Naruto © Masashi Kishimoto
Story © KawaiiHanabi
It Started With A Kiss
Sasuke X Sakura
"Apa aku perlu menceritakan mantan tunanganku pada orang asing yang tak jelas asal-usulnya? bahkan sembunyi dari masalahnya, dia memang seorang pecundang kan Haruno Sakura?
1 hal dalam benak Sakura saat ini 'kenapa Sasuke... tahu semuanya...'
Cepat-cepat Sakura menghapus air matanya sebelum Naruto dan Hinata yang tengah sibuk mengusir orang kepo yang mengerumuni mereka tahu ia habis menangis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gosip
Gosip
Gosip
Berkat pertengkaran mendadaknya dengan Uchiha Sasuke tempo hari membuatnya kembali menjadi bahan obrolan. Bukan hanya bahan obrolan saja, tapi juga bahan ledekan terutama si pemimpin UFF Karin yang semakin memanaskan suasana.
'Memangnya siapa dia berani menduakan Uchiha-sama'
'Model tak tahu diri'
'Sudah untung Sasuke-kun mau dengannya'
'Sasuke-kun tak pantas untuknya.'
'Tukang selingkuh.'
Pertengkarannya dengan Sasuke dikantin membuat para UFF geram pasalnya mereka tak terima dengan ucapan Sakura dikantin waktu itu. Hey, apakah para UFF selebay itu? Sebenarnya tidak jika ketua mereka tak mendramatisir ceritanya.
Sakura yang kini tengah sibuk keluar masuk ruang guru demi mengurus keperluannya merasa sedikit tertanggu dengan para UFF, apalagi jika hal itu sampai masuk media massa, jangan lagi karena nanti Orochimaru-sama akan menyemprotnya.
"Sakura -san." Tegur seorang guru bermasker saat Sakura hemdak keluar dari ruangan.
"Ya?"
"Bisakah kau panggil Uchiha Sasuke kemari?" Ucap Si Guru bermasker itu dengan wajah lempeng. Sepertinya dia tak tahu apa yang terjadi di sini .
'Kau menyuruhku memanggil siapa? Sasuke? Sensei memang tidak peka atau memang tidak tahu sih ' Gerutu batin Sakura.
Sejak kejadian dikantin itu Sakura tak pernah bertemu lagi dengan Sasuke secara langsung.
"Maaf sensei tapi aku tidak melihat Uchiha-san. " balas Sakura.
Si guru bermasker itu diam sejenak "kalau begitu hubungi saja."
"Ha'i?" Sakura mengerutkan keningnya heran. Bertemu saja dia mengelak, apalagi menghungi Sasuke. Kakashi sensei memang tidak peka. Pikir Sakura.
Untunglah dewi fortuna berpihak padanya, emeraldnya menangkap Naruto sohib Sasuke sebut saja begitu hendak menyapa nya dan Kakashi sensei.
" Konichiwa Sensei, Sakura-chan." Ucapnya.
Otak Sakura bergerak cepat, supaya Naruto saja yang memanggil Sasuke bukan dia.
"Ano, sensei kan Naruto kemana-mana pasti bareng Sasuke, jadi suruh dia saja ya, maaf aku masih ada urusan, jaa ne Naruto-kun!" Ucapnya sembari berjalan menjauh dari Kakashi dan Naruto.
Kakashi menghela nafas pelan, Naruto heran . "Kakashi sensei?" Tegur Naruto "apa perlu sekarang aku... "
"Ahh, padahal aku kepo sekali dengan hubungan mereka." Dengan secepat kilat Kakashi mengetik sesuatu diponsel miliknya.
"Harus update." Sambung Kakashi disertai mata yang terlihat berkilat. Naruto Sweatdrop dibuatnya . Ia tak menyangka guru yang terkenal killer begitu kepo dengan hubungan pairing tercinta kita ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura terlihat berjalan tergesa-gesa melewati gerbang KIHS sembari menggendong tas punggung pink yang berwana sama sengan rambut indahnya yang sengaja ia gerai.
"Selamat." Ujarnya sembari menaiki taksi kosong yang sudah ia pesan tadi. Ia bersyukur tak jadi memanggil Sasuke tadi. Jujur Saat ini ia masih malas bertemu dengan kekasihnya itu.
"Mau kemana nona?" Ucap si supir taksi dengan nada yang ramah.
"Himawari kafe paman." Balas Sakura
Sakura memutuskan bersantai di Himawari kafe, tempat dimana ia menolak Lee, dan tempat dimana ia pertama kali berkencan dengan Sasuke.
Ngomong-ngomg soal Sasuke, sebenarnya membuat Sakura kepikiran, maksud perkataan Sasuke waktu itu jelas-jelas ia tak pernah menyinggung masalahnya, kecuali soal perjodohan. Hanya ada dua kemungkinannya Sasuke memang tahu atau Sasuke menebak semuanya.
Taksi yang ia naiki berhenti tepat di himawari kafe, rencananya ia mau menikmati waktunya dengan minum coffe dan membaca beberapa novel disana.
Saat memasuki pintu cafe, para pelayan berkostum maid itu tersenyum ramah padanya, mempersilahkannya duduk di tempat yang sama saat ia datang bersama Sasuke dulu.
Tangan kurus Sakura menelusuri buku menu. Bibir tipisnya merapalkan apa yang ia pesan, si pelayan mengangguk dan segera pergi membawa pesanannya.
"Mungkin dengan secangkir Vanilla latte bebanku bisa berkurang." Ujar Sakura.
.
.
.
.
.
.
.
Hampir 2 jam Sakura duduk menghabiskan waktu dengan membaca novel, secangkir vanilla latte telah habis diminumnya.
"Maaf boleh aku duduk disini." Ujar seseorang yang tenfah berdiri si hadapan Sakura.
Sakura mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah ia baca lalu menoleh pada orang itu .
"Tentu..." Emerald Sakura menatap iris yang sama sengan miliknya. Ia kaget. "Saja... kaa...-sama." Bertemu dengan seseorang yang selama ini ia hindari.
.
.
.
.
Sakura kini tengah duduk didepan ibunya dengan wajah menunduk, Mebuki nama wanita itu mulai membuka percakapan diantara mereka.
"Hisashiburi na Sakura." Ujarnya namun Sakura masih diam tak menyahut ibunya.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu." tambah Mebuki.
Tangan Sakura mencengkram rok seragamnya dengan erat. Telinganya terus mendengarkan perkataan ibunya.
"Kau tahu, kami mengkhawatirkanmu . Kau pergi tanpa kabar, lalu tiba-tiba Lee memutuskan peerunangan kalian, kau membuatku semakin khawatir." Mebuki menyentuh pipi Sakura lembut, Sakura tertawa miris mendengarnya.
"...Khawatir? Khawatir dengan pertunangan yang gagal?"
"Kami hanya ingin kau bahagia Sakura, kau harus mengerti." Mebuki mencoba meraih tangan Sakura yang sedari tadi di kepalnya.
"Bagaimana aku mengerti jika kau tak pernah jujur padaku?!" Ucapnya setengah berteriak. "Kau ingin aku segera menikah karena tak sayang lagi padaku kan? " lirihnya.
Mebuki mengenggam erat tangan putri semata wayangnya itu. "Kau harus mengerti Sakura ini semua demi kebahagiaanmu."
"Kebahagiaan? Menikah dengan paksaan tak akan membuatku bahagia." Sakura mengangkat wajahnya yang telah basah karena air mata. "Awalnya aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti tapi, semakin lama Kaa-sama semakin keterlaluan." Mebuki diam mendengarkan "Ku kira kaa-sama mengerti jika aku sengaja pergi saat bertemu mereka tapi kau malah terus mengenalkanku pada banyak pria seolah-olah aku ini barang dagangan." Lirih Sakura.
"Ini demi kebaikanmu Sakura.." Yang benar saja sedari tadi Mebuki mengatakan demi kebaikan, tapi tak pernah menjelaskan alasannya.
"Ayahmu... dia yang memintaku untuk menjodohkanmu.." emerald Sakura menatap Mebuki yang belum melanjutkan kata-katanya.
"Ayahmu sakit, selama ini kami selalu meninggalkanmu untuk berobat, ayah tak mau kau kesepian maka itu.. " Mebuki menggantung perkataanya dan kembali menggenggam lengan putrinya. "...dia ingin kau menikah. Ia juga berpikir kalau terjadi sesuatu padanya, dia bisa mempercayakan anaknya pada suamimu Sakura ."
Sakura terkejut mendengarnya, selama ini ayahnya sedang sakit dan ia tak pernah mengetahuinya, lelucon apa yang mereka buat sekarang!
"Kenapa...Kaa-sama..."
"Ini semua peemintaan ayahmu Sakura, maafkan kan kami." Sakura kembali menangis dalam diam ia tak menyangka kenyataannya akan seperti ini, Sasuke memang benar, ia lari dari masalahnya.
"Karena kau sudah tau yang sebenarnya, kami tak akan memaksamu bertunangan lagi, dan Pemuda itu juga sudah menjelaskan semuanya." Mebuki berdiri hendak pergi dari tempat duduknya.
"Kenapa, kenapa perkataan Kaa-sama membuatku semakin bersalah . Sasuke benar aku..." Mebuki memeluk putri kecilnya ia mengelus surai pink milik Sakura sayang.
"Kau tidak salah, Kaa-san yang salah karena sudah berbohong, sekarang kita pulang ya?" Sakura mengangguk dalam dekapan Mebuki.
.
.
.
.
.
.
.
Ditempat lain, tepatnya di KIHS seorang pria dengan rambut fenomenalnya terlihat celingak-celinguk mencari seseorang.
"Kau mencari siapa?" Tanya Naruto yang entah datang darimana membuat Sasuke nama pemuda itu kaget tapi ia maaih saja mempeetahankan wajah stoic miliknya.
" tak ada. " balasnya singkat, memang sangat Uchiha.
"Kalau kau mencari Sakura-chan dia sudah pergi tadi. "
Sasuke mengerutkan keningnya. Jadi gadis merah jambunya memang menghindarinya ya.
"Dan sepertinya dia menghindarimu." Bahkan Naruto pun menyadarinya.
"Itu haknya." Ucapnya mengangkat bahu, entah kenapa Sasuke terlihat acuh tak peduli.
"Hey, Sakura-chan memang salah berkata seperti itu kemarin."
"Hn."
"Tapi kau tak boleh terlalu berbuat seperti ini pada kekasihmu."
"Hn."
"Ini hanya tebakanku saja Sakura-chan berbuat seperti itu karena dia kecewa kau tak pernah menceritakan soal masa lalu mu, pelukan dan pertunangan apapun itu, tapi ku harap kalian bisa menyelesaikannya." Ucapan Naruto memabg bijak dan ada benarnya.
"..."
"..Sakura-chan berbuat seperti itu karena dia mencintaimu teme, kau beruntung memiliki pacar sepertinya." Naruto menepuk pelan bahu Sasuke lalu berjalan mendahuluinya.
Sasuke tersenyum tipis mendengar Nasihat sahabat karibnya itu, Naruto benar Sasuke memang agak keterlaluan namun ini demi kebaikan Sakura, jadi mau tidak mau ia harus melakukannya. Seperti yang diucapkan tadi perkataan Naruto memang benar tapi tak semuanya perkataan itu benar.
'dia memang peduli tapi dia tak mencintaiku.'
.
.
.
.
.
.
.
Sakura sampai di depan apartemen milik Sasori , kini masalah dengan ibunya telah selesai, Mebuki meminta Sakura kembali ke Fukouka bersamanya tapi Sakura menolak karena sebentar lagi ia akan lulus. Mebuki tak melarang Sakura karena ia sudah berjanji tadi.
"Aku pamit pergi dulu Kaa-sama." Ucap Sakura sambil tersenyum menatap ibunya.
Namun sebelum tangan kuris Sakura hendak membuka pintu mobil, Mebuki menahannya.
"Padahal kaa-san masih merindukanmu. " lirihnya.
"Aku akan sering menghubungi Kaa-sama." Mebuki tersenyum hangat.
"Nee, Sakura sepertinya dia pemuda yang baik. " Sakura tersenyum menanggapi pernyataan ibunya.
"Ya, dia memang pemuda yang baik." Sasuke dia memang pemuda yang baik dimata Sakura, walau kadang Sasuke sering menjahilinya habis-habisan . oh Sakura juga harus berterimakasih pada Sasuke karena berkat Sasuke lah dia sadar akan kesalahannya selama ini.
"Sayangnya dia memiliki kehidupannya sendiri." Gumam Sakura pelan.
Mebuki kembali tersenyum "apa kau mencintainya?" Pertanyaan Mebuki sontak membuatnya terkejut Mencintai seorang Uchiha Sasuke tentu saja tak pernah terpikirkan olehnya. Hubungan yang selama ini ia jalin tidak didasari cinta tapi karena kebutuhan.
Jujur, harusnya ia senang hubungannya akan segera berakhir karena ibunya tak memaksa Sakura untuk melakukan perjodohan, Sakura juga senang tak lagi berurusan dengan Uchiha Sasuke yang menyebalkan. Tapi disisi lain ia merasa nyaman dengan Sasuke dan sikap menyebalkannya itu, entah kenapa ia jadi tak rela mengakhiri hubungan palsunya dengan Sasuke. Apa mungkin ia... mencintai Sasuke?
Apa ia akan terjebak dalam permainan bodohnya sendiri?
.
.
.
.
.
.
TBC
Balasan Review (Login? Cek PM yaa)
nb:Mohon maaf jika ada yang kelewat:(
zarachan : Sudah lanjut, mohon maaf jika chapter kali ini kurang memuaskan:(
dina uchiha : Sudah lanjut :) Terimakasih sudah mau membaca ISWAK
Nacky Cherryryu : Terimakasih atas sarannya, emang kesannya Sasuke OOC disini, tapi hanabi sengaja bikin Sasuke OOC kalau sama Sakura hehe.
Lynn : hanabi juga ga mau bikin scene gitu, tapi mau gimana lagi:( terimasih telah membaca ISWAK :)
rara : hanabi juga kalo jadi reader bt liat kata TBC tapi kalo lagi nulis terus mentok terpaksa harus nyantumin TBC hehehe .
A/N Sekali lagi terimakasih telah mem fav/follow Review It Started With A Kiss, mohon maaf
jika chapter ini kurang memuaskan, jujur hanabi ngedadak bikin chapter 6 ini karena sibuk sama tugas ditambah galau nentuin jurusan buat kelas dua nanti :( keteteran asli! Untuk kedepannya hanabi bakal coba buat Chapter yang kebih baik lagi , jadi mohon dukungannya ya. RNR :)
Doumo Arigatogozaimashita
RnR
