Naruto © Masashi Kishimoto

Story © KawaiiHanabi

It Started With A Kiss

Sasuke X Sakura

NB: chapter ini bukan kelanjutan dari chapter kemarin,tapi bagi yang kepo siapa itu Saara dan hubungannya dengan Sasuke dimasa lalu dianjurkan untuk membaca✌.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Omatase Sasuke." Ujar si gadis pink sambil berlari-lari kecil melambai pada pemuda berambut raven di ruang tunggu.

"Hn." Balas Sasuke, tangan kekarnya mengasongkan sebuah dompet berwarna peach .

"Arigato ." Sakura segera memeluk dompet miliknya yang tadi tertinggal disekolah. Untunglah sang pacar Uchiha Sasuke yang saat itu masih ada disekolah mau dimintai tolong untuk mengantarkannya ke Oro agensi.

"Nah, karena urusanku sudah selesai dan kau telah berbaik hati mau mengantarkan dompetku, aku akan mentraktirmu!" Serunya sembari menarik Sasuke dari ruang tunggu yang sepi.

Mereka berdua berjalan bergandengan ah lebih tepatnya Sakura yang menyeret Sasuke sepanjang jalan, Sasuke yang tak bisa mengelak hanya bisa memutar matanya bosan diseret kekasih pinknya.

"Kau mau makan apa?"

"..."

"Kedengarannya ramen enak ayo." Sakura segera menarik Sasuke kekedai ramen tanpa permisi.

.

.

.

.

.

"Itadakimasu." Ucap Sakura didepan semangkuk ramen yang terlihat sangat menggiurkan itu.

Mereka makan dengan keadaan Sakura yang terus mengoceh dan Sasuke yang diam tak menanggapi. Sakura kesal? Tidak dia sudah kebal, seiring dengan berjalannya waktu ia tak lagi kesal dengan watak Sasuke yang jarang menanggapi ucapannya meski sudah membeo panjang lebar.

Usai mengisi perut mereka dengan ramen, sepasang kekasih itu kembali melanjutkan -kencan bagi Sakura- acara jalan malam mereka menelusuri ramainya kota.

Dua pasang kaki itu berhenti setelah melihat taman kota dan memutuskan untuk duduk sebentar dan bercuap-cuap ria.

Mereka berdua -Sakura lebih tepatnya- memilih duduk di bangku taman depan sebuah kolam ikan. Ia ingin melihat ikannya pinta tidak menolak meski dia tahu mustahil melihat ikan dengan jelas dimalam hari. Jadi kenapa kau tak menolaknya Sasuke? Jangan-jangan kau tak mau kalau Sakura melepaskan genggaman tangannya ya?

"Lho kok tak ada. " ujar Sakura yang berdiri memegang pagar pembatas kolam.

Sasuke memutar bola matanya, dan menghela nafas. Sakura itu memang kadang urakan tapi dia juga bisa terlihat seperti gadis kelewat polos yang tengah menunggui ikan-ikan yang naik kepermukaan di malam hari yang gelap.

"Tidak kelihatan Sakura, ini sudah malam."

"Eh? iya ya." Sakura tertawa dengan perbuatannya sendiri lalu menghampiri Sasuke .

Ia mendudukan dirinya tepat disamping Sasuke. "Pasti menyenangkan kalau datang disiang hari."

Sasuke diam tak menanggapi. "Jadi teringat kencan pertamanya Hinata dan Naruto. Jatuh cinta ditempat ini. " tambah Sakura.

"Hn?"

"Hey Sasuke ngomong-ngomong soal jatuh cinta. Apa kau pernah berkencan dengan seseorang?"

"Pernah."

Sakura sempat kaget, jadi Sasuke juga pernah berkencan dengan orang lain. "Benarkah? Siapa gadis yang mau berkencan dengan pria sepertimu?"

"Kau. "

Aduh Sasuke kau membuat Sakura blushing, sayangnya Sasuke saat ini tak memerhatikan Sakura karena ia memang sedang jujur dan tak berniat menjahili Sakura , kalian tahu kan Sasuke jahil mode on itu seperti apa?

"H-hhaha, kau benar sih tapi maksudku kencan dengan gadis selain aku."

"Tak ada. "

Sakura mengedipkan matanya beberapa kali lalu kembali bertanya pada Uchiha bungsu ini. Entah kenapa bukannya menyerah setelah melihat sikap masa bodoh Sasuke ia semakin ingin mengorek masalalu Sasuke.

"Bagaimana dengan cinta pertama?"

Sasuke menatap Sakura dengan tatapan kenapa-tiba-tiba-bertanya-begitu

"Setiap orang pasti memiliki cinta pertama kan seperti aku? Kau pasti juga pernah mengalaminya." Jelas Sakura.

Sasuke menghela nafas lalu menyandar dibangku taman. "Kenapa kau tak menceritakan siapa dia?"

Sakura paham Sasuke bertanya siapa dia maksudnya itu cinta pertamanya Sakura. "Baiklah kalau kau memaksa." Hey Sasuke tak memaksa ia hanya mengalihkan pembicaraan Sakura kau harusnya mengerti!

" Aku... dia seorang pria. Dia mungkin dingin tapi dia baik hati dan suka membantu. Dibalik sifat kasarnya dia itu penyayang dan perhatian. Keluarganya juga baik. Meski kadang dia menyebalkan tapi aku akui dia itu pria yang sangat tampan dan cerdas." Ujar Sakura dengan wajah yang agak bersemu merah.

Sasuke tersenyum tipis mendengar pernyataan Sakura. " Bagaimana denganmu? Seperti apa cinta pertamamu Sasuke?" ujar Sakura kembali.

"Tak ada."

Sakura mengerutkan keningnya bingung. "Maksudmu kau tak pernah jatuh cinta?"

Sasuke berdiri memebelakangi Sakura. "Bagiku cinta pertama itu... kebohongan. "

" kau jangan bercanda, kalau aku tak salah tebak cinta pertamamu itu Saara ya? Soalnya difoto kalian terlihat dekat sekali.. aku jadi..." Sasuke memotong perkataan Sakura tepat sebelum ia mengatakan kata terakhirnya.

"Kita pulang."

Sasuke berjalan meninggalkan Sakura yang masih duduk dibangku -cepat Sakura menyusul Sasuke yang kini sudah ada di dekat jalan dengan taksi disampingnya.

"Heyy, Sasuke! Apa salahnya sih bercerita padaku!" Teriaknya.

Sasuke mendorong pelan Sakura masuk kedalam taksi.

" Konoha House. " ujarnya pada si supir taksi lalu menutup pintunya pelan.

"Sasuke heyy!" Si Taksi itu melaju meninggalkan Sasuke.

"Kau tak mengerti."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sasuke memutuskan untuk kembali ketaman, ia berdiri didepan pagar pembatas kolam. Seperti halnya Sakura tadi memerhatikan ikan-ikan dimalam hari -konyol memang bukan Uchiha sekali-, dan air kolam yang sedari tadi ia amati menampakan bayangan dirinya karena pantulan cahaya lampu itu mengingatkannya kembali pada masalalu yang sudah ia kubur dan mungkin sudah ia lupakan. Masa lalunya tentang cinta pertama. Cinta monyetnya semasa SMP...

Memang indah didengar bagi kalian, perasaan cinta yang pertama kali dirasakan pada lawab jenis, pasti penuh dengan bunga. Namun siapa sangka hal ini tak berlaku bagi sibungsu Uchiha. Baginya cinta pertama itu...

.

.

.

...sebuah kebohongan

.

.

.

Flashback

Seorang gadis kecil bersurai merah nampak malu-malu dibelakang Sang ayah tercinta. Mata indahnya berputar mengamati ruangan tempat ia berada saat ini, tak ketinggalan pula orang-orang disekelilingnya. Ayahnya, teman ayahnya yang sudah ia kenal Uchiha Fugaku ji-san, istrinya yang cantik Uchiha Mikoto ba-san dan 2 pria yang nampak asing, pria dengan rambut hitam agak panjang dan pria dengan model rambut mencuat.

"Saara-chan kenalkan ini putraku yang pertama Uchiha Itachi umurnya 9 tahun, dan ini Uchiha Sasuke umurnya 5 tahun ." Jelas Mikoto.

"Itachi-kun, Sasuke-kun Saara itu hime-sama lho. Jadi kalian sebagai kesatria harus melindunginya ya. " Tambah Mikoto. Itachi dan Sasuke menjawab dengan penuh antusias.

Duo ksatria Uchiha itu menghampiri Saara yang masih bersembunyi dibelakang ayahnya.

"Hai, namaku Itachi mau bisa panggil aku Itachi-nii " Sapa Itachi

"Namaku Sasuke, Uchiha Sasuke." Timpal Sasuke, mereka berdua mengulurkan tangannya pada Saara dan dengan senang hati ia meraih kedua tangan itu walau masih malu-malu.

Seiring berjalannya waktu dua ksatria dan tuan puteri itu semakin akrab. Mereka sering menghabiskan waktu bersama mulai dari menghabiskan akhir pekan bersama, bertukar cerita dan hal lain yang anak-anak seumurannya lakukan.

9 tahun lamanya mereka bersama, kini usia mereka tengah memasuki masa remaja Itachi yang makin dewasa di usia 18 tahun, Saara berusia 16 tahun dan Sasuke di akhir masa SMPnya berusia 14 tahun. Masa remaja, masa dimana seseorang sudah mulai menyimpan perasaan pada lawan jenisnya masing-masing. Masa dimana mereka menikmati hari penuh bunga sebagai remaja yang bahagia. Tapi akankah hal ini berlaku bagi ketiga org tadi?

"Sasuke, Apa yang Itachi-nii Sukai? "

"Sasuke, menurutmu -nii suka tidak?"

"Sasuke, Itachi-nii ada dikamar?"

"Sasuke, Itachi-nii kemana?"

"Sasuke,..."

"Itachi-nii itu..."

"Itachi-nii... "

"Boleh tidak ya sesekali memanggilnya Itachi-kun."

"Itachi-kun."

Itachi Itachi Itachi entah apa yang ada dibenak Sasuke tapi setiap kali Saara datang menemuinya ia oasti hanya membahas Itachi dan bukan Sasuke. Meski Sasuke tanya pada Saara kenapa Ia pasti menyangkalnya dengan wajah memerah dan sudah pasti ada hal yang disembunyikan dari Sasuke. Kenyataan bahwa Saara tertarik pada kakaknya Uchiha Itachi.

Sasuke ingat betul saat Saara gadis itu mengklaim bahwa Sasuke hanya miliknya seorang didepan gadis cilik yang terus mengajaknya bermain bersama.

"Hey, Sasuke itu hanya boleh bermain denganku karena dia ksatria hitamku."

Sasuke sempat tertawa geli mengingatnya, betapa bodohnya dia waktu itu. Itu kan hanya ucapan anak kecil yang belum mengerti apa-apa.

Dengan mudahnya ia mempercayai dan terus mematuhi pernyataan itu layaknya perintah sampai saat ini, Inilah batasnya ia sadar kalau selama ini ia memendam rasa pada tuan puteri itu tapi ia mengurungkan niatnya untuk mengakui perasaan ini karena Tuan puteri itu jatuh cinta pada si ksatria putih yang tak lain adalah kakaknya sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Itachi-nii aku... aku menyukaimu." Sayup-sayup Sasuke mendengar suara Saara di taman belakang keluarga Uchiha, ia juga melihat sang kakak yang menjadi lawan bicaranya Saara. Bisa disimpulkan bukan Saara menyatakan cinta pada Itachi didepan Sasuke yang nyatanya menyukai Saara.

Itachi tersenyum mendengarnya. "Aku juga menyukaimu..." balas Itachi "...aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi Sasuke."

"Ta-tapi kak, maksudku bukan..." elaknya. Itachi memegang bahu Saara dan menatap matanya meyakinkan "Terimakasih,maaf tapi jika itu yang kau maskud mungkin perasaanmu sama seperti Sasuke. "

Mata Saara berkaca-kaca mendengar penolakan tak langsung Itachi. Wajahnya mengadah balik menatap Itachi meminta penjelasan . "Maksud sama seperti Sasuke apa? "

Itachi melepaskan pegangannya pada bahu Saara lalu berbalik kearah pintu masuk. "Bisa kau jelaskan untukku Sasuke?"

Itachi tahu sedari tadi Sasuke diam dibalik pintu dan tak sengaja menguping pembicaraan 2 gender beda usia itu. Sasuke memilih keluar dan menampakan dirinya didepan Itachi dan Saara.

"Mari kita perjelas, Saara-chan perasaanku padamu itu sama dengan perasaanku pada Sasuke, dan Perasaanmu padaku itu sama halnya seperti perasaan Sasuke padamu. Aku menegaskannya karena aku tak mau menghianati kekasihku dan adik-adikku ini." Jelas Itachi sembari tersenyum .

"Saa-..." Seperti dugaan Sasuke, Saaea tak mau mendengarnya, Ia memilih masuk kedalam, samar Sasuke mendengar isakan kecil keluar dari bibirnya.

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa hari setelah kejadian itu Itachi membawa seorang gadis cantik bersurai coklat bernama Hana, Itachi mengenalkan Hana sebagai kekasihnya di hadapan keluarga Uchiha, hal ini sontak membuat sang Ibu senang, jarang-jarang Itachi membawa seorang gadis kerumahnya. Respon baik juga terlihat dari para Uchiha lainnya tapi tak terlalu nampak seperti Mikoto. Senang? itu respon keluarga berbeda dengan Saara -yang kebetulan masih menginap dikediaman Uchiha- melihat kemesraan pasangan ItaHana membuatnya marah dan sedih. Ia beranjak dari ruang keluarga Uchiha menuju taman, Sasuke yang sudah menyangka ini terjadi diam-diam mengekori Saara.

"Hiks...Hiks.. " Saara terisak ditaman belakang tempat ia menyatakan perasaannya pada Itachi tempo hari.

"Kenapa bukan aku...hiks..padahal aku lebih cantik...hiks...aku seorang putri kenapa bukan aku!" Ucapnya setengah berteriak. Sasuke yang sedari tadi mengamati langsung menghampiri Saara setelah mendengar ucapannya yang terdengar kesal.

"Saara-nee..." lirihnya, Saara menoleh menghapus air matanya.

"Jelaskan padaku Sasuke. Kenapa Itachi-nii tidak menyukaiku?! Apa kekuranganku!" Ujarnya sembari memegang bahu Sasuke.

"Saara-ne... orang baik... kau juga cantik dan pintar.." Sasuke jujur.

"Kalau begitu kenapa Itachi tak pemandangku? Beritahu aku Sasuke... bagaimana caranya agar dia memandangku." Saara kembali mengguncang bahu Sasuke seolah tak sabar menerima jawaban. Hati Sasuke sedikit sakit mendengarnya apa sebegitu besar cintanya pada Itachi sampai berperilaku seperti ini?

"Lupakan dia Saara-nee." Lirih Sasuke.

Saara tertawa mendengarnya. "Kau pikir segampang itu melupakannya? Dia cinta pertamaku! Ahh benar anak kecil sepertimu mana mengerti." Saara melepaskan pegangannya pada bahu Sasuke lalu berbalik membelakanginya.

"Kau tak berguna lagi Sasuke. Aku akan mendapatkan apa yang aku mau."

Sasuke tersenyum miris. "Anak kecil? Tak mengerti apa-apa? Tak berguna? Selama ini kau anggap aku apa?" Sasuke meluapkan semua perasaan yang selalu ia tahan saat itu juga. Ia sudah tak peduli bagaimana tanggapan Saara . Ia sudah muak.

"Kau pikir bagaimana perasaanku saat kau bertanya dan terus membicarakan Itachi Itachi dan Itachi! Bagaimana perasaanku saat kau bilang menyukai Itachi didepan pria yang mencintaimu !" Saara berbalik dan mengerutlan keningnya. "Apa maksudmu?" Tanyanya.

Sasuke menatap langit sejenak. "Kau tak pernah memandangku ya?..." onyx sekelam malam miliknya memandang manik Saara "Aku menyukaimu Saara- nee! " teriaknya. "Sekali ini saja... lihatlah aku.."

Manik Saara sempat membulat mendengar pernyataan Sasuke barusan. " Jangan bercanda Sasuke! Kau masih bocah SMP dan berani menyatakan cinta padaku!" Bentaknya.

"Aku serius Saara-nee! Meski masih bocah tapi aku juga punya perasaan!" Belanya.

" cih, kau tak tau apa yang kau katakan." Ujar Saara, gadis itu melangkahkan kaki menuju pintu masuk kediaman Uchiha. Sasuke masih belum menyerah.

"Menikahlah denganku setelah aku lulus kuliah Saara-nee!"

Saara berbalik menatap Sasuke. " Sepertinya kau salah pengertian Sasuke, selama ini aku baik padamu karena kau adik Itachi. Aku tak pernah menganggapmu sebagai seorang pria."

Sasuke diam. "..."

"Kau mengerti kan maksud ksatria hitam? Aku menganggap ini tak pernah terjadi. Oyasuminasai Uchiha Sasuke." Saara memasuki kediam Uchiha, meninggalkan Sasuke dengan sebuah penolakan besar yang baru ia lontarkan barusan.

Suatu kesalahan besar yang Uchiha Sasuke lakukan. Sebuah pengakuan berujung penolakan. Selama ini Sasuke baru menyadari 'ksatria hitam' yang Saara maksud bukan seseorang yang spesial, Ia hanya bayangan layaknya pemeran pengganti saat sang aktor utama tak bisa melakukan adegan berbahaya. Saara hanya menganggapnya sebagai pengganti Itachi. Menyakitkan memang tapi inilah kenyataan bagi Sasuke . Dirinya lah yang bodoh selalu berharap jika sang Tuan Puteri akan hidup bahagia bersama Ksatria Hitam meski ia tahu kenyataan tak akan sama dengan harapan yang ia miliki. Sejak saat itulah Sasuke mulai memendam kenangan pahit tentang cinta pertama . Seperti Ucapannya kini.

"Baginya Cinta pertama adalah sebuah kebohongan"

END of Flashback

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seorang pemuda berambut raven masih memandangi kolam ikan yang terkena pantulan cahaya dari lampu taman. Memori ingatannya masih memutar sebagian kenangan masalalunya.

"Kau memang bodoh." Ujar Sasuke pada bayangan dirinya dikolam ikan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

OMAKE

Sakura gadis musim semi itu cemberut terpaksa masuk kedalam taksi. Si supir taksi dengan takut curi-curi pandang kearahnya. Sakura yang memergoki kegiatan itu melotot marah kearah si supir.

"Paman..." Desisnya dengan nada horor .

Si supir melirik lewat kaca spion, ia sempat merinding mendengar suara Sakura. "Kenapa paman menculikku..." desisnya lagi.

"No-nona aku tidak menculikmu, aku hanya mengantarmu.." jelasnya.

"Paman ..." Sepertinya supir taksi kita ini akan menjadi pelampiasan Sakura karena ulah Sasuke tadi. Well yang sabar ya paman. *berakhir dengan anehnya *

A/N ;

Konbanwa, Minna-san . Ogenki desu ka?

Baiklah, pertama-tama Hanabi minta maaf yang sebesar besarnya karena tidak update selama 2 minggu, Hanabi punya masalah pribadi yang bisa dibilang cukup rumit yang belum bisa diselesaikan,sekali lagi hanabi mohon maaf . komentar soal chapter ini? kedengarannya aneh dan kesannya mungkin agak lebay. tapi ini lah hasil pemikiran hanabi 3 hari terakhir. Dan terakhir untuk para Pembaca, Reviewers, yang udah Follow dan Fav ISWAK hanabi ucapkan terimakasih berkat kalian hanabi ada motivasi buat ngelanjutin ff ini .

NB: Untuk Chapter depan akan muncul konflik antara SasuSakuSaara lohh.

Doumo Arigatou Gozaimasu