Yeah, akhirnya Author muncul dengan bagian dua puluh ^^
Maaf lama dipublish, soalnya ada beberapa hal diluar sana yang harus Author lakukan. Harap dimaklumi ya. Dan terima kasih banyak untuk yang telah mem-follow dan me-review trailer cerita gaje ini. Kalian memang terbaik! Ini dia, Mawar liar: Dawn of The Real Sin bagian satu. Enjoy :)
Note: Typo, Gaje, Rate T+, waktu dan tempat hanyalah fiksi. Karena di musim ini, Author memberikan waktu lebih detail.
M.A.W.A.R. L.I.A.R.
'Dawn of The Real Sin'
(Season Final)
.
.
.
Boboiboy belongs to Animonsta
.
.
.
Bagian 20: Kecemasan
Markas kotak, 27 Juli 2014 pukul 14:20
Penghuni Markas Kotak dan kedua tamu itu bengong melihat penampakan sesosok Alien berkepala kotak hijau namun lebih tinggi dari Adu Du dengan wajah angkuh di monitor layar.
"Ejo Jo?! Bila masa kau boleh kabur dari tahanan Kapten Kaizo?" tukas Adu Du kaget. Seingatnya, ia dan Probe bersama para Superhero cilik Pulau Rintis melihat Alien rival Adu Du itu dikalahkan Kapten Kaizo dua tahun yang lalu.
"Siapa lagi ni?" Ray tampak ling-lung. Ini kali pertama ia melihat Ejo Jo, jadi wajar saja ia bersikap seakan-akan melihat sesuatu yang asing.
Ejo Jo tertawa remeh. "Lemah! Itulah akibatnya menjadi seorang pengutip macam kau, Dasar ketinggalan zaman!"
"APA KAU CAKAP?!" Adu Du terpancing emosi mendengar ejekan penghinaan yang dilontarkan oleh bekas teman lamanya itu. "Hiiiissshh- kau ni sedari dulu memang suka rendahkan orang lain! Jawab soalan aku tadi! Kenapa kau boleh lepaskan diri?!"
"Cih, itu bukan kau punya pasal," balas Ejo Jo sengit. "Cara ke siapa yang bantu aku buat bebaskan diri tu tak penting! Yang terpenting sekarang ni adalah aku nak beri kau satu amaran, fufufufu..."
"Amaran?" tanya Probe heran. "Amaran apa tu? Amaran kalau kau nak serang kitorang lagi ke?"
"Hahaha, kurang lebih macam tu," Kata Ejo Jo sinis. "Aku memang nak serang korang, atau lebih tepatnya taklukan satu Semesta ni. Ada baiknya kau bantu aku, Adu Du. Kalau tak-"
"Kalau tak, apa?" potong Adu du marah." Aku tak tertarik untuk bantu Alien besar kepala macam kau! Pergilah! Jangan ganggu hidup aku!"
Ejo Jo hanya tersenyum kecil. "Hmm, macam tu ke?" ujarnya sembari mengaitkan jari-jemarinya satu sama lain di depan hidungnya. "Kalau kau memang tak nak bantu aku, tak pe. Aku pun tak begitu tertarik dengan mantan rakan yang lemah macam kau! Ini amaran dari aku, Adu Du. Cepat atau lambat, aku kan hapuskan korang semua, Hahahahahaha!"
"Hmp, tu lah. Tak berperikemakhlukan," sindir Tok Aba. "Ingatkan dah insaf selepas belasah Cucu aku. Ternyata sama sahaja, Ckckck."
Ray yang sedari tadi hanya diam merenung, tiba-tiba melangkah ke samping Adu Du yang saat itu tengah menatap kesal ke monitor dimana wajah Ejo Jo terpampang.
"Ejo Jo, kau-" ucapnya pelan-pelan, takut salah bicara. "Kau ni ada sangkut pautnya dengan ONION ke?"
Semuanya terkejut begitu melihat Ray tanpa basa-basi mengucapkan kata-kata 'to the point' itu. Tidak terkecuali Ejo Jo sendiri. Akan tetapi detik berikutnya ia tertawa berderai-derai.
"MWAHAHAHAHAHAHAAA! Hebat, tebakan yang hebat," pujinya sarkastik. "Siapa kau yang berani menanyakan soalan teruk macam tu dekat aku, Hm? Nampaknya aku dapatkan lawan baru lagi."
Ray mendesah panjang. "Tak perlu basa-basi. Jawab saja soalan aku tadi," tukasnya datar. "Dilihat dari kelakuan dan tujuan kau buat taklukan Alam Semesta, aku curiga kau sedang bekerjasama dengan seseorang."
"Hmm, hebat anak muda. Hebat." Ejo jo terlihat bertepuk. Tiba-tiba ia memandang Ray dengan pandangan menyelidik. "Tapi kejap. Aku macam kenal je dengan peringai kau ni. Apakah kita pernah berjumpa sebelumnya?"
"Tidak. Ini kali pertama aku jumpa dengan kau, Alien durjana!"
"Ohoho, garang juga kau ni. Biar kutebak, kau Rayhan Ernie ke? Kau nampaknya kenal baik dengan satu target daripada operasi penghapusan orang-orang dekat daftar DEATH LIST tu?"
Mendengar itu, Ray hanya bisa melotot.
"Jadi tak syak lagi, kau pun dah bersekutu dengan ONION," katanya dingin. "Apa yang kau nak kan dari kami sebenarnya, Heh?"
"Tak. Tak de yang saya nak kan dari korang yang sampah ni," tawa Ejo jo nista. "Dah saya cakap tadi, saya cuma nak bagi korang semua amaran penaklukan Semesta tu."
"Elehh- pasal kau nak kan jam kuasa BoBoiBoy dan kawan-kawan dia tu ape pula?" tanya Tok Aba, membuat Ejo Jo terkejut.
"Ah, ya. Hahaha, maaf, maaf. Saya silap minda pasal tu," jawabnya. "Aku memang masih nak kan kuasa diorang tu. Dah lama tak jumpa pun. Bagi tahu mereka kalau musuh lama mereka ni pun rindukan mereka juga."
"Buang tebiat ke Ejo Jo ni?" cicit Probe heran. "Rindukan musuh dia macam rindukan kerabat dia sorang."
"Diam kau, Robot Kutip!"
"Robot kutip kau kata?!" Kali ini Probe yang tersulut emosi. "Aku Robot Tempur Probe lah!"
"Sudah, Probe. Dia ni memang nak cara pasal dekat kita," gumam Adu Du berang lalu kembali menatap Ejo Jo. "Dah habis bincang amaran kau, Heh? Apa rancangan kau kali ini? Musnahkan satu semesta konon."
"Hmm, yah. Kau betul, Adu Du. Dan ingat, aku tak kan berhenti sebelum hancurkan kalian dan dapatkan kuasa-kuasa dari Sfera kuasa tu. Jumpa lagi di masa keterukan nanti, Hahahahahahahaaa!"
'PIP!'
Tawa jahat itu menghilang bersamaan dengan wajah Ejo Jo. Semuanya segera pasang tampang cemas. Adu Du mendecih.
"Tak habis habis lah dia nak kan kuasa-kuasa tu," ucapnya geregetan. "Tamak betul! Aku akan hentikan dia dengan tangan aku seorang suatu masa nanti! Jaga kau, Ejo Jo!"
"Hmm, nampaknya Amaran yang dia bagi tahu tadi tu ada benarnya juga," ucap Tok Aba sembari mengelus dagunya. "Tak puas hati pulak. Alien tamak macam dia tu memang susah untuk dibuat insaf."
"Dan dia pun ternyata bersekutu dengan ONION," kata Ray lesu. "Aku dah curiga selepas ia cakap pasal penaklukan semesta tu. Kita kena hentikan dia!"
"Ehhh- Tapi bukannya kita sekarang nak pergi dekat Pulau Apung buat uruskan ONION tu?" ujar Probe tiba-tiba, membuat semuanya kaget.
"Eh, Ha'ah lah!" pekik Adu Du panik. "Komputer, dah pukul berapa ni?"
"Umm, dah pukul dua siang lewat tiga puluh menit Bos."
"Hah?! Kenapa korang tak bagi aku pasal tu sedari tadi?! BoBoiBoy mesti dah tunggu lama dekat sana!"
Setelah berkata begitu, ia langsung menekan sebuah tombol di dekatnya. Terdengar suara getaran keras. Ketika getaran itu berhenti, ia menatap semuanya.
"Cepat. Aku dah siapkan Kapal angkasa dekat tanah lapang kat atas tu," ucapnya segera. "Kita kena pergi ke sana sekarang juga!"
"Mbee… Mbee… Mbeeeee?" (Bukannya Kapal angkasa Encik Bos habis daya ke?) Kambing tahu-tahu memberitahukan sesuatu.
"Astaga! Betul juga. Kenapa aku lupa sangat pasal tu?" tukas Adu Du cemas. Tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya. Didekatinya Tok Aba dengan senjata 'Puppy Eyes'. Tentu saja Tok Aba risih dibuatnya.
"Oi, apasal kau pasang muka comel ni?"
"Hehe, Atok bawa Koko tak?"
"Mesti lah. Atok bangunkan kau guna benda tu tadi. Tapi apa yang kau nak perbuat dengan Koko tu?"
"Buat bahan bakar Kapal angkasa aku lah. Dengan itu dia boleh bawa kita dengan kecepatan cahaya. Boleh saya minta satu tin?"
Tok Aba tersenyum simpul. "Ye lah, ye lah. Kau boleh pakai Koko ni buat isi bahan bakar Kapal Angkasa kau."
"Wuahh, terima kasih, Tok Aba!" jerit Adu Du senang sembari mengambil sekaleng bubuk cokelat dari tangan Tok Aba. Lantas mereka naik ke Pesawat Angkasa Adu Du dan duduk di tempat yang disediakan. Probe memasukkan seluruh isi kaleng bubuk cokelat Tok Aba ke tangki bahan bakar Pesawat. Setelah dirasa semua sudah siap. Alien kecil hijau itu menoleh ke arah para penumpangnya.
"Semua dah sedia?"
"Sedia!"
"Baiklah kalau cam tu." Adu Du menarik tuas kemudi Pesawat Angkasanya setelah terlebih dahulu mengaktifkan benda terbang itu. Tak lama kemudian, mereka lepas landas.
"Tujuan kita sekarang: Markas ONION dekat Sektor 456!"
Gedung Markas pusat O.N.I.O.N., 27 Juli 2014 pukul 14: 21
Mimi baru saja meninggalkan Aula utama ruang kerja ayahnya. Ah Ming memanggilnya ke bekas Pabrik robot Lab Sfera kuasa yang terletak di dimensi sebelah mereka. Katanya sih ada hal penting yang hendak didiskusikan disana. Namun begitu ia berbelok ke serambi menuju lift, ia berpapasan dengan sesosok perempuan.
Syrena.
"Oh, hai Mimi. Lepas dari mana?" tanyanya ramah. Mimi menoleh.
"Ehe, lepas dari aula Vader kot," Jawabnya nyengir. Jujur saja, Mimi merasa hubungannya dengan sang Siren lebih hangat dibandingkan Rosaline, walaupun kedua wanita dengan ras 'Makhluk fantasi' itu sama-sama berasal dari Planet Tim tam dua. Bagi Mimi, Rosaline terlampau dingin dan kejam sementara Syrena adalah kebalikannya. Wanita itu pembawaannya santai, ceria ditambah suaranya yang sangat merdu saat bernyanyi (Sebuah kewajaran bahwa dia adalah sejenis Siren) yang tentunya menghipnotis sekaligus membuat para penggemarnya-khususnya lelaki-jadi klepek-klepek. Umur Syrena memang hampir sebaya dengan Rosaline, namun Mimi sudah menganggapnya sebagai sahabat disamping Ah Ming dan yang lainnya. Bahkan jika ingin dikatakan lebih jauh, Syrena mengingatkan Mimi tentang Ibunya yang diketahui sudah tiada.
"Haha, sudah kuduga," ucap Syrena lembut. "Kau lepas sakit pon, jadi tak sempat untuk ikut rapat rancangan proyek 'Sapu Katharsis' tadi. Tapi tak pe. Aku maklum. Dan-"
Ucapannya terputus begitu melihat ke arah sebuah Pesawat Angkasa bermodel kontemporer yang terbang tak jauh dari gedung markas pusat. Sekonyong-konyong sebuah ide jahil melintas di kepalanya.
"Hei, Mimi. Aku tetiba dapat satu idea hebat!"
"Eh? Idea apa tu?"
Syrena mengalihkan wajah Mimi ke jendela untuk melihat pesawat angkasa yang sebelumnya telah ia lihat. "Kau nampak Kapal Angkasa tu?"
Mimi tersentak. "Ehh- nampak? Tapi kejap. Kapal angkasa tu… Kapal Angkasa Abang Kaizo!"
"Ei? Macam mana kau tahu kalau Kapal angkasa tu milik dia?"
"Iye lah. Aku dah pernah tengok Kapal tu. Ingatan aku masih kuat. Nah, sekarang bagi tahu aku idea kau."
Syrena tertawa. "Apa kata kalau kita bertamu dekat sana? Mesti seronok, Kan? Kan?"
"Eh?" Mimi termangu. Ia mengingat kembali pertarungannya dengan Fang setengah jam yang lalu guna mengambil Kaizo yang telah 'diam' darinya. Gadis itu terkekeh sejenak lalu kembali menatap Syrena.
"Ide bagus, Syrena. Aku nak ikut! Tapi tunggu kejap. Aku kena infokan maklumat ni dekat Ah Ming, biar dia bagi aku masa sekejap sebelum jumpa dia."
Ia mengambil ponsel bergaya Chibi dari saku gaun lolitanya dan mengirim pesan pada Ah Ming bahwa ia sedang ada urusan untuk menyusup masuk ke pesawat angkasa Kapten Kaizo. Siapa tahu dia bisa mengambil tubuh pria itu tanpa ketahuan. Setelah beres, ia mengangguk.
"Okey. Mari kita bertamu kat sana, Hihihi..."
Halaman depan Gedung Markas pusat O.N.I.O.N., 27 Juli 2014 pukul 14:25
"Kau! Berani kau apa-apakan anak muridku?! HIKMAT ROTAN KEINSYAFAAAAANNN!"
"Hn?!"
TRAAAAAAAAAAKKKKK!
Rosaline terkejut dan menghentikan serangannya pada Gempa begitu Papa Zola melayangkan sebilah Rotan kearahnya. Segera wanita itu membuat perisai transparan yang melingkupi dirinya dan Gempa, saling menangkis dengan Guru Kebenaran tersebut.
"Cih, dasar pengganggu-" desisnya dingin. "Ini pasal aku, jangan masuk campur!"
"Kebenaran tak kan pernah meninggalkan anak didiknya!" pekik Papa Zola seraya berusaha mendorong Rosaline dengan Rotan keinsyafan andalannya. "Bersedialah untuk kalah, wahai perempuan durjanaaaaa!"
"Hmp, kolot. HIAAAHH!"
BUAAAGGHH!
"Adeeeehhhh!"
Ditendangnya Papa Zola hingga terpental. Lelaki paruh baya itu tersungkur. Para murid kelas 7 cerdas segera mendekatinya.
"Cikgu Papa!"
"Ugh… Kebenaran… tak akan berhenti lagi…" Papa Zola bergumam sembari berusaha berdiri. Namun tendangan Rosaline membuat sekujur tubuhnya terasa sakit semua. Melihat kondisi gurunya yang seperti itu membuat Halilintar tidak bisa menahan emosinya lagi. Dengan lantang ia membentak.
"Kurang ajar! Kau dah berani cederakan Cikgu kami! Dan kau dah berani buat benda teruk kat Gempa tepat di hadapan kami, tak punya malu! Kami akan hapuskan kau sehapus-hapusnya!"
"Wuihh- garangnye anak didikku," puji PapaZola. Di kondisi yang carut marut seperti itu ia masih saja berkelakar. Halilintar tidak menggubris gurunya dan segera pasang kuda-kuda.
"Rasakan ni: TETAKAN HALILINTAR!"
Dihunuskannya kedua pedang Halilintar-nya yang berwarna merah menyala dan menerjang ke arah Rosaline, menebas perisai transparan yang melindungi wanita itu berkali-kali. Anehnya, perisai itu tidak bergeming. Halilintar terpaksa menghentikan serangannya dan melompat mundur seraya terengah-engah.
"Ergh- apasal perisai ni keras macam belian?" tukasnya heran bercampur kesal. Tahu-tahu Pedangnya patah, membuat semuanya menganga hebat. Rosaline tertawa setan sembari memeluk Gempa yang masih pingsan di sisi tubuhnya.
"Lemah! Perisai ni dah aku perkukuhkan!" tukas Rosaline remeh. "Kau ingat kau boleh Berjaya dengan serangan kecil macam tu? Kau mimpi je lah, baterai comel."
Wajah Halilintar memerah mendengar itu. Langsung saja ia terbatuk-batuk tanda jijik.
"Hiiiissshh, geli lah! Ingatkan aku akan tergoda dengan rayuan macam tu?" desisnya mual. "Lepaskan Gempa dan biarkan kami belasah kau sampai impas!"
"Oh, oh jangan lah marah. Aku Cuma nak bagi kau satu pasal baik-baik. Pemimpin korang ni dah aku miliki. Maknanya korang kena jadi pelayan aku, ehehee… Amacam? Seronok tak? Hahahahahahahaaa!"
Setelah tertawa ia mengangkat kepala Gempa dan menjilat pipi anak itu sekali. Semua yang ada disitu langsung pasang wajah horror. Keempat pecahan BoBoiBoy menjerit tertahan, begitu pula dengan Ochoboy dan Papa Zola. Stanley, Kevin dan Amar Deep merinding disko sementara Iwan langsung pingsan di tempat.
"GEMPAAA!" pekik Taufan histeris. "Oi, Rosaline! Apasal kau buat pasal gila macam tu kat dia?! Depan kitorang pulak!"
"Berani kau apa-apakan anak didikku?!" Papa Zola mulai berdiri lagi. Namun Ice mencegahnya.
"Jangan, Cikgu. Badan Cikgu tengah cedera. Biar kami yang uruskan," katanya dingin lalu menoleh ke Blaze yang saat itu tengah dipapahnya. "Blaze, kau duduk sini sama Cikgu Papa dan kawan-kawan. Biar aku, Taufan dan Halilintar yang selamatkan Gempa."
Blaze terperanjat. "A- APA?!" ia memekik. "Tapi aku nak ikut korang lawan Rosaline tu- Ugh!"
Ia merosot lagi karena rasa sakit di tubuhnya belum pulih benar. Ice buru-buru menopang tubuh Blaze dan mendudukkannya di sebelah Papa Zola.
"Kan aku dah kata, biar aku, Taufan dan Halilintar yang selamatkan Gempa. Kau kena duduk kejap kat sini. Kalau kau masih paksa diri kau, akan fatal akibatnya."
"Tapi-"
Namun Ice sudah berdiri dan berlari ke arah Halilintar dan Taufan, meninggalkan Blaze yang memandangnya dengan mulut ternganga.
"ICE!" Jeritnya. Dia marah pada dirinya sendiri karena tidak berguna di masa kritis seperti itu. Ia berusaha berdiri namun Papa Zola menahan tubuhnya.
"Sudah! Biar mereka yang selamatkan BoBoiBoy Gempa tu. Kau tunggu disini bersama Cikgu."
Ochoboy mengangguk. "Betul tu. Jangan keras kepala, BoBoiBoy. Badan kau masih dalam keadaan teruk."
"Hissh, tapi BoBoiBoy nak lawan Rosaline juga lah!" Blaze masih bersikeras. Ia meronta, melepaskan diri dari rangkulan Papa Zola dan berlari menyusul ketiga pecahannya. Namun tubuhnya langsung ambruk karena rasa sakit.
"Jangan paksa diri kau, BoBoiBoy Blaze," ucap Stanley. "Keadaan kau makin teruk nanti."
"Keadaan aku lemah ke kuat ke, aku tak peduli!" balas Blaze kesal. "Aku kena bantu diorang untuk kalahkan Rosaline! Biarkan aku sertai diorang!"
"Ushu-su-su-su… Biarpun kau nak lawan Rosaline tapi badan kau lagi teruk tetaplah tak boleeehhhh! Kalau kau masih memaksakan diri, Cikgu akan lempar kau ke Laut!" kali ini Papa Zola berteriak kencang, membungkam Blaze seketika. Ochoboy mendesah melihat itu.
"Biar lah diri kau berehat dahulu," katanya. "Ah, ya. Sekarang aku ada kerja penting."
"Ai'? Kerja apa tu?" tanya Kevin. "Kau belum bagi tahu kami pasal kau ada wujud alternatif macam ni lah."
"Nanti saya terangkan. Sekarang saya akan bawa Gopal dan kawan-kawan perempuan korang tu dekat kapal angkasa Kapten Kaizo. Biar Fang dan Lahap yang uruskan mereka."
Tepat setelah itu, Ochoboy melesat ke arah tubuh Gopal, Yaya, Ying dan para siswi kelas 7 Cerdas dan membawa mereka satu-persatu ke dalam pesawat Kapten Kaizo. Lahap dan Fang yang berada di dalamnya terheran-heran melihat sang Sfera kuasa ke-sembilan itu bolak-balik membawa tubuh teman-temannya yang cedera berat.
"Eih? Kenapa diorang jadi macam ni, Ochobot?" desis Fang pilu melihat kondisi teman-temannya yang mengenaskan. Ochoboy mendelik ke arahnya lalu mencicit pelan.
"Diorang lepas dibelasah Rosaline tadi."
"APA?! ROSALINE?! Ke- Kenapa bisa?!"
"Aku pun tak tahu. Lepas Lahap turunkan kitorang tadi, tak kira akan jadi macam ni. Maaf, Fang. Aku kena bantu yang lain dekat bawah tu."
Ochoboy segera terbang turun. Fang hendak menyusulnya namun Lahap segera menahannya.
"Kau tak ingat ke kalau keadaan kau belum pulih, Pang?" gumamnya tegas.
Fang menoleh. "Tapi, Leftenan... kawan-kawan aku dalam bahaya! Rosaline tengah lawan diorang kat bawah tu. Aku kena tolong diorang!" ucapnya memohon. "Kau tak tengok keadaan Gopal, Yaya dan yang lainnya tu? Dah cukup aku kehilangan Abang aku. Aku tak mahu kehilangan kawan aku juga. Biarkan aku pergi!"
Sekonyong-konyong Lahap menyodok Fang hingga Fang nyaris terjungkal. Dicengkeramnya pundak kanan pemuda itu kuat-kuat.
"DENGAR, PANG! Aku dah lalai selamatkan Kapten Kaizo. Dan sekarang, aku tak nak kau lalaikan aku lagi!" Bentak Alien itu berang. "Sekarang kaulah tanggung jawab aku selepas Kapten tiada."
"Tapi Leftenan-"
Lahap mendengus. "Dah lah. Susah kau ni, Pang," katanya kesal. "Baik kau temankan aku untuk periksa dan ubati kawan-kawan kau yang pengsan teruk."
Fang hanya bisa mengangguk pelan. Ia mendesis.
"Maafkan aku, kawan-kawan. Maafkan aku, Abang."
Kedua Alien itu pun pergi ke ruangan dimana Gopal, Yaya, Ying, Mila dan para Siswi kelas 7 Cerdas dibaringkan guna melihat perkembangan kondisi mereka. Tanpa mereka ketahui, dua sosok tengah mengintai mereka dari belakang.
"Aman," ucap salah satu dari kedua sosok itu. "Saatnya mencari letak dimana badan Kaizo disimpan."
"Ehh, Syrena... Kapal Angkasa ni banyak kamera pengawas tau. Nanti kalau kita ketahuan macam mana?"
"Alah, senang je. Aku kan boleh menyamar jadi air dan haiwan kot. Tak payah kau risaukan."
"Oh, baiklah. Jom kita cari badan Kaizo tu, hihi..."
Detik berikutnya, kedua perempuan itu menghilang.
Sementara itu, Halilintar, Taufan dan Ice sedang berhadap-hadapan dengan Rosaline yang masih merangkul Gempa yang pingsan di pelukannya. Wanita itu pasang senyum serigala.
"Lepaskan Gempa, sekarang juga!" ujar Taufan sembari menuding Rosaline. "Cara basi macam tu tak kan boleh kalahkan kami, tahu tak?"
"Oh, jadi itu berarti korang memang tak nak jadi Pelayan aku ke?"
"Hiiihh, siapa pula yang nak jadi Pelayan kau?!" Halilintar meraba bulu kuduknya yang berdiri karena merinding. "Kami akan belasah kau sampai jadi debu!"
"Kau dah belasah kitorang dan kau belum puas juga?" tanya Ice datar. "Ish, tamaknya, sampai Gempa pun kau ikut belasah! Bersedialah untuk kalah. MERIAM PEMBEKU! TEMBAKAN PEMBEKU!"
BLAAASSSHHH!
Ice menembakkan beberapa bongkahan es berukuran sebesar batu gunung ke arah Rosaline. Rosaline menghindar dengan gesit seraya mendekap badan Gempa erat-erat ke sisi tubuhnya. Ia tertawa nista.
"Hah, kau ingat serangan macam tu boleh kalahkan aku?" katanya remeh. "Giliran aku pulak! TEMBAKAN PENYERA-"
"CAKERA UDARA!" Taufan melempar ribuan piringan angin ke arah Rosaline sebelum wanita itu menyelesaikan kata-katanya. Piringan-piringan itu mengenai Rosaline dan membuat beberapa sabetan tajam di kulit Succubus itu. Keberuntungan bahwa Gempa yang dicengkeramnya tidak terkena serangan itu sama sekali, seakan piringan angin milik Taufan itu hanya menarget Rosaline saja.
"Erg- Taufan, kau akan menyesali ini…" geram Rosaline sembari menyiapkan kuda-kuda, hendak menyerang Taufan. Melihat gelagat itu, Taufan buru-buru menyiapkan perisai anginnya. Namun sebelum Rosaline menerjangnya, Halilintar sudah terlebih dahulu sampai di antara mereka berdua sembari menghunus sebatang tombak berwarna merah dengan tenaga listrik ribuan Volt. Dengan seringai sinis, ia mengambil ancang-ancang.
"Aku akan tamatkan semua ini."
Melihat sang pengendali petir sudah siap menghabisi Rosaline, sekonyong-konyong Taufan dan Ice terkejut karena menyadari sesuatu: Gempa yang masih berada di pelukan Rosaline. Kedua pecahan BoBoiBoy bernuansa biru itu langsung mengidik tatkala membayangkan Gempa akan terkena serangan Halilintar yang mengerikan itu bersama dengan Rosaline yang masih saja meringkus badannya.
"Eh, kejap! Jangan serang dia, Halilintar!" pekik mereka. Tapi Halilintar sudah telanjur menerjangkan tombaknya ke arah Rosaline tanpa bisa dicegah lagi.
"PUSARAN HALILINTAR!"
"Jangan, BoBoiBoy! KUASA TELEPORTASI!"
WUUUSSSSS!
Sebuah sinar menyilaukan tiba-tiba menyelimuti Halilintar sebelum bocah itu sempat menerjang Rosaline dengan serangannya. Halilintar membuka mata dan terkejut begitu melihat dirinya tahu-tahu sudah berpindah ke bawah. Alhasil, serangannya tidak mengenai Rosaline tadi.
"Apa... Apa jadi ni?!" tukasnya kaget. "Siapa yang pindahkan aku?"
"BoBoiBoy, kau ni... jangan lah gegabah!" Halilintar mendengar suara digital itu dan menoleh ke samping. Tampak Ochoboy yang berdiri di sebelahnya, memandang dengan wajah kesal. Menyadari bahwa Cyborg itulah yang memindahkan
"Ei, Ochobot! Apasal kau pindahkan aku guna kuasa teleportasi?!"
"Ish kau ni! BoBoiBoy Gempa tu masih didekap Rosaline lah! Kau nak dia ikut terkena serangan kau ke?"
"Habis tu, kenapa kau biarkan Ice dan Taufan serang si Rosaline? Tak adil lah!"
"Aku lepas selamatkan Gopal, Yaya, Ying, Mila dan murid-murid perempuan Darjah 7 Cerdas dan bawa mereka kat Kapal Angkasa Kapten Kaizo tadi, jadi aku tak sempat cegat diorang. Lagipun serangan diorang tak seganas kau! Kau tak fikir pasal tu ke?"
Halilintar menghela nafas panjang. "Terserah kau dah, Ochobot," ujarnya bersungut-sungut. Kini ia kembali pasang kuda-kuda dan menyusul Ice dan Taufan yang tengah sibuk mencari celah untuk menyerang Rosaline tanpa melukai Gempa.
Blaze, Papa Zola dan yang lainnya hanya bisa melongo.
"Ochobot, kau-" Blaze pasang wajah polos. "Macam mana kau boleh gunakan kuasa Teleportasi tu?"
Ochoboy mendelik ke arahnya. "Kau lupa ke masa aku upgrade dahulu aku dapatkan kuasa ni?"
"Hmm… tak ingat kot, hehehe…"
Ochoboy menepuk keningnya. "Haeh, kau ni," gerutunya. "Klamkabot yang bagi misi ni dekat aku, untuk mencegat pihak jahat gunakan kuasa tu untuk kejahatan. Nah, sekarang Cikgu Papa dan yang lainnya kena masuk ke kapal angkasa. Disini terlalu berbahaya."
"Ei, kau ingat kebenaran akan biarkan anak didiknya lawan perempuan gila tu seorangan ke, Haaaahhhh?!" protes Papa Zola. "Tak secepat itu. Cikgu kan tetap disini sampai BoBoiBoy menang!"
"Kami pun tak kan tinggalkan BoBoiBoy dekat sini," tambah Amar Deep. "Dia kawan kami. Kami tak kan lari semudah itu."
"Humm- baiklah kalau macam tu." Ochoboy menyerah untuk membujuk mereka masuk kembali ke Pesawat Angkasa Kapten Kaizo dimana Gopal dan para Siswi kelas 7 Cerdas dilarikan. Ia pun terbang masuk ke dalam Pesawat Angkasa milik Kaizo dan masuk ke ruangan dimana teman-temannya yang terluka sebelumnya berada. Yaya dan Gopal sudah siuman di atas ranjang mereka masing-masing sementara Ying dan Mila masih belum siuman, begitu juga dengan Amy, Melody dan Melissa. Ochoboy menyapa kedua anak yang berpangkat sebagai ketua dan wakil ketua kelas 7 Cerdas Akademi Pulau Rintis itu.
"Hai, Yaya. Hai, Gopal. Macam mana keadaan korang?"
"Lagi baik, Alhamdulillah." Yaya tersenyum. "Terima kasih sebab dah bawa kami kat sini, Ochobot. Tadi Lahap baru je rawat luka-luka kami. Fang pun dah jumpa kami dan bagi tahu perkara yang terjadi selama dia ditahan kat sini, dan pasal Abang dia juga dia bagi tahu. Kesian dia, mesti emosi dia tengah teruk. Nasib baik dia boleh kuatkan diri."
"Oh, syukurlah kalau macam tu," desah Ochoboy lega. "Oh, ya. Macam mana korang boleh kena belasah dengan Rosaline masa aku dan Papa Zola bawa anak-anak menyusup kat Gedung Markas pusat ONION tu? Dan kenapa pula dia boleh tahu korang ada dekat halaman depan gedung?"
"Hmm- ceritanya panjang, Ochobot," hela Gopal lesu. "Yang jelas, Rosaline tiba-tiba serang kami dari atas lagi. Mestilah kami terkejut! Kami belum sedia buat antisipasi serangan dia. Lalu- Eh?"
Ia tidak melanjutkan ucapannya begitu melihat Ochoboy mendekati Ying yang masih belum sadarkan diri diatas ranjang rawatnya dan membuka jam kekuatan manipulasi waktu milik gadis itu.
"Apa yang kau nak buat tu, Ochobot?" tanya Yaya dan Gopal bersamaan.
Ochoboy membuka rangka dalam jam kekuatan Ying dan mulai mengutak-atiknya bak seorang teknisi jam. "Aku nak ambik balik sebagian kuasa teleportasi yang aku pinjamkan dekat Ying tadi. Aku pon nak perbaiki jam kuasa dia sekali. Jam ini rosak sikit sebab terkena tepi peluru yang ditembak budak mirip Gopal tu. Harap-harap boleh dipakai lagi kalau Ying dah siuman nanti. Oh, ya. Korang ingat budak penembak itu ke? "
"Eh, Ha'ah. Aku masih ingat dia," Timpal Gopal curiga. "Kalau tak salah, nama dia tu Arumugam. Dan BoBoiBoy pernah panggil aku guna nama tu masa dia pelupa sebab berpecah lama untuk pertama kalinya."
"Pelik. Tak sangka budak bernama Arumugam tu ada dekat sini." Yaya mengernyit. "Ingatkan BoBoiBoy cuma asal sebut nama, ternyata dia ingatkan budak tu. Dan ada pula rakan dia yang bernama Ah Meng, macam BoBoiBoy pernah cakap kat Ying dahulu. Kita kena telusuri ini."
"Jangan. Sekarang kita masih ada perkara dekat Rosaline dan ONION," geleng Ochoboy tanpa menghilangkan fokusnya memperbaiki jam tangan Ying. "Kalau semua tu nak kita uruskan sekaligus, boleh pecah kepala aku."
"Hehehe, maaf Ochobot."
"Umm, Ochobot. Boleh tak kami tanyakan kau satu soalan?" Yaya tiba-tiba menginterupsi. "Pasal kau dan Mila tu- macam mana korang boleh saling jumpa? Dan kau ni sebenarnya makhluk apa?"
"Dey, bagi dia satu dulu lah," dengus Gopal. "Nanti dia bingung nak bagi kisah yang mana."
Ochoboy tertawa. "Tak pe, Gopal. Aku kan bagi tahu apa yang sebenarnya telah berlaku padaku dahulu," ujarnya ramah. "Akan kuceritakan masa awal-awal aku jadi Cyborg Ultra Humanoid yang merangkap sebagai Sfera kuasa generasi kesembilan."
Yaya terhenyak. "Ha? Maknanya masa kau jadi Sfera kuasa-"
"Aku belum tamatkan kisah aku," potong Ochoboy lesu." Baiklah. Aku kan ceritakan kisah aku berjumpa dengan Milyra."
Sementara itu, Rosaline masih berhadap-hadapan dengan ketiga pecahan BoBoiBoy dengan nomor urut satu, dua dan lima tak jauh di depannya. Wanita itu masih saja mendekap Gempa erat, seolah bocah itu lebih berharga dari perhiasan.
"Fufufu, selama pemimpin kalian ada di tangan aku, kalian tak kan dapat kalahkan aku," ujar Rosaline sembari tertawa pelan. Taufan, Halilintar dan Ice masih dalam jarak aman dari lawan mereka itu. Ketiganya sedang berpikir keras bagaimana caranya agar perempuan itu melepaskan Gempa agar mereka bisa menyerang dengan leluasa.
"Hiiish, pengecut kau Rosaline!" pekik Halilintar murka. Ia sudah gatal untuk menusukkan tombaknya ke perempuan nista yang melayang tak jauh dari mereka. Namun tatapan Taufan dan Ice yang seakan mengatakan "Jangan! Nanti Gempa juga kena serangan kau!" membuatnya terpaksa menahan diri.
"Tch! Apa kita kena buat ni?" desis Taufan bingung. "Ice, kau ada cara lain ke selain serang Rosaline guna cara frontal? Kalau kita serang dia terus, Gempa juga akan terkena serangan kita."
Ice tampak berpikir-pikir. Mendadak wajahnya menjadi sumringah.
"Nasib baik aku punya kertas cadangan."
Dirogohnya saku celananya dan mengeluarkan sesuatu sambil tersenyum dingin.
"Baiknya kau buat benda ni, Rosaline," katanya seraya menyodorkan secarik kertas dan sebatang Ballpoint. "Kau tanda tangan kat surat penyerahan BoBoiBoy Gempa ni dan bagi dia balik pada kami."
GUBRAK!
"Aduhhh- mulai lagi dia." Taufan dan Halilintar menjatuhkan diri masing-masing setelah mendengar 'lelucon basi' milik Ice itu.
"Iye lah. Kalau tak, macam mana kita nak selamatkan Gempa tanpa lukai dia?" balas Ice datar. "Dah lah, Rosaline. Baik kau tanda tangan dekat surat ni. Tak payah kita buang masa lagi."
Rosaline langsung tertawa berderai-derai. "HAHAHAHAHAAAAA! Ice, kau masih je tak berubah," katanya geli. "Dah berapa kali aku cakap, aku tak kan terpedaya dengan cara cilik macam tu, kau budak payah! Dah lah. Kalau korang memang tak nak jadi Pelayan aku, Gempa pun jadi. Selamat tinggal!"
Ia melesat ke atas gedung sembari membawa Gempa yang belum kunjung siuman. Taufan, Ice dan Halilntar terkejut sekali. Blaze memekik.
"Gempa! Tidaaaakkkkk!"
BLAAAARRR!
Sebuah tembakan ditujukan pada Rosaline yang baru saja hendak terbang lepas ke atas gedung pusat. Semuanya menoleh ke arah asal tembakan dan terperanjat.
"Itu... ITU..."
Pesawat Angkasa milik Adu Du. Terlihat Adu du dan Probe disana plus Kambing S8000 di ambang pintu Pesawat. Tidak ada yang tahu kenapa si Kambing juga boleh ikut. Komputer Adu Du tidak nampak karena sedang mengendalikan pesawat. Lebih mengagetkannya lagi, tampak Tok Aba dan Ray di samping mereka
"ADU DU!" Taufan berteriak riang. "Akhirnya kau datang juga. Lama sangat tau!"
"Tapi apasal Tok Aba dan Bang Ray ikut pulak?" tanya Ice.
"Oi, kau ingat Atok dan Ray nak biarkan korang sengsara macam ni?" rajuk Tok Aba.
"Hehehe, tak lah, Tok."
"Syabas mantan anak didikku... SYABASSS!" Papa Zola memekik girang pada Adu Du. "Akhirnya kau kembali ke pangkal Kebenaran!"
Rosaline mendecih. "Tsk-! Adu Du, kau lagi," desisnya muram. "Bukannya kau dah lari dari Planet kau ke? Baru muncul pulak tu. Ah, ya. Apa khabar dengan Ibu Bu? Mesti dia masih terlena dengan bisnes Butik sampah dia tu."
Adu Du menggeretuk. "Siapa kau yang kata Mama aku tu pemilik Bisnes butik sampah, Heh?!" katanya murka. "Aku datang kesini biar aku dan BoBoiBoy boleh belasah kau! Probe, sedia Senjata dari Bago Go yang kau beli semalam!"
"Baik, Encik Bos!"
Probe segera terbang ke belakang pesawat angkasa dan mengeluarkan sesuatu darinya.
"Haaaa- ini dia Senjata Penakluk ONION!" pekiknya. "SAKSIKANLAAAAAHHH-!"
Pesawat Angkasa Kapten Kaizo, 27 Juli 2014 pukul 15:24
"Ying, bangun Ying!"
Kedua mata sipit itu mulai membuka. Awalnya semua tampak rabun. Ying sadar kalau dia tidak mengenakan kacamatanya. Tapi dia bisa melihat kalau Yaya, Gopal, Mila, Ochoboy, Lahap dan Fang yang saat itu mengelilingi tempat tidurnya. Amy, Melody dan Melissa masih belum siuman.
"Lu... Lu semua apa buat dekat sini?"
"Hayoyo, kau ni dey, kita tu lepas pengsan sebab dibelasah Rosaline tadi," gerutu Gopal. "Nasib baik Ochobot bawa kitorang masuk kat Kapal angkasa Kapten Kaizo ni."
"Aku senang kau dah okey," ucap Yaya lalu menyodorkan Kacamata Ying. "Nah, pakai Cermin mata kau biar kau boleh tengok kami lagi jelas."
Ying perlahan bangkit dari ranjang dan mengambil Kacamatanya yang disodorkan Yaya lalu memakainya. Sejenak ia celingukan melihat ruang rawat itu. Tiba-tiba ia tersentak begitu ia meraba pergelangan tangannya.
"Eh, kejap. Mana jam kuasa saya ho?"
"Ini." Ochoboy mengacungkan jam kekuatan Ying di tangannya. "Aku terpaksa sita jam kuasa korang sebab keadaan korang saat ni tak boleh untuk bertarung. Kalau badan korang dah lagi baik, baru aku bagi."
"Uhh, baiklah."
Yaya memalingkan wajah ke arah Lahap. "Uncle Lahap, kami nak tengok Kapten Kaizo, boleh? Dah lama kami tak jumpa dia tau. Mesti dah lagi besar, kan? Kan?"
Pertanyaan polos itu membuat Lahap, Ochoboy dan Fang terkejut. Serta merta Fang berlari keluar ruangan itu. Ia tidak ingin mendengar teman-temannya itu membahas Abangnya lagi.
"Fang!" pekik Ochoboy. Dia menoleh ke arah teman-temannya. "Korang duduk elok-elok kat sini. Biar aku yang susul dia."
Sepeninggal Fang dan Ochoboy, ketiga teman BoBoiBoy itu menatap Lahap dengan pandangan heran.
"Kenapa Fang lari masa nama Kapten Kaizo disebut?" tanya Mila heran.
"Entah-entah Fang takutkan Abang dia lagi," tebak Gopal.
Lahap menggeleng. "Bukan. Bukan macam tu, Cik Adik," katanya muram, semuram wajahnya. "Korang belum tahu ke kalau Kapten Kaizo sudah meninggal?"
"HAH?! KAPTEN KAIZO SUDAH MENINGGAL?!"
"Umm- maaf. Saya pon selaku tangan kanan Kapten tak sempat selamatkan dia. Nasib baik saya boleh selamatkan Pang." Alien ungu itu menggigit bibir, menahan tangis. "Maafkan aku, Kapten-"
"Oyaho, kami maklum ma," ucap Ying. "Mesti kau rasa kehilangan sangat."
"Ya. Maafkan saya sebab dah tanyakan soalan macam tu," sesal Yaya.
Lahap tersenyum. "Tak pe. Aku okey je," katanya sembari mengelap kedua matanya. "Ada baiknya korang tengok Kapten dahulu, biar korang tahu macam mana kondisi dia sekarang."
"Jom!"
Mereka berlima pun menelusuri lorong. Tiba-tiba Gopal membuka percakapan.
"Dey, Lahap. Macam mana Kaizo tu boleh meninggal? Dia dibunuh ke sakit?"
Lahap mendesah. "Dibunuh," jawabnya pendek, membuat keempat bocah yang mengikutinya terkaget-kaget.
"Siapa yang bunuh?" tanya Mila.
"Hmm, nanti korang tahu je lah."
Lahap menuntun mereka ke ruang dimana tubuh Kaizo berada. Dibukanya pintu ruangan itu. Tahu-tahu mereka terkejut begitu mendapati dua sosok perempuan telah lebih dahulu ada di ruangan itu dan tampaknya hendak menjamah tubuh Kaizo yang tengah terbaring diam di atas sebuah meja dingin. Sontak Lahap membentak mereka.
"HOI! Siapa korang ni, hah?! Berani korang masuk-masuk kat dalam bilik Kapten?!" teriaknya dengan suara menggelegar. Kedua sosok itu langsung mematung dan saling pandang satu sama lain.
"Alamak! Kita dah ketahuan! Macam mana ni?"
"Tak pe, Mimi. Kita hadapi saja dulu. Nanti kalau mereka lengah, baru kita ambil Kaizo."
Keduanya membalik badan guna saling berhadap-hadapan dengan Lahap dan keempat anak yang ikut bersamanya. Langsung saja mereka teperangah, terutama Lahap dan Mila.
"Kau lagi?!" Lahap terperanjat melihat Mimi. "Aku ingat kau yang cederakan Pang tadi. Apa yang kau buat kat sini, hah?!"
"Oh, kita berjumpa lagi," kata Mimi riang. "Maaf, tapi kami cuma nak ambil badan Bang Kaizo je, hehehe... boleh tak?"
"Mana boleh!? Kau ingat dia tu macam barang, Hah?! Dasar psikopat!"
"Uncle Lahap, siapa dia?" tanya Yaya. Dilihatnya Mimi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sepintas gadis itu memang mirip dengan dirinya jika tidak mengenakan hijab. Lahap mendecih.
"Dia ahli ONION, spesifiknya anak kepada Ketua ONION: Mimi."
"Eh? Mimi?" tanya Yaya kaget bercampur heran. pasalnya BoBoiBoy pernah memanggilnya dengan sebutan itu saat temannya itu tengah lupa akut. Diliriknya perempuan yang satu lagi. "Dan itu siapa pulak?"
Tahu-tahu Mila yang berada di sebelahnya bergumam.
"Sy- SYRENA?! Apasal kau boleh ada kat sini?"
"Dey, kau kenal dia ke?" Gopal bertanya pada gadis Succubus itu.
"Aiya, kalau tak kenal, macam mana Mila boleh tahu nama dia?" desis Ying. "Ada hal pulak kau ni, Gopal."
Mila menghembuskan nafas. "Dia tangan kanan daripada Bunda aku: Syrena, salah satu perempuan tersohor dekat Planet aku. Dia termasuk dalam bangsa Siren. Korang tahu kan?"
"Eh, Siren?" Gopal terhenyak. "Bukannya mereka itu ialah makhluk mitologi berwujud perempuan yang dapat bertukar jadi duyung ke burung camar? Dan biasa pun suara mereka terlampau merdu sampai boleh lenakan orang-orang."
Syrena terkekeh. "Oh, benar. Kau benar, anak muda." pujinya pada Gopal. "Aku tersipu sangat dengan maklumat bernas kau tu." Ia memandang sang pemuda India lamat dengan pandangan menggoda. "Dan aku tengok kau ni lumayan gagah. Hitam manis pulak, buat aku terpikat je. Kalau kau nak mungkin kau boleh jadi Raja aku, hmm?"
"EHHH?!" Wajah Gopal tahu-tahu memerah. "A- Aku?! Jadi Raja?! Raja apa?"
"Raja Planet Tim tam Daua lah. Apa lagi?!"
Mila tersentak. "Kejap!" tukasnya cepat-cepat." Kau nak Gopal jadi Raja kau? Maknanya Kau dah jadi Ratu Planet Tim tam dua?!"
"Kurang lebih macam tu," jawab Syrena sembari tersenyum simpul. "Seperti yang kau tahu, Bunda kau ialah Ratu daripada Planet Tim tam Dua. Dan selepas kau hapuskan Rosaline tiga bulan lepas, aku kudeta kau daripada jabatan putri Mahkota dan buang kau ke Bumi. Kau tak ingat pasal tu ke?"
"Ayak! Itu ke sebab kau boleh terdampar kat bumi?!" ucap Ying kaget.
"Tapi kenapa Mila boleh lupa pasal tu?" Gopal ikut menimpali.
"Entah." Mila mengangkat bahu. "Nampaknya ingatan aku dihapus masa tu, jadi aku tak ingat."
"Sudah! Buang masa je korang bincang ni," potong Lahap lalu menuding Mimi dan Syrena. "Dan korang berdua! Pergi dari sini sebelum aku belasah korang!"
"Hmp, baiklah kalau itu yang kau nak," ucap Syrena pasrah lalu memandang Gopal. "Jumpa lagi, Calon Rajaku, fufufu... Nanti kita sambung perbincang kita."
Segera wajah Gopal menghijau mendengarnya. Ia batuk-batuk tanda geli. Dia tidak habis pikir, mau-maunya wanita Siren itu menggombalinya seperti itu. Syrena baru saja hendak beranjak. Namun ia heran begitu melihat Mimi tidak bergeming.
"Ei, Mimi. Kau tak nak balik ke Markas ke?"
Mimi tidak menjawab. Kedua matanya tiba-tiba membayang tanda jiwa sadisnya mulai kambuh. Dihunusnya sebilah Pisau dan mengacungkannya pada Lahap dan keempat anak yang bersamanya.
"Aku tak kan pergi dari sini sebelum aku berhasil dapatkan badan Abang Kaizo," ucapnya dingin lalu menatap Yaya, Ying dan Gopal lamat. "Dan korang... korang yang dah ambil BoBoiBoy dari aku... Aku tak kan biarkan korang ambil dia lagi! AKAN KUHAPUSKAN KORANG SEMUA! HEAAAAHHHH!"
Sekonyong-konyong gadis itu berlari ke arah ketiga anak Bumi itu sembari menghunus pisaunya. Gopal memekik, Ying pasang siaga dan Lahap sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Tiba-tiba-
"KUASA PEMBERAT GRAVITI!"
Mimi tiba-tiba merasa tubuhnya sangat berat. Ia terduduk dan memandang sekeliling. Tampak sebuah lingkaran berwarna Pink di sekelilingnya. Rupanya Yaya telah menggunakan kekuatan manipulasi gravitasi-nya dari menyerang teman-temannya. Gadis itu mendecih dan berusaha melepas dirinya dari pengaruh Gravitasi Yaya. Syrena menjerit.
"Mimi! Kau okey kah?"
"Ugh- jangan masuk campur, Syrena." Mimi meringis. Ia masih saja berusaha melepaskan diri. Melihat gadis itu mulai kepayahan, Syrena segera mengubah wujudnya menjadi Duyung dan berenang di lantai yang telah dimodifikasinya menjadi kolam. Mulutnya komat-kamit membaca mantra, dan segerombolan Piranha muncul dari bawah lantai. Ikan-ikan ganas itu menerjang ke arah Yaya.
"Yaya, awas!" jerit Ying memperingatkan. Yaya terkejut. Ia tidak tahu apakah harus menghindar ataukah tetap menahan Mimi di lingkaran Gravitasi-nya.
"Ugh- tak boleh lah! Nanti Mimi terlepas!"
"Tepi! Biar aku yang uruskan." Gopal segera menembak piranha-piranha itu dengan tembakan molekul. "TUKARAN IKAN GORENG TEPUNG!"
SRIIINGGGG!
Piranha-Piranha itu langsung berubah menjadi ikan goreng tepung akibat terkena kekuatan Gopal, membuat Syrena terperangah.
"Kau- Kau boleh tukarkan Piranha aku jadi ikan goreng?!" katanya kagum. "Makin lama aku makin tertarik je dengan engkau, ehehe."
"Haduhh, terharu pulak dia ni," desis Gopal sambil menepuk keningnya. "Menyesal aku."
"Cih, korang berdua ni memang nak cari masalah dengan kami!" Lahap menggeram marah. "TEMBAKAN PLASMA! BUAAAAHHHH!"
"Tak kan kubiarkan. DINDING LEZINAH!"
PYAAARRR!
Sebuah dinding maya tiba-tiba menangkis serangan Lahap. Sepintas mirip dinding tenaga Kapten Kaizo, namun ini lebih kecil. Rupanya Mimi memanggil Boneka Martha untuk menciptakan dinding itu.
"HAH?! Apa... Apa benda tu?!" Gopal mendesis ngeri melihat boneka bergaun lolita hijau di sebelah Mimi itu. Ditambah mulut boneka itu terus menyeringai sehingga hampir membuat Gopal pingsan.
Ying memicingkan mata. "Dia macam patung ma. Tapi apasal patung boleh punya kuasa? Eh?"
Ia terbelalak begitu melihat Martha melemparkan beberapa pisau dari tangannya dan menarget Yaya. Terpaksa gadis berkerudung pink itu melepaskan pengaruh gravitasinya pada Mimi dan menghindar. Ia mendarat di samping Ying dan menatap Mimi dan Syrena.
"Baik korang balik je. Kami tak nak sakiti korang lah," ujar Yaya memohon. Dia tidak sanggup melukai mereka berdua. Namun usulnya itu hanya dibalas tawa oleh Mimi.
"Kami? Kena balik?" tawanya meremehkan. "Kami bukanlah tipe lemah macam tu. Dan kami akan hancurkan korang semua! Itu hadiah setimpal sebab korang dah ambil BoBoiBoy dari aku, Hihihi... korang sedia?"
Bersambung...
Horeeee! Akhirnya selesai juga bagian pertama ini. Maaf kalau kurang nge-feel hehehe ... Fang juga cuma muncul sedikit disini. Insha Allah chapter2 berikutnya perannya akan ditambah :) And so ... Mind to Review?
Tetap setia untuk menanti kelanjutannya ya.^^ Love you all, dear readers
