Hana Hime

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story by Aoi YU Hara

Genre : Romance and Supernatural

Pair : SasuSakuGaa

Warning : OOCness, Sakura-centric, etc

.

.

_Chapter 3_

Destiny

.

=0o0=

.

Ikuti saja bagaimana takdirmu berjalan. Sakura akan melakukan hal itu, mengikuti kemana takdirnya melangkah. Ia akan mencoba melupakan segala hal tentang apa yang terjadi sebelumnya. Segalanya.

Ia bimbang? Tentu. Sakura tak pernah merasa sebimbang ini dimana dirinya di hadapkan oleh 2 hal yang mungkin salah satunya adalah lubang hitam baginya. Sayangnya Sakura tak tahu mana yang lubang hitam dan mana jalan untuk dirinya kembali.

Jika saja Sakura boleh menyalahkan maka ia akan menyalahkan takdir yang selalu mempermainkannya. Apa maksud dari takdir yang kini di jalaninya? Bertemu dengan orang lama yang kini telah menjadi orang asing dan diceritakan fakta yang amat—mengejutkan. Oh—oke, Sakura memang akan mempercayai dan mengikuti kemana takdirnya berjalan. Namun, bolehkah ia sedikit berharap agar takdir yang akan dijalaninya nanti tidak menakutkan?

Sakura hanya berharap hal itu. Semoga.

.

=0o0=

.

Satu bulan telah berlalu semenjak insiden pertemuan Sakura dengan salah satu anggota Akatsuki. Dan ia berhasil dengan baik menyimpan rahasia itu. Sebenarnya ingin sekali ia menceritakan hal itu namun, suatu hal membuatnya berpikir dua kali. Bohong kalau Sakura tak merasa takut. Bohong kalau Sakura tak merasa khawatir. Ia sangat merasa takut, hanya saja ia menginginkan suatu hal yang normal di kehidupannya ini. Jadi dilaluinya hari-harinya dengan normal di Istana Hyuuga.

Berlatih. Melatih. Berjalan-jalan. Tiga hal yang kini kerap di lakukannya. Khusus untuk hal terakhir hanya dilakukannya ketika ia memiliki waktu luang. Satu bulan tidak menerima misi memang cukup membosankan. Sangat. Sakura hanya berdoa segala hal yang terjadi belakangan segera di lupakannya dan itu hanya omong kosong. Tapi emm benarkah itu hanya omong kosong? Sakura tak yakin.

Ia menekuk lututnya dan menatap danau yang terbentang di depannya. Kini ia berada di hutan belakang istana. Tempat yang cukup indah apalagi dengan pemandangan danau ini. Membuat hatinya nyaman.

"Kau disini, rupanya." Sebuah suara membuat Sakura menolehkan kepalanya, ia menatap sosok berambut raven yang kini mendekatinya.

"Sasuke? Kau menemukanku," ujarnya pelan sebelum mengalihkan perhatiannya ke danau lagi.

"Hn. Kau selalu kesini jika hatimu sedang kacau," ucap Sasuke sambil menempatkan bokongnya di samping Sakura. "Ada apa?"

"Apanya yang ada apa, hm?" Sakura balik bertanya.

Sasuke memandang langit biru yang terbentang luas. "Kupikir kau sudah pandai untuk menebak maksud perkataanku, Sakura."

"Oh, baiklah. Aku hanya ingin sendiri saja, kau tahu…"

"Ada banyak hal yang sudah terjadi pada kehidupan kita, aku juga tak mengerti kenapa kehidupan itu serumit ini sih?" Aku menghela napas panjang. "Nee, 'Suke. Kau merindukan orang tuamu?"

Sasuke tampak menunduk sebelum mengangkat kepalanya kembali. "Rindu? Tentu tapi aku tahu mereka akan bahagia jika aku juga bahagia. Selama ini seperti itu kan?"

"Hm…" Sakura memandang Sasuke. "Jadi… Apakah kau bahagia?"

"…" Sasuke memandang danau di depannya. "Sakura, menurutmu apa definisi kebahagiaan?" tanyanya balik.

"Kebahagiaan itu—" Dan Sakura tahu, ia akan sulit untuk menjawabnya.

Kemudian mereka berdua terdiam cukup lama sebelum rekan mereka, Gaara berlari ke arah mereka.

"Kita dipanggil raja, ada masalah gawat," ucapnya. Segera mereka bertiga kembali ke istana menemui raja.

Sesampainya disana sudah berkumpul prajurit-prajurit andalan Hyuuga. Mereka berada di sebuah ruangan yang digunakan untuk rapat dadakan jika ada suatu masalah penting yang sedang terjadi.

"Ada apa?" Sakura bertanya ke Gaara.

"Perbatasan utara kota diserang. Desa di dekat sana pun dibakar habis. Terakhir yang ku dengar setengah dari penduduk disana tewas," cerita Gaara.

"Ukh! Brengsek. Siapa yang melakukan itu?"

"Entahlah, mungkin itu kenapa kita berada disini."

Gaara, Sakura dan Sasuke beralih ke depan ketika sang raja telah tiba. Hiashi duduk di kursinya sambil di sampingnya berdiri Jiraiya—seorang jenderal yang sering berpergian.

"Kita menghadapi masalah berat," ucap Hiashi memulai. "Perbatasan utara telah diserang dan dikuasai oleh sebuah organisasi yang sejak lama kita hanya mengenal namanya saja yaitu Akatsuki." Terdengar bisik-bisik ketika Hiashi menyebutkan nama organisasi tersebut. Hiashi mengangkat sebelah tanagnnya memberi isyarat untuk diam. "Sebuah desa telah terbakar habis disana, setengah dari penduduk desa itu telah tewas karena kebakaran yang dibuat Akatsuki. Dari mata-mata yang kami kirimkan ke sana sekitar empat puluh anggota Akatsuki masih berada disana. Tugas kalian adalah merebut desa yang sedang dikuasai oleh Akatsuki. Dan juga selamatkan penduduk jika masih ada yang tersisa. Selanjutnya Jiraiya akan meneruskan."

Jiraiya maju ke depan kemudian membagi prajurit-prajurit itu dan merancang suatu rencana. Mereka adalah Akatsuki—tentu mereka tidak mau main-main. Setelah semua persiapan selesai mereka pun berangkat termasuk ketiga pengawal pribadi sang putri.

.

=0o0=

.

Sakura dan kesepuluh prajurit yang menemaninya bersembunyi di balik-balik pohon. Rencananya adalah Sakura dan prajurit yang bersamanya merupakan sebuah pion cadangan seandainya pion yang maju ke medan perang gagal. Jadi mereka bisa bersantai? Oh tidak, mereka tetap waspada karena ada kemungkinan beberapa musuh lolos.

Gadis berambut merah jambu itu mengeratkan pegangannya ketika mendengar gemerisik di balik pepohonan. Sakura dengan gerakan tangan menyuruh yang lain berhati-hati namun telat sebuah anak panah hampir saja mengenai wajahnya.

"Sial!" umpatnya. Sakura segera berdiri dan segera bergerombol dengan prajurit lainnya ketika melihat lebih dari lima belas orang mengerubungi mereka. Tentu Sakura dan yang lain kalah jumlah. "Jangan lengah," ucap Sakura disela ia menatap musuh-musuhnya. "Sekarang!"

Dan terjadi adu pedang diantara Sakura dan prajurit-prajurit dengan musuh-musuh yang lebih banyak jumlahnya dari mereka.

Sreet. Sakura merintih pelan ketika pedang dari musuh mengenai pinggangnya, darah keluar dari pinggangnya. Ia menekan kuat lukanya agar berhenti mengeluarkan darah meskipun sia-sia. 'Gaara, Sasuke aku butuh bantuan.' Ucapnya dalam hati ketika melihat dirinya dan yang lain sudah terdesak, belum lagi setengah dari prajuritnya telah tewas. Di pihak musuh tinggal sepuluh lebih. Oh, sial!

"Bagaimana, Sakura-san?" tanya salah satu dari prajurit yang masih hidup ke dirinya.

"Kita berpencar. Cari bantuan biar aku jadi pengalih perhatian. Kalian pergilah," ucap Sakura terbata-bata, tenaganya sudah hampir terkuras belum lagi lukanya yang semakin perih tersebut.

"Ta-tapi—" Tentu banyak yang tidak setuju, Sakura adalah perempuan dan mereka adalah laki-laki yang seharusnya melindungi perempuan. Tapi prajurit-prajurit itu sadar, kekuatan mereka masih dibawah Sakura yang notabene seorang perempuan.

"Pergi!" Setelah itu beberapa prajurit selain Sakura berlari berpencar sedang Sakura berdiri menghalangi mereka yang akan mengejar. "Lawan kalian adalah aku, bangsat!"

"Hoo… Lihat dia perempuan." Salah satu musuhnya berseru tampak ia menyeringai di balik maskernya. "Ayo bermain anak-anak."

Entah apa yang terjadi selanjutnya, yang Sakura tahu ia berusaha semampunya melawan musuh-musuhnya yang bisa dibilang kuat itu. Belum lagi Sakura hanya sendirian.

Satu. Dua. Sakura telah membunuh dua musuhnya tapi itu baru dua dari kesepuluh musuhnya. Luka-luka di sekujur tubuhnya juga sudah tak terhitung lagi. Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, ia sudah benar-benar di ambang batasnya. Ia menjatuhkan pedangnya dan jatuh terduduk.

"Sudah merasa kalah, hm, gadis kecil?" Salah satu musuhnya tampak maju ke depan, mengacungkan pedangnya ke lehernya, sekali gerakan saja Sakura tahu ia akan mati.

"Sialan!"

Sakura menutup kedua matanya ketika melihat pria di depannya mengayunkan pedangnya ke lehernya. Sudah berakhir, hidupnya sudah berakhir. Ucapnya dalam hati. Dia bahkan tidak bisa mengucapkan selamat tinggal ke Gaara dan Sasuke.

Satu detik.

Sepuluh detik.

Satu menit.

Tidak terjadi apa-apa, Sakura membuka matanya dan melebarkan matanya ketika musuh-musuhnya sedang bertarung dengan—siapa mereka? Sakura bertanya kepada dirinya sendiri.

Sekitar dua puluh orang berpakaian hitam-hitam bertarung melawan musuh-musuhnya yang kini sudah tewas seluruhnya. Sakura menatap mereka semua bingung sekaligus heran. Mereka bukan prajurit Hyuuga dan jika mereka musuh kenapa menyelamatkan dirinya. Sedetik kemudian mata Sakura benar-benar melebar ketika melihat orang-orang yang menyelamatkannya berjongkok dan mengucapkan, "Hormat kami, Hi-sama."

Siapa mereka sebenarnya?

.

=0o0=

.

Kenapa hidupnya semakin rumit? Sakura ingin mengutuk takdirnya yang seakan mempermainkannya. Gila! Apalagi ditambah dengan pria di hadapannya yang rambut peraknya terasa sangat aneh di mata Sakura.

"Kau siapa?" Sakura mengangkat kepalanya dan menatap pria di hadapannya yang menggunakan masker. Ah, matanya berlainan warna, hitam dan merah.

"Hatake Kakashi, saya adalah guardian anda, putri." Jawaban pria itu tidak membuat Sakura mengerti malah semakin bingung.

"Putri? Aku bukan putri?! Katakan sebenarnya siapa kau, siapa kalian?" Sakura berdiri dengan susah payah. Luka di tubuhnya masih teramat sakit untuk berdiri.

Pria yang mengaku dirinya Kakashi menyentuh luka di tangan Sakura dan secara ajaib luka itu pelan-pelan pulih. Sakura terkejut melihatnya. Ia memandang pria di hadapannya dengan tajam. "Siapa kau sebenarnya?"

"Kami adalah pelindungmu putri. Anda tentu pernah diberitahu oleh seseorang kalau anda adalah Hana Hime, bukan, Hi-sama?" Kakashi menyentuh luka lainnya dan sama seperti luka yang pertama, luka-luka itu sembuh dengan sendirinya. Sakura hanya diam saja, ia masih menatap tajam pria di hadapannya.

"Apa itu Hana Hime? Kenapa aku?"

"Karena itu takdirmu, Hi-sama." Kakashi menyentuh pipi kanan Sakura dengan tangan kanannya yang bebas pedang. "Dan kami disini untuk membawamu, putri. Dan aku disini untuk membantumu mengontrol kekuatanmu, kekuatan yang amat berguna nantinya."

"Kau kira aku akan percaya begitu saja, hm? Tidak! Kalian bohong! Kau bohong!" Sakura mundur, ia melirik pedangnya yang tergeletak jauh di depannya. 'Sial! Sial!' umpatnya lagi. Ia butuh pedang sayangnya pedangnya jauh dari genggaman tangannya. "Apa mau kalian dan katakan yang sebenarnya, brengsek!"

Pria bernama Kakashi tampak menunduk, beberapa saat kemudian ia mengangkat kepalanya, menatap emerald milik Sakura. "Aku tak bisa mengatakan banyak hal. Yang ingin ku katakan hanyalah kalau kau adalah Hana Hime dan aku adalah pelindungmu. Jika kau ingin tahu kebenarannya datanglah ke hutan ini, besok tepat jam 12 malam. Kami akan menunggumu, Hi-sama." Sebuah kalimat yang secara tidak langsung menginginkan Sakura datang. "Kami harus pergi, ayo."

Dan kelompok orang yang tidak dikenal itu meninggalkan Sakura yang masih kebingungan. Ya, hidupnya memang sudah semakin rumit dan ini sejak usianya yang menginjak 17 tahun.

"SAKURA!" Sebuah panggilan membuyarkan semua lamunan Sakura, ia membalikkan badannya, disana Sasuke dan Gaara juga beberapa anak buah mereka berlari ke arahnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke dan Gaara bersamaan.

Sakura memandang mereka sendu. "Aa—aku baik."

Sasuke melihat sekitarnya. "Kau yang membunuh mereka semua, Sakura?"

Sakura tidak mengangguk maupun menggeleng. Ia menundukkan kepalanya diam. Sasuke dan Gaara berpandangan saling bertanya 'Ada apa?'.

"Kau yakin tak apa, Sakura?" Gaara mengecek tubuh Sakura dan hanya ada luka kecil. Ya tentu kau tak akan menemukan luka berat disana, Gaara. Karena seseorang telah menyembuhkannya.

"Sakura," panggil Sasuke sambil menyentuh bahu Sakura.

"Ka—"

"GAWAT!" Seekor kuda yang ditunggangi seorang prajurit mendatangi mereka. "Gawat Uchiha-san, Sabaku-san, Haruno-san! Ternyata serangan di hutan adalah jebakan, musuh lolos dan mereka sudah masuk ke istana!" Berita sang pembawa pesan istana tersebut.

Sakura, Sasuke dan Gaara langsung menegakkan kepalanya, membulatkan mata dengan sempurna. Saat itu pikiran mereka sama, 'kembali ke istana'.

.

=0o0=

.

Istana terlihat lebih sepi dari biasanya, tampak ceceran darah di lantai maupun dinding. Sakura bergidik ngeri melihatnya—bukan, bukan karena Sakura takut akan darah namun lebih dimana darah itu berada. Ini di istana, tempatnya—rumahnya. Dan Sakura tak akan memaafkan siapapun jika sampai melukai 'keluarga'nya.

TRANG! Suara aduan pedang membuat Sakura dan yang lain bersiaga dan menuju ke aarah sumber suara. Sumber suara berasal dari sebuah ruangan—ruangan istirahat sang raja.

"AARGHH!" Teriakan yang cukup keras berhasil menegakkan bulu halus mereka, mereka segera membuka pintu ruangan yang tertutup—tetap memasang pedang di tangan mereka.

BRAK! Pintu terbuka sempurna tampak sekitar puluhan tubuh tergeletak di sekitar ruangan di antara seseorang yang masih berdiri dan membelakangi mereka.

Sakura, Sasuke dan Gaara menyiagakan pedang mereka masing-masing. "Kau—"

"Kalian terlambat." Suara dingin yang cukup mereka kenal membuat mereka sedikit menurunkan pedangnya. Sosok itu membalikkan tubuhnya, sepasang iris lavender membuat mereka benar-benar menurunkan pedang mereka.

"Neji-sama," kata Sakura lirih. Oh—tentu mereka kaget, Neji sejak beberapa tahun lalu pindah ke kediaman Hyuuga yang ada di perbatasan selatan—meninggalkan istana.

Neji diam, ia memandang pedangnya yang berlumuran darah musuh. "Aku memang sudah membunuh semua musuh tapi sayangnya Yang Mulia sempat terkena anak panah di dadanya," ungkapnya sedih.

"A-apa?! Lalu bagaimana keadaannya?"

"Aku tak tahu, ayo kita ke tempat Hinata-sama dan Hiashi-sama." Neji berjalan ke sebuah pintu, ia membukanya dan tampak anak tangga yang menurun—yang terhubung ke sebuah pintu lagi berwarna coklat keemasan. Sakura, Sasuke dan Gaara mengikuti Neji seangkan yang lain memberesi kekacauan.

Neji melihat ke arah mereka bertiga sebelum membuka pintu itu. Tampak sebuah ruangan yang terdiri dari satu ranjang dan benda-benda seperti di kamar pada umumnya. Di ranjang, berbaring sang raja, Hiashi dan duduk di sampingnya, Hinata.

Hinata yang terlihat baru saja menangis tampak menyeka pipinya, ia menatap mereka berempat. "Nii-san, kalian."

"Hi-sama, bagaimana keadaan Yang Mulia?" tanya Neji sambil mendekat ke arah Hinata dan Hiashi.

Sebuah gelengan membuat semua orang di ruangan itu shock. "Ta-tadi a-aku sudah memanggil ta-tabib untuk ke-kemari lewat jalan rahasia." Hinata berhenti untuk menyeka air matanya yang jatuh lagi. "Kata tabib, Tou-sama tidak bisa bertahan karena selain anak panahnya tertusuk tepat di dadanya, anak panah itu juga beracun."

Terkejut dan tidak percaya. Semua tampak memandang Hiashi yang terbaring dan terlelap, beberapa saat kemudian, sepasang mata Hiashi yang terpejam, membuka. Ia melihat sekitarnya, ah sudah berdiri 'anak-anak'nya.

"Ka-kalian su-dah da-datang." Hiashi tampak sangat kesulitan mengatakan hal itu.

"Ayah! Ayah sebaiknya istirahat. Aku mohon Ayah…" Hinata memegangi tangan Hiashi sambil menangis.

"Benar kata Hinata-sama Yang Mulia, beristirahatlah." Gantian Neji yang berkata.

"Aku ta-tahu, aku su-sudah tak bi-bisa bertahan. Ka-kalian anak-anakku, ma-maafkanlah aku…" Hiashi terbatuk-batuk dan mengeluarkan setitik darah di sudut bibirnya. "Mo-mohon dengarkan pe-permintaan te-terakhirku."

Hiashi mengelus rambut Hinata. "U-untuk Hinata, a-aku ingin me-melihatmu menikah. Itu i-impian Ayah dan Ibu, Nak…"

Semua orang di ruangan itu diam, membantah sudah tidak ada gunanya, hanya mendengar ucapan dari Hiashi-lah yang bisa mereka lakukan saat ini.

"Hinata, pu-putriku sayang… Menikahlah. Me-menikahlah dengan Sasuke atau Gaara."

Semua terbelalak kaget mendengar ucapan Hiashi.

"Ayah!"

"Yang Mulia!"

"Aku mo-mohon." Hiashi melihat Gaara dan Sasuke. "A-aku percaya hanya ka-kalian yang bisa membahagiakan Hinata. To-tolong…"

Oh, siapa yang bisa menolak permintaan seseorang yang sudah di ambang maut dan lagi orang yang mereka hormati. Dan di ruangan itu ada seseorang yang diam dan masih meresapi apa yang terjadi, apa yang diucapkan oleh Hiashi. Jadi antara Gaara dan Sasuke akan ada yang menikahi Hinata? Oh, kenapa hatinya seperti tercubit. Ditambah ucapan dari Hinata yang membuatnya benar-benar terlempar ke dalam lubang yang amat dalam.

"Ba-baiklah Ayah, aku akan menikahi Sasuke."

Dan Sakura tahu, jika ia lebih lama disini maka dirinya akan terjatuh, kaki-kakinya tiba-tiba menjadi lemas seakan tak kuat untuk menahan bobot tubuhnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sakit di salah satu bagian di dalam tubuhnya, ia tak tahu itu apa tapi itu benar-benar membuatnya sangat lemah.

.

=0o0=

.

Mata hijaunya sejak beberapa saat yang lalu tak pernah berpindah posisi dari pohon-pohon yang ada di depannya. Kini, dirinya ada di taman belakang. Kenapa dirinya berada disini? Jawabannya pasti kalian sudah tahu karena apa.

Gadis bermata emerald itu tak menangis, dia hanya diam menatap pohon-pohon di depannya meskipun pikirannya tak menuju ke pohon-pohon itu. Tentu karena tadi sore, dimana sebuah pernyataan membuatnya ingin sekali menusuk hatinya dengan pedang agar tidak sesakit ini—oh apa kau bodoh, Sakura? Itu malah akan membuatmu sakit. Tapi pikiran Sakura benar-benar terpecah hari ini, dari kedatangan orang yang mengaku dirinya bernama Kakashi dan sebagai guardian-nya—dan Sakura sedang tak mau memikirkannya.

"—ra… Sakura." Sebuah tepukan di bahu membuat Sakura mendongakkan kepalanya, di hadapannya berdiri Gaara yang tersenyum amat tipis kepadanya. Namun, Sakura mengalihkan pandangannya cepat—entah kenapa dirinya sedang tak ingin bertemu dengan pemuda berambut merah ini. "Kau tak apa?"

Sakura diam sejenak lalu mengangguk.

"Apakah kau marah karena bukan aku yang dipilih?" Sakura menegakkan dirinya, menatap jade di depannya. "Sakura…"

"Bukan," jawabnya singkat dan cepat.

"Lalu kenapa?!" Gaara memegangi lengan Sakura. "Kau tahu Sakura, kau menyakitiku." Gaara membalikkan tubuhnya—akan pergi.

Segera Sakura menahan lengan Gaara. "Gaara, maaf. Bukan maksudku. Aku…"

Sakura tak pernah menyelesaikan perkataannya karena setelah itu dirinya dipeluk Gaara dalam dekapan erat yang menenangkan.

"Aku tahu, hatimu sakit kan, Saku?" Gaara mengelus rambut merah muda Sakura. "Perasaanmu kini seperti ditusuk sebilah pedang kan? Aku tahu, Saku… Sekarang, untuk hari ini saja menangislah sepuasmu atau lampiaskanlah semua kemarahanmu ke diriku. Semuanya—" –dan aku akan selalu di sampingmu, mendukungmu. Karena kesedihanmu juga kesedihanku. Ucap Gaara lirih. Ia mendekap Sakura erat. Hingga tak terasa bahunya seperti basah—oh pasti itu air mata Sakura.

Menangislah, Sakura. Karena besok aku akan membuatmu tersenyum. Janji Gaara dalam hati.

Tidak jauh dari dua orang itu, sosok pemuda bermata onyx tampak diam memandang mereka dengan tatapan yang sulit di artikan. Sebelum dirinya berbalik, meninggalkan dua orang yang tak menyadari keberadaannya.

.

=0o0=

.

Hatiku sakit, tubuhku serasa lumpuh—seluruhnya. Aku sudah menumpahkan semua kesedihanku dengan air mata namun, tetap saja masih terasa sakit. Saat itu, ketika perasaan yang tak kukenal ini ada di tubuhku, aku merasa marah, kecewa, sedih dan perasaan lainnya tercampur di hatiku. Aku ingin muntah, mengeluarkan segala perasaan memuakkan ini. Aku tak mengenal perasaan ini tapi kenapa terasa sakit? Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan aku bukan siapa-siapa di antara mereka—aku tak mungkin meminta putri untuk tak memilih Sasuke. Belum lagi itu permintaan Hiashi-sama, orang ku hormati selama ini. Saat ini aku benar-benar membenci siapa diriku ini.

"Hi-hi-sama?" Sakura menatap orang yang berada di kamarnya. Hinata yang sedang memegangi bukunya—buku pribadinya. "Apa yang anda lakukan dengan—"

Hinata menutup buku Sakura dan meletakkannya di atas meja kecil samping kasur. "Hanya melihat-lihat. Oh Sakura, sudah lama ya kita tidak ngobrol?"

Sakura berjalan mendekati Hinata yang duduk di tepi kasurnya. "Sudah lama sekali kukira. Bukankah Putri akan bersiap untuk per—" Sakura sangat sulit untuk mengatakan ini. "—tunangan nanti sore?"

"Ah itu bisa nanti. Duduklah, ada yang ingin ku bicarakan." Hinata menepuk sampingnya. "Duduklah."

"Baiklah…" Sakura mendudukkan dirinya di samping Hinata yang terus menatapnya. "Ada apa, Hinata-sama?"

"Sakura, aku ingin kau jujur. Apakah kau menyukai Sasuke?" tanya Hinata langsung.

"Ap-apa? Ti-tidak. Aku tidak me—" Sakura menunduk. Ia teringat lagi percakapannya semalam dengan Gaara di taman belakang.

"Apa kau menyukai Sasuke, Sakura?" Gaara menatap Sakura yang duduk di sampingnya. Kini dia sudah lebih tenah setelah menangis tadi.

"Aku? Menyukainya? Benarkah?" Sakura tertawa miris. "Aku menyukainya atau tidak pun tidak akan mengubah apapun."

"Benarkah?" Emerald Sakura bersirobok dengan jade Gaara. "Itu karena kau langsung menyimpulkan sebelum mencobanya, Saku… Kenapa kau tak mencoba—" Gaara terdiam. "—mengatakan kalau kau menyukai Sasuke? Sebelum semuanya terlambat, kau tahu kan maksudku?"

Sakura memandang Gaara. "Lalu bagaimana denganmu?"

"A-apa?"

"Jangan berbohong, aku tahu kalau kau—" Sakura tak menyelesaikan kata-katanya.

"Ah—jangan pikirkan," ungkap Gaara tenang. Sakura tahu, meskipun Gaara memasang tampang 'aku baik-baik saja' namun di hatinya—dari sorot matanya tersirat luka yang amat dalam.

"Aku…" Kembali ke masa kini dimana Sakura masih bingung ingin menjawab apa. Dia menatap sepasang lavender Hinata. "Jika aku menyukainya, apa ada yang berubah?" Dan akhirnya Sakura bisa jujur pada hatinya, pada dirinya sendiri.

Hinata tersenyum tipis. "Ah sudah kuduga."

"Apa?"

"Kalau kau menyukai Sasuke. Sejak kita kecil, aku mengerti bagaimana perasaanmu itu."

"Anda tahu?"

"Ya, dan ini saatnya kau yang ganti merelakanku dengan Sasuke, Sakura." Hinata menatap serius mata Sakura. "Dulu ketika kita masih kecil, aku selalu merelakanmu dengan Sasuke bagaimana jika sekarang gantian kau yang merelakanku dengan Sasuke?"

Oh, kau cerdas, Hinata? Tapi apa tidak ada alasan selain itu?

"Sa-saya…"

Tiba-tiba Hinata berdiri. "Kadang aku merasa kau sangat menyebalkan, Sakura. Kau ingin memiliki segala sesuatu yang tidak kau miliki. Kau ingin memiliki seorang ayah jadi kau terus memonopoli Tou-sama dengan kecerdasanmu bermain pedang."

"A-aku tidak seperti itu, Hi-sama…"

"Lalu hubungan kau, Gaara dan Sasuke. Sebenarnya hubungan apa yang kalian miliki, hm?"

"Aku tidak seperti itu. Anda salah paham. Aku…"

"Sudahlah, aku harus menjenguk Tou-sama. Dan jangan berbuat hal yang membuatku sulit. Itu permintaan seseorang yang kau anggap sahabat, Saku…" ucap Hinata sambil tersenyum dan berdiri kemudian keluar dari kamar Sakura yang terduduk lemas.

Saat itu, yang ada di pikiran Sakura hanya satu, ia ingin bertemu keluarga kandungnya. Oh Tuhan! Bisakah dirinya bertemu dengan keluarganya? Jika terus seperti ini, Sakura takut, dirinya akan gila dan berbuat hal yang diluar kemampuannya.

.

.

.

Takdir memang amat kejam. Mempermainkan manusia yang tak tahu apa-apa. Jika ada yang bisa menebak bagaimana takdir itu, mungkin kau cukup hebat sayangnya tidak terlalu hebat untuk mengubah takdirmu itu. Jikalaupun kau ingin mengubahnya, apakah kau akan tahu itu akan menjadi baik atau buruk? Maka semua itu akan kembali ke takdir yang menentukan.

.

.

TBC


A/N : Aa—maaf jika chapter ini aneh dan membingungkan. Aoi tau kok, Aoi juga sadar karena nyatanya chapter ini jauh dari plot awal yang Aoi buat. Huhu—maaf, Aoi masih dalam pemulihan karena soal-soal UTS yang masih membayangi otak Aoi. Maaf kalau chap ini banyak kesalahan, Aoi nggak cek ulang lagi...

Dan tinggal chapter berikutnya, Sakura bertemu dengan Kakashi yang artinya akan ada banyak flashback! Tunggu saja ya dan special thank to reviewer di prolog, ch. 1 dan ch. 2 juga yang memfollow dan mereview! Arigatou Gozaimasu…

Gomen belum bisa membalas satu persatu. Tapi tetap ucapan terimakasihku yang masih setia nunggu fic ini. Aa—dan untuk siders thanks juga sudah mampir, kapan-kapan review ya? ^^

Special thanks to : Alifa Cherry Blossom ; Luca Marvell ; Akiko Rin ; Akira Fly(thanks for your concrit) ; hanazono yuri ; Nadiiyach UzumakiSwann ; lya hatake ; Fujiwara Hana

FAQ : 1. Kenapa Naruto nggak muncul? / Tentu dia bakal Author munculin tapi belum waktunya hehe / 2. Kakashi siapanya Sakura? / Sudah agak terjawab di chap ini kan? / 3. Hyuuga jahat? / Insya Allah chap depan terungkap 4. Kenapa Kakashi dan Gaara OOC? / Itu karena jalan ceritanya, huhu Aoi juga sedih buat mereka out dari karakter / 5. Maaf kalau fic ini belum masuk ke genrenya, tapi sebentar lagi.

.

.

Sign,

Aoi