Alhamdulillah bagian ini selesai juga, tepat pagi buta ^^ Silahkan dibaca.

Apakah Mila berhasil mengalahkan Sebastian? Apa reaksi BoBoiBoy dan kawan-kawan begitu mendapati Haryan adalah ketua Organisasi? Apa yang ingin dibicarakan Ah Ming kepada Mimi? Silahkan temukan jawabannya di bagian ini. :)


.

.

M.A.W.A.R. L.I.A.R.

'Dawn of The Real Sin'

(Season Final)

.

.

.

Boboiboy belongs to Animonsta


.

.

.

Bagian 25: Dosa Sebenar

Lantai Lima puluh gedung Markas pusat Organisasi ONION, 27 Juli 2014 pukul 17:30

SLING!

Mila dan Sebastian saling menangkis senjata masing-masing. Kedua anak kembar Rosaline itu bertarung dengan sengit. Tidak ada yang mau mengalah. Beberapa menit kemudian, mereka menolakkan tubuh ke belakang, mendarat. Masing-masing dari mereka menatap nanar satu sama lain dengan nafas tersengal-sengal.

"Huff- lumayan, Milyra... kau lumayan hebat juga..." ujar Sebastian seraya mengusap keringat yang menetes di dagu dan hidungnya. "Aku tak faham... darimana kau dapatkan kuasa manipulasi gelombang tu? Dan kau pon macam dah mahir sangat gunakan kuasa tu. Padapun Bunda cakap kalau kau tu lemah, tak de satu kuasa pon sejak lahir."

Mila memejamkan kedua matanya, berusaha mengatur nafasnya. Tubuhnya pun banjir keringat setelah pertarungan satu lawan satu dengan Sebastian tadi. Sambil menarik nafas panjang, gadis itu kembali menarik tubuhnya agar berdiri tegak. Dipandanginya adik kembarnya dengan serius.

"Kau tak tahu ke kalau aku dapatkan kuasa ini daripada Sfera Kuasa?" tanyanya. "Hmp, maklumat Sfera Kuasa pun kau tak tahu. Aku hairan, macam mana kau reti dengan semua benda dekat ONION? Aku pun baru sedar keberadaan kau selepas ketibaan kau dekat Kapal Angkasa Kaizo tadi."

Sebastian tersenyum kecut. "Aku pun hairan, macam mana kau boleh berkawan dengan budak-budak mentah dekat Bumi tu?" ucapnya miris. "Yang aku tahu, kau tak reti berkawan. Itu pun kawan kau cuma para Sfera Kuasa dan Adu Du je. Seharusnya kau dah tak ada dekat dunia ni. Tak sangka kau dah lagi kuat dari sebelumnya. Syabas, Kakak kembarku, tapi aku tak kan biarkan kau lagi hebat dari aku! SEAAAAHHH!"

Diterjangnya Mila dengan kecepatan yang luar biasa. Milyra terbelalak dan buru-buru mengangkat kedua tangannya ke udara seraya berucap.

"MILYRA KUASA LIMA!"

SRIIIIIIIINGGGG!

Sebastian buru-buru menghentikan serangannya karena silau melihat cahaya yang keluar setelah Mila mengeluarkan kekuatan lima gelombangnya. Begitu sinar itu lenyap, tampak lima sosok Mila di hadapan Sebastian: X, Gamma, Infra, Longy dan Versa. Kelima pecahan Mila itu segera pasang kuda-kuda.

"Nampaknya ini akan jadi benda yang seronok!" ucap Gamma riang lalu mengambil tongkat Gamma-nya.

Longy mengangguk. "Betul! Tak sabarnya aku nak nyanyikan lagu buat dia!" katanya seraya menuding Sebastian dengan Mic Longitudinal-nya.

"Humm, padapun aku nak tido tadi," keluh Versa sembari menguap kecil.

"Hei, kau ni baru muncul dah nak tido!" ujar X kesal. "Macam mana kau nak selamatkan dunia kalau masih sahaja malas macam ni, Hah?!"

"Alahh, aku mengantuk lah..."

"Sudah, sudah! Jangan begaduh. Kita pun belum lawan Tian lagi," lerai Infra lalu berpaling pada Sebastian. "Baik kau menyerah, Tian. Lima lawan satu, kau tak kan menang dari kitorang."

Sebastian melongo melihat kelima pecahan dari saudari kembarnya itu. Dengan mata melotot ia berucap. "Apa?! Bila masa kau boleh berpecah lima? Tch, nampaknya aku dah remehkan kau. Tapi takpe. Aku akan buktikan kalau kau tak patut gunakan kuasa hebat tu. PHOENIX BLAST!"

Kedua pedangnya mengeluarkan bara api yang besar. Sebastian mengayunkan mereka, membelah udara di hadapannya. Sebuah replika burung raksasa terbuat dari api muncul di udara dan menerjang ke arah kelima pecahan gelombang Mila itu. Infra terhenyak.

"Elak!" komandonya. Serentak ia dan keempat pecahannya menghindari terjangan burung api itu. X segera menarik Versa yang lambat bereaksi karena mengantuk ke samping guna menghindar serangan burung api Sebastian. Gamma dan Longy buru-buru mengeluarkan sayap kelelawar mereka dan terbang menepis dari replika itu sementara Infra tiarap di lantai. Burung api raksasa itu memekik dan mengepak-ngepakkan sayap apinya seraya menatap kelima pecahan gelombang Mila dari atas. Ia hanya melakukan itu selama beberapa menit tanpa melakukan serangan lanjutan. Sebastian menepuk keningnya melihat tingkah laku hewan mistis itu.

"Haih, Phoenix, apasal kau masih terbang dekat situ? Serang diorang lah!"

"Krukukuku?"

Burung api yang bernama Phoenix itu memalingkan kepala ke arah pemanggilnya. Kedua mata merahnya berkedip-kedip. Gamma dan Longy menjerit gemas melihatnya.

"KYAAAAA! Comelnya Burung ni!"

"Ha'ah, lah! Apa kata kalau kita belai dia? Mesti best, Kan? Kan?"

X dan Versa hanya bisa facepalm sementara Infra cengengesan hambar melihat sikap kedua 'adiknya' yang ceria dan kekanakan itu. Gamma dan Longy masih saja bergemas ria melihat Phoenix di atas sana.

"Ololo- sini, Phoeny. Sini dekat Gamma."

"Wey, aku yang patut belai dia lah."

"Apa kau cakap?! Kau baru je muncul, langsung nak kan dia. Tak adil!"

"Hish, kau kan lagi Kakak, dan Kakak kena mengalah dengan Adik! Aku yang lagi berhak belai Phoenix!"

"Mana ada? Aku yang berhak!"

"Hish, Aku lah!"

"Aku!"

"Aku!"

"SENYAP LAH KORANG BERDUA!" Bentak Sebastian geram. "Aku yang punya Phoenix, tapi apasal korang berdua yang rebutkan dia?! Kekanakan betul."

Sepertinya dia tidak menyadari dampak dari kata-katanya tersebut karena wajah kedua gadis itu tahu-tahu langsung merah padam akibat kaget sekaligus marah.

"Apa? Kekanakan? Kau cakap kitorang ni kekanakan?!" tukas Gamma dan Longy berjama'ah. "Berani kau cakap kitorang ni kekanakan, Hah?! KITORANG BUKAN BUDAK KECIK LAH!"

"Oh, ya ampun. Mulai lagi dah," tukas X memutar kedua bola matanya sembari melipat kedua lengannya di depan dada. "Sekejap lagi diorang akan mengamuk. Bagus, Tian. Kau dah berjaya buat diorang jadi marah besar."

Kata-kata X ternyata benar apa adanya. Gamma dan Longy tahu-tahu menerjang ke arah Sebastian sembari masing-masing menebaskan senjata mereka ke arah pemuda itu.

"Berani kau perlakukan kitorang macam budak kecik, Hah?!" ujar Gamma geram lalu menembakkan sebuah sinar menyilaukan dari tongkatnya. "Ambik ni: TEMBAKAN SINAR GAMMA!"

"Huh, kau tak patut panggil kitorang macam tu!" timpal Longy tidak mau kalah seraya menaruh tongkat mikrofonnya di depan mulutnya. "TERIAKAN FREKUENSI MAKSIMA! HIAAAAAAAHHHH!"

BRAAAAKKK!- BRUAAAAKK!- PRAAAAANGGGGG!~

Suara dinding hancur bercampur aduk dengan suara kaca pecah.

Dengan sigap X, Infra dan Versa menutup telinga mereka dengan kedua tangan agar gendang telinga mereka tidak pecah. Sebastian terlempar jauh dan menabrak sebuah pilar beton di belakangnya sementara Phoenix menjerit kencang dan meledak menjadi bunga-bunga api yang bertebaran di sekitar. Sebastian meringis seraya melindungi telinga dan matanya dengan kedua tangan agar tidak cedera untuk kedua kalinya. Begitu serangan Gamma dan Longy berakhir, ia membuka matanya pelan-pelan. Langsung saja ia ternganga hebat melihat pemandangan yang dilihat kedua matanya yang berwarna merah kecoklatan.

Kaca-kaca jendela di lantai lima puluh itu pecah berkeping-keping akibat teriakan Longy yang cetar membahana sementara dinding-dinding beton di sekeliling mereka tampak hancur retak dan berlubang-lubang terkena sinar daya tembus tak hingga milik Gamma. X, Infra dan Versa melongo melihat pemadangan bak kapal pecah itu seraya mendekati Gamma dan Longy yang telah mendarat di lantai kembali.

"Hehehe, Amacam? Hebat tak?" tukas Gamma sok jago. "Tengok, aku dan Longy dah berjaya belasah Tian dan Phoenix."

"Umm, tapi kesian Phoenix. Dia tak lukai kita pun, tapi kita ikut musnahkan dia tadi," ungkap Longy murung.

"Hei, dia pon serang kita masa Sebastian panggil dia untuk kali pertama, kan?"

"Hish, tapi dia terlampau comel buat dibelasah lah! Kita terlampau kejam tau!"

"Apa kau cakap? Cambang berantakan!"

"Kau yang mulai dahulu, monster berkuncir dua!"

GUBRAKK!

Kedua gadis itu kembali adu mulut, membuat ketiga pecahan lainnya menjatuhkan diri mereka masing-masing ke lantai.

"Pulah," gumam X pasrah. "Macam tak betul sangat."

"Hahh, apasal kita dapat 'saudari' macam diorang tue?" ujar Versa malas.

"Tingkah diorang pun dah macam BoBoiBoy Taufan dan BoBoiBoy Blaze lah," ujar Infra sweatdrop. "Macam budak-budak. Sayangnya kita tak boleh sembarangan mengarut dekat diorang tu. Kesian diorang."

"Korang semua memang patut dikasihani, fufufu. Tapi itu tidak berlaku untuk aku!"

"Heee?"

Kelima pecahan gelombang dari Mila itu tertegun dan menoleh ke sumber suara. Detik berikutnya mereka terkejut melihat Sebastian menebaskan kedua pedangnya ke depan diiringi dengan sebuah cahaya energi yang besar. Pemuda itu tertawa terbahak-bahak sembari menyeringai serigala.

"Ini belum lah selesai, Hahahahahahaaaa! TEBASAN ELEKTRIK MAKSIMA!"

"Hah?!"

Sepertinya kelima gadis itu terlalu panik sehingga mereka tidak sempat untuk mengelakkan diri mereka dari serangan Sebastian. Spontan kelimanya menjerit begitu terkena kekuatan listrik kuning kebiruan itu dan langsung tergeletak tak berdaya di lantai. Mereka kembali bersatu menjadi Mila yang merasa tubuhnya begitu kaku akibat serangan tadi.

"Ergh- badan aku... apasal tak boleh gerak?" umpat Mila pelan. Dengan gemetar ia berusaha bangkit. Namun tubuhnya seakan lumpuh. Sebastian terkekeh pelan melihat tubuh kakak kembarnya yang terkapar itu sembari menghunus kedua pedangnya lagi.

"Kan aku dah kata, aku akan buat kau tak kan berjumpa dengan kawan-kawan Bumi kau, Wahai Kakak Kembarku," ucapnya sinis. "Dan tentunya aku tak kan main-main. Bersedialah untuk dihapuskan, Ahahaha!"

Perlahan ia berjalan menuju tubuh Mila yang sudah tidak berdaya. Gadis itu meringis. Tampaknya Sebastian tidak main-main dengan kata-katanya itu. Ia benar-benar akan melenyapkan saudarinya. Terlihat jelas dari senyum psikopat yang muncul di wajahnya.

"Selamat tinggal, Milyra..."

Mila merasa pandangannya mulai kabur. Dengan susah payah ia berusaha bangkit. Sayangnya tubuhnya tidak bisa diajak bekerjasama. Dengan senyum getir, ia bergumam lemah sebelum akhirnya kegelapan menyelimuti sekitarnya.

"BoBoiBoy... Kawan-kawan... maaf... maafkan aku..."


Aula utama lantai sembilan puluh Gedung Markas Pusat ONION, 27 Juli 2014 pukul 17:34

"'Sapu Katharsis' mulai digunakan..."

Haryan memalingkan wajahnya dari jendela raksasa di belakang kursinya ke arah BoBoiBoy dan teman-teman Superhero-nya yang berdiri tidak jauh dari meja dimana Haryan berada tepat di belakangnya. Mulutnya menyunggingkan senyum kecut. BoBoiBoy benar-benar muak melihat tingkah tenang tapi sadis milik pria itu dan segera membalas.

"Itu ke benda yang selama ini kau rancangkan, Uncle Haryan?" balasnya sengit. Dari sikapnya yang pasang wajah kencang, bisa disimpulkan kalau Superhero Elemental Pulau Rintis itu sedang kesal. Apalagi yang membuatnya kesal selain kelakuan dan sikap menantang daripada seorang Haryan Pakpak Darwish? BoBoiBoy kenal betul dengan salah satu teman dekat Ayahnya itu. Ada rumor bahwa Pria itu menghilang dari publik sejak beberapa tahun yang lalu, termasuk dari jangkauan Ayah BoBoiBoy sendiri. Ayah BoBoiBoy membuat sebuah hipotesis bahwa Haryan memang sengaja menghilangkan diri dua hari tepat setelah Badan penyiasat Kedutaan memergoki data-data Top Secret Haryan yang berisikan semua hubungan pria itu dengan Organisasi ONION di ruang kerjanya. Tentu saja Haryan merasa dirinya tertangkap basah dengan hal itu dan memutuskan untuk menghilangkan keberadaannya dari muka umum. Ayah BoBoiBoy hanya bisa menggelengkan kepala dengan sedih bercampur marah setelah membongkar semua kedok teman lamanya. Parahnya, ia tidak pernah sekalipun memberitahu BoBoiBoy perihal sisi gelap dari hidup Haryan. Selama ini Ayahnya hanya mengatakan hal-hal baik tentang Haryan, membuat BoBoiBoy begitu menghormati dan kagum terhadap pria berkacamata itu. Tidak pernah terlintas di benak polosnya bahwa teman lama Ayahnya itu adalah seorang Penjahat kejam dan ambisius, yang jika perlu tidak akan segan-segan membunuh siapapun yang menghalanginya tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, BoBoiBoy merasa Ayahnya hanya ingin melindungi Haryan dari prasangka publik yang bukan-bukan, termasuk dari prasangka Putranya sendiri. Sang Superhero Elemental sadar kalau Ayahnya tidak sampai hati menghancurkan reputasi teman lamanya. Bagaimanapun juga, membongkar Aib orang sangat tidak dianjurkan dalam Agama.

Dan kini BoBoiBoy mendapati dirinya dan teman-temannya berhadapan langsung dengan salah satu Pria paling berbahaya di Alam Semesta itu.

Ia dan teman-temannya tidak bisa dan tidak boleh mundur. Sudah sejauh ini jalan yang mereka lalui, dan hasilnya hanya menemukan seorang kenalan lama? Memang bukan lelucon yang lucu. Tapi sang pengendali Elemen tahu, inilah saat yang tepat untuk menindak Penjahat yang berniat menghancurkan Alam Semesta, tidak peduli kalau Haryan adalah teman lama Ayahnya, disamping dialah dalang dibalik semua ini bersamaan dengan Rosaline yang nyaris memusnahkan harga dirinya beberapa hari yang lalu.

"Kalau ya, lantas apa lagi?" tanya Haryan sembari tersenyum. "Itu rancangan aku. Dan tentunya aku perlukan korang semua untuk bantu aku melaksanakan rancangan tu. Tapi nampaknya aku mulai ragukan korang. Tak sangka korang boleh hapuskan Rosaline, padapun dialah ahli pasukan terkuat dekat ONION. Asal korang tahu, dialah yang mengawal badan Organisasi ni sepuluh tahun yang lalu sebelum aku. Menarik, bukan?"

BoBoiBoy menatap teman lama Ayahnya itu dengan tatapan dingin. "Uncle Haryan, kau ingat rancangan kau tu boleh selamatkan Alam Semesta?" tukasnya geram. "Apa yang kau fikir dari perbuatan terkutuk kau ni, Hah?!"

Lawan bicaranya hanya tertawa kecil sebelum akhirnya melanjutkan pendapatnya lagi.

"Hmp, aku dah fikirkan pasal tu sematang mungkin, BoBoiBoy. Kau pun tak faham-faham lagi," ujar Haryan datar seraya kembali duduk di kursi empuknya dan menaruh kedua lengannya di atas meja, menautkan jari-jemarinya satu persatu. "Tidakkah kau dan kawan-kawan kau tengok keadaan dunia ni? Makhluk hidup di dunia ini melakukan apapun yang mereka nak kan untuk kepentingan diri mereka sorang. Asal korang tahu, itulah 'Dosa sebenar' daripada kita semua: EGOISME. Dosa tu kena dicegat, dan pembunuhan massal adalah salah satu caranya."

"Apa?!" tukas Ying kaget. "Wey, lu ingat menghapuskan nyawa ribuan Makhluk tak berdosa tu betul ho? Hish, tak betul lah Uncle ni!"

"Entah," ungkap Yaya kesal. "Ingatkan senang je hapuskan Makhluk hidup dari dunia ini. Berlagak betul!"

Gopal mengangguk tanda setuju. "Betul tu, Dey!" katanya sembari menuding ke arah Haryan. "Kami akan hentikan kau, Wahai Domba berjiwa serigala!"

Krikk... Krikk... Krikk... Krikkk...

"Eih? Bukannya Serigala berbulu Domba ke?" tanya BoBoiBoy bingung, membuat Gopal menyunggingkan senyum memalukan.

"Hehe, sori BoBoiBoy. Tapi makna pon sama, kan?"

"Hmm... betul juga tu. Betul."

Fang mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya karena geram. "Kau dah susahkan kitorang, dan kau dah biarkan Rosaline belasah harga diri kitorang!" ujarnya berang. "Bukan hanya itu. Secara tidak langsung kau dah hapuskan Kapten Kaizo! KAU DAH HAPUSKAN ABANG AKU! Aku tidak peduli kalau kau Ayah angkat aku dahulu, Haryan Pakpak Darwish! Kami akan menghukummu sekarang juga!"

Sontak keempat teman manusianya terkejut mendengar kalimat sang pengendali Bayangan tersebut. Segera mereka memusatkan perhatian mereka ke arah Fang dengan wajah terkesiap. Yaya merasa mulutnya menganga lebar dan buru-buru menutupnya dengan kedua telapak tangan.

"Ayah angkat?" tanya BoBoiBoy ling-lung. "Apa maksud kau ni, Fang? Uncle Haryan tu Ayah angkat kau? Apakah-"

"Maaf sebab dah sembunyikan perkara ni daripada korang semua," potong Fang cepat. "Ya, dia Ayah angkat aku dahulu semasa aku temankan Abang aku selesaikan suatu misi dekat Bumi ni, atau lagi tepatnya di Kuala Lumpur. Nanti aku akan terangkan selepas semua ni selesai."

Gopal mendengus. "Ish, Ish, Ish... satu setengah tahun lepas kau sembunyikan Identiti bahwa kau ialah Alien," ujarnya seraya geleng-geleng kepala. "Dan sekarang kau cakap kalau musuh kita tu Ayah angkat kau? Pelik betul lah kau ni, Fang."

"Apa? Kau cakap aku ni budak pelik kah?!"

"Gyaaaaa! Sori, Fang. Aku tak bermaksud cakap cam tu!"

"Ish, korang ni! Begaduh sedari tadi," ucap Yaya kesal. Gadis berjilbab pink itu sudah bosan melihat konflik antara Gopal dan Fang hanya karena mulut Gopal yang susah untuk dikunci. "Sekarang kita tengah berjumpa dengan salah sorang Penjahat antar Galaxy, dan korang masih saja begaduh!"

"Haish, memanglah pelik budak lelaki tue." Ying ikut berkomentar, membuat Fang dan Gopal menatap kedua teman perempuan mereka itu dengan tatapan horor.

"Pelik korang cakap?!" sembur kedua teman lelaki BoBoiBoy itu pada kedua teman gadis mereka. "Korang lagi pelik! Rebutkan namber 1 dekat kelas tue dah rasa macam nak perang dunia ke-3 dah!"

"APA KORANG CAKAP?! BUDAK LELAKI CEROBOH!"

"KORANG BUDAK PEREMPUAN LAGI GILA RANKING TAU!"

"Bah! TAK GENTLEMEN BETUL!"

"Apa?! NAK LAWAN?! MEH LAH!"

BoBoiBoy terhenyak melihat keempat teman dekatnya yang saling adu mulut itu. "Ka... Kawan-kawan, jangan begaduh lah," ucapnya tersengih. "Apasal korang jadi panas hati ni? Sudah, berhenti begaduh!"

"Kuhuhu- aku kan dah cakap, Makhluk hidup dekat dunia ni memang tak patut hidup." Haryan terkekeh sebentar setelah melihat konflik sepele diantara teman-teman BoBoiBoy. "Tengok, BoBoiBoy. Kawan-kawan kau tu Egois, lagi bangga dengan diri mereka sorang-sorang. Apa lagi yang diharapkan dari Makhluk-Makhluk hidup macam mereka? Kebaikan? Sungguh, benda-benda gila macam tu dah buat aku nak muntah, tahu tak? Dan satu lagi: Aku tidak tahu dan tidak akan peduli kalau Kaizo dah takde dekat dunia ni."

"Hah?!" Fang terbelalak lalu berhenti bertengkar dengan Gopal, Yaya dan Ying. "Maksud kau... kau tak tahu dekat mana badan Abang aku?!" tanyanya kaget bercampur bingung. Haryan tertawa lalu mengeluarkan sebuah benda dari bawah mejanya: Laptop Fang yang dipungut Ah Ming saat terjatuh ke laut dua hari yang lalu. Spontan anak muda itu melototi benda itu.

"Kau kenal Laptop ni?" tanya Haryan. "Hebat betul lah Laptop ni. Semua maklumat diri kau dan diri Kaizo ada dekat sini. Sayang sekali Laptop ni dah tak berguna lagi sejak Kaizo menolak untuk direkrut jadi ahli pasukan ONION. Fuufufu... dan kau tahu sendiri, Fang... aku tidak peduli lagi kalau dia dah takde nyawa. Dia dah tak de guna buat aku. Sampah betul."

"APA KAU KATA?!" Fang menggeram hebat. "Berani kau cakap Abang aku sampah? SAMPAH?! Kau... KAU TAK BOLEH DIAMPUNI!"

Haryan mendengus. "Hmp! Buat aku, korang tak lah berguna lagi, macam Kaizo je," katanya sinis. "Dan Fang, mungkin kau boleh bagi salam perpisahan kau dengan barang hodoh ni sebelum kau sendiri berpisah dari dunia ini."

PRAAKKK!

Pria itu tahu-tahu sudah menghempas Laptop pemberian Kaizo kepada Fang sebagai hadiah ulang tahun ketigabelasnya ke lantai hingga retak. Seakan belum cukup, Haryan menapakkan kaki kanannya yang berlapis sepatu pentofel dengan harga selangit ke atas Laptop itu dan menginjak-injaknya hingga hancur berantakan. Melihat Laptopnya hancur, Fang merasa dadanya seakan remuk seperti hal-nya Laptop itu sendiri.

Laptop itu pemberian Kaizo, dan kini Fang yakin dia punya alasan kuat untuk mengamuk sekarang.

"TIDAAAAAAKKKKK!"

Anak berambut ungu landak itu menjerit kuat-kuat melihat hadiah dari Kakaknya itu dihancurkan di depan mata kepalanya sendiri. Kakinya menekuk tak bertenaga, dan detik berikutnya, Fang terduduk di atas lantai, memandang nanar Laptopnya yang sudah menjadi barang rongsokan itu. BoBoiBoy terperanjat. Yaya menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk kesekian kalinya. Ying membelalakkan matanya yang sipit sementara Gopal tidak sanggup membiarkan mulutnya terkatup dan pada akhirnya menganga juga melihat Laptop Fang yang hancur berkeping-keping di dekat kaki sang ketua Organisasi.

"Nah, Amacam? Bagus, bukan?" tanya Haryan dengan nada sindiran yang cukup menohok dada siapa saja yang mendengarnya. "Aku lega barang kutip tu dah hancur, sama persis dengan pemberi dia. Dan sekarang, aku akan pastikan kalau nasib korang pun boleh jadi macam Laptop tu kalau korang memang nak aku hapuskan sekarang. Ada pesan terakhir, hmm?"

BoBoiBoy mendecih. "Pesan terakhir?" tukasnya berang. "Apa kata kalau kau sorang yang bagi kitorang pesan terakhir? Uncle Haryan, tak sangka kau dah berubah. Dan kali ni kau benar-benar melampau!"

"Fang, lu okey kah?" Ying mendekati Fang yang masih menatap Laptop rusaknya dengan wajah sembab. "Takpe, Fang. Nanti kami akan belanja kamu Laptop baru. Tak payah kamu sedih ma."

"Tak, korang tak perlu belanja aku Laptop baru," ucap Fang sesak seraya menghapus air matanya dari pipi. "Laptop tu bukan sembarang Laptop. Laptop itu hadiah daripada Kapten Kaizo. Dan Encik Haryan... Kau... Kau dah hancurkan Laptop tu! APA MAKSUD KAU BUAT BENDA MACAM TU DEKAT AKU, HAH?!"

Dipandanginya Haryan dengan tatapan benci, sama persis dengan tatapan bencinya terhadap Rosaline. Namun sepertinya Haryan tidak terlalu risih dengan tatapan maut pemuda itu. Ia hanya memandang BoBoiBoy dan teman-temannya dengan sorot mata yang bisa dibilang cukup tenang tapi dibaliknya terdapat luapan kebencian yang begitu besar, entah itu ditujukan kepada Makhluk hidup yang menyedihkan di Dunia ini atau terhadap BoBoiBoy dan teman-temannya secara pribadi. Dan entah mengapa BoBoiBoy bisa mengetahui hal itu walaupun Haryan sudah bersikap seakan-akan semuanya hanya hal yang biasa-biasa saja. Dengan helaan nafas, pria paruh baya itu lalu berucap.

"Bagaimanapun juga, 'Sapu Katharsis' dah mulai digunakan. Dan itu kan hapuskan korang semua," katanya dengan nada yakin. "Bersedialah, BoBoiBoy. Kau tak kan bisa menghentikanku, sekuat apapun kau. Ayo kita bersenang-senang sebelum terhapuskan dari dunia ini, Hahahahahahahaha!"

Gopal membantu Fang berdiri. Yaya dan Ying pasang kuda-kuda. BoBoiBoy memejamkan kedua matanya selama beberapa detik. Begitu dibuka kembali, tampak kedua mata Hazel-nya yang kaku, menunjukkan tekad yang sudah sangat kuat.

"Kalau kau memang nak hapuskan kitorang, mari lah! Kami akan ladeni kau, sekarang!" tantangnya lalu mengangguk ke arah teman-temannya. "JOM, KAWAN-KAWAN! Kita hentikan dia!"

"JOM!"

Keempat temannya balas mengangguk lalu menerjang ke arah sang ketua Organisasi ONION ke-99. BoBoiBoy memecah dirinya menjadi tiga: Halilintar, Taufan dan Gempa. Serentak mereka menyerang Haryan yang masih saja berdiri di balik meja kerjanya. Pria itu hanya mendengus kecil seraya menekan bingkai kacamata lensa kotak beningnya seraya tertawa pelan.

"Hmph! Kolot betul," ejeknya. "Korang ingat boleh belasah aku dengan serangan langsung, hm? Itu tak kan terjadi. Ambik ni!"

Diarahkannya tangan kanannya ke depan sementara tangan kirinya masih dimasukkan ke dalam saku jasnya. Halilintar sudah muncul di belakang lelaki itu dan hendak menebasnya dengan Pedang Halilintar. Tahu-tahu beberapa capit robot berukuran besar muncul dari bawah lantai di belakang Haryan dan mencengkeram tubuh Halilintar, menyetrum anak itu dengan kekuatan yang luar biasa.

BBBBBZZZZZZZZZZTTTTT!

"AAAAAARRRRGGGGGHHHHHHHH!"

"Halilintar!" Taufan dan Gempa tersentak kaget melihat sang pengendali petir diserang seperti itu. Taufan segera melesat dengan Hoverboard-nya untuk menolong Halilintar. Haryan menyadari gelagat Taufan dan mengarahkan tangan kanannya ke arah anak itu dengan sikap menuding. Capit robot yang menyergap Halilintar segera melempar tubuh anak itu ke arah Taufan. Sontak Taufan tidak sempat mengelakkan Hoverboard-nya sehingga ia tertabrak tubuh Halilintar dan jatuh tumpang-tindih di atas lantai.

"Taufan! Halilintar! Korang okey kah?" seru Gempa cemas. Halilintar mengerang kecil. Sekujur tubuhnya terasa ngilu akibat disetrum oleh robot cakar berlistrik yang notabene adalah elemennya juga. Tapi jujur saja, Halilintar baru menyadari kerusakan yang diakibatkan benda itu karena saraf-saraf di badannya seakan dalam mode statis, tidak bisa digerakkan. Taufan menarik tangan Halilintar dan membantunya berdiri.

"Macam mana dengan badan kau?" tanyanya lalu menoleh ke arah robot capit di sekeliling Haryan. "Dan benda apa tu?"

"Ugh- macam lumpuh," ujar Halilintar seraya meringis menahan sakit. "Dan capit robot tu... nampaknya Uncle Haryan yang kawal mereka. Tapi aku tak tahu macam mana dia boleh kawal capit robot tu sementara sikap badan dia macam bukan pemegang kawalan?"

Taufan memicingkan matanya ke arah capit-capit robot itu. "Mungkinkah Uncle Haryan gunakan kawalan tu dari minda dia?"

"Maksud kau?"

"Maksud aku, mungkin sahaja dia boleh gunakan Telepati, kan? kan?"

"Hmp... Telekinesis."

"Eih?" Taufan melongo. "Telekinesis? Baru dengar pon. "Apa bedanya dengan Telepati?"

Halilintar mendelik ke arahnya. "Telepati lagi dekat ke kawalan terhadap minda sementara Telekinesis lagi dekat ke kawalan terhadap benda mati," jelasnya pelan. "Capit-capit robot tu asalnya memang benda mati."

Mulut Taufan langsung saja membentuk huruf 'O' tanda mengerti. Ia pun menepuk bahu Halilintar keras-keras. "Hehehe, terima kasih sebab dah bagi maklumat macam tu dekat aku, Hali," katanya sumringah. "Nah, jom kita uruskan Uncle Haryan."

Halilintar mengangguk. Ia dan taufan pun menyusul Gempa dan keempat temannya yang saat itu tengah berusaha menyerang sang Ketua Organisasi.

"TUMBUKAN PADU!"

Yaya mengarahkan tinjunya yang berlapiskan kekuatan gravitasi berwarna merah jambu ke arah Haryan. Haryan mengelak dan menerjangkan capit-capit robotnya ke arah gadis itu. Gopal memekik melihat itu dan buru-buru berteriak sembari mengarahkan jari-jari tangannya yang sudah dibentuk seperti pistol.

"TEMBAKAN MEE GORENG AYAM!"

SRIIIINGGG!

Capit-capit robot itu berubah bentuk menjadi Mie goreng dan langsung layu ke tanah sebelum sempat menghantam Yaya. Yaya menghembuskan nafas lega seraya menoleh ke arah Gopal yang segera meniup jari telunjuknya bak meniup moncong pistol.

"Terima kasih, Gopal," katanya gembira. Gopal menyeringai kecil melihat itu.

"Pistol makanan, siap membantu," katanya seraya mengedipkan mata ke arah teman-temannya. "Nah, baiklah ... wahai cakar-cakar hodoh. Siapa lagi yang berminat menjadi Mee gore- Eh?"

Ia tertegun ketika melihat Capit-capit robot yang menjadi mie goreng itu tiba-tiba kembali bergerak-gerak. Tak lama kemudian, dari capit mereka yang telah menjadi potongan-potongan ayam masak mengeluarkan percikan listrik, membuat Gopal memekik ngeri.

"GAAAHHHHHH! Kenapa mee-mee tu masih sahaja bergerak? Elektrik mereka pon masih ada lagi!" tukasnya seraya berlari menuju pintu keluar Aula. Alangkah terkejutnya pemuda berdarah India itu begitu mendapati sebuah dinding transparan melingkupi Aula itu sehingga mereka tidak bisa melarikan diri.

"Hayoyo, kita dah terkurung lah," ujar Gopal frustasi. Disentuhnya dinding itu. Tiba-tiba tangannya kena setrum. Gopal buru-buru menarik tangannya dari dinding itu seraya memekik kesakitan. Yaya memukul dinding itu. Sama seperti yang dialami Gopal, sang pengendali gravitasi merasa tangannya tersengat dan buru-buru mengibas-ngibaskan tangannya yang tampak berasap.

"Aik? Dinding apa ni?" tanya Ying heran begitu melihat kedua temannya yang berupaya menembus dinding transparan itu tapi tidak berhasil. Gadis cina itu lalu berpaling ke arah Gempa. "Rasa pon tadi takde dinding macam ni ho."

"Tch, kita takde pilihan lain. Kita terpaksa lawan Uncle Haryan," tukas sang pengendali tanah. "GOLEM TANAH! TUMBUKAN GIGA!"

Diarahkannya tinju Giga ke arah Haryan yang masih saja berdiri santai. Pria itu memandang serangan itu dengan muka datar.

"Kau tak kan mampu hentikan aku, BoBoiBoy... Heah!"

BUUUUMMMM!

Capit-capit robot itu membentuk sebuah bongkahan tinju listrik yang besar dan menangkis tinju batu milik Giga dan Gempa. Gempa berusaha menarik Giga kembali tapi capit-capit robot milik Haryan tahu-tahu sudah melilit tubuh Giga dan meremukkan golem tanah itu hingga hancur lebur. Bongkahan-bongkahan batu itu juga menerjang ke arah ketiga pecahan BoBoiBoy dan menabrak mereka bertiga hingga terjungkal. Dua detik kemudian, mereka kembali bersatu menjadi BoBoiBoy biasa. Anak itu mengernyitkan wajah sembari memegang bahunya yang tampak lebam akibat terantuk lantai. Haryan memberi anak itu sebuah senyum angkuh. Ia melangkah keluar dari balik mejanya dan berdiri di depannya.

"Aku tidak akan menyesal kalau Ayah kau kehilangan diri kau, BoBoiBoy," ujarnya hambar sementara puluhan capit-capit robot bermunculan di sekelilingnya. "Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku dah selamatkan dunia ini dengan cara melenyapkanmu. Dan sekarang biarkan aku belasah kau."

"Tak semudah itu... SEPARA BERUANG BAYANG!"

"Hm?" Haryan menoleh dan mendapati Fang yang sudah bersatu dengan bayangan berbentuk beruang raksasa miliknya. Anak itu mengayunkan cakar beruang bayangnya ke arah lelaki paruh baya itu. Dengan sigap Haryan mengarahkan beberapa capit robotnya ke arah anak itu dan menangkis cakaran beruangnya sekaligus menghempas anak itu ke dinding transparan elektrik. Sontak Fang menjerit begitu dinding itu menyetrum tubuhnya.

"FANG!"

Keempat temannya yang lain segera menghampiri sang pengendali bayangan. Fang mendesis kesal seraya berusaha berdiri. Tubuhnya berasap akibat setruman tadi. Gopal membantunya berdiri lagi sementara Yaya, Ying dan BoBoiBoy langsung pasang siaga satu begitu melihat Haryan berjalan mendekati mereka dengan senyum memuakkan miliknya.

"Dah habis main-mainnya?" tanyanya menyindir. "Bagus, bagus. Aku terkesan. Tak sangka budak-budak tak berguna macam korang masih boleh melawan aku. Tapi tenang, budak-budak payah... kalian tidak akan kuizinkan keluar dari sini hidup-hidup. Dinding lezinah elektrik yang lingkupi Aula ni dah aku aktifkan dengan namber kode rahsia, dan suatu keberuntungan bahwa aku sahaja yang tahu tentang namber kode itu. Fufufu... jadi, siapa yang nak duluan dihapuskan dari dunia ini, hm? Hahahahahahahaaaa!"

Tepat setelah pria itu tertawa, muncul ratusan capit robot dari bawah lantai. Kali ini ukurannya lebih besar dan lebih panjang dari sebelumnya, mengingatkan BoBoiBoy dan teman-temannya akan Ular Anaconda di hutan Amazon. Tapi sepertinya capit-capit robot itu terlihat sama bahayanya dengan Ular Anaconda, atau mungkin lebih. BoBoiBoy dan teman-temannya mundur ke sudut dan menyadari diri mereka sudah terkepung dengan capit-capit robot besar milik Haryan. Mereka menelan ludah.

"Alamak... Apa kita kena buat ni?"


Ochoboy membuka kedua mata biru lautnya. Sekelilingnya gelap gulita. Ia meraba-raba seluruh tubuhnya. Seingatnya, Rosaline menyambar tubuhnya dari rangkulan BoBoiBoy dan mencabut jantung logamnya. Setelah itu, ia tidak tahu apa-apa lagi.

"Nampaknya kau dah sedar, Ochobot."

"Huh?"

Ochoboy menoleh ke sumber suara. Sesosok wanita muda berambut pirang kecoklatan dan mengenakan gaun serba putih berdiri tak jauh di belakangnya. Ochoboy segera mengenali wanita itu dan buru-buru berlari ke arahnya.

"Kak Julia! Dimana ini? Apa Akak buat kat sini?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Julia tertawa kecil seraya berjongkok di hadapan pemuda cyborg di hadapannya itu.

"Ini alam bawah sedar kau lah."

"Eh? Alam bawah sedar? Aku dah meninggal, ke?"

"Entahlah. Yang jelas, Akak ada dekat sini sebab Akak punya satu kejutan untuk kau, Ochobot."

"Eh? Kejutan apa tu?"

Julia tersenyum lalu menoleh ke kegelapan di belakangnya. "Tuan Klamkabot, Anda boleh berjumpa dengan Ochobot sekarang."

"Ha? Kla- Klamkabot?!" Ochoboy terkejut mendengar nama itu. Belum sempat ia mengucapkan sesuatu pun, sosok cyborg Ultra Humanoid Sfera Kuasa generasi pertama yang dirindukannya tahu-tahu sudah berada di depannya. Tanpa bisa ditahan lagi, Ochoboy menghambur ke arah sosok itu dan memeluknya erat sambil menangis terisak-isak.

"Huhuhuu, Klam- Klamkabot... aku rindukan kau sangat," ucap Ochoboy sesunggukan seraya membenamkan kepalanya di perut Klamkabot yang tingginya lebih setengah meter darinya. Klamkabot tersenyum datar lalu mengusap rambut pirang cyborg Sfera kuasa generasi kesembilan yang saat itu tengah meluapkan kerinduannya. Setelah merasa lumayan tenang, Ochoboy menarik kepalanya dari perut Klamkabot dan mengusap hidungnya sembari terkekeh.

"Ma- Maafkan kelancangan saya tadi," ucapnya malu. "Tapi Anda tahu sendiri, aku rindukan Anda, BoBoiBoy dan kawan-kawan dia rindukan Anda jugak. Dah satu setengah tahun lamanya Anda tinggalkan kami selepas insiden Tengkotak dekat Pulau Apung tu."

Klamkabot menghela nafas panjang. "Sebenarnya ada satu benda yang patut kau ketahui, Ochobot..." katanya dengan penuh wibawa. "Selama Sfera Kuasa masih ada di alam semesta, maka aku masih boleh pantau aktiviti korang. Salinan data aku hidup di hati dan jiwa korang. Kau kena tahu tu. Tapi tak sangka Rosaline masih sahaja belum sembuh daripada kelainan dan kejahatan dia. Itu salah satu pekerjaan rumah yang gagal aku selesaikan semasa hidup dulu. Tapi nampaknya untuk masa sekarang, kau tak payah risaukan dia."

"Huh? Tak payah risaukan Rosaline?" tanya Ochobot bingung. "Bukannya dia masih jahat ke? Kita kena hentikan dia!"

"Itu tidak perlu."

"A- Apa maksud Anda, Klamkabot?"

"Ini mungkin cuma firasat sahaja, tapi nampaknya Rosaline dah terhapuskan."

Ochobot merasa tersedak batu batu di kerongkongannya begitu mendengar kalimat tetua-nya itu. Rosaline sudah dihabisi? Orang yang menghabisinya pasti kuat sekali. Tapi tetap saja, Ochoboy merasa kasihan dengan mantan calon mertuanya itu karena sudah tiada sebelum sempat sembuh dari penyakit pedofilia miliknya. Julia melihat kecemasan dari wajah pemuda itu dan bertanya.

"Kau nampak cemas, Ochobot. Ada apa?" tanyanya lembut. Ia mengenali Ochoboy sejak pertama kali anak itu menjadi Sfera Kuasa generasi kesembilan. Ashrlati sendiri yang mengenalkan anak itu padanya. Tidak seperti Rosaline yang melihat Ochoboy sebagai generator tenaga belaka, Julia lebih menganggap Ochoboy sebagai adiknya sendiri, terlepas bahwa Julia sendiri adalah sepupu dari Ashrlati. Tapi umur Julia yang hanya beda lima belas tahun lebih tua membuat wanita itu lebih nyaman dipanggil kakak ketimbang menjadi bibi untuk anak itu.

Ochoboy menghela lesu. "Aku cuma sayangkan Rosaline dah tiada kesempatan untuk sembuhkan pedofilia dia. Aku dah harap dia boleh jadi baik, tapi nampaknya aku keliru. Ah, ya. Siapa yang hapuskan dia?"

"Kawan-kawan kau lah. Siapa lagi?" ujar Klamkabot, membuat mata biru Ochoboy membelalak.

"Apa?! BoBoiBoy dan kawan-kawan dia yang hapuskan Rosaline?!" ujarnya, nyaris memekik karena kaget. Klamkabot mengangguk tanda pembenaran. Julia pun begitu. Ochoboy merasa mulutnya menganga lebar. Dia tidak menyangka bahwa teman-temannya telah berhasil menghabisi salah satu musuh terkuat dari Organisasi ONION. Ochoboy merasa sesuatu yang hangat mengalir turun ke pipinya, menangis terharu. Tidak salah dia memiliki teman-teman seperti BoBoiBoy dan keempat teman yang ikut diberikan kekuatan super olehnya. Segera ia menatap Julia dan Klamkabot dengan sumringah.

"Aku boleh berjumpa dengan kawan-kawan aku lagi kah?" tanyanya penuh harap. Klamkabot menggeleng, membuat mulut Ochoboy kembali manyun.

"Maaf, Ochobot. Tapi kami kurang yakin."

Ochoboy terhenyak. "Aku... Aku cuma mahu berjumpa dengan kawan-kawan aku lagi," ujarnya sedih. "Ini dah kali kedua aku rosak. Takde cara lain ke?"

"Sebenarnya ada," ucap Julia. "Klamkabot boleh sahaja bagi kau daya hidup lagi, Ochoboy. Tapi ada risikonya."

"Aku tidak peduli apapun risikonya," tukas Ochoboy bersikeras. "Aku hanya nak berjumpa dengan kawan-kawan aku. Aku mohon-"

Sejenak ketiganya membisu. Tak lama kemudian, Klamkabot berucap membuyarkan kesunyian.

"Baiklah. Aku akan bagi kau daya hidup aku lagi," katanya. "Aku boleh rasa persahabatan kau dengan budak-budak dekat bumi tu. Dan tentunya kau masih mahu berjumpa dengan Milyra. Aku maklum, Ochoboy. Tapi macam yang Julia cakap tadi, tindakanku ini punya risiko. Dan risiko itu ialah: Database kuasa-kuasa dari diri kau kena di-restart ulang. Bukan hanya itu. Pita suara kau pun tak kan berfungsi sebagaimana mestinya. Faham?"

Sang Sfera kuasa generasi kesembilan menelan ludah. Risiko-risiko yang didengarnya itu terasa cukup berat baginya. Tapi dia tidak sanggup membiarkan BoBoiBoy kehilangan dirinya lagi. Dengan pasrah ia pun mengangguk.

"Aku faham, Klamkabot. Dan aku sedia dengan semua risiko itu."


Lantai Lima puluh gedung Markas ONION, 27 Juli 2014 pukul 17:39

Sebastian memandang tubuh pingsan Mila yang terkapar tak jauh di hadapannya. Pemuda itu tersenyum penuh kemenangan. Dihunuskannya kedua pedangnya sembari berjalan pelan a la keangkuhan menuju tubuh saudari kembarnya.

"Hmp, memang betul. Kau memang tak de guna, Milyra," tukasnya seraya menyeringai setan. "Aku dah pastikan kau akan tamat. Dan selepas tu aku akan jadi satu-satunya anak Bunda yang terhebat dekat dunia ni, hahahahahaha! Habislah kau- huh?"

Begitu ia hendak mengayunkan kedua pedangnya ke kepala Mila, muncul dia bola sinar yang masing-masing berwarna merah dan ungu keluar dari tubuh gadis itu. Sebastian terpana. Bola-bola sinar apa itu? Ia menyentuh kedua bola sinar itu dengan ujung jari telunjuknya. Sekonyong-konyong kedua bola sinar merah dan ungu itu berputar-putar di udara dan terbang menuju balkon dalam, melesat turun menuju lantai satu. Sebastian terkesiap. Buru-buru ia berlari ke tepi balkon dan melihat ke lantai satu. Kedua bola sinar yang keluar dari tubuh Mila itu berputar-putar disana sebelum akhirnya melesat lagi.

Sebastian menyeringai. Bola-bola sinar itu pasti ada hubungannya dengan kekuatan Mila. Tapi kekuatan apa itu? Sebastian tidak tahu. Yang jelas, rasa keingintahuannya kini berangsur-angsur membunuh niatnya untuk membunuh Mila. Dipalingkannya wajahnya ke arah tubuh gadis yang tergeletak pingsan itu lalu mendesah panjang.

"Nampaknya aku tak boleh hapuskan kau untuk kali ini, Kakak kembar," katanya sinis. "Ada benda penting yang kena aku buat sekarang."

Ia lalu memanggil Phoenix, menaiki punggungnya dan melesat ke bawah dimana bola-bola sinar ungu dan merah dari tubuh Mila itu berada. Tepat setelah itu, Cici Ko dan Motobot keluar dari balik dinding.

"Nampaknya kita boleh selamatkan Milyra sekarang," ucap Cici Ko lega. "Ayo, Motobot. Kita kena bawa gadis itu ke Kapal Angkasa kita sebelum ketahuan. Dia perlu dirawat. Luka-luka di badan dia nampak cukup parah."

"Tapi komander, Komander tak rasa pelik ke dengan bola-bola sinar ungu merah yang keluar dari tubuh Milyra tadi?" tanya Motobot sangsi. "Aku rasa bola-bola sinar tu ada sangkut pautnya dengan Milyra."

"Nanti sahaja kita bahas benda tu. Sekarang kita kena bawa Milyra untuk dapatkan perawatan medis dekat Kapal Angkasa kita."

Motobot tidak punya pilihan lain selain mematuhi kata-kata Cici Ko itu. Ia pun bergumam seraya mendesah.

"Baik, Komander."


Aula utama lantai sembilan puluh gedung Markas Organisasi, 27 Juli 2014 pukul 17:45

BZZZZZZZZZZZTTTTTTT!

"UUAAAAARRRGGHHHHH!"

Sebuah capit robot menangkap tubuh BoBoiBoy dan teman-temannya lalu menyetrum mereka sekuat-kuatnya. Haryan tampak puas melihat senjata-senjatanya bermain-main dengan tubuh para superhero Pulau Rintis itu. Gopal berusaha menukarkan capit-capit robot yang melilit tubuhnya menjadi makanan. Tapi tetap saja walaupun sudah berubah wujud, Capit-capit itu masih bisa mengeluarkan percikan listrik berwarna putih. Yaya berupaya memutus lengan capit-capit itu dengan kekuatan Gravitasi, begitu juga dengan Ying yang berusaha melepaskan diri menggunakan larian laju andalannya. Tapi tindakan kedua gadis itu tampak membuat capit-capit robot itu semakin liar dan menambah kekuatan setruman mereka.

"KYAAAAAAAAA!"

"Yaya! Ying!" pekik Fang. Dia sendiri nyaris terbenam di antara lilitan lengan-lengan capit robot Haryan. Sekuat tenaga ia menggunakan tangan-tangan bayangannya itu menarik lengan-lengan robot capit itu dari tubuhnya. Sayangnya hasilnya nihil. Robot-robot capit milik Haryan seakan terbuat dari bahan sekeras berlian. Ia masih saja memberontak selama beberapa menit sebelum akhirnya melemaskan dirinya sendiri tanda menyerah.

"Aku... aku tak kuat lagi..." desis Fang terengah-engah. Ia, Yaya, Ying dan Gopal sudah pasrah dengan nasib mereka yang kalut itu dan bersiap membiarkan Haryan untuk menghabisi mereka semua. Hanya BoBoiBoy yang masih saja melawan. Anak itu tidak sudi menyerah kalah terhadap musuh mereka itu. Dengan garang sang pengendali elemen meronta hebat. Hasilnya tubuhnya semakin tidak bisa digerakkan akibat lilitan lengan capit robot amburadul yang disebabkan oleh gerakan liarnya sendiri.

"Tch- baik kau lepaskan kitorang, Uncle Haryan," ujar BoBoiBoy kesal. "Kau kena sedar diri! Kitorang tahu kalau kau dan Rosaline begitu benci terhadap Makhluk hidup dekat Alam Semesta ini. Tapi tidakkah kau sedar kalau kau pon bahagian daripada Alam Semesta? Kenapa kau buat semua ni?"

"Diam kau!" ujar Haryan sembari menendang tubuh BoBoiBoy hingga jatuh terpelanting. "Kau dan kawan-kawan kau memang nak kena! Semua Makhluk dekat Alam Semesta ini sudah gila! Dengar aku, kau budak payah. Dengan penolakan aku buat jadikan korang bahagian daripada Organisasi ONION, bukan berarti aku akan biarkan korang lari begitu saja. Korang mesti akan bela Makhluk-Makhluk hidup hodoh tu atas nama Kebenaran. Tidakkah korang berfikir tentang masa hadapan? Alam ini akan hancur kalau mereka dibiarkan hidup!"

BoBoiBoy menggigit bibir mendengar kalimat pedas teman lama Ayahnya itu. "Kau salah, Uncle Haryan! Kau-"

BUAGHH!

"AKH!"

Kini Haryan meninju pipi BoBoiBoy hingga hidung anak itu mengeluarkan darah. Hilang sudah sikap resmi pria paruh baya itu. Dengan kasar disambarnya gantungan resleting BoBoiBoy yang berbentuk petir hingga pemuda cilik itu terangkat setengah ke udara.

"Dan satu benda lagi yang kau kena tahu perihal Makhluk hidup dekat dunia ni," tukasnya dengan seringai psikopat. "Aku tidak boleh diam sahaja buat tengok keserakahan mereka terhadap hidup ini. Aku bukan hanya nak mereka dihapuskan. Minimal, aku nak mereka menjadi balik ke asal: Dari ada menjadi tiada!"

"Ugh- itu takde beda lah!" desis BoBoiBoy sengit. "Sedarlah, Uncle Haryan! Pandangan kau selama ini sudah salah!"

"Hmph! Masih nak melawan, eh?" tukas Haryan sambil menyeringai sadis. Ia bagaikan kesetanan. Segera saja ia memanggil satu capit robotnya yang besar untuk membantu. Sekarang dia sungguh-sungguh akan menghabisi BoBoiBoy dengan tangannya sendiri.

"Nampaknya kau dahulu yang akan pergi, BoBoiBoy," ujarnya seraya menyunggingkan senyum miris. "Ada pesan terakhir sebelum aku hapuskan kau?"

BoBoiBoy merasa staminanya sudah di ambang batas. Lehernya terasa serak akibat berseru-seru memperingatkan Haryan sedari tadi. Dan kini, lidahnya serasa kelu. Ia pun menutup matanya, bersiap menghadapi maut.

"Hmm, takde pesan terakhir ke? Baiklah. Selamat tinggal!"

"BOBOIBOY!"

Yaya, Ying, Gopal dan Fang menjerit begitu Haryan hendak menghujamkan capit robot raksasanya ke arah tubuh BoBoiBoy yang keadaannya sudah diambang batas itu. Tahu-tahu semuanya berhenti. Keempat anak itu membuka mata dan melihat ke arah Haryan yang mematung. BoBoiBoy masih berada di genggamannya, namun belum mati. Sebaliknya, mata hazel anak itu melotot melihat 'sosok' di belakang Haryan yang tampaknya menghunus senjatanya di dekat leher pria itu, mencegahnya dari membunuh BoBoiBoy.

"Apa... Apa jadi ni?" ujar Gopal terbata-bata. Detik berikutnya, Haryan mendengar sebuah suara dingin yang berasal dari sosok di belakangnya.

"Hentikan semua ini, Vader."

Haryan terhenyak. Dipandanginya pedang laser biru yang dihunuskan tepat di samping urat nadi lehernya. Ia tersenyum kecut begitu melihat wajah asli sosok itu dan bergumam sinis ke arahnya.

"Tak sangka kau boleh cegat aku macam ni, Kaizo."


Lab Sfera Kuasa, 27 Juli 2014 pukul 17:50

Hujan mengguyur deras. Kilat menyambar-nyambar, membelah angkasa. Di bawah tanah, atau lebih tepatnya- Bekas Lab Sfera Kuasa- Dua orang gadis tengah melamun. Seorang gadis berpakaian Lolita, berambut coklat ikal dengan pita yang tersemat di rambutnya membuka percakapan.

"Ah Ming, Kau yakin ke aku boleh buat benda macam tu kalau Vader dah tiada?"

Lawan bicaranya yang bernama Ah Ming, seorang gadis bermata sipit berkacamata dengan rambut ungu terurai ditambah pakaiannya yang bernuansa a la Kungfu menoleh.

"Kau kena sedia dalam setiap keadaan, Mimi. Kau kena tahu tu."

Mimi merenung. "Tapi kalau itu terjadi, apakah aku akan sedia? Umur aku baru tiga belas tahun lah."

"Sori, Mimi. Tapi itu peraturan-peraturan dekat Organisasi ni. Hanya kau anak semata wayang daripada Tuan Ketua. Ada dua syarat yang saling mengalternatifkan satu sama lain dalam pemilihan Ketua Organisasi. Pertama: Kalau Ketua sebelumnya tak punya anak, maka pemilihan dikenakan dengan cara Demokrasi. Tapi kalau Ketua sebelumnya punya anak- baik lelaki maupun perempuan- maka anak tu lah yang kena gantikan dia. Ingatkan kau dah tahu pasal tu. Kau tahu kan risikonya kalau melanggar peraturan?"

Mimi menelan ludah. Dikepalnya kedua tangannya sekuat mungkin hingga bergetar.

"Aku tahu."

Ah Ming menghela nafas panjang seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Lagipun kalau kau menolak, maka boleh saja Rosaline yang akan ambil posisi tu. Kau tahu kan maca mana dia mengontrol badan ONION ini sepuluh tahun lepas?" ucapnya tajam ke arah Mimi. Gadis itu hanya mengangguk pelan.

"Aku tahu."

"Dan yang lagi penting dari semua tu," Ah Ming berhenti sejenak. Ia melangkah ke sebuah tabung raksasa dihadapannya. Ditempelkannya tangannya ke kaca tabung itu lalu melanjutkan pembicaraannya.

"Rancangan abadi Tuan Ketua kena dilaksanakan satu tahun kemudian. Kita kena sedia semuanya secara matang. Ini perlu untuk dunia hodoh ini. Dan juga sekaligus uruskan dendam lama kau dekat Boboiboy. Bukannya itu yang kau nak kan selama ini?"

Temannya hanya mendesah pilu lalu menatap Ah Ming dengan kedua mata coklat tuanya yang sayu.

"Benar. Itu yang aku inginkan," katanya dengan senyum mirisnya. Ah Ming segera pasang wajah kencang begitu mendengar itu.

"Jadi kau serius kalau kau dah jatuh hati dekat BoBoiBoy ke?" ia menukas pelan. "Maksud aku kau suka dia, tapi di sisi lain, kau benci dia juga. Apa yang kau mahukan sebenarnya dari budak tu, Mimi?"

Mimi menghela nafas panjang seraya duduk di atas sebuah pipa logam horizontal. "Aku cuma mahu dia balik ke kita," katanya sedih. "Kau tahu, sebab dia aku hapuskan Siti. Dan sekarang, dia dah tinggalkan kita dan lagi suka dengan kawan-kawan baru dia dekat Pulau Rintis. Tapi entah kenapa aku masih saja sukakan dia."

"Hmp, pelik betul lah kau ni," ujar Ah Ming facepalm. "Nah, itu je yang nak aku bincangkan dengan kau sore hari ini. Maaf sebab dah ambil masa kau, Mimi."

Mimi tersenyum manis. "Alahh, takpe. Kita kan kawan. Tak payah kau minta maaf pulak," tukasnya ceria. "Ah, ya. Ah Ming. Ada benda aku nak tengokkan dekat kau. Jom ikut aku sekejap."

Ah Ming mengerutkan keningnya, bingung. "Benda apa?" tanyanya.

"Hahh, tak payah lah aku terangkan. Kau ikut je lah."

"Hmph, okey."

Kedua gadis itu naik ke lift menuju lantai dasar gedung markas pusat Organisasi. Ah Ming mengikuti Mimi hingga tiba di depan sebuah pintu. Mimi membuka pintu itu, masuk ke dalam dan menyalakan lampu. Refleks Ah Ming melindungi matanya dengan tangan karena silau.

"Hish, kau ni. Punya lampu tue jangan lah terang sangat. Boleh merusak retina tau," omelnya. Mimi pasang tampang cengengesan dan segera membentuk kedua tangannya menjadi bentuk Peace.

"Hehehehe- sori, Ah Ming. Tapi dengan cara ini je semuanya akan terlihat lagi jelas, kan? kan?"

"Huh, dah lah. Cepat bagi tahu aku apa benda yang kau maksudkan tadi."

"Okey."

Disibakkannya tirai di sampingnya, menyingkap sebuah tabung raksasa di baliknya. Tabung itu tidak kosong. Sebuah sosok terlihat menggantung di dalam tabung itu. Ah Ming memandang sosok itu lamat. Beberapa kabel dan selang besi dimasukkan ke dalam tubuh sosok di dalam tabung. Kedua matanya terpejam. Tapi satu hal yang membuat Ah Ming heran, sosok itu begitu mirip dengan BoBoiBoy. Disikutnya Mimi yang tampaknya berbinar-binar di sebelahnya.

"Oi, kau nak buatkan si BoBoiBoy tu seorang Klon kah?"

Mimi menggeleng. "Tak. Aku mana reti buat Klon?" akunya jujur. "Lagipun aku jumpa dia ni dekat rongsokan pembuangan sampah Pulau Rintis. Tampang dia yang macam BoBoiBoy lah yang buat aku pungut dia. Alih-alih dia boleh diaktifkan balik. Aku rasa dia ni bekas robot tandingan buat BoBoiBoy. Tengok sahaja rupa diorang. Macam sama, kan?"

Ah Ming memutar bola matanya. "Segila ini kah diri kau sampai-sampai kau nak jadikan dia pengganti BoBoiBoy?" tanyanya. Dia tidak habis pikir, segila apakah Mimi terhadap BoBoiBoy? Sampai-sampai gadis itu begitu terobsesi dengan robot yang mirip dengan bocah itu. Mimi memegang sebuah pelat logam di bawah tabung itu seraya tertawa cekikikan.

"Dan kau tahu, Ah Ming? Aku punya satu idea untuk robot ni," katanya senang. "Aku akan usahakan dia bernama 'BoBoiBot 4.0'. Dengan begitu aku tak kan rasa kehilangan sangat dengan BoBoiBoy. Amacam? Idea tu bernas kan?"

"Harus aku akui, kau sungguh gila," tukas temannya kesal. "Dan soalan aku adalah, bila kau nak aktifkan dia?"

Mimi menatap robot di dalam tabung itu dengan senyum mengembang lalu berucap.

"Aktifkan dia? Mungkin sekitar satu tahun lagi, fufufu..."


Bersambung ...

Apasal bagian ini semakin gaje haaaahhh?!/Ngais tanah/ ya Allah ... bantulah hambamu ini. Semoga Author bisa menyelesaikan ini secepatnya :') Sila review jika berminat.

Tetap setia menantikan kelanjutannya ya Love you all, dear readers!