Baiklah. Akhirnya kita berjumpa lagi, Readers ... :)
Huwee ... Maafkan Author karena baru melanjutkan cerita ini. Tampaknya Author terkena virus malas hehe ... dan juga banyak urusan di dunia nyata ... terutama sekarang Author kena fokus kuliah dulu ... jadi bakal setengah2 -_- Gomen nee ...
Terima kasih bagi yang telah mereview di Chapter sebelumnya :) Korang terbaik lah! Korang masih Mau baca cerita aneh ini, terharu saya huhuhuu...
Readers: Wei, bila awak nak sambung tulis, he? Guna acara tangisan pulak :(
Hehe, maafkan saya. Ok, Sila baca cerita ini. ;)
Note: Typo, Author nyaris kehabisan ide dll :v
Apakah senjata Rahasia yang dibeli Probe dai Bago Go semalam? Dan bagaimanakah cara Gopal, Mila, Ying dan Yaya membantu Lahap mengusir Mimi dan Syrena dari Pesawat angkasa Kapten Kaizo? Temukan jawabannya disini. :)
(Balasan review)
EruCute03: Thank youuu! Terharu saya awak masih ikut dengan fic aneh ini, ehehe ... Dan masalah Mimi n BBB tue, yeah ... saya memang suka dengan cerita Semi-Canon, jadi buat ini deh. ^^ Tapi ini cuma sebatas teoriku saja :)
harith: Ehehe, maafkan saya sebab lama sangat nak update. Sila baca chapter nie ^^
IceCandy03: Aww .. Thank you so much. Saya terharu karena Candy tetap ikut dengan fic ini. Ini dia lanjutannya ^^
Iliara: Huhuhuu ... maafkan saya karena update-nya juga kelamaan :'( Tapi gapapa. Jangan diambil hati hehehe. Silahkan baca lanjutan ini ya :)
LynKZ: Hehe, makasih Kak. Saya macam tersanjung sangat Akak nak baca lanjutan citer nie. Sila baca kat bahagian ini ^^
Regietta580: Terima kasih atas partisipasimu ^_^ Saya jadi tersanjung ehehe. Dan untuk tanda2 itu, silahkan dilihat saja sepanjang fic ini ya
Khairul487: Terima kasih atas dukungan terhadap fic ni. Dan ini dia lanjutannya :)
Rampaging Snow: Ini dah dilanjut. Terima kasih atas dukungannya ^^
Arita-Chan071: Hehe terima kasih karena telah membaca fic ini. Tapi mungkin saya tidak bisa menambah adegan gila Rosaline itu karena saya sudah menetapkan fic ini dengan rating Teens, jadi sy mohon maaf sebesar-besarnya.
Syak30Dec: Ah, ya. Sebelumnya maafkan author yang lama mempublish cerita ini, ehehe ... Dan pertanyaan2mu itu lambat laun akan terjawab satu2 :) Dan satu lagi. Boboiboy dkk disini sedang bersekolah di Akademi SMP (Sekolah menengah pertama) yang kalau di Malaysia disebut SMK (Sekolah menengah Kebangsaan). Bedanya, kalau di Indonesia, Sekolah menengah dibagi dua: SMP dan SMA yang masing-masing 3 tahun pembelajaran sementara di Malaysia, Sekolah menengah hanya satu: SMK yang langsung 6 tahun pembelajaran. Maaf karena membingungkan. Silahkan menikmati cerita ini ya :)
M.A.W.A.R. L.I.A.R.
'Dawn of The Real Sin'
(Season Final)
.
.
.
Boboiboy belongs to Animonsta
.
.
.
Bagian 21: Bangkitlah, Trio Kebenaran! (Deja Vu Version)
Halaman Depan Gedung pusat, 27 Juli 2014 pukul 15:50
"SAKSIKANLAAAAHHHHH-!"
Probe mengacungkan 'Senjata' yang dibelinya dari Bago Go semalam. Spontan semuanya tersengih melihat wujud asli 'Senjata' itu sebelum sang Robot tempur Probe memperkenalkan namanya. Mereka terbelalak, terutama Adu Du. Dia tidak tahu apakah harus memarahi ataukah melempar Robot pertamanya itu dengan gelas besi seperti yang biasa ia lakukan kalau tengah kesal dengan Probe.
Mengapa semuanya memasang tampang kaget tingkat dewa setelah melihat 'Senjata' yang digenggam Probe itu? Ada baiknya kita lihat kejadian dimana Probe membeli senjata dari Bago Go malam sebelumnya.
(Kilas balik waktu)
Markas Kotak, 27 Juli 2014 pukul 02:10
Adu Du menghentikan perakitan senjatanya yang belum juga rampung dan melesat menuju laci meja pribadinya. Kartu Kredit Plutonium dari Ibu Bu ada di dalamnya. Diambilnya kartu itu dan menyodorkannya pada Probe.
"Nah, aku nak kau beli Senjata dari Bago Go malam ni," tukasnya. "Habis masa aku buat rakit Senjata tu! Mana esok aku kena susul BoBoiBoy dekat Pulau Apung untuk lawan ONION. Dah lah. Aku kena berehat sekarang. Pesan Senjata yang ampuh, dan kalau boleh jangan mahal sangat."
"Wooohhhhoooo! Terima kasih, Encik Bos!" jerit Probe sembari mencak-mencak kegirangan. "Aku akan beli senjata terampuh, terkejam dan tergaya!"
"Haaahhh- ye lah, ye lah. Cepat order sana! Esok pagi aku sudah tengok barang tue."
"Baik, Encik Bos!"
Setelah Adu Du masuk ke kamarnya untuk beristirahat, Probe membangunkan Komputer untuk menghubungi Bago Go. Mengetahui hal ini membuat sang Komputer sempat khawatir, karena sudah beberapa kali Probe kena tipu dari Bago Go untuk membeli barang-barang dengan harga selangit namun kenyataannya jarang sekali berguna. Misalnya saat Robot ungu itu membeli pakaian superhero Jero-jero dari Bago Go (Yang pada kenyataannya adalah hadiah ulang tahun untuk Putra kecilnya). Dikatakan bahwa pakaian itu akan membuat pemakainya memiliki kekuatan Superhero, dan dengan polosnya Probe menerima tawaran gadungan itu dengan harga yang tidak bisa dibilang murah walaupun pada akhirnya efek samping dari kejadian itu membuat Adu Du dan robotnya itu memiliki tujuan hidup baru untuk membantu para penjahat sedunia dengan menggunakan inisial 'Superjahat Jero-jero'.
"Probe, Encik Bos suruh kau beli senjata dari Bago Go lagi?" tanya benda kotak bersuara wanita itu.
Probe mengangguk. "Eheheheee- ye lah tu. Encik Bos memang percayakan aku. Tak lah macam kau, jarang dipercaya."
"Aku dengar itu, Probe! Kau ingat aku senang dengar cakap kau tu? Kalau bukan sebab aku, Encik Bos dan kau akan kewalahan mencari Info dekat Bumi ni!" Komputer langsung merajuk dengan sindiran rekan Robotnya yang mirip piring ceper berwarna ungu itu.
"Alamak! Maaf, aku tak bermaksud buat cakap macam tu." Probe benar-benar kaget. "Huhuhuu- jangan lah marah... huhuuu... aku tak fikir kamu akan sakit hati sebab aku tadi."
Komputer mendengus. "Hahh, dah lah Probe. Aku fahamkan kau je lah," katanya ketus. "Aku akan tunaikan permintaan kau untuk menghubungi Bago Go, tapi dengan syarat: Kau kena sedar diri. Bago Go tu penipu bersiri. Dah berapa kali kau dan Encik Bos kena imbasnya. Dan anehnya, kau masih sahaja percayakan dia dalam pembelian alat-alat tu."
"Sebenar pun ada sebab kenapa kita seringkali beli Senjata dekat dia," balas Probe. "Penipu-penipu begitu, Bago Go masih punya sifat baik. Dia ialah salah satu dari sekian usahawan dekat Planet Ata Ta Tiga yang tidak pandangkan status sosial pelanggan dia. Tengok je, Encik Bos tu masuk dekat tingkatan terendah dalam Strata Sosial Alien Ras Kubulus Ata Ta Tiga, tapi Bago Go masih nak ladeni dia, Kan? Kan?"
"Hmm- benar juga apa yang kau cakap tu, Probe," ujar Komputer mulai mengerti. "Jarang-jarang ada usahawan macam dia yang transparan dalam semua strata soasial Ata Ta Tiga. Baiklah. Kau boleh hubungi dia, tapi ingat syarat yang aku bagi dekat kau tadi."
"Hehe, okey lah tu! Cepat hubungi Bago Go. Dah nak pukul tiga dini hari nie. Nanti Encik Bos keburu bangun."
"Okey. Penghubungan sinyal pada Bago Go akan segera berlangsung dalam Tiga... Dua... SATU!"
BIIIPPPP!
Dalam sekejap Layar monitor Komputer Adu Du menampakkan sosok Sang Penjual senjata H.A.R.A.M. Planet Ata Ta Tiga: Bago Go. Tentu saja ia terkejut setengah mati, apalagi saat itu ia tengah dipergoki sedang mandi uang berlembar-lembar di Bathtube kamar mandinya yang terbilang cukup mewah.
"ADOOOIIII, BANG! Apa salah saya sampai Abang hubungi saya masa mandi tengah malam nie?!" tukas Bago Go seraya menutupi tubuhnya menggunakan tirai Kamar Mandi. Alhasil beberapa lembar uang senilai sepuluh ringgit berjatuhan dari bathtube-nya akibat terkena kibasan tirai yang ditarik secara tiba-tiba.
"Hehehe, maaf Encik Bago Go. Tak fikir pun boleh sampai tengok Encik lagi mandi dengan uang-uang tue," kata Probe cengengesan. Dalam benaknya ia berpikir... alangkah kayanya Bago Go, sampai-sampai uangnya dipakai sebagai busa mandi oleh pemiliknya.
Bago Go mendesis. "Aduhh, Bang. Tapi jangan macam ni pulak. Malu saya, Bang! Kejap. Saya pakai baju dahulu, baru hubungi Abang. Ada hal je lah Abang Robe nie."
"Hehehe... tak patut... tak patut..."
Layar Komputer lalu menampakkan tiga titik besar tanda Loading. Tak lama kemudian, Layar itu kembali memunculkan Bago Go, yang tentunya sudah berpakaian rapi seperti biasa, dengan bahu merah beludru dan dasi kuning bercorak garis-garis. Kumis tebalnya melintang dibawah tonjolan kecil diatas mulutnya (Yang dahulu adalah hidung, namun karena Planet Ata Ta Tiga mengalami pencemaran parah, maka hidung itu pun menyusut dan tidak berguna lagi). Probe berani bertaruh, Bago Go tidak akan sampai hati berpisah dengan kumis kebanggaannya itu, walaupun dengan itu ia sedikit kesulitan dalam berbicara karena kadang-kadang beberapa helai kumisnya masuk ke dalam mulutnya saat ia sedang asyik berbicara ataupun mempromosikan barang-barang dagangannya.
"Isk, Abang Robe nie! Apasal telefon saya malam-malam ni bang?" Bago Go sedikit merajuk.
"Ma- Maaf, Encik Bago Go. Saya silap tadi. Ah, ya. Saya nak beli senjata baru, boleh?"
Mendengar itu, wajah mendung Bago Go langsung bersinar bak terkena sinar matahari.
"Ha? Kuping saya ni tak silap ke Bang?! Abang nak beli senjata?!" ucapnya dengan mata duitan yang berbinar. "Hehehe, tak payah, Bang. Saya maafkan Abang, asalkan bisnes tetap bisnes. Abang nak beli senjata apa?"
Probe menggumam penasaran. "Encik ada barang baru ke? Kalau ada, saya nak tengok. Buat Encik Bos saya."
"Oh, tepat! Keputusan yang tepat, Bang!" Balas Bago Go riang. "Mumpung Abang pesan sekarang. Barang baru nie stok-nya terbatas, Bang! Cuma satu-satunya di alam nie! Marveolus! Antonishing, Bang! Abang rugi kalau tak beli barang nie, tau!"
"Eih? Barang apa tu?"
"Hahaha, ini dia, Bang! Barang itu ialahhhhhh-!"
Tirai di belakang Bago Go pun tersibak, menampilkan sebuah kerangkeng raksasa berbentuk kotak. Dan di dalam Kerangkeng itu, terlihat sesosok makhluk besar, dengan sirip di punggung, gigi-gigi bertaring di sepanjang mulut dan kaki belakang yang menyerupai Tyranosaurus.
"Ini dia: J-REX TENGKOTAK TIPE 6000! Haaaa- macam mana, Bang? Abang nak beli ke tak?"
Probe tersentak. "Ehhh?! Kejap, Encik! Saya... Saya dah pernah jumpa benda ni, tau!"
"Ha?! Abang dah pernah Jumpa barang ni?" ucap Bago Go heran.
"Iya lah. Jerung ni dah pernah saya dan Encik Bos serta Papa Zola jumpa dekat Pulau Apung tu. Bukannya dia ni milik Papa Zola, ke?"
"Eh? Iya ke, Bang?!" Bago Go terperanjat. "Aduhh, Bang. Apasal baru bagi tahu saya sekarang? Tapi ini bukan salah saya ya, Bang. Saya jumpa Jerung ni terlantar dekat Pulau Apung tue, bukannya bersama Papa Zola. Sori, Bang. Saya silap, ehehe."
"Eh, tak pe, tak pe. Saya maafkan Encik. Nah, ada barang lain ke?"
"Ada! Iaitu- MERIAM PLASMA ANGKASA! Haaa, hebat tak? Ayo Bang, Beli."
"Eih? Barang ni dah pernah Encik Bago Go tawar dekat Encik Bos saya. Harga masih sama ke? Sembilan Puluh Juta Sembilan Puluh Sen?"
"Aduhh, Bang. Bukanlah nama saya ini pembisnes kalau tak pasang harga murah macam tue, Bang. Kalau Abang tak nak, Biar lah Abang beli Jerung tue."
Probe tampak berpikir-pikir. "Harga Jerung tue memangnya berapa, Encik?"
Bago Go menyeringai. "Ohhh- tak masalah, Bang. Ini harga kawan-kawan. Ianya berharga ENAM PULUH JUTA ENAM PULUH SEN!"
"Heeeee!? Tak boleh kurang ke?"
"Haehh, Abang Robe nie. Ini dah termasuk murah, Bang! Cuba Abang bandingkan dengan Meriam Plasma Angkasa tue. Lagi murah yang mana? Ha? Ha?"
"Umm- Tentu lah Jerung tue."
"Nah, itu dia Bang! Logic ke tak? Jadi apa yang Abang pilih nie?"
"Okey! Saya pilih je lah Jerung tue."
"Sip lah, Abang! Saya hantarkan dia sekarang, Bang. Jangan risau. Dia dah saya jinakkan. Musuh Tuan dia je yang akan dia target."
"Horeeeee! Terima kasih, Encik! Best-nya! Hehehe..."
(Kilas balik waktu berakhir)
"APASAL KAU BELI JERUNG MAUT NI, HAAAAAHHHH?!" Adu Du langsung meledak-ledak begitu melihat J-Rex yang berdiri di sebelah Probe. Pantas saja ia merasa pesawat angkasanya berisi beban yang begitu berat. Dan ternyata sang Jerung-lah yang menyebabkan hal itu.
"Ehehe- ye lah tue, Encik Bos. Berat dia nie dah macam Baboon dah."
"GRAAAAAAAAAA!" J-Rex langsung mengaum di depan Probe. Rupanya ia merasa tersinggung dengan ucapan Probe yang menyamakan dirinya dengan Baboon.
"Eh?! Ma- Maaf, Encik Jerung. Encik tak pelik macam Baboon kot. Saya Insaf."
"KENAPA JERUNG KEBENARAN BOLEH ADA PADAMU, HAAAAAAHHH?!" Kali ini Papa Zola yang berteriak histeris. Pasalnya dialah yang dahulu menjinakkan J-Rex hingga akhirnya binatang itu malah membantunya untuk menyerang Tengkotak setahun silam. "Dah penat Papa jinakkan Jerung tue. BAGI BALIK JERUNG KEBENARAN SEKARANG JUGA!"
"Alamak! Maaf, Papa! Saya silap dah."
"Tapi cam mana J-Rex boleh ada pada Bago Go?" tanya Taufan.
Sekonyong-konyong Papa Zola masuk ke mode menyedihkan.
"Uhuhuhuuu- Sebenarnya Jerung Kebenaran tak diperbolehkan untuk menetap dekat Pulau Rintis, khususnya dekat rumah Papa," katanya dengan wajah memelas. "Pihak Polis kata dia boleh bahayakan penduduk. Dan dengan berat hati Papa terpaksa lepaskan balik dia dekat Pulau Apung tue, Huuuhuuuhuuuuhuuuu-"
"Kesian..." ucap anak-anak muridnya dengan tatapan iba.
Papa Zola menghapus air mata Buaya-nya(?) lalu menatap murid-muridnya. "Haa, Haa- Maka dari tue, Pelajaran apa yang boleh dipetik dari semua itu, Wahai anak muda sekalian?"
"Ikhlaskan barang yang tidak ada pada kita?" jawab Amar Deep.
"Betul lagi Benar! Apa lagi, wahai anak didikku?"
"Uhm- Jangan simpan barang yang berbahaya dekat rumah kita?" kali ini Halilintar yang bergumam.
"Sekali lagi, Benar! Ha, Ha. Apa lagi?"
"Jangan pernah Jinakkan Jerung berkaki?" tebak Blaze.
"APA?! Kalau tak dijinakkan, MACAM MANA CIKGU BOLEH SELAMAT DARIPADA MAUT MASA TUE, HAAAHHH?! ucap Papa Zola kesal. "Sudah! Sekarang kita kembali ke topik semula! Bagi balik Jerung Kebenaran!"
"Ehhh- bukannya kita nak Rosaline tue bagi Gempa balik ke?" tanya Ice heran.
"Eih? Salah, eh?" Papa Zola langsung menyunggingkan senyum memalukan lalu menoleh ke arah Rosaline seraya menuding wanita itu. "Baiklah! Sekarang kau pulak! BAGI BALIK ANAK MURID KEBENARAN!"
"Hmp, dah selesai berguraunya ke?" imbas Rosaline. "Lama betul korang bergurau tadi. Buat aku bosan je. Apa yang nak kau buat sekarang, He? Nak serang aku guna J-Rex tue ke? Hmp, kolot."
"Semestinya IYA!" Papa Zola tahu-tahu sudah berada di atas punggung J-Rex dan berteriak lantang. "AYO, JERUNGKU! TABRAK DIA! TABRAAAKKK!"
"GROOAAAAAAAAA!"
J-Rex itu melompat ke arah Rosaline, hendak menabrak wanita itu. Rosaline mendecih seraya menghindar lincah dari Hiu berkaki itu. Tapi tak disangka J-Rex ternyata lebih gesit darinya sehingga ia terjungkal saat J-Rex menyerangnya secara tiba-tiba dari belakang. Alhasil, Gempa yang sedang tidak sadarkan diri terlepas dari rangkulannya. Melihat kesempatan itu, Halilintar segera menggunakan Gerakan Kilat guna menangkap tubuh lunglai Gempa yang nyaris terhempas ke tanah. Setelah keduanya menapak ke tanah, Taufan segera terbang mendekati mereka.
"Macam mana dengan Gempa? Dia oke, tak?" tanyanya khawatir.
Halilintar menempelkan telinga kanannya di dada kiri Gempa. Beberapa saat kemudian, ia bergumam. "Alhamdulillah, dia okey. Jantung dia masih berdetak, walaupun lemah. Tapi nampaknya butuh masa lama buat tunggu dia sedar."
Taufan menghembuskan nafas lega. "Alhamdulillah," ucapnya riang. "Hampir aku bayangkan kalau dia-"
Tatapan marah Halilintar membuatnya terdiam.
"Apa yang kau maksudkan dengan frasa 'bayangkan' itu, Heh? Bayangkan kalau Gempa hilang dari diri BoBoiBoy ke?!"
"Ehehe- takpe, Hali. Aku gurau je.
"Hmp, kau ni Taufan... ada hal je." Halilintar mendengus kesal. "Kalau Gempa tidak ada, MACAM MANA BOBOIBOY NAK BERPIKIR WARAS, HAH?! Kau tahu kan kalau satu-satunya yang berfikir rasional di antara kita itu cuma dia?!"
"Ha- Hali, Jangan lah marah. Kan aku dah cakap, aku gurau je," kata Taufan memelas.
"Hmm- Ye lah tue," balas Halilintar malas. "Dah lah. Jangan buang masa, Taufan. Lawan kita kali ini bukan Penjahat biasa. Kau tahu tak?"
Ia berkata begitu seraya melirik Rosaline. Yang dilirik langsung pasang wajah kesal.
"Korang memang penganggu," tukas wanita itu sebal. "Baiklah. Kalau korang memang tak nak buang masa, mari, Aku akan pantaskan kehancuran korang semua, Hahahahahaaa!"
"Fang!"
Ochoboy terbang rendah ke arah pemuda berkacamata yang memunggunginya di salah satu sudut di lorong pesawat. Setelah tiba di sebelah anak itu, ia menapakkan kakinya di lantai pesawat angkasa itu. Ditepuknya bahu sang pengendali bayangan itu.
"Kau okey, ke?" Maaf sebab kami singgung pasal Abang kau tadi," sesal Ochoboy. "Tapi kau tak boleh terus sedih macam nie. Kau kena kuat, Fang. Kami kan ada. Dan kau- AAAAAAAAAHHHHH!"
Ia menjerit begitu Fang menolehkan wajahnya ke arahnya, menampakkan muka sendu karena menangis plus kantung matanya yang terlihat lebih bengkak dari sebelumnya. Hidungnya yang memerah tampak kembang-kempis ditambah kedua matanya yang berkaca-kaca seakan telah siap untuk mengalirkan sungai air mata gelombang kedua.
"Aku baik je," katanya dengan sikap seakan-akan ia adalah seekor anak rusa yang ditinggal induknya. Ochoboy mengelus-elus dadanya guna menentramkan jantung logamnya akibat kaget. Detik berikutnya ia mengomel.
"Ish kau ni! Buat longgar jantung aku. Menangis la yang wajar, jangan terlampau macam nie pulak."
Mendengar itu, Fang segera mengusap air matanya. "Aku? Menangis? Mana ada?!" katanya kesal bercampur gengsi, membuat Ochoboy pasang wajah facepalm.
"Dah tue yang muka kau sembab sangat tue kenapa?"
" Hmph- dah lah." Fang segera memperbaiki sikapnya dari yang tadi menangis bak anak kecil menjadi sikap sok keren seakan tidak terjadi apa-apa. "Aku lepas kena semprot gas bawang merah tadi. Kau tahu kan kalau gedung ONION tue guna gas bawang merah?"
Krikk... Krikk... Krikkk...
"Tak kelakar lah, Fang." Ochoboy facepalm untuk kedua kalinya.
"Ma- Maaf. Baiklah. Aku akui lawakan aku memang tak kelakar," ungkap Fang murung. "Kau benar, aku memang menangis tadi. Kau tahu kan macam mana rasa kehilangan Abang tue?"
"Ehh, tapi Fang- saya mana ada Abang?"
"Oh, sori. Lupakan pasal itu, Ochobot."
Ochoboy tersenyum. "Takpe Fang. Aku fahamkan kau je lah," katanya lembut. "Nah, sekarang kita kena-"
BLAAAAAAAARRRRRRRR!
"Eh? Suara itu-" Ochoboy menajamkan pendengaran buatannya. "Suara itu datang dari Halaman depan. Nampaknya BoBoiBoy dan yang lainnya tengah berlawan dengan Rosaline sekarang."
"Huh? Rosaline?!" Fang terkejut. "Alamak! Hampir lupa. Aku kena tolong kawan-kawan aku sekarang!"
"Tapi Fang, badan kau macam mana?"
Fang menoleh ke arah Sfera Kuasa generasi Kesembilan itu. "Ochobot, BoBoiBoy kawan aku juga. Aku akan bantu dia, apapun keadaannya."
"Humm- baiklah kalau kau memaksa," desis Ochoboy pasrah. "Tapi kalau kau terkena nasib teruk lagi, aku akan terpaksa heret kau balik ke sini, faham?"
Fang mengangguk. "Aku faham kot. Sudah! Kita tak punya banyak masa, Ochobot. Kita turun sekarang!"
"Okey!"
Keduanya turun dari pesawat angkasa Kapten Kaizo menuju Halaman depan Markas Organisasi dimana para pecahan BoBoiBoy, Papa Zola, Murid-Murid lelaki kelas 7 Cerdas, Tok Aba, Ray serta komplotan Adu Du tengah berhadap-hadapan dengan Rosaline. Sesampainya disana, Fang dan Ochoboy dibanjiri komentar-komentar kekagetan.
"Fang! Apasal kau turun kesini?"
"Badan kau masih teruk kot. Kenapa kau tak berehat dekat Kapal Angkasa Kapten Kaizo?"
Dan pertanyaan-pertanyaan bertubi-bertubi lainnya menghujani Fang. Fang mendesis gusar dan berkata tegas. "Kawan-kawan, maaf. Aku bukan tipe budak masa bodoh terhadap nasib kawan. Korang ialah kawan aku. Aku tak kan tinggalkan korang, apapun yang terjadi!"
"Haish, degil betul lah budak nie," gerutu Tok Aba, membuat Fang terheran-heran begitu menyadari sosok beliau disitu.
"Eh? Tok Aba? Kenapa Tok Aba pon ada kat sini?" tanyanya.
Tok Aba tersenyum. "Hm, ye lah. Atok nie Datuk kepada BoBoiBoy. Mestilah Atok risaukan dia dan rakan-rakan dia," kata beliau sumringah. "Lagipun Ray lepas terima satu Surat Kaleng yang isinya kata kalau korang sedang teruk kat sini. Jadi mau tidak mau, Atok kena tolong korang."
"Hehe, terbaiklah, Tok!" ucap Blaze sembari mengacungkan ibu jarinya. "Kita kena hentikan Rosaline dan- eih?"
Ia terhenyak begitu Halilintar memberikan Gempa yang masih belum siuman kepadanya.
"Blaze, kau jaga Gempa. Tunggu dia sampai sedar. Aku, Taufan, Fang dan Ice yang akan lawan Rosaline tue," jelasnya. Namun begitu ia hendak beranjak, Blaze menarik bagian belakang jaketnya.
"Halilintar, aku juga nak bantu kau." katanya memelas. "Boleh lah, boleh lah..."
Halilintar menggeleng sembari pasang wajah tegas. "Tidak, Blaze! Kau nie degil macam Fang je. Kau tak tengok keadaan Gempa tue? Dah lah. Ikut sahaja apa yang aku cakap tadi. Jaga Gempa baik-baik. GERAKAN KILAT!"
Ditepisnya tangan Blaze dari jaketnya dan berlari secepat kilat menuju Taufan dan Ice yang sedang berusaha menghajar Rosaline plus Papa Zola dan J-Rex Kebenaran-nya. Ia semakin melongo begitu melihat Fang ikut menerjang ke arah wanita Succubus itu.
"Fang! Bukannya keadaan kau masih teruk ke?"
Fang menoleh ke arahnya. "Maaf, BoBoiBoy. Aku terpaksa buat perkara nie," katanya sebelum akhirnya ia mengeluarkan bayangan-bayangan hitam dari tubuhnya dan bergabung dengannya, berteriak.
"SEPARA GARUDA BAYANG!"
Dia menukik ke arah Rosaline, serentak menghajar wanita itu bersamaan dengan Halilintar, Taufan, Ice, Probe yang telah berubah menjadi Mega Probe serta Papa Zola dan J-Rex-nya. Rosaline mulai kewalahan. Kekuatan Gempa belum ia serap sepenuhnya tadi sehingga ia tidak bisa menggunakan kekuatan elemen tanah itu.
"Erg- Korang pengganggu... Korang akan menyesal sebab dah masuk campur! SERAPAN ENERGI MAKSIMA!"
"KOKUN ANGIN!" Taufan cepat-cepat menciptakan tameng angin yang melingkupi dirinya dan teman-temannya. Alhasil, serangan Rosaline tertangkis, membuat perempuan itu geram bukan main. Sekonyong-konyong sebuah ide jahat singgah di benaknya. Ia menyunggingkan senyum sinis.
"Kali ini, korang tak kan boleh kalahkan aku," katanya licik. Mulutnya komat-kamit menggumamkan sesuatu sembari terkekeh.
'Sekarang serang mereka, Pelayan-Pelayan Setiaku'
"Ugh- apa jadi ni? Kenapa badan aku rasa macam lemas sangat?" Taufan meringis. Ia terduduk di Hoverboard-nya. Sontak Ice merasakan sebuah firasat buruk melihat tingkah Taufan itu. Begitu pula dengan Fang. Sang Pengendali bayangan menatap Taufan dengan khawatir.
'Jangan-jangan BoBoiBoy pon kena suntik Cecair kawalan yang Mimi maksudkan tue?' batinnya. Lantas Ice mendecih.
"Ini tidak baik... Jadi ini yang dimaksud Rosaline dengan 'Pelayan Setia' dia," gumamnya. Detik berikutnya, ia menoleh ke arah Halilintar. "Hali, jangan pergi dekat kawan-kawan kita. Sekejap lagi rancangan Rosaline akan terlaksana!"
"Ha?!" Halilintar mengernyit bingung. "Apasal kau nak aku jauhi kawan-kawan kita?"
"Dengar sahaja cakap aku! Rosaline dah suntikkan sesuatu kat badan kita semasa kita ditawan dia tadi, dan itu semacam cecair pengawal minda. Sekejap lagi dia akan ambil alih badan kita!"
"APA?!"
"Hah! Korang dah terlambat!" Rosaline tertawa kecil lalu menatap Taufan yang tahu-tahu sudah berada di dekatnya. "Serang mereka!"
"Baik, Nyonya... GERUDI TAUFAN!"
Serta-merta Taufan menerjang ke arah anak-anak kelas 7 Cerdas. Mereka terkejut sekali dengan perubahan tiba-tiba sikap Taufan itu. Blaze yang saat itu tengah merangkul Gempa terpaksa menghalangi Taufan dari mencederakan teman-temannya. Diangkatnya kedua tangannya ke udara.
"DINDING API!"
BLAAAARRRRR!
Dua kekuatan elemental itu bertabrakan satu sama lain, menciptakan ledakan yang amat dahsyat. Semuanya saling memakukan tubuh ke lantai agar tidak terlempar jauh. Begitu ledakan itu mereda, Fang mendesis marah ke arah BoBoiBoy pengendali angin yang sudah kembali memasang kuda-kuda diatas Hoverboard-nya.
"Hoi! Kau dah gila kah, BoBoiBoy?!" bentaknya pada Taufan. "Apasal kau serang kawan kau sendiri, Hah?!"
"Fang, tengok warna mata dia," Ochoboy mendekati Fang seraya menuding ke mata Taufan. Fang menajamkan penglihatannya dan terkejut. Mata Taufan yang sebelumnya berwarna biru telah berubah warna menjadi abu-abu keunguan, sama persis dengan boneka Martha milik Mimi yang sebelumnya Fang hadapi saat di dalam Gedung ONION tadi. Benar dugaannya. Rosaline telah menggunakan ramuan kontrol pikiran itu untuk mengendalikan tubuh dan pikiran Taufan. Dan lebih buruknya lagi, Halilintar mulai mengerang kesakitan tanda ramuan kontrol yang sebelumnya disuntikkan Rosaline ke tubuhnya semalam mulai mengambil alih tubuhnya.
"Semuanya, jaga-jaga!" tukas Fang memperingatkan. Ia menoleh ke arah Ice yang mulai meringis kesakitan. "BoBoiBoy Ice, kau pon dah terkena suntik Cecair kawalan tu juga ke?"
Ice mengangguk. "Kau benar. Maafkan aku, semua. Tapi ini bukan kemauan kami- ARGH!"
Anak itu mengerang dan merosot ke lantai. Fang dan Ochoboy pasang siaga, begitu pula dengan Probe, Adu Du dan Papa Zola. Tak lama kemudian, Ice dan Halilintar sudah berada dibawah kendali Rosaline seperti hal-nya Taufan tadi. Rosaline tertawa setan sembari menebar seringai serigala miliknya.
"Hahahahahaaaa- Ada hati nak serang aku lagi?" katanya mengejek. "Diorang dah dibawah kawalan aku. Korang tak kan boleh kalahkan aku!
Tok Aba terkejut sekali. "Kau! Apa yang kau dah perbuat dekat Cucu aku?!" jeritnya marah seraya menunjuk-nunjuk Rosaline yang dibalas dengan tawa jahat wanita itu. Papa Zola mendecak-decak melihatnya.
"Memang pasal selalu mencari Kebenaran, tapi Kebenaran tak pernah mencari pasal," katanya dengan nada heroik. "Sekarang bagi balik kawalan diri anak murid kebenaran!"
"Heh, kau ingat aku senang buat benda macam tu dekat korang? Korang mimpi je lah! SERANG MEREKA!"
"Serahkan... padaku..." desis Halilintar lalu menerjang ke arah Papa Zola." TETAKAN HALILINTAR!"
"Kau dah melampau, Rosaline! PENGIKAT BAYANG!"
GRAAAAKKK!
Beberapa tali bayangan membelit tangan dan kaki Halilintar, mencegahnya dari menyerang Papa Zola. Halilintar berusaha membebaskan diri tapi Fang lebih kuat.
"BoBoiBoy, sedarlah! Papa Zola tu Cikgu kau!" kata Fang berusaha menyadarkan pecahan-pecahan BoBoiBoy yang sedang berada dibawah kendali Rosaline.
Rosaline mendecih. "Cih, kau ni memang nak cari pasal dengan aku, Fang. Ice, Serang dia!"
"Baik... TUSUKAN KERIS AIS!"
"Jangan, BoBoiBoy- AKH!"
Sebuah pisau es menghujam ke luka di bahu kanan Fang, merobek jahitan luka yang diberikan Lahap sebelumnya. Anak itu menjerit kesakitan dan terpaksa melepaskan tali bayangannya dari Halilintar. Sebagai gantinya, Halilintar dan Taufan menghajar anak itu bertubi-tubi. Fang terhempas ke tanah akibat serangan keroyokan itu. Ia mengerang kesakitan. Seakan belum puas, Rosaline menendang tubuh Fang hingga anak itu tidak berdaya sama sekali. Melihat Fang sudah tidak mampu menyerang lagi, Rosaline menjambak rambut ungu landak milik anak itu dan menariknya keras-keras hingga tubuh Fang terangkat sepenuhnya ke udara.
"Kuhuhu... ini akibatnya kalau kau masih saja nak lawan aku," katanya sembari tertawa nista. "Dan sekarang, aku akan bagi kau nasib teruk macam Kaizo. SEDUTAN MAU-"
"TEMBAKAN PHOTOCYBER!"
"TUMBUKAN TINJU BERAPI!"
Rosaline menyadari serangan itu dan melempar tubuh Fang. Dihindarinya kedua serangan itu dan menoleh ke arah Ochoboy dan Blaze sembari menggeram marah.
"Ochoboy, jangan kau nak masuk campur. Aku masih butuh kau, tahu tak?!" desis Rosaline sebal. "Kau target sebenar aku, jadi jangan cuba nak melawan atau kawan-kawan kau yang akan aku hapuskan!"
Ochoboy mendengus. "Kau hapuskan kawan aku? Hmp, diorang yang akan belasah kau dahulu!" tukasnya marah lalu menoleh ke arah Blaze. "BoBoiBoy Blaze, maaf. Tapi aku butuh bantuan kau sekarang."
"Okey!" Blaze membalas dengan sumringah. "SERANGAN-"
SREEETTT!
"Adu-duduh... sakit, Tok Aba!"
"Huwee! Jangan pulas telinga BoBoiBoy, Atok!"
Entah mengapa Tok Aba langsung menjewer pipi Ochoboy dan telinga Blaze. Orang tua itu hanya mendecak-decak kesal.
"Ei, apa lagi korang nak gaduh-gaduh lawan, Hah? Dah penat Atok cemaskan korang semua!" ujar Tok Aba kesal.
"Ma- Maaf, Tok. Kami cuma nak selamatkan Fang je, Huhuhuu..."
Ray mendengus lalu mendekati keduanya. "Dah cukup korang buat semua ni," katanya tegas. "Biar Atok dan yang lain bertindak sekarang. Lagipun korang yang dimahukan Rosaline tue. Memang tebiat dia macam tue. Dah lah. Sekarang korang rehat, jangan buat macam-macam!"
"Tapi, Abang-"
"Sudah! Biar Bapak-Bapak ini yang bantu kalian!" ucap Papa Zola tiba-tiba. "SEKARANG JAGA KAWAN-KAWAN KORANG TUE!"
"Alahh- aku nak tolong Fang je," desis Blaze sedih. Ray menepuk pundaknya sembari tersenyum.
"Dah lah, BoBoiBoy. Kau jangan degil sampai badan kau tak teruk lagi. Biar kita tunggu BoBoiBoy Gempa sedar sementara Tok Aba dan Papa Zola yang kan selamatkan pecahan-pecahan kau dari pengaruh Rosaline."
"Humm... Baiklah, Abang." Kali ini Blaze menyerah dan kembali memasang siaga di hadapan kawan-kawannya bersama dengan Probe dan Adu Du. Tiba-tiba Ochoboy mendapat sebuah ide. Dirogohnya saku-nya dan mengeluarkan jam kekuatan Yaya, Ying dan Gopal darinya.
"Ah, ya. Saya hampir lupa. Tadi saya ambil jam-jam kuasa ni dari Ying, Yaya dan Gopal sebab keadaan diorang tidak patut untuk bertarung tadi." katanya lalu menatap Tok Aba dan Papa Zola. "Apa kata kalau Tok Aba dan Cikgu Papa yang kenakan Jam-jam kuasa nie untuk selamatkan pecahan-pecahan BoBoiBoy yang terkena kawalan Rosaline? Kali ini sahaja."
Tok Aba menggaruk pipinya. "Hmm, betul juga tue," katanya setuju. Papa Zola langsung mengiyakan.
"HEBAT! Usulan yang hebat, Wahai Robot Kuasa!" katanya bersemangat. "AYO, TOK ABA!"
"Hahaha, SAKSIKANLAH PENAMPILAN PASUKAN SUPERHERO MALAYA!"
Segera saja Tok Aba memasang Jam tangan Ying di pergelangan tangan tuanya, sama persis seperti saat Ejo Jo menyerang mereka dua tahun silam.
"KUASA MANIPULASI MASA! Ayo pakai jam tue, Papa Zola!"
"Okey, Tok Aba!" Papa Zola langsung memakai Jam kekuatan Yaya di tangannya lalu berteriak. "KUASA MANIPULASI GRAVITIIIIII! Hahahahahaa- Pink gitu!"
BANG!- Semuanya Jawsdrop melihat tingkah konyol Papa Zola yang sungguh sangat tidak cocok di tengah kekalutan seperti itu.
"Haish, apasal Cikgu Papa sukakan Pink sangat?" gerutu Fang pelan. "Ada hal je lah Cikgu nie."
"Nah, sekarang siapa yang mahu temankan Kebenaran?" tawar Papa Zola ke anak-anak muridnya untuk memakai Jam kekuatan milik Gopal.
"Ehm, Saya mana berani pakai jam kuasa tue?" ucap Kevin cemas.
"Berbahayalah, Cikgu!" protes Amar Deep.
"Betul tue." tambah Stanley gugup. "Lagipun kami kecik lagi."
Tok Aba memandang Ray. "Ray, kau nak pakai jam kuasa nie?"
"Eh? Pakai Jam kuasa?" tanya Ray kaget. "Saya pon bukan lah ahli. Saya tak nak lah. Saya cuma ahli tinju, bukan ahli kuasa super pulak."
"Saya boleh tak, Atok?" Blaze mengangkat tangannya.
"Ei, banyak cantik! Kau mana boleh gunakan dua kuasa berlainan?"
"Hehehe, gurau je Tok."
"Saya, Tok Aba! Saya!" Adu Du tahu-tahu hendak menjamah jam kekuatan Gopal itu, namun Tok Aba lebih cepat.
"Hoi, kau nanti bawa lari jam kuasa nie!"
"Ish, apasal aku tak boleh juga?" ucap Adu Du bersungut-sungut.
"Hehehe, Encik Bos kan dah ada kuasa," kata Probe berusaha menenangkan atasannya, membuat Adu Du heran.
"Eh, Apa kuasa aku?"
"Hmm, mungkin kuasa baling Cawan dekat aku kot-"
BLETAK!- Tahu-tahu Probe sudah menerima lemparan gelas besi dari Adu Du akibat kalimat sindirannya itu. Kambing S8000 hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
"Mbee... Mbee... Mbeeeee..." (Tak Patut... Tak Patut...)
"Aish, tak de yang nak pakai jam kuasa punya Gopal nie ke?" keluh Tok Aba. Tepat saat itulah Iwan muncul di depannya sembari senyam-senyum sendiri. Melihat gelagat anak itu, Papa Zola langsung mengerti dengan maksud Iwan.
"Ohh- SYABAS, ANAK MUDA... SYABAAAASSSSS!" katanya senang. "SYABAS ATAS KEBERANIAN ANANDA! Haaa- sekarang pakai jam kuasa murid kebenaran ini!"
Disambarnya Jam kekuatan Gopal dari tangan Tok Aba dan memakaikannya pada Iwan. Segera saja Iwan sumringah karenanya dan melakukan gerakan-gerakan khas superhero. Setelah puas, ia mengekori Tok Aba dan Papa Zola untuk menghadapi Rosaline yang langsung melakukan adegan tatap menatap.
"Bersedialah Wahai Rosaline... KAMI AKAN HAPUSKAN KAU, WAHAI PEREMPUAN DURJANAAA!"
Mereka masih saling tatap menatap selama beberapa detik. Tahu-tahu Papa Zola menggumam, membuyarkan keseriusan itu.
"Ehh- tapi kejap dulu ye. Nak cari nama dulu ni."
GUBRAK!
Rosaline mendengus. "Hei, berapa kali kau nak cabar aku macam ni, Hah?!" tukasnya kesal. "Cepatlah tue!"
Tok Aba menoleh ke arah Papa Zola. "Cari nama? Bukannya tadi dah? Superhero Malaya?"
"Uhuhuhuu- tak nak lah! Tak nak lah nama tue!" Papa Zola merengek-rengek, membuat semuanya sweatdrop di tempat.
"Pulah..."
"Hmmm, apa kata kalau kita guna nama default kita?"
"Ei? Default?"
"YA, DEFAULT!" ujar Papa Zola dengan berapi-api. "Nama itu ialah TRIO TRENDY KEBENARAN!"
"Um!" Iwan mengangguk tanda setuju.
"Haish, dah macam masa lawan Ejo Jo tue dah," gerutu Tok Aba. "Tapi boleh juga. Atok setuju sahaja."
"Ehh, kejap!" potong Probe. "Apasal kita pakai nama Trio? Jerung jinak tue tak masuk ke? Mestinya empat lah."
Papa Zola mendecak. "Ushushushu- Tetaplah Trio! Sebab Jerung Kebenaran dah macam bahagian dari Jiwa dan raga Papa. Jadi secara autometiknya, dia dan Cikgu ialah satu!"
J-Rex langsung menggeram kecil tanda senang mendengar itu.
"Haihh, Aku yang beli Jerung tue, dia pula yang pakai," ucap Adu Du ketus.
"Ooo- Kau ingat kau yang jinakkan Jerung Kebenaran kaaaahh?" sembur Papa Zola, membuat Adu Du kekeran juga.
"Ehehe... Tak pe lah, Cikgu. Gunakan je Jerung tue bila-bila masa."
"Haaa- ini baru Anak Murid Cikgu!" kata Papa Zola bangga seraya menepuk-nepuk kepala kotak Adu Du, membuatnya tersipu sendiri.
"Hmm, dah lah tu, Papa Zola," kata Tok Aba sembari tersenyum simpul lalu menoleh ke arah Rosaline. "Dan kau! Jangan berani kau apa-apakan Cucu aku lagi! Ayo, Papa Zola!"
"Hahahahaaaa- Baiklah kalau cam tue! Ayo, Iwan! Ayo, Tok Aba! Kita kembalikan harga diri sanak saudara kita!" Teriak Papa Zola dengan nada tinggi. "BERSEDIALAH UNTUK MELAWAAAAAANNNN, WAHAI TRIO TRENDY KEBENARAAAAANNNN!"
Kamar Utama Pesawat Angkasa Kaizo, 27 Juli 2014 pukul 15:55
"TEMBAKAN GELOMBANG SUHU TINGGI!"
BLAAAASSSSHHH!
Mila berubah ke mode Milyra Infra merah dan menembakkan laser bersuhu tinggi ke arah Syrena. Dengan lihai Siren itu menghindar sembari tetap berenang di dalam lantai yang dimodifikasikannya menjadi kolam. Gopal membantu Infra dengan cara menembakkan peluru-peluru tukar molekul menuju Syrena, tapi semua itu nihil. Syrena ternyata lincah sekali, membuat mereka berpikir kalau perempuan itu tidak bisa dianggap remeh.
"Ayoyo, apasal dia susah betul buat terkena serangan aku?" keluh Gopal frustasi. "Dah macam lawan Dugong!"
Syrena terkejut. "Apa? Kau cakap aku macam Dugong?!" katanya kaget." Ish, ish, tak baik lah mengarut dekat Calon bini kau ni."
"Uhuk- dey, geli lah!" Gopal menutup mulutnya dengan kedua tangan karena mual. "Kau nie macam ada hal je dekat aku, Hihh!"
Infra mendelik kearah Gopal. "Gopal, kau kena tahu, Syrena tu dah macam sebelas-dua belas dengan Bunda aku. Jadi wajar sahaja kalau sikap dia macam genit."
"Aish, tapi apasal mesti dekat aku pulak?"
"Hmm, mungkin dia jatuh hati dekat kau kot."
"DEY! Jangan lah bagi tahu pasal pelik macam tue dekat aku!" kali ini wajah Gopal memerah bak kepiting rebus saking malunya. "Nak muntah aku dengar itu, tahu tak?"
Infra terkekeh."m "Ehehe, tenang Gopal. Aku tak serius lah. Lagipun kalau kau memang betul jadi Raja Planet Tim Tam Dua nanti, dah habis Planet itu kau tukar jadi makanan."
"Hehehe- tahu pon. Jadi Biskuit Tim Tam Cokelat pon boleh dah."
"Oh, jadi kau pon suka makan?" Syrena menggaruk dagunya. "Menarik. Jarang sangat aku jumpa budak lelaki macam kau ni, fufufu. Jadi, kau sedia lamar aku sekarang ke?"
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu Gopal sudah pingsan di tempat dengan hidung berlumuran darah. Kelihatannya anak India itu benar-benar tidak tahan dengan rayuan gombal yang ditujukan Syrena terhadapnya. Infra terkejut dan dengan sigap, menghadang Syrena agar tidak mendekati Gopal.
"Aku tahu kau sukakan sangat rayu lelaki macam nie," dengusnya berang. "Tapi kali ini kau tak boleh dibiarkan! Aku akan ambil Takhta Ratu Tim Tam Dua dari diri kau, tukang Kudeta!"
Sementara Infra menghadang Syrena agar tidak menyentuh Gopal, Yaya dan Ying membantu Lahap yang saat itu tengah kewalahan menghadapi boneka-boneka hantu yang dikendalikan Mimi. Mimi sendiri hendak menjamah Kaizo, namun ia keburu dicegat oleh Yaya menggunakan kekuatan Gravitasi-nya.
"Ying, kau bawa badan Kapten Kaizo keluar dari sini!" sarannya. "Aku dan Lahap yang akan hadang Mimi tu."
"Aik? Saya?" tanya Ying heran. "Apasal saya pulak? Badan saya kecik ho, tak lah macam badan Kapten Kaizo tu. Mestilah berat!"
"Ergh- kau kena bawa Kapten keluar agar Mimi tak kan dapatkan badan dia!" ucap Lahap geregetan seraya berusaha menghalau boneka-boneka Mimi agar tidak menyerang mereka. "Cepat, Cik Adik!"
"Tapi sebelum saya buat benda tue, ada benda saya nak tanyakan hoo. Kenapa saya, Yaya dan Gopal masih boleh guna kuasa tanpa pakai Jam Kuasa?"
Pertanyaan Ying itu membuat Yaya dan Lahap terdiam.
"Eh, betul juga tu," kata Yaya heran. "Aku baru sedar kalau kita tak pakai Jam Kuasa."
"Haiya, Ochobot dah ambil Jam Kuasa kita maa. Anehnya, kita masih boleh guna kuasa."
Yaya mengerutkan kening. "Nampaknya efek kuasa tu masih ada dekat badan kita walau kita tak pakai Jam Kuasa. Mesti sebab kita dah sering gunakan kuasa tue, jadi masih tersisa dekat badan kita. Kalaupun-"
"Ei, bila korang habis bincang tu, Hah?" kalimat Mimi tiba-tiba menginterupsi mereka. "Jangan banyak cakap lagi! Korang dah seksa batin aku sebab korang dah ambil BoBoiBoy dari aku. Bagi balik BoBoiBoy sekarang juga!"
"Ish kau ni, degil betul!" Yaya menggerutu karena gemas dengan sikap keras kepala Mimi. "BoBoiBoy tu bukan milik kau sorang. Kalau kau memang betul kawan dia, tak kan lah kau buat benda gila macam ni."
"Yaloh, lu ingat dia tu macam barang pribadi ke hoo?" tambah Ying seraya bertanya-tanya dalam hati: Mengapa Mimi begitu sangat terobsesi pada Boboiboy? Ying harus menanyakan hal ini pada pemuda itu nanti.
Mimi menggeretukkan giginya karena geram. "Korang semua memang tak kena!" jeritnya histeris. "Korang tak sedar ke, Hah?! Selepas BoBoiBoy tinggal di Pulau Rintis bersama dengan korang, dia lupakan Kawan-kawan lama dia! Korang kena tahu tu! Heaaaaahhhh!"
Dilawannya kekuatan Gravitasi Yaya sekuat tenaga hingga ia berdiri diatas kedua kakinya. Dengan murka, ia mengeluarkan banyak pisau lipat dari gaunnya dan melemparkannya ke arah Yaya dan Ying.
"Semua ini korang punya pasal! TUSUKAN BELATI KILAT!"
"Ugh-" Yaya kembali melepas kekuatan Gravitasi-nya dari Mimi dan memindahkannya pada pisau-pisau Mimi sehingga benda-benda tajam itu berjatuhan ke lingkaran gravitasi berwarna pink itu.
"Ying, sekarang!"
"O- Okey," ucap Ying gugup lalu mengalungkan lengan kanan Kaizo yang sudah mendingin dan mendelik ke pintu keluar. "LARIAN LAJUUUU!"
Gadis berkuncir dua itu membawa tubuh Kaizo menuju pintu keluar yang letaknya cukup jauh. Sekonyong-konyong Ying merasa kekuatan larinya melambat. Detik berikutnya, lari cepatnya melamban dan semakin lamban hingga akhirnya hilang sama sekali, dan itu terjadi sebelum ia sempat menggapai pintu keluar. Ia langsung berhenti karena kelelahan membopong tubuh Kaizo yang lebih besar darinya.
"Ayak! Kuasa saya dah hilang lah!"
Lahap mendengus sembari terus menahan boneka-boneka Mimi agar tidak mengganas. "Nampaknya kuasa itu cuma sambil lalu, Cik Adik. Mungkin sebab korang dah tak guna Jam Kuasa, maka efeknya yang ada dekat tubuh korang dah hilang!"
"Eh? Iya ke?" Yaya tersengih. Dan ia membenarkan ucapan Lahap begitu melihat lingkaran Gravitasi-nya perlahan-lahan musnah. "Alamak! Kita kena pergi dari sini!"
"Baiklah kalau cam tue," lanjut Lahap lalu menoleh ke arah Ying. "Cik Adik, Jom kita bawa badan Kapten Kaizo bersama-sama. Milyra juga, bawa badan dik Gopal tue. Kuasa-kuasa korang tak efektif lagi. Keluar, Cepat!"
Infra mendesah seraya kembali ke mode normalnya. "Baiklah. Nampaknya cuma saya yang tidak hilang kuasa sebab Ochoboy bagi kuasa langsung ke badan saya, bukan ke medium Jam Kuasa. Tapi takpe. Saya akan bantu diorang keluar sekarang juga."
Setelah ia mengatakan itu, digendongnya badan Gopal di punggungnya dan menatap Syrena yang langsung saja memberikan senyum mengejek.
"Hmp, pengecut sangat lah kau ni, Milyra. Mana kau nak bawa dia orang lari, heh? Hah, jangan harap! SERANGAN BELUT LISTRIK!"
"Alamak! Aku kena bawa Gopal keluar segera!" desis Mila panik begitu melihat belut-belut listrik Syrena meloncat keluar dari lantai, menerjangnya. Ia berkelit dan segera menyusul Yaya dan Ying yang membawa tubuh Kaizo menuju pintu keluar. Namun begitu Yaya membuka pintu itu, sebuah sosok berpotongan raksasa menghadang mereka tepat di ambang pintu. Gadis berjilbab itu menjerit kaget seraya melangkah mundur dari pintu besar itu.
"Tak mungkin! Kau-"
"Korang nak lari kemana, Heh? Kali ini aku tak kan kalah dari budak mentah macam korang, Huahahahahahahaaaaa!"
Mila terkejut, apalagi Yaya dan Ying karena mereka kenal betul siapa sosok raksasa yang menghadang mereka untuk kabur dari kepungan Mimi dan Syrena ini. Sosok itu tinggi besar. Potongannya raksasa. Warna kulitnya hijau kebiruan, begitu pula dengan kepalanya yang semi kotak. Kedua cakar laser besi berukuran besar merupakan ciri khasnya.
"GAGA NAZ?!
Aula utama lantai 90 Gedung Markas pusat Organisasi, 27 Juli 2014 pukul 15:59
Haryan mendengus. Perdebatannya dengan teman lamanya yang merupakan Ayah dari BoBoiBoy tadi nyaris membuat kepalanya meledak. Ia memukul meja kerjanya sekeras mungkin karena marah, tidak peduli telapak tangannya lecet karenanya.
"Tidak. Kau salah, kawan lamaku... Kau salah besar!" desisnya geram. Dikatupkannya rahangnya kuat-kuat guna menahan emosi yang meledak-ledak di dadanya. "Aku tidak lagi peduli dengan Makhluk hidup dekat alam semesta ni, tapi kau masih sahaja pertahankan opini kau yang menjijikkan itu. Hmp, pelik betul lah korang semua. Kenapa korang masih nak lindungi makhluk-makhluk perusak itu? Mereka cuma penghancur, korang tahu tak? Dan sungguh benda yang bodoh kalau penghancur kena dilindungi."
Ia berdiri dari kursinya dan melangkah menuju jendela besar di belakang kursi, menatap langit sore. Warna jingga yang membayung di cakrawala memang menenangkan. Namun Haryan benar-benar muak dengan semua ini. Cepat atau lambat, ia akan menghancurkan Galaksi. Dan tekad itu sudah sangat kuat.
Ditundukkannya kepalanya ke bawah, ke halaman depan markas ONION dimana Rosaline tengah menghadapi lawan-lawannya. Melihat wanita itu mulai kewalahan, Haryan sontak merogoh saku jas-nya dan menekan beberapa tombol angka, hendak menghubungi seseorang. Begitu nada sambung diterima, Ia bergumam cepat-cepat.
"Ah Meng, Arumugam, Aku butuh bantuan korang berdua sekarang juga."
Bersambung ...
Oke, kali ini saya jadi bingung sendri melihat ff ini. Jujur saja, saya membuat cerita ini bernafaskan Semi-Canon, jadi mungkin ... entahlah. Saya benar-benar kehabisan kata-kata, huweee ... T^T Dan bagian Gopal itu ... hahaha saya merasa kasihan dengannya jadi saya buat dia digombali sikit ;v (Apaan sih -_-)
Maaf karena update lama dan lain sebagainya.
Tetap setia untuk menanti kelanjutannya ya.^^ Love you all, dear readers
