Hana Hime

Chapter Four : Fact

Naruto's Character(s) belongs to Masashi Kishimoto

Story by Aoi YU Hara

Romance and Supernatural

Of course—main pair : Sasuke and Sakura

[OOCness, Sakura-centric, AU and other some mistakes]


.

.

.

Matahari masih setia berada di langit untuk menunggu waktunya menyembunyikan diri. Siang itu memang matahari tidak terlalu memancarkan sinarnya berlebih sehingga cuaca tidak terlalu panas. Ya, cuaca memang tidak sedang terlalu panas namun tetap saja ada ada hawa 'panas' mengitari beberapa orang di Istana Hyuuga. Jika kita selidiki lagi ke dalam istana—tampak kesibukan di dalam istana. Orang-orang masih berlalu lalang seperti biasa hanya saja lebih sibuk. Dan di sebuah ruangan, sebuah meja besar panjang tampak diisi oleh lima orang yaitu sang raja, Hiashi—yang mukanya terlihat amat pucat, di sebelah kanannya duduk putrinya, Hinata dan di samping Hinata ada sepupunya, Neji.

Sedangkan di hadapan mereka duduk Uchiha Sasuke dan kakeknya Uchiha Madara. Mereka bukan sedang makan tapi sedang membicarakan tentang perjodohan antara Hinata dan Sasuke yang pertunangannya akan berlangsung nanti sore.

"Hiashi-sama, Anda seharusnya istirahat bukan mengajak kita disini," ucap Madara terlihat mengkhawatirkan Hiashi.

"Uhuk! Tidak apa-apa," kata Hiashi terengah-engah. "Aku masih kuat dan aku tak ingin melewatkan satu kesempatan pun—uhuk!—melihat putri satu-satuku menikah."

"Tapi Anda butuh istirahat, Yang Mulia…"

"Tidak tidak. Aku baik." Hiashi terbatuk lagi.

Semua orang disitu hanya memandang sedih Hiashi. Aa—tidak ada satu orang yang tidak terlalu memperdulikan keadaan sekitarnya, Sasuke. Pemuda pemilik mata onyx itu memandang kosong permukaan meja. Sejak kemarin, pikirannya benar-benar terbagi menjadi banyak bagian. Ditambah dengan adegan dua orang yang dikenalnya sedang berpelukan. Oh—hatinya amat sakit.

Awalnya saat ia mendengar permintaan—terakhir—Hiashi ia sedikit tidak mempedulikannya, baginya Hiashi adalah sosok Ayah selain Ayah kandungnya yang telah tiada dan ia akan memenuhi segala keinginannya apalagi disaat-saat seperti ini. Hanya saja saat ia menyadari ada sosok gadis lain yang kini berada di hatinya membuatnya seakan tercubit. Melihat mimik wajahnya di kamar kemarin, membuat hatinya seperti teriris pedang—mungkin lebih sakit. Ia tak pernah melihat Sakura sekaget itu sebelumnya dan Sasuke tersakiti melihat wajah Sakura.

Kenyataannya, ia sendiri tak bisa berbuat apa-apa untuk menolak perjodohan ini. Ia terlalu menghormati Hiashi sebagai sosok ayah dan menyayangi Hinata sebagai sosok sahabat—meskipun dulu dia sempat menyukainya, tolong garis bawahi hanya sempat. Jika saja ia bisa menolak perjodohan ini maka yang akan tersakiti adalah Hiashi dan Hinata. Ia tak ingin menyakiti kedua orang itu.

Lalu Sasuke, kau jika tak berbuat apa-apa hanya akan menyakiti satu orang lagi dan orang itu, bukankah kau menyukainya?

Dan Sasuke bernar-benar terpukul akan fakta dimana dirinya telah menyakiti seseorang yang dicintainya.

Maafkan aku, Sakura. Maaf. Gumam Sasuke dalam hati.

.

.

.

.

Sekarang kita abaikan sebentar masalah di Hyuuga sana, kita beralih ke sebuah tempat di bawah tanah yang dijadikan tempat rahasia oleh sebuah organisasi bernama 'Akatsuki'. Tempat itu berada di tengah hutan dan untuk memasukinya kau harus melewati gua yang menyesatkan. Di dalam gua itu terdiri berpuluh-puluh lorong yang satu dengan yang lainnya hampir sama. Langit-lagit gua itu basah dan terlihat tetesan-tetesan di sekitar lorong. Ah—jika kau bisa masuk pun, akan sulit kau keluar. Karena itu hanya orang-orang tertentu saja yang bisa keluar-masuk dari tempat ini yaitu anggota Akatsuki sendiri.

Di dalam gua tersebut ada sebuah ruangan yang amat besar—yang dijadikan tempat berkumpulnya anggotaorganisasi itu sendiri. Tampak hanya beberapa orang yang berada di ruangan tersebut dengan jubah yang dikenakan hampir sama seluruhnya—jubah hitam bercorak awan merah.

"Bagaimana?" Satu kata mewakili keheningan yang cukup lama tersebut.

"Orang-orang itu berhasil sampai menyusup ke istana," jawab pria lainnya yang berambut merah.

Pria yang memulai pembicaraan tampak memikirkan sesuatu. "Lalu Hana Hime?"

"Perintahnya adalah mengawasi, sayangnya orang-orang yang kau sewa itu, Nagato hampir membunuh Hana Hime, kurasa kau harus mencari orang yang lebih pintar lagi dalam hal ini," ucap seorang pria lain bermata hitam kelam.

"Itachi, ucapanmu tidak bermaksud menyinggungku, bukan?"

"Aku tak pernah bermaksud seperti itu, Nagato," ujar Itachi datar.

Sedang pria yang dipanggil Nagato hanya mengamati Itachi dalam diam lalu mengalihkan perhatiannya ke anggota lainnya. "Misi utama kita memang menangkap Hana Hime, tapi tak ada artinya lagi jika dia mati atau bertambah kuat. Hatake dan anak buahnya juga mulai beraksi jadi kita tak boleh lengah dan berdiam diri. Hanya saja, untuk dua tahun ke depan, kita akan membiarkannya dan setelah itu buat dia bertekuk lutut pada kita dan misi kita akan dijalankan dengan baik."

"…" Tidak ada sanggahan maupun jawaban, mereka dengan patuh—atau takut?—menunduk dan dari sudut mata mereka, mereka milirik ketua mereka.

"Baik, kurasa pertemuan ini cukup sampai disini. Bubar." Nagato berdiri lalu berjalan keluar ruangan. Setelah itu tujuh orang yang masih duduk di dalam ruangan tersebut mendongakkan kepalanya. Yang berambut pirang berdiri lalu mengikuti Nagato—berjalan keluar. Tak lama kemudian tiga orang keluar lagi. Tiga orang yang masih tersisa yaitu Itachi dan pria berambut merah serta pria bergigi runcing.

"Itachi," panggil pria bergigi runcing. "Sebenarnya dimana hatimu kini?"

Hati? Itachi memejamkan matanya sejenak. "Hatiku masih berada di jiwaku sayangnya jiwaku yang sedang tidak berada di tubuhku saat ini." Itachi membuka matanya, berdiri lalu meninggalkan ruangan tersebut. Ia berjalan ke kanan, berbelok-belok beberapa kali. Ketika sampai di sebuah terowongan panjang dan sebuah pintu berwarna coklat di depannya, ia berhenti. Ia memegang kenop pintu ketika ingatan itu datang.

Itachi membuka matanya, ah, dia mengantuk sekali tapi tenggorokannya terasa kering, dia membutuhkan segelas air minum. Sebuah senyum tersungging di bibirnya ketika melihat Sasuke tertidur dengan amat polosnya. Ah, betapa imutnya adik kecilnya ini. Ditariknya selimut yang menutupi badan mereka berdua, setelah dirinya berdiri di sisi ranjang, ia segera membenarkan selimut untuk menyelimuti tubuh kecil adiknya. Setelah itu ia berjalan ke pintu, membuka dan menutupnya dengan pelan supaya tidak mengganggu tidur adiknya.

PRANG. Itachi menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara benda dijatuhkan. Insting bertarungnya yang dilatihnya selama ini membuatnya waspada akan segala hal buruk yang mungkin terjadi. Ia berusaha tenang dan bergumam dalam hati bahwa tidak terjadi apa-apa, mungkin itu hanya orang tuanya yang tidak sengaja menjatuhkan gelas atau benda lainnya. Ya, mungkin hanya seperti itu.

Kamarnya yang berada di bawah tangga dan persis di belakang dapur membuatnya tidak terlihat dari arah ruang depan. Ia berusaha tidak menimbulkan suara, tangannya meraba dinding karena listrik padam. Entah apa yang terjadi tapi perasaannya sungguh tidak enak. Ketika sudah melewati dapur, ia berhenti. Dari balik dinding, ia melihat sekilas bayangan lewat. Mungkin saja itu Ibu atau Ayahnya tapi perasaannya mengatakan itu orang lain. Dengan hati-hati, ia melirik ke arah dimana ruang keluarga berada dan mata onyx-nya membulat sempurna. Napasnya seakan tertahan di tenggorokannya. Ia tidak bisa bernapas!

Yang dilihatnya adalah Ibu dan Ayahnya terikat. Mata dan mulut mereka terbebat kain hitam. Sedangkan ikatan di tubuh mereka terasa sangat kencang sekali. Pasti akan menimbulkan bekas merah-merah di tubuh mereka jika terlepas nantinya. Sayangnya mungkin itu sulit terjadi karena apa yang terjadi selanjutnya adalah darah yang mengalir di lantai.

Itachi mengepalkan kedua tangannya erat, matanya sudah memerah sambil bergumam 'Ibu, Ayah'. Ibunya telah ditusuk oleh pedang tepat dimana jantungnya berada. Itachi melihatnya dan ia jatungnya berdebam keras ketika tubuh Ibunya jatuh. Ia ingin memanggilnya dan membunuh orang yang telah menusuk Ibunya. Tapi apa yang bisa dilakukan olehnya? Tanpa persenjataan apapun, apa yang bisa dilakukan? Ia memejamkan mata dan mengalirkan liquid bening dengan derasnya.

"Uchiha…" Sebuah suara dari pembunuh itu membuat Itachi membuka matanya kembali. Ia melirik ke arah ruang depan kembali, berusaha tidak melihat tubuh Ibunya yang sudah terbaring. "Kesalahan pertama kalian adalah mendukung mereka dan kekuatan Iblis kalian yang harus dimusnahkan. Ini perintah dan—tentu keinginan kami untuk memusnahkan kaum kalian dari dunia yang bersih ini."

Sosok yang paling depan mengacungkan pedangnya ke arah Fugaku—Ayahnya, bersiap menebas lehernya kapan saja.

"Ayah," gumamnya menahan tangis. Ia ingin menutup matanya tapi tak bisa. Dan hingga sebuah tebasan sudah dikenai ke leher Ayahnya, Itachi masih membuka matanya. Hingga Ayahnya terjatuh dan berbaring di samping Ibunya, ia masih melihatnya. Dan hingga pembunuh itu membalikkan tubuhnya, ia mash melihatnya. Sepasang mata keperakan menyambutnya dari cahaya yang remang-remang.

Satu fakta pertama yang ia ketahui malam itu, orang tuanya dibunuh oleh brengsek-brengsek Hyuuga. Dan dia dengan cara apapun akan membalaskan dendamnya kepada Hyuuga.

Sepasang onyx-nya terbuka, ia menunduk sejenak lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa suara.

.

.

.

.

Langit sudah menunjukkan bahwa sore hari segera tiba. Haruno Sakura, sang gadis musim semi itu menekuk kedua lututnya dan memeluknya erat. Emerald-nya memandang ke depan—ke danau yang biasa ia kunjungi. Air permukaan danau tampak tenang. Beberapa ekor ikan tampak berenang kesana kemari dan sesekali ke permukaan, ah, melihat ikan itu seperti sedang menghibur Sakura yang terdiam dalam waktu yang lama di tepi danau tersebut.

Dimanakah tawa Sakura yang biasa ia tampilkan? Kemanakah wajah cerianya? Tidak ada yang berubah selama satu hari ini. Awalnya Gaara menemaninya namun karena kedua kakaknya akan kembali dari misi panjang, Sakura memaksanya untuk menemui kedua kakaknya. Tidak, Sakura tidak ingin merepotkan orang lain hanya karena perasaan bodohnya ini. Sakit, memang. Tapi mungkin bisa ditahannya. Tidak apa. Hanya sakit sebentar. Begitulah pikiran Sakura.

"Sakura."

Deg! Bukan, bukan ini yang di dengar Sakura. Bukan suara ini yang diinginkan Sakura saat ini. Tubuhnya menegang hanya karena panggilan tersebut dan suara seseorang yang menuju ke arahnya. Tidak, Sakura tidak bisa bertemu dirinya kali ini karena hanya akan membuat hatinya sakit.

Ia cepat-cepat berdiri meskipun jadinya ia sedikit terhuyung akan jatuh. Duduk cukup lama membuat kepalanya pening dan oh, wajahnya pucat sekali.

"Saku!" Jika saja tidak ada tangan yang memegangi lengannya mungkin dia sudah jatuh. Ia menatap lengan kirinya yang dipegang oleh tangan pemilik pemuda bermata onyx tersebut. Pemuda yang tidak ingin ditemuinya.

"Lepas," gumamnya lemah. "Kubilang lepas, Sasuke!" Ia menghentakkan lengannya keras.

Setelah terlepas ia menunduk dalam dan mundur. Ia tak berani mengangkat kepalanya untuk menatap mata kelam milik rekan satu timnya tersebut.

"Sakura, aku—"

"Jangan bicara. Aku mohon jangan katakan apapun." Tangannya mengepal erat di sisi kiri kanan tubuhnya. "Aku mohon." Sakura tak kuat lagi! Ia akhirnya mengeluarkan air mata yang ditahannya selama seharian ini. Dan perasaannya yang ia tahu tak bisa dibohongi lagi.

"…" Sasuke tidak bisa berkata apapun. Ia menuruti keinginan Sakura menyuruhnya diam. Tapi Sakura tidak menyuruhnya pergi kan? Jadi, Sasuke hanya berdiri dan menatap Sakura yang tertunduk dan menangis. Sakit rasanya, ia tidak bisa menahan lama-lama melihat Sakura menangis. Seakan separuh nyawanya ditarik paksa ketika sepasang mata bak batu emerald itu mengeluarkan cairan bening. Kenyataannya, semua yang dialami Sakura kini karenanya.

TIDAK! Sasuke tidak tahan lagi. Ia mengambil satu langkah maju dan kemudian ditariknya tubuh Sakura ke dalam pelukannya. Tidak bisa, Sasuke tidak bisa menahan lama melihat Sakura menangis.

"Tolong jangan menangis. Kau boleh marah. Kau boleh berteriak atau memukulku. Tapi satu hal, jangan menangis. Aku mohon…" Sasuke memeluk erat tubuh Sakura yang memberontak. Di tahannya kepala Sakura untuk bersandar ke dadanya. Untuk kali ini saja. Biarkan mereka seperti ini. Untuk kali ini saja, jangan rusak kebersamaan mereka berdua.

Untuk kali ini saja.

Meskipun Sakura tahu, seharusnya ia tak boleh seperti ini dengan seseorang yang akan menikah dengan wanita lain. Namun, ia tak bisa menolak realita sebenarnya bahwa dia membutuhkan pelukan ini. Dia membutuhkan kehangatan ini. Dia membutuhkan Sasuke. Biarlah untuk sesaat dia merasakan kehangatan ini.

"Maafkan aku," ucap Sasuke setelah merasa Sakura tenang. "Maaf karena aku tidak mempunyai kekuasaan untuk menolak perjodohan ini. Maafkan aku yang terlalu lemah untuk melindungimu. Maaf…"

Tidak, bukan Sasuke yang salah tapi dirinya. Karena dirinya dengan lancangnya menyukai Sasuke. Dengan lancangnya, seseorang yang tidak memiliki masa lalu mencintai Uchiha. Ia yang salah, bukan Sasuke.

"Bukan," lirihnya. "Bukan kau yang salah, Sasuke. Akulah yang harus disalahkan dalam hal ini. Maaf karena aku tidak bisa menolak perasaan ini. Maaf karena aku bukan siapa-siapa." Sakura tidak bisa menahan lagi, ia pun menangis kembali. Meskipun tangisan kali ini dikarenakan perasaan bersalahnya terhadap seseorang yang kini sedang memeluknya. "Aku salah karena memiliki perasaan ini. Aku bodoh."

"Tidak, perasaan yang kita miliki tidak pernah salah." Sasuke melepas pelukannya dengan Sakura. "Yang salah adalah kenapa takdir harus membawa kita ke hubungan yang rumit ini, Saku. Maaf aku terlambat mengatakannya dan setelah semua terjadi. Tapi… Aku mencintaimu."

Sasuke memajukan wajahnya lalu mengecup bibir Sakura. Hanya sebatas kecupan namun memiliki ketulusan yang amat dalam. Ketulusan yang tak bisa ditandingi oleh apapun. Ketulusan di antara dua jiwa yang saling mencintai.

Mereka berdua tahu, hubungan di antara mereka berdua tidak seharusnya terjadi tapi bisakah waktu berhenti untuk mereka berdua kali ini? Tidak bisakkah mereka merasakan kebersamaan mereka berdua kali ini dalam waktu yang lebih lama?

"Aku juga. Aku juga mencintaimu, Sasuke…" Sakura merasa bahagia sekaligus sedih. Oh, apapun yang terjadi hari ini tidak akan merubah apapun. Sasuke akan tetap menikah dengan Hinata.

Sasuke tersenyum tipis mendengarnya. Ia memegang bibir Sakura dengan ibu jarinya kemudian memajukan wajahnya lagi untuk mencium Sakura kembali. Ia memegang lengan Sakura di sisi kanan kirinya. Wajah Sakura terlihat amat cantik di pantulan cahaya sore. Ketika bibir mereka akhirnya bertemu kembali. Ada semacam perasaan yang sulit digambarkan mengalir di tubuh mereka. Tubuh mereka berdua bergetar menahan hasrat dan keinginan jiwa untuk bersatu.

Salah. Hubungan ini salah. Tapi untuk kali ini saja, biarkanlah mereka merasakan kebersamaan.

.

.

.

.

Sabaku Gaara mungkin adalah orang yang paling beruntung di antara kedua rekannya karena dirinya masih memiliki dua kakak kandung yang menemaninya. Dia bukan Sakura yang tidak mengetahui apapun tentang masa lalunya dan bagaimana dirinya bisa sampai ke Kediaman Hyuuga. Dia juga bukan Sasuke yang keluarganya terbunuh dan kakaknya menghilang. Dia cukup beruntung karena masih memiliki dua orang keluarga yang menemaninya menjalani kehidupan ini.

Dulu, Sabaku seperti Uchiha, salah satu keluarga berada yang tidak terikat oleh kekuasaan Istana Hyuuga. Namun karena perang, Ayah dan Ibunya menjadi korban. Ia menjadi yatim piatu. Bersama kedua kakaknya, dia diangkat oleh Hiashi dan berakhir menjadi prajurit di istana tersebut. Kedua kakaknya, Sabaku Temari dan Sabaku Kankurou yang sudah lebih dahulu menjadi prajurit sering keluar masuk istana untuk melaksanakan sebuah misi. Beda dengan dirinya yang lebih ke pengawalan sang putri.

Ah, ngomong-ngomong tentang putri, ia teringat pertunangan Hinata dengan Sasuke sore nanti. Itu juga membuatnya teringat kepada Sakura, ah, bagaimana keadaannya? Ia terpaksa meninggalkannya karena akan menemui kedua kakaknya yang akan kembali dari misi panjang mereka.

Gaara selama ini tahu bahwa Sasuke adalah saingannya dalam hal bela diri ataupun kepemilikan hati Sakura. Tapi ia baru tahu jika dirinya sudah kalah, ia sudah kalah untuk mendapatkan hati Sakura. Hati Sakura sudah dimiliki oleh sahabatnya tersebut.

Andai saja bisa, Gaara bersedia menukar dirinya dengan Sasuke untuk menikahi Hinata, jika itu bisa menghilangkan kesedihan di wajah Sakura. Ia bersedia dan apapun itu akan ia lakukan agar pujaan hatinya menampakkan wajah bahagianya kembali. Termasuk kebahagiaannya sendiri, ia bersedia mempertaruhkan kebahagiannya untuk kebahagiaan Sakura.

.

.

.

.

Tidak jauh dari kota dimana Istana Hyuuga berada, sebuah rombongan tampak sedang berjalan ke arah kota. Wajah-wajah itu terlihat asing. Berbeda dengan lambing yang berada di pakaian yang rombongan itu kenakan. Di pakaian mereka terdapat sebuah lambang spiral, lambing yang digunakan untuk Klan Uzumaki, klan atau keluarga yang cukup tua, mungkin lebih tua daripada Hyuuga. Uzumaki memiliki pengetahuan kuat akan hal-hal yang biasanya tidak diketahui oleh orang lain.

"Berhenti." Perintah dari arah depan rombongan membuat seluruh orang berhenti. Tampaknya dia pemimpin dari rombongan ini. Wajahnya cukup lumayan dengan kulit berwarna coklat tan dan mata seindah langit—biru. Perkenalkan Uzumaki Naruto, Ketua Klan Uzumaki dan satu diantara ketua klan termuda pada masa ini. Umurnya baru menginjak 19 tahun dan dia sudah menjadi ketua klan selama 4 tahun belakangan. Ia hidup hanya bersama Ibunya karena Ayahnya telah meninggal dengan alasan yang cukup—err rahasia.

"Ada apa, Naruto-sama?" Salah seorang anak buahnya mendekat dan sedikit membungkuk di samping kuda yang sedang dinaikinya.

"Berapa lama lagi kita sampai ke Hyuuga?" tanyanya.

"Kurang lebih tiga jam lagi, Tuan."

"Kalau begitu istarahat 30 menit," perintah Naruto sembari turun dari kuda.

"Tapi kita hampir sampai—"

"Tidak, Iruka-nii. Meskipun sudah hampir sampai tapi aku ngantuk sekali jadi, aku ingin tidur. Bangunkan aku ya nanti," ucap Naruto santai. Ia kemudian duduk dan bersandar di salah satu pohon yang cukup besar, tidak butuh waktu lama ia telah tertidur.

Umino Iruka, penasehat sekaligus pengawal pribadi Naruto—meski sebenarnya Naruto tidak memerlukan pengawal karena kemampuannya yang mumpuni—menghela napas panjang. Kelakuan Tuan Mudanya memang masih cukup kekanakkan tapi tidak menampik kenyataan bahwa Tuannya juga sangat hebat dalam bertarung.

Sebagai orang terdekat Naruto, Iruka sudah cukup tahu bagaimana sifat asli Tuannya. Dia cukup berbaik hati pada lawannya ketika bertarung. Hanya saja, sifatnya akan berubah jika lawannya menyakiti orang yang disayanginya. Luka dibalas luka, darah dibalas darah dan—nyawa dibalas nyawa, ketika apa yang disayanginya tersakiti maka itulah yang akan menjadi pemikirannya. Iruka menarik napas panjang ketika teringat kejadian tempo lalu, satu kejadian yang membuat Naruto berubah. Bukan dalam hal karakter tapi lebih ke hal yang dijelaskan di atas—gaya bertarungnya.

Sore ini, mereka sedang dalam perjalanan ke Istana Hyuuga untuk membahas persekutuan antara Uzumaki dan Hyuuga. Iruka sesungguhnya tahu, apa maksud dibalik persekutuan ini. Ini bukanlah persekutuan yang 'nyata', persekutuan di antara kedua klan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui rahasia apa yang disimpan di antara keduanya. Dari luar mereka berteman tapi di dalamnya mereka adalah musuh yang saling menyelidiki satu sama lain.

Kenapa Iruka tahu? Karena dirinya bisa dibilang tangan kanan Naruto.

Ketika perjalanan mereka berlanjut, Iruka masih bertanya-tanya, 'Kenapa beban yang Naruto tanggung harus seberat ini?'. Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah dan Iruka menyadarinya karena dialah yang selalu menjadi keluh kesah Naruto. Jika saja hal itu tidak terjadi maka, Naruto mungkin masih memiliki Ayahnya. Andai saja…

Takdir tidak serumit ini.

.

.

.

.

Dua sejoli itu masih bertahan di tepi danau, menikmati kebersamaan mereka yang akan segera berakhir. Karena sesaat itu sudah mulai berakhir.

Sasuke memeluk Sakura erat. Ia benar-benar tidak ingin melepaskan Sakura. "Ayo kita pergi," ucapnya tiba-tiba.

"Apa?" Sakura memundurkan kepalanya. Menatap langsung kedua mata hitam Sasuke. "Kau mengatakan apa?"

"Ayo kita pergi, Sakura. Menjauh dari kehidupan ini. Hanya berdua, kau dan aku. Ayo kita bangun kehidupan kita berdua tanpa campur tangan orang lain."

"Sasuke, kau—"

"A-aku tidak bisa kehilanganmu, Sakura. Jika kita tetap disini, kita tidak akan bisa—"

Kedua bibir itu bersentuhan kembali hanya saja Sakura yang memulai. Ia tersenyum tipis ketika jarak mereka sudah berjauhan. "Sasuke, aku sudah bahagia untuk sesaat ini. Tapi aku juga tidak bisa menyampingkan kenyataan bahwa kau sudah milik orang lain. Aku tahu ini bukan keinginanmu tapi bisa kan kau lakukan demi Hiashi-sama yang telah merawatku, merawatmu dan membuat kita bertemu." Sakura menggigit bibir bawahnya. "Tolong, aku tidak akan rela jika Hiashi-sama terluka. Dia adalah Ayahku. Ayah kita. Ayah yang memberi kita kehidupan kedua. Anggaplah ini untuk balas budi."

"Tapi, Sakura, aku tidak bisa melepasmu. Aku tidak ingin kehilanganmu!"

"Aku tidak menghilang kok. Aku masih disini, di hatimu," ucap Sakura sambil menunjuk ke hati Sasuke berada. "Jika kau menjaganya dengan benar maka aku tidak akan menghilang. Ingatlah bahwa aku selalu di hatimu."

"Selamanya?"

"Selalu." Sakura menampakkan seulas senyum manis yang sungguh membuat wajahnya berkilau indah. Ia tampak cantik sekali.

"Maaf dan terimakasih." Sasuke menarik Sakura ke dalam pelukannya.

Waktu mereka sudah habis. Dan ketika punggung Sasuke berbalik, Sakura sadar, mereka akan sulit untuk bersama. Seperti pemikirannya sebelumnya.

Jikalaupun mereka dapat bersama, akan ada banyak kesulitan yang menghadang mereka dan keajaiban lah yang bisa membuat mereka bersama. Tentu takdir akan ikut berperan penting dan akan selalu mempermainkan nasib mereka semua.

.

.

TBC


A/N : Onegai—Jangan bunuh saya karena keterlambatan ini. Gomen! Saya kena WB PARAH! Dan chapter kali ini maaf kalau terlalu kependekkan, menurut saya sih ini sudah kepanjangan karena chapter 4 sangat menguras perasaan saya. Menggambarkan perasaan para tokoh di chapter kali ini agak sulit—sekali… Dan maaf juga karena pertemuan Saku-Kaka harus ditunda. Tapi—tapi Naruto sudah keluar, YEAY, saya bangga! #ditendang

POJOK REVIEW / Luca Marvell : Pengen banget ya Sakura masuk ek gengnya Kakashi, haha :D / cherryxsasuke : galau? Haha nggak nyangka aku bisa buat galau. Tapi terimakasih sudah review / Tohko Ohmiya : Arigatou ^^ / Iqma96 : Makasih reviewnya ^^ / BJAra : Maaf ToT nggak bisa update kilat, maaf banget. Tapi terimakasih sudah review yaa… / tanya : Sudah terjawab tuh / hanazono yuri : Maaf tidak bisa upate kilat ToT, arigatou reviewnya / Lyn kuromuno : Jangan gitu ah, gitu-gitu kan dia tokoh di fic-ku XD well, arigatou reviewnya. / Kuro and Shiro : Makasih / Akiko Rin : Dia baik kok cuma nggak sengaja aja punya kesempatan bagus untuk mendapatkan Sasuke. Makasih… / Racchan Cherry-desu : Saya juga geram deh. Makasih :D / najmi-kun : Aa—gomen, saya nggak terlalu bisa action #nangis. Tapi makasih yaa… / kazuran : Makasih ^^ dan salam kenal, ya kalau takdir menghendaki, haha :D

Buat reviewer, Arigatou! Mind to review, again? ^^