Konichiwa! Saya kembali lagi dengan FF gaje ini. Ini adalah bab ketiganya! Semoga readers menyukai FF ini!
HAPPY READING!
FALLING BUTTERFLY
"Ku, Kudo, apa maksudmu kalau makhluk itu sebenarnya menginginkanmu?" tanya Heiji, dia mulai merasa was-was.
"Ja, jangan-jangan..." Kurenai tiba-tiba bergumam, ekspresinya berubah pucat pasi dan tubuhnya bergetar karena takut. "Jangan-jangan, Roh itu sudah menentukan penggantinya? Tidak, tidak. TIDAK MUNGKIN!"
"Bi, bibi, a, apa maksudmu? A, apa hubungannya dengan Shinichi?" tanya Ran takut.
"Apa mungkin yang anda maksud..."
"Biar aku saja yang memperjelas maksudnya, Hattori." Potong Shinichi. "Yang Bibi Kurenai maksud tentang 'pengganti' itu adalah... AKU."
"HAAAHH?" teriak Ran, Kazuha dan Kogoro bebarengan. "A, apa maksudmu... Shinichi?" tanya Ran.
Shinichi terdiam. Ia menunduk dan memasang wajah cemas. Kurenai hanya memandangnya iba. Ia pun melanjutkan penjelasan Shinichi. "Tadi Shinichi-kun sudah cerita kan, kalau makhluk itu ingin Shinichi-kun bertukar tempat dengannya? Sebenarnya, maksud dari 'bertukar tempat' itu adalah 'pengganti' dalam legenda lama itu."
"Ja, jadi maksudnya... Kudo-kun akan menjadi pengganti makhluk itu? Itu artinya, Kudo-kun akan..." Kazuha tidak melanjutkan ucapannya, ia terlalu takut.
"Kalian pasti bisa menebaknya kan?" ujar Kurenai sedih. "Dalam legenda lama, Roh Kupu-kupu bisa bebas dan pergi ke alam sana. Namun, ia harus mencari penggantinya untuk menggantikan posisinya. Ia bisa menunjuk siapa saja untuk menjadi penggantinya, asalkan orang itu adalah seorang yang usianya belum genap 17 tahun dan orang itu tidak tahu apapun tentangnya. Dan saat itu, Shinichi-kun belum berusia 17 tahun dan tentu dia belum tahu apapun tentang legenda lama itu. Sudah sesuai dengan syaratnya, kan?"
"Salah besar." Heiji tiba-tiba angkat bicara, terlihat penyesalan yang besar diwajahnya. "Salah besar aku mengajak Kudo kemari, Salah besar aku belum bertanya tentang legenda itu, DAN SALAH BESAR AKU TIDAK TAHU SOAL ITU!" jeritnya penuh amarah, amarah yang muncul karena marah pada dirinya sendiri.
"Tidak. Itu bukan salahmu." Ucap Shinichi tiba-tiba. "Aku bisa saja menolaknya. Tapi, aku memang harus membongkar sesuatu tentang tempat ini."
"Membongkar sesuatu?" Kazuha membeo. "Memangnya, ada sebuah rahasia tersembunyi disini?"
"Ya. Sebenarnya, aku penasaran tentang jembatan tua itu, juga tentang padang bunga yang ada dalam legenda itu. Karena Bibi Ruri pernah bilang, kalau ada seseorang yang berhasil membongkar rahasia besar disana, maka kebebasan dan ketenangan yang pernah ada di desa ini akan kembali dimiliki oleh desa ini."
"Berarti, kau tetap akan melakukannya demi desa ini walaupun sekarang makhluk itu sekarang sedang mengincarmu?" tanya Kogoro.
"Ya." Shinichi memalingkan pandangannya keluar jendela tepat disampingnya. Suasana luar masih terasa suram. Suram karena desa itu memang terbelenggu oleh Roh Kupu-kupu itu. Tiba-tiba, ingatannya melayang pada Bibi Ruri dan janjinya pada Pendeta wanita itu. Impianmu pasti akan kuwujudkan, aku janji.
FLASHBACK
Pagi-pagi sekali, tepat sehari setelah kejadian yang sukses membuatnya ketakutan setengah mati itu, Shinichi berjalan pelan disekitar desa. Suasana yang sejuk dan segar dari pepohonan disana membuatnya merasa sedikit tenang. Pandangannya terhenti ke arah sebuah Kuil kecil ketika mendengar suara dentingan lonceng. Disana, seorang wanita manis setengah baya yang terlihat seperti seorang Pendeta sedang membersihkan halaman Kuil. Pandangan wanita itu tiba-tiba mengarah pada Shinichi. Dengan seulas senyum, Pendeta itu mengayunkan tangannya memanggil Shinichi. Shinichi menunjuk dirinya dan wanita itu mengangguk. Shinichi mengikuti wanita itu menuju ke Kuil. Mereka duduk di depan Kuil dan wanita itupun mulai bicara. "Kamu baik-baik saja, nak?"
"Eh? Maksud anda?" tanya Shinichi balik, dengan dahi berkerut.
"Aku dengar dari beberapa orang kalau kamu pingsan di jembatan tua itu. Jadi kupikir kamu bertemu dengannya."
"Bertemu dengan siapa maksud anda?"
"Pemuda misterius yang sebenarnya adalah makhluk jelmaan Kupu-kupu."
Seketika itu juga, rasa takut kembali muncul dibenak Shinichi. Ragu-ragu dan penuh keringat dingin, dia mengangguk. "A, aku memang bertemu dengannya."
"Apa dia telah memilihmu? Memilih sebagai penggantinya? Memilih untuk bertukar tempat dengannya?"
Shinichi mengangguk lagi. Wanita itu membekap mulutnya, tidak percaya dengan nasib buruk yang telah menimpa Shinichi. "Malang sekali nasibmu, nak!" pekiknya cemas.
"Nasib buruk?" Shinichi membeo, dengan memasang wajah bingung polosnya.
Wanita itu diam. Wajahnya masih terlihat cemas dan takut, tapi ia pun akhirnya mengeluarkan seulas senyum lembut dan menggeleng. "Sudahlah. Jangan terlalu memikirkan ucapanku yang tadi."
Shinici masih mengernyit heran. Wanita itu mendongak, memandang langit biru dengan kumpulan awan yang bergerak pelan. "Ketenangan, kebebasan dan kebahagiaan sudah hilang dari desa ini. Desa yang dulu penuh tawa, sekarang penuh dengan ketakutan, desa yang awalnya penuh kebahagiaan dan ketenangan sekarang berubah suram dan mengerikan. Semuanya sudah direnggut oleh Roh itu. Semuanya mungkin akan kembali seperti semula jika rahasia tentang 'itu' terbongkar."
"Rahasia tentang itu?" Shinichi membeo, dengan wajah polosnya. "Rahasia apa yang Bibi bicarakan tadi?"
Wanita itu tersenyum lembut. Ia memandang dalam Shinichi dan mengelus pelan rambut kecoklatannya. "Ada sebuah legenda lama di desa ini. Konon, ada sebuah padang bunga yang ada di dekat desa ini yang selalu dipakai utuk sebuah ritual yang menyeramkan. Dan di dekat sini juga ada sebuah jembatan tua yang aneh kan? Menurut legenda, siapapun yang berhasil menguak misteri dan rahasia besar disana, maka ketenangan dan kebebasan desa ini akan kembali."
"Kalau Bibi tahu, kenapa tidak Bibi sendiri saja yang membongkar rahasia itu?" tanya Shinichi.
"Aku tidak bisa melakukan itu, nak. Mungkin tepatnya, aku tidak mampu." Jawab wanita itu lirih. "Meski begitu, aku tetap berharap ada seseorang yang bisa membongkarnya. Malahan, aku bermimpi kalau desa ini suatu saat harus kembali damai. Tapi kurasa, itu hanyalah impian belaka yang tak mungkin bisa terwujud."
"Siapa bilang? Impian Bibi pasti akan terwujud, kok." Sanggah Shinichi, sambil memasang senyum polos. "Pasti akan ada seseorang yang bisa mewujudkan impian Bibi. Malah kalau bisa, aku ingin menjadi orang yang mewujudkan impian Bibi. Makanya..."
Jari kelingking kecil Shinichi terulur ke arah wanita itu. Masih dengan sebuah senyum, Shinichi berucap "Kalau aku punya kesempatan untuk kemari, aku akan datang dan mengungkap rahasia itu, aku janji pada Bibi."
Wanita itu hanya bungkam. Baru sekali dia melihat seorang anak kecil yang punya keberanian dan tekad yang kuat. Dengan sebulir air mata di pelupuk matanya, ia mengangguk. "Baiklah. Akan kupegang janjimu."
Dan kedua jari kelingking yang berbeda pemilik itu akhirnya saling mengaitkan.
"Oh ya, apa kamu mau dengar cerita tentang legenda lama itu?" tanya wanita itu.
Mengingat janjinya itu, Shinichi tersenyum getir. Di satu sisi nyawanya terancam, dan di sisi lain dia sudah berjanji. Dan pada akhirnya, dia lebih memilih menepati janjinya. Karena janji baginya adalah hutang seumur hidupnya.
"Kudo," tiba-tiba, Heiji memanggil, nada suaranya lirih tapi mengandung sebuah rasa kesetiakawanan. "Aku memang tidak tahu apapun soal rahasia besar itu. Tapi, aku akan membantumu. Yah, walaupun aku tahu sih 'sesuatu' apa yang akan menunggu kita nanti."
"Eh? Ta, ta, tapi, Hattori,"
"Tenang saja, Kudo. Kita akan hadapi ini bersama, jadi kau tidak perlu sungkan. Apalagi kau kan sahabat baikku, jadi tidak masalahkan?" ujar Heiji ringan. Ringan tapi punya artian yang mendalam bagi Shinichi.
Mendengar ucapan Heiji, sebuah senyum merekah diwajah Shinichi. Shinichi menghela nafas panjang dan akhirnya dia mengangguk. "Haah, apa boleh buat. Terserahlah."
Kurenai mendongak, melihat Heiji yang bersorak girang dan merangkul Shinichi yang kesal dengan ulahnya dengan tatapan takjub. Dia teringat dengan seseorang yang dulu pernah disukainya. Orang yang telah menjadi pasangan hidup Yukiko. Kudo Yusaku, ayah Shinichi.
Muncul sebuah senyum lembut dengan diiringi rona merah dipipi Kurenai. Dia memandang penuh pada Shinichi. Seperti kata Yukiko, Shinichi-kun memang mirip Yusaku. Mereka berdua benar-benar mirip. Sangat mirip.
"Wow, jadi inilah jembatan tuanya? Memang cocok menjadi tempat yang punya sejarah kelam." Cerocos Heiji takjub –malahan Heiji sampai bergidik ngeri- melihat jembatan tua yang sudah semakin berkarat, yang malahan akan bisa roboh sewaktu-waktu.
Kurenai hanya tertawa kecil melihat wajah takut Heiji yang kesannya lucu. "Sudahlah, jembatan ini memang mengerikan. Tapi jembatan ini kan yang menjadi penghubung dengan hutan itu. Jadi, jangan mengeluh."
Heiji melengos. Ya, dia memang mengakui kalau ucapan Kurenai memang benar adanya. Sedangkan Shinichi memandang datar Heiji. Hattori saja sudah begini, apalagi Ran dan Kazuha? Mereka pasti akan membuat repot di dalam. Untung si Paman sudah membawa mereka pulang. Batinnya datar.
Shinichi lalu mengalihkan pandangannya ke arah jembatan tua yang sekarang ada di hadapannya. Potongan-potongan kenangannya kembali terngiang dikepalanya, membuat tubuhnya sedikit bergemetar dan berkeringat dingin.
"Tidak apa" Shinichi menoleh, mendengar Kurenai tiba-tiba berkata. "Kebaikan dan kebenaran pasti akan selalu menang. Percayalah." Dan ucapan Kurenai tadi membuat Shinichi teringat seseorang. Teringat dengan Ayahnya yang selalu teguh pendirian menjaga prinsipnya itu.
Lho? Kata-kata Bibi Kurenai barusan bukannya itu...
"OOOOOIIII! Mau berdiri sampai kapan kalian disana? Ayo cepat jalan!" teriak Heiji keras.
Shinichi dan Kurenai mengiyakan dan segera berjalan menyusul Heiji yang sudah berada di atas jembatan. Shinichi melirik Kurenai yang memasang wajah cerah dan berona merah. Sebelah alis Shinichi pun terangkat. Lho? Kenapa Bibi Kurenai berekspresi seperti itu? Apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan sekarang?
Aaahh! chapter ini akhirnya selesai juga, hoho. Arigatou bagi kalian yang sudah meluangkan waktu dan mereview FF gaje ini, hehe.
sekedar pertanyaan sederhana, menurut kalian siapa yang harus 'dikorbankan?' Heiji atau Kurenai? demi kelangsungan FF ini, tolong dijawab ya!
gomenasai jika nanti ending FF ini sedikit 'sad' hoho! jaa na!
