Konichiwa! Saya kembali lagi dengan FF gaje ini. Ini adalah bab duanya! Semoga readers menyukai FF ini!
HAPPY READING!
FALLING BUTTERFLY
"Berarti kasus ini memang aneh. Mana mungkin seekor Kupu-kupu bisa membunuh manusia? Kalaupun ada, kenapa yang dibunuh adalah seorang lansia seperti itu?" ujar Kogoro penasaran.
"Apa mungkin itu adalah Kupu-kupu jelmaan hantu yang dendam pada penduduk desa di masa lalu?" tebak Kazuha asal, keringat dingin masih membanjiri wajahnya.
"Aku yakin bukan." Sahut Kurenai. "Kalau benar begitu, seharusnya Ayahku yang melihat Kupu-kupu itu juga akan terbunuh kan? Saat itu usianya juga sudah sekitar 55 tahunan. Sama dengan pria tua yang terbunuh sepuluh tahun yang lalu itu."
"Tapi menurutku pasti berhubungan dengan masa lalu penduduk desa ini." Heiji tiba-tiba angkat bicara. Ia lalu memandang tajam ke arah Shinichi yang balas memandangnya bingung. "Dan mungkin saja itu ada hubungannya denganmu. iya kan, Kudo?"
"APA?" Kogoro, Ran dan Kazuha berteriak bersamaan. Kurenai memandang penuh tanya pada Heiji dan Shinichi hanya terdiam memandang Heiji. Sikap yang cukup untuk membuat Heiji semakin gencar menginterogasinya.
"Kenapa kau diam? Kau memang tahu sesuatu tentang kasus ini kan? Atau tepatnya, kau tahu sesuatu tentang Kupu-kupu biru itu?"
Shinichi menunduk. Dia mengalihkan pandangannya. Sesaat kemudian dia menghela nafas berat. Terpaksa dia harus menceritakan kenangan mengerikannya itu. "Mungkin kau ada benarnya. Aku memang tahu sesuatu tentang Kupu-kupu Biru itu."
"Eeeehh?" Ran dan Kazuha serentak memekik kaget. "kenapa kamu tidak cerita dari tadi? Mungkin saja ceritamu itu bisa membantu untuk memecahkan kasus ini kan?" tanya Ran.
"Kurasa kau juga akan melakukan hal yang sama kalau jadi aku. Karena kejadian yang kualami itu benar-benar membuatku sedikit paranoid." Sahut Shinichi datar.
"Jadi , kejadian itulah penyebab kamu pingsan di jembatan tua itu dan alasan kamu jadi pendiam setelahnya sepuluh tahun yang lalu?" Tanya Kurenai.
Shinichi mengangguk lemah. "Ya. Sepuluh tahun yang lalu, saat itu..."
FLASHBACK
Sore hari di musim gugur, Yukiko dan Shinichi sudah tiba di desa Aokiira dengan mobil Jaguar silver Yukiko. Udara sejuk dan angin sepoi-sepoi menerpa seolah menyambut kedatangan mereka. Yukiko berjalan pelan menyusuri desa, bersama Shinichi yang mengekor dibelakangnya. Shinichi sedikit merapatkan jaket hitamnya sembari memandang sekitar. Masih sedikit ramai namun tetap terkesan sepi.
"Yukiko!" Shinichi menoleh mendengar nama ibunya disebut. Dia sedikit mendongak memandang Kurenai yang tertawa pelan dan berbincang sedikit dengan Yukiko. Tiba-tiba, kurenai memandangnya dan sedikit membungkuk untuk menatapnya.
"Wah, apa anak ini putramu?" tanya Kurenai, dengan Seulas senyum takjub.
"Benar sekali! Dia mirip dengan Yusaku kan?" jawab Yukiko bangga.
"Ya, memang mirip. Yasudah, Ayo kita berbincang-bincang di rumahku saja"
Shinichi memnghela nafas panjang. Dia yakin kalau dia pasti akan bosan dengan pembicaraan kedua wanita cantik itu nanti. Tanpa sengaja, manik mata biru lautnya melihat sebuah jembatan tua yang cukup dekat dengan hutan –atau malahan mengarah kesana-
"Shin-chan? Ada apa? Ayo cepat kita ke rumah Bibi Kurenai sekarang." Ajak Yukiko, dia memandang heran dengan sebelah alis yang terangkat.
"Ehm, Ibu, aku ingin jalan-jalan sebentar." Pamit Shinichi. Ia langsung berlari menjauh dari Yukiko dan Kurenai.
"Eh? Tunggu! Shin-chan!" panggil Yukiko.
"Sudah, biarkan saja. Di desa kecil seperti ini dia tak mungkin tersesat." Kata Kurenai menenangkan.
Tepat di depan jembatan tua itu, Shinichi berhenti berlari dan memandang penuh tanya. Tanpa ragu, ia berjalan pelan menyusuri jembatan tua itu. Jembatan tua itu sudah banyak berkarat. Shinichi memandang kiri-kanannya. Kosong. Hanya ada aliran sungai yang mengalir deras disana. Angin berhembus perlahan dan menerpa surai kecoklatannya, juga menerpa pepohonan hutan rimbun yang hanya tinggal beberapa langkah lagi bisa ia masuki dan ia jelajahi. Sudah sifat alaminya untuk berani berjelajah seorang diri.
Di dalam hutan, Shinichi melihat sekelilingnya yang gelap, sunyi dan terkesan seram. Dia masuk lebih ke dalam lagi, tanpa sadar kalau ia sudah terlalu jauh masuk ke dalam. Samar-samar, ia melihat ada seorang pemuda yang berdiri tegak ke arahnya. Rambut hitamnya menutupi wajahnya, tapi Shinchi yakin kalau pemuda itu sedang memandangnya.
Shinichi spontan memanggil orang itu. "Aah, heei!"
Bukannya menjawab, pemuda itu justru berjalan pelan menjauhi Shinichi. Penasaran, Shinichi mengikuti pemuda itu, seraya memanggil-manggil dan berlari secepatnya.
Setengah jam Shinichi berlari membuntuti pemuda itu, tapi ia masih belum bisa menyamai langkah pemuda misterius itu. Tiba-tiba, kakinya terpeleset dan ia pun terperosok jatuh menyusuri rawa berbatu. Seluruh tubuhnya terluka. "Aakhh... sakit..."
"Ternyata... kau sama... denganku.." ucap seseorang lirih.
Shinichi mendongak. Dia melihat sosok pemuda yang terus dikejarnya itu. Pemuda itu menyeringai. Tiba-tiba, bagian-bagian tubuhnya berubah menjadi ratusan Kupu-kupu biru. Kupu-kupu biru itu berterbangan mengelilingi Shinichi. Shinichi hanya bisa mendongak dan menatap ngeri Kupu-kupu itu. Sekejap kemudian, sebuah tangan yang setengah membusuk mencengkeram kuat leher Shinichi. Tangan itu mengangkat tinggi-tinggi Shinichi dan Shinichi melihat jelas sosok pemuda itu. Setengah wajahnya rusak dan setengahnya lagi menyerupai kepala Kupu-kupu. Shinichi terbelalak memandang wajah menakutkan itu. Ia hanya bisa meronta-ronta dan memekik tertahan. "To, tolong... Le, le, lepaskan..."
"TUKAR..." tiba-tiba, pemuda itu berucap. Ia melepaskan cengkeramannya dan membuat tubuh Shinichi jatuh ke tanah rawa. Shinichi terbatuk-batuk pelan seraya merintih kesakitan karena luka-luka ditubuhnya.
"TUKAR..." kedua kalinya, pemuda itu berucap. Shinichi mendongak dan melihat sosok pemuda itu berubah menjadi seekor Kupu-kupu biru, dengan bercak-bercak merah di sekitar sayapnya. "A, apa yang... ingin kau tukar?" tanya Shinichi lirih, sambil memegangi lengan kanannya yang cedera.
"KAU... BERTUKAR TEMPATLAH DENGANKU... TUKAAARR!" Kupu-kupu itu menjawab, dengan suara jeritan yang mengerikan.
Tiba-tiba, ratusan Kupu-kupu menerjang Shinichi. Mereka terus menerjang dan membuat luka-luka lecet dan membuyarkan pandangan Shinichi. Shinichi hanya bisa menyilangkan telapak tangannya ke depan wajahnya, berusaha melindungi dirinya dari terjangan ratusan Kupu-kupu itu. Begitu Kupu-kupu itu berhenti menerjangnya, tiba-tiba tubuh Shinichi melayang-layang di atas jurang yang dalam dan ia pun akhirnya jatuh ke dalamnnya. "AAAAAAKKHHH!"''
BRUUK!
Shinichi membuka sebelah matanya, ketika merasa sesuatu membawanya melayang di udara. Dia terbelalak kaget, begitu melihat seekor Kupu-kupu biru raksasa dengan bercak-bercak merah yang menopang tubuhnya. Kupu-kupu yang sama yang nyaris merenggut nyawanya. Kupu-kupu itu melesat terbang di udara dan menjatuhkan Shinichi di sebuah hulu sungai yang dekat dengan air terjun.
"Bhuahh!" nafas Shinichi memburu setelah ia susah payah harus naik ke permukaan. Dia mendongak memandang Kupu-kupu yang terbang berputar-putar diatasnya.
"Hei! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" bentak Shinichi akhirnya.
"TUKAR..."
"Haah?"
"SUATU SAAT NANTI, KAU HARUS BERTUKAR TEMPAT DENGANKU... KAU... BERTUKAR TEMPATLAH DENGANKU! TUKAAARRR!"
Mendadak, Kupu-kupu raksasa itu melesat turun menerjang Shinichi. Di hulu sungai, Shinichi tak bisa berbuat apapun selain berteriak kencang. "AAAAKKHH!"
"SHIN-CHAN! SADARLAH! SHINICHI!"
Mendengar panggilan ibunya, Shinichi sontak membuka kelopak matanya. Dia terbaring di atas jembatan tua, dikelilingi oleh beberapa warga desa, termasuk Kurenai. Pandangaannya lalu jatuh ke wajah cantik Yukiko yang nyaris saja menitikan air mata.
"Ibu..." panggilnya lirih.
Tanpa babibu lagi, Yukiko langsung memeluk putranya dan terus-terusan menyebutkan namanya. "Shinichi... syukurlah..."
Shinichi tersenyum lemah. Tiba-tiba matanya terpejam. Ia lelah karena mimpinya yang mengerikan itu. Ia juga lelah karena ketakutannya itu. Dia benar-benar lelah...
"Kudo, kurasa aku mengerti kenapa kau jadi sedikit paranoid setelah mengalami mimpi yang jelas-jelas mengerikan begitu." Celetuk Heiji pelan. Diiringi dengan pekikan kencang dari Ran dan Kazuha yang kaget dan ketakutan setengah mati.
Shinichi hanya tersenyum getir. "Yah, itu memang kejadian yang menakutkan bagiku. Padahal hanya mimpi, tapi kejadian itu terasa nyata kualami."
"Dari ceritamu tadi, sosok pemuda misterius itu sebenarnya adalah Kupu-kupu kan? Lalu bagaimana bisa kepala pemuda itu juga bisa jadi seperti kepala manusia yang setengahnya kepala Kupu-kupu waktu dia mencekikmu?" tanya Kogoro.
"Mungkinkah pemuda itu..." Kurenai tiba-tiba bergumam. Matanya menyiratkan rasa cemas dan takut yang besar. Wajah cantiknya pun tiba-tiba memucat.
"Mu, mungkin apa, Bibi?" tanya Ran takut-takut.
"Apa jangan-jangan pemuda itu adalah siluman Kupu-kupu?" tebak Kazuha asal, wajahnya memucat.
Kurenai menggeleng. Keringat dingin mengucur deras diwajahnya. "Bukan, bukan itu maksudku. Mungkinkah legenda lama desa ini benar adanya? "
"Legenda lama?" Heiji membeo. "Legenda lama apa yang anda maksud?"
"..." Kurenai terdiam. Dia menunduk dengan ekspresi takut yang besar. Pertanda kalau dia yakin kalau legenda lama desa Aokiira itu benar adanya.
"Nona Kurenai? Anda tahu sesuatu?" ganti Kogoro yang bertanya.
Heiji, Ran dan Kazuha memandang Kurenai bingung, berbeda dengan Shinichi yang justru memadang Kurenai tanpa ekspresi. Dia lalu menghela nafas pelan.
"Tak apa. Biar aku saja yang jelaskan." Ucap Shinichi pelan.
Kurenai mendongak, sebelah alisnya terangkat. "Kamu tahu legenda lama itu, Shinichi-kun?"
Shinichi mengangguk. "Ya, aku tahu."
"Tapi, bagaimana kamu bisa tahu? Yukiko saja tidak kuberitahu tentang legenda itu,"
"Aku tahu. Aku tahu dari cerita seorang Pendeta wanita di Kuil di dekat rumah Bibi waktu aku mampir untuk sekedar jalan-jalan disana."
"Oh. Bibi Ruri yang memberitahumu, ya."
"Jadi," Heiji menyela. "Legenda lama itu tentang apa?"
"Cuma tentang ritual kuno setiap yang selalu mengorbankan pemuda berusia 17 tahun demi keamanan desa saat zaman Hideyoshi Hashiba." Jawab Shinichi. "Dulu, ada seorang pemuda seumuran kita yang menentang ritual itu. Dia kabur dari desa dan dikejar-kejar oleh warga desa sampai ke dalam hutan. Tiba-tiba, dia terperosok jatuh ke jurang dan penduduk desa pun membawanya kembali ke desa."
"La, lalu apa yang terjadi? Da, da, dan apa hubungannya dengan siluman kupu-kupu yang kau ceritakan tadi?" tanya Kazuha was-was.
"Setelah itu, pemuda itu dibakar hidup-hidup. Abunya pun ditaburkan di atas padang bunga dari atas tebing didekatnya. Memang tidak masuk akal, tapi mereka percaya kalau mereka melakukannya tiap sepuluh tahun sekali maka mereka akan mendapat perlindungan dari roh Kupu-kupu yang bangkit dari abu pemuda itu." Jelas Shinichi.
"Apaa?" pekik Ran dan Kazuha kaget.
"Oh, kalau begitu kasus ini jadi terasa mistis. Bisa jadi kalau Kupu-kupu itu adalah pemuda yang ada dalam legenda lama itu dan pemuda yang sama yang muncul dari mimpi bocah detektif ini." Celetuk Kogoro yakin.
"Ter, ternyata pelakunya adalah hantu pemuda itu! Di, dia pasti dendam pada penduduk desa, makanya dia membunuh pria tua itu!" sahut Ran ketakutan.
"Eeeehh?" pekik Kazuha menimpali.
"Kurasa begitu." Shinichi tiba-tiba berkata. "Tapi, mungkin bukan hanya karena dia dendam. Mungkin juga karena dia... menginginkanku."
"A, APAA?"
Konichiwa! arigatou gosaimazu bagi para readers yang membaca ff ini! sebenarnya Author mendapat cerita ini terinspirasi dari game FATAL FRAME lho! nah, mohon menunggu upnya chapter 2 yaa!
jaa na~
