar belum tau, hm, Sakura? Kau pasti belum pernah mencoba kekuatan tersembunyi yang kau punya. Perisai." Tangan Itachi turun tapi tak berlangsung lama ketika tangannya mendorong pelan tapi hanya dengan sedikit gerakan tersebut, Sakura terlempar membentur pohon.

"Sayang sekali, padahal menarik jika kau sudah bisa menggunakan kekuatanmu. Aa, jika kau ingin tau siapa yang memusnahkan keluargamu, Sakura. Mereka adalah orang-orang yang kini kau anggap sebagai keluarga. Merekalah yang takut akan kekuatan yang kau miliki. Mereka cepat atau lambat jika tau tentang dirimu, pasti akan membunuhmu," lanjut Itachi. Ia memungut batu berwarna putih itu, kemudian melemparkannya ke Sakura yang masih merintih kesakitan.

"Berlatihlah untuk mengontrol kekuatanmu, dua tahun lagi kami akan mencarimu. Akatsuki membutuhkan kekuatanmu hanya saja, kekuatan itu baru muncul dua tahun lagi. Lebih menarik, kurasa jika ada perlawanan." Itachi menatap Sakura yang balik menatapnya.

"A-aku tak mungkin percaya dengan semua omonganmu, Itachi," kata Sakura sinis. "Karena aku juga tak percaya kau adalah Itachi."

"Terserah. Aku hanya sedikit memberi tau siapa dirimu sebenarnya. Hanya satu pesanku, jangan terlalu dekat dengan keluarga barumu itu. Karena rasa sayangmu pada mereka, cepat atau lambat akan membawamu kepada kematianmu sendiri. Hyuuga itu, merekalah yang memimpin pemusnahan keluargamu," beritahu Itachi.

"A-apa?!" Sakura berusaha berdiri. "Apa kau bilang? Hyuuga?"

"Kurasa cukup sampai disini. Selamat tinggal," ucap Itachi untuk terakhir kalinya sebelum ia menghilang. Benar-benar menghilang meninggalkan Sakura yang kaget akan info yang baru diterimanya. Dia Hana Hime? Dan Hyuuga yang selama ini dihormatinya, pembunuh keluarganya? Itu pasti bercanda.

.

=0o0=

.

Sasuke terkesiap. Ia seperti merasakan perasaan dingin dan beku di sekujur tubuhnya. Belum lagi, matanya yang terasa perih. Ia berhenti di salah satu pohon disana. Menutup matanya. Ia teringat ucapan kakeknya, Madara.

"Sasuke, cucuku, ada satu hal yang ingin kuberitahu. Kau pasti tau tentang mata Uchiha, Sharingan. Mata itu adalah mata dewa, mata yang hanya bisa dimiliki oleh keturunan Uchiha. Sebenarnya ini terlalu terlambat untuk mengatakannya padamu, akan tetapi ini adalah hal penting. Sasuke, Sharingan hanya bisa dibangkitkan ketika saudara dari Sharingan yang lain atau darah yang sama dari Sharingan yang lain menghancurkan keyakinan dari orang yang paling dilindunginya. Aku tidak terlalu mengerti, contoh saja, Ayahmu, membangkitkan Sharingannya ketika berumur 13 tahun, saat itu aku membuat nenekmu jadi membenciku. Aku membohonginya dan saat nenekmu mengetahuinya, Sharingan Ayahmu bangkit. Aneh, memang, tapi itulah kenyataannya."

Sharingan.

Sasuke membuka matanya, sepasang mata berwarna merah, entah perasaan Sasuke saja, saat ia membuka matanya, ia merasakan suatu kekuatan di dekatnya, seperti sebuah pelindung yang tak terlihat oleh mata normal. Ia seakan melihat barrier yang sangat kuat melindungi daerah itu.

Ia mendekatinya, menyentuhnya dan sebelum benar-benar ia menyentuhnya, barrier atau apapun itu menghilang dan memperlihatkan pohon-pohon yang masih sama seperti sebelumnya hanya saja ada satu yang berbeda. Seseorang berjongkok disana, menenggelamkan kepala merah mudanya di kedua lutunya.

"Sa-sakura?" Sasuke berlari kearah gadis bermahkota merah muda itu. "Sakura," panggilnya lagi.

Sasuke menghentikan langkahnya ketika mendengar suara tangisan. Sakura menangis. Ia ikut berjongkok dan menyentuh bahu Sakura yang bergetar. "Sakura. Kau tak apa?"

Kepala Sakura terangkat, menatap pemuda di hadapannya. "Sasuke," panggilnya lirih sebelum ia menghambur memeluk pemuda di hadapannya. Menangis tanpa suara di pelukan Sasuke.

Sasuke tak mengerti apa-apa, ia hanya terdiam menunggu tangisan Sakura berhenti. Selama ia menangis, Sasuke seperti mendengar gumaman 'Hyuuga', 'Bohong', 'Keluarga', dan 'Hana Hime'. Tunggu—Sasuke tak salah dengar kan? Hana Hime?

"Maaf," Sakura melepaskan dirinya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap mata Sasuke, ia memandangnya terkejut. "Sasuke, matamu..."

"Hn, Sharingan. Sepertinya ada seseorang yang mengaktifkannya," kata Sasuke. "Kau tak apa? Kenapa menangis?"

"A-aku..." Sakura menunduk sebelum mengangkat kepalanya lagi. "Tidak apa-apa. Jangan kau pikirkan. Ayo kembali..." Sakura melangkah menjauhi Sasuke yang masih diam.

Sasuke menutup matanya dan kemudian matanya kembali menjadi hitam. "Itachi, hm? Apa yang dia lakukan hingga membuatku mendapatkan Sharingan." Ia menatap ke langit, terlihat beberapa burung gagak yang sedang terbang. Entah darimana berasalnya perasaan ini, namun ia merasa Itachi tadi berada di dekat sini. Kalau begitu, Itachi masih hidup, bukan?

Ya, dia masih hidup, Sasuke. Uchiha Itachi masih hidup.

.

=0o0=

.

Sosok berjubah awan merah itu membuka matanya. Mata yang semula berwarna merah itu kini menjadi gelap kembali. Dalam diamnya, dia, Uchiha Itachi menerawang jauh, apa yang telah dilakukannya selama ini. Meninggalkan keluarganya dan seakan-akan menghilang, dia bersembunyi dan mencari kebenaran akan kematian keluarganya. Satu hal fakta yang ia ketahui sudah membuat kemarahan dalam dirinya membangkitkan Sharingan-nya tanpa bantuan Sharingan yang lain.

Saat itu, ketika ia berumur 13 tahun, ketika kejadian itu terjadi. Semuanya bagaikan lautan darah di depan matanya. Ia ingat, saat itu tengah malam, semua orang telah terlelap begitu juga dirinya. Sebelum ia mendengar suara adiknya, Sasuke yang terbangun—mereka satu kamar—kemudian menangis dalam diam. Sebagai seorang kakak yang baik dan perhatian, ia memeluk tubuh Sasuke ke pelukan posesif-nya.

"Sudah jangan menangis, hanya mimpi buruk," ucap Itachi menenangkan Sasuke. Tak lama kemudian Sasuke tertidur lagi. Sebelum ia tahu, hal yang barusan dilakukannya adalah hal terakhir yang dilakukannya sebagai seorang kakak. Hal terakhir dan akan sulit untuk terjadi lagi.

Itachi bangkit dari duduknya, ia menatap ke sosok yang berjalan ke arahnya dengan jubah yang sama dikenakannya.

"Itachi, jika bukan karena tujuanku dan bantuanmu, aku pasti sudah membunuhmu karena membeberkan rahasia yang seharusnya kau simpan," ucap sosok itu dengan dingin. "Kuharap itu bukan karena rasa simpatimu kepada mantan keluargamu."

"Jangan berlebihan, Nagato. Aku hanya membuatnya sedikit realistis," jawabnya kepada sosok berambut merah di depannya.

"Hm, benarkah?"

"Ya, selain itu kita juga harus bersiap dengan adanya orang-orang itu yang juga mengincar Hana Hime."

Nagato menyipitkan matanya. "Benar juga, semoga kita tak kalah cepat darinya. Si perak brengsek itu."

"Tapi kita juga tak bisa meremehkannya, Hatake Kakashi bukanlah orang lemah. Dan 16 tahun ini, pastinya dia telah mengumpulkan sekutu yang cukup banyak," kata Itachi.

"Ya benar. Itu juga karena dibantu oleh salah satu anggota dari klan-mu, Itachi," ujar Nagato sinis.

Itachi diam. Ia menutup matanya sejenak sebelum membukanya kembali, sepasang mata berwarna merah tampak menatap sosok berambut merah di depannya. "Tak kusangka, lawanku sendiri adalah anggota keluargaku. Menarik," ujarnya dingin.

"Kuharap tidak ada kejadian seperti tadi lagi, Uchiha Itachi." Nagato membalikkan badannya.

"Tidak akan." Setelah Nagato pergi, Itachi menerawang ke kejadian beberapa saat yang lalu. Misinya yang seharusnya hanya menyelidiki siapa Hana Hime sebenarnya dengan dibantu batu itu malah membuatnya bertemu dengan adiknya juga seseorang dari masa lalu yang cukup berarti baginya. Menghancurkan keyakinannya dengan sangat baik dan Itachi pastikan Sharingan milik adiknya pasti telah bangkit. Untuk satu hal ini, Itachi sedikit bersyukur karena Sharingan itu akan jadi hal yang berguna bagi adiknya di masa depan.

Satu hal lagi yang membuatnya terkejut dan tak menyangka adalah orang yang organisasinya cari adalah seseorang yang dulu teramat ingin dilindunginya. Kenapa dunia begitu sempit seperti ini?

Kenapa? Ada yang bisa menjawabnya?

.

=0o0=

.

Sasuke tidak tahu apa yang terjadi sebelum ia berhasil menemukan Sakura, semuanya tampak membuatnya bingung apalagi dengan sikap diam Sakura sejak keluar dari hutan dan bergabung dengan Gaara dan yang lain.

Gaara yang juga menyadari tingkah laku Sakura yang cukup berbeda bertanya kepada Sasuke namun, hanya dijawab dengan gelengan tanda ia tak tahu.

Dua jam kemudian sampailah mereka ke depan gerbang Istana Hyuuga, setelah beberapa pengawal mengijinkan mereka masuk dan keperluan lain-lainnya selesai, Sakura, Gaara dan Sasuke pamit undur diri kepada Hiashi untuk beristirahat.

"Sakura," panggil Gaara untuk kesekian kalinya ke Sakura setelah Sasuke meninggalkan mereka berdua karena ada satu hal penting yang harus dipastikannya ke kakeknya.

"Hm?" Jawaban amat singkat dari Sakura membuat Gaara menghela napas panjang.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Gaara.

"Tidak. Aku hanya sedikit lelah," jawab Sakura sembari memalingkan muka.

Gaara memegang kedua bahu Sakura sedikit keras, menatap sepasang emerald yang tampak redup. "Kupikir kau sudah tahu kalau aku tak bisa dibohongi Sakura. Tolong. Jelaskan. Semuanya. Mengerti?" Gaara melepaskan pegangannya kepada Sakura. "Kukira kau berjanji mengatakan sesuatu padaku setelah sampai di istana."

Sakura mengangkat kepalanya. "Baiklah. Tapi bisakah kita bicara di tempat yang tidak dipenuhi oleh orang-orang yang melihat kita?"

Gaara mengedarkan matanya, aah-mereka berhenti di tengah jalan, pelayan-pelayan tampak melirik ke arah mereka berdua. Sangat menarik memang, dua orang yang cukup berpengaruh di istana berhenti di tengah jalan dan berbicara-mungkin bagi para pelayan itu mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Eeh tunggu! Kekasih? Gaara yang sedang memikirkan tentang 'kekasih' membuatnya blushing sendiri.

"Gaara?" panggil Sakura.

Gaara berdeham untuk menyamarkan ke-sal-tingan-nya. "A-aku tau tempat bagus untuk bicara. Ayo," ucapnya dengan terburu-buru sebelum ia berbalik.

Sakura hanya mengangkat satu alisnya bingung. "Dia bertingkah seakan aku baru saja menciumnya. Aneh," ucapnya sangat pelan. Ia lalu dengan pasrah mengikuti kemana kaki Gaara melangkah. Kondisi tubuh dan hatinya yang sedang memikirkan perkataan seseorang membuatnya menjadi berbeda. Tadinya ia ingin mengatakan semua itu kepada Hiashi namun, salah satu perkataan Itachi yang mengatakan Hyuuga-lah yang mendalangi kemusnahan keluarga kandungnya membuatnya berpikir dua kali.

Tentu, Sakura tidak mempercayai perkataan Itachi tapi ia juga tidak bisa tidak mempercayai perkataannya. Hatinya seakan dibelah dua untuk mempercayai dan tidak mempercayai. Dan jika ia memanglah Hana Hime, lalu apa yang diincar dari Hana Hime? Kekuatannya? Bercanda. Sakura bahkan tak tau di dirinya ada kekuatan tersembunyi yang sedang diincar oleh Akatsuki. Itupun jika dia benar-benar seorang Hana Hime.

Sakura memasukkan tangan kanannya ke saku pakaiannya, disana batu yang ditinggal dengan sengaja oleh Itachi kini tersimpan di sakunya. Batu berwarna putih indah. Aneh tapi Sakura merasa nyaman berada dekat dengan batu itu.

"Sakura." Sebuah panggilan membuyarkan semua lamunannya, ia menatap sosok berambut merah di depannya yang kini sedang menatapnya. "Kita sudah sampai," lanjutnya.

Saat itu juga Sakura memandang ruangan di depannya, ruang latihan ternyata. "Disini?"

"Hari ini beberapa prajurit sedang ditugaskan untuk pergi keluar jadi ruangan ini kosong. Aa—seseorang memberitahuku," ucapnya cepat saat menangkap mata Sakura bertanya tahu-darimana-kau. "Ayo masuk."

Langkah ringan mereka memasuki ruang latihan yang cukup luas itu. Sebenarnya ruang latihan yang Sakura dan Gaara kini berada hanya khusus dipakai oleh prajurit-prajurit yang melindungi sang putri. Jadi Sakura dan Gaara yang notabene pengawal pribadi sang putri boleh bebas keluar masuk ruangan.

"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Gaara ketika mereka sudah duduk di lantai dengan nyaman.

"Kau ingin tau yang mana dulu?" tanya Sakura balik.

"Mungkin dari kau basah?" Gaara gantian bertanya.

"Aa baiklah." Sakura menekuk lututnya. "Aku memang tercebur tapi bukan tercebur biasa, aku menceburkan diri—"

"Kau gila, Sakura," ucap Gaara terkejut mendapati temannya dengan suka rela menceburkan diri ke air yang tentu saja pasti dingin.

"Ya aku gila, jika aku tak gila maka aku sudah mati konyol di depan dua samurai yang terlihat kuat itu," kata Sakura datar.

"Ya, kau memang—eeh—apa? Samurai?"

"Ada dua samurai bayaran yang melewati tempatku berada saat itu jadi mau tidak mau aku harus bersembunyi dan bawah air sangat cocok untuk bersembunyi saat itu. Selain itu bayaran dari aksi nekatku juga cukup-hebat dan mengejutkan," ujar Sakura lirih.

"Apa?" tanya Gaara penasaran.

"Info yang cukup menarik tentang salah satu anggota Akatsuki yang sedang berada di hutan, katanya sih sedang mencari..."

"Hana Hime, kan?" potong Gaara.

"Kau tau?"

"Hm... Saat aku dan Sasuke berhasil mengejar kelima buronan itu kami mendapat info dari pemimpinnya kalau salah satu dari 'mereka' berada di hutan dan sedang mencari Hana Hime. Tapi aku juga tak tau apa itu Hana Hime."

"Itu saja?"

"Ya, hanya itu. Lalu kau?" tanya Gaara balik.

"Aku?" Gaara mengangguk. "Ha-hanya itu, kurasa."

"Sakura,"

"Baiklah, tidak hanya itu saja tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu Gaara, maaf," kata Sakura tulus.

"Ya, baiklah. Ada kalanya memang suatu masalah harus dipendam sendiri," ucap Gaara kemudian menutup sepasang mata jade-nya.

Sedangkan Sakura seperti sedang memikirkan sesuatu. "Gaara," panggilnya.

"Hm?"

"Apa yang akan kau lakukan jika orang yang selama ini kau percayai ternyata orang yang telah menghancurkan masa lalumu?" tanya Sakura tiba-tiba.

Gaara membuka matanya. "Apa ya? Kupikir aku akan marah."

"Hanya... marah?"

"Mungkin juga kecewa dan tidak akan terlalu mempercayai orang itu lagi, entahlah. Kenapa kau bertanya seperti itu, Saku?"

"Hanya berpikir?" Sakura mengendikkan bahunya. "Gaara, jika..." Gaara menatap Sakura serius. "Jika kau harus memilih, mana yang akan kau pilih, orang luar yang selalu melindungimu dan berada di dekatmu atau keluargamu yang bahkan tak ada kabarnya?"

"Kau aneh, Sakura."

"Mana yang akan kau pilih, Gaara?"

"Baiklah." Gaara menghela nafas. "Aku akan memilih orang luar karena ku pikir mereka juga telah menjadi keluargaku saat keluarga asliku tak ada. Jadi tak ada yang salah dengan orang luar namun, aku juga tak akan mengindahkan keberadaan keluargaku jadi ya menurut saja bagaimana takdir kita berjalan."

"Keluarga, ya?" Sakura melamun lagi setelah jawaban Gaara.

"Sakura," panggil Gaara. "Temari dan Kankuro mereka adalah kedua kakakku dan satu-satunya keluargaku yang tersisa saat ini. Mereka sangat berharga bagiku setelah kematian orang tuaku. Bagiku, nyawapun akan ku tukarkan jika seandainya ada salah satu dari mereka menghilang. Aku bersedia menukar nyawaku dengan mereka.

Sayangnya, waktu kini terus berjalan dan keluargaku yang dulunya ku anggap hanya Temari dan Kankuro kini terus bertambah, ada kau, Sasuke, Hinata-hime dan Hyuuga-sama. Bagiku, kalian seperti keluargaku, Hyuuga-sama adalah orang yang dengan baik hati mengasuhku saat kedua kakakku berada di luar, menganggapku yang bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang kau lihat sekarang. Lalu Hinata-hime bagaikan sahabat yang tidak pernah kutemui sejak kecil, dia menambah keceriaan dalam hidupku.

Kemudian Sasuke yang dingin, aku juga tak menyangka menghitungnya dalam keluarga baruku. Tapi nyatanya, dia memang berarti bagiku—tentu dalam hal lain. Lalu kau, Sakura, gadis kecil manis yang pertama kali tersenyum padaku, mengulurkan tangannya kepadaku ketika aku dengan enaknya masuk ke dalam hubungan kau, Sasuke dan Hinata-hime. Bagiku kalian semua berharga bagiku." Gaara menyelesaikan ceritanya dan menatap emerald Sakura yang sedang memandangnya.

"Banyak sekali ya orang berarti bagimu, Gaara. Tapi akan sulit kurasa jika kami semua nanti mati dan kau mau menukarkan nyawamu. Dewa kematian tidak akan mau dengan perjanjian seperti itu. Hahaha..." Sakura tertawa pelan, kemudian melamun lagi.

"Jika kau terus melamun seperti itu, kau akan cepat tua, Sakura."

Sakura memandang sebal Gaara. "Iya iya. Hanya saja, mungkin seperti katamu, aku akan mengikuti saja bagaimana takdirku berjalan."

"Hm." Kemudian keheningan cukup lama melewati mereka berdua. Waktu yang tak pernah berhenti berputar terus berdetak. Waktu yang menjadi saksi bisu dimana takdir-takdir akan dijalani mereka.

Ya, ikuti saja bagaimana takdirmu. Tapi, jangan pernah menyerah dan pasrah karena takdir seseorang juga dapat diubah sesuai dengan bagaimana kau mengubahnya.

.

=0o0=

.

Pria berambut perak melawan gravitasi itu sedang berdiri di depan sekumpulan orang yang kini menatapnya serius. Orang-orang yang menjadi sekutunya atau bawahannya mungkin? Tapi mau apa nama yang dipakainya tetap saja pria berambut perak itulah yang memimpin.

"Hana Hime, itulah yang kita cari," ucap Kakashi memulai. "Kita disini bukan untuk membunuhnya, kita disini untuk melindunginya dengan seluruh nyawa yang kita punya dari orang-orang yang mengincar kekuatannya."

"Lalu apa untungnya bagi kita?" tanya seseorang dari orang-orang itu.

"Hm? Untungnya? Kita itu bernasib sama 16 tahun lalu, dianggap berbeda oleh orang-orang brengsek itu, tidak taukah kalian siapa yang akan kita hadapi ini? Hyuuga." Orang-orang disana merinding mendengar perkataan Kakashi. "Dan karena itu kita akan melindungi Hana Hime dari Hyuuga dan sekutunya, kita akan membuat Hana Hime menjadi sekutu kita dan saat itu, saat kekuatannya telah bangkit, kita akan membalaskan dendam kita. Membunuh Hyuuga dan orang-orangnya."

"WAA!" Sorak-sorai muncul ketika Kakashi menyelesaikan ucapannya.

Kakashi menatap sosok yang diam di belakangnya. Mata kirinya yang diperban dan mata kanannya yang tertutup membuat Kakashi tak bisa menangkap emosi temannya itu.

"Bagaimana?" tanya sosok itu lirih.

"Hm? Jalankan rencana selanjutnya." Kakashi memandang ke atas dimana langit kini telah berwarna orange. "Pergi ke Istana Hyuuga." Ia beralih memandang orang-orangnya yang telah berpakaian hitam-hitam dengan masket yang menutupi wajah mereka. "Kita pergi," ucapnya dingin.

Semua orang kemudian bersiap, pedang di tangan masing-masing dan setelah itu mengikuti Kakashi dan sosok di sampingnya.

"Aku sudah menunggu lama untuk hari ini," ucap sosok itu pada Kakashi.

"Ya, sangat lama. Dendammu dan kita juga akan segera terbalaskan—"

.

.

.

"—Obito."

.

=0o0=

.

TBC

A/N :

Aoi : Satu misteri terungkap, satu misteri lainnya datang. Dan aku nggak bakal marah kok kalau kalian ngomong Kakashi dan Gaara OOC banget disini. Untuk review-nya makasih yaa... Saatnya membalas review, untuk Luca Marvell ; Terimakasih review-nya, emm Akatsuki mungkin jahat. Mungkin lho yaa, dan Hinata eum yang penting dia punya peran penting dalam kisah cinta Sakura. Flashback? Hampir.

Sakura : Selanjutnya cherryxsasuke ; Salam kenal juga, aku pahlawan? Hahaha ngaco. Tapi bisa juga sih, benar nggak, Aoi? (Aoi diam) Tapi kalau baca ch. 2 kok kayaknya aku direbuti sama Akatsuki dan Kakashi dkk. Wah, gimana ya nasibku selanjutnya? (lempar berkas ke Sasuke)

Sasuke : (Ambil berkas dengan setengah hati) hanazono yuri ; Makasih.

Aoi : Sasukeee! (Pelototin Sasuke #diAmaterasu)

Gaara : Ehem aku lanjutin berkasnya Sasuke. Gimana ya yuri-san Hinata bisa dibilang salah satu peran penting untuk kisah romannya Sakura ya walaupun jarang muncul. Terus adegan GaaSaku diatas gimana? Cocok kan aku sama Sakura?

Sasuke : Gaara, ingat ya, kalian berdua cuma ngobrol, ku ulangi NGOBROL! (Cemburu Mode On)

Aoi : Harap diam. Hah, lebih baik abaikan orang di atas, selanjutnya Hidan gila ; Aa makasih. Makasih deh. Nggak ada kata lain selain itu. Lalu Racchan cherry-desu ; Arigatou. Nee, salam kenal. Lalu Guest ; Sudah dan terimakasih :D

Kakashi : Akhirnya aku muncul juga. Kirain Aoi lupa.

Aoi : Kakashi-sensei juga kan punya peran penting disini. Mana mungkin, astaga, nggak mungkin Aoi lupa sama Kakashi-sensei yang paling baik.

Sakura : Yaa, sudahlah lupakan semua drama picisan diatas. Lebih baik reader review oke?

Review, review, review and...

.

.

.

Mind to review?

Sign,

Aoi