Naruto © Masashi Kishimoto
Story © KawaiiHanabi
It Started With A Kiss
Sasuke X Sakura
.
.
.
.
.
Sasuke tengah menyusuri terotoar kota, meninggalkan mobilnya untuk mencari makan siang .Sebenarnya ia malas pergi keluar untuk makan tapi apa boleh buat,makhluk yang ada di perutnya terus berkoar minta diisi makanan. Jika ia memiliki seorang istri seperti Itachi ia tak perlu repot-repot mencari makan sendiri. Istrinya pasti selalu membawakan dia bento. Apalagi jika itu Sakura -yang pintar memasak- pasti hidupnya sangat indah dan berwarna.
Semenjak kepergian gadis merah jambu itu 5 tahun silam, membuat Sasuke hidup dalam bayang-bayangnya. Ia merindukan gadis merah mudanya. Haruno Sakura.
Dengan pikirannya tentang Sakura Sasuke masih terus berjalan sampai-sampai langkahnya terhenti saat gadis yang tengah ia pikirkan ada dalam pandangannya.
Mungkin ini hanya ilusi semata.
"Sasuke-...kun?"
Namun saat bayangan gadis itu makin dekat, Sasuke kini mendengar suara merdu gadis itu yang tengah memanggil namanya.
Hidup dalam bayang-bayang Sakura bukan pertama kali baginya. Namun nampaknya kali ini nyata gadis itu benar-benar kembali.
Sakura dia kembali . Gadis itu tengah berjalan menuntun seorang pria kecil yang ditaksir berusia 3 tahunan menghampiri Sasuke. Dan kini sudah ada dihadapannya.
Sasuke, entah ekpresi macam apa yang ia harus tunjukan kali ini bahagia? Sedih? Marah? Kecewa? Terkejut? Ah kita lupa ia jarang berekspresi. Jadi bayangkan saja tampangnya datar.
"S-Sakura?" Sasuke agak terkejut dengan pertemuan perdananya dengan Sakura setelah 5 tahun lamanya.
Awalnya ia berniat makan siang setelah bertemu sengan kliennya namun tak disangka takdir memang memihaknya akhirnya ia bertemu dengan Sakura-nya eh tapi tunggu siapa anak kecil disamping Sakura itu?
"Mama.." cicitnya pelan.
Sasuke sempat terkejut mendengarnya, Ia mengalihkan pandangannya ke anak kecil yang menggandeng tangan Sakura, ia terus memperhatikannya.
"Aku lapar.." cicitnya lagi.
Sakura menggendong anak kecil itu, pandangannya lalu teralih pada Sasuke yang kelihatannya sangat bingung dengan situasi barusan.
Pandangan Sakura beralih ke pria kecil itu. Ia berjongkok menyamakan tingginya dan Hiro lalu mengacak surai cokelatnya gemas.
"Baiklah sayang.. " Ujarnya disertai seyum.
Sasuke masih diam, ia kali ini benar-benar bingung dan terjebak dalam keadaan canggung. Jika kalian ada diposisinya apa yang akan kalian lakukan?
"Ano, senang bisa bertemu denganmu lagi Sasuke. Tapi maaf mungkin kita bisa mengobrol lain kali kau tahu..." Sakura menatap Hiro yang menggandeng tangannya berharap Sasuke paham akan keadaan ini.
Sasuke menatap Hiro sekilas. Lalu tersenyum padanya. "Mungkin kita bisa makan bersama. " Tawarnya.
Sakura nampak ragu, sejujurnya ia ingin sekali tapi situasi nya kali ini...
Tanpa menunggu jawaban Sakura Sasuke meraih lengannya dan menariknya memasuki salah satu restoran keluarga yang kebetulan tak jauh dari tempat mereka bertemu tadi.
Sasuke menarik lengan Sakura dan Sakura menggandeng lengan Hiro. Benar benar . Karena malu saling menggandeng Seperti itu Sakura pun mengiyakan ajakan Sasuke dan pelan-pelan melepas genggaman tangannya yang cukup erat. Ia menempatkan Hiro diantara dirinya dan Sasuke.
Mereka pun berjalan memasuki restoran. Sakura sengaja memilih tempat paling ujung karena menghindari keramaian Sasuke tak mempermasalahkan itu.
Yang ia permasalahkan adalah kenapa ia bisa seenaknya main tarik tangan Sakura seperti itu? apalagi didepan Hiro yang jelas-jelas sudah mengklaim bahwa Sakura itu ibunya. oke ini memang salahnya salahnya karena waktu itu ia tak mencari keberadaan Sakura. Dan kini saat Sakura kembali dihadapannya ia tak ingin melepasnya.
Setelah mereka duduk, untuk mencairkan keadaan Sakura mulai membuka topik pembicaraan. Namun sepertinya topik yang kau pilih itu membuat Sasuke tak nyaman Sakura.
"Kau...membiarkan rambutmu tetap panjang. " Gumam Sasuke saat melihat penampilan Sakura kini. Rambutnya kian memanjang hampir sepinggang , dan dibuat bergelombang tanpa poni. Terkesan lebih cantik dan err ~ sexy.
"Ahaha, ya aku rasa model ini membuatku nyaman. " Balas Sakura canggung.
Oke Sasuke kau boleh terpesona pada Sakura nanti tapi kini kau harus mengkonfirmasi siapa pria kecil yang tengah membulak-balik buku menu itu.
"Mama, pesan ini..." ujar pria kecil itu sambil menunjuk salah satu makanan di buku menu. Jangan kaget, buku menu kali ini tak hanya tulisan tapi lengkap disertai gambar. Jadi makanan yang kelihatan menarik dimata Hiro pasti akan ia makan.
Tapi jika sudah di restui oleh Sakura tentunya.
"Apa kau tidak tertari dengan kids meal ini sayang?" Tanya Sakura meyakinkan .
Hiro menggelang. ia tetap ingin stek yang nampak lezat dimatanya itu .
Sakura membaca buku menu itu baik-baik. "Baiklah, tapi sepertinya porsinya terlalu banyak untuk perut kecilmu. Kau boleh memakannya tapi kita bagi setengahnya ya? " Ucap Sakura bijak. Hiro mengangguk, mengiyakan . Sasuke terengun melihat -mungkin- interaksi Ibu dan anak itu.
Sakura yang sadar akan aura keanehan yang dipancarkan Sasuke cepat-cepat menatapnya.
"Ah, benar. Kau pasti bingung ya, ayo Hiro-kun perkenalkan dirimu." Titah Sakura pada pria kecil yang tengah duduk manis disebelahnya.
Hiro -nama anak itu- menoleh pada Sakura dan Sasuke secara bergantian. "Hyuuga Hiro. 3 tahun." Ucapnya lancar. Sakura tersenyum mendengarnya, ia mencupit pipi Hiro pelan.
"Sakura...dia?" Pertanyaan Sasuke yang ambigu.
"Dia sangat tampan kan? " balasan dari Sakura yang tak sesuai harapan.
"...Aaa." Sasuke menggulung senyum samar mendengar balasan Sakura barusan.
Sebenarnya Sasuke cukup paham situasi ini. Anak tadi memanggil Sakura dengan sebutan Mama, marganya Hyuuga , rambut anak itu juga cokelat seperti Neji. Tak perlu bertanya lagi, entah kenapa ia ingin Sakura mengklaim kalau itu memang benar anaknya, anaknya dengan Hyuuga Neji. Tapi tunggu ada yang janggal disini, setahu Sasuke mata Neji tak berwarna cokelat seperti itu, mata Sakura juga bukan...
Hening- meja makan itu tampak hening sesaat sebelum para pelayan mengisi meja mereka dengan makanan yang mereka pesan.
Setelah para pelayan mengantarkan pesanan mereka, Sasuke kembali membuka topik pembicaraannya. Pertanyaan yang sedari tadi ingin ia tanyakan pada putri dari Haruno Kizashi ini. "Kau menikah dengannya?" Tanya Sasuke to the point. Agak kasar memang tapi jika diawali basa-basi justru itu bukan gaya Sasuke.
Sakura tengah memotong steak untuk Hiro berhenti sejenak dan melempar pandangan tanya pada Sasuke.
"Maaf menikah? Siapa? " Tanyanya, Steak itu kini sudah diambil alih oleh Hiro, oh pria kecil kita ini memang sedang lapar.
"Hyuuga Neji, tentunya." Ujar Sasuke kasar.
Sakura menggeleng menangapinya. "Hubunganku dengan Neji-nii masih sama seperti itu. Mungkin kau cukup paham artinya." Tanya Sakura kemudian.
Sasuke mengerutkan dahinya, apa maksud perkataannya barusan. Jangan bilang kalau...
"Maksudmu kau berkencan dan memiliki anak dengannnya tanpa ada ikatan pernikahan?"
"Kau tak perlu tahu detail kehidupanku." Ujarnya pelan. Sasuke mendengarnya mendengarnya dengan sangat baik. Sangat."Apa kau punya hak untuk tau? Selama aku disisimu saja kau tak membiarkan aku tahu masalalu mu, saat aku pergi. Sekali pun kau tahu aku ada di Paris kau tidak pernah mengunjungiku. Ah ya aku lupa menghubungiku saja tidak pernah. " Lirihnya.
Perkataan itu membuat hati Sasuke sakit. Benar kata Sakura apa haknya ia mengetahui masa lalu orang yang jelas-jelas tak ada hubungan dengannya. Bahkan kini ia merasa berdosa karena masih berharap pada Sakura yang notabenenya bisa dikatakan sudah memiliki keluarga.
Sakura menahan tawanya. "Hentikan membuat ekspresi semacam itu Sasuke kau membuat aku terlihat menyedihkan. " Ujarnya kemudian
Sasuke memandang Sakura yang sempat menertawakannya tadi. Apa ada yang salah dengan Ekspresinya tadi? Entahlah, yang jelas kini Sakura tengah meminum air mineralnya dan perhatiannya beralih pada Hiro.
"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Saara-san? Kapan kalian akan menikah? " Sasuke memadangnya kembali. Ia mendorong makanannya yang sudah habis dan meminum air sebelum menjawab pertanyaan Sakura.
"Baik." Jawaban yang seadanya karena tak mungkin kan Sasuke bilang kalau ia dan Saara masih bertengkar. -lebih tepatnya Sasuke yang marah dan itu ada sangkut pautnya dengan Sakura.-
"Ah, begitu. " Sakura tersenyum tanpa arti. "Saat ku menerima undangan dari keluarga Uchiha kupikir kau yang menikah. Ternyata Itachi nii-san . " Gumamnya.
Sasuke meneguk sisa air mineralnya dalam gelas. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Sakura, terutama tentang perasaannya saat ini.
"Jujurlah padaku Sakura. Kenapa kau mengatakan itu pada media dan menghilang? " tanya Sasuke.
Sakura menggeleng. "Banyak hal yang terjadi padaku Sasuke. Dan seperti yang ku katakan tadi kau tak perlu tahu. "
Sasuke menatap Sakura dengan penuh tuntutan. "Setidaknya aku perlu tahu. karena ini menyangkut hubungan kita. "
Sakura tersenyum lirih. "Seperti apa hubungan yang kau maksud itu?" Tanya Sakura balik. Entah
kapan gadis itu berani melawan perkataan orang lain. Apalagi itu Sasuke manusia sedingin es yang bergitu dikenal sesama SMA dulu.
Kesabaran Sasuke sepertinya sudah mulai menghilang. "Berhenti bermain-main Sakura! Jelaskan padaku .rang!" Ucapnya menegaskan.
Ditengah perdebatannya dengan Sasuke,Sakura sesekali memandang Hiro yang tengah menyantap makanan siangnya dengan lahap, takutnya anak manis itu kaget oleh suara Mengelus surau cokelat milik pria kecil itu Sayang.
"Baiklah jika kau memaksa, mungkin..."
Drttttt~
Sayangnya belum sempat Sakura buka suara akan masalalunya, dering telepon menginterupsi obrolan mereka. Mendengar dering itu sepertinya Sakura sudah sangat hafal. Cepat-cepat Sakura mengangkatnya.
"..."
"Baiklah aku akan segera kesana. " Gumamnya sebelum menutup panggilan telepon.
Emerald Sakura menatap Sasuke lembut . "Sepertinya memang benar, kau tak harua tahu . Aku harus pergi Sasuke. " Ujarnya. Kini Sakura tengah mengurus Hiro yang sepertinya sudah selesai makan. Ia merapikan anak itu dengan telaten benar-benar seorang ibu dan Istri idaman.
"Sudah selesai sayang?" Tanya Sakura pada Hiro. Pria kecil itu mengangguk mengiyakan. Ia turun dari kursinya dan meraih tangan Sakura.
"Nee Mama. Kita akan pergi sekarang?" Sakura mengangguk menjawabnya.
Mendengar percakapan -mungkin- Ibu dan anak itu. Cepat-cepat Sasuke berdiri dihadapan Sakura dan Hiro, bermaksud untuk mencegahnya pergi, ya sepertinya Sasuke tak mau kehilangan gadis itu sekali lagi.
Kemana kau akan pergi? Kita masih harus bicara." Tawar Sasuke .
Sakura menggeleng."Mungkin lain kali Sasuke-Kun . Urusanku kali ini lebih penting."
Jujur Sasuke agak tersinggung mendengarnya. Jadi maksud Sakura Hubungannya dengan Sasuke itu sama sekali tidak penting begitu?
"Kita bisa bicara sekarang. aku akan mengantarmu!"Perintahnya.
Dengan halus Sakura menolaknya. "Terimakasih tapi supir keluarga Hyuuga sedang dalam perjalanan menjemput kami. "
Nah loh Ke-keluarga Hyuuga dia bilang? Sasuke merasa tersambar petir disiang bolong. Baru saja ia bersemangat karena takdir sudaj mempertemukannya dengan Sakura tapi nyatanya... Sudahlah Sasuke Dengan fakta lain ini bukankah semuanya sudah jelas? Sakura itu memiliki suatu hubungan dengan keluarga Hyuuga ... Tabahlah gagal sudah semua kesempatan untuk kembali bersama Sakura. Awalnya Ia tak peduli meski Sakura janda sexy dari Hyuuga Neji sekalipun atau Ibu dari anak Neji karena ia benar-benar tulus mencintai Sakura dan tak mau kehilangan wanita itu lagi.
Jika saja dulu ia tak termakan omongan Sasori untuk menyerah padanya, ia pasti sudah menyusul Sakura ke Paris dari dulu . Dan mungkin sekarang mereka akan bahagia dengan anak-anak imut yang mirip dengan - oke kita hentikan fantasi ini.
Kita kembali ke kondisi dimana Sasuke harus melihat Sakura dengan Hiro -putra Neji- nampak bahagia saat tahu hendak mengunjungin rumah kakek neneknya, yang tak lain adalah para tetua Hyuuga.
"Kami permisi Sasuke-kun. " salam perpisahan dari Sakura diiringi senyum manis miliknya.
Sakura menuntun Hiro berjalan sengan riang gembira, sambil sesekali mengajak pria mungil itu bercanda. Nampak penyesalan dalam onyx Sasuke saat melihat Hiro dan Sakura. Bunga Musim seminya.
Sekarang kau sudah bisa merasakannya Sasuke? Jika saja dulu kau tidak ragu akan perasaanmu padanya dulu mungkin kalian akan bahagia sekarang . Uchiha Sasuke tengah menyesal dan benar-benar patah hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke menekan kasar tombol lift menuju ruangan nya. Otaknya tak pernah berhenti memikirkan Sakura dan Hiro yang ia temui saat jam makan siang tadi.
Ting
Sampailah Sasuke di lantai 7-ruangan pribadinya. Saat ia membuka pintu masuk nampaklah Itachi yang sedang duduk santai dengan serantang bento dimeja kerjanya.
"Oh kau sudah datang Sasuke. " Sahutnya ramah.
"Hn."
Itachi tersenyum mau bagaimana pun adiknya memang tak akan berubah. 2 huruf itu sudah melekat erat dengan kepribadian Uchiha Sasuke.
"Aku membawakanmu makan siang. Sebenarnya Hana yang memintaku berbagi. " ujarnya
Sasuke menggeleng lalu duduk dikursi kebesarannya. "Aku sudah makan siang. Sampaikan terimakasihku pada kakak ipar. "
Itachi mengernyit. "Makan siang kau? Dengan seorang gadis kah?"
Sasuke tertawa kecil. "Entahlah, mungkin Ibu satu anak. "
Itachi melotot a-apa ibu satu anak kau bilang? "Kau tidak , mengencani seorang ...? " Itachi menggantung pembicaraannya dan nampaknya Sasuke paham kemana arah pembicaraan ini berlangsung.
"Jika boleh aku akan mengencaninya. Bahkan menikahinya. " candanya.
"Kau gila. " balas Itachi.
Sasuke memang gila. Gila akan pesona seorang Haruno Sakura. Jika memang benar Sakura sudah pernah menikah ia tak keberatan jika harus menukahinya apa itu sesuatu yang salah? Kecuali jika Sakura masih memiliki suami dan Sasuke masih bersikukuh ingin menikahinya . Itu baru gila.
Sudahlah Itachi aku hanya bercanda. Lebih baik kau kembali ke kantormu. " pinta Sasuke.
Itachi pun melenggang pergi. Namun saat ia mencapai pintu ia kembali berbalik dan menatap Sasuke.
"Oh ya, aku hampir lupa. Seseorang mengundangmu ke pertemuan kolega bisnis malam ini. Aku harap kau datang. "
Sasuke mebghela nafas. Ia paling benci pesta seperti itu. " kau tahu aku membencinya. Aku tak mau datang."
Itachi tersenyum penuh arti. "Tapi Hyuuga Neji yang memintamu datang. "
Dunia Sasuke kembali terhenti Hyuuga? Kenapa indra pendengarannya sering sekali mendengar marga Hyuuga hari ini?!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sesosok pria berstelan jas rapi nampak duduk disebuah ruangan khusus untuk jamuan makan malam khas jepang. Sesekali ia melirik arloji miliknya, Lalu mendesah.
"...apa yang sedang kulakukan. " ujarnya pelan.
Setelah mendengar Hyuuga Neji ada di Jepang dan ingin bertemu, entah kenapa dirinya -Sasuke- langsung melesat menuju tempat pertemuan mereka. Padahal ini masih 1 jam lebih awal dari waktu pertemuan dengan para kolega lainnya.
Tolong catat ini saudara. Uchiha Sasuke seorang Direktur Uchiha Corp. Yang tak pernah sekalu pun bertemu kolega bisnisnya selain di ruang meeting perusahaan. Hyuuga Neji pengecualian.
Srekkk
Tak lama kemudian munculah sesosok manusia dibalik pintu yang sedari tadi terus mengganggu pikiran Sasuke.
"Ku kira kau tak akan datang. " Ujar pria itu. Sasuke tersenyum kecil.
"Perkerjaanku sudah selesai. Tak ada salahnya jika bertemu kawan lama Hyuuga." Balas Sasuke.
Hyuuga Neji menyeringai. Perlahan tangannya merogoh saku untuk mencari ponsel canggih miliknya.
"Sebentar. " Digesernya tombol hijau pada layar datar ponselnya untuk menjawab panggilan seseorang.
"Moshi-moshi. " Jawab Neji lembut.
Sayup-sayup Sasuke mendengar suara yang cukup familiar dari ponsel pria di sebelahnya itu.
"Neji-nii kau pulang jam berapa? Dari tadi Hiiro menanyaimu." Sahut si penelpon di seberang sana.
H-hey tunggu bukankah itu Suara Sa-sakura?
"Mungkin agak terlambat. Aku ada janji makan malam. Ada apa? Apa kau mau pergi ke suatu tempat?" sesekali mata Neji melirik Sasuke yang sedang sibuk mengamati menu seakan tak peduli dengan apa yang dilakukan Neji . Padahal Neji tahu Sasuke mendengarkan percakapannya barusan.
"Ah, apa kau makan malam dengan seorang gadis?... hahahaha aku ada urusan. Hiro minta di temani jadi ya dia menanyaimu. "
'Makan malam dengan seorang gadis?' Ujar batin Sasuke. Ia merasa ada kejanggalan disini. Jika Sakura dan Neji menikah, tidak mungkin kn jika mereka berbicara seperti itu. Tapi bgaimana jika itu lelucon? Jika benar begitu mereka konyol sekali.
" Kau bisa meminta Ibuku untuk menemaninya. Terimakasih telah menemani Hiiro sepanjang hari. "
"Baikalah. Tak perlu berterimakasih lagi pula aku ibunya kan? Hahaha selamat malam Neji-nii selamat menikmati makan malammu. "
Pip
Neji bergumam menutup panggilan teleponnya barusan.
Sasuke masih diam tak bersuara. Ia sudah selesai menjamah buku menu disebelahnya.
"Maaf. Barusan Sakura menelponku. Kau sudah bertemu dengannya Sasuke?" Tanya Neji.
Sasuke menoleh. "Hn. Kami makan siang bersama putramu . " balas Sasuke singkat.
"Ah, kau sudah bertemu putraku rupanya. " ujarnya basa-basi.
Tak lama seorang pelayan menginterupsi percakapan mereka. Ia membawa teh hangat. Sepertinya pesanan Sasuke barusan.
"Kapan kau menikahi Sakura?" Tanya Sasuke kemudian sebelum ia menyesap ocha miliknya.
Neji tertawa pelan. "Menikah? Kami tak menikah. " jelasnya.
Sasuke mengerutkan dahinya. "Tapi kalian memiliki putra. "
Neji menyesap ocha hangat miliknya. "Hiro maksudmu. " tanya Neji.
Tanpa sadar Sasuke mengangguk mengiyakan.
"Keluarga kami meminta Sakura dan Aku untuk menikah... Sebenarnya aku tak keberatan jika untuk status pernikahan "
"...tapi kami sepakat menolak karena tak saling mencintai. " terusnya kemudian.
Sasuke menahan amarahnya. Tak saling mencintai tapi mereka 'melakukannya' yang benar saja! Hentikan omong kosong ini!
Buagghhh
"Jangan konyol kau! Kau bilang masih tak mau menikahinya karena tak saling mencintai? Mana tanggung jawabmu sebagai seorang pria. " Sasuke meluapkan amarahnya kali itu.
Neji hanya menyeringai.
"Cih. " Dengan kesal segera Sasuke meninggalkan ruang pertemuan itu menutup pintunya dengan kasar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Haruno Sakura. Gadis itu kini tengah celingak-celinguk memandangi restoran jepang klasik yang akan menjadi teman malam malamnya kali ini. Sebenarnya ia yak ingin datang, namun apa daya yang dapat ia lakukan saat sang ayah sudah memaksanya untuk hadir di acara yang dinamakan kencan buta ini. Untuk kesekian kalinya ditegaskan Haruno Sakura itu benar-benar membenci kencan buta.
Tanpa disenga netra hijau milik Sakura memandangi sesosok pria yang sangat ia kenali. Pria ia nampak berantakan dengan setelan kantor yang nampaknya sudah tak serapih tadi siang. Terlihat jelas dari yang kendor dilehernya dan tampangnya pun nampah lelah dan penuh amarah.
Dengan memberanikan diri gadis dengan nama yang sama dengan bunga kebangsaan Jeoang itu memanggilnya .
"Sasuke-kun!"
Pria yang merasa dipanggil namanya pun menoleh memndang gadis yang berlari kecil menghampirinya dari pintu masuk depan restoran.
"Sakura?! Apa yang..." Gumamnya .
Saura berhenti , Gadis itu memandang Sasuke lekat-lekat dari atas kebawah.
"Apa yang kau lakukan disini Sasuke-kun? Kenapa kau nampak berantakan? Sedari tadi kau belum pulang kerumah? Kenap kau terlihat kesal ?Jangan bilang kau berkelahi dengan seseorang?!" Ujar Sakura tanpa henti. Nampak tersirat kekhawatiran di wajah cantiknya itu.
Sasuke nampaknya enggan menjawab petanyaan Sakura barusan, dengan cepat ia meraih gadis mungil itu kedalam pelukannya .
Tanpa mereka Sadari beberapa pemuda tengan asyik mengintip di balik pintu tak jauh dari tempat Sasuke memeluk Sakura kini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
OMAKE
Hyuuga Neji memegangi ujung bibirnya yang nampaknya sedikit robek berkat pukulan dari Uchiha Sasuke .
Tak jauh disampingnya pemuda dengan rambut merah menyala mengasongkan sebuah obat guna menangani luka itu.
"Kau terlalu berlebihan kawan . Jika aku jadi dia kurasa kau memang pantas mendapatkannya." Ujar pria itu disertai tawa.
"Kau benar. Pukulannya benar-benar keras!" Balas Neji kemudian .
Sepertinya pukulan yang Neji terima ini sudah setimpal dengan apa yang ia perbuat. Dan berkat pukulan itu Sasuke sadar apa yang akan ia lakuka dengan perasaan cintanya .
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
A/N :
Udah segini doang? kok makin gaje ?
Sebenernya cerita ini lebih panjang sedikit, cuman gegara koneksi yang tiba-tiba keputus Ceritanya jadi ga ke savee:( . padahal lumayan pegel juga dari tadi ngetik:(. segelintir kisah ketololan Hanabi saat membuat chapter 12 ini :(
Harap Sabar ya pertanyaan seperti kenapa Sakura ngilang? kenapa Sasuke enggan nyusul Sakura dan lain sebagainya akan terungkap di chapter-chapter selanjutnya. Dan sepertinya side story singkat pun akan hadir .
Terimakasih bagi para pembaca yang setia menunggu. tunggu kelanjutan kisahnya :)
NB. Jika ide yang hilang itu (khususnya di adegan Itachi Sasuke dan Neji Sasuke) sudah kembali . hanabi akan rombak lagi . Tapi ga janji lohh yaa :d
