Saatnya melanjutkan kembali fic ini. :D Maaf karena hiatus agak lama. Silahkan baca cerita ini, ok? ;)

Note: Rated T+, Gajeness, sedikit kata-kata ambigu, Beberapa Teori dan Spoiler BBB Galaxy, sedikit Gore, Scene selalu terganti-ganti, OC-OC baru, Angst gagal dan lain sebagainya.

Apa yang dilakukan Boboiboy setelah tubuhnya kembali ke wujud sebenarnya? Apakah Lahap dkk berhasil melindungi Kapten Kaizo dari serangan Mimi dan Syrena yang dibantu dengan Gaga Naz? Bagaimana dengan nasib Ochobot, Fang, Papa Zola dkk? Temukan jawabannya di bagian ini. :)


M.A.W.A.R. L.I.A.R.

'Dawn of The Real Sin'

(Season Final)

.

.

.

.

Boboiboy belongs to Animonsta


.

.

.

Bagian 23: A Power Sphera's Demise

SRIIIIIIINNNNGGGGGG!

Sebuah cahaya muncul di langit-langit. Cahaya itu begitu menyilaukan hingga Thorn berpikir bahwa ini pertama kalinya ia melihat cahaya sesilau itu.

"Akh! Silau lah!"

"Humm- kau ingat kau sorang je yang rasa silau?" timpal Solar. "Kau silau, apalagi aku!"

"Baik korang diam," gumam Balance dengan sikap datar andalannya. "Pecahan-pecahan korang akan tiba sekejap lagi."

Benar saja. Sekonyong-konyong terdengar suara sesuatu yang berjatuhan tepat dibawah cahaya yang muncul di alam bawah sadar BoBoiBoy tersebut. Begitu cahaya tersebut lenyap, Thorn dan Solar mendapati pecahan-pecahan mereka saling tergeletak tumpah tindih.

"Wei, Taufan! Kaki kau ada kat muka aku lah!"

"Aduh! Tangan aku!"

"Aw, Adoi! Badan aku terjepit lah!"

"Wei! Wei! Ini kepala siapa pulak?!"

"Ice, kau duduk kat atas punggung aku!"

"Agh! Tepi sikit! Sakit tau!"

Balance menepuk keningnya. "Haish, budak-budak ni. Apasal korang begaduh dekat sana tu? Sudah! Sudah! Bangun dari situ dan bagi tahu apa yang sebenarnya berlaku sampai korang pergi lama sangat."

"Betul tu," angguk Thorn dengan wajah khawatir. "Kitorang dah cemaskan korang semua tau. Nyaris aku berlumut tunggu korang selama ni."

Krikk... Krikk... Krikk... Krikkk...

"Kau bukan tanaman lah," ucap Solar dengan wajah facepalm.

"Oh, sori, hehehe, Aku terlupa."

Gempa yang berhasil bangkit terlebih dahulu pun mendekati kedua pecahan barunya. Wajahnya masih pucat, mungkin karena ia memang baru siuman beberapa menit yang lalu di dunia nyata.

"Maaf sebab buat korang bertiga cemaskan kami," katanya dengan nada bersalah. "Tapi pasal kenapa kami tak balik selama beberapa hari lepas tu, sebenarnya cukup sulit untuk diungkapkan."

Solar mengerutkan kening. "Maksud engkau?"

Gempa membuang muka. Ia memberi isyarat pada Halilintar yang juga berhasil bangkit dari 'gerombolan' tumpah tindih itu untuk memberi penjelasan lebih lanjut, karena jujur saja, Gempa tidak merasakan apa-apa ketika Rosaline mulai menyerang dirinya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Toh dia pingsan sebelum menyadari wanita itu mulai beraksi padanya.

"Macam ni-" Halilintar memulai kalimatnya. "Rosaline tu salah sorang daripada ahli pasukan ONION. Dia pun pengidap Pedofilia, dengan alasan yang cukup membingungkan. Dan dia minat terhadap BoBoiBoy. Tapi bukan BoBoiBoy yang dia cuba hasratkan melainkan kami, jadi secara tidak langsung dia ambil sebahagian kuasa kami guna cara itu. Yah, kitorang pun tak boleh lepaskan diri sebab kuasa utama Rosaline ialah kuasa serapan Energi. Dan kami tak boleh lawan dia sebab kami selalu pingsan kalau kena serangan dia. Kau faham maksud aku, kan?"

"Faham kot," ucap Balance seraya mendesah panjang. "Lagipun BoBoiBoy dah balik ke wujud asli dia, jadi korang pun dah aman. Masalahnya hanya satu. Sebab dia pecah lama sangat, tenaga dia sungguh kurang. Apa yang korang saksikan terakhir kali kat luar tu sebelum cantum semula?"

"Hmm," Ice memasang pose berpikir. "Kalau tak silap, kami tengah belasah Rosaline sebelum cantum semula. Selepas Gempa sedar, Ochobot yang bagi saran tue, sebab dah berhari-hari BoBoiBoy berpecah lima."

Thorn memekik kecil. "Maksud kau BoBoiBoy sedang lawan Rosaline dalam keadaan lemah sekarang ni?!"

"Yup," angguk Taufan lesu. "Kalaupun dia berpecah lagi, itu kurang memungkinkan. Keadaan kitorang saat ini lemah tau, jadi sama sahaja kalau dia berlawan dengan Rosaline dengan berpecah ke tak."

"Tapi kita boleh keluar lawan Rosaline kalau keadaan kita dah baik, kan? Kan?" ucap Blaze optimis. "Kita kena hentikan perempuan tu. Geli aku kalau penyakit dia kian merajalela."

Balance mendengus. "Untuk saat ini yang bisa korang lakukan hanyalah menunggu," gumamnya pelan.

"Tak. Itu kurang tepat, Balance."

"Huh?"

Semuanya menoleh ke sumber suara itu. Serta-merta mereka membelalakkan mata melihat sumber suara itu.

Seorang Cyborg paruh baya berpakaian campuran teknologi dengan busana a la tahun sembilan puluhan berwarna perak dan merah darah. Mata kuningnya bersinar terang. Pecahan-pecahan Boboiboy itu segera mengenal pria Cyborg itu sebagai wujud Ultra Humanoid dari Sfera Kuasa generasi pertama: Klamkabot. Dan bukan hal yang tidak mungkin kalau beliau bisa masuk ke alam bawah sadar itu karena statusnya yang telah menjadi 'Mendiang'. Namun sebelum mereka sempat berucap satu kata pun, Klamkabot lebih dahulu memulai perbincangan.

"Ada seseorang yang hendak kukenalkan pada korang," Katanya lalu mendelik ke sebuah sosok di balik punggungnya. "Ju, kenalkan. Diorang ialah pecahan-pecahan elemental daripada BoBoiBoy, salah sorang Superhero bumi yang aku pernah bincangkan dengan kau masa tue."

"Diorang nampak masih budak je, Tuan Klamkabot," balas sosok di balik punggung Klamkabot. Balance mengerutkan kening melihat sosok itu.

"Siapa kau ni?"

Tepat setelah Balance menyelesaikan pertanyaannya, Sosok di balik punggung sang Sfera Kuasa generasi pertama itu melangkah keluar dari bayang-bayang punggung Klamkabot dan menunjukkan penampakan aslinya pada Balance dan ketujuh pecahan-pecahan BoBoiBoy itu. Spontan mereka tercengang melihatnya.

Sosok itu adalah seorang perempuan Cyborg Ultra Humanoid. Rambutnya yang panjang sebahu berwarna pirang kecoklatan. Dia memakai baju terusan berwarna putih bersih. Matanya berwarna kelabu. Dua Headphone berwarna perak kuning menggantikan kedua telinganya yang sudah tidak ada. Ia tersenyum lesu pada kumpulan elemental yang berdiri tak jauh di hadapannya itu seraya menggumam.

"Namaku Julia, salah sorang kawan lama Rosaline. Senang berjumpa dengan korang."


Pesawat Angkasa Kapten Kaizo, 27 Juli 2014 pukul 16:14

Yaya masih syok pasca menyaksikan penampakan Gaga Naz di pintu keluar itu. Buru-buru ia melompat mundur dan mendarat di sebelah Ying yang saat itu tengah memapah tubuh Kaizo yang lebih besar darinya. Mila yang menggendong tubuh Gopal di punggungnya pun ikut terkejut, begitu juga dengan Lahap yang tengah sibuk menghalau boneka-boneka hantu Mimi agar tidak menyerang keempat anak yang bersamanya saat itu.

"Alamak! Macam mana ni, Uncle Lahap?" tukas Yaya khawatir. "Kita dah terkepung!"

"Ya loh. Kami pun takde kuasa. Macam mana nak lawan?" tambah Ying dengan lutut gemetar akibat menahan beban tubuh Kaizo yang dipapahnya.

Lahap mendecih. "Ini tak baik," gumamnya kesal. "Jangan lepaskan pengawasan korang, Cik Adik. Diorang tak main-main!"

Serentak Yaya, Ying, Mila dan Lahap merapatkan diri mereka satu sama lain, berjaga-jaga. Kini mereka terkepung oleh Syrena, Gaga Naz dan Mimi plus boneka-boneka yang sejak awal memasang senyum nyengir horor pada mereka. Tahu-tahu Syrena bertepuk.

"Kau datang ke masa yang tepat, Gaga Naz," ucapnya sembari tertawa kecil. "Ah, ya. Boleh bantu aku dapatkan laki-laki India yang dipapah Milyra tue, tak? Dia nampak manis, tau."

"Ei, Syrena. Kau dah lupa ke tujuan awal kita datang kesini?" ujar Mimi facepalm. "Kita mahu ambil badan Abang Kaizo, lah! Bukannya ambil badan kawan India BoBoiBoy dari Pulau Rintis tue!"

"Hehehe, sori, Mimi. Aku cuma sukakan dia je."

Gaga Naz menyeringai. "Baiklah. Mana satu yang nak penyek duluan, Haa?" katanya seraya mengangkat kedua capit besinya tinggi-tinggi. "Korang akan habis disini! HEAAAAAAHHHH!"

"Elak semua!" Komando Lahap begitu melihat laser dari capit besi raksasa Gaga Naz mulai menerjang ke arah mereka. Setelah Yaya, Ying dan Mila ambil posisi tiarap, Alien ungu itu membuka mulutnya lebar-lebar.

"TEMBAKAN PLASMA! BUAAAAAHHHH! BUAAAHH!"

BUUUUUUMMMMM!

Laser kendali Gaga Naz saling bertabrakan dengan tembakan plasma beracun milik Lahap, menciptakan ledakan besar hingga membuat pesawat angkasa Kaizo berguncang hebat. Mereka terbatuk-batuk akibat asap sisa ledakan tadi. Begitu asap tersebut menghilang, tampak boneka-boneka manekin Mimi yang setengah hangus di sekeliling mereka. Spontan Mimi menjerit kecil melihat itu.

"Tidaaaakkk! Patung-patung akuuu!" jeritnya histeris seraya bersimpuh di hadapan boneka-boneka manekinnya yang dalam keadaan mengenaskan. Ia menangis sebentar disitu sebelum akhirnya mendelik ke arah Lahap dan keempat anak yang bersamanya dengan tatapan garang.

"Korang ... Korang tak boleh diampuni!" jeritnya kalap. "Dah lah korang ambil kawan baik aku, korang hancurkan karya-karya aku pulak! Apa yang korang fikirkan ni, Hah?!"

"Wei, lu takde cermin kah?" tukas Ying. "Jangan lah sentimental macam ni wo. Yang lu nak kan badan Kapten Kaizo tu apahal? Lu nak makan dia ke? Kanibal betul!"

Mimi tertawa kecil lalu menghapus air matanya, menyeringai. "Salah. Yang kau cakap tadi tue salah," Katanya dengan mata membayang. "Aku bukan kanibal lah!"

"Dah tue, kalau bukan Kanibal, lalu apa?" tanya Mila tidak mengerti.

"Kejap, Mila." Yaya tiba-tiba menyikut teman Succubus-nya itu. "Kau nampak patung-patung manekin milik Mimi tue, kan?"

"Ehh- nampak?"

"Nah, itu dia. Aku macam rasa kalau patung-patung manekin tue bukan dibuat dari bahan-bahan untuk membuat patung. Dengan kata lain-"

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Mila sudah pasang wajah horor.

"Tahan, Yaya," potongnya. "Maksud engkau... patung-patung manekin tu ialah mayat-mayat yang diawetkan?!"

"Tepat sekali."

"APA?!" Lahap terkejut mendengar kesimpulan Yaya dan Mila itu. Firasat buruknya semakin menjadi-jadi. Ia pun menatap tubuh Kaizo sebelum akhirnya melayangkan pandangannya ke arah Mimi. Dipelototinya gadis itu hingga Mimi merasa kurang nyaman dengan tatapan Alien ungu tersebut.

"Apasal kau pandang-pandang aku ni?" tanyanya heran.

Lahap menggerutuk. "Kau... Kau nak jadikan Kapten Kaizo macam patung-patung manekin tue?!" pekiknya histeris. "Kau dah gila ke?!"

"Dey, Uncle Lahap. Dia tu memang dah gila lah." Sekonyong-konyong Gopal yang ternyata telah siuman mencuap. Mila yang berada di sebelahnya langsung memekik senang dan tahu-tahu sudah merangkul tubuh gemuk pemuda berkulit gelap itu.

"Gopal! Kau dah sedar!" ucapnya gembira melihat temannya sudah siuman. "Kau ni, senang pengsan je. Buat kitorang cemas tau!"

"Ehh ... Mila, lepaskan aku," gumam Gopal gugup. Wajahnya yang kecoklatan tampak merona merah, menandakan rasa malunya yang besar karena dipeluk oleh seorang gadis di muka umum, dan Gopal jarang diperlakukan seperti itu hingga wajahnya memerah bak udang rebus.

Mila terkejut mendengar itu. "Alamak! Sori, Gopal. Aku silap, hehehe," katanya seraya cepat-cepat melepas rangkulannya dari badan Gopal. "Nasib baik aku dah mampu kawal kuasa serapan energi aku. Kalau tak, kau mesti dah pengsan balik."

"Kau ni ada hal je," tukas Gopal sweatdrop. Ia bangkit dari posisi duduknya sembari memegang kepalanya yang masih pusing setelah pingsan tadi. Tahu-tahu ia mengidik begitu melihat tatapan sadis Syrena terhadapnya.

"Hmm, bagus sekali, anak muda. Kau dah mulai membelot pulak di hadapan aku," ucapnya geram lalu menuding Mila. "Dan apasal pulak kau peluk Calon Raja aku?!"

"Uhuk-! Calon Raja?" Yaya menutup mulutnya karena mual mendengar kalimat Syrena terhadap Gopal itu. "Ish, Geli lah! Apasal kau panggil Gopal dengan sebutan tu?"

Syrena mendengus. "Suka hati aku lah!" tukasnya sebal. "Apa yang kelakar, Heh? Aku minat lelaki Hindustan tu sebab menurut aku dia manis tau."

"Hayoyo, yang kau panggil aku guna nama pelik tu apasal?" Gopal meraba bulu kuduknya yang merinding. Ia nyaris muntah dengan kalimat Syrena itu. Wajar saja. Ia tidak tahu-menahu soal hal-hal romantis kecuali sedikit sekali. Padahal kalau diukur dari segi umur, seharusnya ia sudah lumayan tahu tentang hal itu dibandingkan BoBoiBoy dan teman-temannya yang lain.

"Aiya, tak pe lah, Gopal. Itu tandanya kamu punya peminat maa," goda Ying, membuat Gopal nyaris pingsan kembali kalau saja pemuda itu tidak berhasil menahan dirinya dari rasa malu itu.

"Dey, Ying! Jangan buat aku pengsan balik lah," ujar Gopal semakin gugup. "Nasib baik kalau aku dan dia saling suka. Tapi ini... aku tak suka dia, dia suka aku. Dia ni memang tak betul!"

Syrena mendesah panjang.n"adi kau memang tak sukakan aku ke?" ujarnya dengan nada sedih. "Hmm, baiklah. Aku maklum. Tapi tenang sahaja. Aku yang akan buat kau suka dengan aku, ehehe... Amacam?"

"Hoi! Yang korang pusingkan sebab suka-menyukai ni apahal?" Tahu-tahu Lahap memotong pembicaraan. "Kita disini nak lindungi Kapten Kaizo, bukannya uruskan masalah percintaan kau! Lagipun Gopal masih budak kecik. Tak baik dia kena pasal bab-bab romantik nie."

"Baiklah, kalau kau memaksa," gumam Syrena pasrah. "Aku tak kan bahas lebih jauh pasal tu. Dan mungkin-"

Seruan Mimi membuatnya terdiam.

"Syrena, apasal kau masih ada dekat sana tu? Kita nak balik lah!"

"Ehh? Kau tak nak ambil badan Kapten Kaizo tue ke?"

"Haish, tak payah lah fikirkan pasal tue lagi. Badan Abang Kaizo dah ada sama aku kot."

"Heee?"

Semuanya menoleh ke arah Mimi. Sekonyong-konyong Lahap dan keempat anak superhero yang ada bersamanya terkejut begitu melihat badan Kaizo tahu-tahu sudah dipapah oleh dua buah boneka manekin di sebelah Mimi yang berdiri tak jauh dari mereka.

"KAPTEN!" pekik Lahap kalut melihat badan Kaizo yang mulai diseret pergi oleh dua boneka manekin milik Mimi. Mimi sendiri menyeringai kecil seraya disusul oleh Syrena menuju keluar pesawat angkasa itu.

"Hah? Bi- Bila masa badan Kapten Kaizo dah ada sama dia?!" pekik Yaya kaget. "Ying, bukannya kau tadi papah badan Kapten Kaizo ke?"

"Oyaho, saya tak rasa kalau Mimi dah ambil badan Kapten Kaizo dari saya hoo," ucap Ying heran. "Nampaknya Syrena dah berjaya alihkan perhatian kita tadi!"

"Haeh- pasal bab-bab romantik pun," dengus Gopal. "Geli aku memikirkannya."

"Dan dia yang alihkan perhatian kita semasa Mimi ambil badan Kaizo secara diam-diam," tukas Mila sebal. "Licik betul! Cepat, kita kena ambil badan dia balik sebelum mereka-"

"Maaf, budak-budak payah. Korang lupa kalau aku pun ada kat sini," tukas Gaga Naz tiba-tiba. "Mari kita selesaikan pesta yang tertunda tadi, Hahahaha!"

"Innalillahi, aku lupa kalau Gaga Naz pun ada kat sini!" ucap Yaya cemas." Macam mana ni, Uncle Lahap?"

"Kita tak de pilihan lain. Kita kena lawan Gaga Naz tue dan susul Mimi dan Syrena. Jom!"

"JOM!"

Lahap dan Mila memasang kuda-kuda, siap menyerang. Pasalnya cuma mereka berdua yang masih punya kekuatan super. Gopal, Yaya dan Ying tidak bisa membantu banyak karena jam kekuatan mereka telah diambil Ochoboy sewaktu mereka dirawat tadi dengan alasan mereka tidak boleh bertarung dulu dengan kondisi kritis. Dan tanpa sepengetahuan mereka, jam-jam kekuatan mereka telah dipakai oleh Tok Aba, Papa Zola dan Iwan untuk menyelamatkan Taufan, Halilintar dan Ice dari pengaruh cecair kontrol milik Rosaline di halaman depan gedung markas Organisasi beberapa menit yang lalu.

Tanpa mereka sadari, sebuah sosok memantau mereka dari sebuah sudut gelap di lorong pesawat angkasa itu. Mulutnya menyunggingkan senyum kecut.

"Jadi begitu," gumamnya pelan. "Tak sangka aku jumpa Milyra dekat sini pulak. Dan kawan-kawan Superhero dia tue macam menarik je. Ada baiknya kalau aku buat pesta diorang jadi meriah, fufufu..."

Sebelum Lahap dan Mila menyerang Gaga Naz, Entah mengapa Mila segera menyadari kehadiran sosok itu. Sekonyong-konyong diarahkannya telapak tangannya ke arah sudut gelap dimana sosok itu berada.

"TEMBAKAN SINAR X!"

BLAAASSSSHHH!

Sosok itu menyadari serangan Mila dan buru-buru menangkis sinar X itu dengan kedua pedangnya yang tampaknya kebal dengan serangan gelombang milik gadis itu. Dengan gerakan gemulai nan lincah, ia melompat ke udara dan medarat di sebelah Gaga Naz yang segera pasang tampang kaget.

"Alamak! Apasal kau muncul tiba-tiba dekat sini?!" gerutunya.

"Sori, Gaga Naz. Tapi aku bosan tak buat apa-apa benda," balas sosok itu datar. Gopal, Yaya, Ying, Lahap tersentak melihat kemunculannya. Sosok itu menggunakan jubah hitam bertudung yang saat ini dipakainya untuk menyembunyikan wajahnya. Dari suaranya yang rada 'nge-bass', kelima lawannya langsung tahu kalau sosok itu adalah laki-laki.

"Siapa kau ni?" tanya Mila curiga. "Kau ingat kami tak tahu ke kau ada kat sudut gelap tue?"

"Betul tu. Dan kenapa kau pantau-pantau kitorang, Hah?" tambah Gopal.

Sosok itu mendesah panjang. "Milyra, nampaknya Memori kau masih belum elok lagi," gerutunya seraya menurunkan tudung jubahnya dari kepalanya untuk memperlihatkan wajah aslinya. Serta-merta Mila terkesiap melihat wajah asli sosok itu.

"Ka- Kau?! Tak mungkin!" ucapnya kaget. "Kenapa-"

"Siapa dia, Mila?" tanya Yaya. "Kau kenal dia ke?"

Mila mengangguk. "Ya. Aku kenal dia. Dan akhirnya aku ingat sekarang. Dia adik kembar aku," katanya seraya memandang pemuda berambut hitam keperakan di sebelah Gaga Naz itu. "Tak macam aku, dia bukan jenis Succubus-Incubus, melainkan Alien berbentuk manusia, macam Ayah aku ataupun Kapten Kaizo dan Fang."

Pemuda berambut hitam keperakan itu tertawa kecil. "Bagus. Aku ingat kau lupakan aku, ternyata tidak juga. Dan yang lagi penting, kau masih ingat nama aku, Kan?"

"Nama kau?" dengus Mila. "Mestilah aku ingat. Jangan buat aku belasah kau lagi, Sebastian. Kau dukung kejahatan Bunda, dan itu bukan benda yang baik."


Sementara itu di Alam Bawah Sadar BoBoiBoy

"Namaku Julia, salah sorang kawan lama Rosaline. Senang berjumpa dengan korang."

Gempa dan pecahan-pecahannya masih melongo melihat wanita muda dengan ras Cyborg Ultra Humanoid itu. Lain halnya dengan Balance. Ia masih pasang wajah datar seperti biasanya.

"Klamkabot, siapa dia?" tanya Halilintar bingung.

Klamkabot mendesah panjang. "Dia salah seorang daripada anak murid favorit aku, walaupun dia tidak dibuat merangkap sebagai salah satu Sfera Kuasa kerana sebab-sebab tertentu," ungkapnya. "Salah satu syarat untuk dibuat merangkap menjadi Sfera Kuasa ialah sanggup mempertahankan kuasa-kuasa hebat yang dimasukkan ke dalam tubuhnya agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Julia tak mahukan kuasa-kuasa hebat tersebut kerana tanggung jawab serta risiko yang sungguh besar."

"Tuan Klamkabot betul. Aku tak mahukan Kuasa-kuasa hebat disimpan dalam tubuh aku," ujar Julia murung. "Dan satu lagi. Aku ialah kawan baik Roz dan Romy dahulu."

"Roz?" Blaze mengerutkan kening tanda bingung. "Siapa tu?"

Julia terkekeh. "Itu nama panggilan Rosaline," katanya. "Maaf sebab dah buat korang semua bingung. Kami bertiga dahulu ialah kawan baik, dan Tuan Klamkabot ialah objek perlindungan kami disamping beliau ialah Sfera Kuasa generasi pertama, hingga para Penjahat dekat alam semesta nak gunakan Sfera Kuasa untuk kemusnahan sejagad. Tuan Klamkabot dan Sfera-Sfera kuasa lainnya terpaksa larikan diri guna menghindari pihak-pihak jahat daripada menggunakan kuasa-kuasa hebat kat dalam badan mereka. Dan sebab Tuan Klamkabot terburu-buru sangat, beliau tak sempat bawa kitorang. Dan mungkin sebab Roz tak diawasi lagi, dia lampiaskan nafsu pedofilia dia ke budak-budak kat Galaxy sebab nak balas dendam atas pelecehan diri dia oleh Ayah dia dahulu."

Gempa mengangguk. "Klamkabot dah bagi tahu kat aku tadi," katanya dengan tampang serius. "Tapi apasal Kak Julia boleh jumpa kitorang? Bukannya Akak dan Tuan Romy dah dihapuskan Rosaline sebab cemburu ke?"

"Hahaha, susah betul lah nak terangkan," tawa Julia. "Sebenarnya aku hanyalah copy data daripada diri sebenar aku yang dah rusak sebab dihancurkan Roz masa dahulu. Sayangnya Romy tak boleh diselamatkan sebab ia hanyalah Alien biasa, bukan cyborg macam aku. Roz dan Romy dah kahwin dan punya dua anak kembar, tapi Roz salah faham sebab dia ingatkan aku dah selingkuh dengan Romy yang nyatanya hanyalah sebatas kawan sahaja. Yah- korang mesti dah tahu apa yang terjadi lepas tu."

"Haduhh- pening kepala aku dengarkan penjelasan Puan," Tukas Taufan ling-lung. "Tapi apasal Klamkabot jumpakan Puan dengan kitorang?"

"Sebenarnya dia hanya mahu jelaskan perkara sebenar mengenai Rosaline secara detail dekat korang," ucap Klamkabot seraya berpaling pada Julia. "Ada benda lain lagi yang hendak kau sampaikan?"

Julia menggeleng. "Mungkin itu sahaja untuk masa ini, Tuan Klamkabot," tukasnya mantap. Ia memandang Balance dan ketujuh pecahan BoBoiBoy tak jauh darinya seraya tersenyum lembut.

"Aku harap Roz boleh baik seperti semula," katanya. "Aku harapkan korang boleh ubah dia. Dia kawan baik aku, jadi aku percayakan korang. Dan satu lagi. Aku harap kita boleh berjumpa lagi di masa hadapan. Aku tak pasti soal itu, tapi aku janji kita akan berjumpa lagi."

Klamkabot tersenyum kecil. "Kami berharap banyak pada korang semua. Jaga kawan-kawan terbaik korang. Selamat tinggal."

Tepat setelah beliau menyelesaikan kata-katanya, sebuah kabut data melingkupi tubuh kedua cyborg itu, semakin lama semakin kabur hingga akhirnya hilang meninggalkan serpihan-serpihan cahaya disana.

Balance menatap datar ke serpihan-serpihan cahaya itu, membalik badan lalu berjalan melewati pecahan-pecahan BoBoiBoy yang berdiri di belakangnya.

"Baik korang rehat sekejap," katanya dengan nada datar seperti robot. "Ada kemungkinan korang akan keluar lagi, termasuk Thorn dan Solar."

"Eh? Keluar lagi?" gumam Ice heran. "Atas dasar apa kau boleh cakap macam tue?"

Balance mendengus. "Itu salah satu daripada firasat kuat BoBoiBoy," balasnya. "Sudah. Pergi rehat. Yang jelas, korang kena muncul lagi nanti. Dan untuk Thorn dan Solar, aku nak korang sedia. Musuh korang saat ini sungguh kuat. Kalau korang tak siap, korang yang akan jadi mangsa dia. Faham?"

Thorn menelan ludah. "Tapi aku dan Solar belum pernah berlawan dengan makhluk pedofil macam tue," katanya khawatir. "Rosaline boleh serap tenaga lah. Macam mana kita nak lawan dia?"

"Takpe, Thorn. Kita akan saling mendukung," ujar Solar yang sedari tadi diam. Ditepuknya pundak BoBoiBoy serba hijau itu. "Kau tahu, anggap sahaja ini merupakan latihan tempur. Banyak musuh yang lagi kuat di Galaxy sana, jadi kita memang kena sedia."

"Terima kasih," balas Thorn lega. Balance tersenyum kecil melihat tingkah kedua pecahan baru BoBoiBoy itu. Ia pun berucap,

"Sekarang pergi rehat. Aku akan panggil korang kalau masanya sudah tiba."


Halaman depan gedung Markas ONION, 27 Juli 2014 pukul 16:17

BoBoiBoy menggeretukkan kedua rahangnya, menahan marah. Trauma satu setengah tahun yang lalu saat Ochobot dihancurkan oleh Bora Ra mulai menghantui benaknya. Kedua mata Hazel-nya melirik ke tubuh Cyborg muda yang setengah hancur tak jauh di belakangnya itu. Sayangnya tubuh BoBoiBoy seakan tidak mau diajak untuk berkompromi sehingga ia hanya berdiri diam dengan lutut gemetar. Ia lalu melayangkan pandangannya ke arah Fang yang juga nyaris tidak berdaya akibat tendangan Rosaline ke tubuhnya yang baru saja pulih dari Anemia dadakan. Terakhir ia melihat Papa Zola, Tok Aba, Adu Du, Probe dan Ray serta teman-teman kelasnya yang dikepung oleh masing-masing satu kompi pasukan pembunh: R.A.S. dan T.A.S. yang dipimpin oleh Ah Meng dan Arumugam. Rosaline terkekeh sinis melihat bocah itu mulai putus asa dengan nasibnya serta teman-temannya yang seakan telah berada di ujung tanduk itu.

"Korang dah terlambat," katanya dengan nada congkak. "Menyerahlah, BoBoiBoy. Kau dan Kawan-kawan sampah kau takkan bisa melawanku dengan keadaan korang yang teruk macam tu. Dan selepas tu, bergabunglah denganku dalam Organisasi ni. Kita taklukkan dunia durjana ni bersama-sama. Kau sedia?"

BoBoiBoy meringis. Sekujur tubuhnya terasa kesemutan. Efek berpecah terlalu lama hingga berhari-hari rupanya seperti ini. Ditambah acara lupa nama kawan segala lagi! BoBoiBoy merasa sedikit malu begitu memanggil Fang dengan nama Ah Meng akibat sifat pikunnya yang rada akut itu. Untung saja ia tidak melanjutkan sifat anehnya tersebut. Kalau tidak, Fang pasti akan melemparkannya ke luar angkasa dengan tolakan bayangannya.

Sayangnya hal-hal humorik seperti itu tampaknya tidak terlalu berlaku untuk kondisi sekarang ini. Superhero cilik Pulau Rintis itu memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri agar tidak lepas kendali. Setelah dirasa perasaannya sudah cukup tenang, dipandangnya Rosaline hingga kedua mata Hazel-nya yang tajam saling beradu dengan mata merah menyala milik wanita itu.

"Kau nak aku join dengan Organisasi ONION?" ujarnya dengan nada sindiran yang cukup pedas. "Maaf, tapi nampaknya korang salah pilih target. Kuasa-kuasa dari Sfera Kuasa bukan untuk menaklukkan Alam semesta. Kami menggunakannya untuk keamanan, bukan untuk kehancuran. Kau kena tahu tu."

SLINGGG!

Kalimat BoBoiBoy sukses membuat Rosaline mengayunkan sabit raksasanya ke tubuh anak itu. Tubuh BoBoiBoy kembali menghantam tanah Halaman depan gedung markas ONION. Akibatnya, luka-luka lecet kembali menghiasi tangan dan wajah BoBoiBoy.

"Dah lemas macam ni kau masih nak tentangkan aku, Heh?" tanya Rosaline sebal. "Menarik. Aku terkesan. Tapi ada baiknya kau serahkan diri kau sekarang. Kau nampak kawan-kawan kau dah macam tak berdaya tue, kan? Fufufu... aku bagi kau masa tiga saat lagi. Kalau tak, aku terpaksa gunakan kekerasan."

"Tak payah kau bagi aku tiga saat tue, Rosaline," ungkap Boboiboy tegas. "Kerana sampai bila-bika kami tak kan gunakan kuasa kami untuk kejahatan! Kau dah belasah harga diri aku dan kawan-kawan aku! Jangan harap kami nak join dengan korang! Kami akan hentikan kau dan rakan-rakan kejahatan kau tu. Jaga kau Rosaline!"

Dipaksakannya dirinya untuk berdiri walaupun dengan sekuat tenaga. Tangan BoBoiBoy mengeluarkan beberapa percikan listrik. Dipandangnya Rosaline dengan dingin.

"Kau akan rasakan akibatnya menyakiti aku dan kawan-kawan aku," desisnya. "KERIS PETIR! HEAAAAHHH!"

Dalam sekejap puluhan Keris Petir dilemparkan oleh BoBoiBoy ke arah Rosaline. Dengan enteng wanita itu menangkis serangan kecil tersebut. BoBoiBoy tidak kehilangan akal. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Belum... lagi! PUSARAN ANGIN!"

WROOOOOOOO!

"Ugh... TANAH TINGGI!"

BRAAAKKK!

Rosaline mengayunkan sabitnya sekali lagi, dan kedua serangan elemental itu bagaikan sia-sia belaka. Ditambah dengan lima kekuatan elemental, kekuatan bayangan dan kekuatan tenaga serta kekuatan teleportasi, BoBoiBoy merasa Rosaline menjadi sangat sulit untuk dikalahkan. Sebagai balasannya, Rosaline menerjang anak itu dan menghempaskannya ke tanah. Namun belum sempat berdiri, perempuan itu sudah terlebih dahulu menjambak topi plus rambut Boboiboy dan menghantamkan kepala bocah malang itu ke lantai keramik halaman depan markas Organisasi itu. Alhasil, satu aliran darah mulai melewati pelipisnya hingga menetes sedikit ke lantai keramik itu, menciptakan satu-dua bercak kemerahan disana.

"Huh! Semua usaha kau ialah sia-sia belaka, tahu tak?!" ujar Rosaline dengan senyum setannya. "Aku akan jadikan kau salah satu pelayan aku meski aku kena guna jalan ekstrim pun. Berdoalah, Hahahahahahaaaa!"

Ochoboy melihat semua itu dengan pandangannya yang sudah sangat kabur. Tubuhnya yang nyaris rusak itu terasa lumpuh, tidak bisa digerakkan sama sekali. Ia menggumam patah-patah. Mulutnya berkomat-kamit sebentar seperti orang yang kehilangan suara.

"Bo... BoiBoy... tid... ak..."

Kedua mata biru lautnya membelalak horor begitu melihat Rosaline mengangkatnya sabitnya tinggi-tinggi, siap disabetkan ke tubuh kecil BoBoiBoy. BoBoiBoy yang melihat itu akhirnya pasrah. Ia menutup matanya, menahan sakit. Tiba-tiba,

"PENGIKAT... BAYANG!"

Sekonyong-konyong Rosaline merasa sabit raksasanya ditahan oleh sesuatu. Ratu Succubus itu mendelik ke belakang dan mendapati Fang-yang sedang dalam posisi setengah merangkak akibat kondisinya yang hampir kritis- mengeluarkan tali-tali bayangan dari tangan kirinya yang terangkat ke udara. Tali-tali bayangan itu mengikat Sabit Rosaline dan menariknya kuat-kuat supaya Rosaline tidak bisa menggerakkan senjatanya itu.

"Fang, kau masih nak masuk campur rupanya," desisnya berang. Fang menguatkan cengkeraman tali bayangannya semampunya. Setidaknya ia masih bisa menolong BoBoiBoy di tengah-tengah kekalutan itu. Namun keadaan kembali berputar begitu Rosaline berhasil melepaskan tali-tali bayangan itu dari sabit raksasanya, meninggalkan BoBoiBoy yang sudah terkapar lemas di tanah dan berbalik menyerang sang pengendali bayangan. Fang hanya tersenyum kecil melihat itu. Dengan nada pasrah ia bergumam.

"Setidaknya aku... dah bantu... kawan... aku..." ujarnya lemah. "Jangan menyerah... BoBoi... Boy..."

Pandangannya berubah menjadi kosong begitu Rosaline mengayunkan senjatanya ke arah tubuh Fang. Detik berikutnya, terdengar bunyi desingan yang menghiasi udara.


Pesawat Angkasa Kaizo, 27 Juli 2014 pukul 16:19

Mila menatap tajam ke arah pemuda berambut hitam keperakan bernama Sebastian yang ternyata adalah saudara kembarnya. Gopal melongo sementara Yaya dan Ying pasang tampang heran melihat kemunculan pemuda itu.

"Mila, kau tak pernah bagi tahu kalau kau punya saudara kembar," tukas Yaya dengan wajah terpana.

"Betul hoo," angguk Ying menimpali. "Lelaki pulak tu."

"Tapi rupa dia tak macam makhluk fantasi lah," ujar Gopal seraya memandang Sebastian dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Rupa dia lagi mirip dengan manusia."

Lahap menggumam keras. "Tak payah la kau tebak dia manusia ke tak," katanya. "Macam simpulan Milyra tadi. Dari perawakan dia tue, aku macam rasa kalau gen Sebastian lagi mendekati Alien berbentuk manusia macam Kapten Kaizo dan Prebet Pang. Tapi apasal Milyra cakap kalau lelaki tu saudara kembar dia?"

"Ceritanya panjang, Lahap," gumam Mila dengan tampang serius. Dipandanginya Sebastian dengan air muka dingin. "Apa yang kau buat dekat sini, Tian? Mengacau? Kenapa kau dan Gaga Naz halang-halang kitorang? Atau jangan-jangan kau begabung dengan Organisasi macam Bunda buat?"

Sebastian- atau dengan nama panggilan Tian- itu terkekeh pelan. "Sori, Mil. Tapi kau memang betul. Aku memang bersekutu dengan Organisasi ONION, dan aku pun ahli pasukan tak tetap daripada Supreme Diamond. Kejutan yang hebat, bukan? Sayang sekali Bunda tak pandang kau sebagai Makhluk kuat, jadi aku yang diakui olehnya. Nasib baik aku masih berbaik hati dengan menganggap diri kau sebagai kakak kembar aku. Kalau tak, kau mungkin tak kan dianggap siapa-siapa di dunia ini."

"Dey, siapa kau yang cakap kalau Mila bukan siapa-siapa kat dunia ini, Heh?" ujar Gopal membela Mila. Jujur saja, ia merasa kesal dengan penyataan Sebastian terhadap Mila yang terkesan menghina itu walaupun dalam hati ia menyesalkan dirinya yang terlalu cepat bertindak, takut kalau-kalau Sebastian akan tersinggung olehnya.

Yaya mengangguk. "Gopal betul. Bagi kami Mila ialah kawan baik yang boleh diandalkan, walaupun dia bukan manusia macam kami," ujarnya mantap. "Kau tak patut hinakan dia!"

"Yaloh. Sombong betul!" tukas Ying ikut kesal. "Ingatkan lu lagi hebat dari dia wo? Aish- Mila lagi baik dari kamu maa... Dia nak selamatkan dunia dan membela kebenaran. Taklah bergabung dengan kumpulan Penjahat macam kamu! Hump!"

Gaga Naz menghela nafas panjang. "Sebastian, baik kau bantu aku adu fisik dekat dia orang. Aku malas adu mulut macam nie," tukasnya dengan nada bosan. Sebastian segera cengar-cengir mendengar itu.

"Oh, sori Gaga Naz, aku terbawa suasana tadi."

Dialihkannya pandangan ke arah Lahap dan Mila. "Baiklah. Jadi siapa yang pertama mahu dibelasah, hmm?" katanya sinis seraya memunculkan dua sinar dari kedua telapak tangannya. Begitu sinar itu lenyap, dua bilah pedang dengan desain khas Celtic berukuran sedang berada di kedua genggaman tangannya. Tentu saja kelima lawannya terperanjat melihat itu. Lahap mendecih.

"Nampaknya kita kena atur strategi," ujarnya waspada. "Gopal, Yaya, Ying, korang kena kejar Mimi dan Syrena tue sebelum kita hilang jejak. Dan Mila, bantu aku hadapi Gaga Naz dan Sebastian sementara Gopal, Yaya dan Ying yang susul Mimi dan Syrena. Diorang mesti belum jauh bawa pergi badan Kapten Kaizo. Cepat!"

"Okey!"

Mereka pun melaksanakan strategi mereka. Yaya, Ying dan Gopal berusaha memutar ke arah pintu di lorong sebelah untuk mengejar Mimi dan Syrena yang membawa pergi badan Kaizo. Mila dan Lahap berusaha memakan waktu untuk mengalihkan perhatian Sebastian dan Gaga Naz dari mereka. Sayangnya Sebastian tanggap dengan itu dan segera mendelik ke arah pintu lorong sebelah dimana Yaya, Ying dan Gopal diam-diam hendak mengelabui mereka.

"Korang ingat boleh lepas sambil lalu?" tukasnya sinis. "Hmp, tak guna! ELECTRIC SLASH!"

"Tak semudah itu! PERISAI GAMMA!"

Mila buru-buru menciptakan perisai maya bulat yang terbuat dari gelombang Gamma miliknya, melindungi jalur melarikan diri untuk Yaya, Ying dan Gopal. Serangan Sebastian tertangkis. Namun tanpa Mila ketahui, Gaga Naz mengelak ke belakang punggungnya dan mengangkat kedua cakar logamnya tinggi-tinggi, bersiap menembakkan laser darinya. Lahap yang menyadari itu segera berteriak tanda peringatan.

"MILYRA, AWAAASSS!"

"Hah?!"

Mila melotot begitu melihat laser Gaga Naz dilepaskan ke arahnya. Dan tidak ada lagi kemungkinan bagi gadis itu untuk menghindar. Lahap buru-buru membuka mulutnya untuk menembakkan serangan penangkis agar laser Gaga Naz tidak sampai mengenai Mila.

"BUIH-BUIH PLASMA! BUWAAAAAAAAHHHHH!"

GLAADUUUAAAAAAAARRRR!

Laser Gaga Naz dan Gelembung-gelembung Plasma raksasa dari mulut Lahap ssaling menabrak dan menciptakan ledakan besar disana hingga membuat pesawat angkasa Kapten Kaizo itu terombang-ambing. Akibatnya, Mila terlempar ke dinding pesawat dan menghancurkannya berkeping-keping. Ying menjerit begitu melihat tubuh Mila sudah terlempar keluar pesawat angkasa dan jatuh ke bawah.

"MILAAAAA!" jeritnya histeris. Namun sebelum ia sempat mendatangi lubang raksasa hasil serangan Gaga Naz dan Lahap itu, Sebastian sudah menghadangnya.

"Kau tak kan boleh tolong dia lagi, Hahahaha!" tawanya lalu kembali menghunus kedua pedangnya. "Gaga Naz, jom kita habisi diorang!"

"Dengan senang hati, Mwaahahahahahahaaa!"

Lahap meringis. Ia sendiri cedera berat akibat ledakan tadi. Susah payah Alien bawahan Kaizo itu merosot ke arah Gopal, Yaya dan Ying yang tampaknya sudah terpojok dengan kedua musuh mereka itu. Begitu ia tiba di depan mereka, serta-merta tubuhnya yang gempal itu ambruk. Gopal terkejut dan buru-buru menopang tubuh Alien itu.

"Uncle Lahap! Uncle Okey, kah?" tanyanya ketakutan plus cemas. Lahap mengerang kesakitan. Dipandangnya Gopal, Yaya dan Ying bergantian sebel akhirnya melayangkan pandangan ke arah Sebastian dan Gaga Naz dengan tatapan nanar.

"Cik... Adik... Maaf, tapi nampaknya... kita dah... tersudut..." gumamnya patah-patah. Yaya, Ying dan Gopal segera mengidik menyadari maksud Lahap itu dan memandang Gaga Naz dan Sebastian yang mulai mendekati mereka, masing-masing dengan senjata siap hantam di genggaman mereka.

Gopal mengidik ketakutan melihat mereka, mencicit gugup.

"Habislah kita..."


Halaman depan Gedung Markas pusat Organisasi, 27 Juli 2014 pukul 16:25

BRUUKK!

"AKH!"

Mila mendarat di halaman depan markas ONION itu dengan pendaratan yang tidak bisa dibilang mulus. Alhasil, beberapa luka lecet muncul di atas kulit lengan dan wajahnya. Mila meringis pelan. Ia bangkit dan terhuyung. Ledakan akibat tabrakan laser Gaga Naz dengan gelembung raksasa Lahap di pesawat angkasa Kaizo tadi cukup membuat tubuhnya cedera berat. Mila menatap keadaan sekeliling. Yang pertama didapatinya adalah Fang yang terkapar tak jauh darinya dengan tubuh penuh luka akibat diserang Rosaline beberapa menit yang lalu.

"Fang!" gadis itu berseru dengan suara parau. Langkahnya terasa berat sekali. Ia terduduk di sebelah tubuh Fang dan menopang punggung pemuda itu dengan kedua tangannya yang gemetar. "Fang! Bangun, Fang!"

"Uhh," perlahan Fang membuka matanya. Darah mengalir dari salah satu sabetan luka di pipi kanannya. Mila menghembuskan nafas lega karena mendapati Fang masih hidup.

"Apasal keadaan badan kau jadi teruk ni?" tanya Mila khawatir. Fang mengerang sebentar. Dengan susah payah ia menggerak-gerakkan mulutnya, berusaha berbicara.

"Rosaline... dah... serang kitorang..." ujarnya putus-putus. "Papa Zola dan... yang lain... pun... kena..."

Mila terkejut. "Papa Zola? Yang lain? Mana mereka?"

Fang menuding lemah ke belakang Mila. Mila menoleh. Kedua mata pink-nya yang gelap memandang horor begitu mendapati Papa Zola, Tok Aba, Ray, Adu Du dan Probe serta teman-teman sekelasnya dikepung oleh pasukan R.A.S. dan T.A.S. yang dikomando oleh Ah Meng dan Arumugam.

"Huhuhu... jangan lah tembak. Aku belum kahwin lagi," ucap Probe ketakutan melihat laras-laras senjata api milik pasukan R.A.S. diarahkan ke dada-dada mereka.

"Dey, kau robot lah. Mana boleh kahwin?" tukas Arumugam sweatdrop.

"Huhuhu- sampai... sampai hati lah kau ni!" Probe semakin sedih dan akhirnya menangis di bahu Adu Du. Adu Du hanya bisa facepalm dibuatnya.

"Hadeehh... apasal aku ada robot cengeng macam ni pulak?" tukasnya malas.

Papa Zola tersengih. "Ehh, kenapa korang yang budak kecik-kecik molek ni boleh ada Askar-Askar bersenjata?" tanyanya pada Ah Meng dan Arumugam. Namun pertanyaan itu segera dibalas dengan tembakan peluru dari salah seorang pasukan R.A.S.. Peluru itu mendesing di atas kepala 'Sang Guru Kebenaran', membuatnya terdiam dalam sekejap.

"Aiya, baik lu semua diam di tempat dan biarkan kami hapuskan lu semua perlahan-lahan ma," ancam Ah Meng seraya menghunus pedang samurai-nya. Nada suaranya lembut, namun konteks kalimatnya menggugurkan kesan lembut itu.

Mila terkesiap melihat Gurunya diperlakukan seperti itu. Namun belum sempat ia beranjak dari Fang, ia merasa sebuah dinding maya menghalangi dirinya dan teman-temannya yang sedang dikepung pasukan pembunuh di ONION tersebut. Dipandangnya Fang dengan tatapan bingung.

"Err- Fang, apasal aku macam rasa ada dinding lezinah yang halang kita dan Papa Zola ni?" tanyanya heran.

Fan mendengus perlahan. "Rosaline... guna... kan kuasa dinding... tenaga Abang aku..." jelasnya seraya meringis menahan sakit. Untuk kesekian kalinya Mila terkejut mendengar itu.

"Ini tidak baik," desisnya cemas. "Oh, dan satu lagi. Mana Ochoboy dan BoBoiBoy?"

"Kat... sana."

Mila melayangkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Fang. Mata merah jambu gadis itu melotot. Tubuh Cyborg itu tampak rusak berat. Mila menjerit histeris melihat kondisi Ochoboy yang menggenaskan.

"OCHOBOY!"

Rosaline, yang tengah memandang tubuh BoBoiBoy terkapar tidak berdaya di hadapannya mendengar jeritan Mila dan menoleh. Dilihatnya Mila berjalan tertatih-tatih menuju tubuh Ochoboy. Mulut wanita itu segera menyunggingkan senyuman kecut.

"Milyra, kau masih tak jera rupanya," tukasnya berang. Ia men-teleport dirinya ke depan gadis itu secara tiba-tiba dan mengayunkan sabitnya ke arahnya. Tentu saja kondisi tubuh Mila tidak mendukung sehingga ia langsung terlempar dan terhempas ke dinding maya tak jauh di belakangnya. BoBoiBoy mendengar pekikan gadis itu dan berusaha mengangkat kepalanya yang terasa pening karena beberapa kali terkena serangan Rosaline.

"Mila! Tidaaaakkk!"

Ia nyaris menangis begitu melihat Rosaline mulai menghajar Mila dan Fang hingga tidak berdaya. Tulang-tulangnya terasa ngilu hingga ke sunsumnya. Tiba-tiba didengarnya suara bisikan parau milik Ochoboy yang tergeletak tak jauh darinya.

"BoBoi... Boy... sini..."

"Uh?"

BoBoiBoy memaksa dirinya untuk bangkit. Namun cedera di tubuhnya akibat hantaman Rosaline tadi membuatnya nyaris tidak bisa berkutik. Pemuda bertopi jingga itu hanya sanggup merangkak. Sedikit demi sedikit ia akhirnya berhasil mencapai Ochoboy. Ditopangnya tubuh rusak itu dengan satu tangannya yang masih agak kuat.

"Ocho... bot, Kau okey... kah?" tanya BoBoiBoy sedih. "Maafkan aku, Ochobot... Aku gagal selamatkan kita semua... maafkan aku..."

Ochoboy menggeleng. "Tak... ini salah aku, BoBoiBoy... bukan salah kau..." gumamnya lemah. "Rosaline... yang nak kan... diri aku... tapi korang semua... yang kena akibatnya... Ini bukan salah kau... Aku yang buat kawan terbaik... macam kau repot... uhuk..."

BoBoiBoy tercekat. "Kawan terbaik?" desisnya pilu. "Aku tak patut, Ochobot. Aku dah gagal lindungi kau... aku gagal tunaikan janji aku ke Klamkabot... aku gagal lindungi kita semua..."

"Lupakan semua itu, BoBoiBoy..." geleng Ochoboy sekali lagi. "Jangan... salahkan diri kau atas kesalahan orang lain... macam aku. Aku tak mahu tengok kau buat benda tu lagi."

"Makasih, Ochobot..." desis BoBoiBoy pilu.

"BoBoiBoy, ada benda yang... nak uhuk-! aku minta dari kau..." gumam Ochoboy dengan suara yang semakin mengecil. "Jaga persahabatan korang. Jangan nakal... dekat Atok kau... dan Cikgu Papa. Dan... Uhuk... jaga Mila untuk aku... Maafkan aku, BoBoiBoy, Uhuk... tapi aku dah tak lama lagi... bersama engkau..."

BoBoiBoy terperanjat. "Apa? Tidak! Jangan tinggalkan aku lagi, Ochobot!" jeritnya sendu. "Huhuhuu... bangunlah... jangan... hiks... tinggalkan aku lagi..."

Ochoboy tersenyum lemah. "Takpe, BoBoiBoy... aku dah bagi kau harapan penuh untuk-"

BRUK!

"Huh?"

Mila sudah terkapar babak belur, begitu juga dengan Fang. Bagi BoBoiBoy, ini merupakan pertanda buruk. Sekonyong-konyong Rosaline menyambar tubuh Ochoboy dari rangkulan BoBoiBoy dan mencengkeram leher pemuda Sfera Kuasa generasi kesembilan itu, membuat BoBoiBoy panik setengah mati.

"Harapan, eh?" Rosaline pasang tampang nista. "Apa lagi yang korang harapkan, hmm? Inilah akhir daripada korang semua, Mwahahahahahaaaa!"

"Jangan, Rosaline!" pekik BoBoiBoy histeris. Ia berusaha menarik kaki Rosaline, yang selanjutnya menendang tubuhnya hingga jatuh terjerembab. Rosaline mendecih.

"Ini mungkin menyedihkan, BoBoiBoy sayang, tapi aku akan tetap hancurkan Harapan kau, Hiaaaaaaahhhhh!"

Kini BoBoiBoy dipaksa untuk menyaksikan tangan Rosaline melubangi dada kiri Ochoboy dan menarik mesin generator milik pemuda Cyborg itu hingga putus dari kabel-kabel di dalamnya. Mata Hazel milik Superhero cilik Pulau Rintis itu membelalak. Tak kuasa membendung air matanya lagi, BoBoiBoy menangis melihat tubuh Ochoboy yang sudah terpisah dari mesin generatornya itu. Rosaline melempar tubuh rusak Ochoboy, membiarkan serpihan-serpihan logam dari wujud alternatif Sang Sfera Kuasa generasi kesembilan berterbangan di udara.

Di lain pihak, Yaya, Gopal, Ying dan Lahap yang kondisinya sama kritisnya semakin terpojok oleh Gaga Naz dan Sebastian yang siap menhancurkan mereka semua. Begitu juga dengan rombongan Papa Zola yang mulai ditembaki dengan ribuan senjata dari pasuka R.A.S. dan T.A.. bawahan ONION. Dengan isakan histeris BoBoiBoy menangkap tubuh Ochoboy agar tidak menghempas tanah. Dipandanginya wajah Ochoboy yang seperti tertidur itu. BoBoiBoy mengguncang tubuh itu perlahan, berharap Ochoboy bereaksi.

"Ochobot? Bangun, Ochobot!"

"..."

Tidak ada reaksi.

"Ochobot?"

"..."

"Ochobot?! OCHOBOT?!"

"... "

Dan kini BoBoiBoy punya alasan kuat untuk menangis.

"Huk... Huk... Tidak... TIIIDAAAAAAAAKKKKKK!"

Dipeluknya tubuh rusak itu kuat-kuat, menangis sejad-jadinya. Trauma satu setengah tahun yang lalu kembali menghantui benaknya. BoBoiBoy menyesali dirinya sendiri. Dia tidak mampu melindungi Ochobot seperti janjinya pada Klamkabot dulu. Nyaris saja ia menangis meraung-raung, kalau saja ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Rosaline tersenyum masam melihat kejadian itu. "Kau menangis, eh?" ejeknya. "Drama yang bagus, budak payah. Nampaknya kau memang degil dan tak niat buat jadi milik aku. Dan sekarang aku akan akhirkan hidup kau sebagai Superhero dekat bumi ini."

"Huk... Huk... maafkan aku, Ochobot..." desis BoBoiBoy parau sembari mengikir lantai keramik di bawahnya. "MAAFKAN AKU, OCHOBOOOOOTTT!"

Air mata BoBoiBoy kembali jebol. Tanpa ia ketahui, tubuh Ochoboy kembali aktif selama beberapa detik dan tampak mengeluarkan sinar-sinar. Sinar-sinar itu bertebangan bagaikan kunang-kunang di udara. Satu sinar melayang masuk ke pesawat angkasa Kapten Kaizo dan satu sinar masuk ke dalam tubuh Mila. Itu terjadi sebelum akhirnya tubuh Ochoboy kembali terhempas ke tanah dengan kondisi parah.

Di saat yang bersamaan, Rosaline mengayunkan sabitnya ke arah BoBoiBoy yang sedang dirundung kesedihan akut. Namun alangkah terkejutnya ia begitu merasa sabitnya seakan ditangkis oleh sesuatu. BoBoiBoy menyadari hal itu. Dengan tubuh Ochoboy di rangkulannya dan wajah sembab karena menangis, ia menoleh ke arah siapa yang menahan sabit Rosaline dari menghantam tubuhnya. Spontan BoBoiBoy terkejut setengah mati melihat siapa yang menangkis serangan Rosaline itu.

"Mi- MILA?!"

Benar saja. Gadis mungil berusia delapan belas tahun dengan rambut berwarna perak itu berdiri di antara BoBoiBoy dan Rosaline. Salah satu tangannya menahan bagian tajam sabit raksasa Rosaline. Tentu saja Rosaline terkejut melihat tindakan anak perempuannya itu.

"Apa?! Kenapa kau boleh tahan serangan aku?!" jeritnya kalap. Mila mendelik ke arah BoBoiBoy yang masih memandangnya dengan wajah terpana.

"Ini bukan masanya kau menyerah, BoBoiBoy," ujarnya lalu kembali menolehkan kepalanya ke arah Rosaline. Satu tangannya yang lain mengeluarkan beberapa gelombang besar yang berputar-putar seperti per besi.

"Mari kita tamatkan semua ini ... "


Kaizo masih melongo melihat penampakan sosok yang ternyata adalah Ibunya itu.

"Mak... bila masa Mak ada kat sini?" tanyanya kaku. Ibunya hanya tertawa kecil melihat tingkah Kaizo yang seperti orang ling-lung.

"Ahh... maafkan Mak sebab buat diri Kaizo terkejut," katanya lembut. "Mak cuma nak bagi Kaizo dua pilihan. Dan hendaknya kau pilih salah satu daripada itu."

Kaizo mengerutkan kening.

"Pilihan?"

Sang Ibu tersenyum simpul. "Ya, pilihan," katanya mantap. "Kau dah lewati fase itu, Kaizo. Itu sebabnya Mak bagi kau dua pilihan. Dan dua pilihan itu ialah: Kau ikut Mak dan Ayah kau atau kau balik ke dunia nyata untuk temankan adik kau. Pilihlah salah satu."

"APA?!"


Aula Utama Lantai Sembilan puluh Gedung markas Organisasi, 27 Juli 2014 pukul 16:30

Haryan menyaksikan Rosaline membantai BoBoiBoy dan teman-temannya di halaman depan gedung. Wajahnya tampak puas. Dengan gaya santai, ia memasukkan kedua tangannya ke saku jas-nya.

"Semuanya sudah berjalan sesuai rancangan semula, fufufu..."

Tanpa ia sadari, dua sosok mengintainya dari balik pintu ruangan yang sedikit terbuka. Salah satu dari mereka menelan ludah.

"Apasal Komander nak aku saksikan Penjahat galaxy macam Haryan tue?" tanyanya kesal plus khawatir. "Kalau dia tahu jati sebenar aku, maka habislah!"

Sosok yang satu lagi- yang tampak lebih kecil daripada sosok yang pertama- hanya tersenyum simpul. Diperbaikinya posisi kacamata hitamnya seraya memperbaiki antena hijau kotak mungil di atas kepalanya.

"Tak payah kau risau. Ada baiknya kau tengok Penjahat-Penjahat dekat Galaxy lagi dekat. Tak baik kalau kau terus menerus menghindar daripada Sarang Harimau, bukan?"

"Haish, Komander nie," desah sosok yang lebih tinggi seraya mengusap rambut merahnya. "Komander memang ahli penyamaran, tapi aku bukan ahli menyamar lah."

"Sabar, Motobot. Ini hanya pemanasan."

"Uhh, baiklah. Ah, ya. Macam mana dengan Ratu? Aku belum pernah jumpa dengan dia lagi tau."

"Oh, Ratu kau? Entahlah. Aku pun belum pernah jumpa lagi dengan dia tiga bulan lepas. Kemungkinan besar dia dah takde pun."

"Hah?! Maksud Komander Ratu Ashrlati dah tiada?!"

"Bisa iya, bisa juga tidak. Dengar, Motobot. Kita bukan pihak yang boleh memastikan kematian seseorang. Tapi aku yakin kau akan tahu nasib dia suatu saat nanti."

"Hmm, baik. Aku faham konteks kalimat Anda, Komander. Mari kita pergi."

"Okey."

Kedua sosok itu pun melangkah menuju lift di lantai Sembilan puluh dan menghilang tanpa bekas.


Bersambung...

Hahhh akhirnya selesai juga bagian ini. Banyak sekali kekurangan di bagian. Semoga Author bisa menyelesaikan fic ini sesegera mungkin. Silahkan Review dan sarannya. :)

Tetap setia menantikan kelanjutannya ya Love you all, dear readers!