chapter 1.

.

"Hei, jangan bersedih seperti itu..."

"Hyung akan pergi? Kemana?"

"Hanya sehari, sayang. Tidak apa, kan?"

"Aku mau ikut!"

"Jangan, sayang. Bahaya"

"Kalau bahaya kenapa Hyung tetap pergi?!"

"Karna... sesuatu yang mungkin tidak akan kamu mengerti sayang"

"Hajimaaaaa"

"Hei, baby. Jangan menangis.."

"Hyung akan pergi..."

"Anak laki laki mana boleh menangis, heum?"

"Hyung akan pergi... jangan tinggalkan aku..."

"Hyung hanya akan pergi selama sehari, sayang"

"Hyuuuungggg~"

"Kenapa, sayang?"

"Jangan pergi... atau aku ikut!"

"Jangan. Kamu di rumah saja, oke? Besok hyung kembali lagi, sayang. Jaga diri baik baik, oke? Hyung pergi~"

"Hyuuuungggg~~"

"Hyung...sedang apa kau dengan laki laki bertubuh besar itu..."

"Nuna sedang apa di sini? Di sini berbahaya, nuna..."

"A-ah tidak.. aku harus pergi"

"Dasar! Apa maumu, hah?"

"Aku hanya ingin kau, Baekkie"

"Tidak! Aku tidak akan menyerahkan milikku begitu saja, brengsek!"

"Eits! Jangan galak seperti itu, sayang.."

"Tidak! Dasar lelaki brengsek! Bajingan! Pergi kau—mmpph"

"Jangan berontak, Baekkie sayang... atau kami akan memperlakukanmu dengan kasar malam ini..."

"Mpphh nggghh"

"Terus begitu, slut! Terus! Atau kami akan melakukan tidak kasar!"

"Ssshh ahh.. terus seperti itu bitch! Terus! Jangan berhenti!"

"AAKKHH!"

"Oh, tuhan! Kau masih virgin, eum?"

"AAKHH! KELUARKAN, BAJINGAN! AKKKHH"

"Bos, bagaimana ini, darahnya tidak berhenti!"

"Biarkan saja, untuk apa kau memperhatikan dia?"

"Tap-tapi, boss. Dia tidak sadarkan diri.."

"Ap-apa?! Tidak mungkin!"

"Tapi memang dia tidak sadarkan diri dengan darah yang tidak berhenti..."

"Apa katamu?!"

"Dia Hemophilia.."

"Hemophilia kau bilang?! Kenapa tidak bilang dari awal, bodoh!"

"Say—saya tidak tahu, boss.."

"Bawa ke rumah sakit, bilang kau menemukannya di tempat antah berantah lalu tinggalkan!"

"B-baik boss.."

"Hiks hiks Hyunggg"

"Kalau seperti ini, harusnya aku ikut denganmu, bodoh!"

"Hyung bodoh!"

"Kalau aku ikut, aku bisa meng-hapkido yang memperlakukanmu seperti ini!"

"Harusnya tadi aku langsung membawamu kabur! Bukannya pergi karna bocah tadi!"

"Hiks hyung... semoga kau bertahan.."

"Nuna? Kau nuna yang tadi?"

"A-ah.. ne?"

"Nuna kenapa menangis? Apa yang terjadi?"

"A-ah.. tidak... dan—"

"Nuna cantik"

"Yakk! Aku ini laki laki, tahu! Kenapa memanggilku nuna, eoh? Lagian.. kita orang asing dan tidak saling mengenal!"

"Ah? Nuna laki laki?"

"Iya.. aku ini tampan! Kau tidak lihat, eoh?"

"Ehehe.. maaf habisnya nuna cantik. Jadi kukira perempuan.."

"Sudah kubil—"

"Permisi, keluarga Byun?"

"Saya adiknya, dok"

"Ah, begini... Tuan Byun terlambat dibawa ke rumah sakit... dan kekurangan banyak darah, juga golongan darah O-minus jarang di korea selatan ini, bahkan di dunia. Jadi.. Maaf. Kami sudah melakukan yang terbaik.. tuan Byun tidak selamat..."

"Nuna sabar ne.."

"Hiks.."

.

"HYUUUUUUNGGGGG"

"hahhh.. hahhh."

"Mimpi itu lagi... sial"

"Hyung... bogoshippo.. jeongmal bogoshippo.. mianhae.. hiks"

.

.

GANG BANG

CHANBAEK FICTS (and little bit HunKai)

RATED M

MAIN CHAST : Chanyeol Park , Baekhyun Byun

OTHER CHAST : Oh Sehun, Kim Jongin, Xi Luhan

CHAPTER : 1 of ?

.

.

"Yakk! Dobi! Ireonaaaaaaa"

"Ireona pabbooyaaa"

"Yakkk cepat bangun sudah jam berapa ini?!"

Terdengar suara yang cempreng milik seorang lakilaki manis berkulit tan di dalam apartemennya bersama sahabatnya, lebih tepatnya di dalam kamar sahabatnya yang belum bangun tidur.

"Yak! Dobbi! Mau sampai kapan kau tidur sambil tersenyum idiot seperti itu, hah?"

Tidak ada respon.

Laki laki manis berkulit tan yang sejak tadi berteriak itu bernama Kim Jongin. Atau yang bisa dipanggil dengan nama Jongin atau Kai.

"Apa ya..."Jongin tampak sedang berfikir dengan posisi jari telunjuknya berada di dagunya. Pose orang berfikir –kata Jongin—.

"Ahh~~"

Bagai ada bola lampu imajiner di atas kepalanya, Jongin berseru. Lalu, pergi ke kamar mandi. Tidak sampai dua menit kemudian, laki laki manis berkulit tan ini kembali ke kamar sahabatnya yang masih bergelung di dalam selimut tebal miliknya.

SRET.

"Nuna?" sahabat Kim Jongin itu berseru dengan polos ke arah Jongin. Namun, masih dengan mata tertutupnya.

Hening.

"Nuna kenapa menangis? Apa yang terjadi?" tanya sahabat Jongin dengan mata tertutupnya –masih—dan nada yang terlihat khawatir. Jongin bingung.

"Nuna?" Jongin kebingungan karena sahabatnya ini sepertinya memiliki penyakit kelainan otak.

"Nuna cantik." Sahabat Jongin ini berkata dengan polosnya, lalu tersenyum manis.

"APA?!"

BYUR!

1 detik...

2 detik...

3 detik...

"YAKKK HUJANNN! BADAAII!" teriak sahabat Jongin ini saat merasakan –setelah 3 detik tidak ada respon—air mengguyur wajahnya. Membuatnya tersadar dari alam mimpinya.

Hanya mimpi ternyata...

"Yak! Park Chanyeol! Pabboya! Itu bukan hujan! Apalagi badai! Bodoh" Jongin memukul kepala sahabat tercintanya ini dengan menggunakan gayung yang tadi ia gunakan untuk mengguyur sahabatnya —Chanyeol— tadi dengan tidak berperikemanusiaan sama sekali.

"Yak! Hitam! Lalu tadi apa, eoh? Dan kau memukul kepala ku dengan gayung—kau yang menyiramku hah?!" Chanyeol yang tadi sudah terduduk di kasurnya—yang basah—lalu mendelik tajam ke arah Jongin.

"Aku membangunkanmu selama tigapuluh menit, Dobbi! Dan! Dan kau hanya tidur dengan senyum senyum sendiri! Dan beberapa menit yang lalu kau memanggilku—apa? Nuna?! Oh aku ini lelaki tampan—"

"Bukan kau yang ku makhsud." Jawab Chanyeol cepat membuat Jongin menghentikan ocehannya.

"Lalu? Siapa? Nuna mu? Nuna mu kan sedang di Amerika untuk kuliah, bodoh!" ucap Jongin sarkastis.

"Bukan nunaku. Nunaku tidak punya kakak dan nuna ku itu perempuan" ucap Chanyeol menjawab pertanyaan Jongin sekaligus membuat berbagai pertanyaan baru di otak milik Kim Jongin.

"Lalu? Kau memanggil siapa dengan sebutan nuna dan—"

TING TONG !

Ucapan Kim Jongin dipotong oleh suara bell apartemennya dan Chanyeol. Jongin menggeram kesal. Siapasih yang datang? Batinnya kesal.

"Bukakan. Aku mau mandi. Mungkin itu Oh Sehun" ucap Chanyeol.

"SEHUN?!" Jongin kaget karena Chanyeol bilang—apa?! Sehun berkunjung? Oh, tuhan!

"Kenapa? Kau suka dengannya?" tanya Chanyeol santai sambil berjalan ke arah toilet.

BUGH!

Satu boneka rilakkuma milik Chanyeol mendarat mulus di kepala Chanyeol. Chanyeol berbalik, lalu mengambil bonekanya. Mengembalikannya di tempat semula, lalu mengambil bantal. Jongin menatapnya dengan bingung.

Mau apa si Dobbi ini? Batin Jongin. Dan langsung terjawab dengan Chanyeol yang—

"YAKK!"

Melempar bantalnya ke arah Jongin. Lalu cekikikan, dan berlari ke kamar mandi dan mengunci pintunya. Terdengarlah tawa evil milik Park Chanyeol yang keras dari dalam kamar mandi.

"Kau suka dengan Sehun, kan?! Akui saja! Cepat bukakan pintu untuk pujaan hatimu itu~~" ledek Chanyeol sambil tertawa dari dalam kamar mandi.

"YAK! Aku ini masih suka payud—"

TING TONG!

Kalimat Jongin terpotong lagi oleh bunyi bel apartemen yang mengganggu.

Oke, kalian mungkin akan bertanya, 'kenapa Jongin dan Chanyeol bisa tinggal di satu apartemen yang sama?'. Dan jawabannya adalah..

Ayah Jongin dan ayah Chanyeol rekan kerja, dan Chanyeol serta Jongin sudah saling mengenal sejak mereka kecil. Sekitar... umur dua atau tiga tahun, mungkin?

Okay, kembali ke Jongin yang sekarang sedang berjalan ke arah pintu apartemen. Jongin mengintip lewat layar monitor yang kini menampilkan sosok namja jangkung berkulit pucat dengan wajah datarnya sedang berdiri di depan pintu apartemennya.

Jongin segera saja membuka pintu apartemennya dan nampaklah sosok asli namja jangkung berkulit pucat itu, yang tingginya hanya beberapa centimeter saja di atas tinggi Jongin.

"Ah, Jongin. Di mana Chanyeol?" tanya Sehun setelah dia masuk ke dalam apartemen milik Jongin dan Chanyeol.

"Sedang mandi. Kau, duduklah dulu, biar kulihat Chanyeol sudah selesai mandi apa belum" ucap Jongin mempersilahkan Sehun duduk di sofa di ruang tamu yang berhadapan dengan televisi yang ada di apartemen Jongin dan Chanyeol.

Jongin lalu melanggang pergi dari ruang tamu apartemennya. Sampai di kamar Chanyeol Jongin hanya menggelengkan kepalanya melihat Chanyeol yang masih di dalam kamar mandi.

"Dobbi, cepatlah! Sehun sudah menunggumu!" teriak Jongin dari luar kamar mandi yang ada di kamar Chanyeol.

"Yaya, aku sudah selesai! Keluarlah dari kamarku atau..." Chanyeol menggantungkan kalimatnya, membuat Jongin mengerutkan dahinya.

"Atau apa, Dobi?"

"Atau kau mau melihatku telanjang, silahkan menetap di kamarku" ucap Chanyeol sambil keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrobe saja.

"YAK YAK YAK DOBBI!" Jongin melempar bantal yang ada di kasur Chanyeol ke arah Chanyeol. "KAU! Diam di situ! Aku keluar!"

BLAM!

Pintu kamar Chanyeol di banting oleh Jongin. Dan Chanyeol tertawa keras. Chanyeol membuka bathrobe nya dan ternyata Chanyeol sudah menggunakan boxer dari dalam kamar mandi. Hanya saja ia ingin mengerjai teman se-apartemennya itu. kekekeke.

"Jongin-ah, kau kenapa?" tanya Sehun yang sedikit terlonjak karena bantingan pintu di belakangnya yang ternyata pelakunya adalah Kim Jongin.

"Tidak, tidak apa apa" ucap Jongin lalu berjalan melenggang melewati Sehun menuju dapur. Sehun yang melihat wajah marah Jongin hanya terkekeh kecil, sebelum memfokuskan kembali pandangannya ke arah psp yang tadi dibawanya.

CEKLEK!

Sehun menengok ke belakang, dan tampaklah sosok sahabatnya yang jangkung dan bertelinga peri itu dengan rambutnya yang basah dengan senyum idiotnya.

"Menunggu lama?" tanya Chanyeol, si namja dengan telinga peri dan senyum idiotnya.

"Ya, kau mandi seperti perempuan saja, lama sekali" ucap Sehun datar lalu kembali fokus dengan psp nya.

"Aku hanya mandi sepuluh menit, Sehun. Kau berlebihan" ucap Chanyeol lalu duduk di sebelah Sehun yang kosoh.

Sementara itu, Jongin datang dari arah dapur dengan membawa segelas minuman. Lalu berjalan melewati Sehunyang sedang bermain dan Chanyeol yang memperhatikannya, eum, lebih tepatnya memperhatikan minumannya. Dan ketika Jongin berjalan tepat di depan Chanyeol, dia berhenti karena merasa diperhatikan, dan menengok dengan ekspresi polosnya menatap Chanyeol. Dan...

"Aku bagi"

Chanyeol mengambil gelas berisi orange juice yang ada di tangan Jongin dan menghabiskannya. Jongin yang sadar langsung memukul kepala Chanyeol.

"YAK! Itu punyaku, bodoh! Ambil sendiri!"

"Sudah habis, kau kalau mau ambil saja lagi" ucap Chanyeol santai lalu meraih remote televisi yang ada di meja pendek di depannya.

"YAK!" Jongin yang kesal mengambil gelasnya lalu berjalan menuju dapur. Namun, ada yang menahan tangannya. Jongin berbalik dan melihat Sehun yang tersenyum bodoh –persis seperti Chanyeol—.

"Apa?" tanya Jongin ketus karena sebal dengan Chanyeol.

"Ambilkan untukku juga, ya, Jongin-ah~" ucap Sehun dengan wajah memelasnya, yang hanya Chanyeol dan Jongin saja yang bisa melihatnya.

"Hhh. Baiklah" ucap Jongin lalu berjalan menuju dapur dengan kaki yang di hentak hentakkan. Seperti anak kecil. Sedangkan Sehun tersenyum menang. Haha.

"Dia manis" gumam Sehun. Namun, Chanyeol dapat mendengarkannya.

"Manis? Siapa?" tanya Chanyeol langsung pada Sehun.

"Ah? I-itu.. anu.. ish.. Mikerr! Ya! Miranda Kerr! Model Victoria's Secret ituloh yang sexy" ucap Sehun terbata bata. Chanyeol memicingkan matanya ke arah Sehun.

"Apa?" tanya Shehun yang sadar di perhatikan oleh Chanyeol.

"Apa? Tidak" jawab Chanyeol cepat. Tak lama, Jongin datang membawa nampan berisi tiga gelas orange juice. Teman yang baik.

"Chanyeol, ceritakan yang tadi!" ucap Jongin setelah menaruh nampan berisi tiga gelas orange juice di meja pendek yang ada di depan sofa.

"Ceritakan apa, Jong?" tanya Sehun yang tidak tau apa apa mengenai kegiatan-mengigau-pagi-hari-Chanyeol.

"Tidak, bukan apa apa" ucap Chanyeol cepat lalu men death glare Jongin. Namun, sepertinya Jongin tidak takut dengan deathglare Chanyeol.

Jongin duduk di sofa kosong di samping Sehun. Lalu duduk dengan santai dan berkata, "Tadi pagi itu Chanyeol memimpikan seorang nuna nuna. Tapi aku tidak tahu siapa"

"YAK! HITAM ITU AIB KU BODOH!" ucap Chanyeol yang kesal dengan Jongin, berdiri dari sofanya dengan wajah –sok- garang.

"Ceritakan, Yeol, ceritakan kau mimpi apa!?" ucap Jongin antusian mengabaikan teriakan Chanyeol yang besar itu. beruntung apartemen mereka kedap suara.

"Oh, jadi Chanyeol sukanya dengan wanita yang sudah tua" ucap Sehun santai nan datar dengan wajah nya yang mendukung.

"Dia belum tua! Dia masih muda, tahu!" ucap Chanyeol membela 'nuna'nya itu.

"Yaya. Terserah kau, Chanyeol. Sekarang ceritakan tentang nunamu itu" kata Jongin final. Chanyeol membenarkan posisi duduknya.

"Baiklah baiklah, demi kalian. Sahabatku—"

"Lebay" potong Sehun.

"Ya! Kau mau mendengarkan tidak? Kalau tidak, yasudah aku mau nonton konser Sandara nuna di youtube!" ucap Chanyeol.

"Oh, jadi Chanyeol seorang fanboy Sandara 2NE1 ya" ucap Sehun datar dan cuek. Membuat Chanyeol geram sendiri.

"Aku tidak jadi cerita, mau tidur" ucap Chanyeol final, dan membangunkan tubuhnya, berjalan menuju kamarnya.

"DOBI AKU MENDENGARKAN! KEMBALI KAU!" Jongin berteriak dan menarik Chanyeol ke tempat semula, duduk di sofa jomblo, eh sofa single.

"Ceritakan. Cepat. Atau. Aku. Tidak. Akan. Membantumu. Mengurus. Apartemen. Ini" ucap Jongin dengan penekanan di setiap katanya.

"Yakyakyak! Baiklah, baiklah, tuan Hitam" Chanyeol menarik nafas, "dan tuan albino"

"Aku tidak albino, caplang!" ucap Sehun tidak terima dengan ucapan Chanyeol.

"Ya, terserah dan aku tidak—"

"Cepat ceritakan, dobbi!" Jongin geram dengan kedua temannya ini, sedikit berteriak.

"Hehe. Baiklah. Jadi, begini. Waktu aku kelas dua Junior High School, saat baru pulang dari minimarket. Aku pulang lewat gedung tua yang seram itu" Chanyeol mengingat ingat lagi. "Aku lihat ada seseorang memakai hoodie dan beanie. Aku samperin lah dia"

"Terus? Itu siapa? Setan?" tanya Jongin antusias.

"Bukan, bodoh. Jadi, aku bilang saja 'nuna sedang apa di sini? Di sini berbahaya nuna" aku berkata seperti itu ke dia, namun dia langsung pergi begitu saja, aku bingung apa yang menakutkan dari namja tampan sepertiku—"

PLETAK!

Jongin menjitak kepala Chanyeol, keras. Membuat Chanyeol meringis kesakitan.

"Yak! Kau kenapa menjitakku, eoh?" tanya Chanyeol tidak terima kepala–pintar-nya di dijitak oleh Jongin.

"Kau terlalu percaya diri, dobi" ucap Sehun santai. Ngomong-ngomong, Sehun sudah menaruh psp nya di meja pendek di depannya. "Lanjutkan ceritamu"

"Huh, menyebalkan. Tidak ada protes, jangan memotong ceritaku. Atau aku tidak mau cerita lagi" ucap Chanyeol sebal karena dua orang di depannya ini menyebalkan sekali, suka sekali memotong cerita dia.

"Ne." Ucap Sehun dan Jongin serempak.

"Baiklah. Setelah itu, aku mendapat telfon, katanya ibu Jongin masuk rumah sakit. Aku langsung berlari ke rumah sakit dari situ. Lalu, saat sedang ke toilet, aku melihat nuna lagi di depan ruang unit gawat darurat. Dia menangis. Dan saat aku memanggilnya nuna, dan aku bilang 'nuna cantik' dia marah marah dan bilang kalau dia namja. Huh, aku tidak peraya ada namja secantik dia" Chanyeol mengakhiri ceritanya dengan mendengus.

"Nuna? Namja? Jadi yang kau panggil nuna itu seorang namja?" tanya Jongin lagi.

"Iya, namja. Tapi itu katanya. Aku tidak percaya kalau dia namja. Meskipun dia lebih tinggi dariku saat itu" ucap Chanyeol lagi dan—

PLETAK!

Jongin menjitak kepala Chanyeol lagi.

"Kenapa menjitak kepala pintarku, eoh?" tanya Chanyeol kepada Jongin sambil mengusap usap kepalanya.

"Bodoh, kau memanggil seorang namja dengan kata nuna? Aish"

"Iya, abisnya dia cantik"

"Lalu, kenapa kau masih memimpikannya?" tanya Sehun kali ini.

"Dia cinta pertamaku." Ucap Chanyeol santai. Lalu menyesap orange juice nya.

"APA?! KAU GAY?!" Sehun kaget dan berteriak kali ini. Setidaknya dia punya teman gay juga.

"Ya, demi dia aku rela gay. Jongin juga gay." ucap Chanyeol santai.

"Kasihan Soojung" Sehun memang mengabaikan kata 'jongin juga gay', tapi dalam hati dia berterak senang. Sedangkan Jongin membulatkan matanya.

"Aku tidak perduli dengannya" ucap Chanyeol santai.

"Dasar brengsek"

"Aku tidak perduli" ucap Chanyeol. Karna memang dia tidak tertarik, apalagi menyukai Soojung. Teman satu kampusnya.

.

Setelah itu, Chanyeol menyalakan playstationnya, dan bermain fifa disana. Game bola. Game anak laki.

Di sampingnya, terlihan Sehun dan Jongin yang saling curi curi pandang dan Jongin yang wajahnya memerah. Chanyeol tidak sadar dengan kejadian di sampingnya itu.

"Saranghae" ucap Sehun pada Jongin, lebih tepatnya bergumam.

"Ne?" Jongin membeo.

"Saranghae saranghae saranghae Kim Jongin" ucap Sehun pada Jongin, kini lebih lantang dan lebih keras.

"Yakyakyak! Kalian ini, kenapa berlovey dovey di sini, eoh?" tanya Chanyeol masih dengan bermain playstation.

"Ini apartemenku juga, dobi!" ucap Jongin.

"yaya."

"Jadi?" tanya Sehun pada Jongin, kini telah menggenggam tangan Jongin.

"Jadi apa?" tanya Jongin menggoda Sehun.

"Saranghae. Would you be mine?" tanya Sehun. Harap harap cemas dengan jawaban Jongin.

"Ne, nado saranghae—mmpph"

Sehun membungkam mulut Jongin dengan mencium bibirnya dengan sedikit nafsu.

"YAKYAKYAK. KALIAN JANGAN BERLOVEY DOVEY DI SINI" Ucap Chanyeol yang sebal dengan kedua temannya ini.

"Ya, salah kau, jomblo"

"Terimakasih" Chanyeol melanjutkan aktifitas bermain playstationnya.

.

"Oy, bro!" Sehun memanggil Chanyeol.

"Apa? Aku sedang bermain game dan jangan ganggu please" ucap Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi yang menampilkan permainan playstationnya.

"Mau ikut tidak? Kalau kau tidak ikut, kau bukan lelaki sejati!" ucap Sehun yang kini duduk di sebelah Chanyeol.

"Kemana?" tanya Chanyeol.

"Lihat saja nanti."

.

.

==TBC==

.

.

Review nya ya chingu chingu sekalian. Jangan jadi hantu, okay? Dan maaf kalo chapt satu ini kurang memuaskan para readers karena aku emang lagi nge blank banget gatau kenapa. owkay. Jangan lupa review gays. Saranghaechanbaek.

;; fhsilvertear