Naruto © Masashi Kishimoto

Story © KawaiiHanabi

It Started With A Kiss

Sasuke X Sakura

.

.

.

.

.

Sakura gadis musim semi itu duduk anggun di depan meja rias. Dirinya kini tengah memoleskan sedikit make up untuk wajahnya yang terlihat sangat lelah. Harus dia akui ia lelah, menjadi model dan memegang kendali perusahaan bukan pekerjaan yang mudah baginya-meski Sasori juga ikut andil dalam mengurus Haruno Corp.-

Sebenarnya ia lelah bukan karena pekerjaan saja tapi ada beberapa hal yang terus membebani pikirannya beberapa hari belakangan ini, tepatnya pekan lalu saat ia melihat Neji memiliki memar di wajahnya. Tentu saja ia khawatir kala itu, saat mendengar ceritanya darimana ia mendapat memar itu tentu saja membuat Sakura kaget karena pelaku itu adalah Uchiha Sasuke, orang yang menemuinya malam itu. Mendengar hal itu sontak membuat Sakura cepat-cepat meminta maaf meski tak dapat dipungkiri kalau saat itu Neji juga bersalah karena sudah usil mengarang cerita demi menggoda bungsu Uchiha itu. Walau bagaimanapun Sakura sangat berterimakasih karenanya.

Tapi Hanabi itu bukan permasalahan yang bisa dibilang membenani pikiran, -memang bukan- lantas kenapa hal itu membenani Sakura? Begini cerita yang sebenarnya soal perkataan Neji tempo hari pada Sasuke kalau ia akan dijodohkan dengan Sakura semuanya itu ada benarnya. Rencananya jika kencan Sakura dan Inuzuka Kiba gagal maka mau tak mau Sakura harus menikah dengan Neji. Keluarga Neji memang tidak bersalah karena menginginkan Sakura menjadi Ibu dalam artian yang sesunggunya tapi bukankah caranya ini agak sedikit keterlaluan?

Neji bilang kalau ia akan berbicara pada para tetua dengan masalah ini dan walla! para tetua itu tetap enggan mengalah dan malah terang-terangan menginginkan Sakura. Haah Semoga saja Nejidapat menepati janjinya untuk segera menikah. Dan Sakura bisa benar-benar bebas dari perjodohan yang sangat ia benci itu. Kalian sebelumnya sudah tahu kan prinsip Haruno Sakura dengan cinta pertamanya? Sekarang ia sudah bersama Sasuke apa ia harus kembali melepasnya hanya karena perjodohan-No! Ingatkan jaman SMA saja saat di paksa ikut gokkon dan bertunangan dengan orang asing Sakura main kabur-kaburan dari Ibunya. Nah Sekarang ia sudah ada tambatan hati bisa jadi kawin lari kan? -Oke kita hentikan obrolan aneh ini-

"Ah. para orang tua itu ." Ujar Sakura sembari mengakhiri ritual paginya. Dirinya kini berjalan keluar dari kamar menuju dapur apartemen Sasori. -Sampai sekarang Sakura masih menumpang di apartemen sepupunya itu.-

"Ohayou." Sapa Sasori dengan mata yang masih merem melek. Dia masih mengantuk ternyata.

"Ohayou Nii-san." Balas Sakura.

Gadis itu kembali berkutat menyiapkan makanan untuk sarapan yang tadi sempat ia tinggalkan untk bersiap pergi. mengingat ini sudah hampir pukul 7 pagi dan ia ada janji untuk mengantar Hiro spergi ke play group hari ini.

" Kau mau pergi kemana Sakura? " Tanya Sasori yang kini tengah melahap sepotong roti bakar yang tadi Sakura sediakan.

" Mengantar Hiro dan ada sedikit urusan, mungkin aku akan pulang sore atau malam. " Jawabnya.

Sasori kembali menggigit sepotong roti itu, mengunyahnya sembari menampakan sebuah seringai menggoda.

"Mau menghabiskan kencan dengan Uchiha ya?" Tanyanya.

Mendengar hal itu sontak membuat Sakura salah tingkah sendiri, semenjak Sasori tahu Sakura kembali berhubungan dengan Sasuke, Sasori jadi makin sering menggodanya, seperti sekarang apa-apa selalu dikaitkan dengan Sasuke. Hobi sekali sepupunya ini dengan hubungannya dengan Sasuke ah tambahkan juga Itachi dan Neji didalamnya.

Sakura menggeleng. "Aku dan dia sibuk nii-san dan kami tidak berkencan."

Sasori manggut-manggut seolah mengerti akan penjelasan yang Sakura berikan tadi. Matanya kini mengamati Makanan yang tengah Sakura masukan kedalam wadah dengan rapi. "Kau membuat bentou?" Tanyanya.

Sakura mengangguk mengiyakan.

"For your boyfriend?." Goda Sasori-lagi dengan logat so inggrisnya-yang sialnya lagi benar-benar fasih.

Sakura mendengus sebal saat setelahnya Sasori mencomot tamagoyaki di wadah yang sudah ia tata rapi itu. " .Berkencan Nii-san. Lagipula aku pun membuatkanmu dan Hiiro masing-masing satu ." Jelasnya sambil kembali membenahi makanan yang sempat dicomot Sasori.

Sasori tercengang. "E-eh? Maji? Kalian menghabiskan malam bersama tapi tak berkencan?" Ujarnya tak percaya.

"Hentikanlah Nii-san cepat bereskan sarapanmu dan segera mandi lalu pergi ke kantor."

Mendengar ucapan sepupu merah mudanya itu Sasori pun segera mengiyakan memakan sisa Saraoannya dan mengambil handuk dan bergegas mandi . "Haii Imouto-chan." Ujarnya sebelum menghilang di balik tembok.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke menatap Sekertaris yang membawa kiriman paket untuknya dengan tatapan bertanya.

"Sasuke-sama tadi ada seseorang yang menitipkan barang ini untuk tuan. disini tertulis dari Haruno Sakura-san. " Ujar si sekertaris cantik yang dikenal bernama Yamanaka Ino ini.

" Aa. Kau bisa simpan di meja itu dan kembali bekerja. " Ujar Sasuke singkat.

Mengerti dengan perintah sang atasan Ino langsung menaruh tas jinjing itu di meja tamu dan segera meninggalkan ruangan Sasuke, dengan pamit terlebih dulu tentunya . "Saya permisi Sasuke-sama. "

Sasuke, apa sih yang pemuda tampat berambut emo itu lakukan. Ohh dia sedang sibuk memeriksa beberapa proposal dan laporan perusahaan rupanya, Dasar workholic! Sebentar lagi kan jam makan siang rehatlah dulu Sasuke jangan memaksakan diri.

Setelah selesai memilah beberapa proposal dan memeriksa laporan perusahaannya ia pun beranjak dari kursi kebesarannya menuju meja tempat Ino menaruh barang pemberian Sakuranya tadi. -Sakuranya kau bilang? Cih ngaku-ngaku memiliki hubungan yang jelas saja belum!-

"Dia benar-benar sibuk rupanya." Gumam Sasuke pada dirinya sendiri sembari meraih tas jinjing kertas yang ada dimejanya itu.

Ia mengambil tempat duduk tepat didepan meja dan membuka tas jinjing itu, Ada jasnya yang pekan lalu ia pinjamkan pada Sakura. Sasuke tersenyum tipis mengingat kejadian waktu itu. Eh tunggu ada secarik kertas yang menempel disana .

Maaf baru sempat mengembalikannya

Terimkasih dan selamat menikmati makan siangmu

PS: Untuk membayar sewa jasmu

Beloved Sakura

Sasuke mengambil sebuah wadah berisi makanan dalam tas jinjing itu. ah ini pasti bayaran atas sewa jasnya waktu itu. Sakura itu benar-benar... jika ingin membuatkan bentou bilang saja dari tadi make modus balas jasa segala kan dengan senang hati pasti akan Sasuke terima. Dengan begini ia bisa menunjukan pada Itachi kalau ia juga mendapatkan...

" Oh Otouto waktunya makan siang, menu hari ini..." Ujar Itachi yang entah ada angin apa tiba-tiba masuk ke ruangan Sasuke sembari menenteng wadah tingkat 3 pemberian istrinya tadi pagi sebelum berangkat kerja .

-bentou dan tak harus lagi makan siang bersama Itachi yang pasti akan selalu datang ke ruangan saat makan siang seperti saat ini.

"Kembalilah keruanganmu aniki hari ini aku sudah dapat makan siang. " Ujar Sasuke.

Namun bukan Itachi namanya jika ia langsung mengidahkan perkataan adik bungsu tercintanya itu. Tanpa beban ia duduk di sofa dan mulai menilik-nilik bentou yang sudah Sasuke buka entah sejak kapan.

"Ehh, kau juga memiliki bentou. " Ujar Itachi . "Beli dimana? Seperi buatan rumahan ya . "

Ingin sekali ia memukul aniki yang selalu kepo ini untuk memberikan sedikit pelajaran tapi karena Sasuke adalah seorang Uchiha yang menjunjung tinggi tatakrama dan Norma kesopanan dengan berat hati ia harus menahannya.

"Hn. Seseorang membuatnya. Mulai sekarang kau tak perlu membagi makan siangmu denganku lagi. Sampaikan terimakasihku pada Kakak Ipar. " Ujar Sasuke .

Sama halnya seperti yang Sasori lakukan pada Sakura tadi. Ia manggut-manggut seolah paham . "Sakura-chan ka? " Tanyanya .

"Hn." Sasuke pun hanya membalas alakadarnya, ini memang sudah adatnya kali ya.

"Kalian mulai berkencan? "

"Tentu kami...belum berkencan. " Sasuke baru ingat kalau ia hanya menyatakan perasaannya saja, tidak memberikan kepastian yang jelas pada Sakura soal hubungan mereka kedepannya. Ck, sial padahal saat itu adalah momen yang tepat Sasuke. Andai kau bisa romantis sedikit saja. Meski itu cuman seuprit Sasuke.

Itachi menggelengkan kepalanya . "Ck, Kau memang bodoh Sasuke. Dulu tak memperjuangkannya, setelah kembali bertemu kau tak memberi kepastian. Kau itu laki-laki bukan?"

Mendengar pernyataan tak mengenakan dari kakaknya itu Sasuke pun berniat menyanggahnya. Pridenya di pertaruhkan disini. "Bukan begitu. Hanya menunggu waktu yang tepat. " Ujar Sasuke.

Itachi mulai membuka dan melahap bentou buatan Hanna sang istri tercintanya. " Kapan? Kalian langsung menikah atau mulai berkencan? " Tanya Itachi .

Perapatan siku mulai mucul di dahi indah Sasuke. Kesal? Tentu...Sangat. "Kenapa kau senang sekali mengurusi urusanku?" Tanyanya dengan nada setengah kesal.

"Oh itu. Karena aku ikut bertanggung jawab atas kisah cintamu." Jelas Itachi sambil kembali menikmati makan siangnya. Memang jarang sekali mereka makan sambil bicara. Hey kau kemana tatakrama saat makan yang diajarkan kakek Madara waktu itu. Lupakanlah lagi pula ini bukan meja makan kan?

Sasuke mengerutkan keningnya heran . "Ha? Kenapa kau berpikiran seperti itu?"

Itachi menaruh sumpitnya dan mulai menjelaskan pada Sasuke, "Kau ingat Saara menolakmu karena siapa?"

Sasuke mengangguk. "Kau." Dan entah kenapa ini mulai terdengar menyebalkan.

"Siapa yang memberi tahu artikel soal Sakura?" Tanya Itachi selanjutnya.

Sasuke mulai menerawang, kejadian beberapa tahun lalu saat ia mengetahui soal skandal Sakura dan dirinya.

"Kau. " Ujar Sasuke saat Itu juga .

"Baiklah kalau begitu selamat melanjutkan pekerjaanmu baka otouto. " Itachi pun bangkit beranjak dari tempat duduknya.

Namun sebelum ia benar-benar menyentuh gagang pintu untuk meninggalkan ruangan Sasuke , ia berbalik ke dan menatap Sasuke.

"Oh ya tadi aku bertemu Sakura-chan, dia bilang mau pergi ke Korea karena urusan pekerjaan dalam waktu dekat.". Ujar Itachi sedangkan Sasuke hanya diam tak menanggapinya, Ia masih mencerna maksud perkataan Itachi.

"Maksudku jika kau ingin melamarnya lebih baik lakukan sekarang, sebelum ia berubah pikiran. Kau tau kan korea itu penuh dengan pria tampan dan romantis sepertiku hahahahahaha. " Canda Itachi sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu.

Well Itachi-kun perkataanmu barusan membuat Uchiha Sasuke kita ini malah ketar-ketir sendiri. Masa iya sih Sakura nanti kembali ke Jepang sembari memboyong para Idol dan aktor tampan dari Korea sana. Jangan salah Sakura juga cukup terkenal di Korea loh, selain model ia juga memiliki Agensi yang dibentuknya bersama Sasori dan Itachi hampir 1 tahun ada salahnya berinvestasi pada beberapa perusahaan. Itung-itung untuk tabungan masa depan.

Segera bertindaklah Sasuke ayo tinggalkan laporan dan proposal sialan yang memusingkan itu dan temui gadis pujaanmu, kau tak mau dia diambil orang kan? haha.

"Baka aniki." Ujar Sasuke. See? perkataan Itachi berhasil memanasinya. Sepertinya ia tahu apa yang akan ia lakukan. Kau tak mau ditinggal gadismu lagi kan Sasuke? Good luck dengan keputusanmu itu.

.

.

.

.

.

"Huh..." Sakura mendesah pelan setelah menerima panggilan telepon dari Neji. Iya tadi memintai tolong padanya agar menjaga Hiro selama 3 hari kedepan. Ia ada urusan bisnis di Singapura. Hiro yang memintanya, pria kecil itu lebih memilih bermalam bersama Sakura daripada ditinggal di Mansion Hyuuga bersama kakek neneknya. Ia mungkin masih canggung dengan keluarga ayahnya.

Sakura menatap kue yang tadi siang ia buat di jok belakang mobilnya. Rencananya ia akan mengujungi kediaman Uchiha sekarang. Tidak-tidak jangan salah paham, Sakura ingin menemui tante Mikoto ko bukan Sasuke. Ia ingin menyapa sekaligus meminta maaf karena pergi tanpa pamit pada keluarga Uchiha oh jangan lupakan juga rencana untuk menyapa istri Itachi, Sakura menyesal tak mendatangi pernikahanya kala itu.

"Mama..." Cicit Hiro yang duduk disebelahnya. Ia sedari tadi mengamati tingkah Sakura yang terus mendesah sembari menatap jok belakang.

Sakura menatap pria kecilnya sembari tersenyum hangat. "Nani?" Tanyanya lembut.

Mata Hiro menatap Emerald Sakura. " Kenapa mama dari melakukan itu terus? Apa mama tidak bosan?" Cicitnya. Oh untuk anak seusianya Hiro tergolong anak yang pandai ia sudah lancar berbicara bahasa jepang.

Sakura berpikir sejenak, tak mungkin kan ia mengatakan kalau ia bingin karena Hiro. Yup, mengajak Hiro ke mansion Uchiha bukan ide yang bagus nampaknya. Selain menimbulkan pertanyaan, Sakura juga takut Hiro merasa tak nyaman mengingat ia sangat sulit akrab dengan orang yang baru ia temui, lihat saja kakek neneknya.

Tapi sayang juga kan ia sudah bersusah payah membuat kue, akhirnya malah jadi mubazir.

"Ano sa Hiro-kun, Rencananya mama mau mengunjungi seseorang dulu sebelum pulang ke apartemen, apa kau tak keberatan dengan itu?" Tanya Sakura kemudian, Setidaknya lebih baik menanyakannya dulu pada Hiro kan daripada nanti ia menyesal.

Pria kecil itu nampak berpikir sejenak, tak lama kemudian ia mengangguk antusias. "Hm, asalkan Hiro dengan Mama Sakura, Hiro mau. " Ujarnya, Oh pria kecil kita yang manis, aku mencintaimu sungguh!

"Yosh..." Sakura pun menjalankan mobilnya menuju kediaman Uchiha.

.

.

.

.

.

Disinilah Sakura sekarang, setelah memarkirkan mobil dihalaman Mansion Uchiha yang entah bisa menampung berapa mobil karena Saking luasnya, ia dan Hiro berdiri di depan pintu sembari memencet bel.

Ditangan kirinya Sakura membawa Lemon cake yang tadi siang ia buat. Di belakangnya ada Hiro yang berdiri manis menunggu pintu di buka oleh Nyonya rumah.

Cklek

Tak lama kemudian pintu itu pun terbuka. Tampaklah Nyonya Uchiha yang masih tampil cantik awet muda meski telah 5 tahun telah berlalu.

"Are, Sakura...-chan? " Ujar Mikoto yang kaget karena kedatangan Sakura yang bisa dibilang mendadak ini.

Sakura membungkuk memberi salam, begitupun dengan Hiro yang ikut membungkuk sopan. "Konnichiwa, Ohisashiburi desu ne Mikoto ba-sama. " Ujar Sakura di sertai senyumannya.

Tanpa membalas ucapan salam Sakura, Mikoto langsng menerjang Sakura, ia memeluk gadis manis itu erat. "Sakura-chan, akhirnya kau kembali, kenapa kau pergi tanpa memberitahuku? Ah lebih baik kita masuk dulu ayo. "

Mikoto berbalik, onyxnya menangkap seorang pria cilik yang sedari tadi bersembunyi di balik kaki jenjang Sakura. Mikoto duduk menyamai tinggi anak itu. "Siapa ini? boleh aku tau namamu pria kecil?" Ujar Mikoto disetai senyuman hangatnya.

Hiro yang nampak malu-malu malah memalingkan wajahnya dan bersembunyi di balik kaki Sakura lagi. "Watashi no namae wa Hyuuga Hiro, baa-sama." Ujar Sakura dengan nada anak kecil yang dibuat-buat menyamai suara Hiro.

Mikoto mengangguk. "Ah, Putranya Neji-kun? Senang bertemu denganmu."

Mendengar nama ayahnya disebut membuat Hiro keluar dari tempat persembuyiannya dan menatap Mikoto yang tersenyum padanya. "Baa-sama mengenal tou-san?" Cicit pria kecil itu.

Mikoto mengelus surai cokelat milik Hiro sayang sebelum menjawabnya. "Hai shitteru yo. Neji-kun berteman baik dengan anak Baa-san. Nah karena itu kau jangan sungkan ya ayo masuk." Mikoto menggiring Sakura dan Hiro masuk kedalam rumahnya.

.

.

.

.

.

"Douzo jangan sungkan ." Ujar Mikoto setelah berhasil menggiring Sakura dan Hiro masuk ke kediaman Uchiha.

"Maaf menganggu." Ujar Hiro dan Sakura berbarengan.

Mikoto mempersilahkan mereka duduk di ruang keluarga tempat biasanya para penghuni ini berkumpul menghabiskan waktu bersama.

" ba-sama kore. " Sakura mengasongkan lemon cake yang tadi ia pegang pada Mikoto. Ibu dua anak itu nampak senang.

"Ara, mata keeki. Arigatou Sakura-chan." Mikoto menerima kue itu dengan senang hati, ia ingat waktu Sakura berkunjung kemari juga ia membawa beberapa kue buatan sendiri sebagai buah tangan.

Sakura tersenyum menanggapinya dari dulu ia paling senang memasak, membuat kue pun bukan hal sulit baginya apalagi jika kue itu untuk ehmkeluargaehmSasuke-kunehm.

Mikoto tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. "Ah, Ba-san lupa kalau sedang memasak makan malam, Sakura-chan maaf ya harus meninggalkanmu disini. Tunggu sebentar Itachi dan Hanna pasti sebentar lagi pulang. Kita makan malam bersama disini bersama Hiro-kun juga nee?" Ujar Mikoto ceria.

Sakura menggeleng cepat. "Ah, iie. Tak perlu repot-repot ba-sama. Maaf karena datang mendadak seperti ini. " Rasanya tak enak juga kan menganggu acara masak-masak Mikoto ba-san. Meski tujuan awalnya adalah menyapa Itachi dan Istrinya.

"Tidak, Ba-san tidak keberatan kok, Hiro-kun mau kan makan malam disini?" Pandangan Mikoto beralih pada Hiro dan Hiro pun mengangguk malu-malu mengiyakan ajakan Mikoto.

"Nah, Hiro-kun saja mau. Sakura-chan makan malam disini saja ya?" Tanya Mikoto lagi.

"Baiklah jika memang itu tak merepotkan ba-sama." Putus Sakura akhirnya.

Meresa tak enak karena terus berdiam diri akhirnya Sakura masuk kedapur dan menawarkan diri untuk membatu Mikoto membuat makan malam. Dengan senang hati Mikoto mengiyakannya.

"Pasti menyenangkan jika setiap hari Sakura-chan main kemari, ba-san jadi ada teman memasak." Ujar Mikoto. Ibu dari Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke itu kini tengah memotong wortel entah apa yang akan wanita ini buat Nikujaga kah? Daikon kah? Membayangkannya saja membuat orang lain lapar.

Sakura hanya tersenyum menanggapinya. "Bukankah ba-san bisa memasak dengan Hanna-san atau Saara-san. " Ujar Sakura kemudian.

Mikoto pun menghentikan aksi potong memotongnya lalu menatap Sakura yang tengah sibuk dengan adonan untuk tempuranya. "Tidak, Hanna sibuk dengan butiknya dan Saara sudah tidak tinggal dirumah ini lagi sejak Sasuke-kun pindah. "

Sakura sedikit terkejut dengan perkataan Mikoto barusan,Sasuke-sejak pernyataan cintanya didepan kolam ikan tempo hari- ia tak pernah berkata kalo ia sudah pindah dari Mansion Uchiha.

"Sou desu ka? " Ujar Sakura terkejut. "Apa ia tidak kuliah di Tokyo? Maksudku ia pindah karena lokasi universitas yang jauh dari rumah?" Tanyanya.

Mikoto menggeleng pelan. Hal ini membuat Sakura makin penasaran . "Bahkan letak universitasnya lebih hanya berbeda 1 km dari rumah ini. " Ujar Mikoto .

Mikoto teringat akan keputusan putra bungsunya yang entah mengapa tiba-tiba ingin hidup sendiri di apartemen. Ia sudah membujuk Sasuke agar mengurungkan niatnya untuk hijrah dari mansion tapi berkat sifat keras kepalanya itu mau tak mau Mikoto harus kalah dan membiarkan Uchiha bungsu itu pindah ke apartemen.

**Sebenarnya ia sempat mendengarnya, beberapa hari sebelum kelulusan Sasuke bertengkar hebat dengan Saara, ah tidak mungkin kata murka lebih tepat. Kala itu Sasuke langsung masuk ke kamar Saara tanpa permisi dan melemparkan beberapa majalah tepat di hadapannya.

"Apa yang..." Ujar Saara yang kaget saat Sasuke yang seenak udelnya masuk lalu melempar beberapa majalah tepat di hadapannya.

"Apa yang kau lakukan!." Balas Sasuke dengan tatapan mata yang mengintimidasi suarnya nampak dingin merendam amarah.

Tangan gadis berambut merah itu perlahan membaca majalah yang dilemparkan Sasuke barusan, iris matanya matanya nampak membulat saat membaca deretan kata demi kata yang berjejer indah di kertas tersebut.

"Ini..."

Melihat ekspresi wajah Saara yang nampak terkejut itu membuat Sasuke jengkel. Ia tertawa lirih. "Jadi ini balasanmu?"

Entah kenapa mendengar perkataan Sasuke yang dingin itu membuat Saara ketakutan ia bersumpah akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat pada Sasuke tapi kenapa...

"Ini bukan ulahku Sasuke kau harus pecaya. " Ujar Saara.

Onyx milik Sasuke malah menatap Saara tajam. "Dengar, kau sendiri yang berkata tak akan membocorkan rahasia sampai kapanpun jika aku penipu. " Desisnya kasar.

Saara meremas salah satu majalah yang tadi ia baca dengan tangan kirinya . "Berapa kali harus kubilang bukan aku yang membocorkannya Sasuke! "Saara mengasongkan majalah itu tepat di hadapan wajah Sasuke, ia ingin lelaki yang katanya ia cintai itu membuka matanya lebar-lebar soal artikel bodoh itu. "Lihatlah namamu tidak ada disini! Dia yang bodoh karena menghancurkan karir amatirnya sendiri!" Ujar Saara setengah berteriak.

Wajah Sasuke mengeras mendengarnya. "Jaga bicaramu!" Bentaknya. "Dengar, aku muak dengan ambisi bodohmu itu. Enyah dari kehidupanku selamanya." Kala itu Uchiha Sasuke benar-benar murka. Saara membatu setelah mendengar perkataan Sasuke barusan. Masing-masing dari mereka belum keluar kamar sejak malam itu. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing. ***

Beberapa hari setelahnya Mikoto hanya mampu menghela nafas saat Sasuke memutuskan untuk membeli sebuah apartemen dengan alasan supaya dekat ke kampus dan konsentrasi belajar. Saara hanya diam tak bersuara saat Sasuke berpamitan pada seluruh keluarga. Mikoto tahu ada yang tidak beres disini. Dan tak lama kemudian tepatnya setelah Saara menyerah dan memutuskan kembali ke tempat asalnya akhirnya Mikoto menyadari kalau-putra bungsunya ini menyesali kepergian Sakura.-kekasih palsu putra bungsunya-. Ia tahu setela mengorek beberapa informasi dari Itachi dan menggeledah kamar putra bungsunya.

.

.

.

.

.

"...dan kau tahu sampai sekarang kurasa Sasu-kun masih sama. Terimakasih karena telah kembali Sakura- chan." Mikoto mengakhiri cerita masa lalunya diringi dengan selesainya masakan untuk makan malam. Begitu pun Sakura gadis berusia 23 tahun itu tengah mencuci peralatan masak yang tadi sempat mereka gunakan di tempat pencucian.

Gadis itu hanya terdiam, cerita dari Mikoto tadi membuat hatinya merasa tak enak. Ia kira masalahnya tak akan serumanyam ini. Ia merasa bersalah pada keluarga Uchiha, secara tidak langsung ia yang membuat Sasuke pindah ke apartemen dan menyebabkan hubungannya dengan Saara kembali merenggang. Padahal ia berharap Sasuke bisa bahagia dengan cinta pertamanya. Tapi nyatanya pengorbanannya benar-benar sia-sia.

Mikoto yang menyadari perubahan dari tingkah Sakura itu langsung menghampirinya. Segera membuka kembali percakapan antara dirinya dan Sakura. "Gomen ne, sudah bercerita hal yang aneh. Nah Sakura-chan lebih baik kau temani Hiro didepan. Kasian ia bermain sendirian dari tadi." Ujar Mikoto.

Gadis musim semi itu awalnya menolak, masih ada pekerjaan yang harus ia lakukan untuk membantu Mikoto ah seperti menata meja makan, menyiapkan cemilan. Tapi Mikoto menolaknya dan memaksanya untuk menemani Hiro di depan.

Sakura baru ingat, pria kecil itu mungkin merasa tak nyaman ditinggal sendiri. Dengan tubuhnya yang masih di balut apron ia melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruang keluarga Uchiha. Setibanya disana emerald miliknya menyapu ruangan yang tidak bisa dikatakan sempit itu. Ia hanya melihat tas miliknya dan milik Hiro di kursi tempat Hiro duduk tadi juga da sweater cokelat muda pemberiannya. Tapi dimana pria kecil itu? Ia tak ada disana! apa jangan-jangan pria kecil itu ngambek dan pergi tanpa pamit? Tidak-tidak ia tahu betul Hiro bukan pria seperti itu. Ia mangenyahkan pikiran buruknya dan mulai mencari Hiro .

"Hiro-kun." Suara indahnya nampak menggelegar di kediaman Uchiha yang selalu nampak sepi itu.

Masih tak ada sahutan, sebenarnya kemana pria kecilnnya. Ia jadi khawatir.

Sekali lagi Sakura mondak-mandir ketempat yang mungkin di kunjungi Hiro seperti kamar mandi, teras depan, namun nihil! ia tak menemukan pria kecilnya. "Hiro-kun jangan diam terus, aku mencarimu." Tersirat nada kekhawatiran dari suaranya.

Seorang pria dengan pakaian khas rumahan beralan santai menuruni tangga, harum khas sabun mandi dan Shampoo bersatu dalam wangi khas dirinya. Oh tak lupa handuk kecil yang ia pakai untuk mengeringakan rambutnya yang masih agak basah. Tuhan kenapa engkau menyuguhkan pandangan yang menggiurkan seperti-oke hentikan.

"Tenanglah, dia tertidur di sofa. Kupindahkan kekamarku." Suara berat itu, suara yang sangat Sakura hafal, ia menoleh kearah sumber suara dan benar saja Uchiha Sasuke ada disana. Dengan santainya ia mengatakan semua itu. Cih, peduli sekali Sasuke memindahkan Hiro yang tertidur pulas di sofa kemar miliknya? sejak kapan ia jadi lembut pada anak kecil? Tapi jauh dari sifat buruknya itu Sakura menyukainya. ehm.

"A-ah. Kupikir kemana." Ujarnya. "Sasuke? kenapa kau ada disini...bukankah?" Setelah sepersekian detik akhirnya ia sadar juga. Bukankah tadi Mikoto ba-san bilang Sasuke jarang pulang kerumah dan lebih suka menerap diapartemen?

"Apa? Ini rumahku. Harusnya aku yang bertanya kenapa kau yang sibuk ada disini?" Sakura gelalapan. sial seringai milik Uchiha Sasuke itu membuatnya malu sendiri. Jelas tadi siang baru saja ia berkata maaf karena tak bisa mengantarkan jas milik Uchiha Sasuke karena sibuk. Tapi sekarang ia malah kedapatan sedang berkunjung ke rumah Sasuke.

"I-ini hanya..." Belum sempat membalas perkataan Sasukenya. Mikoto muncul dari dapur dan mnyambut anak bungsunya yang entah sudah dari jam berapa sampai ke rumah itu. "Sakura-chan makan malamnya...Ara Sasuke-kun kau pulang? kenapa tidak mengabari Kaa-san jika kau akan datang?." Cerocos Mikoto.

Sasuke hanya menanggapinya dengan trademark andalannya seperti semasa SMA dulu. "Hn."

Tak mau ambil pusing Mikoto langsung menggiring keduanya duduk disofa sembari menunggu anggota keluarga yang lain. Sembari berjalan menuju sofa Sasuke nampak berbisik ke telinga Sakura. " itu aku senang kau datang." Ujarnya pelan.

Sebenarnya apa yang akan kau rencanakan malam ini Sasuke?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Usai makan malam dengan keluarga besar Uchiha, Oh ada Fugaku, Mikoto, Sasuke, Itachi juga Hanna. Ia menyapa pengantin yang masih baru itu. Dirinya sempat terkejut dengan Hanna yang ternyata adalah Kakak kandung dari Inuzuka Kiba . Dunia itu memang sempit ternyata. Sialnya usai makan malam tadi Itachi terus saja menjadikannya bahan godaan bersama Sasuke-cih.

Hiro sedang asing menikmati makanan penutupnya bersama para Uchiha yang lainnya. Pria kecil itu asyik mengunyah strawberry yang disuguhkan oleh Mikoto tadi. Sesekali Sakura mengelap mulut Hiro yang sedikit belepotan karena memakan Strawberry itu. Ah- Mikoto jadi gemas melihatnya.

Tak terasa sudah hampir pukul sembilan malam. Ini sudah jam tidurnya Hiro, mereka harus kembali ke apartemen Sasori sekarang juga. "Ano, terimakasih untuk jamuan makan malamnya Mikoto ba-sama. Kami harus segera pulang." Ujar Sakura sembari membawa Hiro yang terlihat terkantuk-kantuk dalam pelukan hangatnya.

"Bukankah ini sudah terlalu malam untuk pulang Sakura-chan? Kau pasti kerepotan membawa Hiro yang kelelahan seperti itu." Ujar Mikoto.

"iie, Kami membawa mobil kembali." Ujar Sakura.

"Itu berbahaya, lebih baik kau menginap." Sasuke ikut nimbrung dalam percakapan kecil itu rupanya. Sorot matanya nampak memancarkan kekhawatiran namun nada suaranya masih datar seperti biasa. Kau masih mementingkan pridemu Uchiha?

Mikoto pun cepat mengangguk mengiyakan. Pati ia akan sangat meyenangkan jika Sakura benar bisa menginap disini. "Hm, Benar lebih baik kau menginap lagi pula disini banyak kamar ko-."

"Mereka tidur bersamaku." Suara berat Sasuke seketika membuat para Uchiha yang sedang berkumpul disana menoleh kearahnya, tak kalah emerald Sakura juga membulat mendengar perkataan Sasuke barusan. Hiro nampaknya mengabaikan ucapan itu karena ia benar-benar tertidur dalam peluklan hangat Sakura. Syukurlah.

"A-apa maksudmu adik? Kalian bahkan belum terikat suatu hubungan tapi kau malam mendeklarasikan hal yang sangat..." Ujar Itachi. Onyx hitamnya sesekali menoleh pada ayahnya yang malah tenang menyesap teh. berbanding terbalik dengan ibunya yang...terkejut setengah berbinar?

"Benar! Kalian...apa kalian terikat suatu hungan pasti yang sekarang?" Ujar Mikoto.

Sasuke yang duduk disamping Sakura memandangnya sekilas lalu memandang ayahnya Uchiha Fugaku. "Seperti yang sudah dibicarakan. Kami akan menikah sebelum Sakura pergi ke Korea. "

Fugaku mengangguk. " tak masalah jika kau siap nak." Mikoto merasa dikhianati. Sejak kapan Sasuke lebih senang berkonseultasi kepada ayahnya yang kelewat dingin daripada dengan Ibunya. Apalagi ini soal pernikahan.

"Anata! Kau tak menceritakannya padaku?" Ujar Mikoto pada Suaminya.

Itachi hanya mampu menggelengkan kepala dengan Ucapan adiknya.

"Ini sudah malam. Kami pergi tidur dulu." Sasuke dengan sigap mengambil alih Hiro dari pangkuan Sakura. Pria kecil itu nampak menggeliat dalam pangkuan Sasuke. "Ayo Sakura." Ujar Sasuke .

Sakura nampak masih linglung dengan situasi barusan. Entah sadar atau tidak ia mengikuti langkah Sasuke menaiki tangga, sebelumnya ia membungkukan kepala sopan pada anggota keluarga yang lain dan mengucapkan selamat malam dengan wajah menunduk. Menerima undangan singa heh Sakura-chan?

Itachi terkekeh memandang Sakura barusan. Sepertinya ia dan Sasori benar-benar menjadi saudara. Ia cukup bangga dengan keputusan yang segera diambil adiknya barusan. Hem, jika mengingat kejahilannya tadi siang, Itachi makin percaya jika adiknya memang termakan omongannya barusan. Padahal niatnya hanya mengompori adik tercintanya tapi efeknya. "Fufufu.." Itachi menahan tawanya.

Hanna yang sedari tadi diam memandang sang suami heran . "Kau kenapa sayang? Tanyanya.

Itachi hanya menggeleng. membenahi ekspresi wajahnya. "Itachi-kun jangan bilang kau juga tahu masalah ini?" Seru Mikoto sembari bedecak pinggang. Menatap tajam kearahnya.

"A-haha tidak kaa-san tadi siang aku hanya menggodanya soal Sakura. Tahunya dia malah ingin segera menikahinya betulan. Adik itu benar-benar." Jelasnya.

Fugaku akhirnya angkat bicara sdengan suaranya yang penuh dengan wibawa. "Dia sebenarnya memang sudah bilang kalau ia akan menikahi Sakura. Ia mendiskusikannya denganku tadi."

Yang lain hanya melongo? Seserius itukah Sasuke pada cinta masa SMAnya? Sampai-sampai berkata terus terang pada ayahnya? Entahlah.

"Wow. Adikku memang luar bisa." Ujar Itachi . Mikoto dan Hanna hanya mengangguk setuju, setidaknya kali ini mereka mengetahui sifat baru yang mungkin akan sering muncul pada Uchiha Sasuke, Pencemburu berat.

.

.

.

.

.

Setelah membantu Hiro bersiap untuk tidur, Sakura memandang langit malam lewat balkon kamar Sasuke. Otaknya masih mencerna ajakan gila Sasuke untuk menikah. Bukan itu bukan ajakan melainkan perintah!

Sakura mencengkram pagar balkon di hadapannya gemas. "Dia gila..." Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak aku yang lebih gila karena tak menjelaskan apapun. " Ujar Sakura frustasi.

Tentu melihat tingkahnya yang langsung pergi tanpa suara seolah meyakinkan keluarga Uchiha kalau ini rencana mereka berdua. Ngomong-ngomong soal rencana apa yang sebenarnya diinginkan Sasuke? Dan dari mana pria itu tahu jika Sakura akan pergi ke Korea dalam waktu dekat?

Seseorang dengan wangi tubuh yang sangat Sakura kenali mendekapnya dari belakang. Mengeratkan pelukannya pada Sakura. "Aku merindukanmu." Ujar pria itu pelan. Sesekaliia mengecup bahu Sakura lembut.

Sakura memejamkan matanya. Ia mencoba meredam amarahnya. Ia sudah dewasa, bukan anak kecil lagi, menyelesaikan masalah haruslah tanpa emosi, kudu dibicarakan baik-baik. "Sasuke..." Lirihnya.

Masih dengan kegiatannya memeluk Sakura, Sasuke-nama pemuda itu- menjawabnya. "Hn?"

"Kenapa kau berkata seperti itu pada keluargamu?" Tanya Sakura.

"Aku memang berniat menikahimu." Jawabnya.

Bukan. Itu bukan jawaban yang Sakura inginkan. Ia melepas dekapan Sasuke, Membalikan diri dan memegang lengan Sasuke erat. Emeraldnya memancarkan keseriusan disana. "Dengar Sasuke, pernikahan yang kau ucapkan barusan tak semudah permainan kita di SMA dulu. Pernikahan itu suci Sasuke. Maksudku- kita baru bertemu minggu lalu dan kau...bukan aku tak mempercayaimu tapi dalam waktu 2 minggu mempersiapkan pernikahan apakah itu mungkin? belum lagi kau harus menemui ayahku. Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu." Ujarnya panjang lebar. Ia melewati bagian di kolam ikan itu karena pasti akan membuat pipinya merona. sial.

Sasuke, masih tenang seperti biasa. "Ini bukan lelucon. Kau pikir 5 tahun penantian itu mudah bagiku?" Tanya Sasuke balik. Baginya sudah cukup dengan penyesalan atas kepergian Sakura ke Paris dulu. Jika bukan karena Saara pasti tidak akan rumit seperti ini.

"Lalu kenapa kau tak menyusulku kesana?!" Ujarnya setengah berteriak.

Sasuke menghela nafas. "Kau pikir aku tega membiarkan kau menghancurkan mimpimu lagi?" Jika saja dulu Sakura tak gegabah menyelesaikan semuanya sendiri dan mau menunggu pasti kisahnya tak akan serunyam ini.

"Mimpi?Itu bahkan..." Sasuke memotong ucapan Sakura dengan kembali memeluknya erat.

"Kau tak perlu ragu, lusa kita ke Fukouka dan aku pastikan orang tuamu merestui pernikahan ini. " Sasuke membenamkan kepalanya ke bahu Sakura sambil sesekali menciumnya-lagi.

"Kau hanya perlu menyiapkan dirimu sisanya biar aku yang urus." Ujar Sasuke.

Sakura mengangguk dalam dekapan Sasuke dan mebalas pelukannya tak kalah erat.

.

.

.

.

.

Tak lama kemudian

Satu detik

Lima detik

Satu menit

Canggung, tak tahu bersikap bagaimana.

"Ehm." Sakura melepas pelukannya dan Sasuke, gadis merah muda itu enggan menatap Sasuke ia lebih memilih menatap lantai.

Melihat gelagat Sakura itu membuat Sasuke terkekeh, malu pikirnya. Perlahan pemuda itu menyibak surai pink panjang Sakura kebelakang. Mengelus pipinya lembut .

Sakura gugup? Tentu saja meski ia sering bersama para pria tampan tapi...ehm bersama dengan pria yang sukai itu rasanya... membuat jantungnya berdegup tak karuan! Saat itu juga ditengah kegugupan Sakura perlahan wajah Sasuke mulai mengalihkan pandangan matanya agar tidak bertemu dengan onyx milik Sasuke. Arah matanya menuju kamar Sasuke yang cukup gelap. Hanya ada lampu tidur yang menyala di nakas dekat ranjangnya. Sasuke makin mendekatkan wajahnya.

Tunggu sebentar!

Saat beberapa senti lagi bibir mereka hampir bertemu.

PAK!

Sakura menepuk bibir Sasuke dengan telapak tangannya. Melihat penolakan Sakura tentu membuat Sasuke malu karena ketahuan mencuri kesempatan dari situasi tadi. Sasuke pun kaget dan menjauhkan wajahnya sembari menutup setengah wajah dengan tangannya. Malu eh Sasuke?

"Apa yang kau lakukan Sakura?" Tanya Sasuke heran , Saat mereka sekolah dulu Sakura tidak menolaknya seperti ini. Huh merusak suasana saja.

Sakura menatapnya tajam . "Kau. pernah berciuman dengan Saara-san disana kan?" Ujarnya sembari menunjuk ranjang Sasuke.

"A-apa?" Ujar Sasuke dengan tak elitnya. Jadi Sakura benar-benar melihatnya sampai mana ia melihatnya.

"Bukannya apa tapi benar apa tidak?" Ujar Sakura tak Sabaran . Entah kenapa padahal mereka sudah masuk ke suasana romantis barusan. Tinggal sedikit lagi tapi kenapa memori sialan itu malah menghancurkan momennya.

"Hn. Tapi itu tak seperti yang kau bayangkan Sakura." Jelas Sasuke. Memang benar. Tapi ia tak berniat menciumnya kok, kalian tahukan Sasuke baru bangun tidur saat itu.

"Cih." Sakura mendecih sebal mendengarnya.

Sasukenya kok malah menyeringai? "Jangan cemburu Sakura." Godanya. Sasuke tahu jika gadisnya cemburu dan entah kenapa hal ini malah membuatnya senang.

"Aku tidak!" Sakura kembali menyanggahnya dengan nada yang cukup tinggi. Dengan wajah yang sedikit memerah tentunya. "Ini sudah malam lebih baik kau cepat tidur."

Sakura berjalan meninggalkan balkon kamar Sasuke, namun tangan pria itu mencoba menahannya sebelum benar-benar pergi. "Jangan berniat macam-macam sebelum kita resmi menikah." Ujar Sakura ketus. Ia pun berjalan meninggalkan Sasuke yang tengah tersenyum tipis dibalkon.

Padahal ia tadi tak berbuat macam-macam kok, tapi biarlah pada intinya meski mendadak Sakura mau menikah dengannya. Ia dan fantasinya akan segera terwujud dalam 2 minggu kedepan.

"Sasuke-kun cepatlah tidur!" Ujar Sakura dari dalam. Sasuke pun berjalan masuk dan segera menyusul Sakura dan Hiro untuk pergi tidur.

.

.

.

.

.

END/TBC ?

.

.

.

.

.

A/N ;

Setelah 3 minggu ditelan bumi akhirnya update juga. Gomenasai nee minna-san, Entah kenapa selama puasa hanabi jadi jarang nulis, ff ini pun ngerjainnya nyicil dari pulang sholat terawih. Untuk sementara ISWAK statusnya Complete dulu ya, Hanabi niatnya mau bikin epilog yang isinya nikahan Sasusaku tapi ga janji bakal secepatnya loh ya. Terimakasih banyak buat para reader yang udah fav, follow, Review It Started With A Kiss selama 5 bulan ini. Maafin karena waktu itu hanabi sempat macet updatenya XD. Sekali lagi terimakasih Sampai jumpa di Epilog minna-san:).