Mimpi burukku dimulai bahkan sebelum dua cincin itu terpasang di jari manis mereka. Aku ingin pergi dan menghilang dari hadapannya, tidak—aku bahkan ingin menghilang dari dunia ini secepatnya. Tidak peduli di dunia mana akhirnya aku akan menghilang, yang terpenting bukan di dunia yang penuh dengan kebohongan ini.


Hana Hime

Naruto's Character(s) belongs to Masashi Kishimoto

Story by Aoi YU Hara

[Sasuke and Sakura—pairing]

With—OOCness, Sakura-centric, AU dan beberapa kesalahan lainnya

Chapter Five: Memories


Pemuda berambut merah dengan tato 'ai' di dahinya tersebut bersandar di gerbang. Tangannya bersidekap di dada. Wajahnya teramat datar dan tetap datar meskipun beberapa gadis meliriknya karena wajahnya yang cukup tampan tersebut.

Di bawah langit sore, Sabaku Gaara sedang menunggu kedua kakaknya yang terlambat hingga tiga jam. Benar-benar sore yang menjengkelkan! Kalau begini akhirnya, seharusnya dia menemani Sakura. Kenapa menunggui orang yang bahkan belum terlihat batang hidungnya? Benar-benar hari yang menyebalkan! Rutuk Gaara dalam hati.

Mata jade Gaara memandang langit kemudian menghela napas, kalau waktunya benar, berarti sekarang di Istana sedang melangsungkan pertunangan di antara kedua sahabatnya—Sasuke dan Hinata. Ia benar-benar ingin ke istana segera, bukan untuk melihat pertunangan dua orang tersebut tapi untuk melihat keadaan Sakura.

Ah, sudahlah! Gaara yakin, Sakura pasti baik-baik saja, Sakura bukan gadis lemah. Ia tahu itu karena dia sudah mengenalnya cukup lama. Ia tahu, Sakura kuat. Dan ini bukan masalah yang akan membuat Sakura melakukan kenekatan. Tidak, Sakura bukan gadis seperti itu.

"Oiii…"

Sret. Kepala Gaara langsung menengok ke sumber suara—suara yang cukup dikenalnya. Ia menarik sudut bibirnya ketika melihat dua orang yang amat dikenalnya.

"Aa, okaeri Temari-nee, Kankurou-nii," kata Gaara. Ia berdiri tegap untuk menyambut kedua kakaknya.

"Nee, nee. Otouto, kami pulang!" Suara khas Kankurou menyambut pendengaran Gaara.

"Tadaima, Gaara-kun." Dan tentu suara yang mirip dengan Ibunya terdengar juga ke pendengaran Gaara.

Senyum yang jarang ditampakkan Gaara, muncul di sore hari ini.

.

.

.

Tap.

Ia ingin berlari.

Tap.

Tapi bukankah kini dirinya sedang berlari?

Tap.

Sayangnya, ia tak tahu kemana tujuan larinya. Berlari ke tempat yang tidak membuatnya sakit. Berlari ke tempat dimana akan membuat hatinya lega. Dan bukan disini tempatnya.

Tap.

Ia berhenti berlari ketika sampai di bawah pohon sakura. Disandarkannya tubuhnya di pohon tersebut. Surai merah mudanya menutupi matanya yang sembab.

"Tidak. Bukan seperti ini," lirihnya. Tangannya terangkat untuk menutupi wajahnya. "Bukan seperti ini. Sakura bukan gadis seperti ini."

Dan Sakura merosot jatuh sembari memeluk lututnya. Juga deraian air mata yang meluncur dari emerald-nya. Di bawah langit yang mulai menggelap, Sakura menangis di kesendiriannya dalam kegelapan di bawah pohon sakura.

Tak jauh dari Sakura berada, rombongan yang orang-orangnya memakai pakaian dengan lambang spiral tampak mendekati gerbang Istana Hyuuga.

"Tunggu sebentar," ucap ketua rombongan yang berada paling depan memberhentikan rombongan. Sapphire-nya melirik ke pohon sakura yang tak jauh dimana dirinya berada.

"Ada apa, Naruto-sama?" Iruka, sang penasehat mendekati Tuannya.

"Ee—tidak, aku hanya merasa melihat warna merah muda. Hm, ayo." Pemuda bernama lengkap Uzumaki Naruto itu mengalihkan pandangannya dari pohon sakura lalu mulai menjalankan kudanya kembali diikuti rombongannya.

Merah muda ya? Sepertinya aku pernah melihatnya. Pikir Naruto sembari sesekali melirik ke bawah pohon sakura, seorang gadis berambut merah muda tampak berjongkok memeluk lututnya. Meskipun di dalam keremanangan cahaya menjelang malam, ia dapat melihatnya. Tubuh gadis itu bergetar. Menangiskah?

.

.

.

"Uzumaki? Kenapa mereka kesini?" tanya Gaara setelah tak melihat rombongan Uzumaki lagi dari balik kedai ramen.

Sembari menyumpit mie-mie di mangkuknya, Kankurou menjawab, "Yang aku dengar sih ada suatu perjanjian diantara Hyuuga dan Uzumaki. Semacam membentuk aliansi. Benar tidak, Temari?"

Duk! Sebuah jitakan mendarat di kepala Kankurou. "Panggil aku nee Kankurou! Aku lebih tua darimu, bocah!"

"Hei! Aku bukan bocah dan umur kita hanya selisih 1 tahun!" Kankurou tak mau mengalah.

"Lalu? Tetap aku lebih tua dan mana hormatmu kepada nee-san mu, heh?"

"Ha'i. ha'i, onee-sama," ucap Kankurou.

Gaara tersenyum geli melihat interaksi kedua kakaknya. "Ah, sudah. Bagaimana? Kalian belum menjawab pertanyaanku. Aliansi apa?"

"Oh itu—sebentar." Kankurou memakan mie-nya lalu menatap Gaara kembali. "Ini sudah jadi rahasia umum jadi tak masalah kita membicarakannya. Begini, kau lihat pemuda yang paling depan di rombongan tadi?" Gaara menggangguk. Seingatnya tadi dia melihat pemuda berambut kuning. "Dia adalah ketua klan Uzumaki termuda sepanjang sejarah."

"Ketua klan? Semuda itu?"

"I—"

"Benar," ucap Temari memotong ucapan Kankurou. "Namanya adalah Uzumaki Naruto, dia sudah menjadi ketua klan sekitar 4 tahunan. Tentang aliansi itu, mereka mungkin semacam mengibarkan bendera putih diantara keduanya. Bukan rahasia lagi, Hyuuga dan Uzumaki adalah musuh. Tapi kalau kita melirik aliansi diantara keduanya pastilah ada rahasia di antara keduanya. Aneh saja, dua kubu yang awalnya bertolak belakang tiba-tiba mengibarkan bendera perdamaian."

"Musuh? Aku tak pernah dengar mereka adalah musuh. Kukira mereka bersahabat. Lalu kemana ketua klan Uzumaki sebelumnya?" tanya Gaara penasaran.

Kankurou menghabiskan ramennya dari mangkuk langsung lalu menatap Gaara serius. "Kau benar. Mereka bersahabat tapi segalanya berubah sejak ketua klan Uzumaki sebelumnya tewas."

"Tewas?"

"Ada yang mengatakan Hyuuga yang membunuh Namikaze Minato—nama ketua klan Uzumaki sebelumnya—, ada juga kabar yang mengatakan Minato terbunuh. Hmm… apa lagi ya?"

Temari menyenggol Kankurou, "Jangan lupakan satu kabar lagi, baka-otouto. Ada kabar juga kalau Minato terbunuh oleh anaknya sendiri yaitu Naruto. Tapi tentu kabar yang aku katakan tidak mungkin. Mana ada sih anak yang membunuh Ayahnya sendiri."

"Yap. Jadi setelah itu hubungan Hyuuga dan Uzumaki terputus dan alasan kematian Minato dirahasiakan. Tapi sejak beberapa bulan yang lalu mereka mulai menjalin benang kekerabatan kembali. Dan itulah tadi rombongan klan Uzumaki dikawal langsung oleh Naruto." Kankurou mengakhiri. Ia mengambil gelas berisi air bening lalu diminumnya.

"Oh begitu," respon Gaara. Kemudian dia sepenuhnya mengabaikan ramen yang masih tersisa setengah di hadapannya. Ia tidak ingat sejak kapan merasakan perasaan tidak enak ini tapi malam ini sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi.

Semoga Sakura baik-baik saja.

Hanya itu do'anya untuk malam ini.

.

.

.

Pemuda bermata biru langit itu mengitari ruangan. Kini ia sudah berada di dalam istana Hyuuga bersama dengan Iruka sedangkan yang lain sedang beristirahat di ruangan yang telah disediakan oleh Hyuuga sendiri.

"Maaf menunggu lama Uzumaki-sama." Seseorang berambut panjang dengan mata amethyst mendatangi dua orang dari Uzumaki tersebut. Ia lalu duduk di hadapan Naruto. "Semoga tidak mengganggu karena saya yang hadir disini. Saya mewakili Hiashi-sama untuk pertemuan ini karena keadaan Yang Mulia yang tidak memungkinkan untuk diajak dalam pertemuan ini."

"Tidak masalah. Neji, bukan? Aa, kurasa lebih baik menggunakan kata-kata seperti biasa. Tidak enak didengar bukan, teman lama?" tanya Naruto sembari menampilkan senyum tipisnya.

"Maaf, Uzumaki-sama jika kata-kataku mengganggu. Tapi jika obrolan ini terjadi 4 tahun lalu mungkin masih bisa saya lakukan. Sayangnya, yang ada di hadapanku sekarang adalah ketua klan Uzumaki," jawab Neji.

"Ah, benar. Aku lupa."

"Dan saya harap Anda tidak melupakan tujuan awal Anda kemari."

"Tentu aku tidak melupakannya. Iruka-nii?"

Iruka yang merasa dipanggil, menyerahkan sebuah dokumen ke Naruto. Naruto menggumam 'terimakasih' lalu fokusnya teralih kembali ke Neji.

"Ini dokumen perjanjian antara Hyuuga dan Uzumaki. Kau bisa melihatnya dahulu," ucap Naruto lalu menyerahkan dokumen itu ke Neji.

Neji mengangguk. Ia membuka dokumen tersebut.

"Oh ya, di perjalanan aku mendengar Hiashi-sama sedang terbaring sakit. Benarkah?" Naruto bertanya sembari sesekali melihat Neji yang sedang fokus dengan dokumen di tangannya.

"Kau benar," jawab Neji. "Ada serangan mendadak di istana ini kemarin."

"Setahuku tidak baik mengatakan hal seperti itu ke klan lain."

Neji menutup dokumen itu tiba-tiba lalu beralih menatap Naruto. "Dan tidak baik, bukan, seorang pembunuh berkeliaran di tempat korbannya?" Neji menyeringai tipis melihat raut wajah Naruto yang berubah dalam sekejap.

"Aku bukan pembunuh, brengsek!"

.

.

.

"Kau bilang kau tak akan terlibat dengan mereka, lalu ini apa, Minato?" Wanita berambut merah panjang sepinggang itu mendekati suaminya.

"Aku tidak akan terlibat Kushina. Kau tenang."

"Lalu bagaimana dengan semua ini?! Bukankah itu berarti kau memihak mereka?"

"Aku tidak memihak siapapun! Hime-sama maupun Hyuuga. Tidak ada yang aku atau kita pihak."

"Sialan! Lalu kau ingin mengatakan bahwa kau di pihak netral dan kau melakukan ini karena tidak sengaja? Heh, kau kira aku bodoh?"

"KUSHINA! AKU TIDAK MEMIHAK SIAPAPUN!" teriak Minato tidak sabar. Ia memegang kedua sisi lengan Kushina. "Aku mohon tenanglah. Aku melakukan ini bukan karena aku ingin memihak Hime-sama tapi—" Minato berhenti berkata. Ia menunduk.

"Kakashi, bukan? Kau ingin membantu Kakashi?"

"Kushina, b-bagaimana kau tahu?"

Kushina tersenyum lembut lalu membelai pipi Minato. "Kau pikir aku bodoh?"

"Maaf. Kumohon tunggu sebentar lagi. Maka aku hanya akan ada untuk kau dan Naruto. Selain itu takdir Kakashi menjadi seorang guardian tak bisa diabaikan. Ia sudah terikat dan akan bahaya jika Kakashi tidak bisa menolong apa yang harus dilindunginya. Ia bisa mati."

Naruto membuka matanya yang tertutup sejenak. Itu ingatan 17 tahun yang lalu ketika umurnya baru menginjak 2 tahun. Bahkan orang tuanya sendiri tidak tahu bahwa Naruto menyimpan sebuah memori tentang kejadian 17 tahun yang lalu. Ya, Naruto memang termasuk jenius di usianya, mengingat percakapan yang seharusnya rumit itu diingatnya hingga sekarang.

"Naruto-sama, daijobu ka?" Iruka menatap Naruto dengan khawatir. Sejak pertemuannya dengan Neji, ia lebih banyak diam. Hanya sedikit yang tahu akan kejadian 4 tahun yang lalu tentang kematian Namikaze Minato. Namun, entah bagaimana Neji mengetahuinya dan itu pasti mengejutkan Naruto.

"Naruto-sama?"

"Iruka-nii," panggil Naruto. Ia menatap langit-langit kamar singgahnya. "Aku… Bukan pembunuh, kan? Itu bukan aku, kan?"

Iruka terhenyak. Lama sekali… Naruto tidak pernah bertanya lagi akan hal yang berhubungan dengan kematian Ayahnya. "Ha'i, Naruto-sama bukanlah pembunuh."

"Benar, aku bukan pembunuh. Waktu itu, bukan aku yang membunuh Ayah. Itu bukan aku," ucap Naruto.

.

.

.

Langit malam tanpa bintang. Di penghujung musim semi ini, udara tampaknya mulai menghangat. Seperti yang dirasakan Sasuke di ambang jendela di kamarnya yang berada di istana Hyuuga. Sepasang onyx-nya memandang langit yang sewarna dengan warna matanya tersebut. Genggaman tangannya mengerat ketika ia dengan mudahnya menyetujui kemauan Sakura untuk tetap bertunangan dengan Hinata. Ia menunduk lalu membuka genggaman tangan kanannya, sebuah cincin emas tanpa ukiran apapun berada di tangannya. Ia memandang kosong cincin tersebut. Tak ada satu keinginan pun untuk memakainya.

Jika di mata orang lain, cincin yang berada di tangannya tersebut adalah tanda pengikat hubungan antara dirinya dengan Hinata maka baginya cincin itu hanyalah benda mati yang merusak hubungannya dengan Sakura.

"Kuso!" Ia berbalik lalu berjalan keluar dari kamarnya. Ia tidak peduli tanggapan orang lain nantinya jika dirinya yang sudah terikat dengan Hinata malah bertemu dengan gadis lain. Persetan dengan tanggapan orang lain! Ia hanya ingin bertemu Sakura.

Langkahnya teredam di lantai istana Hyuuga, ia berjalan hanya untuk satu tujuan. Dan tujuan awalnya adalah kamar Sakura. Tapi sebelum sampai di kamar Sakura, ia malah hampir saja bertabrakan dengan seseorang.

"Ah, hampir saja." Suara asing membuat Sasuke mendongakkan kepalanya. Rambut kuning dan mata biru safir—siapa? Ketika pandangannya jatuh ke pakaian yang dikenakan pemuda di hadapannya, ia segera tahu, Uzumaki.

"Aa, maaf," maaf Sasuke. Ia menunduk sejenak. "Maaf saya sedang terburu-buru. Permisi." Setelah itu Sasuke melewati pemuda dan pria di belakangnya begitu saja tanpa satu patah kata pun setelahnya.

Sedangkan pemilik mata biru safir itu masih memandang jejak kepergian Sasuke. "Dia Uchiha bukan?"

"Eh, benarkah?" Pria di belakangnya yang memiliki luka melintang di hidungnya menengok ke arah pandangan Tuannya.

"Hm, kalau tidak salah Uchiha Sasuke, namanya. Benar-benar misteri bagaimana bisa salah satu klan terkuat terbunuh dalam satu malam." Pemuda itu menyeringai kecil. "Aneh kan, Iruka-nii?"

.

.

.

Tanpa sadar waktu berlalu sangat cepat dan tengah malam kurang dari 30 menit lagi. Haruno Sakura yang memiliki janji dengan orang yang mengaku guardian-nya pun bersiap. Tak lupa ia membawa pedangnya. Sebenarnya dia sudah bersiap sejak 1 jam yang lalu. Dia sudah berada di pinggir hutan. Menunggu waktu yang pas untuk memasuki hutan tersebut.

Rambut sepinggangnya ia ikat ekor kuda sedang pedangnya berada di pinggangnya. Tatapannya menuju ke langit malam yang terasa amat sepi. Tanpa bintang.

Ia menunduk sejenak, setelah memantapkan tujuannya, ia pun melangkahkan kakinya ke dalam hutan. Pakaian berwarna merahnya sedikit berkibar tertiup angin malam.

Malam ini. Apa yang akan terjadi?

.

.

.

Hutan itu tampak 10 kali lebih menakutkan ketika malam tiba. Apalagi ketika tengah malam. Suara hewan malam yang selalu menemani malam terdengar terus menerus. Namun, ada sedikit perbedaan daripada malam-malam sebelumnya, hutan itu sedikit lebih ramai. Sekumpulan orang tampak berkumpul di salah satu bagian hutan.

Pemimpin dari kelompok orang tersebut tampak sedang berdiri bersandar di salah satu pohon. Tengah malam masih beberapa menit lagi dan orang yang diundangnya belum muncul. Sembari menunggu, memorinya menyelam ke sebuah ingatan masa kecilnya bersama keluarga angkatnya.

Sensei, dulu kau pernah bilang. Takdirku sudah jadi hal mutlak dan sulit untuk diubah. Namun, kau juga mengatakan bahwa yang paling utama adalah apa yang aku pilih dan ku inginkan. Ketika aku memilih untuk mengikuti takdirku aku bertanya-tanya apa benar ini keinginanku? Minato-nii, seandainya kau masih hidup, aku ingin menanyakan hal itu padamu.

Apa pilihanku benar?

Menjadi seorang guardian bukanlah pilihan namun takdir, takdir yang mengikat ke beberapa orang terpilih untuk melindungi darah Hana Hime. Dan takdir menjadi seorang guardian memilih Kakashi. Kehidupannya pun berubah ketika tanda yang menandakan dirinya guardian muncul di tubuhnya.

Awalnya segalanya baik, hingga seseorang yang harus dilindunginya malah terancam. Dengan bantuan Ayah angkatnya, ia bisa menolong keselamatan bayi itu. Mereka tidak tahu Hana Hime masih hidup, keturunannya hidup dan Kakashi membuat mereka mengasuh musuh mereka sendiri.

Orang-orang bodoh.

"Kakashi-sama, dia telah datang." Ucapan salah satu anak buahnya membuyarkan semua lamunan masa lalunya.

"Baiklah." Kakashi berdiri tegap lalu melangkah maju ke arah dimana bayangan merah muda tampak di penglihatannya. "Selamat datang, Hime-sama."

"Kau—Kakashi?"

"Benar. Senang mengetahui kau memenuhi undangan kami."

"Dan kurasa kau hutang cerita padaku." Sakura menatap pria di hadapannya penuh selidik.

"Baiklah." Kakashi mengulurkan tangan kanannya ke depan. "Peganglah tanganku Hi-sama. Kita terhubung, karena itu aku bisa membagi ingatanku kepadamu. Hanya saja ingatan ini sedikit menyakitkan. Aku harap kau siap mengetahui kenyataan yang ada."

Sakura tampak ragu. Ia menatap tangan dan wajah Kakashi mencari kepastian.

Aku sedang memilih takdirku yang lain. Jalan yang sedikit berbeda. Sejak aku menginjakkan kakiku di hutan ini maka aku pun sudah siap dengan konsekuensi yang ada.

Dan takdir yang ku pilih nantinya.

Sakura pun menyambut tangan Kakashi setelah itu rasa pusing melandanya dan kegelapan menyambutnya.

.

.

.

Tubuh Sasuke merosot di depan pintu kamar Sakura. Tidak ada. Sakura tidak berada dimanapun. Argh! Sasuke ingin teriak, ia benar-benar khawatir. Hingga selarut ini kemanakah Sakura berada?

Sakura… Sakura…

Sakura… Dimanakah kau?

"Sasuke, kenapa kau berada disitu?" Sasuke menengadahkan kepalanya. Gaara berdiri di depannya.

"Gaara, apa kau melihat Sakura?" Sasuke bangun dan langsung menanyai Gaara.

"Sakura? Tidakkah dia berada di kamar?"

Sasuke menggeleng. "Aku sudah mencarinya tiga jam ini dan dia tidak terlihat dimanapun di istana. Ketika aku kembali lagi ke kamarnya dia masih tak ada."

"Jangan bercanda Sasuke," geram Gaara. Ia mendorong Sasuke minggir. Ia membuka pintu kamar Sakura dan—kosong. Tidak ada siapapun di dalamnya.

"Ah, sial! Dimana gadis itu?!" Gaara mengitari seluruh ruangan berharap Sakura tiba-tiba terlihat. "Sakura!" Nihil. Tidak ada siapapun di kamar. Ia segera berbalik lalu keluar kamar.

"Hei, kau mau kemana?" Sasuke yang sudah tampak putus asa bertanya ke Gaara yang berlari melewatinya begitu saja.

"Tentu mencari Sakura, bodoh!"

"Tapi aku sudah mencarinya dan dia tak ada Gaara!"

"Gunakan otak Uchiha-mu, sialan! Jika dia tak berada di istana maka dia ada di luar. Dan tidakkah kau berpikir Sakura akan melakukan hal-hal nekat di luar sana? Daripada berdiam diri aku akan mencarinya! Terserah denganmu." Dan Gaara pun pergi meninggalkan Sasuke yang masih terdiam.

"Tch! Sial!" Langkah Sasuke mengikuti langkah Gaara yang sudah berlari di depannya.

.

.

.

Tubuhnya terasa ringan sekali. Ia seperti melayang terbang. Ketika dirinya membuka mata yang dilihatnya pertama kali adalah warna putih dimanapun ia melihat. Apa ini? Namun, tak lama kemudian warna putih itu mulai tercipta warna-warna lain. Sebuah kastil yang dikelilingi sungai menjadi satu hal yang dilihatnya pertama kali di tempat—ah, apapun namanya ini.

"Bagaimana? Apa sudah ada kabar?"

Ia segera berbalik, dua orang yang tidak jauh berada di kastil tampak sedang mengobrol.

"Aku belum mendapatkan informasi penuhnya tapi mereka sudah menyiapkan pasukan untuk menyerang. Menurut informan kita yang berada disana, ada sekitar 1000 orang dalam waktu yang sama pergi ke istana itu." Seorang pria dengan rokok di sudut bibirnya mengatakan ke pria di hadapannya. "Lebih lengkapnya, kau bisa menyerahkan dokumen ini ke Hime-sama."

"Baik, akan segera ku serahkan. Kau akan kembali ke Hyuuga lagi?"

"Ya, aku memang benci tempat itu tapi istriku berada disana, aku tak mungkin meninggalkannya. Selain itu Hyuuga mengganggapku sekutu mereka. Hah, lelucon macam apa ini?"

"Semoga kau selalu dilindungi oleh-Nya, Asuma."

"Terimakasih Genma. Kau juga."

Sakura tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Penyerangan apa? Ia berbalik dan saat itu matanya menangkap seorang pemuda dengan rambut keperakan. Eh, Kakashi kah? Tapi dia tampak masih sangat muda sekali. Dan di sampingnya seorang pria dengan rambut kuning menemaninya.

"Ah, Namikaze-sama!" Pria yang tadi dipanggil Genma oleh seseorang yang bernama Asuma menoleh. "Anda datang? Sendirian?"

"Ya, aku hanya bersama Kakashi." Pria yang dipanggil Minato menepuk bahu Kakashi.

"Anak ini—"

"Hm, dialah guardian yang aku maksudkan tempo lalu."

"Dia masih sangat muda." Gantian pria bernama Asuma yang menatap Kakashi.

"Dia sangat berbakat. Jangan remehkan dia atau kalian akan dirawat di rumah sakit." Minato tertawa lalu berhadapan dengan Kakashi. "Nah, Kakashi, selamat datang di rumah barumu."

Tiba-tiba orang-orang di hadapan Sakura buyar dan muncul orang-orang lain di tempat yang berbeda dari sebelumnya. Perlahan, Sakura mulai sadar dimana kini dirinya berada. Ia berada di ingatan Kakashi.

Sedang dirinya kini berada di sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar tapi sangat megah. Di ruangan terdapat 4 orang, satu wanita di kasur, 2 pria di samping kasur dan satu lagi pemuda berambut perak.

Sakura mengenal dua orang itu, Kakashi dan pria bernama Minato. Sedangkan wanita di kasur dan pria berambut merah muda itu tak dikenalnya.

"Bayi ini akan terlahir beberapa minggu lagi. Jika dia perempuan maka dia akan menjadi Hana Hime selanjutnya. Menggantikanku." Ah, ternyata wanita itu sedang mengandung.

"Bayi ini tetap dirahasiakan, bukan?" tanya Minato.

"Ya, bayi ini akan dirahasiakan hingga kelahirannya. Atau mungkin hingga dia dewasa nanti. Bagaimana rupanya ya?" Wanita itu mengelus perutnya.

"Pasti cantik seperti kau, Mebuki." Pria berambut merah muda itu mengelus kepala wanita itu.

"Dan tampan seperti kau jika dia laki-laki. Ah, aku berharap dia laki-laki."

"Sakura."

"Eh?" Semua mata memandang Kakashi yang tiba-tiba bersuara.

"Dia akan secantik bunga sakura. Dia akan seharum musim semi. Aku merasakannya," ucap Kakashi sembari memandang perut wanita itu. "Dia akan menjadi takdir yang berbeda."

"Wah, hebat! Dia guardian muda berbakat. Aku yakin kalau anakku perempuan akan cocok untukmu, Kakashi-kun."

Wajah Kakashi tampak memerah.

"Nah, itu kan memang salah satu takdirnya sebagai guardian. Menikahinya."

Gambar menjadi kabur kembali dan berubah ke tempat—apa ini? Kenapa sangat berantakan?

"Lindungi dia, Kakashi! Bawa dia menjauh dari sini!" Kakashi yang berada tak jauh dari wanita bernama Mebuki itu terdiam "Cepat! Jika kau mati maka dia akan terancam. Lindungi dia karena itu tugasmu!"

"B-baik!" Kakashi berlari menjauhi Mebuki. Ia berlari ke sebuah ruangan. Tapi seorang pria menghadangnya.

Tanpa berpikir panjang Kakashi langsung menarik pedang dari sarungnya dan bersiap menebas pria di depannya. Kemudian adu pedang antara pria itu dengan Kakashi terjadi.

"Hyaaa!"

TRANG! Kakashi menghindari pedang lawannya dengan melompat ke kiri kemudian ia maju ke depan dan lawannya tidak sehebat perkiraannya. Pedangnya menusuk tepat ke jantung lawannya. Pria itu rubuh seketika.

Sakura memandang sekelilingnya, banyak tubuh tergeletak di lantai tempat itu. Apa-apaan ini?

Setelah itu ia mengikuti Kakashi yang masuk ke sebuah ruangan yang tampaknya ruang makan. Kakashi berjalan ke balik pintu yang berada di sekat dinding antara kursi-kursi dan meja panjang. Ia terus mengikuti Kakashi hingga sampai ke ruangan dimana pintu itu menuju.

Sakura mendekati Kakashi yang berdiri di samping ranjang kecil. Tangan Kakashi mengangkat bayi yang berada di dalam ranjang tersebut.

"Hime-sama, maaf, aku harus membawamu pergi dari sini. Ini untuk keselamatanmu." Kakashi mengelus rambut tipis bayi tersebut.

Sakura maju mendekati Kakashi dan bayi di gendongannya. Aku seperti pernah melihat bayi tersebut. Pikir Sakura. B-bayi itu, bukankah… Aku?

.

.

.

TBC


A/N: Semoga chap ini tidak membingungkan karena banyak ingatan ini-itu. Oh ya, tentang memori itu kalian ngerti kan gimana cara kerjanya. Ya gitulah seperti yang kalian baca. Gomen ne kalau membingungkan. Dan sedikit PENGUMUMAN, karena UAS akan diselenggarakan hari Senin besok, maka aku akan hiatus. Selama liburan juga kurasa bakal sulit untuk update story soalnya aku nggak ada di rumah. Dan satu pengumuman lagi, salah satu fic MC-ku akan aku hapus dan satunya aku discountinued. Yang mana? Kalian bisa lihat di profilku. Aku cuma pengin fokus ke fic ini dulu baru update ke fic-fic lain. ^^

Special thanks to my beloved reviewer:: Haru Devil Raven: Hinata mati? Itu terlalu jahat bahkan untuk memunculkan karakternya disini aku nggak tega. / sofi as : Hyuuga mati? Ah, gimana ya? Ditunggu saja ya... / Luca Marvell: Punya gambaran siapa yang sebenarnya membunuh Minato? / Akiko Rin: Sayangnya Sasuke nggak tahu kalau yang bunuh keluarganya adalah Hyuuga. Aku nggak ada niatan bikin NaruHina disini hehe… Dan aku juga belum bisa dapetin feel untuk karakter Hinata. / hanazono yuri: Maaf, belum bisa update kilat. / febri feven: Ini (nyodorin tisu). Jangan sedih ya, nggak lama lagi selesai kok sedih-sedihnya :D / : Sudah / artha: Sebentar lagi usai lho sedih-sedihnya. / angodess: Aku nggak akan bikin Sakura menderita kepanjangan kok. Eh, sampai nangis? / Guest: Sudah. / Guest (2): Walaupun dua orang itu udah bertunangan, aku nggak pernah bisa munculin karakter Hinata jadi nggak usah stress karena—mungkin tidak akan ada SH disini. / aika chan: Baik, ditunggu chap selanjutnya, oke? / Nuria Agazta: Sudah. / Uchiha Cherry Rania17: Silakan. / Iqma96: Ditunggu chap selanjutnya ya… Aku Insya Allah nyatuin mereka. Hm… Ya tunggu saja.

Dan terimakasih juga yang sudah bersedia membaca (silent readers) tanpa jejak kalian, aku tetap ucapkan terimakasih. Jaa ne…