Naruto © Masashi Kishimoto

Story © KawaiiHanabi

It Started With A Kiss

Sasuke X Sakura

NB/ Hanabi anggap ini Side story yang menceritakan alasan mengapa Sakura pergi ke Paris. Kalo kalian mau

anggap flashback atau apapun terserah dehh viss Douzooo!

.

.

.

.

.

Tak perlu berlama-lama untuk mengantar Sakura pulang karena jalanan Tokyo cukup senggang malam ini.

Senggang? Tentu saja sekarang sudah hampir tengah malam bagaimana tidak senggang huh? Disaat orang lain tertidur mengapa kalian malam lovey-dovey ditaman? Oke mari kita abaikan jalanan Tokyo dan beralih pada dua makluk yang tengah kasmaran ini.

"Ano, Sasuke-kun kore..." Ujar Sakura, Gadis merah muda itu memberikan jas yang tadi ia kenakan pada pemilik aslinya .

Sasuke pun mengambilnya dan kembali mengenakan jas itu di tubuh Sakura, Sakura dibuat heran dengan kelakuan Sasuke barusan. "Lebih baik kau pakai ini." Ujar Sasuke sembari membenahi jas yang melekat kebesaran ditubuh Sakura.

"Baiklah, aku akan mengambalikannya lewat jasa binatu nanti. " Ujar Sakura pelan. Jasa binatu dia bilang? apa tak ada niat bagi Sakura untuk mengambalikannya secara langsung?

Sasuke memandang heran Sakura. "Ah...aku sibuk Sasuke-kun. Jika kau bertanya." Balas Sakura diserataisenyum.

"Hn." Ujarnya singkat. Mungkin pria itu marah? tidak dia bukan anak kecil lagi kawan. Itu hanya kebiasaan yang sulit di ubah dan jelas Sakura tahu itu.

Sakura menggeledah tasnya, merogoh ponsel dan segera menyalakannya. Astaga?! Lihat ini banyak sekali misscall terutama dari Sasori. Mungkin ia khawatir karena sudah hampir jam 12 dan sepupu gadisnya masih belum pulang. W-what? Jam 12? Oh Sakura kau harus bergegas jika tak ingin dimarahi oleh sepupumu layaknya ibu tiri.

"Baiklah Sasuke-kun sepertinya aku harus pulang. Kau tahu aku akan dapat masalah jika pulang pagi buta seperti ini." Gadis merah muda itu hendak membuka pintu mobil, namun Sasuke masih menguncinya.

"Ayolah Sasuke-kun. Sasori-nii bisa membunuhku." Ujar Sakura sembari memohon.

Sejujurnya Sasuke masih enggan melepas Sakura, namun apa daya jika gadis manis itu memaksa untuk turun dengan tatapan memohon seperti itu?

Sasuke menghela nafas , Ia membuka pintu mobilnya dan turun diikuti Sakura. Dirinya kini tengah berada di depan lobby apartemen tempat Sakura tinggal memastikan gadis itu aman. Mereka berpelukan.

"Jaa nee Sasuke-kun . Oyasuminasai." Ujar Sakura sembari berlari kecil menuju lobby apartemen meninggalkan Sasuke.

Pria itu tersenyum tipis sembari memandang punggung Sakura sampai menghilang dalam lift. Setelah itu Pria dengan iris onyx sekelam malam itu bejalan menuju mobil , bergegas untuk pulang. Dia perlu istirahat karena besok ada banyak pekerjaan yang menanti , Cih sial...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dengan mengendap-ngendap menjinjing sepatunya Sakura sudah sampai di depan pintu apartemen. Kepala merah mudanya celingak-celinguk ke kanan dan kiri memastikan bahwa tak ada orang disekitarnya. Perlahan jarinya menekan password pintu apartemen Sasori yang sudah ia hafal.

Tak perlu waktu lama baginya untuk bisa masuk. Keadaan apartemen yang gelap menandakan bahwa sang pemilik sedang terlelap dikasur kesayangannya. Masih dengan langkah yang pelan Sakura menaruh sepatunya di rak dan mengendap-ngendap seperti pencuri.

"Untunglah Sasori-nii sudah tidur." Ujarnya.

Sakura memegangi tembok mencari saklar lampu namun betapa terkejutnya ia saat menabrak seseorang yang ia yakini berbadan lebih besar darinya.

"I..itai." Teriaknya. Pantatnya sukses mencium lantai karena menabrak orang itu.

klik

Lampu menyala. Sasori berdiri disana dengan senyum menyeramkan, bagai boneka chukky yang siap membantai korbannya. "Darimana saja kau huh? apa yang akan dikatakan ibumu jika kau mengacaukan lagi kencan buta dan malah menghabiskan waktu dengan pia lain?!" Ujarnya panjang lebar.

Em, jika hal ini menyangkut Sakura sifatnya akan sangat berbeda menjadi cerewet dan penuh perhatian, karena ia sangat menyayangi Sakua layaknya adik kandung sendiri.

"Sa-sasori-nii!" Pekik Sakura. Gadis itu segera berdiri dan memungut jas milik Sasuke yang tadi sempat terlepas.

"Oh, Uchiha Sasuke ka?" Sasori menyeringai dan berjalan menuju ruang tengah, Melihat hal itu Sakura langsung mengikutinya dari belakang dengan langkah yang terburu-buru. Sakura lelah, ia butuh istirahat karena besok ia harus pergi bekerja dan menemani Hiro. Tapi gadis itu tak bisa dengan mudahnya lepas dari

Sasori, seperti perkiraannya tadi. Ia mendapatkan sebuah masalah dari kakak sepupu karena pulang hampir tengah malam . Hey apakah kau itu cinderella? Datederella? Entahlah..

Sasori duduk di sofa di depan tv lcdnya dengan santai. Melihat pose Sasori yang dibilang 'santai' seperti itu membuat Sakura enggan untuk duduk diatas juga. Ia memilih duduk dilantai sembari menunduk, di samping Sasori tepatnya. Oh Pria berwajah baby face ini sedang dalam angry-mode-on.

Hening

Mereka tak juga bicara, Sasori membuang nafasnya kasar.

"Jadi ada yang ingin kau ceritakan padaku?" Tanya Sasori yang sudah dalam kondisi lebih ya kau tau maksudku lebih 'melembut' seperti itu.

Sakura yang sedari tadi menunduk menoleh menatap iris madu Sasori. "Ma-maksud Sasori-nii?" Tanyanya.

"Aku tak mengerti, kau pergi untuk menghindari Uchiha itu tapi kau kembali bersamanya." Jelas Sasori. Ah, ya dahulu saat Sakura pergi ke Paris ia tak mengatakan apapun, Sasori hanya menerka itu karena Sasuke. Ia sedikit penasaran sebenarnya, sedikit. Meski Sakura adiknya sepupunya ia harus bisa memberi ruang bagi Sakura dan juga sekarang bukankah Sakura harus bercerita? aku yakin bukan Sasori saja yang ingin tahu tapi kalian juga kan, baiklah...

Awal Dari Segalanya -Side Story-

Semuanya berawal dari sana, saat ia hendak mengambil file di kediaman Uchiha ia tak sengaja memergoki Sasuke dan Saara yang tengah ehmm-berciuman-ehmm di kamar Uchiha Sasuke yang masih memegang STATUS sebagai KEKASIH-nya.

Ini sebuah cobaan, disaat gadis bermarga Haruno itu mulai menyadari perasaannya pada Sasuke, Ia harus menerima kenyataan pahit kalau orang yang Sasuke cintai itu Saara. Sakura tahu Sasuke itu memiliki orang yang ia cintai dimasa lalu. Tapi siapakah yang bisa menolak pesona seorang Uchiha? Oke ini gila memang kisah cinta mereka tidak dimulai layaknya pasangan normal lainnya. Mereka tiba-tiba berciuman dan BOOM terlahirlah sepasang kekasih yang sempat menghebohkan dunia maya.

Kala itu identitas Sasuke masih dirahasiakan dari publik-terkecuali anak KIHS karena mereka sendiri yang menyaksikan adegan ciuman itu-, berbagai artikel medsos menyebutnya dengan sebutan . Uchiha Sasuke sendiri selain seorang pangeran KIHS ia juga anak dari pengusaha terkenal Fugaku Uchiha, klise dan drama memang tapi begitulah kenyataan yang ada. oke sepertinya cerita ini jadi agak melenceng dari topik. Tapi memang benar sebelum memutuskan pergi ke Paris, seseorang dari masa lalu Sasuke itu sempat mengiriminya pesan singkat yang membuat Haruno Sakura mau tak mau harus mengiyakannya.

From : 010-XXX-XXX

Bisakah kita bertemu? Ada yang ingin ku bicarakan. Ini tentang Sasuke-kun .

Okamoto Saara

Dengan mudahnya Sakura mengiyakan ajakan Saara untuk bertemu di keesokan harinya, Mereka di Kafe yang tak jauh dari KIHS. Gadis merah muda itu duduk di sisi jendela dengan memakai celana jeans dan baju bermotif bunga Sakura berwarna merah mudanya. Ahh sudah musim semi tak terasa kelulusan tinggal beberapa minggu lagi .

Klining

Lonceng tanda pelanggan masuk berbunyi,munculah Saara yang datang dengan dress putihnya. Ia sangat cantik Sakura akui itu. Saara mengampil tempat duduk dihadapan Sakura. Gadis itu menunduk sopan memberi salam-mengingat ia masih keturunan kerajaan- Sakura membalasnya dengan senyuman canggung. Ya lagi pula ini kan pertemuan perdana mereka yang pertama setelah kejadian tak mengenakan wakti itu ehm.

" Maaf aku terlambat Sakura-san." Ujar Saara sopan.

Sakura mengibaskan tangannya "Tidak kebetulan aku tak ada urusan jadi, oh ya Apa yang akan kau bicarakan Okamoto-san?" Tanya Sakura.

"Ini tentang Sasuke-kun..." Saara memberi jeda sebelum meneruskan pembicaraannya. "Bisakah kau melepaskannya?"

.

.

.

.

.

.

.

Haruno Sakura menatap miris jalanan didepannya. Ditengah kelopak bunga Sakura yang mulai bermerkaran, dirinya duduk termenung , perkataan Saara masih teringat jelas dikepalanya .

"...Bisakah kau melepaskannya? " Kenapa Sakura harus melepasnya? ah tidak kenapa wanita itu yang harus memintanya bukan Sasuke sendiri?

"Kau tahu, sejak dulu Sasuke mencintaiku. Namun dulu aku belum bisa menerimanya, lama berpisah akhirnya aku sadar kalau aku menginginkan Sasuke-kun. Jadi bisakah kau melepaskannya untuku?" Ingin sekali Sakura berteriak membalas Ucapan tak sopan wanita itu. Namun sayangnya ia tak bisa, ia takut dengan kenyataan bahwa Sasuke memang mencintai wanita ini.

"Aku tahu kau dan Sasuke-kun terpaksa berkencan karena sebuah skandal dan identitas Sasuke-kun masih dirahasiakan. Tapi coba kau pikirkan jika suatu hari nanti rahasia itu terbongkar, bisa kau bayangkan jika anak pengusaha terkenal terlibat skandal dengan model amatiran. Itu memalukan." Lihat? Ucapan wanita ini memang kurang ajar.

"Kuharap kau pikirkan kembali, Sakura-san. Karena bagaimana pun ini tentang Sasuke-kun. apa kau tak kasian dia ada disampingmu tapi perasaannya bersamaku?. Sekali lagi tolong pikirkan baik-baik. Saya permisi."

Sampai akhir pun Haruno Sakura tak mampu membalas perkataanya. Sakit rasanya memang, Sasuke ada disampingnya dengan status sebagai kekasihnya tapi ia memikirkan wanita lain? Meski hubungan mereka tak didasari sebuah cinta tapi setidaknya Sakura menyimpan perasaan untuk Sasuke!

.

.

.

.

.

Pertemuannya dengan Saara harus kembali terulang namun kali ini Saara sedang berkencan dengan Sasuke. Pria pantat ayam itu menolak berkencan dengan Sakura dan memilih berkencan dengan Saara? Pantas saja. Untung saja ana Neji saat itu, jadi ada alasan bagi Sakura untuk menghindari perasaan bodoh ini.

... (Kejadian ini berlangsung di Chapter sebelumnya) ...

"Kau benar..." ujarnya. Sakura menggenggam ponselnya lebih kuat seakan ingin menghancurkannya.

"Kami memang tak memiliki hubungan. Naruto, Hinata-chan maaf sudah membohongi kalian semua tentang hubungan ini. Tapi satu hal yang perlu kalian tahu." Emeraldnya memandang Sasuke sungguh-sungguh. Ia tersenyum getir. "...perasaanku bukan sebuah kebohongan. "

Trak

Ponsel yang sedari tadi Sakura genggam terjatuh tepat disamping Sasuke saat ia selesai bicara dan bergegas keluar cafe tadi.

"Sepertinya ucapanku itu memang benar ya?"

Sasuke memungut ponsel itu, terpampang jelas foto dirinya yang menjadi latar ponsel milik Sakura. Ia ingat betul dimana itu. Itu saat dirinya tengah membaca buku diperpustakaan, dan Sakura memotretnya diam-diam.

"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Tanya Naruto pada Sasuke. Neji sepertinya berusaha menyusul Sakura yang sudah lari keluar cafe tanpa menghiraukan keadaan absurd disana.

"Bisa kau jelaskan Uchiha Sasuke!" Seru Naruto dengan nada lantang yang membuat beberapa pengunjung kafe menatap mereka penasaran.

Sasuke masih menggenggam ponsel yang terjatuh tadi. Pikirannya kacau sekarang.

"Bukankah sudah jelas? Sasuke-kun masih mencintaiku. Dia hanya bermain-main dengan Haruno-san. " Saara kembali membuka suara, Naruto geram hendak membalas perkataan Saara namun.

"Cukup.." Sasuke berujar sambil menahan amarahnya yang sudah dipuncak. "Berhenti mencampuri urusanku lagi! " bentaknya.

Sasuke memilih keluar kafe meninggalkan Saara yang masih syok dengan ucapannya barusan dan Naruto yang sedari tadi memandangnya tajam.

Diluar kafe, sesekali onyx hitam milik Sasuke mencari gadisnya. Namun hasilnya nihil. Sakura sudah tidak ada. Segera ia masuk kemobil dan duduk dibangku kemudi. Ia menstarter mobilnya membelah jalanan kota yang belum cukup ramai ini.

Gadis bersurai merah muda itu memandang kosong jalanan kota. Tak lama kemudian setetes air turun dari matanya yang cantik.

"..." Neji menyodorkan selembar tisu kering pada Sakura. Gadis itu tak mengiraukannya dan masih menatap jalanan dengan pandangan kosong.

Saat Sakura berlari keluar kafe tadi Neji berhasil menyusulnya dan menculiknya ke mobil mendahului Sasuke. Awalnya Sakura menolak tapi karena Neji memaksa Sakura akhirnya mau ikut dengannya. Namun sampai detik ini gadis itu belum membuka suaranya. Ia bahkan lupa jika ponselnya terjatuh dan kini ada pada keka- maksudku pada Uchiha Sasuke.

Ckittt~

Neji memberhentikan mobil miliknya dan menatap Sakura lembut. "Hey? Kau bisa bercerita padaku. Aku kakakmu ingat?" Ujar Neji dengan nada yang sangat lembut. Hanya pada adik-adiknya ia berbicara seperti ini.

Sakura menoleh Iris Emeraladnya menatap Neji dengan mata berkaca-kaca. Air mata itu akan segera tumpah.

"Neji-nii..." Ujar Sakura lirih.

"Apa...apa jatuh cinta semenyakitkan ini?" Tanyanya dengan nada bergetar. Neji prihatin melihatnya, sepertinya ia mengerti perasaan gadis yang baru jatuh cinta ohh~

"Hey apa yang terjadi?" Tanya Neji lembut. Sakura masuk dalam pelukan Neji dan menangis sejadi-jadinya.

"Kau boleh menceritakannya padaku, semua." Tutur Neji sembari mengusap surai merah muda Sakura sayang. -hanya imajinasiku apa disini Neji memang sangat lembut? Well karakter seseorang memang bisa berubah jika itu menyangkut suatu hal yang ia cintai.

Sakura mengangguk mengiyakan. Ia pun mulai menceritakan pertemuannya dengan Sasuke, hubungan absurd yang mereka jalani, munculnya Saara cinta pertama Sasuke, dan... ah tentu saja ia tidak menceritakan kalau mereka berdua bertemu dan menjalin hubungan aneh karena ciuman mendadak.

Neji mengangguk paham "Jadi apa yang akan kau lakukan Sakura?" Tanya Neji kemudian.

Sakura menggeleng dalam Neji. "Sasuke membenciku, ia menyukai orang lain. " Jawab Sakura lirih. Entah kenapa mendengarnya Neji merasa panas dan ingin melayangkan bogem ke wajah tampan Sasuke karena sudah seenaknya mempermainkan -orang yang ia anggap- adiknya.

"...beberapa minggu lagi kelulusan, kisah bodoh ini mungkin berakhir dan aku akan kembali ke Fukouka." Ujar Sakura kemudian. Neji menghela nafas kasar.

"Jadi apa yang akan kau lakukan disana nanti? kuliah? berhenti jadi model." Tanyanya.

Sakura menggeleng. Entah apa yang akan ia lakukan nanti. Ia tak yakin jika nanti hubungan palsunya terkuak ke media karirnya sebagai model amatiran-seperti yang Saara bilang akan selamat. Ia pun akan di cap sebagai orang yang suka tebar sensasi demi mendongkrak popularitas, tapi kalian sendiri tahu bukan itu alasan sebenarnya.

"Aku mengerti, jika hubunganmu berakhir karir modelmu juga akan tamat. " Ujar Neji.

Sakura masih menangis sesegukan, kenapa cintanya begitu lebay dan rumit!

"...sebenarnya aku akan menetap di Paris, beberapa hari lagi aku akan berangkat kesana." Ujar Neji.

Emerald Sakura menatapnya kaget. "Neji-nii mau meninggalkanku yang sedang patah hati begitu?!" Ucapnya setengah berteriak. Sakura kembali menangis dan melempar tissu yang tadi Neji berikan padanya.

"Heyy, berhentilah menangis. Dengarkan aku dulu!. " Ujar Neji. Ia memegang kedua bahu Sakura dan menatap Emerald milik Sakura lembut.

"...Jika kau mau aku bisa membantumu debut di Paris, dan kau bisa mengakhiri hubunganmu dengan Sasuke jika memang ia tak menginginkannya. "

Mendengar itu Sakura memasang tatapan bertanya . "Hountou?" Neji mengangguk mengiyakan.

"Tapi sebelumnya kau harus membicarakan masalahmu ini dengan Sasuke. " Mendengar penuturan Neji. Sakura mengangguk mengiyakan. Sekarang ia harus bisa menyisihkan ego dan perasaannya dahulu, Ia akan berbicara serius dengan Sasuke nanti.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sasuke, kau ada waktu?"

"Tidak."

"Sasuke."

"Hn."

"Sasuke kita perlu bicara."

"..."

"Sasuke kita perlu bicara ini soal..."

"Maaf aku ada urusan."

"Hanya sebentar Sasuke, ini tentang hubungan..." Sasuke Uchiha menghempaskan tangan Sakura. Ia selalu seperti ini untuk kesekian kalinya. Mengacuhkan Sakura dengan alasan sibuk dengan hal lain.

"Urusanku lebih penting." Ujarnya kemudian.

Setiap kali Sakura mencoba berbicara dengan Sasuke namun pria tampan itu selalu menghindarinya. Sampai suatu hari ia tahu kalau alasan Sasuke selalu menghindar adalah Saara. Demi bersama Saara, Sasuke mengabaikannya. Setidaknya itu yang Sakura tangkap saat itu.

"Baiklah jika ini yang kau inginkan Sasuke," Ujar gadis itu lirih saat eeraldnya tak sengaja menangkap pria yang ia sayangi bersama dengan Saara di sebuah pusat perbelanjaan.

Perlahan kaki Sakura mulai melangkah jauh dari tempat itu, dengan berat hati ia harus merelakan apa yang ia lihat hari ini. Kaki jenjangnya perlahan memasuki mobil hitam yang sedari tadi sudah menunggunya.

Menunggu Sakura selesai mengamati Sasuke bila kalian ingin tahu.

Perlahan Sakura mulai menurunkan topi yang ia kenakan hingga menutupi matanya, namun karena kepekaan sang manager yang tadi sempat melihat emerald indah itu berkaca-kaca sontak menimbulkan pertanyaan besar dibenaknya. "Sakura-san.." Tegur Yamato sang manager . cepat-cepat gadis bermarga Haruno itu menghapus air matanya kasar.

"Yamato-san, bisakah aku minta tolong padamu?" Tanyanya lirih.

Mendengar namanya dipanggil Yamato menoleh dan mengangguk mengiyakan pemintaan model cantik itu.

"Ini tentang wawancara ku dengan majalah Date. Bisakah kau hubungi Nona Hong dan memintanya untuk mewawancaraiku malam ini? Ada yang ingin ku sampaikan dan ini sangat penting." Jelasnya.

Mendengar penuturan Sakura barusan membuat Yamato kaget. "Hal penting maksudmu apa? Jangan bilang..."

Sakura tersenyum menanggapinya. Sebenarnya Yamato tahu apa hal penting yang dimaksud oleh Sakura itu,

Skandal tentang hubungannya dengan pria berinisial US tersebut. Selama ini banyak majalah-majalah yang ingin sekali untuk mengklarifikasi hubungan mereka itu, namun hingga saat ini Orochimaru-si kepala agensi- melarang modelnya untuk angkat bicara mengingat karir Sakura yang sedang meroket saat itu. Berkat kekuatan Orochimaru lah identitas Sasuke selama ini tersembunyi, lah bukankah Uchiha Fans Club atau apalah itu mengetahui semuanya? Lantas mengapa mereka tak membocorkannya pada media. See? sebut saja ini solidaritas antar anggota dengan prinsip Sasuke itu milik warga KIHS bersama. Secara mudahnya bayangkan saja jika Sasuke sampai masuk media dan ketahuan berpacaran dengan model yang sedang ngetrend pasti dia juga ikut terkenal kan? Lalu bersyukurnya lagi fans Sasuke tambah banyak dong? Nah ini lah intinya Fans Sasuke yang semakin banyak membuat para warga KIHS makin sulit mendekati Sasuke. Lah wong Fansnya yang sesekolah aja jarang-jarang bisa ngedeketin tuh Sasuke, apalagi kalo se-Tokyo. Makin susah kali. Oke kita abaikan para UFO-atau apalah itu saya lupa- dan kembali ke Sakura dan Yamato.

" Ini adalah keputusan yang saya ambil setelah berbicara dengannya tadi. " Sakura memang sebelumnya sudah berdiskusi dengan kepala ular itu jauh-jauh hari untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi nanti.

"Tapi..." Yamato masih ragu untuk menuruti keinginan Sakura itu.

"Yamato-san, kontrakku akan berakhir setelah lulus nanti, aku mengambil keputusan ini karena aku akan meninggalkan agensi dan karirku di Jepang. "

Jika sudah mendengar hal itu Yamato tak bisa menolak lagi. "Baiklah.." Yamato menghela nafas dan segera menghubungi Nona Hong -reporter majalah Date- . Dengan berat hati ia mengiyakan keputusan Sakura meskipun itu adalah jalan yang salah menututnya.

.

.

.

.

.

Disinilah Sakura berada sekarang, disebuah kafe tempat ia akan membongkar semua kebohongan yang ia lakukan. Membebaskan Sasuke dari ikatan bodoh yang ia buat. Gadis merah muda itu menyesap coklat panas yang tadi ia pesan.

"Maaf Nona Hong, apakah anda ingin memesan sesuat terlebih dahulu?" Tanya Sakura sopan.

Wanita yang ditaksir masih berusia 30 tahunan itu menggeleng. "Ah, tidak perlu. Bisakah kita mulai wawancaranya sekarang Sakura-san?" Tanyanya.

Sakura mengangguk. Sudah saatnya.

Nona Hong mulai menyalakan Notebooknya dan tak lama kemudian mengetikan beberapa kata didalamnya .

"Sebelumnya terima kasih karena kau telah mau diwawancarai oleh majalah kami, mengingat sulit sekali untuk di wawancarai." Candanya.

Sakura pun tertawa mendengarnya. "Ya, suatu kehormatan bagiku. "

"Baiklah Sakura-san, pertanyaan pertama yang akan saya ajukan adalah soal skandal hubunganmu dengan seseorang yang beberapa waktu lalu sempat membuat banyak orang bertanya-tanya. Jika boleh aku tahu siapakah orang itu? Apakah kalian masih berkencan?" Tanya Nona Hong dengan serius . Sakura mencengkram pakaiannya dengan erat.

"Kami..." Ia ada di sini untuk menjelaskan hal itu. Ia tak boleh goyah. Ini yang terbaik . Pikirnya.

"Kami tak menjalin hubungan yang sebenarnya. Aku sengaja merekayasa hal itu untuk keuntunganku tersendiri. " Jelas Sakura. Kepalanya menunduk memandang lantai putih kafe.

"Maksudmu, kau hanya membuat skandal untuk mendongkrak popularitas?" Pertanyaan Nona Hong ini agak sedikit... ya kalian tahu maksudnya.

Sakura tersenyum getir . "Hubungan kami lebih rumit dari itu tapi yang jelas. Aku memanfaatkannya dan jangan sangkut pautkan pria itu lagi. "

Nona Hong pun menuliskan semua perkataan Sakura kedalam Notebooknya. "Baiklah, Sakura-san aku yakin sebagi seorang publik figure kau pasti tahu apa dampaknya dari skandalmu itu?"

Pertanyaan yang kembali dilontarkan Nona Hong tak membuat Sakura mundur. Ia sudah sangat yakin dengan keputusannya. "Tentu tahu. Maka dari itu aku bersedia diwawancara dan berniat rehat dari dunia model untuk fokus dengan studiku." Jelasnya.

Nona Hong mengangguk dan kembali mengetiknya.

Pertanyaan demi pertanyaan lain pun kembali dilontarkan Nona Hong namun pertanyaan ini bersifat umum,seperti pertanyaan bagaimana rasanya menjadi model? Mengapa kau tertarik menjadi model? Bagaimana kau memulai karirmu di dunia model? dan sejenisnya.

Tuk .

Nona Hong menutup Notebooknya, pertanda bahwa wawancaranya telah selesai. Melirik jam tangan pada pergelangan tangannya Haruno Sakura harus segera pulang, ia tak mau membuat sepupu bayinya khawatir. Namun belum sempat hendak pamit pergi Nona Hong memulai kembali percakapannya.

"Sakura-san...Maaf jika aku ikut campur tapi...kenapa kau harus berbohong?" Tanya Nona Hong . Emerald

Sakura memandang wanita dengan rambut hitam bergelombang itu sejenak.

"Apa maksud anda dengan berbohong. Bagaimana...?" Tanyanya.

Nona Hong tersenyum tipis. "Bagaimana aku bisa mengetahuinya? Aku dulu sedikit menaruh minat untuk mempelajari psikologis. Jadi aku bisa tahu kau berbohong atau tidak lagi pula ini sangat berguna untuk karirku sebagai reporter. Aku tak mau menulis berita bohong." Ujar Nona Hong.

Sakura tertohok mendengarnya. Ia menatap miris kisahnya yang sudah dicap rekayasa oleh orang lain.

"Maafkan aku tak sepenuhnya berbohong. Soal hubunganku itu memang benar."

Nona Hong menghela nafasnya. Bukan bukan itu yang ia maksud. "Bukan itu, maksudku soal kau yang memanfaatkannya. Meskipun ini kali pertama kita bertemu tapi sebagai reporter instingku mengatakan kau bukan orang yang seperti itu Sakura-san."

Sakura sedikit lega mendengarnya. "Terimakasih karena telah mempercayaiku." Ujarnya .

"Jadi? Mau menceritakan yang sebenarnya padaku." Tanya Nona Hong sembari tersenyum .

Sakura tertawa menanggapinya, sepertinya ia akan berteman baik dengan reporter itu.

.

.

.

.

.

"Ano, Tou-sama Kaa-sama akhir minggu ini aku akan pergi ke Paris."

Mendengar ucapan putri semta wayangnya sontak membuat Kizashi dan Mebuki segera menoleh. Mereka baru sajaberkumpul besama tapi kenapa Sakura hendak pergi meninggalkan mereka lagi.

"Sayang kau kan baru kembali ke rumah? Kenapa kau tiba-tiba ingin pergi ke Paris?" Tanya Nyonya Haruno itu.

Kizashi pun tak kalah terkejutnya, baru beberapa menit ia bersama putri kecilnya tapi akhir minggu nanti dia sudah akan pergi lagi, ke Paris pula No! itu tidak boleh terjadi. "Ya benar. Apa yang akan kau lakukan disana sayang? kenapa ini mendadak sekali?"

"Aku akan masuk kuliah dan debut sebagai model disana ." Jelasnya pada Mebuki dan Kizashi.

Mebuki mengerutkan dahu heran. "Kau kan bisa memulai kuliah di Jepang sayang, lagipula kau kan model yang cukup terkenal disini." Jelas Mebuki yang merayu anaknya agar tetap tinggal di Jepang.

"Aku ingin pengalaman baru Kaa-sama, Tou-sama jika aku sudah siap aku akan kembali ke Jepang ,berhenti menjadi model dan meneruskan Haruno Corp. " Pinta Sakura.

Ya, Kizashi memang ingin Sakura meneruskan Haruno Corp. tapi tak bisakah putrinya itu tetap kuliah di Jepang saja? Lagi pula jika ingin kuliah keluar negeri kenapa harus jauh-jauh ke Eropa sana? Pikir Kizashi yang tak rela jauh dari anak kesayangannya-lagi.

"Apa kau akan tinggal sendirian di Sana?" Tanya Kizashi kemudian .

Dengan cepat Sakura menggeleng. "Tidak! Aku akan tinggal sementara bersama Neji-nii, aku juga akan bekerja

di agensinya.

Jika sudah begitu apa yang bisa Kizashi lakukan. Ia akan mencoba menuturi keinginan Sakura dan mempercayakan semuana pada Hyuuga Neji. Orang yang sudah ia anggap keluarga sendiri.

"Baiklah, jika itu maumu. Tapi ingat jangan menelantarkan kami disini!" Ujar Kizashi. Mendengar permintaannya disetujui membuat Haruno Sakura senang dan segera memeluk ayah tercintanya itu.

Haruno Mebuki hanya tersenyum melihatnya.

Setelah berbincang cukup lama Sakura dan ibunya membiarkan sang ayah istirahat dalam ruangannya. Pelan-pelan Sakura menutup pintu ruang rawat ayahnya itu, Saat hendak pamit tidur pada Ibunya, Mebuki menghentikan langkahnya.

"Sakura-chan mau bercerita dengan Kaa-san?" Tanya Mebuki disertai senyuman hangatnya.

Dan untuk pertama kali dalam hidupnya Haruno Sakura kembali mencurahkan isi hatinya pada Mebuki setelah sekian itu ia mengangis dalam pelukan ibunya dan berharap semoga keputusan yang ia ambil itu benar.

.

.

.

"Sayonara, Sasuke...-kun."

.

.

.

TBC

A/N

mohon maaf ya kalo ceritanya rada ngawur maklumin aja orang shitsuren mah labil gini, Untungnya ada Itachi beserta rekannya di Akatsuki yang selalu menemani hari indah hanabi:) meski cuman nempel di tembok si xD! haha abaikanlah curhatan hanabi ini .

Nah jadi bagaimana apakah chap ini sudah menjawab pertanyaan kalian soal kepergian Sakura?

ISWAK memang sebentar lagi akan tamat, terimakasih bagi para pembaca yang sudah mampir, bersedia review,

fav and follow Arigatougozaimashita:)

See you in the next chapterrrr!