Naruto © Masashi Kishimoto

Story © KawaiiHanabi

It Started With A Kiss

Sasuke X Sakura

.

.

.

.

.

Hari-hari akhir masa SMA kini tengah dijalani siswa-siswi KIHS. Setelah berperang selama 1 minggu lamanya dengan sesuatu yang mereka sebut ujian. Momok yang menakutkan bagi sebagian siswa, seperti Naruto yang kini terus mengoceh tak jelas dikantin ia merutuki soal Matematika buatan Kakashi-sensei yang sampai sekarang masih membuat kepalanya kleyengan tak karuan.

"Kalian tahu soal-soal itu membuatku pusing...bla..bla.. bla." Oceh Naruto panjang lebar seperti biasanya.

Kita lihat. Sang calon kekasih Hyuga Hinata mengelus punggung Naruto iba, Sakura menatap Naruto prihatin, sedangkan Uchiha Sasuke menghela nafas pelan karena bosan dengan tingkah laku sahabat seperjuangannya yang selalu mengeluh ketika selesai ujian.

"Na-Naruto -kun benar, soal matematika itu terkadang memang sering membuat sakit kepala." Ujar Hinata membenarkan curhatan Naruto tadi.

"Benarkan! Hinata-chan mengerti perasaanku. " Ujar Naruto dengan nada sedih.

"Memang benar, soal matematika yang satu itu memang mengerikan. Aku bahkan tak sanggup dengan hasilnya nanti. " Haruno Sakura bergidik ngeri.

"A-apa yang harus dilakukan supaya Naruto-kun tidak pusing lagi?" Tanya Hinata.

"Lupakan saja, jangan terlalu dipikirkan." Usul Sakura sembari meneguk jus stroberi miliknya.

Hinata mengangguk setuju. Melupakan soal ujian itu kan hal yang mudah. Orang lain saja bisa masa Naruto tidak? Pikirnya.

"Mungkin...berkencan dengan Hinata-chan akan membuat pusingku hilang. " Ucap Naruto ditambah cengirannya yang khas. Hinata merona dibuatnya, Sakura cengo.

Ternyata...

"Modus." Uchiha Sasuke memang tahu tabiat buruk sahabatnya, mendramatisir suatu hal untuk maksud tertentu, salah satunya ini pura-pura pusing karena soal ujian ditambah topeng anak kucing terlantar miliknya dengan tujuan mengajak Hinata berkencan. Cara yang tak elit memang tapi mungkin cara ini lebih baik dari pada Uchiha Sasuke yang tak pernah mengajak Sakura kencan. Iya kan Sasuke? Tak perlu malu-malu kucing gitu, jujurlah dengan perasaanmu sendiri meski itu cuma secuil.

"Na-naruto-kun." Hinata yang malu diperhatikan memukul pelan bahu Naruto.

"Sakit..." adu Naruto dengan nada yang dibuat-buat.

"Jangan Lebay!" Seru Sakura. "Kalau kalian mau berkencan kan tinggal pergi saja toh ujian juga sudah selesai."

Naruto menghela nafas. "Bukan soal itu..."

"Neji Nii-sama memberiarkan aku pergi sendirian." Sakura mengangguk paham. Kalau ia tidak salah, dulu Neji juga sempat ikut NaruHina berkencan kan? Bisa Sakura simpulkan Neji itu mengidap Siscon akut.

"Ah...bagaimana kalau kalian berdua juga ikut. Kan Sakura-chan bilang mengenal dekat Neji-nii, mungkin ia tak akan mengganggu kencan kami kali ini. " Seru Naruto dengan nada yang sangat antusias.

Sakura mengangguk setuju. "Boleh, iyakan?" Iris emerald Sakura menatap Sasuke berbinar menunggu jawaban.

"Apa?"

- ini dia, ketidakpekaan Sasuke yang harus dibasmi. Apa Sasuke harus bertransformasi menjadi puteri malu agar selalu peka terhadap rangsangan? Jawabannya pasti kalian tahu, MUSTAHIL.

Haruno Sakura mengedipkan mata tanpa henti mencoba bersabar.

"..."

"...hn, kau boleh pergi."

Hanya itu tanggapan yang Sasuke berikan. Yang ada dibenak Sasuke Sakura meminta ijin untuk menemani NaruHina ah maksudnya mengusir pengganggu hubungan Naruto dan Hinata yang tak lain adalah Neji Hyuuga saat mereka berkencan , sedangkan maksud Sakura adalah mengajak Sasuke ikut berkencan. Tapi jika dipikir-pikir Sasuke pasti menolak, kenapa? Karena masih ada hal yang lebih penting untuk dikerjakan selain menjadi tim sukses kencan NaruHina ini.

"O-oh baiklah." Abaikanlah ini. Sakura sudah terlanjur malas melanjutkan pembicaraan ini, ia lebih memilih mengalihkannya ke topik yang lain.

"Nee, apa yang akan kalian lakukan selepas kelulusan nanti?" Berterimakasihlah pada Naruto yang selalu peka disetiap keadaan.

"Entahlah, mungkin kuliah ." Jawab Uchiha Sasuke acuh.

"Aku dan Hinata juga rencananya begitu. Lalu bagaimana denganmu Sakura-chan?"

" E-eh, mungkin aku akan pindah ke Fukouka ." Jelas Sakura, tak lupa emerald nya sesekali curi-curi pandang kearah Sasuke, ia ingin tahu apa reaksi Sasuke jika ia akan pindah .

- Dan ternyata, sifat acuh tak acuh masih melekat kuat pada diri Uchiha Sasuke.

"Benarkan? Apa yang akan kau lakukan disana Sakura-chan Fukouka kan cukup jauh dari Tokyo bagaimana kau bertemu teme nanti?" Tanya Naruto penasaran.

"Aku akan kembali tinggal bersama orangtuaku. Soal itu bagaimana ya aku juga bingung hahaha." Balas Sakura dengan tawa yang terdengar dipaksakan.

Sekali lagi. Tak ada tanggapan yang berarti dari seorang Uchiha Sasuke. Hey Sasuke apa Sakura harus pergi dulu dari kehidupanmu baru kau akan jujur pada perasaanmu itu?

Uchiha Sasuke beranjak dari kursi yang sedari tadi ia tempati sambil menenteng sebuah buku bacaan. Sakura yang menyadari pergerakan Sasuke cepat-cepat menahan ujung seragamnya.

"Kau tak makan siang? " Tanya Sakura.

Ah ya. Saat ini jamnya makan siang di KIHS, Sakura baru menyadari kalau sedari tadi Sasuke tak memesan apapun di kantin.

"Aku membawa bento. " Ujar Sasuke sembari menatap Sakura yang kini masih memegang ujung seragamnya.

"Bento? Tumben biasanya kau lebih memilih makan disini daripada membawa bento." Timpa Naruto.

Sakura melepaskan pegangannya. Lalu menatap Sasuke seolah meminta penjelasan.

" Saara yang memaksaku membawanya. " Onyx Sasuke sejenak menatap malas Naruto lalu beralih menatap Emerald yang memandanginya seolah menuntut penjelasan. "Jangan memandangku seperti itu...baka." Ujar Sasuke sembari menggetok pelan dahi lebar Sakura dengan buku yang ia bawa.

Sasuke masih dengan wajah stoic tanpa dosa berjalan meninggalkan Sakura yang terbengong-bengong di kantin.

"It..itai." Jerit Sakura beberapa detik kemudian, Sasuke yang masih bisa mendengar suara cempreng gadis musim semi itu tersenyum tipis. Mungkin kini menggoda Sakura telah menjadi hobi barunya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tadaima." Baritone khas Sasuke terdengar dari pintu depan keluarga Uchiha. Dan tak lama suara lembut menyahut Sasuke.

"Okaeri Sasuke -kun." Balasnya. Sesosok wanita berambut merah darah, berpenampilan bak seorang IRT muda yang tengah menunggu kepulangan suami-eh kok jadi gini?

"Hn." Tak mau menanggapi lebih lanjut Sasuke pun memutuskan meninggalkan ruang utama menuju kamarnya. Namun sepanjang langkahnya ia merasa ada yang kurang, kemana yang lainnya? Oh benar Sang ayah dan Kakaknya Itachi jelas sedang bekerja dikantor lantas Mana Ibunya yang biasanya ikut menanggapi salam Sasuke?

"Kemana Ka-san? " tanya Sasuke.

Saara nama wanita itu menoleh tersenyum lembut. "Ah, beliau sedang keluar bertemu teman seangkatannya." Sasuke mengangguk paham. " Apa kau mau berendam sekarang? Aku bisa menyiapkan airnya." Tawar Saara, Sasuke menggeleng dan meneruskan langkah yang sempat tertunda menuju kamarnya.

Uchiha bungsu itu segera menghempaskan badan keatas ranjang tanpa mengganti seragam yang ia kenakan. Ia berbaring dengan kaki menggantung di tepi tempat tidur. Sejenak ia memejamkan matanya, mengambil nafas dan memikirkan hal yang menimpanya baru-baru ini.

Sejujurnya ia merasa tak nyaman dengan kedatangan Saara yang bisa dibilang tiba-tiba tanpa pemberitahuan dan maksud tertentu. Bukan hanya kedatangannya saja yang membuat Sasuke kurang nyaman, tapi sikapnya yang sekarang. Seingat Sasuke dulu Saara terlihat sangat membencinya dan memutuskan kontak selama hampir 3 tahun. Tapi sekarang dia datang dengam sikap yang bisa dibilang berubah 180 derajat kemana tatapan benci Saara yang dulu? Dan apa tujuan sebenarnya ia datang kembali ke kehidupan Sasuke? Untuk mencintainya? Jangan bercanda! setelah menolak secara mentah-mentah dan memutuskan kontak begitu saja , mana mau Sasuke kembali terjerumus dalam cinta butanya itu? Tidak kan? Kecuali jika Sasuke benar-benar sudah gila . Lagi pula sekarang kan ia memiliki Sakura. Ya meski hubungan dan perasaan mereka sampai saat ini belum jelas seperti apa tapi setidaknya Sasuke lebih nyaman dengan situasinya bersama Sakura.

Hentikan pikiran memusingkan itu Sasuke! -rupanya Uchiha bungsu kita ini sudah masuk dalam dunia mimpinya, ia terlelap dengan seragam yang masih melekat lengkap ditubuh atletis miliknya dan tak lupa tangan yang menutupi matanya saat tertidur.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kalian sudah berkerja keras. " Ujar Orochimaru pada anak-anak agensi pimpinannya.

Sakura tersenyum manis, dirinya masih dibalut kemeja kotak-kotak dan rok hitam diatas lutut bekas photo shoot untuk iklan terbarunya. Rambut pink sepunggunya dibiarkan berantakan supaya menambah kesan agak dewasa jauh dari kesan remaja unyu di sesi foto sebelumnya.

Sakura membungkuk sopan pada rekan kerjanya yang tak lain adalah salah vokalis band ternama di Konoha yang tengah naik daun. Mereka mempromosikan Smartphone keluaran terbaru yang mungkin sebentar lagi akan diminati para remaja .

"Otsukaresamadeshita Sabaku-san." Ucap Sakura dengan suara lembut miliknya.

Gaara tersenyum tipis. "Otsukaresama." Tadinya Gaara hendak mengajak Sakura Makan malam berbincang-bincang lebih lama lagi jika Sasori tidak memanggilnya dengan nada keras, dan bisa dibilang sangat...

"Sakura.."

-ampuh untuk membatalkan rencana Gaara mengenal Sakura lebih jauh lagi.

"Hai, Nii-san ada apa?" Tanya Sakura. Bukannya menoleh Sasori malah melemparkan kunci mobil kesayangannya pada Sakura.

"Bisakah kau pergi ke rumah Itachi dan bawakan beberapa file disana?" Ujarnya sembari sibuk berkutat dengan laptop miliknya. Entah apa yang sedang dilakukan pemuda berwajah baby face itu.

"Tapi Nii.." Sasori menoleh sembari mendesah lelah.

"Tolonglah aku sedang sibuk dan benar-benar butuh. Pergilah!" Mendengar ucapan Sasori barusan membuat Sakura segera berlari ke basement untuk mengambil mobil tanpa mengganti baju dan menghapus makeupnya.

"Apa tidak bisa kirim via email apa, ini kan sudah sore , dan lihatlah penampilanku sekarang! Bagaimana jika nanti Sasuke mengejekku lagi." Gerutu Sakura kesal diperjalanan menuju kediaman Uchiha. Ah - kalau diingat-ingat memang benar Sakura sempat diledek soal pakaian HipHopnya dulu dan itu semua berkat Sasori. Sekarang pun jika ia diledek lagi itu semua murni salah Sasori. Sekali lagi salah kakak sepupunya Akatsuna Sasori.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

From : Sasori Nii-san

To: Haruno Sakura

Aku sudah memberi tahu Itachi, kau tinggal ambil saja filenya.

Setelah mendapat pesan dari Sasori tanpa ragu-ragu Sakura memarkirkan mobil milik Sasori dikediaman Uchiha lalu segera turun dan menekan bel.

Ting tong

Tak lama kemudian munculah sesosok pemuda tinggi dengan senyum yang khas terpatri diwajahnya menyambut Sakura.

"Kau sudah datang Sakura-chan? Masuklah, ikut aku mengambil file yang Sasori minta kurasa cukup banyak. " Ujar Itachi kakak dari Sasuke sambil menuntun jalan Sakura.

Emerald Sakura nampak kebingungan karena mendapati mansion yang sepi. Well mansion Uchiha memang sepi tapi rasanya ini lebih sepi dari biasanya.

"A-no Itachi-san, kemana Mikoto Ba-sama dan yang lainnya? " tanya Sakura. Itachi menoleh dan tersenyum menjawabnya.

"Ah, Kaa-san sedang ada reuni, Sasuke mungkin dia dikamarnya. Aku juga baru datang dari kantor. Oh ya maaf ya merepotkanmu aku sibuk jadi tak ada waktu mengantarkannya. " Ujar Itachi menyesal.

"Ah, Iie aku tak keberatan ko." Mereka berdua melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda menuju ruang kerja Itachi guna mengambil file.

2 tumpuk file kini tengah Sakura ungsikan dari ruang kerja Itachi kedalam mobil Sasori. Entahlah file apa yang Sasori minta tapi menurut Sakura itu adalah album foto bukan file kontrak kerja atau apapun itu.

Drtttt~

From: Uzumaki Naruto

To: Haruno Sakura

Sakura-chan, double date minggu ini jam 10.00 am. Taman kota~

Usai menutup bagasi, Sakura menghela nafas, ah minggu ini ia ada janji dengan Naruto dan Hinata. Entah Sasuke ikut atau tidak, dia tak pernah memberikan kepastian yang jelas dikantin tadi. Mumpung ia masih di mansion Uchiha kenapa ia tak tanyakan langsung saja? Sakura segera kembali ke pintu masuk, ia berpapasan dengan Itachi dan meminta izin masuk mencari Sasuke.

"Jika dia tidak ikut apa kubatalkan saja ya? " gumam Haruno Sakura tepat didepan kamar Sasuke. Saat ia hendak mengetuk pintu sayup-sayup ia mendengar percakapan didalam sana, beruntunglah pintu itu tak tertutup sempurna jadi ia bisa mengetahui apa yang terjadi disana.

Sakura POV

Suara? Suara siapa itu? Sasuke dengan... tunggu dulu bukankah itu...

Perlahan aku mendekat melihat dari celah pintu apa yang sepasang manusia beda gender itu lakukan. Meski kelihatannya tidak sopan tapi tetap saja kulakukan. Kenapa? Tentu saja aku penasaran apa yang dibicarakan mereka berdua.

"Benar, aku mencintaimu." Suara wanita itu, Suara Saara apa maksudnya itu kenapa Saara bilang mencintaimu pada Sasuke.

Apa itu, kenapa mereka berpelukan? Sasuke duduk membelakangiku jadi aku tak tahu pasti bagaimana raut wajahnya sekarang.

'Bento. '

'Saara yang membuatnya.'

'Cinta pertama Sasuke.'

'Sebuah kebohongan'

'Saara.'

Ah, ini semua makin jelas. Kebohongan yang selama ini Sasuke sembunyikan dariku itu Saara kan? Pantas saja.

Iris emeraldku menangkap dua insan berbeda gender itu berpelukan erat, dan tampaknya mereka akan ...

Kuurungkan niatku menemui Sasuke dan memutuskan untuk pulang. Anggap saja aku tak pernah datang dan menyaksikan adegan ini.

"Eh, Sakura-chan kau mau kemana?" Tanya Itachi-san yang kembali berpapasan denganku didepan.

Terpatri raut khawatir dari wajahnya karena melihatku yang buru-buru turun dari lantai atas.

Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban lalu membungkuk pamit pulang dan segera menyambar kunci mobil Sasori-Nii.

Kalau aku tak salah lihat dikaca spion tadi Itachi-san menyusulkan dan sempat memanggil namaku beberapa kali namun sengaja kuhiraukan.

Jadi begini ya rasanya dipermainkan- tapi apa yang bisa kulakukan melabraknya dalam kondisi diriku yang hanya pacar bohongannya Sasuke?- . Sasuke memang tak pernah menganggap hubungan ini serius. -ah tidak ini bukan salah Sasuke aku sendiri yang membuat permainan konyol ini demi keuntunganku sendiri, sekarang lihat? Aku terjebak dalam permainan bodoh ini. Mungkin permainan ini cepat atau lambat akan berakhir. Kami kembali menjadi diri kami yang dulu. Haruno Sakura seorang gadis SMA semester akhir yang pernah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan -ironis.

End of Sakura's POV

Itachi berjalan menuju kamar Sasuke. Sebelah alisnya terangkat saat ia mendapati Saara yang keluar dari dalam sana namun sengaja ia abaikan, karena ia sudah bosan menanggapi gadis menyebalkan itu-Pikir Itachi.

"Sasuke." Tegurnya.

Sasuke yang masih dalam keadaan masih memakai seragam duduk ditepian tempat tidur dan ditambah rambut yang sedikit acak-acakan tanda kalau belum lama ia baru bangun dari tidur nya.

"Nani ? Nii-san. "

Itachi menatap adiknya intens sebelum melanjutkan percapakan. "Apa tadi kau bicara dengan Sakura-chan?"

Sasuke mengerutkan dahi bingung. Bicara dengan Sakura? Kapan? Pikirnya.

Melihat ekspresi yang ditunjukan Sasuke , Itachi tau pasti kalau Sasuke tak tahu kekasihnya itu mampir tadi. Namun Itachi maaih ingin memastikan.

"Kau tidak tahu Sakura-chan datang?" Sasuke menggeleng sebagai jawaban. Dia memang tidak tahu jika kekasih pinknya itu datang.

"Belum lama ini dia pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. " Ujar Itachi. Mendengar pernyataan Itachi .membuat Sasuke semakin bingung sebenarnya apa sih yang mau dikatakan anikinya ini. "Dan apa yang kau lakukan dengan Saara tadi?"

Skakmat! Kini Sasuke dapat menangkap dengan jelas apa maksud anikinya ini. Apa tadi Sakura sempat melihatnya dengan Saara. Apa yang ia lihat tadi? Dan apa yang Sakura dengar? Entah kenapa memikirkan ini semua membuat batin Uchiha Sasuke yang biasanya selalu tenang mendadak jadi gelisah. Ia merasa kan hal yang aneh yang mungkin baru ia rasakan, kenapa rasanya ia takut sekali jika Sakura salah mengartikan keadaan tadi. Kenapa?

"Sasuke. Ini nasehatku sebagai sesama pria jangan pernah menggantung seseorang tanpa harapan yang pasti. " Itachi keluar meninggalkan Sasuke yang masih berkutat dengan pikirannya perihal pernyataan Itachi tadi.

Menggantung? Harapan? Apa maksud dari perakataan Itachi itu perasaan Sakura? entahlah hanya Itachi dan Hanabi yang tau. Viss✌

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Shit!"

Haruno Sakura menatap pantulan dirinya dengan tatapan horor. Bagaimana tidak penampilannya saat ini. Mata merah yang bengkak , rambut yang susah diatur, ditambah lagi suasana hatinya yang sedang kacau.

Dirinya bulak-balik menata rambut dan mengompres matanya dengan sendok dingin. Hal ini ia yakini dapat mengurangi bengkak dimatanya. Untunglah pagi ini tak ada pemotretan jadi ia selamat dari kamera dengan mata bengkak.

Oh ya, kenapa matamu bisa seperti itu Sakura? Semalam ia menangis sesegukan karena menonton sebuah film melankolis yang bisa dibilang cukup menguras air mata. Ditambah efek yang ia dapat saat melihat Sasuke dan Saara tentu semakin membuat perasaannya tak karuan. Mungkin sebagian orang menyebutnya galau. Klise dan lebay memang tapi inilah kenyataanya.

Kembali kekeadaan saat ini, Sakura memutuskan memakai kacamatanya untuk menutupi mata begkaknya itu. Ia menggerai rambutnya model bergelombang . Sungguh manis.

"Ittekimasu." Ucap Sakura pada Sasori saat melewati ruang makan. Sepertinya gadis itu melewatkan Sarapannya ya. Dan hey sepertinya Sasori tak ada waktu untuk menyusul Sakura karena maaib disibukan dengan laptopnya seperti kemarin.

"Itterasai." Balas Sasori tanpa memalingkan pandangan dari layar laptop kesayangannya.

Di KIHS, Haruno Sakura berjalan santai mengabaikan tatapan orang yang melihatnya aneh. Kenapa tidak penampilannya kini nampak seperti idol yag sedang berjalan-jalan di mall.

Sunglass, masker hitam. Entah apa yang ada difikirannya saat berdandan tadi mencoba menciptakan tren baru mungkin?

Sakura mempercepat langkahnya menuju ruang guru demi menemui wali kelasnya sebut saja namanya Kakashi-sensei

Kriett...

Suara pintu terbuka. Membuyarkan lamunan guru bermasker itu , matanya menyipit saat melihat sesosok gadis yang menutup wajahnya membungkuk sopan.

"Ohayou gozaimasu Kakashi-sensei. "

Mata guru itu berhenti menyipit saat Sakura membuka masker dan kacamata hitamnya.

"Oh, Sakura." Sapa Kakashi. "Kenapa kau berpenampilan seperti itu? Dikejar wartawan?" Tanyanya kemudian dengan tangan yang mencoba meraih ponsel pintarnya- Ingat Kakashi itu secret admirer seorang Haruno Sakura.

Sakura menggeleng pelan dan duduk didepan meja Kakashi-sensei tanpa suara . Dalam batinnya ia bersyukur karena Kakashi tak menyinggung soal matanya yang nampak bengkak pagi ini -Yang padahal mah mau nanya tapi takut dibilang kepo.

"Baiklah, mungkin kau tahu kenapa aku memanggilmu." Ujar Kakashi sembari menyodorkan selembar kertas putih berukuran F4 yang biasa mereka sebut kertas masa depan.

"Kau tidak ada tujuan lain setelah lulus nanti?" Tanya Kakashi dengan nada hati-hati.

"Aku akan pindah ke Fukouka." Ujar Sakura terus terang.

"Apa yang akan kau lakukan, terus menjadi model ? Kuliah?"

Sakura diam tak menjawab pertanyaan senseinya yang terkenal tampan itu.

"Kau masuk sekolah ini tidak untuk menyembunyikan diri saja? Ingat aku membantumu menyembunyikan Identitasmu bukan semata-mata karena uang tapi karena kau cukup pintar . Sekarang tolong jangan abaikan pendidikanmu. Aku bicara bukan hanya sebagai guru tapi juga orang yang peduli padamu." Nasehat itu Kakashi berikan pada gadis muda bersurai merah jambu yang masih duduk menundukan kepala dihadapannya.

Sakura paham betul maksud perkataan Kakashi barusan. Memang benar awalnya ia hanya ingin menyembunyikan diri disekolah ini. Bahkan secara tak langsung Kakashi juga terlibat menyembunyikan Sakura dalam sekolah ini tapi itu bukan berarti pendidikan itu tidak terlalu penting kok, pendidikan itu penting sangat penting malah bagi Haruno Sakura tapi ia hanya ingin hidup bebas sesuai keinginannya tanpa dikekang siapapun maka dari itu ia hijrah dari Fukouka ke apartemen Sasori.

"Aku akan memikirkannya sensei." Ucap Sakura kemudian, kakashi mengangguk mengiyakan. Sakura segera pamit undur diri dan kembali mengenakan sunglass miliknya.

Benar-benar hari yang merepokan.

.

.

.

.

.

"Kau lihat Sakura?" Tanya Sasuke pada Naruto yang tengah menikmati ramennya di kantin.

"Ah , tadi anak-anak bilang ada gadis berambut pink memakai sunglass keruang guru mungkin itu Sakura. " Jelasnya sembali melahap ramen kesukaannya.

"Oh ya Sasuke soal ken...can." ucapan Naruto terputus saat melihat Sasuke yang berlalu meninggalkannya tepat sebelum ia menyelesaikan ucapannya.

Sasuke berjalan tergesa-gesa dalam koridor KIHS tak lupa onyxnya memindai sekeliling mencari gadis dengan helaian pink yang sangat ia kenal. Sayangnya orang yang ia cari itu sudah tahu kalau Sasuke saat ini tengah memburunya, Jujur saja ia tak mau melihat Sasuke untuk sementara waktu perihal insiden di rumah Uchiha tempo hari itu.

Gadis berhelaian pink dengan sunglass yang bertengger di batang hidungnya itu merogoh tas gendongnya mencari sesuatu yang disebut smartphone. Dengan lihai jarinya mencari kontak yang ia tuju dan segera menelpon.

"Nii-san apa jadwalmu kosong hari ini?"

"..."

"On the way Nii-san ." Setelah mendengar jawaban dari orang disebrang sana Haruno Sakura bergegas meninggalkan KIHS guna menghampiri orang yang menelponnya tadi juga untuk menghindari kekasihnya-Sasuke.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mari kita lupakan insiden di kediaman Uchiha juga petak umpetnya Sasuke dan Sakura. Kita mulai bagian dengan dengan hari dimana Hinata dan Naruto akan pergi berkencan didampingi dengan Hyuuga Neji selaku kakak dari Hyuuga Hinata. Dan tentu ini adalah Hari minggu, hari dimana mereka akan mengadakan double date . Eh tapi apa Sasuke akan datang?

"Apa yang kau tunggu hah? Jika tak ada tujuan lebih baik pulang." Ujar Neji dengan nada ketus pada Naruto. Dirinya hanya mampu mengelus dada dan bersabar menghadapi garangnya si calon kakak ipar.

"A-ano Nii-sama maaf jika membuatmu bosan menunggu." Hinata memang malaikat, dia sangat baik dan selalu membuat Hyuuga Neji luluh karena ucapannya.

"Sakura-chan... akhirnya kau datang." Perkataan Naruto sontak membuat Neji menoleh. Sakura? Apakah kau mengingat nama itu Neji? .

"Ayo kita berkencan." Naruto menggandeng tangan Hinata menjauh meninggalkan Neji dibelakang yang tengah diam mengamati gadis yang baru datang tadi.

"Sakura..." ujar Neji pelan.

Sakura tersenyum lembut "Hisashiburi Neji nii-san"

Senyuman yang sama seperti senyuman yang terakhir kali Neji yang sama seperti 3 tahun lalu.

Sepertinya rencana Naruto mengajak Hinata kencan berdua benar-benar sukses. Berkat Sakura Neji tak membuntuti mereka lagi. Tapi apa Neji akan terus diam saja? Tentu tidak kan? Lalu dimana kau Sasuke? Apa kau akan membiarkan kekasihmu berkencan dengan pria lain dibelakangmu?

Mungkin semua akan terjawab di chapter depan. See you next week.

.

.

.

.

.

TBC

A/N ;

Gomennasai minna-san minggu kemarin hanabi ga update. Mungkin kalian bosan ngeliat kata maaf diFF ini tapi mau gimana lagi kalo buat salah harus bilang maaf kan hee. Ada beberapa hal yang mau hanabi kasih tau nih pertama soal update ISWAK. Update tetap malam minggu karena itu waktu senggang hanabi. Kenapa minggu kemarin ga update? Entah kenapa makin sini tugas sekolah makin banyak atau mungkin sekolah hanabi aja? atau gurunya lagi hobi ngasihin tugas kali ya haha bahkan presentasi bisa sampe 3 kali seminggu belum lagi tugas essay dan lks jadi harap maklum ya :( kalo hanabi ga update berarti lagi ribet sama tugas-gaada yang nanya ko-. Kedua untuk konflik, ga akan berat-berat ko, hanabi juga udah nyiapin ending buat ISWAK:D . dan terakhir Terimakasih untuk semua pembaca, Reviewers, yang udah Fav Follow yang belum bisa hanabi sebutin satu-satu Domo Arigatougozaimasu. Mata Raishuuuu^

RnR