Nash masih jengkel.
Siapa yang kemarin janji mau menjemput di bandara? Adiknya?
"Ah dasar kampret."
…
Sebuah Balada : Epilogue
Proud to you by:
emirya sherman
Disclaimer:
I own nothing. Kuroko no Basuke owned by Fujimaki Tadatoshi.
This is only a work of fiction. If there any similarities among the names, the places or the plotlines are entirely coincidental.
Warnings:
Out of Character. Typos everywhere. AU.
…..
Selamat membaca
…..
…*...*...
…..
Pantatku rata, aku sudah menunggu lebih dari tiga kali enam puluh menit. Ruang tunggu bandara sepi, maklum sekarang sudah melewati tengah malam, sejak entahlah ... Rasa jengkelku pada Jojo muncul kembali, itu anak kemana sih? Ini adalah rekor paling lama bocah itu ngaret.
Sekarang biar aku ceritakan isi chat-ku dengan bocah satu itu.
Beberapa saat setelah dia meneleponku, ternyata dia telah memberi tahu ayah kalau aku bersedia pulang. Dalam pesan singkatnya, Jojo menyampaikan pesan ayah yang menghimbau agar aku pulang sebelum hari pelantikan presiden terpilih USA. Bukan ... bukan, sebenarnya bukan menghimbau tapi memaksa.
Sesungguhnya ayah menyuruhku pulang sebelum Thanksgiving, namun karena alasan ini dan itu yang sebenarnya alasan yang aku buat-buat, aku tidak jadi pulang. Ya aku bilang pada ayah dengan alasan yang dibuat-buat, alasan yang sebenarnya aku menemani Jason menghadiri pernikahan mantan gebetannya, Garcia. Sudah tahu juga 'kan kalau Jason ditinggal nikah karena Garcia kepincut sama raja minyak? Sudahlah tidak penting juga aku menceritakan Jason yang sedang bermuram durja, lupakan.
Ini adalah gelas kopi keempat yang aku habiskan selama aku berada di ruang tunggu bandara. Sebenarnya aku juga tidak perlu meminum kopi untuk tetap terjaga. Toh dengan kejengkelanku sekarang aku tidak mungkin ketiduran di sini.
Padahal sudah aku selalu mengabari sedari aku menutup pintu kamar, pamit ke Jason sampai jadwal pesawatku. Ingatkan aku untuk menjewer Jojo kalau dia sudah sampai.
Dan sekarang ponselku sekarat, baterai tinggal 16%, sebentar lagi pasti tewas. Kalau mau numpang charging di mana ya? Mana badanku pegal-pegal, untung Jason memberikan minyak kapak sebagai bekal(?).
...
...
Getaran ponsel di sakuku segera aku rasakan, incoming call.
"Halo."
"Eh abang ... hehehe, kok telpon terus Bang. Henpon punya abang kan henpon jadul gak ada Airplane mode-nya. Emang gak dimarahin sama mbak-mbak pramugari?"
Maaf saja ya , ponsel saya sudah masa kini. Memang situ punya masalah dengan ponsel saya. Sensi amat.
"Apanya yang 'hehehe', kamu jadi jemput?"
"Jadi lah."
Ya Gusti ...
"Bang serius nih. Entar kalo pesawatnya kenapa-kenapa gara-gara henpon jadul punya abang gimana?
Tarik napas, tahan tiga hitungan, embuskan lewat mulut.
Tenang tenang. "Joanna, abang udah pulang, sudah sampai bandara. Katanya kamu mau jemput. Abang udah karatan dari empat jam yang lalu nunggu kamu loh."
"Lah perkiraan sampainya jam 9 'kan?"
"Iya Neng, jam 9 malam bukan pagi."
Seberang telepon sepi, aku yakin Jojo pasti sedang memasang muka bebek.
"Ih apaan, orang abang ngasih tahunya 9 A.M bukan P.M. 'kan abang yang salah bukan aku."
"Emang gitu?"
"..."
"Gitu ya?"
"Iya lah."
"Oh."
Tidak ada pembicaraan, dan kembali sepi.
"Bang, beneran pulang sekarang? Sekarang sudah sampai USA?"
"Ya menurut situ. Emang siapa yang kemarin maksa nyuruh pulang? "
"'Kan ayah yang nyuruh."
"'Kan kamu juga yang telepon."
"Ya elah Bang, udah malem nih. Tanggung sebentar lagi pagi. Abang 'kan emang udah biasa pulang pagi. Heran dulu biasa pulang pagi kok gak digorok sama ayah sih."
Di sini aku tertohok, sakit man. Situ jangan bawa-bawa masa lalu saya dong.
"Bang tunggu pagi aja ya? Masak Abang tega sih nyuruh perempuan keluar malem-malem. Malu sama ayam jago dong. Jam segini mana ada ayam jago berkokok."
"Ya ngapain juga bawa-bawa ayam."
"Ayah mau buka restoran ayam gorang katanya."
"Oke ... oke."
"Bang, nanti jam 7 aku berangkat deh. Atau kalau masih mau pulang sekarang, aku bangunin ayah biar jemput kamu Bang."
"Stop ... stop ... stop. Sudah gak usah panggil ayah."
"Oke deh big bro. Err ... gimana kalau abang naik taksi aja."
"Ya mana ada taksi jam segini. Yang ada tukang begal."
"Abang maunya apa. Dijemput ayah gak mau."
Ini anak pasti hobinya ngancem. Dasar anak papi.
"Kamu juga anak papi kali Bang. Gak sadar kalo foto abang sama muka ayah ..."
Lah kok dia tahu aku memikirkan apa, "Stop ... stop. Gak usah diterusin, Abang tahu kamu mau ngomong apa. Udah tidur sana."
"Ye ... situ aja kali yang tidur, nanti gantengnya ilang lagi. Dari tadi siang aku udah kayak angkot ngetem di studio tahu."
"Ha? Tugas maket?"
"Iya."
"Lagi."
"Iya bawel."
"Ya udah nanti tidur dulu. Jangan lupa kalau udah bangun jemput abangmu di bandara, jangan molor lagi. Awas kamu."
...
...
Disinilah aku, menunggu berjam-jam hanya untuk bisa pulang ke rumah. Bukan maksud hati untuk menyusahkan adikku, karena janji adalah janji. Hei ini adikku sendiri yang memaksa untuk menjemput.
Aku tidak akan membayangkan bagaimana wajah ayah kalau kami bertemu. Telepon terakhir adalah H-1 Thanksgiving. Ayah ingin mengonfirmasi kepulanganku. Dan aku menjawab kalau aku berdalih belum bisa pulang. Telepon langsung diputus oleh ayah. Haruskah aku bercerita waktu itu aku juga dalam masa-masa yang sibuk. Aku harus pergi kesana-kemari mencari pembimbing.
Aku yakin ayah pasti marah. Dan aku tidak mau membayangkan bagaimana ayah yang marah. Karena sungguh, sekalipun ayah tak pernah marah padaku. Tapi aku masih tidak mengerti apa motivasi ayah tetap mengirimiku ucapan selamat natal, dan menanyakan apakah aku ikut melihat kembang api tahun baru. Pun aku tak mengerti kenapa ayah masih ngotot menyuruh aku pulang. Err ... oke mungkin untuk dikenalkan pada sesama koleganya yang pendukung D*nald Teramp.
Memikirkan ayah dan keriputnya membuat mataku sedikit panas. Sedangkan memikirkan Jojo membuat aku jengkel seketika.
Satu hal yang pasti, aku sayang keluargaku. Memikirkan mereka semua membuatku sedikit mengantuk. Kelopak mataku semakin berat. Dan itu adalah hal terakhir yang aku pikirkan sebelum jatuh tidur.
...
...
Efek dari kurang tidur itu mengerikan, ini tidak boleh dibantah. Pusing, mual dan pandanganmu seakan kabur. Oh dan jangan lupakan bahwa kau akan susah fokus.
Jojo memang menjemputku, tapi dengan bodohnya dia menjemput di area kedatangan domestik. Aku yakin tadi dia pasti celingak-celinguk seperti anak hilang. Setelah aku berondong dengan pertanyaan, dia mengaku baru sadar 20 menit kemudian. Tuh 'kan.
"Dibilang tidur dulu juga, kamu itu bukan terminator. Masih manusia itu tandanya butuh istirahat. Kecuali kalau kamu udah ngerasa bukan manusia sih."
Jojo menengok jengkel, kantung matanya sungguh mengerikan. Dia datang tergopoh-gopoh, kemudian duduk di sampingku. Karena memang aku sudah bangun sedari tadi, dan tidak bisa tidur lagi, maka aku memilih menonton berita di layar besar televisi.
Penampilan mengerikan Jojo tak ubahnya seperti gelandangan. Hoodie kedodoran, jeans belel, rambut yang sepertinya belum disisir, oh dan wajah yang aku yakin belum dibasuh air.
Sambil mengunyah roti isi yang dibawakannya, aku memperhatikan wajah kusut adikku. Jurusan kuliahnya sesusah itu ya? Meskipun kadang aku iri dengannya, bisa meneruskan studi sesuai keinginannya. Meskipun aku ragu dengan keadaannya sekarang apakah adikku masih bertahan di jurusan kuliahnya.
"Jo, kamu bilang sama ayah kalau abang pulangnya hari ini?"
"Enggak kok."
Jojo melipat tangan kemudian menumpukkan kepalanya, suaranya terdengar serak.
"Nanti ada kuliah?"
"Ada, tapi sore."
"Jangan lupa tidur dulu. Muka kamu persis wajah ayah kalau kalah tender tahu gak."
"Ya udah, muka abang sama mukaku emang persis sama ayah. Tapi muka preman abang lebih mirip."
…..
...
Akhirnya kami pulang dengan taksi.
Kalau orang melihat penampilan kami, dilihat dari jauh kami telihat kusut. Entah kenapa wajah kami terlihat mirip dengan para orang yang pagi-pagi sudah menenggak alkohol, kusut masai. Karena memang kurang tidur membuat demikian. Bahkan si supir taksi sedikit mengernyit melihat tampang dua penumpang yang memesan taksinya.
Haah, tolong jangan nilai orang dari tampilannya dong. Please.
Setelah memasukkan tas di bagasi, aku memilih untuk duduk di samping sang supir. Aku memberi tahu alamat, taksi segera tancap gas dari tempat kejadian perkara. Sedangkan adikku duduk dan mungkin tidur di kursi belakang.
...
...
Hai rumah.
Memasuki gerbang, aku disambut pemandangan rumah yang tak pernah berubah sejak aku kecil. Jujur aku rindu rumah ini. Rindu saat ayah menyuruhku memotong rumbut dengan cara manual, bukan dengan gunting rumput tapi dengan gunting biasa. Lalu potongan rumput yang banyak itu kupakai untuk berguling-guling dan berakhirnya aku dengan gatal-gatal di seluruh tubuh. Rindu dengan pohon Mapple yang sering aku panjati bersama adikku waktu kecil. Oh dan aku masih melihat ada layangan yang tersangkut di dahan paling tinggi. Rindu menyembunyikan rambut palsu ayah, ups.
"AYAHHHH! BANG NASH UDAH PULANG NIH!"
"Ssst ... ssstt," aku menjambak rambut Jojo, "jangan ribut kenapa sih."
"Halah, paling ayah masih belum bangun."
"Siapa bilang belum bangun, dasar kalian berandal," kata suara renta seseorang yang sungguh aku kenali sepanjang hidupku.
Aku menjawab kaku, "Eh ayah."
...
...
Kulihat ayah memajang keramik bermotif floral dan suluran geometris yang aku bawa dari Jepang.
"Bang ngapain beli piring. Di rumah sudah punya banyak." Adikku menyuarakan aspirasi yang sebenarnya berbunyi, 'Kok aku gak dibeliin apa-apa?'
Aku menarik tangannya, dan menjatuhkan sesuatu di telapak tangannya. Entahlah mungkin semacam jimat dengan jalinan tali warna merah dan putih dengan lonceng kecil di ujungnya, dan memiliki kelopak sakura dalam pres kaca. Aku membelinya di salah satu kuil di Jepang.
Di ruang makan aku dan Jojo duduk berhadapan, sedangkan ayah duduk di ujung meja. Teringat saat kami diinterogasi lantaran bermain dengan pipa air dan tak sengaja hampir menenggelamkan rumah sekaligus propertinya.
"Jadi Nash, besok ikut ayah ke Capitol Building(1) ya."
"Iya iya ayah. Ayah sudah bilang berapa kali. Boleh aku tidur sekarang. Di sofa juga gak apa-apa. Lesehan juga gak apa-apa deh."
Ayah diam, dengan bahasa isyarat aku menanyakan ke Jojo, 'Ayah kenapa?'
Sedangkan orang yang aku tanyai menggeleng heboh, 'Sungguh aku tidak tahu.'
Kulihat ayah mengelapi kacamatanya, lalu ditenggerkan di kedua sisi telinga.
Dengan gestur bersahabat, tangan kanan ayah menepuk bahuku, "Jadi kapan studi S2 kamu selesai Nash?"
Lah jadi ayah sudah tahu?
...
...
Epilogue Sebuah Balada : Selesai
...
...*...*...
...
'Emir is typing' corner :
(1)Capitol Building : Washington DC, tempat pelantikan Presiden Donald Trump.
Nash pulang. Hahay.
Sekali lagi fanfiksi ini adalah euphoria sebiji Emirya Sherman dalam menyikapi berita inagurasi Trump di Amrik sono. Saya bukan anggota tim sukses dan bukan pendukung fanatik orang yang bersangkutan. Hanya seorang penikmat berita saja. Wkwkwkwkwk *dasar sedeng*
;) Jaa nee .…
