Naruto © Masashi Kishimoto

Story© Kawaiihanabi

It Started With A Kiss

Sasuke X Sakura

Sudah hampir seminggu Sasuke dan Sakura berkencan dan setiap hari juga mereka bersama, Sakura tidak mengingkari janjinya tentang jaminan ketenang Sasuke. Kini Sasuke mendapatkan ketenangan yang ia dambakan,waktunya disekolah digunakan untuk belajar tanpa harus mendengar kegaduhan lagi seperti dulu. Mungkin nanti ia harus berterimakasih pada Sakura.

"Sasuke-kun?" Ucap Sakura dengan nada lembut saat mereka tengah menghabiskan waktu istirahat dikantin.

"Hn."

"Mulai besok aku akan sering absen, aku sudah mulai bekerja." Jelas Sakura.

Sasuke ingat beberapa hari yang lalu Sakura bercerita kalau ia masuk agensi model, dan dia akan benar-benar bekerja. Jujur sebenarnya Sasuke masih tak mengerti kenapa Sakura harus mengambil pekerjaan di saat ia akan menghadapi ujian kelulusan.

"Kau tak perlu khawatir, aku sudah meminta ijin dari guru lagi pula nilaiku diatas rata-rata ko." Seakan mengerti Sakura bisa menjawab apa yang ada di pikiran Sasuke.

"Hn."

"Ya sudah aku duluan ya, aku ada urusan di ruang guru, jaa nee." Sakura melambaikan tangan pada Sasuke.

Sasuke tanpa sadar membalas perlakuan Sakura barusan .

"Apa yang kulakukan." Ujarnya saat ia menyadari tangannya melambai pada Sakura.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya...

Sakura terlihat sibuk dengan pakaian musim panas yang ia kenakan kini. Ia terlihat cantik dengan balutan dress selutut berwarna peace tanpa lengan dengan pita dibahunya dan sebuah topi jerami yang ia kenakan, tak lupa dengan polesan make up profesional membuatnya tampil maksimal didepan kamera.

"Otsukaresamadeshita." Ucapnya saat sesi pemotretan selesai.

"Otsukaresama Sakura." Balas Sasori sang photografer.

"Nii-san bagaimana hasil fotonya?"

Tanya Sakura penasaran.

"Bagus, seperti biasnya." Jawab Sasori disertai senyuman diwajah bayinya. Sasori adalah photografer yang pertamakali mengenalkan dunia model pada Sakura.

Awal Sakura masuk kedunia model? Awalnya Sasori hanya iseng mempublish foto Sakura yang ia ambil saat dipantai musim panas beberapa tahun lalu, nyatanya ada sebuah majalah remaja yang tertarik dengan Sakura dan ingin menjadikan Sakura model majalah. Beruntung memang nasib Sakura,ia memiliki sepupu yang merupakan photografer terkenal,dan jadi model majalah pula. -Sasori itu sepupu Sakura-

"Sakura, apa kau ada acara setelah ini? " tanya Sasori.

Sakura menggeleng. "Aku akan langsung ke apartemen Nii-san. Apa Nii-san masih ada pekerjaan?"

"Oh, kalau kau tidak keberatan, aku harus mampir dulu ke rumah file yang mau diambil." Jelas Sasori,

"Baiklah." Balas Sakura yang melangkahkan kaki keruang make up.

Kini dalam benak Sasori sempat terlintas kejadian Sepupu nekatnya ini beberapa waktu yang lalu .

Ya, semenjak pemberontakan besar besaran yang ia lakukan dirumah beberapa bulan lalu Sakura memutuskan untuk hijrah ke apartemen Sasori dan tinggal bersamanya. Pemicunya? Tentu saja rencana pertunangan dadakan nya dengan Lee-san. Salahkan ibunya yang tiba-tiba menyuruh Sakura segera bertunangan tanpa memikirkan perasaannya. Tentu saja hal ini membuat Sakura murka, ia masih terima jika hanya sebatas kencan buta tapi ini tunangan. Saat Sakura menjelaskan pada Sasori kenapa ia ingin tinggal bersama tentu saja Sasori tertawa, alasan yang tidak logis pikirnya. Tapi Sakura itu menjelaskan kalau Ayah dan Ibunya itu workholic, jadi bukan masalah jika ia kabur dari rumah. Sakura juga bilang dia akan bertanggung jawab jika ada masalah karena ia sudah menulis surat kalau ia akan pindah kesekolah asrama dan sesekali menemui Lee-san untuk mempertimbangkan pertunangannya , Sakura pun sepakat berhenti dari aktifitasnya sebagai model untuk sementara. -itu mah bukan kabur namanya:D- Tapi Sasori yakin kalau alasan sebenarnya Sakura kabur bukan karena pertunangan atau apa, mungkin Sakura akan menceritakannya nanti pikirnya.

Tapi memang benar kenyataannya, baik Mebuki maupun Kizashi tidak pernah menyinggung keberadaan Sakura kepada Sasori saat mereka bertemu sampai sekarang. Sasori mulai percaya kalau alasan itu memang alasan yang sebenarnya. Namun setelah skandal hebat yang Sakura ciptakan beberapa hari belakangan membuat Sasori juga bertanya tanya apakah Sepupu nekadnya ini akan mengakhiri persembunyiannya. Memikirkan kehidupan sepupu pinknya ini benar-benar membuat sakit kepala.

.

.

.

.

.

.

"Sakura-chan apa kau serius dengan hubunganmu." Singung Sasori pada Sakura saat mereka tengah menaiki mobil yang melaju menuju rumah teman Sasori.

Sakura yang duduk manis disamping Sasori menoleh dan tersenyum. "Mungkin." Balas Sakura singkat. Sebenarnya ia ingin menceritakan apa yang ia alami pada sepupunya ini tapi karena ia tak mau menambah masalah untuk Sasori jadi ia memutuskan untuk merahasiakannya.

"Dengar ya Saku-chan, kau tidak boleh memainkan perasaan, atau kau akan mendapatkan karma." Sasori memberi nasihat yang dibalas dengan anggukan oleh Sakura.

Beberapa menit menempuh perjalan mobil sport hitam Sasori berhenti disalah satu rumah-ah tidak mungkin bisa dibilang Mansion yang besar.

"Ehh, Sakura-chan bisa tolong lihat ban mobil belakangku sepertinya bocor, aku harus menelpon seseorang." Pinta Sasori, Sakura yang merasa aneh karena permintaan sepupunya yang juga aneh? memutuskan turun dari mobil dan melihat kebelakang.

"Nii-san sepertinya ban mobilmu tidak..." Perkataan Sakura terpotong ketika Sakura melihat ban mobil yang ia amati bergerak. Matanya pun membulat saat mobil hitam itu pergi meninggalkannya.

"Ehh, nii-san tunggu mau kemana! Jangan ditinggal! Nii-san!." Teriaknya pada mobil Sasori yang melaju kencang.

Ia segera meraba pakaiannya, sial tas dan ponselnya tertinggal dimobil. Sekarang ia harus memikirkan bagaimana caranya pulang dan kenapa sepupu banyinya meninggalkannya.

Namun saat Sakura tengah bergelut dengan pikirannya, Sebuah mobil sedan mendekat kearahnya.

Tin tin!

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu di KIHS, Sasuke tengah membaca buku dengan tenang dan khusu hingga akhrinya ketenangam itu lenyap saat suara melingking sahabat karibnya -Naruto sebut saja begitu mengganggu indra pendengarannya.

"Teme! Pulang sekolah main yu!" Teriak Naruto yang datang entah dari mana?

"Berisik dobe!" Desis Sasuke sembari menutup bukunya.

"Ah, kau lagi galau ya, Sakura-chan tidak sekolah?" Tuduh Naruto.

"Sejak kapan kau memanggilnya dengan embel-embel chan?" Desis Sasuke.

Naruto menggaruk kepalanya "mungkin saat ia bercerita kalau kencan kalian tidak menarik." Ujarnya jujur.

"Cih." Sasuke mengendus sebal dan melanjutnya aktivitasnya.

'Cemburukah ?' batin Naruto

Disitu Naruto berfikir kalau Sasuke sedikit terlihat seperti manusia?

.

.

.

.

.

.

.

"Nii-san menyebalkan! Apa maksudnya dia meninggalkan...astaga!" Seketika Sakuea terkejut karena seseorang membunyikan klakson mobilnya cukup keras.

Tin tin!

'Apa aku menghalangi jalan?' Cepat cepan Sakura menyisikan diri dan menunduk meminta maaf.

"Gomenna..."

"Sakura-chan" Suara khas seorang pria tertangkap oleh pendengaran Sakura, suara yang ia kenali seketika ia mengangkat kepalanya.

"Itachi-san?" Ucapnya senang karena bertemu seseorang yang ia kenal, setidaknya ia bisa meminjam uang pada Itachi untuk naik taksi pikirnya.

"Hisashiburi." Sapa Itachi ramah "ngomong-ngomong ada keperluan apa kau kemari?"

"Ano..Itachi-san sebelumnya aku minta maaf tadi Sasori Nii-san menurunkanku disini dan aku tak tau ini area rumahmu, ponsel dan tasku tertinggal di mobil jadi bisakah aku me..." belum sempat Sakura menyampaikan maksudnya Itachi segera mendorong bahu Sakura dan mengajak ah tidak menyeretnya masuk ke Mansion.

"Hai..hai aku mengerti Sakura-chan." Itachi menyeringai penuh kemenangan.

' Arigato Sasori'

Sakura dengan terpaksa masuk kedalam mansion, pandangan matanya tetarik pada sebuah taman yang di penuhi berbagai macam bunga, mawar khasusnya. Pasti akan sangat menyenangkan jika melakukan pesta minum teh disana .

Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya bersurai hitam tersenyum anggun pada Itachi dan Sakura.

Itachi membalas senyumannya sedangkan Sakura hanya tersenyum canggung.

Dengan cara tiba-tiba Mikoto memeluk Sakura erat. Itachi yang paham dengan keadaan Sakura saat ini yang masih shock mencoba menghentikan aksi ibunya.

"Kaa-san jangan memeluknya tiba-tiba." Mikoto pun segera melepaskan pelukannya dan meraih Sakura.

Mata Mikoto kembali berbinar.

"Itachi-kun kau membawanya, dia sangat cantik." Puji Mikoto.

"Ano... " sela Sakura mencoba mencari tahu apa yang terjadi.

"Sasuke-kun beruntung ya bisa mendapatkan gadis sepertimu. Ayo kita masuk kedalam douzo douzo." Cepat cepat Mikoto menarik tangan Sakura masuk kedalam Mansionnya dengan keadaan Sakura yang masih bingung .

.

.

.

.

Sementara itu diperjalan pulang sedari tadi Sasuke terus memasang tampang masam yang tak enak dilihat kenapa? Tentu karena ia merasa terganggu oleh eksistensi makhluk berambut jabrik dibelakangnya.

"Naruto.." geramnya "kenapa kau terus mengikutiku!"

Naruto nyengir menampakan deretan gigi putihnya "Aku memutuskan akan melakukan ekspedisi dirumahmu Ayoo!" Naruto berjalan mendahului Sasuke, tak terlihat beban sama sekali 'benar benar tak tahu malu' pikir Sasuke.

Sesampai didepan Mansion Uchiha Sasuke memulai pidatonya dia mewanti-wanti Naruto supaya tidak merusuh karena Sasuke sangat lelah.

"Dengar Naruto, setelah ekspedisimu atau apapun itu telah selesai pulanglah jangan merusuh." Desisnya sekali lagi.

Naruto mengerucutkan bibirnya sebal "kau sudah mengatakan itu berkali-kali, dan aku tidak pernah merusuh!" Bela Naruto yang tak terima dikatai perusuh.

Sasuke membuka pintu mansionnya dan menghiraukan pembelaan diri Naruto.

"Tadai..."

"Ona no kutsu!" Salam Sasuke terpotong saat sahabat jabrik nya ini berteriak tak jelas dipintu masuk.

"Berisik! Aku kan sudah bilang.. "

"Teme!.." Naruto memegang kerah baju Sasuke, Sasuke merasa heran dengan kelakuan tidak jelas sahabatnya.

"Sudah kubilang kau jangan mempermainkan wanita!lihat ini sepatu tunanganmu kan?! Bagaimana jika dia datang karena tau kau berkencan dengan Sakura-chan, bagaimana jika dia melabrak Sakura-chan?! Bagaimana jika..." Sasuke melepaskan cengkraman Naruto lalu membenahi pakaiannya yang agak beratakan.

"Naruto.. Lanjutkan ekspedisimu atau apapun itu di psikiater, kau sakit!" Ujar Sasuke dengan nada sedatar-datarnya sambil melangkah pergi meninggalkan Naruto dengan pikiran anehnya.

Sasuke sampai diruang keluarga Uchiha onyxnya sedikit membulat lantaran mendapati sesosok gadis berambut pink yang terlihat canggung tengah duduk disebelah orang yang ia yakini sebagai Ibu dan Kakaknya.

"Kau..." ucap Sasuke

"Sasuke...-kun.." Sakura masih mencoba mencerna apa yang ada dihadapannya kini, bailah sekarang ia ada di Mansion Uchiha, di sebelahnya duduk seorang wanita paruh baya yang bernama Uchiha Mikoto, disisi lainnya ada sahabat karib sepupunya Sasori bernama Uchiha Itachi dan kini ada Uchiha Sasuke yang baru pulang sekolah.

Tuing

Para Uchiha di Mansion Uchiha. Sasuke's Home.

"Ehhhhhh..." seru Sakura sontak membuat para Uchiha disekitarnya heran.

"Obasama wa Sasuke -kun no Haha Itachi-san wa Sasuke -kun no Aniki" ujar Sakura pelan namun masih bisa didengar oleh Mikoto dan Itachi.

Mendengar pernyataan Sakura barusan membuat mereka semua tertawa.

"Sakura-chan kau masih polos ya." Ujar Itachi, Sakura menunduk malu karena kalakuannya tadi, sesekali ia melirik Sasuke yang tampak cengo dengan pernyataannya barusan

'Kau memang bodoh' Onyx Sasuke memberi pandangan tajam yang Sakura yakini pasti mengatai dirinya bodoh.

"Aku tidak bodoh aku hanya kaget." Ujarnya pada Sasuke.

"Wajar bila kau kaget, maaf ya kami menculikmu kemari." Ucap Mikoto sembari mengelus surai merah muda milik Sakura lembut.

"Dia memang bodoh, lamban." Desis Sasuke.

"Teme! Jelaskan padaku sepatu siapa tadi..." Naruto yang sudah kembali dari ekspedisi di pintu depan melirik Sasuke meminta namun pandangannya tertarik pada seorang gadis yang sangat ia kenali suara menginterupsi ucapannya.

"Milikku."

"Oh milik Sakura -chan toh, kukira tunangan Sasuke yang ngamuk kare..." ucapannya terhenti Naruto berpikir.

"Ehhhhhhh..." Sasuke mendesah, ia sudah menduga kerusuhan akan datang jika Naruto berkunjung, pantas perasannya selalu tidak enak pikirnya.

"Eh. Otouto sudah punya tunangannya? " Ucapan Itachi yang selalu memperkeruh suasana.

"Are, Naruto-kun dengan siapa Sasuke-kun bertunangan? Apa dengan Sakura -chan?" Dan pertanyaan Mikoto yang seharusnya ia tahu sendiri jawabannya-karena Sasuke yakin kalau sumber gosip itu adalah ucapan ibunya pada sahabatnya Kushina dan berakhir di telinga Naruto-

"Eh, bachan, kau yang bilang kenapa kau yang bertanya. " gerutu Naruto.

"Eh aku? " Sasuke kembali mendesah ia pun angkat bicara.

"Kaasan, dia bilang aku punya tunangan dan akan menikah, aku yakin kau pernah bercerita begitu pada ibunya Naruto."jelas Sasuke.

Mikoto kembali mengingat-ngingat ucapan anaknya tadi. "Ahh, souka .. maksudmu dengan dia, kalian memang bertunangan saat itu, lagipula kau dulu memang mencintainya, kau juga bilang akan menikahinya..." ujar Mikoto "tapi kau sekarang memiliki Sakura-chan kan? Aku juga menceritakannya beberapa tahun lalu pada Kushina saat dia pindah ." Tambah Mikoto sembari mengibaskan tangannya.

Naruto mengangguk paham selama ini ia mengetahui informasi yang kadaluarsa. Sakura mengamati perubahan raut wajah Sasuke yang menurutnya berubah, Sakura yakin pasti ada sesuatu yang Sasuke sembunyikan. Ingin menanyakannya saat ini siapa dia yang sedari tadi dibicarakan Mikoto? Bagaimana hubungannya kini dengan Sasuke? Apa yang terjadi diantara mereka? Namun Sakura mengurungkan niatnya karena ia pikir tidak sopan bertanya pada Mikoto -meski dengan senang hati ia jawab- dan lebih mustahil bila bertanya pada Sasuke karena hubungannya dan Sasuke hanya sebatas simbiosis mutualisme atau saling memanfaatkan saja.

"Aku keatas, dobe pulanglah. " ujar Sasuke pelan lalu meninggalkan ruang keluarga Uchiha menuju kamarnya dilantai atas.

Naruto melirik jam tangannya, ia ingat ibunya pasti menunggu karena sudah waktunya makan malam. Segera ia pamit pada Mikoto dan Itachi tak lupa Sakura.

"Ano, ba-chan, Itachi-nii, Sakura-chan aku pamit pulang sepertinya Kaa-chan akan marah jika aku terlambat, jaa." Ujar Naruto sembari melambaikan tangan.

"Naruto-kun matte.." Itachi yang sadar Sakura yang berniat pulang segera meraih tangan mungilnya.

"Sakura -chan lebih baik kau makan malam dengan kami, lagipula ada berkas yang mau aku titipkan." Sakura menelan ludah bukan ia tidak mau makan malam saat ini tapi ia tak tahu bagaimana caranya pulang jika tidak bareng Naruto tadi shannaro!

.

.

.

.

.

Sakura kini tengah duduk manis di meja makan kediaman Uchiha. Jujur ia merasa sedikit tidak enak -meskipun datang dengan paksaan- karena tidak membawa apa-apa saat berkunjung ke rumah kekasihnya Sasuke, Ia juga tidak ikut membantu Mikoto menyiapkan makan malam -karena Mikoto melarangnya, Sakura adalah tamu pikirnya-.

"Itachi-kun bisa kau panggilkan Sasuke-kun? Dikamarnya?" Pinta Mikoto

"Ano, basama biar aku saja.." Tawar Sakura sembari berdiri.

"Ara, tolong ya Sakura-chan kamarnya dilantai atas, pintu kedua." Jelas Mikoto. Sakura pun mengangguk dan langsung pamit menuju kamar Sasuke.

.

.

.

.

'Mungkin ini' Ujar Sakura dalam hati saat ia melihat pintu dihadapannya. Segera ia mengetuk pintu namun tidak ada yang menyahut.

"Sasuke-kun, ini aku ayo kita makan malam." Seru Sakura

"Sasuke-kun.. " Seru Sakura (lagi)

"Sasuke-kun kau tidur?" Serunya (lagi)

Krik

Krik

Krik

Kesal karena Sasuke tak membalas ucapannya Sakura berniat masuk kedalam kamarnya .

'Menghiraukan seorang gadis itu tidak sopan'

"Aku masuk ya." Serunya kembali sambil memasuki kamar kekasihnya.

"Hee. Kau sedang berperan jadi seorang kekasih ya." Ujar Sasuke yang tengah berbaring di ranjang miliknya tak lupa dengan buku dan kacamata yang bertengger di wajahnya.

"Sudahlah aku tak mau berdebat, cepat makan malam dan antarkan aku pulang!" Desis Sakura kesal.

"Pulanglah! Aku tak melarang."

"Sasuke, makanlah dan antar aku pulang!, Sasori menurunkanku disini dan Kakakmu menahanku tadi. Aku tak punya uang ponselku tertinggal, jangan mempersulit keadaanku Sasuke ." Jelas Sakura .

Ide jahil terlintas diotak jenius Sasuke "baik aku akan bangun dan menurutimu jika kau menciumku atau jika kau tak mau tutup pintunya lalu ...temani aku tidur sayangg..." Sasuke menyeringai, ia menggoda Sakura dengan suara yang err sexy~ .

"He...hentai." Sakura yang wajahnya sudah semerah tomat segera kembali turun kebawah meninggalkan Uchiha Sasuke yang tertawa puas habis mengerjainya.

Sakura yang tengah berlari menuruni tangga dengan wajah yang memerah tertangkap basah oleh Itachi.

"Sakura-chan wajahmu kenapa? Kau demam?" Ujar Itachi sembari memengah dahi Sakura.

Munculah Sasuke yang turun tangga dengan wajah stoicnya. Ia menyeringai saat wajah kekasihnya itu masih memerah.

"Lepaskan dia Aniki. " Desis Sasuke.

"Oh begitu..." Itachi mendekatkan bibirnya ketelinga Sakura dan berbisik.

Sakura melotot kaget "Tidakk... bukan seperti yang kau pikirkan." Jelas Sakura.

"Aku mengerti Sakura-chan." Itachi pergi meninggalkan Sakura di depan tangga, diikuti Uchiha Sasuke yang menatap Sakura sambil menyeringai.

'Kubalas kau ayam mesum!' Batinnya.

.

.

.

.

.

.

.

Sehabis makan malam bersama keluarga Uchiha -ex Fugaku- Sakura pamit pulang pada Mikoto dan Itachi, ia senang dapat makan malam bersama keluarga Uchiha, karena ia sendiri tak ingat kapan terakhir kali berkumpul bersama ayah dan ibunya.

"Ini.." Ujar Sasuke sembari memberikan jaketnya pada Sakura "Kau bodoh, ini maaih musim semi kenapa kau memakai baju seperti ini." Komentarnya.

"Ini diluar dugaan."

Mereka manaiki taksi, diperjalanan tak banyak yang mereka bicarakan hanya ini dan itu. Mungkin mereka canggung? Tapi entahlah hanya mereka yang tahu?

"Kau...apa kau masih bekerja?" Tanya Sasuke.

"Emm, mungkin bulan depan aku selesai."

"Souka.."

'Suasananya mendukung! Kubalas saja kau ayam sialan Shannaroo' tekadnya karena masih tak terima dengan aksi jahil Sasuke yang membuatnya malu di depan Itachi.

Sakura mendapatkan ide "Apa kau kesepian disekolah darling ?" Ujar Sakura disertai seringai manisnya. Tangannya bergerak memengang pipi milik Sasuke.

Sasuke tahu gadis ini ingin membalasnya, ia bersedia melayani permainan Sakura dengan senang hati.

'Si pinky ini menantangku' batinnya.

"Tentu, kau tahu aku kesepian." Ujarnya. Ia memcium surai merah muda milik Sakura.

Entah skenario gila apalagi yang mereka mainkan didalam taksi yang berhenti didepan apartemen Sakura tak lupa si supir taksi yang menyaksikan mereka didalamnya.

"Sudah sampai, tapi aku masih merindukanmu." Ujar Sakura dengan nada manja , ia maaih melanjutkan dramanya!

"Kau tau, aku mencintaimu." Tangan Sasuke menelusuri wajah indah milik Sakura.

Sakura yang merasa tak mau kalah malah kembali membalas ucapan si bungsu Uchiha ini yang tanpa ia sadari malah menimbulkan petaka baginya.

"Aku juga... mencintaimu Sasuke -kun." Sasuke diam sesaat, Sakura pikir ia menang namun meraih kedua pipi Sakura dan...

Chuuu~

Sasuke menyeringai, pandangannya seolah berkata balasan-karena- telah-mencintaiku ciuman kedua dengannya.

Sakura yang segera sadar langsung berlari keluar taksi dengan wajah memerah dan degup detak jantung yang tak menentu.

'Ini gawat. Niatku membalasnya tapi kenapa . .' batin Sakura.

Sementara pelakunya kini tengah tersenyum didalam taksi.

'Kau memang masih polos sayang'

.

.

.

.

TBC

Omake

"Itachi, aku sedah menurunkannya kau puas!" Ujar Sasori pada lawan bicaranya diseberang sana.

"Sankyu, Saso-chan aku akan mentraktirmu minum nanti."

"Kau tak perlu mentraktirku, kembalikan saja benda laknat itu!" Geram Sasori kesal

"Oke, tapi kau tahu alangkah indahnya jika benda itu di pangpang di website agensimu mungkin kau akan ditemui banyak wartawan ya hahahaha...Oh Sakura-chan ada di depan aku tutup ya jaa." Perempatan siku dengan indahnya hadir di dahi Sasori . Ia melempar ponselnya sembarang ke jok sebelah lalu menghela nafas .

"Maaf Sakura-chan, kalau bukan karena benda laknat dan ancaman dari Itachi aku mana mungkin meninggalkanmu." Kini bayangan Sakura yang mengamuk menari indah dipikirannya.

Benda laknat apakah itu? Itu adalah foto Sasori tenggah melakukan Crossdressing karena kalah bermain kartu di rumah Deidara beberapa bulan lalu. Bukan masalah penampilannya yang seratus persen mirip wanita, tapi dalam foto itu ia tengah dicium Deidara yang tengah mabuk dan menyangka Sasori itu benar-benar wanitanya. Maka itulah disebut benda laknat Salahkanlah Pain yang mungkin sengaja mengabadikan momen itu hanya untuk kenang-kenangan dengan tujuan mempermalukan mereka di masa tua nanti.

.

.

.

Mumpung libur jadi hanabi sengaja publish 2 chapter sekaligus, tapi mohon maaf bila tak sesuai harapan pembaca.

RnR Doumo Arigatogozaimasu