Akhirnya saya kembali! Maaf karena sangat sangat telat update karena yah ... entah karena writeblock, ujian final dan lain sebagainya. Tapi alhamdulillah Author bisa melanjutkan cerita ini. Terima kasih kepada readers yang setia menunggu cerita yang mungkin bisa dibilang memusingkan ini, hehehe ... Okey. Mungkin ini adalah bagian yang terpanjang dari semua chapter karena author sudah merencanakan untuk memadatkannya. Sila baca bagian ini. :D

Bagaimanakah nasib BoBoiBoy dan teman-temannya? Apakah mereka bisa melawan Rosaline kali ini? Bagaimanakah nasib Kaizo? temukan jawabannya di bagian ini. ^^


.

.

M.A.W.A.R. L.I.A.R.

'Dawn of The Real Sin'

(Season Final)

.

.

.

Boboiboy belongs to Animonsta


.

.

.

Bagian 24: Mawar Liar

"Mi- MILA?!"

Mila berdiri di antara BoBoiBoy dan Rosaline. Salah satu tangannya menahan bagian tajam sabit raksasa Rosaline. Tentu saja Rosaline terkejut melihat tindakan gadis itu.

"Apa!? Kenapa kau boleh tahan serangan aku?!" jeritnya kalap. Mila tidak menggubrisnya. Ia malah mendelik ke arah BoBoiBoy yang memandangnya dengan wajah terpana.

"Ini bukan masanya kita untuk menyerah, BoBoiBoy," katanya. Tangannya yang lain mengeluarkan gelombang besar yang berputar-putar bagaikan per besi.

"Mari kita tamatkan semua ini, HIIIIAAAAAAHHHH!"

Mila mengarahkan tinjunya yang sudah diselubungi gelombang yang mirip Per raksasa menuju Rosaline, mengenai perut wanita itu. Gelombang itu ternyata kuat sekali dan menyebabkan Rosaline terlempar beberapa meter dari mereka. Tubuh Ratu Succubus itu terbanting beberapa kali ke lantai keramik halaman depan Markas Organisasi hingga bajunya terlihat koyak disana-sini. Beberapa bagian tubuhnya tampak lecet-lecet. Ternyata Mila tidak main-main dengan kalimatnya tadi.

"Tch-! Apa lagi yang kau mahukan, budak payah?" desis Rosaline sembari menyeka luka lecet di sekitar bibirnya. "Baik kau menghilang dari hadapan aku!"

Mila menggeretukkan giginya. "Hilang, heh?" desisnya marah. "Selepas aku tengok apa yang Bunda perbuat dekat kawan-kawan aku, tak patut aku hilangkan diri macam yang Bunda mahukan. Maaf, Bunda. Aku tak sanggup biarkan Bunda sakiti kawan-kawan aku, terutama BoBoiBoy! Bunda dah cuba hancurkan harga diri BoBoiBoy, Bunda dah cuba hancurkan harga diri kawan aku! Selain itu Bunda dah hancurkan Ochoboy! Apa yang Bunda fikirkan ini, Hah?! Baik Bunda sedar sekarang juga!"

"Sudahlah tu, Mila!" tukas BoBoiBoy tertahan. "Walaupun Rosaline tu jahat, tapi dia tetaplah Ibu kau! Tak elok kau lawan dia."

Temannya melirik pemuda bertopi Dinosaurus itu dengan tatapan dingin. Sebenarnya dia gemas dengan sikap BoBoiBoy yang terlalu pemaaf terhadap musuh itu. Dibalasnya kalimat BoBoiBoy dengan nada ketus.

"Huh, lalu kau nak aku biarkan dia berbuat kejahatan sesuka hati dia? Begitu? Tak, kali ni dia sungguh melampau! Kau kena faham benda tu, BoBoiBoy!"

Detik berikutnya, Mila melompat ke udara. Tubuhnya dilingkupi gelombang-gelombang Per raksasa yang bersinar jingga kemerahan. Gelombang-gelombang itu pecah bersamaan saat ia berteriak lantang.

"MILYRA LONGITUDINAL!"

Sosok itu adalah wujud dari kekuatan baru Mila: Gelombang Longitudinal (Nama pendeknya 'Longy'). Bajunya berwarna jingga kemerahan dengan beberapa aksesoris berbentuk bulat yang menggantung di jubah dan rok-nya. Rambutnya yang berwarna perak dikuncir empat. Wajah kekanakannya mirip dengan BoBoiBoy Blaze. Mau tidak mau BoBoiBoy terkagum-kagum dibuatnya.

"Mila- Wahh, terbaiklah kuasa baru kau ni!" pujinya. Longy mendelik sebentar. Mungkin karena marah, gadis itu tidak menggubris BoBoiBoy. Dengan geram ia menggumam keras seraya mengalihkan perhatiannya pada Rosaline.

"MIC LONGITUDINAL! Jaga kau, Rosaline!"

Rosaline mendengus. "Hmph! Kau ingat kau hebat sangat, Hah?! Bermimpilah sesuka hati!"

TRAAAANNNGG!

Sabit Rosaline dan Mic Longy saling menangkis. Ibu dan anak itu mendesak senjata masing-masing. Sayangnya tubuh Longy yang kecil tidak sebanding dengan Ibunya itu. Gadis itu mulai kepayahan, membuat BoBoiBoy cemas.

"Tak boleh jadi. Aku kena tolong Mila!" gumamnya. Ditaruhnya tubuh Ochoboy ke tanah. Dikuatkannya tekadnya hingga tubuhnya mengeluarkan hawa panas, atau lebih tepatnya percikan api.

"Ini untuk kawan-kawan aku... BOBOIBOY BLAZE!"

Ia berubah menjadi Blaze. Dikeluarkannya kedua Cakram apinya dan menerjang Rosaline. Rosaline menyadari hal itu. Konsentrasinya pecah. Wanita itu terpaksa mundur dari Longy dan beralih ke arah sang pengendali api. Dengan sigap Blaze meladeninya. Setelah itu, Blaze mendarat di sebelah Longy.

"Apasal kau bantu aku ni?" tanya Longy kesal bercampur heran." Aku nak lawan dia sorang-sorang lah!"

Blaze menyeringai. "Alah, takpe. Anggap sahaja aku ni kawan main kau. Tak elok lah kalau main sorang-sorang, Kan? Kan? Jom kita sama-sama belasah Rosaline!"

Longy melongo. Tak lama kemudian, ia mengangguk dengan ceria.

"Okey lah kalau kau pun nak juga. Aku pun tak kesah sangat. JOM!"


"Hahahaha! Rasa lah korang- EEEHHH?!"

Gaga Naz melongo. Begitu juga dengan Sebastian. Keduanya merasa sepasang tangan menahan serangan mereka. Ternyata Lahap. Alien ungu itu menahan tangan Gaga Naz dan pedang Sebastian dengan kedua tangannya yang ringkih.

"A- Apa?! Bila masa Alien kecik macam kau boleh tahan serangan kitorang?!" tanya Gaga Naz kaget. Bukan hanya dia dan Sebastian yang kaget. Yaya, Ying dan Gopal yang meringkuk di belakang Lahap tak luput dari kekagetan.

"Eh? Uncle boleh tahan serangan diorang guna tangan kosong je?" tukas Yaya kagum.

"Wahh, macam kuasa punya kamu lah, Yaya!" timpal Ying.

"Tapi kuasa Yaya ialah kuasa manipulasi graviti. Kalau Lahap ni macam kuasa stamina super oi!" puji Gopal.

Lahap tersenyum. "Mungkin kau benar, Cik Adik," tukasnya lalu meninju Gaga Naz dan Sebastian hingga keduanya terbang dan menghantam dinding dalam bagian atas. Pukulannya keras dan terarah. Detik berikutnya, keduanya kembali terjatuh ke lantai.

Dinding masih bergetar.

"Round satu! Pemenangnya ialah Lahap!" tukas Gopal sumringah. Namun ia langsung gugup begitu Yaya dan Ying memberinya tatapan tajam.

"Haiya, lu ni Gopal. Ingatkan ini arena tinju kah?" ujar Ying kesal.

Yaya mengangguk. "Betul tu. Tak baik senang atas kesusahan orang lain! Lagipun-"

"Awas, Yaya!"

"Hah?!"

Yaya terkejut begitu melihat Sebastian sudah melesat ke belakangnya, hendak menebas leher gadis serba pink itu dengan kedua pedangnya. Untung Lahap buru-buru meraih kepala pemuda itu dan melemparkannya ke arah Gaga Naz yang baru saja hendak bangun sehingga keduanya jatuh tumpah tindih.

"Kau takpe, Cik Adik?" tanya Lahap seraya pasang kuda-kuda. "Walaupun kemenangan nampaknya dah berada di pihak kita, tapi tetap jangan remehkan diorang."

"Te- Terima kasih, Uncle Lahap," ucap Yaya lega. Ia tidak menyangka gerakan Sebastian bisa segesit itu. Kalau saja Lahap tidak segera melempar pemuda itu, maka kepala Yaya pasti sudah terpisah dari badannya sedari tadi. Ying dan Gopal buru-buru mendekati mereka.

"Yaya, kau okey?" tanya Ying khawatir. Yaya mengangguk.

"Aku okey. Nasib baik Uncle Lahap selamatkan aku," katanya. Lahap menyeringai dengan deretan gigi putih besar di mulutnya sembari menatap Gaga Naz dan Sebastian.

"Aku suka idea kau, Gopal," ucapnya senang. Gopal mengerutkan kening tanda bingung.

"Eih? Idea apa?"

"Idea Area Tinju tu lah!"

"Oh, iya ke? Hehee, sori. Aku lupa tadi."

Lahap menepuk keningnya. "Kau ni macam dik BoBoiBoy je. Dah mulai pelupa. Sudah! Kembali ke topik semula," ujarnya. "Baiklah. Siapa yang dah sedia buat Round ke-2?"


TRAAAAANNGG!

Rosaline menghunus sabit raksasanya ke depan wajahnya, saling menangkis dengan Mic Per Besi Longy dan Chakram Api Blaze. Dua lawan satu. Namun karena tubuh Blaze dan Longy yang kecil ditambah stamina mereka yang terbatas, maka pertarungan itu kurang lebih sama dengan pertarungan satu lawan satu. Namun Blaze dan Longy tetap bekerjasama dengan baik agar Rosaline dapat dikalahkan.

"Cih, korang ingat ini macam permainan ke, Hah?!" dengus Rosaline sebal seraya terus menangkis serangan-serangan Blaze dan Longy dengan sabit raksasanya. Melihat lawan mereka tidak menyerah juga, Kedua anak itu segera mengatur strategi. setelah dirasa sudah siap, mereka mengangguk satu sama lain.

"Sekarang, Blaze!"

"Okey!"

Mereka melompat ke udara. Longy melilitkan Mic per-nya di lengan kanannya sementara Blaze mengganti Chakram apinya dengan tangannya yang dibakar api yang berkobar hebat. Keduanya berteriak seraya mengarahkan tinju kanan masing-masing ke bawah dimana Rosaline berada.

"Serangan Kombo Blaze dan Longy: SPRING INFERNO SHOTS!"

BLAAAAAAAAARRRR!

"AAAGGHH!"

Rosaline berusaha menangkis serangan mematikan itu dengan sabitnya. Akan tetapi serangan Kombo Longy dan Blaze itu membuatnya kewalahan. Selain panas yang membakar, serangan kombo itu mampu meleburkan apapun. Rosaline menyadari sabitnya mulai meleleh akibat suhu yang tinggi. Buru-buru ia berkelit, menghindari serangan itu. Hasilnya, serangan itu meledak dengan dahsyat di hadapannya. Dengan sigap perempuan itu melindungi wajahnya dengan satu tangan dari ledakan tersebut.

"Hahh... Haa..." Rosaline mengusap keningnya yang banjir keringat. Rupanya ia kepanasan karena serangan tadi. Blaze dan Longy mendarat di tanah seraya menatap wanita itu dengan tatapan gusar.

"Kau kepanasan, eh? Mari aku sejukkan kau!" tukas Blaze lalu menolakkan kakinya ke udara. Keping-keping es menyelimuti dirinya. Es itu pecah dan menampakkan sosok lain.

"BOBOIBOY ICE!"

Ice mendarat di tanah dan melepaskan kuda-kudanya. Tindakannya itu membekukan halaman depan gedung markas Organisasi, membuatnya menjadi licin layaknya area seluncur es. Longy terperangah melihatnya dengan mata bling-bling.

"Wuaahhh, hebatnya area seluncur ais ni!" puji gadis itu dengan gaya kekanakan. "Okey lah. Aku pun nak berseluncur kat atas es tu dengan kuasa baru aku, hehehe. Tengok ni: MILYRA TRANSVERSAL!"

"Eh?"

Ice melongo melihat perubahan Longy ke wujud barunya: Kuasa Gelombang Transversal. Gadis itu berganti perawakan dari yang tadinya ceria menjadi sangat santai. Kurang lebih sama dengan pribadi Ice sendiri. Ia mengenakan baju yang berbeda dari pecahan-pecahan Milyra sebelumnya. Jika pecahan-pecahan Milyra sebelumnya mengenakan jubah, maka Transversal mengenakan syal tembus pandang yang mengelilingi bahunya hingga menjuntai ke lengan dan pinggang. Rambutnya adalah yang terpanjang di antara pecahan Milyra yang lain dan mencapai betisnya. Sebagian kecil rambutnya terkepang dan diselempangkan ke depan bahu kanannya. Ice mengucek matanya melihat gadis itu.

"Ini ke kuasa lain yang kau maksudkan, Mila? Bernas betul tampilan kau ni."

Gadis itu tersenyum. "Terima kasih," katanya datar. "Ah, ya. Namaku Transversal. Panggil aku Versa. Salam kenal, Ice."

"Salam kenal juga, Versa," ucap Ice lalu menoleh ke arah Rosaline. "Mari kita belasah perempuan yang hancurkan Ochobot tue. MERIAM PEMBEKU! TEMBAKAN PEMBEKU!"

BLASSSHH!

Ditembakkannya bongkahan-bongkahan es ke arah Rosaline. Dengan sigap wanita itu mengarahkan tangan kirinya ke depan seraya menggumam.

"Kau jangan sombong dulu, Ice. Kau lupa kalau aku pun ada kuasa elemental tu, fufufu... OMBAK API!"

PYARR! PYAAARR!

Segera bongkahan-bongkahan es itu musnah terkena ombak api ciptaan Rosaline. Rosaline tersenyum penuh kemenangan melihat itu. Tiba-tiba sebuah gumaman dingin di belakangnya membuyarkan kesenangannya.

"Giliran aku pulak. OMBAK TRANSVERSAL!"

"Hah?!"

GRRROOOOOOOOO!

Versa muncul tak jauh dari belakang Rosaline dan membentangkan syal transparannya hingga kelebaran maksimum. Dihempasnya syal itu hingga membuat segala sesuatu di sekitarnya terombang-ambing dengan kekuatan yang luar biasa. Aksi itu membuat fokus Rosaline pecah dan terlempar dari Versa dan Ice hingga beberapa meter.

BRUKK!

Tubuh Rosaline menghempas dinding beton gerbang markas ONION. Tubuhnya tampak tersayat-sayat dan lebam. Ia menatap Ice dan Versa dengan tatapan garang.

"Korang memang minta dibelasah rupanya," tukasnya murka. "Okey kalau itu yang korang nak. Ambik ni: LETUPAN GERGASI PENYERAP ENERGI!"

"Apa?!"

KABOOOOMMMM!

"AAAAAAHHHHHH!"

Ice dan Versa terkena ledakan itu, begitu juga dengan Fang. Anak itu baru saja pulih. Namun karena terkena ledakan lagi, ia kembali ambruk. Ice dan Versa menabrak dinding beton hingga hancur berkeping-keping. Malangnya, bongkahan-bongkahan beton itu menimpa mereka sebelum mereka sempat menghindar. Fang terperanjat melihat itu.

"Alamak! BoBoiBoy dan Mila dah tertimbun batu-batu beton tu!" jeritnya tertahan. Ia hendak menyusul keduanya dan menolong mereka keluar dari timbunan itu. Sayangnya kondisi tubuhnya seakan membuatnya tidak berdaya untuk bergerak menyusul mereka.

"Hahahahaha... kau dah kalah, BoBoiBoy," tawa Rosaline keras-keras. "Kau dah kalah... hahahahaha... Hahahahaha... MWHAHAHAHAHAAA-! Eh?"

Tawanya terputus begitu melihat timbunan bongkahan beton yang mengubur BoBoiBoy dan Mila hidup-hidup itu mengeluarkan sinar terang. Serta-merta ia mendengar dua suara yang berteriak darinya.

"BoBoiBoy dan Milyra... KUASA SEPULUH!"

BUUUUUMMMM!

Timbunan bongkahan beton itu meledak, menampakkan sepuluh sosok: Lima pecahan Elemental BoBoiBoy dan Lima pecahan Gelombang Milyra. Baik Rosaline maupun Fang menganga melihat itu.

"He- Hebatnya..." desis Fang kagum. Kagum karena ia baru melihat kedua temannya berpecah dalam kekuatan kombo seperti itu.

"Mustahil!" Tukas Rosaline kaget bercampur berang. "Apasal korang masih boleh bangun lagi? Aku akan-"

"Kitorang yang akan belasah kau!" Halilintar dan X tahu-tahu sudah berada di belakangnya. Masing-masing memegang senjata: Halilintar dengan tombaknya dan X dengan pedang beratnya. Keduanya berputar cepat seraya berteriak.

"PUSARAN X-RAY HALILINTAR!"

DUAAAARRR!

"AKH!"

Rosaline menangkis serangan itu dengan sabitnya. Namun karena serangan petir dan sinar X itu berada dalam daya maksimum, sabit raksasanya hancur menjadi serpihan-serpihan logam yang tergeletak di bawah kaki sang ratu succubus. Belum sempat bertindak, Gamma dan Taufan sudah terlebih dahulu melayaninya.

"SEDUTAN MAUT GAMMA DAN TAUFAN!"

"Tch, Korang tak akan boleh serang aku! PERISAI TENAGA!"

Perisai itu sukses melindungi Rosaline dari gelombang Gamma yang bisa menembus tubuhnya. Namun tetap saja gelombang itu kuat sekali. Ditambah dengan kekuatan angin Taufan, Rosaline terputar-putar nista di antara angin dan gelombang Gamma raksasa tersebut. Gempa dan Infra menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan serangan mereka. Keduanya mengangkat tinju ke udara.

"TUMBUKAN TANAH INFRAMERAH!"

BLAAAAAASSSSHHHH!

Tinju raksasa batu milik Gempa bercampur dengan tembakan laser Infra, membuat tinju batu itu menjadi menyala bak logam yang ditempa pandai besi. Rosaline berhasil melepaskan diri dari serangan angin gelombang Taufan dan Gamma. Namun ia sudah diserang lagi dengan Tinju batu panas dari Gempa dan Infra.

"AAAAAGGGHHHHH!"

Rosaline merasa tubuhnya terbakar. Ia jatuh bebas, tidak sanggup menguatkan tubuhnya kembali. Melihat itu, Blaze, Longy, Ice dan Versa mengangguk sembari saling pandang. Mereka berempat melompat ke udara lalu berseru.

"SERANGAN BERKEMBAR LOVE DAN BLICE*!"

Rosaline terbelalak. "A- Apa?! Tak mungki-"

"SOLAKAN BONGKAH ICE!"

"METEOR BERAPI!"

"TOLAKAN MEGA LONGITUDINAL!"

"HEMPASAN TRANSVERSAL MAKSIMA!"

Keempat serangan itu menyerang tubuh jatuh Rosaline dari atas, bawah, kanan dan kiri. Semua serangan itu menimpa Rosaline, menciptakan ledakan maha dahsyat di langit halaman depan Markas Organisasi. Sedetik kemudian, Tubuh Rosaline yang cedera berat menghempas tanah dengan suara dentuman yang cukup keras. Sepuluh pecahan BoBoiBoy dan Mila pun kembali bersatu, menampakkan kedua sosok asli mereka. Keduanya terduduk di tanah dengan nafas tersengal-sengal. Namun mereka lega karena berhasil mengatasi Rosaline.


(Sementara itu, di Pesawat angkasa Kapten Kaizo)

BAK!

"Dan kita lihat, Tuan-Tuan dan Puan-Puan... Lahap memukul lawan dia dengan pantas sekali!"

BUK!

"Oh, Sebastian dan Gaga Naz dah terkapar tak berdaya kat lantai tu. Kesiannya diorang..."

DUAK!

"Dan Round Dua, Pemenangnya ialah LAHAP! Ohoho, dan ini kali kedua dia menang lagi! Lanjutkan, Uncle Lahap! Lanjutkaaaannn!"

Yaya dan Ying hanya bisa ber-facepalm ria melihat Gopal bertindak layaknya seorang komentator arena gulat terhadap Lahap yang tengah melawan Gaga Naz dan Sebastian dengan kekuatan barunya.

"Haish, apasal Gopal sukakan sangat Lahap ajar diorang tu?" gerutu Yaya. "Kesian Gaga Naz dan Tian."

"Entah," timpal Ying pasrah. "Tapi ini je masa untuk kalahkan diorang, Yaya. Kalau bukan sekarang, bila?"

"Humm- betul juga tu."

Sebelum ia mengeluarkan serangan pamungkas, Lahap melirik Yaya sembari berteriak. "Cik Adik, Adik bawa biskut tu?"

Yaya terhenyak. "Aik? Biskut apa?"

"Dey, biskuit buatan kau lah," kini giliran Gopal yang pakai wajah facepalm. "Kau lupa ke kalau Uncle Lahap sukakan sangat biskuit maut kau tu?"

"Ha, iya ke?" tanya Yaya sumringah. "Okey! Aku akan bagi- eh, kejap. Apa yang kau cakapkan tadi, Gopaaallll?!"

"Err- Biskut maut?" Lahap mengulangi ucapan Gopal tentang biskuit Yaya, membuatnya disirami tatapan horor dari sang pengendali molekul.

"Apa?" tanya Lahap heran. Pasalnya ia tidak tahu-menahu kalau Gopal dan teman-temannya sangat menghindari benda yang berinisial 'Biskuit Yaya'.

Sebastian terbatuk sedikit. Bajunya robek sana sini akibat serangan Lahap, begitu juga hal-nya dengan Gaga Naz. Pemuda itu melirik Alien bertubuh paling besar di pasukan Tengkotak itu seraya berbisik.

"Gaga Naz, kita kena berundur."

Gaga Naz tersentak. "Erh? Apasal kau nak kita berundur ni?"

"Dengar saja cakap aku! Keadaan kita saat ini tidak memungkinkan untuk lawan diorang. Baik kita berundur dahulu buat masa kini. Ini bukan keberuntungan kita."

"Urhh- baiklah."

Pelan-pelan Gaga Naz berdiri, diikuti oleh Sebastian. Ketika kelima lawan mereka tengah sibuk dengan urusan 'Biskuit Yaya' itu, keduanya segera mundur perlahan-lahan. Ying menyadari itu dan terkejut melihat Gaga Naz dan Sebastian membalik badan dan tampaknya hendak pergi.

"Ayak! Mereka nak kabur wo!" tuding gadis berdarah Cina itu ke arah mereka berdua. Yaya dan Gopal menghentikan perterngkaran mereka dan ikut terkejut. Lahap segera membuka mulutnya lebar-lebar, bersiap menembakkan serangan.

"Dasar Licik... jangan lari, korang! TEMBAKAN PLASMA! BWAAAAAAHHHH!"

BUUUUUUUMMMMMMM!

Serangan Lahap menyebabkan ledakan yang cukup menggetarkan pesawat angkasa Kaizo. Yaya dan Ying berangkulan satu sama lain agar tidak terguling sementara Gopal memegang pilar besi di sebelahnya. Asap ledakan itu berangsur-angsur menghilang. Sayang sekali mereka mendapati Gaga Naz dan Sebastian telah lenyap dari tempat mereka berdiri tadi.

"Tch, diorang dah kabur!" geram Lahap. "Pengecut betul! Aku akan-"

"Sudahlah tu, Uncle Lahap. Tak baik seksa mereka lagi, tau," ucap Yaya mengingatkan. "Bagaimanapun juga, mereka dah babak belur tadi."

"Kau nak aku ampunkan mereka?" tukas Lahap kesal. "Mereka dah halangi kita buat dapatkan badan Kapten Kaizo balik, tahu tak?!"

"Haiya, kemarahan bukannya selesaikan masalah maa. Lagipun keadaan kita semua tengah teruk. Baik kita berehat sekejap," usul Ying

"Betul tu," angguk Gopal. "Selepas kita berehat, baru kita siasat cara buat dapatkan badan Kapten Kaizo balik. Amacam?"

Lahap mendengar semua itu. Dipejamankannya kedua matanya yang besar, berpikir dengan kepala dingin. Tak lama kemudian, Iapun mendesah pasrah seraya bergumam.

"Baiklah, kalau itu je cara yang terbaik buat kita semua."


Di Halaman depan gedung markas pusat, Papa Zola dan gerombolannya mematung. Mereka berkeringat dingin. Sedikit gerakan yang dilakukan oleh tubuh mereka akan membuat pasukan RAS dan TAS yang diketuai Ah Meng dan Arumugam menembakkan ribuan peluru dan melayangkan pedang ke tubuh-tubuh mereka.

"Macam mana ni, Probe?" ujar Adu Du seraya menelan ludah. Tubuhnya terasa kaku. Probe baru saja hendak mengucapkan sesuatu, namun laras-laras senjata api milik RAS membuat nyalinya untuk berbicara ciut kembali.

"Ehh- boleh tak kalau kita genjatan senjata?"

Semuanya menoleh ke sumber suara. Rupanya Ray yang berbicara barusan. Arumugam tertawa agak keras seraya memanggul senapan mesinnya di bahu kirinya. Ditatapnya pemuda itu dengan pandangan congkak.

"Dey Abang, ini bukan main Perang-Perang lah. Kenapa mesti tawarkan kitorang gencatan senjata pulak?"

Ray mendengus. Dia sudah kehabisan akal. Bagaimana caranya agar ia dan teman-temannya lepas dari kepungan maut itu? Namun disaat ia tengah sibuk berpikir, sebuah suara ditujukan pada mereka semua.

"TUTUP MATA KAMU SEMUA! HIAAAAAAAHHHH!"

"HAH?!"

Refleks Ray dan teman-temannya menutup mata mereka. Didengarnya suara-suara tinjuan dan tendangan yang cukup keras. Begitu ia membuka mata, ia tercengang melihat sebagian besar pasukan RAS dan TAS sudah terkapar di lantai dengan luka lebam-lebam. Siapa yang menghajar mereka tadi?

"Aru, jaga-jaga! Nampaknya ada yang serang kita wo," ujar Ah Meng seraya menghunus pedangnya dan beradu punggung dengan Arumugam. Pemuda India itu mendecih kesal.

"Tch, siapa yang serang kita tadi?"

"Sini!"

"Heh?"

BAK! BUK! DUAK!

"AAAAAHHHHHH!"

Keduanya tersungkur. Lawan mereka ini ternyata lumayan gesit. Gerakannya tidak bisa dibaca. Arumugam membentak sembari memegang bahunya yang tampak lebam.

"Siapa yang tumbuk kami, Hah?! Tunjukkan diri kau!"

Sosok itu mendarat di depan Tok Aba, Papa Zola dan yang lainnya. Mereka terkejut sekali. Ternyata yang menghajar pasukan RAS dan TAS hingga sebagian dari mereka berhasil dilumpuhkan, tidak lain dan tidak bukan adalah-

"CICI KO?!"

Cici Ko mendengus seraya menyisipkan batang pel-nya di belakang pinggangnya. Bukan hanya Tok Aba dan teman-teman BoBoiBoy yang kaget, Arumugam dan Ah Meng pun tidak luput juga darinya.

"Cici Ko, lu bukannya ahli pasukan Tengkotak ho?" tanya Ah Meng heran bercampur curiga.

"Hrm," Cici Ko menatap pemuda itu tajam. "Ini bukan hak korang menghabisi nyawa orang lain. Baik korang mundur sekarang juga! Probe, Papa Zola dan J-Rex, sila serang diorang. Saya sudah habiskan setengahnya tadi. Sekarang giliran Anda semua."

"O-oo-ooo ... bukan macam tu, wahai Alien cilik. Tapi ... TRIO TRENDY KEBENARAN YANG AKAN BELASAH DIORANG! AYOOOO!"

"Um!" Tok Aba dan Iwan mengangguk, bersiap dengan Jam-Jam kekuatan mereka, begitu juga dengan Papa Zola dan J-Rex. Probe segera berubah menjadi Mega Probe dengan Adu Du sebagai kendalinya.

"AJAR DIORANG! HIAAAAHHH!"

Segera saja mereka menghabisi pasukan RAS dan TAS yang jumlahnya hanya setengah itu. Tak lama kemudian, Arumugam dan Ah Meng terpaksa menarik sisa kedua pasukan mereka untuk mundur. Tanpa diduga, mereka tahu-tahu langsung melompat ke udara dan mendapati diri mereka sudah berada di dalam sebuah Helikopter. Kedua pemuda itu menatap lawan-lawan mereka yang berada di bawah satu demi satu. Terutama Cici Ko. Ah Meng tersenyum getir lalu menggumam.

"Ini bukanlah terakhir kali kita bertatap muka. Jaga korang!"

Detik berikutnya, Helikopter itu melesat ke atas. Probe buru-buru menembakkan beberapa misil ke arah Helikopter itu. Namun hasilnya nihil. Helikopter yang membawa Ah Meng dan Arumugam tahu-tahu sudah hilang dari pandangan mereka, membuat mereka ternganga.

"Lawan macam apakah iniiii?!" tukas Papa Zola bingung "Ckckck, boleh hancur masa depan kalau budak-budak macam mereka membuat kerusakan di Alam Semesta."

"Hahh, tak payah lah urusi diorang tue, Papa Zola," kata Tok Aba seraya tersenyum. "Yang lagi penting, kita dah diselamatkan oleh Cici Ko. Nah, ini dia- ehh?"

Pria lanjut usia itu baru menyadari kalau Cici Ko sudah tidak ada bersama mereka.

"Aneh betul," gumam Adu Du. "Kejap-kejap muncul, kejap-kejap hilang. Macam tak betul lah Cici Ko ni."

Probe terhenyak. 'Ja- Jangan-jangan... dia HANTUUUUUU!"

"Oi! Mana ada Hantu kat dunia ni?"

"Hehehe- sori, Encik Bos. Aku takut je tadi."

Ray merenung. "Anda betul, Tuan Adu Du," gumamnya heran. "Tiba-tiba sahaja dia muncul dan selamatkan kita dari pasukan musuh. Tapi Apa hubungannya Cici Ko dengan semua ini? Awalnya dia ahli pasukan Tengkotak. Tapi sekarang, dia bantu kita pulak. Menarik. Aku kena cari tahu apa sebab dia buat benda macam tu nanti."


(Kembali ke BoBoiBoy dan teman-temannya)

BoBoiBoy dan Mila menatap tubuh Rosaline yang sudah babak belur itu. Fang mendekati mereka sembari memapah tubuh rusak Ochoboy. Mila menyadari itu, menoleh ke arah Fang dan segera menghampiri. Fang paham maksud Mila. Pelan-pelan dibaringkannya tubuh Ochoboy di hadapan gadis itu. Seperti yang ia duga, Mila langsung menangis di depan tubuh rusak Cyborg Sfera kuasa generasi kesembilan sembari terisak-isak pilu.

"Ochoboy, bangun. Jangan tinggalkan aku, huhuhu..."

Mau tidak mau, BoBoiBoy dan Fang ikut terenyuh juga melihat kesedihan teman baru mereka ini. Walaupun umur mereka masih terbilang muda untuk memahami hubungan Ochoboy dan Mila, namun mereka tahu ini bukan kesedihan yang main-main. BoBoiBoy perlahan merosot mendekati Mila, hendak menenangkan gadis itu. Namun Fang tiba-tiba menepuk bahunya dari belakang seraya menggelengkan kepala.

"Ini urusan Mila dan Ochobot, BoBoiBoy. Tak payah kau interupsi diorang," katanya mengingatkan.

BoBoiBoy tersentak sedikit, tapi akhirnya ia mengangguk. Tidak baik mengurusi perempuan yang baru saja dirundung kesedihan seperti Mila. Bisa-bisa mereka kena imbas kalau menginterupsi perempuan yang perasaannya sedang kacau balau. Sebagai gantinya, BoBoiBoy menoleh ke arah Rosaline yang ternyata sudah berdiri di atas kedua kakinya walaupun sedikit gemetar karena menahan sakit di sekujur tubuhnya akibat serangan bertubi-tubi BoBoiBoy dan Mila tadi. BoBoiBoy langsung menatap perempuan itu dengan tatapan sedingin es.

"Kau dah kalah, Rosaline," ujarnya dengan nada setajam pisau. Rosaline terkekeh sebentar seraya menyeka setetes darah yang keluar dari sudut bibirnya. Dengan terhuyung ia berusaha berdiri. Tepat saat itulah Gopal, Yaya, Ying, Lahap, Papa Zola dan teman-teman mereka menghampiri mereka.

"BoBoiBoy!" mereka berseru. Namun mereka tertegun melihat kondisi Ochoboy yang sudah rusak, membuat mereka mematung dengan segera.

"Ja- Jangan cakap... kalau Ochobot dah tinggalkan kita lagi..." ucap Yaya terbata-bata. Ying yang berada di sebelahnya terisak. Buru-buru Yaya merangkul teman Cina-nya itu, berusaha menenangkannya. Gopal menggigit bibir, menahan tangis. Namun pada akhirnya, air matanya meleleh juga ke pipinya yang tembem itu. Semuanya memandang empati. Fang menutup matanya, berusaha menenangkan diri. Walaupun ia tidak mengeluarkan suara tangisan, namun jelas sekali air mata mulai luber dari kedua matanya yang terpejam.

"Ini semua salah kau, Rosaline," desisnya berang. "Kau dah hapuskan Abang aku. Dan sekarang kau dah hancurkan kawan aku! Apa yang kau mahukan sebenarnya, Hah?!"

"Sudah, Fang. Kau jangan emosi lagi," ucap BoBoiBoy segera. "Ini sudah terjadi. Tidak ada yang bisa kita perbuat sekarang."

Fang mendengus. Ucapan temannya itu ada benarnya juga. Ia terpaksa menahan diri. Karena bagaimana pun juga, sifat kejam Rosaline itu bermula dari trauma masa lalu wanita itu. Tapi tetap saja pemuda berambut ungu landak itu masih menyimpan rasa kesal. Ia tidak habis pikir... bisa-bisanya Rosaline menimpakan kekalutan ini pada dirinya dan teman-temannya. Dilihatnya Rosaline terkekeh miris hingga wanita itu tertawa selepas-lepasnya di hadapan mereka semua.

"Dey, dia gila ke?" ucap Gopal heran. "Tak de benda yang lawak, dia gelak pulak!"

Rosaline tersenyum. "Hahaha, aku tidak peduli, anak muda. Memang lah kesengsaraan korang ialah benda terlawak sepanjang masa, HAHAHAHAHAAA! Korang ingat... uhuk-!... budak macam korang... boleh kalahkan aku?!"

Tepat setelah ia mengatakan itu, sebuah aura hitam raksasa muncul di belakangnya, membentuk sebuah sosok hitam kemerahan yang mengerikan. Tingginya mungkin sekitar empat meter. Jika diperhatikan dengan seksama, penampakan sosok itu mirip dengan Rosaline. Hanya saja sosok itu terbuat dari aura hitam kemerahan yang meluap-luap dari tubuh Rosaline, ditambah dengan beberapa kelopak bunga mawar merah gelap yang mengelilinginya. Dan sosok itu benar-benar mengingatkan Gopal akan Kuntilanak, membuat anak itu langsung memekik ketakutan setengah mati.

"GYAAAAAAAAA! Be- Benda apa tu?!" ujarnya dengan tubuh gemetar karena ketakutan. BoBoiBoy dan Fang segera pasang siaga, begitu pula Yaya dan Ying. Mila mendekap tubuh Ochoboy seraya pasang pertahanan. Mereka menelan ludah melihat monster yang terbuat dari aura hitam kemerahan milik Rosaline itu.

"Apa... Apa yang kau nak buat lagi, Hah?!" bentak Fang geram. Rosaline tersenyum sinis melihat reaksi pemuda itu. Monster raksasa aura hitam yang begitu mirip dengan dirinya menjulang tinggi di belakang punggungnya. Perlahan namun pasti, ia masuk ke dalam tubuh monster itu seraya tertawa nista.

"Ini belum selesai, budak-budak payah. Korang belum tengok lagi kuasa terhebat aku," tukasnya dengan senyum hambar. "Monster ini terbuat dari seluruh kuasa yang aku serap dahulu, dan juga terbuat dari 'Aura hitam' daripada tubuh aku. Korang tak kan bisa hentikan aku. Saksikanlah Kuasa sebenar terkuat aku: MAWAR LIAR!"

"HAH?!"

Rupanya sosok monster yang terbuat dari aura gelap Rosaline itulah kekuatan terbesar Rosaline: Mawar Liar. Sama persis dengan nama kode wanita Succubus itu. Mila melihat kelopak-kelopak mawar merah hitam yang beterbangan di sekeliling Mawar Liar. Sekonyong-konyong ia tersentak kaget dan berseru pada teman-temannya.

"Kawan-kawan, jaga-jaga! Korang jangan sampai terkena sentuh dengan kelopak-kelopak Mawar tu!"

"Eh? Memangnya ada apa, Mila?" tanya BoBoiBoy kaget sekaligus heran. Mila meringis sebentar lalu menjelaskan.

"Aku dah pernah tengok Bunda aku gunakan kuasa Mawar Liar, walaupun cuma sekali je. Dia memang jarang sangat gunakan kuasa tue. Tapi Mawar Liar ialah kuasa dia yang terkuat! Monster itu boleh gunakan kuasa-kuasa yang sebelumnya telah diserap Bunda aku dan menggunakannya dengan tenaga yang lima kali lagi besar daripada kuasa Bunda aku. Dan salah satu yang berbahaya darinya ialah kelopak-kelopak Mawar yang ada disekitar dia. Kalau korang terkena kelopak-kelopak tue, jangan harap korang boleh bergerak sesuka hati korang! Kelopak-kelopak tue boleh lambatkan kepantasan sebab mereka boleh serap tenaga korang walaupun dalam jumlah kecil. Korang kena jaga-jaga!"

"Begitu ke?" gumam BoBoiBoy sembari mangut-mangut. "Okey! Kalau macam tue, kita kena-"

"NAGAAA BAYAAAAANGGG!"

"Heee?"

Tanpa mereka sadari, Fang ternyata sudah menyimpan tenaganya untuk menciptakan Naga bayangan: salah satu senjata terkuatnya. Pemuda itu berdiri di atas gerbang beton gedung markas Organisasi seraya berkonsentrasi penuh. Langit mulai gelap. Tak lama kemudian, sesosok naga khas timur yang terbuat dari bayangan melayang turun dari angkasa dan mengaum dengan suara yang menggelegar.

"GROOOOOOOAAAAAAAAAARRRR!"

"Wuahh- Terbaiklah, Fang!" puji BoBoiBoy seraya memberikan Ibu jarinya ke arah temannya. Rosaline yang sudah berada di dalam tubuh Mawar Liar mendecih kesal lalu berteriak lantang.

"Jangan mimpi korang boleh belasah aku guna Naga tu. Saksikanlah: NAGA BAYANG BERAPI!"

Disaat yang bersamaan, muncul sesosok Naga khas barat yang juga terbuat dari bayangan. Sayap raksasanya membentang di kanan-kiri. Fang terperanjat melihat itu. Perkataan Mila benar apa adanya. Bukan hanya kekuatan Naga bayangan Rosaline yang lebih kuat sepuluh kali lipat, namun tubuh Naga itu sangat besar dibandingkan dengan Naga bayang milik Fang. Mungkin kalau diibaratkan, Naga bayangan milik Rosaline adalah bola Basket sementara Naga bayangan milik Fang adalah bola Kasti. Bisa dibayangkan alangkah besarnya Naga itu. Dan parahnya, Naga itu bisa menyemburkan api! Fang sadar kalau Rosaline menciptakan Naga itu dari kekuatan bayangannya dan kekuatan api milik BoBoiBoy Blaze. Dan ia pun mengutuki dirinya sendiri karena baru menyadari kalau ia dan Blaze seharusnya sedari dulu sudah bisa mengkolaborasikan kekuatan mereka menjadi Naga bayangan yang bisa menyemburkan api seperti di dongeng-dongeng.

"Cih, ini tidak baik. Kenapa aku baru sedar kuasa Naga bayang boleh jadi macam tu?" gumamnya kesal. "Serang dia, Naga bayang!"

"GRAAAAUUUUURR!"

Naga bayang Fang melesat menuju Naga bayang Rosaline. Namun Naga bayang Rosaline segera menyemburkan apinya ke arah Fang. Fang mengelak dan dengan susah payah mengontrol kembali Naga bayangannya hingga akhirnya ia benar-benar kelelahan. Ying sadar kalau mereka juga harus bertindak, ditambah BoBoiBoy yang tenaganya terkuras habis setelah ia dan Mila melawan Rosaline tadi. Gadis itu lalu mendekati Tok Aba.

"Tok Aba, bagi saya jam kuasa tu!"

Tok Aba segera tanggap. Beliau tahu kalau inilah saatnya memberikan jam kekuatan manipulasi waktu itu ke pemilik sebenarnya. Dengan sumringah, Ying menerima jam itu dan memasangkannya ke pergelangan tangannya kembali. Yaya dan Gopal melihat apa yang dilakukan teman mereka itu dan saling menganggukkan kepala. Yaya menghampiri Papa Zola yang saat itu mengenakan jam kekuatan manipulasi gravitasinya dan Gopal menghampiri Iwan yang saat itu mengenakan jam kekuatan manipulasi molekulnya. Yaya meminta jam kekuatan gravitasi itu dengan hati-hati.

"Cikgu Papa, bagi saya jam kuasa tu," pintanya, membuat Papa Zola terhenyak.

" Huhuhuu- tak nak lah. Cantik wo jam ni. Pink gitu!" ucapnya memelas, membuat anak-anak muridnya kesal.

"Bagilah, Cikgu!" seru mereka kesal, membuat Papa Zola kekeran dan sadar kalau jam kekuatan gravitasi itu memang bukan miliknya.

"Ha, Ha, Okey, Okey, Ambik ni," katanya seraya tersenyum lalu memberikan jam kekuatan itu pada Yaya.

Tidak seperti Papa Zola, Iwan tanpa babibu langsung melepas jam kekuatan manipulasi molekulnya dan menyerahkannya pada Gopal.

"Nah, Gopal. Ini jam kuasa kau," ujarnya dengan suaranya yang 'Macho'. Dengan senyum mengembang Gopal segera menyambar jam kekuatannya dari tangan teman sekelasnya yang bertubuh paling pendek itu.

"Terima kasih, Iwan!" balasnya senang lalu segera memakainya di pergelangan tangan kirinya dan menyusul teman-temannya untuk menghadapi Rosaline dan Mawar Liar. Rosaline menyadari dirinya sudah terkepung. Namun dengan Mawar Liar, dia merasa tidak perlu khawatir dengan serangan anak-anak itu.

"Hmm, usaha yang bagus. Tapi aku tak kan kalah dengan mudah!" ucapnya seraya mengendalikan Naga bayangannya dari dalam tubuh Mawar Liar. "SERANG DIORANG!"

BUUUUUSSSSSSHHH!

Naga itu menyemburkan api ke arah Yaya, Ying dan Gopal. Yaya segera terbang menghindar. Ying melambatkan waktu agar semburan api itu tidak langsung mengenai dirinya sementara Gopal mengubah tubuhnya menjadi sejenis bahan tahan api. Fang berusaha menghentikan naga itu dengan naga bayangannya. Namun ia heran karena tubuhnya tahu-tahu tidak bisa bergerak. Ia mendelik ke tubuhnya sendiri dan tertegun. Beberapa kelopak Mawar merah dan hitam mengelilingi tubuhnya. Anak itu tersentak kaget. Ia lupa kalau kelopak-kelopak Mawar milik Mawar Liar itu bisa melambatkan tubuhnya. Langsung saja ia ambruk diatas gerbang beton gedung markas pusat Organisasi tersebut dengan nafas tersengal-sengal.

"Fang!" Mila dan BoBoiBoy memanggil teman mereka itu, cemas. "Kau tak pe kah?"

"Ugh- apasal aku tak tengok kelopak-kelopak tue?" desis Fang kesal lalu mendelik ke arah BoBoiBoy dan Mila. "Tak payah korang risaukan aku. Ying, Yaya dan Gopal dalam bahaya. Korang kena tolong diorang sekarang. Aku boleh atasi kelopak-kelopak tu."

"Ba- Baiklah," tukas Mila. Ia menatap Ochoboy sekali lagi lalu hendak berdiri. Namun tangan BoBoiBoy tiba-tiba menghadangnya.

"Biar aku yang uruskan ini, Mila. Kau jaga Ochobot," kata pemuda cilik itu, membuat Mila melongo.

"Tapi keadaan kau masih teruk lah," protes temannya. Ia hendak menolak, namun tatapan sang pengendali elemen membuat Mila terkesiap juga.

"Tak pe. Aku masih ada Alternatif lain," kata BoBoiBoy. "Kau duduk sini dengan Ochobot dan Papa Zola serta yang lain. Aku akan bantu Ying, Yaya dan Gopal. Dan yang lagi penting, Aku akan hentikan Bunda kau. Aku janji."

Setelah mengatakan itu, BoBoiBoy mengepalkan tangannya yang terpasang jam kekuatan elementalnya. Jam itu bersinar terang, bersamaan dengan munculnya sebuah lingkaran cahaya raksasa yang berada tak jauh di atas BoBoiBoy. Lingkaran itu bertatahkan tujuh simbol dengan warna yang berbeda-beda bak pelangi. Detik berikutnya, BoBoiBoy melompat dan masuk ke dalam lingkaran cahaya itu dan berteriak kuat-kuat.

"BOBOIBOY KUASA TUJUH!"

Segera lingkaran cahaya itu pecah dan mengeluarkan tujuh sinar yang mendarat di sekeliling Rosaline dan Mawar Liar, mengepung mereka dan menangkis semburan api naga bayangan milik Rosaline yang hendak mengenai Ying, Yaya dan Gopal. Spontan Fang, Yaya, Ying dan Gopal terkagum-kagum melihat BoBoiBoy menggunakan kuasa tujuh elementalnya itu setelah sekian lama tidak digunakan pasca Insiden Tengkotak satu setengah tahun yang lalu.

"BoBoiBoy beraksi kembali!" pekik Gopal gembira. "Aku jadi kesian dekat Rosaline tu."

"Wey, lu tak sedar kah apa yang lu cakap tadi ho?" Ying langsung menyikut teman India-nya itu keras-keras, membuat Gopal menjerit kesakitan.

"Dey, itu cuma kiasan kalau BoBoiBoy memang hebat lah!" ujar Gopal kesal.

"Sudah! Sudah!" Yaya segera melerai mereka. "Nasib baik BoBoiBoy nak tolong kita. Kalau tak, dah habis kita dibelasah Rosaline tadi."

Mila merasa mulutnya menganga lebar melihat ketujuh pecahan elemental BoBoiBoy itu. Dalam hati ia berpikir: Sebenarnya berapa sih kekuatan Elemental BoBoiBoy itu? Awalnya Tiga, lalu Lima, dan sekarang TUJUH?! Apa kata dunia?!

Bukan hanya Mila yang terkaget-kaget melihat ketujuh pecahan elemental BoBoiBoy. Rosaline pun tidak luput dari rasa kaget tersebut. Tahu-tahu salah satu pecahan BoBoiBoy yang mengenakan kacamata berwarna jingga keemasan berseru, membuyarkan keheningan di tempat itu.

"Kau mungkin boleh belasah harga diri Abang-abang kami," ucapnya sembari menaruh tangan kanannya di kacamatanya seperti gaya Papa Zola. "Tapi kau tak kan bisa mengalahkan kami yang penuh Aura Kehenseman ini. Lampu sorot, Nyalakan!"

JRENG! JRENG!

Entah karena kerasukan apa, pecahan BoBoiBoy yang memakai kacamata superstar itu memanggil lampu sorot dari langit, menyinari tubuh bocah itu dengan sinarnya. Tindakan itu segera membuat pecahan-pecahannya yang lain melongo hebat.

"Ei'? Kita nak buat acara talk show live ke berlawan?" tanya Taufan heran.

"Entah," ucap Blaze mengangkat bahu. "Dia ingat ini macam studio TV ke?"

"Umm, Solar. Boleh ke kau hentikan solekan kau tu?" salah satu pecahan BoBoiBoy yang memakai baju serba hijau muda dan hijau tua dan mengenakan beberapa atribut berduri di kedua tangannya menegur pecahannya yang memakai kacamata dan menggunakan lampu sorot yang entah darimana sumbernya. "Rosaline mulai tengok kitorang pakai pandangan aneh macam tu pula. Kita kena lawan dia sebelum dia hancurkan alam ini!"

Pecahan BoBoiBoy yang bernama Solar itu menyeringai kecil. Namun ia segera kembali ke sikap 'kalem tapi keren' miliknya seraya berucap.

"Okey, Okey. Atas permintaan peminat, Kami: BOBOIBOY SOLAR DAN BOBOIBOY THORN AKAN MENGHUKUMMU WAHAI PENGHANCUR SUASANA!"

Ia mengatakan itu sembari menuding Rosaline dengan sikap tubuh yang menurutnya keren tersebut. Rosaline teperangah melihat itu. Tahu-tahu senyum licik menghiasi bibirnya. Ia tertawa kecil.

"Ahh- Korang pecahan baru lagi ke?" tanyanya dengan nada suara yang mendekati kesan menjijikkan. "Boleh, boleh juga. Lumayan lah. Aku belum dapatkan korang berdua pula tu, hehehehehe."

Mendengar kalimat Rosaline tersebut membuat pikiran kelima pecahan BoBoiboy sebelum Thorn dan Solar langsung dihinggapi firasat buruk.

"Hiiihhh, tamaknya!" desis Halilintar. Dia nyaris mimisan mendengar nada menggoda Rosaline. "Dah lah kita berlima yang dia belasah, masih nak kan Thorn dan Solar pulak! Jangan berani kau sentuh mereka, Puan Pedofil!"

Thorn terkekeh. "Jangan risau, Hali. Dia tak kan boleh sentuh kami. IKATAN AKAR! HEAAAAAHHH!

Serta-merta beberapa sulur berduri muncul dan menerjang ke arah Mawar Liar dan segera mengikat monster itu erat-erat.

GRAAAAAKKKK!

"Argh! Korang... Korang berdua ni memang nak cari pasal dekat aku!" tukas Rosaline marah. "Aku akan buat korang menyesal. CENGKAMAN FIKIRA-"

"Heh, jangan harap!" ujar Thorn kesal. "Sekarang, Solar!"

"Okey!" Solar mengangkat satu tangannya ke langit dan menimpakan sinar yang kelewat menyilaukan darinya dan berseru.

"SILAUAN ILMU PENGETAHUAN!"

Krikk... Krikk... Krikk... Krikkk...

Seperti namanya, Sinar itu hanya membuat semua mata yang ada disitu mengalami kesilauan belaka, tidak ada efek kerusakan sama sekali. Papa Zola melindungi kedua matanya dengan satu tangan sambil marah-marah.

"Heiiii! SILAU CAHAYA APAKAH INIIIII?! Siapa yang menyalakan lampu siang-siang bolong ni, Haaaaahhhh?!"

"Err ... Papa Zola, sekarang sore lah, bukan siang," ucap Probe memperbaiki ucapan guru nyentrik itu.

"Siang bolong ke sore bolong ke, itu urusan kamu, bukan urusan saya! Padamkan lampu tu segera!"

Mendengar keluhan gurunya itu, Ice segera berseru pada Solar.

"Oi, kau nak buat Rosaline tu silau je kah?"

Solar tersengih mendengar itu. "Ups? Salah eh? Sori," ucapnya malu-malu. "Okey! Kali ini, aku tak kan main-main lagi. Terimalah ini!"

Sang pengendali Cahaya mengubah kuda-kudanya dan memfokuskan pandangannya pada Mawar Liar, khususnya terhadap Rosaline yang berada di dalam tubuh monster yang tingginya empat meter itu. Kedua matanya mengeluarkan sinar putih sebelum akhirnya ia berteriak lantang.

"Rasakaaaannn: TEMBAKAN SOLAAAAARRRRR!"

ZIIIIIIINGGGGGGG!

Tembakan cahaya itu melesat menuju Rosaline. Wanita itu kaget sekali. Buru-buru ia dan Mawar Liar melindungi diri mereka dengan menangkis sinar itu menggunakan kedua tangan mereka. Tanpa diduga, kedua tangan Mawar Liar hancur terkena sinar itu, membuat Rosaline terkejut. Mawar Liar segera mengeluarkan erangan kesakitan yang berisik sekali.

"A- APA?! Bila masa kau boleh hancurkan tangan dia?!" ujarnya heran bercampur marah. "Tak boleh diampuni!"

"Hmp, justru kau yang tak boleh diampuni, Rosaline," ujar Gempa lalu menoleh ke arah Taufan. "Sekarang, Taufan!"

"Okey! SEDUTAN MEGA TAUFAN!"

"APA?!"

Belum lepas dari rasa kaget, Rosaline merasa tubuhnya dan Mawar Liar berputar-putar di udara. Rupanya Taufan telah menerbangkannya dengan tornado raksasa yang menghisap tubuhnya serta Mawar Liar hingga berpusing ria di dalam angin raksasa yang terputar-putar itu. Blaze tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia melompat dan menaruh kedua tangannya di sekitar mulutnya, membentuk corong.

"Giliran aku pulak! NAFAS BERAPI MAKSIMA!"

BLAAAAASSSSSHHHHH!

"AAAAAAGGGGHHHH!"

Angin tornado yang membawa Rosaline dan Mawar Liar langsung berubah menjadi pusaran api neraka. Serangan itu menghancurkan Mawar Liar seluruhnya, namun masih menyisakan tubuh Rosaline yang merasa kulitnya terbakar hebat di dalam sana. Ice segera mengarahkan meriam pembekunya ke arah angin tornado api raksasa itu.

"Ini balasan akibat perbuatan kau terhadap kami, Rosaline," ucapnya dingin. "TEMBAKAN BONGKAH AIS!"

WUUUUUUSSSSSSHHHH!

Dalam sekejap, angin tornado berapi itu membeku, begitu pula Rosaline yang berada di dalamnya. Gempa dan Giga menyiapkan tinju mereka dan memukul tornado yang membeku itu hingga hancur berkeping-keping.

"Rasakan ni! TUMBUKAN GIGA!"

DUUUUUAAAAAKKKK!

"UAAAAAAGGGGGHHHHH!"

BRAAAAAKKKKK!

Tubuh Rosaline menghempas gerbang beton gedung markas pusat, nyaris meruntuhkannya. Namun sebelum tubuh lunglai Rosaline merosot ke bawah, beberapa sulur berduri muncul di sekitarnya dan mengikatnya kuat-kuat.

"AKAR BERDURI!"

Rosaline mendelik. Tampak Thorn yang melilit tubuh wanita itu hingga tubuh Rosaline tertusuk dengan duri-duri sulurnya. Mulut wanita itu membuka, hendak memaki sang pengendali tumbuhan. Namun itu tidak terjadi setelah ia merasa tubuhnya disengat listrik sekian ribu volt. Halilintar sudah terlebih dahulu menancapkan tombaknya ke gerbang beton dimana Thorn menahan tubuh Rosaline dan mengalirkan kekuatannya ke tubuh ratu succubus tersebut.

"TUSUKAN TOMBAK HALILINTAR! HEAAAAAAHHHHH!"

"AAAAAAAAAAAHHHHHHHHH!"

Rosaline merasa dirinya nyaris hancur. Ia berpikir untuk menggunakan kekuatan serapan energinya, namun sebelum ia sempat berbuat sesuatu, sebuah teriakan ditujukan pada dirinya.

"Jangan harap kau boleh dapatkan aku dan Thorn, wahai perempuan durjana."

Rosaline mematung melihat Solar mulai mengeluarkan sinar putih dari kedua matanya lagi. Untuk kesekian kalinya, perempuan itu membentak.

"BERANI KAU SERANG AKU LAGI, HEH?! HIAAAAHHH!"

Thorn mendesis panik begitu merasa cengkeraman sulurnya pada Rosaline mulai terlepas. "SOLAR, CEPAT! Aku tak boleh tahan dia terlalu lama!" pekiknya. Solar hanya tersenyum tenang menanggapi itu dan bergumam ke arah Rosaline.

"Ini mungkin perjumpaan awal dan sekaligus perjumpaan terakhir kita, Rosaline. TEMBAKAN ULTRA SOLAAAAARRRRR!"

SRRIIIIIIIINGGGGGG!

"UAAAAAAARRRRRGGGHHHH!"

Tembakan itu mengenai tubuh Rosaline yang sudah tidak berdaya. Wanita itu menjerit kuat-kuat. Tak lama kemudian, tubuhnya menghilang diantara tembakan sinar itu.

KABOOOOOOOOOMMMMMMMM!

Ledakan dashyat tercipta setelah lenyapnya tubuh Rosaline. Semua pecahan BoBoiBoy berusaha semampu mereka agar tidak sampai terlempar akibat ledakan itu, begitu pula Yaya, Ying, Gopal dan Fang. Mila mendekap tubuh Ochoboy erat-erat agar tidak ikut terjungkal. Ledakan itu berlangsung sekitar lima menit. Begitu ledakan itu berakhir, Gopal mengerjap-erjapkan matanya diantara asap yang bercampur kelopak-kelopak bunga mawar hasil ledakan yang menutupi seluruh halaman gedung markas pusat Organisasi.

"Dah... Dah habis ke?" tanyanya. Samar-samar dilihatnya tubuh BoBoiBoy yang sudah kembali ke wujud semula. Tubuh BoBoiBoy tampak terhuyung akibat kelelahan menggunakan kuasa tujuh. Segera Gopal berlari ke arah anak itu dan menopang tubuhnya.

"BoBoiBoy! BoBoiBoy! Kau okey kah?" tanyanya cemas. Beberapa detik kemudian, BoBoiBoy membuka matanya. Ia mengerang kecil. Gopal membantunya untuk duduk. Yaya, Ying, Fang dan Mila dengan Ochoboy di pelukannya segera menghampiri mereka.

"BoBoiBoy! Kita dah berjaya tau," ujar Yaya senang. "Rosaline dah kalah sebab serangan kau. Dia tak kan boleh ganggu kehidupan kita lagi."

BoBoiBoy terhenyak. "Eh, iya ke?" tanyanya lemah. Matanya menangkap sosok Mila yang mengambil salah satu kelopak Mawar yang berjatuhan di sekeliling mereka pasca ledakan tadi dengan wajah sedih. Tiba-tiba saja pemuda bertopi dinosaurus itu dihinggapi rasa bersalah, karena toh bagaimanapun juga, Rosaline adalah ibu dari Mila. Jelas-jelas BoBoiBoy yang menghabisi Rosaline tadi. Ia menatap gadis itu dengan gugup.

"Mila, ma- maaf," katanya menyesal. "Aku tak bermaksud untuk hapuskan Bunda kau. Tapi kau tahu sendiri kita tak de cara lain. Maafkan aku."

Gadis Succubus itu menoleh ke arahnya seraya tersenyum kecil. "Tak pe, BoBoiBoy. Aku maklum," katanya lembut. "Aku memang sedih sebab Bunda dah tak de lagi. Tapi setidaknya kita dah usaha untuk sedarkan dia, betul tak? Semoga ini tak kan terjadi lagi."

"Semoga," balas BoBoiBoy lega. "Dan semoga Ochobot bangga dengan kita semua," ucapnya sendu begitu melihat tubuh rusak Ochoboy yang dipapah Fang. Lahap mendekati mereka seraya mendesah panjang.

"Tak sangka kau berjaya hapuskan musuh terkuat dari ONION, BoBoiBoy," katanya. "Kau patut untuk menjadi pelindung Bumi- ah, bukan. Kau patut untuk menjadi pelindung semua makhluk yang baik. Tahniah, BoBoiBoy. Aku pon senang sebab kejayaan kau ni. Dan sekarang, mari kita rehat. Dan mungkin Ochobot boleh aku periksa dulu."

"Aik? Buat apa, Uncle Lahap?" tanya Ying.

"Hmm ... aku tengok dulu apakah dia masih bisa diperbaiki ke tak," ucap Alien ungu tersebut. "Dah lah. Semuanya sudah naik ke kapal angkasa. Korang je yang belum. Jom masuk. Di dalam kita pun akan berunding apa rancangan kita selanjutnya."

"Okey!"

Mereka pun mengikuti Lahap ke bawah pesawat angkasa Kapten Kaizo. Namun sebelum masuk ke dalam, BoBoiBoy melihat sesuatu di bawah gerbang beton dimana Rosaline dihabisi oleh pecahan-pecahannya tadi. Tahu-tahu ia berbalik dan beralih kesitu, membuat Gopal yang berada di sebelahnya terkejut.

"BoBoiBoy! Mana kau nak pergi?"

"Kejap. Ada benda aku nak ambik." ucap BoBoiBoy cepat-cepat. Ia pun melihat benda di bawah gerbang beton itu: Sebuah kotak rekaman. Rupanya benda itu jatuh dari tubuh Rosaline setelah wanita itu dihabisi. Sang pengendali elemen membolak-balik kotak rekaman tersebut, menelitinya.

'Pelik. Apasal Rosaline punya kotak rekaman ini?' gumamnya dalam hati. BoBoiboy merasa benda itu mungkin berguna nanti. Cepat-cepat ia mengantongi kotak rekaman itu dan berjalan menyusul teman-temannya masuk ke dalam pesawat angkasa Kapten Kaizo.


Lantai sembilan puluh Gedung markas pusat ONION, 27 Juli 2014 pukul 17:05

Mimi dan Syrena membawa tubuh Kaizo ke Laboratorium di belakang Istana Boneka. Setelah menaruh tubuh pria itu di atas sebuah meja ekseprimen di Lab itu, Mimi langsung menjatuhkan dirinya di lantai seraya mengontrol nafasnya, terengah-engah.

"Penatnya," desis gadis itu. "Tak sangka sukar betul hadapi Alien ungu bawahan Abang Kaizo dan kawan-kawan baru BoBoiBoy daripada Pulau Rintis."

Syrena mendesah. Disandarkannya punggungnya ke dinding Lab sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya sebelum melayangkan pandangan ke arah Mimi.

"Tapi setidaknya kita dah berjaya ambil badan Kaizo, kan? Kan?" wanita itu tersenyum simpul. "Nasib baik Gaga Naz bantu kita tadi."

"Ehehe, betul juga apa yang kau cakap tu, Syrena. Maafkan aku sebab dah pesimis duluan."

"Tak payah minta maaf," tawa Syrena. Tiba-tiba ia merasa sesuatu yang buruk. Keringat dingin membasahi wajahnya, dan itu membuat Mimi heran.

"Kenapa kau?" tanyanya polos. Syrena tidak menjawab. Dipejamkannya kedua matanya. Urat-urat keras muncul di ujung dahinya. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu yang serius. Setelah berhasil menenangkan dirinya, dibukanya kembali kedua kelopak matanya lalu menatap Mimi dengan tatapan kosong.

"Sori, Mimi. Tapi aku macam rasa kalau Rosaline dah dihapuskan."

"Eh?"

Mimi terdiam sejenak mendengar itu. Spontan ia merasa sebuah kesenangan menjalar di hatinya. Akhirnya salah satu orang yang tidak disukainya telah hilang dari hidupnya. Namun Mimi merasa aneh karena pada saat yang bersamaan ia merasa ketakutan. Syrena mendesah, menunjukkan bahwa ia sedang stress.

"Dan kau tahu kan apa maknanya kalau Rosaline dah dihapuskan?" ujarnya tajam. "Maknanya kawan lama kau yang bernama BoBoiBoy dan koncro-koncro dia tu mestilah hebat sangat! Rosaline sahaja boleh diorang kalahkan, apalagi kita!"

"Alamak!" Mimi terkesiap kaget. "Betul juga. Apasal aku baru sedar sekarang? Tapi kau yakin ke kalau Rosaline dah tiada?"

"Aku yakin."

"Apa buktinya?"

"Tengok je kat halaman depan tu."

Mimi menuruti saran wanita itu. Diliriknya halaman depan gedung markas pusat dari atas jendela. Untuk kesekian kalinya ia terkejut. Tampak sisa-sisa pertarungan BoBoiBoy dan teman-temannya melawan Rosaline tadi. Gerbang beton di halaman gedung markas pusat itu juga nyaris ambruk. Mimi mulai merinding dan berpikir betapa dashyatnya pertarungan tadi. Syrena mendekatinya seraya tersenyum kecil.

"Dah percaya kan?" godanya. Mimi hanya mengangguk dengan kaku, dan bagi Syrena itu adalah interpretasi dari kata 'Iya'. Sekoyong-konyong perempuan Siren itu membalik badan dan berjalan menuju pintu Lab.

"Mana kau nak pergi, Syrena?" tanya Mimi.

"Ke bilik mandi," jawab lawan bicaranya singkat. "Nak mandi tau. Lengket badan aku selepas bertarung tadi. Kau sorang amacam? Tak nak mandi ke?"

"Mestilah aku nak mandi! Tapi nanti malam je lah."

"Hmm, baik kau jangan sering mandi malam, Mimi. Tak baik buat kesihatan tau. Jumpa lagi malam nanti."

"Jumpa lagi!"

Sepeninggal Syrena, Mimi menjauhi jendela dan menatap tubuh Kaizo. Mulut gadis itu tampak menyeringai kecil. "Jadi Abang Kaizo nak pakai baju apa nanti?" tanyanya senang. Mungkin dia akan disangka gila kalau Syrena masih ada disitu karena melihat Mimi bertanya pada 'mayat' yang notabene tidak akan mendengar pertanyaannya sama sekali. Gadis berbaju Lolita itu melesat ke lemari coklat besar yang berada di salah satu sudut Lab dan membukanya, menampakkan selusin baju bergaya barat dan timur. Ia lalu meraih sebuah jas tuxedo berwarna biru gelap sembari memekik riang. Ia bisa membayangkan Kaizo yang berdiri diam di salah satu bagian dari istana bonekanya dan memakai jas tuxedo tersebut. Tiba-tiba bunyi dering 'I'm Barbie Girl' dari ponsel chibi-nya membuyarkan imajinasinya akan penampilan Kaizo kalau sudah 'didandani' nanti.

"Hish, siapa yang telefon aku ni? Mengganggu betul!" gerutunya sambil merogoh kantung roknya dan mengambil ponselnya. Ditekannya tombol panggilan diterima dan menempelkan ponsel itu ke telinga. Serta-merta sebuah suara omelan terdengar darinya.

"Mimi, apa yang kau buat kat situ? Dah dua jam lebih aku tunggu kau! Kau tak ingat ke kalau ada benda aku nak bincangkan dengan kau dekat Lab Sfera Kuasa?"

Mimi tersentak dan pasang senyum cengengesan. "Alamak! Sori, Ah Ming. Aku hampir lupa benda tu, hehehe. Ada perkara teruk tadi, jadi aku lamban bagi tahu kau."

"Ye lah, Ye lah," jawab Ah Ming masih mengomel "Pergi ke Lab Sfera Kuasa sekarang. Jangan buat aku menunggu lagi. Ini benda penting, jadi kau kena tahu betul."

"Okey, Ah Ming. Aku akan pergi kesana sekarang. Bye!"

Ditutupnya ponsel itu dan memasukkannya ke kantung rok-nya. Mimi melihat jas tuxedo biru gelap yang berada tangannya lalu menatap tubuh Kaizo yang terbaring diatas meja eksperimen seraya menghela nafas panjang. Didekatinya tubuh Kaizo sembari terkekeh.

"Nampaknya aku tertunda sekejap untuk dandani Abang Kaizo," Gumamnya. "Tapi takpe. Nanti malam selepas saya bincang dengan Ah Ming, baru saya akan uruskan Abang, hihihi... jumpa lagi!"

Dengan ceria ia melambaikan tangan ke tubuh Kaizo dan pergi keluar Lab. Begitu pintu Lab itu ditutup, sekonyong-konyong dua sosok muncul di ruangan itu. Satu di belakang lemari dan satu dari bawah meja eksperimen dimana tubuh Kaizo dibaringkan. Sosok yang muncul di belakang lemari ternyata adalah Cici Ko. Ia pun berbisik ke sosok di bawah meja eksperimen.

"Aman. Kau boleh keluar sekarang, Motobot."

Sosok di bawah meja itupun keluar, menampilkan wujudnya: Sebuah Sfera Kuasa berwarna hijau dan kuning. Setang motor menempel di atas kepalanya. Kedua tangan dan kakinya terbuat dari roda. Matanya yang biru menyipit sebentar ke pintu itu, berjaga kalau-kalau Mimi akan kembali ke Lab itu lagi.

"Jadi apa yang kita kena buat sekarang, Komander?" tanya Sfera Kuasa yang bernama Motobot itu. "Macam mana kita hidupkan Kaizo balik?"

Cici Ko tersenyum. "Mesti ada jalan, Motobot. Janganlah risau," gumamnya lalu mengeluarkan sebuah kotak besar dari balik jubahnya. Dibukanya kotak itu. Isinya berupa berbagai macam alat yang bentuknya aneh-aneh. Cici Ko meraih sebuah alat yang mirip pinset berukuran agak besar dan melompat ke atas dada Kaizo sembari mengenakan sepasang sarung tangan operasi.

"Mari kita tengok apakah dia masih boleh diselamatkan ke tak."


Kapal Angkasa Kapten Kaizo, 27 Juli 2014 pukul 17:10

BoBoiBoy dan teman-teman Superheronya telah masuk ke dalam Pesawat Angkasa Kaizo. Papa Zola, Tok Aba, Ray dan Murid-murid kelas 7 Cerdas lainnya yang tengah beristirahat di Aula tengah segera menyambut mereka dengan tangan terbuka.

"BoBoiBoy, Cucu Atok! Kau takpe?" tanya Tok Aba seraya merangkul Cucunya erat. Tentunya pria tua itu khawatir sekali dengan keadaan BoBoiBoy yang semi-babak belur itu. BoBoiBoy membalas rangkulan Kakeknya itu dengan senyum.

"Alhamdulillah, saya baik, Tok Abu," katanya.

"Tok Abu?!" Tok Aba memekik tertahan. "Haish, pelupa kau muncul lagi. Tapi takpe. Asalkan kau selamat."

"Sebenarnya kita semua belumlah selamat." Lahap tiba-tiba menginterupsi mereka. "Ada satu benda yang aku, Ying, Yaya dan Gopal gagal perbuat tadi."

"Apa itu?" tanya Tok Aba dan BoBoiBoy bersamaan. Namun sebelum Lahap memberikan penjelasan lebih lanjut, Fang muncul di sebelahnya lalu bertanya.

"Leftenan. Ada benda aku nak tanya. Apasal badan Kapten Kaizo dah takde dekat bilik dia?"

"He- Eh?"

Tentu saja pertanyaan itu membuat semua yang ada disitu terkejut, kecuali Lahap, Gopal, Yaya dan Ying. Lahap menelan ludah. Ditepuknya bahu kiri Fang dengan perasaan gundah.

"Maaf, Pang. Tapi aku dan kawan-kawan kau gagal ambil badan Kapten balik," ujarnya menyesal. Tapi ekspresi muka Fang menunjukkan bahwa ia tidak mengerti dengan ucapan tangan kanan Kakaknya itu.

"Maksud engkau?"

"Mimi dan salah satu rakan dia datang kesini tadi. Dan kau tahu sendiri, mereka dah berjaya ambil badan Kapten Kaizo. Maaf, Pang. Tapi aku dan kawan-kawan kau takde daya buat hentikan mereka."

Fang merasa jantungnya melompat karena kaget. "Mi- Mimi?! Dia datang kesini tadi?!" jeritnya. "Gawat! Kalau dia dah buat badan Abang aku jadi patung manekin, maka habislah!"

BoBoiBoy yang hanya mendengar percakapan Lahap dan Fang secara samar-samar itu segera mendekati kedua Alien tersebut. "Ada apa?"

"Ini tidak baik," ucap Fang dengan wajah horor. "BoBoiBoy, kita kena masuk ke dalam gedung Markas ONION sekarang juga!"

"Hah?! Masuk ke gedung itu lagi? Kau nak masuk balik ke Sarang Harimau ke?" ujar Gopal ketakutan. "Kalau Rosaline dapatkan kita lagi macam mana?"

"Haiya, Rosaline dah takde maa," dengus Ying yang duduk di sebelahnya. "Apasal kamu masih takutkan dia meh?"

"Ying, kau tak ingat ke kalau Syrena sukakan Gopal?" Yaya berbisik pada gadis pengendali waktu itu. "Mila kata, Syrena dan Rosaline tu macam sebelas-dua belas. Mestilah Gopal pandang diorang macam sama je."

"Oh, ya kah? Hehe, terima kasih sebab dah buat saya faham, Yaya," ujar Ying cengengesan. "Eh, kejap. Mana Mila? Saya tengok dia tak de kat aula ni pon."

"Dik Mila ada dekat bilik lain bersama Ochobot," ungkap Lahap. "Mari saya hantarkan cik adik kesana."

"Okey."

Kedua anak perempuan itu meninggalkan Aula tengah pesawat angkasa Kaizo dan mengekori Lahap menuju sebuah pintu tak jauh dari Aula utama. Dibukanya pintu itu. Dibaliknya, tampak sebuah ruangan kecil yang mirip ruangan operasi. Beberapa mesin berteknologi canggih ada di setiap sudut. Di tengah ruangan itu terdapat sebuah tempat tidur logam. Terlihat Ochoboy yang terbaring di atas tempat tidur itu dengan beberapa kabel yang tersambung ke tubuh rusaknya. Di dekat tempat tidurnya ada Adu Du dan Probe yang tengah memeriksa tubuh Ochoboy secara detail serta Mila yang pasang tampang harap-harap cemas. Wajah gadis itu merah sembab. Rupanya ia baru berhenti dari tangisannya.

"Adu Du, Mila, Probe!" Yaya dan Ying segera menghampiri tiga Makhluk yang ada disitu. "Apa yang korang perbuat dekat sini?"

"Adu Du dan Robe nak cuba perbaiki Ochoboy balik," ujar Mila sendu. "Macam mana, Adu Du?"

Adu Du menoleh ke arahnya. "Hrm- nampaknya badan Cyborg Ochobot lagi kompleks dibandingkan badan Sfera kuasa dia," tukasnya dengan nada cemas. "Aku pernah tengok blueprint dia daripada salah seorang Ilmuwan yang bekerja di Lab Sfera Kuasa dahulu. Ilmuwan itulah yang membuat tubuh Cyborg Ochobot. Sayangnya aku tak salin blueprint tue selepas Planet Ata Ta Satu dimana para Cyborg Ultra Humanoid yang menjadi bakal daripada generasi Sfera Kuasa dihancurkan oleh Organisasi ONION lima tahun lepas. Semua data tentang maklumat Sfera Kuasa dah hilang selepas ONION menguasai Planet Ata Ta Satu."

Probe yang terbang di sebelahnya tampak berpikir. "Hmmm, apa kata kalau kita hubungi Bago Go?" usulnya. Alhasil, ia menerima lemparan gelas besi Adu Du untuk kesekian kalinya.

"Oi! Dia dah bagi kita J-Rex tu, dan sekarang kau nak mintak tolong kat dia pulak?" tukas Adu Du kesal. "Dah habis aku dengan penipu macam dia!"

"Sudahlah tu, Adu Du. Robe cuma bagi kau saran tau," kata Mila menenangkan teman lamanya. Adu Du hanya balas mendengus.

"Dah tu, kau nak-"

Kalimatnya terputus begitu melihat pintu ruangan itu terbuka. Tampak BoBoiBoy, Gopal dan Fang di ambang pintu tersebut.

"Eh? Apasal korang datang kesini?" tanya Yaya heran. BoBoiBoy masuk ke dalam ruangan itu dan memandang tubuh rusak Ochoboy. Ia hendak mengucapkan sesuatu, namun Mila lebih cepat.

"Sori, BoBoiBoy. Tapi kami belum dapatkan cara untuk perbaiki dia," ujarnya lesu. BoBoiBoy terkejut. Ia menghela nafas panjang.

"Aku harap Ochobot boleh hidup balik," ucapnya. Sekarang ia hanya bergantung pada keajaiban Tuhan apakah mau mengambil Ochoboy sekarang atau tidak. Fang menepuk pundak pemuda bertopi jingga itu.

"Jangan berhenti berharap, BoBoiBoy," katanya tegas. "Kau kena kuat. Aku pun sedih sebab Abang Kaizo dan Ochobot yang kena imbas daripada semua ini. Tapi kita kena berjuang."

BoBoiBoy tersenyum mendengar kalimat Fang itu. "Terima kasih," ucapnya lega. "Korang semua ni memang terbaik!"

"Ah, ya. Apa yang lu orang buat kat sini ho?" Ying mengulang kembali pertanyaan Yaya tadi, membuat BoBoiBoy, Gopal dan Fang ingat apa tujuan mereka datang ke ruangan itu.

"Oh, sori. Aku lupa pasal tu," tukasnya seraya mengusap belakang kepalanya, menyeringai. "Aku dan Gopal serta Fang sepakat untuk masuk balik ke dalam gedung Markas Organisasi ONION. Gopal cakap badan Kapten Kaizo diambil oleh dua ahli ONION tadi. Kita kena ambil badan dia balik. Korang nak sertai kitorang ke?"

Yaya mengangguk. "Mestilah aku dan Ying nak," katanya sumringah lalu menoleh ke arah teman Cinanya. "Betul tak, Ying?"

"Um!" Ying mengangguk antusias. "Dia juga bukan lah punya jahat ma. Jom kita tolong Kapten Kaizo!"

"JOM!"

"Aku pun akan ikut sekali." Tambah Mila," Korang kawan baik aku. Aku akan bantu korang, apapun yang terjadi."

"Okey lah kalau macam tu," ujar BoBoiBoy lalu menatap Lahap. "Tolong bagi tahu Cikgu Papa dan yang lainnya kalau kami masuk balik ke gedung markas ONION. Cakap kalau kami nak selamatkan Kapten Kaizo."

Lahap mengangguk. "Serahkan benda tu padaku," katanya segera lalu pergi ke Aula utama dimana Papa Zola, Tok Aba, Ray dan murid-murid kelas 7 cerdas beristirahat. BoBoiBoy dan teman-temannya pergi ke pintu keluar pesawat angkasa Kaizo menuju pintu masuk gedung markas ONION. Sebelum pergi, Mila menoleh ke arah Adu Du dengan wajah penuh harap.

"Aku serahkan Ochoboy pada kau, Adu Du. Oh, dan kau juga, Robe. Semoga berjaya," katanya sembari tersenyum mesra pada Alien hijau itu, membuat Adu Du terpana. Sepeninggal Mila dan teman-temannya, Probe menyikut atasannya itu.

"Encik Bos sukakan Milyra, ke?" godanya, membuat Adu Du tersentak kaget.

"Hoi, kitorang ni kawan je lah!" tukas Adu Du membela diri. Namun kedua pipinya terlihat memerah, membuat Probe terkekeh sebelum akhirnya tubuh piringnya kembali terbalik seratus delapan puluh derajat akibat terkena gelas besi lagi.

"Sudah! Memang tak betul lah Robot macam kau ni," tukasnya sebal. "Aku masih sukakan Kiki Ta lah, walaupun dia tak sukakan aku balik. Lagipun Mila tu dahulu bertunang dengan Ochobot. Mustahil aku nak hancurkan hubungan mereka."

"Err- tapi Encik Bos, Sfera Kuasa mana boleh punya anak?"

Adu Du terkesiap mendengar kalimat Probe itu. "Eh, betul juga," katanya heran. "Sfera Kuasa tu cuma robot. Mana boleh punya anak kalau lepas kahwin? Hah, dah lah! Pening kepala aku. Sekarang apa yang kita patut buat agar Ochobot hidup semula?"


Salah satu ruangan di lantai 50 gedung Markas ONION, 27 Juli 2014 pukul 17:12

"Agh! Sakit lah! Apasal kau tikam aku guna jarum-jarum ni?!"

"Haihh, lu kena sabar sikit maa. Teknik Akupuntur memang lah cam ni caranya."

Ah Meng tengah mengobati lebam-lebam di tubuh Arumugam menggunakan teknik Akupuntur pasca mereka diserang oleh Koko Ci tadi. Tubuhnya sendiri pun masih cedera. Tapi bagi Ah Meng, Kakak dan teman-temannya adalah segala-galanya. Dia lebih memikirkan mereka ketimbang dirinya sendiri. Dan karena itu, ia merasa trauma sejak BoBoiBoy meninggalkan mereka untuk pindah sekolah di Pulau Rintis dua tahun yang lalu. Tapi tentunya trauma yang dialami Ah Meng tidaklah separah Mimi, walaupun bisa diakui Ah Meng sendiri merasa cukup kesal dengan 'Ketidaksetiakawanan' BoBoiBoy terhadap dirinya dan juga teman-temannya.

Di pihak lain, Arumugam merasakan hal yang sama dengan Ah Meng. Bukan main murkanya pemuda berdarah India itu begitu mengetahui BoBoiBoy sudah melupakan dirinya dan teman-temannya di Kuala Lumpur. Ingin rasanya ia menginjak-injak tubuh mantan kawan baiknya itu hingga lumat. Apalagi setelah melihat BoBoiBoy Gempa dan Gopal di jalan utama Sektor 456 tadi, Arumugam nyaris tidak terima kalau BoBoiBoy lebih sudi berteman dengan pemuda India penakut itu ketimbang dirinya yang menurutnya memiliki kedudukan 'lebih setara' dengan pemuda bertopi dinosaurus itu. Untung saja dia bisa menahan diri. Karena jika tidak, maka sudah sedari tadi Arumugam menembak mati BoBoiBoy dengan Sniper-nya.

'Ceklek-!'

Kedua pemuda itu mendengar suara pintu kamar dibuka. Tampak Sebastian disana. Beberapa bagian tubuhnya tampak lebam seperti hal-nya Ah Meng dan Arumugam Dengan santai ia masuk ke ruangan itu dan menutup pintu.

"Nampaknya korang terkena belasah dengan kawan-kawan Milyra," tukas pemuda Alien itu dengan senyum mengejek. Ia duduk di atas sebuah kursi empuk di sudut ruangan sembari menyilangkan satu kakinya. Sesekali ia terkekeh jahil melihat Arumugam yang tampak tersiksa dengan jarum-jarum Akupuntur yang menancap di bagian atas tubuh kekarnya.

Ah Meng mendesah. "Haish, ini bukan lu punya sugesti ho," ucapnya kesal. "Kami dibelasah Cici Ko, salah sorang ahli pasukan Tengkotak tadi. Tak sangka dia ialah pembelot! Padapun dia cuma budak cleaner wo. Tapi anehnya, dia boleh serang kami tanpa terlihat, macam Ninja kot. Saya jadi curiga sama dia."

"Hmm, nasib korang lagi baik daripada aku," balas lawan bicaranya. "Alien ungu bawahan Kapten Kaizo tu dah hajar aku dan Gaga Naz hingga teruk. Dah macam pegulat dia tadi. Dan ah ya, kawan-kawan Milyra dari Pulau Rintis tu memang menarik. Dan satu lagi. Korang kata korang ada kawan lama diantara mereka. Siapa nama dia?"

"BoBoiBoy," jawab Ah Meng pendek, membuat Sebastian termangu.

"Jadi budak tu yang ditarget Bunda aku beberapa hari lepas ke?" tukasnya. "Boleh tahan juga dia. Menarik. Dia boleh jadi lawan seimbang dekat masa hadapan nanti. Tak sabar lah aku, fufufu..."

"Hmp, itupun kalau kita jumpakan dia," dengus Arumugam. "Tak sangka kini BoBoiBoy dah jadi kuat macam kita. Bukanlah heran kalau Tuan Ketua mahukan dia jadi ahli pasukan ONION. Terutama Bunda kau. Mesti dia nak kan sangat budak tu."

Sebastian terkekeh miris. "Mungkin ya, mungkin tidak," ujarnya. "Korang tak tahu ke? Organisasi kini mulai melemah tau."

Arumugam dan Ah Meng mengerutkan kening tanda bingung.

"Apa maksud kau ONION kini mulai melemah?"

"Haish, korang tak tahu ke? Bunda aku dah dihapuskan oleh kawan lama korang lah!"

"Hah? Rosaline dah dihapuskan?!"

Bagi Ah Meng dan Arumugam, itu adalah berita baik sekaligus berita buruk. Berita baiknya: Mereka tidak perlu merasa was-was dengan wanita pedofil itu lagi. Berita buruknya: Jika Rosaline sudah musnah, maka kekuatan Organisasi akan melemah drastis dengan sendirinya. Dalam artian lain, Haryan pasti akan sering menyuruh mereka untuk melakukan berbagai misi yang lebih berat dari sebelumnya. Terkadang Orang tua itu memang menyebalkan.

Sekonyong-konyong Sebastian bangkit dari dudukannya. Ia melangkah menuju sebuah wastafel, mencuci muka dan merapikan penampilannya. Setelah itu, ia melangkah menuju pintu. Segera Ah Meng berseru padanya.

"Mana kamu nak pergi, Tian?"

Sebastian menoleh.

"Ada penyusup," katanya. "Dan nampaknya diorang ialah lawan-lawan yang kuharapkan, khuhuhuhu..."


Lantai satu Gedung Markas Pusat Organisasi, 27 Juli 2014 pukul 17:14

BoBoiBoy dan teman-temannya masuk ke dalam gedung tengah Markas ONION. Mereka tiba di Lobi yang luasnya sama dengan seperdua lapangan Sepakbola. Sesaat mereka melongo melihat penampakan Lobi itu. Mereka merasa seperti berada di sebuah gedung kantor yang luas. Hanya saja untuk gedung Markas pusat ONION, ini terkesan sepi.

"Besarnya Lobi ni," ucap Fang. "Berniat betul Enjiner yang rancangkan blueprint untuk bangun gedung besar macam ni."

"Yang jelas, pembuat gedung ni mesti orang hebat!" Timpal Ying.

"Sayang gedung ni dijadikan Markas perkumpulan kejahatan rahasia," ujar Yaya sedih. "Sia-sia je diorang bangun gedung ni untuk tujuan buruk macam tu."

"Yang lagi penting, macam mana kita nak pergi dekat atas tu?" tunjuk Gopal ke tingkat-tingkat gedung yang lebih atas. BoBoiBoy melirik ke kanan-kiri. Tiba-tiba ia melihat pintu lift di salah satu sudut Lobi. Segera ia menggumam.

"Kawan-kawan, ada lift dekat sana," katanya. "Mungkin kita boleh naik ke lantai atas guna lift tu."

"Tapi kita tak tahu lah dekat lantai mana badan Abang aku disembunyikan," ucap Fang bingung. "Tak mungkin kita nak periksa tingkat demi tingkat. Mesti akan makan banyak masa."

Mila yang sejak tadi belum berbicara apapun tiba-tiba teringat sesuatu. Dia teringat kalimat Koko Ci bahwa di lantai gedung markas pusat Organisasi terdapat berbagai penawar racun penghilang ingatan. Iseng-iseng ia berceloteh.

"Ehh, kawan-kawan, apa kata kalau kita pergi ke bilik Omega 6 dekat lantai lima puluh?"

Mendengar itu, serentak teman-temannya menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.

"Bilik Omega 6? Bilik apa tu?" tanya Fang.

Ying mengangguk. "Ya loh. Nama pun comel. Macam nama nutrisi yang dibutuhkan tubuh."

"Err, kenapa kau tetiba ajak kitorang pergi ke bilik tu?" tanya BoBoiBoy. "Ada benda penting dekat sana ke?"

Mila tersenyum. "Kurang lebih macam tu," jawabnya lembut. "Jom lah. Kita tengok bilik tu dahulu. Lepas tu, kita cari Kapten Kaizo. Entah-entah badan dia ada kat atas sana pulak."

"Okey!"

Mereka berenam pun menaiki lift hingga lantai lima puluh. Lift itu melaju dengan kecepatan tinggi hingga membuat wajah Gopal menghijau karena mual. Begitu tiba di lantai lima puluh, buru-buru anak itu pergi keluar lift dan mendapati kamar kecil tepat di samping lift itu. Tanpa ditunggu, Gopal melesat ke dalam kamar kecil itu dan muntah sepuas-puasnya, membuat teman-temannya ber-facepalm ria.

"Dia jarang naik lift ke?" tanya Mila sweatdrop.

"Mestilah," ungkap Yaya seraya mendesah panjang. "Di sekolah kami lift pun takde. Tangga pun jadilah."

"Ah, aku lupa kalau aku pun satu Sekolah dengan korang semua. Sori, kawan-kawan."

Setelah Gopal menyelesaikan hajatnya di kamar kecil itu, mereka pun melanjutkan pencarian. Mila mengingat-ngingat ruangan Omega 6 yang ditunjukkan Koko Ci padanya. Konon, menurut informasi yang diberikan Koko Ci, ruangan Omega 6 adalah tempat penyimpanan segala macam jenis penawar yang dibuat oleh satu kompi ilmuwan dari Organisasi, mulai dari penawar racun hingga penawar lupa ingatan. Setelah kurang lebih menelusuri lantai lima puluh itu, mereka tiba di depan pintu ruangan yang Mila cari. Benar saja. Di atas pintu itu, terpampang pelat logam yang bertuliskan 'Omega 6 Room'

"Okey, kita dah tiba," ucap gadis succubus itu senang. "Jom masuk."

Mereka pun masuk ke dalam ruangan itu satu persatu. Begitu tiba di dalam, mereka membelalakkan mata, berdecak kagum melihat isi ruangan tersebut.

Empat rak kayu jati berukuran besar berada di setiap sudut ruangan yang luasnya kira-kira sama dengan satu kamar tidur berukuran sedang. Rak-rak itu berisi ratusan tabung yang berisi berbagai macam cairan bewarna-warni. Setiap satu baris tabung dilabeli nama satu jenis cairan. Mila tampak sibuk memeriksa tiap-tiap rak. Merasa kebingungan karena gadis itu membawa mereka ke ruangan itu, BoBoiBoy menghampirinya dari belakang dan bertanya.

"Sebenarnya apa yang kau cari dekat bilik ni, Mila?"

"Kejap," Mila menukas. Mata jelinya yang berwarna pink menyalang ke setiap baris tabung-tabung cairan. Tiba-tiba ia berhenti di barisan tabung keduapuluh satu. Dibacanya nama yang tertera di barisan tabung tersebut.

Nama: Cecair Penawar Ingatan Tipe 2Gjl0

Indeks: 1K34p

Khasiat: Untuk menetralisir cecair penghilang ingatan tipe Zh93n0

"Ha, dapat!" ujarnya riang. Diraihnya lima buah tabung berisi cairan penawar hilang ingatan tersebut. Teman-temannya hanya melongo berjama'ah melihatnya.

"Sebenarnya apa perlu kau dengan cecair-cecair penawar tu?" tanya Fang heran. Mila membalikkan tubuhnya sembari tersenyum lebar.

"Aku ada firasat kalau korang pernah disuntikkan suatu jenis Cecair penghilang ingatan oleh Bunda aku," katanya lalu mengangguk ke arah Yaya. "Betul kan, Yaya?"

"Eh?" Yaya terhenyak. "Cecair penghilang ingatan?" gumamnya sembari pasang pose tubuh orang yang sedang berpikir. "Tunggu sekejap. Aku ingat sekarang. Satu hari selepas Rosaline menyamar jadi Cikgu kat sekolah kita, aku dan Cikgu Anisa pernah tengok dia dekat bilik Guru dia. BoBoiBoy, Gopal, Fang dan Iwan pun ada dekat sana, tapi diorang pengsan masa tu. Dari situ aku dan Cikgu Anisa pun curiga ada yang tak beres. Hanya sahaja masa tu aku cemas sangat dengan keadaan BoBoiBoy, Gopal Fang dan Iwan hingga aku tak perhatikan sikap Rosaline. Dan ternyata memang benar adanya selepas kedok dia terbongkar."

Ying tersenyum kagum mendengar penjelasan Yaya itu. "Betul tu! Jadi kesimpulannya, Rosaline ada buat benda pelik dekat diorang. Tapi kerana tak nak identiti dia terbongkar, maka dia bagi cecair penghilang ingatan tu dekat BoBoiBoy, Gopal, Iwan dan Fang biar diorang tutup mulut. Licik betul! Hanya sahaja sekarang kita tak boleh dendam sama dia lagi ho. Lagipun, dia dah terhapuskan."

Mila mengangguk tanda mengerti. Hanya BoBoiBoy, Gopal dan Fang yang tidak tahu apa-apa. Toh cairan hilang ingatan yang diberikan Rosaline pada tubuh mereka beberapa hari yang lalu itu masih bereaksi dalam tubuh mereka sehingga ketiga anak laki-laki itu hanya berdiri mematung sambil bengong.

"Aku masih tak faham lah benda yang korang bincangkan ni," rengut BoBoiBoy pada ketiga teman perempuannya. Yaya, Ying dan Mila cekikikan saja melihat ketiga teman lelaki mereka yang pasang wajah tidak tahu apa-apa. Mila terkekeh sebentar lalu memberi ketiga anak lelaki itu tabung berisi cairan penawar hilang ingatan masing-masing satu. Dua tabung lagi disimpannya untuk dirinya sendiri dan juga untuk Iwan jika mereka pulang nanti.

"Korang akan faham semuanya selepas minum cecair ni," ucapnya. "Nah, Jom minum. Entah-entah keadaan kita akan lagi baik kalau lepas minum cecair ni."

"Ha, betul tu!" ucap Gopal sembari menyikut BoBoiBoy. "Mungkin sahaja ini ubat mujarab buat sindrom pelupa kau tu, BoBoiBoy."

"Ye lah, Ye lah. Aku faham kot," tukas BoBoiBoy sembari menatap tabung berisi cairan penawar hilang ingatan di tangan kanannya. Namun belum sempat ia melepas tutup tabung tersebut, pintu ruangan Omega 6 itu didobrak dari luar.

BRAKK!

Keenam anak itu tersentak kaget begitu melihat siapa yang mendobrak pintu itu, terutama Mila. Ia kenal betul dengan sosok yang membuka pintu secara kasar tersebut. Gopal, Yaya dan Ying pun mengenal sosok itu. BoBoiBoy dan Fang kembali melongo karena untuk kesekian kalinya, mereka tidak mengenal sosok itu sama sekali.

"Sebastian!?"

Yang diseru hanya tertawa kecil. "Tak sangka aku berjumpa lagi dengan korang disini," katanya dengan senyum mengejek. "Ingatkan ada penyusup biasa tadi, ternyata korang pula. Padapun aku dah harap lawan baru dah."

"Tch, baik kau diam, Sebastian," tukas Mila gusar. "Lagi baik kalau kau tak ganggu kawan-kawan aku. Diorang lah korban sesungguhnya daripada kejahatan Bunda, tahu tak?"

"Eh? Bunda?" BoBoiBoy memandang Mila dan Sebastian beberapa kali. "Korang berdua ni sama-sama anak kepada Rosaline kah?"

"Boleh dibilang macam tu," ungkap Sebastian lalu memandang BoBoiBoy lamat. "Dan kau mesti BoBoiBoy. Tak sangka aku berjumpa dengan lawan sepadan macam kau ni. Hebat, Hebat. Bunda aku dah buat benda pelik dekat kau tapi kau masih juga bertahan. Memang betul apa yang dicakapkan Tuan Ketua perihal diri kau. Dan tak sangka aku boleh berjumpa dengan kau disini."

Sang Superhero cilik Pulau Rintis itu menatap pemuda setengah Alien itu dengan wajah terpana.

"Macam mana kau tahu nama aku?" tanyanya kaget. "Siapa kau ni sebenarnya?"

"Rilek, BoBoiBoy. Dia cuma saudara kembar aku," kata Mila segera. "Hanya sahaja dia lagi sukakan kegelapan ketimbang cahaya. Dan dia pun bantu Bunda aku untuk melakukan berbagai macam kejahatan. Tapi aku tak tahu lah kalau dia pun begabung dengan Organisasi ni. Tapi pasal dia tahu nama kau aku pon tak lah faham sangat."

Sebastian tersenyum. "Kawan-kawan lama kau yang bagi tahu aku perihal diri kau, BoBoiBoy," katanya singkat, membuat BoBoiBoy pusing.

"Kawan-kawan lama aku? Aku... Aku pun tak ingat kalau aku ada kawan lama dekat sini. Siapa diorang tu?"

"Haish, memang betul apa yang diorang cakap. Kau ni memang pelupa, BoBoiBoy. Kawan lama sendiri pon kau tak ingat."

BoBoiBoy merasa kepalanya berdenyut-denyut. "Aku... aku tak faham. Kawan lama? Aku tak tahu kalau aku punya kawan lama. Kalaupun memang ada, aku dah lupa nama diorang tu. Dan aku hanya ingat betul kawan-kawan aku ni," ujarnya seraya melirik Yaya, Ying, Gopal serta Fang. "Ugh- Apasal kepala aku macam pening selepas kau bagi aku soalan tu?"

"BoBoiBoy, kau tak pe kah?" tanya Yaya cemas. Dia ingat pertemuan mereka dengan Mimi, Ah Meng dan Arumugam. Tapi dia tidak menyangka kalau BoBoiBoy memiliki kepikunan akut sampai-sampai bocah itu melupakan nama teman-teman lamanya. BoBoiBoy mengerang kecil sembari memegang kepalanya, menahan sakit yang tiba-tiba muncul disana. Kalau saja ia tidak ditahan oleh Gopal, maka tubuh BoBoiBoy pasti sudah terjatuh ke lantai. Fang menggeretukkan giginya melihat kondisi BoBoiBoy yang seperti itu dan menatap Sebastian tajam.

"Sudahlah tu! Apasal kau tanyakan benda tu dekat dia? Jangan ganggu kami!" tukasnya marah. "Tengok! BoBoiBoy dah pening sebab soalan kau yang teruk. Baik kau berambus dari sini sekarang juga!"

"Ow, Ow- garang betul," kata Sebastian dengan seringai sinis. "Sayang aku tak boleh pergi sambil lalu dari sini. Aku nak tengok sekuat apa Superhero Pulau Rintis tu, fufufu... korang sedia?"

"Hish, kan aku dah kata, jangan berani kau ganggu kawan-kawan aku, Tian!" Mila segera pasang kuda-kuda di depan BoBoiBoy dan teman-temannya. "Urusan kau dengan aku belum tamat lagi. Baik kau tinggalkan diorang. Bunda dah sengsarakan diorang. Dan sekarang kau nak sengsarakan diorang lagi? Hmp, tak habis fikir tebiat kau dah jadi macam Bunda punya tebiat. Lawan aku!"

Ia lalu menoleh ke arah BoBoiBoy dan teman-temannya dengan tatapan penuh arti.

"Biar aku yang uruskan Sebastian. Korang cari Kapten Kaizo," katanya.

Ying menatap gadis Succubus itu dengan tatapan sedih. "Tak! Mila, kamu dah jadi kawan baik kita," Katanya seraya menggeleng kuat-kuat. "Kami tak mahu tinggalkan kamu sorang-sorang!"

Tapi Mila hanya menggelengkan kepala. "Sori, Ying. Tapi Kapten Kaizo sekarang dalam bahaya. Korang kena temukan dia secepat mungkin. Lagipun aku dan Sebastian ada pasal peribadi. Tak payah korang cemaskan aku."

"Tapi-"

"Pergi sekarang!" Mila meninggikan suaranya dengan tegas. Dengan berat hati, BoBoiBoy dan teman-temannya segera keluar dari ruangan Omega 6 itu, meninggalkan Mila dan Sebastian yang saling berhadap-hadapan. Sebenarnya mereka saja membantu Mila untuk melawan Sebastian. Namun waktu mereka kali ini sungguh kepepet. Dan mereka takut kalau Kaizo sudah diapa-apakan oleh musuh, jadi dengan sangat terpaksa para Superhero cilik Pulau Rintis itu meninggalkan Mila untuk melawan saudara kembarnya sendiri.

"Korang yakin ke Mila boleh lawan lelaki tu?" tanya Yaya harap-harap cemas sembari terbang di atas teman-temannya.

BoBoiBoy mengangguk. "Jangan remehkan dia," katanya yakin "Mila bukan lah selemah yang orang fikirkan. Aku pasti, dia akan lagi hebat. Korang kena percayakan dia."

"Um!" angguk Fang. "Dia pun percaya dengan kita. Jom kita cari Kapten Kaizo!"

"Jom!"

Sepeninggal BoBoiBoy dan teman-temannya, Mila menatap Sebastian dengan pandangan dingin. Sebastian mengeluarkan kedua pedang Celtic-nya sembari menyeringai lebar.

"Hebat juga power persahabatan kau dengan budak-budak Pulau tu," katanya. "Tapi tenang sahaja, Milyra. Aku akan pastikan kalau kau tak kan pernah berjumpa dengan mereka lagi."

Mila mendengus. Dikeluarkannya pedang kecil sinar-X nya. "Apa maksud cakap kau tu?" tanyanya dingin. "Jangan cakap kau nak hapuskan aku."

"Bisa ya, bisa tidak," jawab Sebastian remeh. Dikibaskannya jubah hitamnnya dengan angkuh. "Pantas saja Bunda tak sukakan kau, disamping hubungan pertunangan kau dengan Sfera Kuasa Generasi kesembilan tu. Kau lagi suka dengan Kebenaran, hmm? Patutlah kau dianggap lemah! Aku benci itu. Dan aku akan hapuskan kau sekarang. Tapi tenang, wahai Kakak kembarku. Ini takkan terasa sakit, sebab kau akan mati."

"Hmph! Aku akan buat kau tarik kata-kata kau balik, Tian! HEAAAAAAAHHH!"

BLAAAAAAARRRRR!

Mila menghantam pedang sinar-X nya ke arah Sebastian. Sebastian menangkisnya dengan kedua pedangnya, menyebabkan ledakan yang cukup besar di ruang Omega 6 itu. Mereka saling mendesak serangan satu sama lain. Sebastian menggertak. Pemuda itu langsung tertawa-tawa bak orang gila. Rupanya ia menikmati pertarungan itu, dan Mila tidak menyukai sikap adik kembarnya ini.

"Kau gelakkan aku?" tukas Mila sebal sembari tetap bertahan dalam posisi pasi-tantang itu. "Apa yang lawak sangat, Heh?! Kau ingat persahabatan itu benda lawakan ke, Hah?"

Sebastian mendesah. "Oh, tak. Bukan itu," ucapnya sembari menyeringai. "Hanya sahaja aku nak kau segera hilang dari muka bumi ni, Wahai kakak kembarku. Jangan harap kau akan belasah aku dengan mudah, HAHAHAHAHAAA!"


Kaizo masih termenung mendengar kalimat Ibunya itu. Sungguh sebuah dilema baginya. Antara keinginannya untuk ikut dengan kedua orangtuanya di 'Alam itu' ataukah kembali ke Fang yang konsenkuensinya bisa saja membuat orang lain mengira dirinya adalah Mayat hidup. Ibunya menunggu dengan sabar.

"Kaizo," ujarnya lembut. "Kau kena pilih salah satu. Ikut kami ataukah jaga adik kau kat dunia fana tu?"

Kesunyian kembali tercipta diantara mereka berdua. Sang anak tampak berpikir keras. Setelah beberapa lama membisu, Kaizo akhirnya angkat bicara dengan wajah serius sekaligus gundah.

"Mak, maafkan Kaizo. Tapi kedua pilihan tu sangatlah sulit," katanya lesu. "Kalau Kaizo ikut Mak dan Ayah, Kaizo akan tinggalkan Pang sorang-sorang dekat dunia ni. Tapi kalau Kaizo pilih Pang, badan Kaizo dan terlanjur mendingin. Tak de cara lain ke?"

Ibunya menggeleng. "Tidak Kaizo. Itu je pilihan dari Mak. Pilihlah salah satu."

Sungguh, ini benar-benar suatu dilema bagi Kaizo secara pribadi. Dia memang rindu dengan kedua Orangtuanya, yang kemungkinan sudah tiada. Tapi di sisi lain, dia tidak sanggup meninggalkan adiknya sendirian lagi. Sekonyong-konyong sesuatu yang aneh melintas di benaknya. Kaizo terhenyak. Segera dipandanginya Ibunya lamat. Akhirnya dia tahu apa yang harus dia putuskan.

Kaizo menutup kedua matanya lalu menggumam.

"Aku pilih-"


Aula utama lantai sembilan puluh Markas ONION, 27 Juli 2014 pukul 17:18

Haryan menatap nanar ke halaman depan gedung markas pusat itu. Dia menyaksikan Rosaline dikalahkan oleh BoBoiBoy beberapa menit yang lalu. Pria itu menggepalkan tangannya kuat-kuat. Dia mendecih.

"Rosaline dah berjaya dihapuskan? Tak sangka budak BoBoiBoy tu sungguh hebat, dan mestilah ini bukan kabar baik. Aku seharusnya tak remehkan dia."

Seorang pria berjas masuk ke dalam ruangan itu seraya terengah-engah. Ditatapnya Haryan yang memunggunginya dari kejauhan. Haryan menyadari kemunculan anak buahnya itu dan menoleh.

"Ada apa?"

"Ma- Maaf, Tuan Ketua. Tapi budak kuasa elemental dah kawan-kawan dia tu dah berjaya hapuskan Mawar Liar!"

"Benda itu aku dah tahu. Apasal kau nak bagi tahu aku lagi?"

"Sekali lagi, saya mohon maaf. Tapi nampaknya diorang dah masuk balik ke dalam gedung ini."

Haryan tersentak mendengar itu. Apa yang sebenarnya BoBoiBoy cari? Bukankah masalah besar anak itu sudah sirna? Tapi pria itu tersenyum kecil. Entah mengapa dia merasa ingin bertemu anak itu lagi.

"Suatu kebetulan ke dia nak masuk balik ke gedung ni?" tanyanya pelan. "Menarik. Kau sungguh menarik, BoBoiBoy. Apakah kau mulai sedar akan rancangan sebenar aku seperti halnya kedua Ibubapa kau tu?"

Diliriknya anak buahnya yang masih berusaha mengatur nafasnya lalu menggumam.

"Terima kasih sebab dah bagi tahu khabar baik tu."

"Oh, sama-sama, Tuan Ketua."

"Dan khabar buruknya, aku tak butuh kau lagi."

"Eh?"

Anak buahnya terkejut mendengar kalimat Haryan barusan. 'Apa maksudnya atasannya itu tidak membutuhkannya lagi?' tahu-tahu ia memekik kesakitan dan ambruk ke lantai dengan tubuh setengah gosong, sudah tidak bernyawa. Sebuah cakar robot elektrik muncul di balik tubuh mayat itu. Rupanya Haryan memanggil benda itu untuk menghabisi anak buahnya sendiri. Pria itu hanya tersenyum dingin. Dia menekan cincin giok kemerahannya dan kabel elektrik bercapit itu kembali masuk ke dalam lantai. Detik berikutnya, ia menyeringai.

"Ini akan jadi suatu perkara yang sungguh menarik, fufufu..."


BoBoiBoy dan teman-teman superheronya sudah menelusuri tingkat demi tingkat gedung markas Organisasi, namun tubuh Kaizo tidak kunjung ditemukan. Fang menelan ludah. Apakah dia tidak akan pernah bertemu dengan Kakaknya lagi.

"Haiihh, penatnya," desis Gopal dengan nafas memburu karena kelelahan. "Dey, kita dah telusuri gedung ni. Tak jumpa dengan badan Kapten Kaizo pon."

"Jangan menyerah, Gopal. Kita kena teruskan pencarian," ujar BoBoiBoy dengan semangat. Mereka pun meneruskan pencarian hingga lantai sembilan puluh. Ketika mereka tiba di sebuah ruangan yang berinisial 'Istana Boneka', BoBoiBoy merasakan suatu Deja Vu. Didorongnya pintu yang bergaya victoria tersebut dan masuk. Sekonyong-konyong kedua mata hazelnya terbelalak. Ruangan itu berisi berbagai macam jenis boneka manekin dengan berbagai jenis pakaian, walaupun sebagian besar bermodel Gothic-Lolita. Yaya dan Ying saling berangkulan. Entah mengapa suasana ruangan itu terasa mengerikan. Gopal memegang kedua bahu BoBoiBoy dari belakang karena ketakutan. Fang menganga melihat ruangan itu. Otaknya yang encer segera menangkap apa yang dilukiskan kedua matanya.

"BoBoiBoy, aku macam rasa patung-patung ni bukanlah patung biasa," ucapnya dengan suara gemetar. Yaya tersentak mendengar kata-kata Fang itu dan menatap boneka-boneka manekin itu satu demi satu. Firasat buruknya terbukti. Wajah boneka-boneka itu 'terlalu hidup'. Begitu mereka tiba di hadapan boneka berbaju dan berkerudung serba biru, serta merta mereka tertegun. BoBoiBoy membaca papan nama yang disematkan di dada boneka itu: Siti Zubaidah.

"Akh!"

Tahu-tahu BoBoiBoy merasa kepalanya kembali pusing. Buru-buru Gopal dan Fang menangkap tubuhnya yang terhuyung itu. Yaya dan Ying pun kaget melihat reaksi pengendali elemen tersebut. BoBoiBoy meringis, dan itu membuat keempat temannya khawatir.

"BoBoiBoy, lu okey kah?" tanya Ying cemas. "Ini dah kedua kalinya kamu pening. Baik lu berehat ma."

BoBoiBoy menggelayut. "Aku... Entah kenapa aku macam kenal patung itu," tukasnya dengan wajah kesakitan. Ditudingnya boneka Siti tesebut. Yaya memandang boneka itu lamat. Dan tiba-tiba saja gadis berjilbab pink itu merasa sedih.

"Nampaknya boneka ini Mayat daripada salah seorang yang BoBoiBoy kenal," ujarnya pelan. Fang mendekatinya dan ikut menatap boneka itu sementara Gopal dan Ying berusaha menenangkan BoBoiBoy.

"Yaya, kau rasa tak ada sesuatu yang pelik kah?" tanyanya, membuat sang pengendali Gravitasi menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.

"Apa maksud kau, Fang?"

"Hahh- Aku macam rasa pelik dengan perkara ini," ujar Fang seraya menaruh telunjuknya di bawah dagu, berpikir. "Kau tak rasa ke? BoBoiBoy dah dua kali pening kepala, dan itu semua disebabkan oleh perihal kawan-kawan lama dia."

"Maksud engkau, Patung manekin Siti ni kawan lama dia juga ke?"

"Bisa jadi. Tapi kalau dia ni kawan lama BoBoiBoy, apasal cuma dia je yang dijadikan patung manekin sementara kawan-kawan lama dia yang lain tak? Pilih kasih betul."

"Hmm, mungkin kita boleh tanyakan perkara ini pada BoBoiBoy selepas semua ini tamat," ujar Yaya sembari menghela nafas panjang. Tidak disangka masalah kian waktu kian menumpuk. Fang dan Yaya pun meninggalkan boneka Siti dan mendekati BoBoiBoy yang sudah merasa agak baikan.

"Macam mana keadaan kau? Dah baik ke?" tanya Yaya. BoBoiBoy mengangguk.

"Ya. Aku dah lagi baik. Terima kasih," katanya lalu berdiri dibantu Gopal. Mereka kembali menelusuri ruangan Istana Boneka itu. Tidak ada tanda-tanda Kapten Kaizo. Mereka nyaris putus asa karenanya. Tahu-tahu Gopal melihat sebuah pintu di salah sau sudut ruangan. Pemuda India itu pun memberi isyarat.

"Kawan-kawan, ada satu pintu di sudut sana," katanya seraya menunjuk pintu yang dimaksud. Mereka pun kembali sumringah. Semoga saja tubuh Kapten Kaizo ada di ruangan di balik pintu itu. Fang mendorong pintu yang lumayan berat itu dibantu Gopal. Begitu pintu itu terbuka, mereka kembali menganga, karena takjub. Ruangan dibalik pintu itu adalah sebuah Laboratorium mini. Sekonyong-konyong firasat buruk menghantui mereka begitu tahu apa guna dari Lab itu.

"Lab ini mesti digunakan untuk membuat Mayat-Mayat menjadi patung manekin," tukas Ying. "Setidaknya itu betul, kan? kan?"

"Memang betul," tukas BoBoiBoy seraya membuka lemari coklat di sudut Lab. Isi Lemari itu adalah pakaian-pakaian dari segala jenis mode. Bukannya kagum, mereka malah merasa ngeri. Apalagi setelah mereka memeriksa isi beberapa karung yang tergolek di ujung ruangan. Mereka nyaris muntah begitu mendapati isi karung-karung itu adalah organ-organ dalam manusia seperti jantung, lambung, usus, otak dan lidah yang tampaknya sudah membusuk.

"GYAAAAAAAAA! Siapa yang taruh benda hodoh macam ni dekat sini? Psikopat sangat lah!" tukas Gopal terlonjak kaget. "Tak minat betul aku dengan benda-benda gila tu."

"Bukan kau sahaja yang rasa takut, Gopal. Aku pun rasa takut," ucap Yaya seraya meraba belakang lehernya dengan gugup. Sekarang ia tahu betapa sadisnya Mimi setelah melihat Lab itu. Tapi sebisa mungkin ia tidak menyinggung masalah Mimi terhadap BoBoiBoy, takut kalau-kalau temannya itu akan terkena migrain dadakan kembali. Dan tentu saja ia, Fang, Gopal dan Ying sudah sepakat untuk memberitahu BoBoiBoy perihal teman-teman lamanya setelah kembali ke Pulau Rintis nanti.

Mereka pun menelusuri Lab itu hingga sudut-sudut. Tapi sayang sekali. Tubuh Kaizo tidak ada di Lab itu. Fang nyaris menangis begitu menyadari kenyataan ini. Namun dilihatnya sehelai rambut bewarna ungu kehitaman di atas salah satu meja di Lab itu. Diambilnya rambut itu dan memeriksanya lamat. Langsung saja ia terperangah.

Rambut itu milik Kakaknya! Itu artinya tubuh Kaizo tadi seharusnya ada di Lab itu. Fang pun menyusun kesimpulan bahwa tubuh Kakaknya itu mungkin sudah dipindahkan ke tempat lain. Merasa usahanya sia-sia, tubuh sang pengendali bayangan tahu-tahu sudah merosot ke lantai. Ia pun meringkuk di bawah meja itu sembari menutup mukanya, membuat teman-temannya heran sekaligus kasihan.

"Kau tak pe kah, Fang?" tanya BoBoiBoy. "Tenang sahaja. Kita akan dapatkan tubuh Abang kau balik."

Fang menggeleng. "Aku dah penat, BoBoiBoy. Aku dah penat!" tukasnya stress seraya mengacak-acak rambut ungunya yang sudah acak dari awal itu. "Kita dah cari badan dia di seantero gedung ni. Tapi tetap saja kita tak jumpa badan dia dimanapun! Aku- Argh! Adik macam apa aku ini?"

"Dey, sudahlah tu. Kita dah usaha pulak," dengus Gopal. "Mungkin sahaja dia ada dekat bilik lain."

"Wei, kau nak aku belasah kau guna Harimau Bayang ke, Hah?!"

"Ehehe, tak lah, Fang. Aku gurau je tadi."

Ying mendesah. "Haiya, kita tak boleh menyerah sekarang ma," tukasnya optimis. "Mesti ada jalan."

"Betul tu," angguk Yaya. "Apa kata kalau kita langsung ke sumber masalah?"

"Hehh? Sumber masalah apa?" tanya BoBoiBoy tidak mengerti.

Yaya melipat kedua tangannya di depan dada. "Baik kita langsung menghadap pada Ketua ONION. Kalau mahu dirunut, dialah musuh sebenar kita selama ini. Apasal kita nak depresi macam ni? kita minta sahaja ganti rugi dekat dia."

"Wuah, bernas betul lah idea kau tu, Yaya," tukas BoBoiBoy riang. "Jom kita jumpai Ketua ONION tu. Alih-alih dia boleh bagi tahu dimana badan Kapten Kaizo, Fang."

Gopal menelan ludah. "Hayoyo, kita pun tak tahu lah Ketua ONION nak kabulkan permintaan kita ke tak," ujarnya pesimis. Namun ia tertegun begitu melihat keempat temannya yang lain sudah pergi ke pintu keluar Lab itu. Segera ia meneriaki mereka.

"Alamak! Tunggu aku!"

Mereka pun keluar dari Lab itu. Ternyata pintu itu adalah jalan tembus langsung menuju lorong dimana pintu besar Aula utama Markas Organisasi ONION berada. Kelima Superhero cilik itu segera mendatangi pintu itu dan membukanya. Mereka masuk ke Aula utama di balik pintu itu. Aula itu kosong melompong. Sebuah jendela besar tampak berdiri megah di ujung Aula. Di depan jendela itu terdapat satu meja dan satu kursi yang biasanya ada di Kantor-Kantor pemerintahan. Satu-satunya penghuni Aula utama itu adalah sebuah sosok lelaki yang tampak duduk di kursi empuk tersebut. Sosok itu membelakangi BoBoiBoy dan teman-temannya. Ia segera menyadari kehadiran mereka, memutar kursinya dan berucap.

"Tak sangka kita berjumpa di tempat ini, BoBoiBoy. Kau masih ingat aku?"

BoBoiBoy dan teman-temannya terperanjat. Sosok itu memutar kursinya hingga menghadap ke arah kelima anak itu. Segera saja mereka tertegun. BoBoiBoy mengedipkan matanya satu kali, nyaris tidak percaya pada penglihatannya. Ia kenal betul dengan pria berjas coklat tua dan berkacamata dengan lensa kotak itu.

"Ka- Kau... Tak mungkin..." ucapnya teranggap-anggap. "Uncle Haryan?!"


Bersambung...

*Serangan berkembar LOVE dan BLICE: (LOVE= Longy dan Versa, BLICE: Blaze dan Ice)

Mak ... akhirnya selesai juga bagian klimaks(?) ini ^^

Readers:" Klimaks apanya?! Ini masih ada musuh lain tau!"

Hehehe ... iya juga ya. Apalah pikiran Author ni. Maaf jika banyak kekurangan di bagian ini ya ... :) Silahkan review jika berminat. :D

Tetap setia menantikan kelanjutannya ya Love you all, dear readers!