Oke, readers yang budiman. Akhirnya kita sampai di penghujung(?) cerita, huhuhuu ... sedihnya :'(

Readers:" Aik? Ini chapter terakhir kah?"

Mungkin ... :'(

Baiklah. Bagian akhir ini cukup panjang lho ... ^^ Tanpa banyak cincong, Mari kita simak bagian akhir dari klimaks ff gaje ini. Enjoy ;)

Apakah BoBoiBoy dan teman-temannya berhasil mengalahkan Haryan Pakpak Darwish dan menyadarkannya dari ideologi yang salah? Bagaimana nasib Mila yang tengah dirawat Cici Ko dan Ochobot yang tengah diperbaiki Adu Du dan Probe? Apa kejelasan Sinar merah dan Ungu yang dilihat Sebastian? Bagaimana Kaizo bisa hidup kembali? Apa yang akan Mimi dan teman-temannya lakukan? Konspirasi terselubung apakah yang diam-diam menyelidik BoBoiBoy dkk? Temukan jawabannya disini. :)


.

.

M.A.W.A.R. L.I.A.R.

'Dawn of The Real Sin'

(Season Final)

.

.

.

Boboiboy belongs to Animonsta


.

.

.

Bagian 26: Dawn of The Real Sin

Aula utama lantai 90 Gedung Markas Organisasi ONION, 27 Juli pukul 17:50

Haryan mematung begitu menyadari siapa yang menghunus Pedang laser biru di samping urat nadi lehernya. Ia tersenyum sinis." Tak sangka kau boleh cegat aku macam ni, Kaizo," tukasnya pelan.

Kaizo mendesah sambil terus mempertahankan posisi pedangnya di dekat leher Haryan. "Lepaskan budak-budak Bumi tu, Vader. Kalau tak, aku tidak punya pilihan selain belasah kau saat ini juga."

Lawannya hanya tersenyum simpul. "Hm, sayang sekali, itu bukan pilihan yang tepat," sergahnya santai lalu membuang tubuh BoBoiBoy ke arah Gopal dan teman-temannya. "Apa kata aku sorang yang hapuskan kau bersama dengan budak-budak lemah ni? SEAHH!"

"Jangan, Vader! DINDING TENAGA!"

ZIIIIIINNNNGGGG!

Buru-buru Kaizo berkelit ke depan para Superhero cilik Pulau Rintis dan segera mengaktifkan dinding tenaga miliknya bersamaan dengan Haryan yang melesatkan capit-capit robotnya ke arah pria itu, saling menangkis. Aksi mereka menimbulkan bunyi yang cukup memekakkan telinga. Sang Kapten mempertahankan pertahanannya sementara Sang Ketua ONION terus berusaha mendesak Kaizo dengan robot-robot capit raksasanya yang saat itu tengah menghimpit Dinding tenaga tersebut.

"Hebat juga kau ni," sergah Haryan dengan senyum licik. "Tapi bukan berarti kau mahu terus-terusan memasang pertahanan, Kaizo. Aku sudah tahu semua maklumat kau serta kuasa manipulasi tenaga. Jadi pertahanan kau pon tak kan lah mampu menahan masa yang cukup lama, bukan?"

Kaizo mendecih. "Macam mana Vader tahu semua maklumat kuasa tu? Siapa yang bagi tahu kau, Hah?!"

"Hm, mari aku bagi tahu kau satu pasal. Laptop Fang yang simpan semua maklumat tu, dan aku dah telaah semuanya. Kau puas sekarang?"

"Apa?!" Kaizo terhenyak lalu mendelik ke arah Fang dan teman-temannya yang berada tak jauh di belakangnya dengan tatapan maut. "Kenapa... KENAPA KAU BAGI LAPTOP KAU DEKAT VADER, PAAAAANNNNGGG?!"

"Sa- Saya mana tahu kalau Laptop tu ada dekat dia, Kapten?" sangkal Fang kekeran. Belum habis rasa kagetnya melihat Kakaknya itu 'hidup kembali', ia kembali diserang rasa bersalah lagi akibat tidak menjaga Laptopnya agar tidak jatuh ke laut dan tanpa sepengetahuannya telah dipungut Ah Ming yang langsung dibawa kepada sang ketua ONION dua hari yang lalu. Dan sekarang Kaizo terpaksa harus mempertimbangkan apakah adiknya itu masih bisa dipercaya untuk menjaga barang-barang pribadinya atau tidak sama sekali.

"Hmph, aku akan bagi kau hukuman selepas ini," dengus Kakaknya jengkel sembari terus menahan capit-capit robot Haryan menggunakan dinding tenaganya. Namun Ayah angkatnya itu memanggil kabel-kabel bercapit lainnya yang semakin lama jumlahnya semakin bertambah dan beramai-ramai menghantam dinding tenaga Kaizo hingga retak. Menyadari dinding tenaganya tidak mampu lagi menahan serangan Haryan, Kaizo menoleh ke arah BoBoiBoy dan teman-teman Superheronya.

"Lepaskan semua kuasa kalian, sekarang!" Perintahnya. BoBoiBoy mengangguk dan menoleh ke arah Yaya, Ying, Gopal dan Fang. Keempat temannya itu pun menyadari bahwa inilah saat yang tepat untuk kembali beraksi dan langsung balas mengangguk. Segera mereka berseru secara bergiliran sembari mengeluarkan kekuatan masing-masing.

"TEMBAKAN PENGHANCUR MOLEKUL!"

"KUASA HENTAMAN GRAVITI!"

"KELAJUAN MASA!"

"SEPARA NAGA BAYANG!"

Gopal menembak puluhan robot capit listrik itu dengan tembakan penghancur molekulnya hingga lebur menjadi serpihan-serpihan kecil. Yaya menjambak beberapa ikat kabel bercapit dan memutuskan mereka dengan kekuatan gravitasi maksimal. Fang mencakar sisa dari lengan robot-robot capit itu hingga menjadi potongan-potongan kabel kecil menggunakan armor Naga bayangannya. Kaizo melepas dinding tenaganya dan segera melesat ke atas guna menghindar dari terjangan capit-capit robot yang mendesak dinding tenaganya tadi dan menebas mereka dari atas beberapa kali tanpa sekalipun menyentuh lantai. BoBoiBoy melihat Haryan memanggil 'bala bantuan' berupa puluhan capit robot dari bawah lantai lagi. Inilah saat yang tepat untuk mencegah pria itu dari menggunakan bala bantuan. Segera anak itu berseru seraya mengeluarkan lingkaran cahaya raksasa dari tubuhnya.

"BOBOIBOY KUASA TUJUH!"

Segera ketujuh pecahan elemen BoBoiBoy itu menyerang Haryan bersamaan. Tanpa ampun, Mereka mengeluarkan kekuatan masing-masing.

"PUSARAN MEGA HALILINTAR!"

"SEDUTAN MAKSIMA TAUFAN!"

"TUMBUKAN TANAH GERGASI!"

"NAFAS BERAPI MAKSIMA!"

"BELITAN AKAR BERDURI!"

"SILAUAN TRENDY ILMU PENGETAHUAN!"

"HIKMAT SURAT PENGAKUAN KEKALAHAAANNN!"

Krikk... Krikk... Krikk... Krikk...

"Wey, apasal kamu berdua pakai serangan macam tu meh?" tanya Ying facepalm begitu ia dan teman-temannya melongo ria melihat serangan abal-abal kedua pecahan elemen es dan cahaya dari BoBoiBoy itu.

Ice menoleh. "Asal korang tahu, Uncle Haryan belum tengok surat pengakuan kekalahan aku ni," katanya lugu, membuat semuanya kembali facepalm berjama'ah.

"Dan tentunya dia pon belum tengok cahaya pengetahuan aku," ucap Solar seraya menyinari aula itu dengan kesilauan yang tidak berarti sambil memasang pose segaya mungkin. Segera semuanya menjatuhkan diri masing-masing ke lantai melihat tingkahnya yang notabene tidak pada tempatnya.

"Ish, korang berdua ni. Serius sikit lah!" ujar Halilintar gusar.

"Tapi aku sorang pon belum terbiasa dalam keadaan macam ni," ujar Thorn gugup. "Lagipun aku dan Solar baru berjumpa dengan Uncle Haryan. Aku kena-"

BZZZZZZZRRRTTTTTT!

"AAAAAAAAHHHHHHH!"

Ia memekik begitu Haryan yang dibelit akar berduri miliknya berhasil melepaskan diri dan langsung mencengkeram BoBoiBoy Thorn dengan salah satu kabel bercapitnya, menyetrumnya di tempat. Dengan sigap Kaizo pasang ancang-ancang dan menebas kabel itu hingga putus menggunakan pedang lasernya yang akhirnya menjatuhkan Thorn ke lantai. BoBoiBoy pengendali tumbuhan merasa sekujur tubuhnya kesemutan. Segera Yaya dan Blaze menghampiri pecahan BoBoiBoy yang ujung topinya menghadap ke samping kiri itu.

"Kau takpe?" tanya Yaya cemas sementara Blaze tanpa diminta sigap memegang dan menarik tangan kanan Thorn perlahan, membantunya berdiri. Thorn segera pasang senyum malu-malu.

"Ma- Maafkan saya, semua," katanya sopan bercampur gugup. "Saya memang merepotkan."

Yaya menggeleng. "Tak. Kau tak repotkan kitorang, kot," Katanya lembut. "Kita kan kawan. Wajar saling membantu."

"Betul apa yang Yaya cakap," tambah Blaze sumringah. "Nah, Thorn. Jom kita sedarkan Uncle Haryan."

"Um," angguk Thorn naif. Blaze pun memapahnya pelan-pelan hingga Thorn merasa dirinya lebih baik dan akhirnya bisa kembali beraksi. Haryan memandangnya dengan pandangan kecut.

"Kau ingat kau boleh belit-belit aku macam Ubi Jalar ke?" tukasnya kesal. "Jaga kau, Tarzan kecik!"

"Umm- Jangan lah marah dekat saya, Uncle Haryan. Sebab sebenar pun ada soalan yang mahu saya tanyakan pada Uncle," kata BoBoiBoy pengendali tumbuhan. "Uncle Haryan tadi kata nak jaga saya. Tapi saya bukan anak Uncle lah. Satu lagi, Tarzan dan Ubi Jalar tu apa benda? Baru dengar pon, hehehe."

GUBRAK!

"Hadehh, apa jadi dengan dia ni?" tanya Taufan sweatdrop setelah ia dan teman-temannya menjatuhkan diri ke lantai untuk kesekian kalinya. Kaizo tidak termasuk karena ia sibuk melayani capit-capit robot milik Haryan yang jumlahnya belum juga berkurang. Haryan mau tidak mau pasang wajah tersiksa mendengar kalimat Thorn.

"Hei, kau ni tak pernah baca buku ke, Hah?!" tanyanya bingung sekaligus gusar karena merasa dipermainkan. Thorn semakin menunjukkan wajah polos mendengar pertanyaan ketua Organisasi ONION ke-99.

"Buku? Benda apa tu? Semacam Haiwan ke?"

"Hoi! Buku bukan Haiwan lah!"

"Dah tu, Buku tu apa benda? Nama orang kah?"

"Ergh- Budak payah betul kau ni," tukas Haryan kesal. "Dah puas kau permainkan aku, heh? HIAAAHHHH!"

"Awas, Thorn! PECUTAN CAHAYA!"

Solar segera melesat ke arah Thorn dan menarik tangan anak itu sebelum ia terkena terjangan capit-capit robot yang mulai bermunculan di sekitar Haryan. Solar memandang 'Kakaknya' itu dengan tatapan kalem.

"Jangan remehkan Uncle Haryan, walaupun dia takde fesyen sedikitpun," katanya tenang. "Kau boleh tanyakan dia semua soalan kau selepas dia sedar diri nanti."

Thorn mengangguk pelan. Ia dan keenam pecahannya yang lain beserta teman-temannya berusaha mengalahkan Haryan, membuat pria paruh baya itu kewalahan.

"Ergh- tak sangka korang semua memang nak menentang aku," tukasnya gusar lalu menatap Kaizo. "Dan apasal kau boleh masuk ke aula ni? Padapun Aula ni dah dilingkupi dinding lezinah elektrik yang diamankan dengan namber kode. Dan cuma aku yang tahu namber kode tue. Kau tak pernah cakap kalau kau ialah seorang Hacker, Kaizo."

Kaizo memandang pria itu nanar. "Bukan aku yang lenyapkan dinding lezinah guna namber kode, Vader. Dan asal kau tahu, aku tak pernah berminat untuk menjadi seorang Hacker."

"Dah tu, kalau bukan kau yang retas nomor kode program dinding lezinah tu, lalu siapa?"

"Dia."

"?"

Haryan menoleh ke arah yang ditunjuk pedang laser Kaizo itu dan tersentak kaget begitu mengetahui siapa yang meretas program dinding transparan elektrik yang melingkupi aula utama tadi. Ia melotot ke arah tiga sosok di depan pintu utama, terutama sosok yang berdiri di tengah dan memakai pakaian a la Superhero.

"Ka- Kau yang retaskan sistem dinding lezinah elektrik buatan aku?!"

"Hahahahaha- mestilah iya, wahai penggugat alam semesta," ujar sosok di tengah dengan nada heroik. "Kerana bukanlah namanya Kebenaran kalau tak reti pasal retas-meretas. Dan sekarang BERSIAPLAH UNTUK DIKALAHKAN OLEH HACKER KEBENARAAANNN!"

Semuanya terkesiap melihat ketiga sosok di depan pintu itu.

"Cikgu Papa?! Abang Ray?! Tok Aba?!"

"Hmm, korang ingat kami tak terlibat ke?" gerutu Tok Aba lalu memandang Haryan. "Dan kau. Saya tak menyangka kau yang sebabkan semua ni. Pantas sahaja Anak aku curiga sangat dekat kau, Haryan Pakpak Darwish. Kau yang memimpin gerakan ini. Apa maksud kau buat semua ni? Sampai libatkan Cucu dan Anak aku pulak tu."

Haryan menghela nafas. "Ahh- Uncle Aba. Kau masih ingat semuanya walaupun umur kau dah termasuk lanjut," katanya sembari tersenyum getir. "Maafkan diri Haryan ini, Uncle Aba, tapi Anak kau dah tahu banyak sangat, termasuk Isteri dia. Jadi aku masukkan diorang dekat operasi Death List beberapa bulan lepas. Dan BoBoiBoy, aku terkesan bahwa dia dah jadi Superhero di Pulau Rintis bersama dengan kawan-kawan lembek dia. Sayangnya kesalahan Makhluk-makhluk hidup lainnya sudah berada di ambang batas kewajaran. Pembelot, rasuah, dan segala keburukan, aku sudah muak dengan semua itu. Lagi baik kalau kematian diorang dipantaskan agar Alam Semesta bisa kembali macam keadaan awal. Bukankah itu sempurna?"

"Tuan Haryan..." Ray hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kami tahu kau muak dengan semua benda pelik yang diperbuat makhluk hidup. Kami pun muak. Tapi cara untuk mengatasi semua itu bukan dengan penghapusan massal macam yang kau canangkan ni. Cara yang tepat ialah dengan cara lembut dan tegas serta mengajak, bukan serta-merta menghapuskan semua itu sambil lalu."

Kaizo menatap semuanya satu-satu lalu kembali memusatkan perhatian ke arah Haryan. "Nampaknya apa yang dicakapkan mereka memang betul," Katanya. "Vader, aku dan Pang mungkin bukan manusia. Tapi kami faham apa yang terjadi dekat diorang. Kak Rosa pun sebenarnya faham perkara ni, tapi dia mengatasnamakan hasrat diatas segalanya, dan itulah yang hancurkan diri dia sorang. Aku dan Pang tak mahu jadi macam tu juga. Baik kau sedar sekarang, Vader. Kecuali kalau kau memang nak dibelasah."

"SUDAH CUKUP!" tahu-tahu Haryan membentak. "Korang ingat korang boleh heret aku dari rancangan yang dah lama aku susun macam sesenang yang korang kirakan? KORANG TAK KAN BOLEH HENTIKAN AKU, SEKUAT APAPUN USAHA KORANG!"

ZRAAAAAKKKKKK!

Detik berikutnya puluhan capit robot berukuran raksasa kembali bermunculan dari bawah lantai aula utama lantai sembilan puluh gedung markas ONION. Semua lawannya segera pasang siaga. Kali ini Haryan tidak main-main.

"Semuanya jaga-jaga!" Tukas Gempa was-was. "Nampaknya robot capit milik Uncle Haryan kali ini lagi besar dari yang tadi."

"Hmp, dia memang bukan tipe yang senang menyerah," timpal Halilintar lalu menghunus pedang Halilintarnya yang berwarna merah menyala.

"Tok Aba, Abang Ray dan Cikgu Papa kena keluar dari Aula ni. Disini berbahaya wo!" Kata Ying cemas. "Biar kami yang uruskan Uncle Haryan tu."

"Ooo- Kalian ingat Kebenaran akan biarkan kalian dihapuskan, Haaaaahhhhh?!" sembur Papa Zola kesal. "Tak kan lah sampai hati Cikgu tinggalkan kalian semua. AYO KITA BELASAH SI KABAR HARIAN TU!"

"Tch, semahu apapun kita belasah Vader, dia tak kan boleh dikalahkan kalau capit-capit robot dia masih ada lagi." Kaizo merenggut. "Kita kena cari kelemahan dia."

Gopal menelan ludah. "Hayoyo, Uncle Haryan tu macam takde kelemahan lah dey!" Ujarnya pesimis. "Ada hal je lah Kapten Kaizo ni."

"Tak. Betul apa yang Abang aku cakapkan, Gopal. Encik Haryan mesti ada kelemahan," kata Fang tiba-tiba. "Betul tak Kapten?"

Kaizo mengangguk. "Ya. Dan aku pasti itu."

"Dah tu, apa kelemahan dia?" Gopal segera pasang wajah tidak sabaran sekaligus geregetan melihat tingkah Kaizo yang menurutnya sok tahu.

Kaizo memicingkan kedua matanya ke arah Haryan, meneliti pria itu dari kepala hingga kaki. "Aku tahu kelemahan dia," katanya segera, membuat semua rekannya tersentak kaget.

"Apa kelemahan dia?"

Sang Kapten mendesah perlahan lalu menggumam dengan sorot mata serius andalannya.

"Korang tengok Cincin giok kemerahan kat jari tengah tangan kanan dia tu? Itulah kelemahan dia."

Serentak semua rekannya melongo mendengar itu.

"Heee? Cincin giok tue kelemahan dia?!"


Pesawat Angkasa Cici Ko, 27 Juli 2014 pukul 17:51

"Uhh, dimana aku?"

Mila mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia terbaring di atas sebuah kasur empuk yang berada di sebuah ruangan berukuran sedang. Seorang pemuda yang tampaknya adalah cyborg Ultra Humanoid buru-buru mendekati gadis itu dengan wajah berseri.

"Ah, kau dah sedar rupanya," ucapnya senang lalu menekan salah satu headphone yang terpasang menggantikan kedua telinganya. "Komander, sini. Milyra dah siuman."

"Oh, iya ke? Syukurlah kalau macam tu. Aku akan segera kesana," jawab suara di ujung headphone. Pemuda cyborg berambut merah dan berpakaian serba hijau dan kuning dengan mata biru itu menatap Mila lamat.

"Aku senang kau dah sedar, Milyra. Macam mana keadaan kau?" tanyanya sumringah, membuat Mila tersengih karena ini pertama kalinya dia bertemu tatap dengan cyborg yang sama sekali tidak dikenalinya. Gadis itu membuka mulut dengan wajah tercengang.

"Siapa kau ni? Kenapa aku bisa ada disini?!"

"Astaga, maafkan saya. Saya belum kenalkan diri," kata lawan bicaranya. "Aku Motobot, Sfera Kuasa penghasil kendaraan."

Mila terkejut. "Eh? Kau pun Sfera Kuasa?" tanyanya. "Maknanya kau kenal Ochobot ke?"

"Yup," angguk Motobot. "Dia Sfera kuasa generasi kesembilan sementara saya ialah Sfera kuasa generasi kedelapan. Dan suatu kehormatan buat saya berjumpa dengan Puteri Mahkota Planet Fantasi Tim Tam Dua macam kamu. Maafkan kelancangan saya tadi."

Mila menghembuskan nafas lega. "Aku pun nak minta maaf sebab ingatkan tadi kau ialah musuh atau apalah itu," tukasnya. "Oh, ya. Mungkin lagi baik kau tidak melabeliku dengan panggilan Puteri Mahkota, Motobot. Aku sudah dikudeta dari Planet aku. Tak payah lah berformal dekat aku."

"Umm- baiklah, Milyra. Sekali lagi maafkan saya," kata Motobot lalu menoleh ke arah pintu ruangan yang sudah terbuka dan berseru ke sosok yang ada di pintu itu. "Ah, Komander. Anda tiba dalam masa yang tepat."

"Komander?" Mila kebingungan mendengar kata-kata Motobot dan ikut menoleh ke arah pintu dan tahu-tahu tersentak kaget. "Eih? Koko Ci?!"

Cici Ko tersenyum lalu masuk ke dalam. "Aku senang kau dah sedar, Milyra," ungkapnya. "Macam mana keadaan kau?"

"Aku baik. Terima kasih," kata Mila lembut. "Tapi macam mana korang boleh kesan aku dekat Gedung ONION? Korang lawan Sebastian ke tadi?"

Motobot menggeleng. "Tak. Aku dan Komander tak lawan dia sebab dia pergi kejar dua cahaya yang keluar daripada badan kau. Entah apa yang nak dia perbuat dekat kedua cahaya tue."

"Eh? Dua cahaya yang keluar daripada badan aku?" tanya Mila tidak mengerti. "Apa maksud kau ni?"

"Entah. Saya pun tak pasti. Tapi mungkin sahaja kedua cahaya tu ialah kuasa kau."

"Kuasa aku?" Mila mengerutkan kening. "Sepanjang yang aku tahu, Ochoboy bagi aku kuasa manipulasi gelombang sebelum dia dilarikan Adu Du. Sebelumnya aku cuma boleh berpecah jadi tiga kuasa: X, Gamma dan Infra Merah. Dan beberapa waktu lalu, aku dapatkan kuasa Longitudinal dan Transversal pula. Apa warna kedua cahaya yang keluar daripada badan aku tadi?"

"Hmm-" Cici Ko menggaruk dagunya, mengingat-ingat. "Kalau tak silap, warna kedua cahaya tu ialah Merah hati dan Ungu gelap, macam warna Gothic. Aku dan Motobot pun hanya sekilas tengok kedua cahaya tu sebelum akhirnya Sebastian kejar mereka. Ada yang ingin kau tanyakan pasal kedua cahaya tu ke?"

Mila menundukkan kepala dengan murung. "Aku risau kalau-kalau kedua cahaya tue ialah kuasa Longitudinal dan Transversal yang baru sahaja aku dapatkan," katanya lalu menatap Motobot. "Ah, ya. Motobot kan Sfera kuasa jugak. Boleh ke kau kesan kuasa-kuasa yang ada dekat badan aku?"

Mendengar permintaan Mila itu, tahu-tahu Motobot segera menunjukkan ekspresi gugup.

"Sebenar pun saya bukanlah Sfera kuasa yang bekerja dalam bidang itu."

"Habis tue, kau ahli dalam bidang apa, Motobot?"

"Saya Sfera kuasa kendaraan, bukan Sfera kuasa Superhero macam Ochobot. Kuasa saya ialah terfokus untuk menciptakan kendaraan canggih dalam sekejap mata"

"Ohh, macam tu. Sori, Motobot. Aku terlampau memaksa kau."

"Tak da pe. Saya pun faham," Balas Motobot dengan senyum simpul. Dipandanginya Cici Ko. "Jadi tugas kita memantau ONION dah selesai ke, Komander?"

"Bisa dibilang macam tu, Motobot," jawab Cici Ko lalu menoleh ke arah Mila. "Nah, baik kau pergi sertai BoBoiBoy dan kawan-kawan dia sekarang, Milyra. Aku rasa diorang kini tengah kesulitan melawan musuh."

Mila menepuk kepalanya. "Alamak! Kenapa aku lupa dengan BoBoiBoy dan kawan-kawan dia?" tukasnya terlonjak. "Tapi aku tak tahu dekat mana diorang sekarang. Macam mana ni?"

"Tenang, Milyra. Biar aku yang kesan keberadaan dia orang," tawar Cici Ko seraya membawa Mila dan Motobot ke ruang kendali dan melacak keberadaan BoBoiBoy dan teman-temannya. "Ah, dapat! Diorang sekarang berada dekat Aula utama lantai sembilan puluh gedung Markas pusat ONION."

Motobot melongo. "Eh? Bukannya dekat Aula tu ada Haryan Pakpak Darwish ke? Mereka mesti tengah berhadapan dengan Haryan, dan itu berbahaya!"

"Baiklah kalau macam tu. Aku akan pergi kesana sekarang," ucap Mila mantap lalu menatap Motobot dan Cici Ko. "Tapi kalian berdua tak nak ikut ke?"

Cici Ko menggeleng. "Maaf, Milyra. Tapi misi kami disini hanyalah memantau aktiviti ONION sahaja, bukan berlawan," tegasnya. "Lagipun ONION saat ini memang mengincar Sfera Kuasa, padapun Sfera Kuasa bukan prioritas utama diorang. Aku tak nak biarkan Motobot terlibat juga. Semoga berjaya."

"Terima kasih, Koko Ci. Terima kasih, Motobot," kata Mila dengan nada berhutang budi dan buru-buru terbang keluar pesawat angkasa Cici Ko. Cici Ko dan Motobot menatap kepergian gadis itu dengan khidmat.

"Komander yakin ke tak nak ikut melawan Haryan?" tanya Motobot namun segera dibalas dengan gelengan kepala oleh Cici Ko. Atasannya itu hanya bisa menghela nafas dengan kepala menghadap lantai

"Macam yang aku kata tadi, tugas kita disini hanyalah memantau aktiviti ONION. Aku tak nak identiti pasukan kita terbongkar oleh mereka. Lagipun keselamatan kau boleh terancam kalau kau hadirkan diri kau dekat ONION. Apalagi sekarang dia orang tengah mencari Sfera-Sfera kuasa untuk memantaskan proyek 'Sapu Katharsis' mereka."

Motobot terkesiap. "Ha? Diorang masih sahaja sambung kerja proyek tue lagi? Ingatkan proyek tu dah dibatalkan. Kenapa bisa?"

"Entah. Aku pun tak lah terlalu faham," renung Cici Ko. "Yang jelas, kita jangan sampai terlibat untuk masa kini. Ayo kita pergi dari sini sekarang, Motobot, sebelum musuh boleh mengesan kita."

"Baik, Komander."


Sementara itu, Mila segera terbang ke lantai sembilan puluh lewat sebuah jendela di lorong yang kebetulan tengah terbuka. Dia sungguh khawatir. Dari kata-kata Motobot mengenai Haryan, Mila yakin bahwa BoBoiBoy dan teman-teman Superheronya tidak akan sanggup menghadapi Ketua ke-99 dari ONION itu. Dalam hati ia menyesalkan tindakan BoBoiBoy dan kawan-kawan yang seharusnya mencari tubuh Kaizo yang disembunyikan musuh, bukan malah mendatangi Ketuanya.

Begitu ia berbelok ke ujung sembari, sekonyong-konyong sesuatu menabraknya dengan keras. Mila terjungkal namun untungnya sebuah tangan robot menariknya agar tidak terjatuh. Mila meringis. Siapa yang menabraknya tadi? Diangkatnya wajahnya ke orang yang menabraknya itu dan ternganga hebat.

"Robe?! Adu Du?!"

Betul saja. Rupanya gadis itu menabrak tubuh Probe yang sudah berubah ke mode Mega Probe yang di atas kepala kendalinya duduk Adu Du. Sang Alien berkepala kotak hijau itu segera mengomel.

"Ei, mata kau tu tak beres ke? Kau tak nampak kalau kitorang datang dari ujung serambi kah?!"

"So- Sori, Adu Du. Aku terburu-buru tadi sebab aku cemaskan sangat BoBoiBoy dan kawan-kawan dia," ujar Mila terbata-bata karena kaget. "Aku-"

"Cemaskan BoBoiBoy? Memangnya diorang sedang berhadapan dengan apa, Mila?"

"Eh?"

Mila mendengar suara cempreng bak anak kecil berumur dua belas tahun yang asalnya dari sosok yang menariknya agar tidak terjatuh tadi. Tapi bagaimanapun juga, ia kenal betul dengan pemilik suara itu. Ditolehkannya kepalanya ke sosok itu dan membelalakkan kedua iris matanya yang berwarna pink tua.

"Ka- Kau," Mila terangap-angap. "OCHOBOY?!"

Ia ternganga melihat cyborg Sfera Kuasa generasi kesembilan yang memegang lengannya itu. Apalagi selain melihat Ochoboy bisa diperbaiki setelah Rosaline merusaknya dengan separah mungkin? Belum sempat bertanya, Ochoboy segera menaruh jari telunjuk kanannya di depan bibir.

"Shhh, jangan lah cakap kuat-kuat, Mila. Aku, Adu Du dan Probe sedang menyusup masuk ke dalam gedung ni sebab BoBoiBoy belum juga balik tau."

"T-Tapi macam mana kau hidup balik? Dan apasal suara kau jadi macam budak kecik?"

"Semua sistem dekat badan aku ni dah disetel ulang, begitu juga dengan suara aku, tapi umur aku tak. Dan mungkin sekitar dua jam ke hadapan akan ada benda yang berlaku dekat kuasa elemental BoBoiBoy. Aku kena bantu dia sebelum semuanya terlambat. Oh, ya. Kau kena berterima kasih pada Adu Du, Mila. Kalau sahaja dia tak korbankan saldo kad kredit Plutonium dia untuk beli alat kontak jantung buatan daripada Bago Go, maka aku tak kan boleh berjumpa dengan kau lagi."

Tepat setelah Ochoboy mengatakan itu, Mila tiba-tiba sudah terbang ke arah Adu Du dan langsung merangkulnya hingga Adu Du nyaris sesak nafas.

"KYAAAA! Adu Du kawan lama aku, aku berhutang budi terhadap kau!" ujar gadis itu senang bukan main. Dan tentu saja tindakan itu membuat Adu Du malu bukan kepalang. Mungkin karena dia jarang dipeluk perempuan selain ibunya sendiri. Dengan gugup ia berusaha mendorong Mila agar tidak terus-menerus memeluknya.

"Wei, apasal kau peluk-peluk aku ni? Geli lah!" ujarnya kalap seraya mendorong Mila. Namun Mila masih saja tidak melonggarkan rangkulannya sehingga Adu Du kali ini merasa tercekik. "Ahg... Nafa... Nafas aku! Lepaskan!"

"Alamak! Kenapa kau tak cakap kalau kau sesak napas tadi?" Mila melepaskan pelukannya dari Adu Du begitu merasa pria cilik alien kotak itu meronta karena sesak nafas. Langsung saja Adu Du menghembuskan nafas kuat-kuat dan menatap Mila dengan pandangan jengkel.

"Ish kau ni! Habis nafas aku," tukasnya cemberut. "Kalau aku dah jadi jahat balik, aku akan buat kau menyesal, Milyra!"

"Ei? Bukannya kau dah jadi kawan kami ke, Adu Du?" tanya Ochoboy heran.

Adu Du menepuk jidatnya. "Oi, korang tak ingat ke? Aku bantu korang ni sebab perkara ONION ni je. Selepas semua ini selesai, aku akan kacaukan balik Planet Bumi. Jaga korang!"

"Haih, ingatkan kau dah insaf pun," Tukas Mila facepalm. "Tapi Robe masih jadi kawan kami, kan?"

"Err- aku kan anak buahnya Encik Bos, jadi aku ikut keputusan dia je lah," ucap Probe malu-malu. "Tapi sekarang kita tengah kesan BoBoiBoy dan kawan-kawan dia. Dah lewat satu jam, tapi mereka belum juga balik dari siasat badan Kapten Kaizo. Jadi kami semua siasat gedung ni dan berpencar dengan kelompok Tok Aba, Ray dan Papa Zola. Ada yang tahu dekat mana mereka sekarang?"

Mila terkejut. "Ah, aku tahu!" ujarnya sembari menjentikkan jari. "Adu Du, Robe, Ochoboy, kita pergi ke Aula utama tingkat sembilan puluh gedung markas ONION nie. Aku pasti BoBoiBoy dan kawan-kawan dia dah ada dekat sana."

"Ai'? Macam mana kau tahu cepat sangat?" ujar Adu Du kaget. "Ada yang bagi tahu kau ke?"

Mila tersenyum penuh arti. Sebenarnya dia ingin menjelaskan bahwa Cici Ko dan Motobot-lah yang membantunya melacak lokasi BoBoiBoy dan teman-temannya berada sekarang. Tapi entah mengapa gadis itu merasa tidak perlu mengumbar semua itu. Dengan lembut ia pun berucap.

"Dah lah. Firasat aku mengatakan diorang dah ada dekat atas dan tengah berlawan dengan Haryan Pakpak Darwish, sang ketua ke-99 Organisasi ONION. Baik kita cepat, sebelum diorang dibelasah habis-habisan!"


Lantai satu Gedung Markas Organisasi, 27 Juli 2014 pukul 17:53

Sebastian masih saja mengejar kedua cahaya berwarna merah dan ungu yang keluar dari tubuh Mila. Dalam hati ia terus-terusan bertanya apakah perihal dari kedua cahaya berwarna yang keluar dari dalam tubuh kakak kembarnya itu. Ia berbelok ke sayap kanan gedung dan menabrak seseorang hingga orang itu jatuh terpelanting.

"Hayoyo, mata kau tu buta ke, dey? Kalau jalan tengok-tengok lah!"

Sebastian meraba keningnya yang rada benjol akibat bertabrakan tadi. Dia menyeringai hambar.

"Sori, Arumugam. Sekarang aku tengah buru-buru. Ada benda yang nak aku kejar."

"Ceh, dah macam budak kecik lah kau ni. Kejar-kejar cahaya pulak, macam kejar bintang kejora dah. Apa benda tu?" dengus Arumugam kesal seraya mengibas-ngibaskan setelan jas setengah resmi miliknya. Sebastian celingukan ke kanan-kiri. Didapatinya kedua cahaya merah dan ungu itu di dekat lift menuju dimensi tetangga Lab Sfera kuasa. Sontak pemuda Alien mirip manusia itu berseru.

"Itu dia cahaya tu! KEJAAAARRRR!"

"Eh?" Arumugam terperanjat begitu Sebastian berlari melewatinya dan melesat menuju lift. "Dey, Tian! Tunggu aku!"

Mereka pun berebutan masuk ke dalam lift dan melesat menuju Lab Sfera Kuasa. Keduanya pun menerobos masuk dan pasang siaga.

"Apasal kau ikut-ikut aku ni? "Tukas Sebastian bingung. "Kata tadi tak sukakan aku kejar dua cahaya tue sebab macam budak kecik buat. Otak kau tu dah tak beres ke?"

"Ey, aku pun penasaran lah," balas Arumugam membela diri. "Aku paling benci kawan yang egois. Aku tak mahu kalau kau jadi macam tu."

"Hah, terserah dah." Sebastian memutar bola matanya dengan malas. "Sekarang kita cari dua cahaya berwarna merah dan ungu tu. Mesti mereka ada di sekitar sini."

Arumugam mengeluarkan pistol AK-47 miliknya sambil berjaga-jaga. "Sebenarnya cahaya apa yang tadi kau kejar?" tanyanya sambil menoleh ke arah Sebastian dengan pandangan menghina.

"Sebenar pun rahasia. Tapi nampaknya kau tak boleh dibohongi," kata Sebastian seraya mengeluarkan kedua pedang Celtic-nya. "Kedua cahaya tu keluar daripada badan Kakak kembar aku: Milyra masa aku berduel dengan dia dekat lantai lima puluh tadi. Aku rasa kedua cahaya tu ialah kuasa dia. Mesti best kalau kita dapatkan kuasa dia. Dan-"

SRIIIIINGGGGGGG!

Kata-katanya terputus begitu sebuah sinar berwarna merah hati dan ungu gelap memancar di seantero Lab. Sebastian dan Arumugam meningkatkan kewaspadaan, was-was kalau itu adalah monster. Sekonyong-konyong mereka mendengar suara gedebuk tak jauh di depan mereka.

"Itu dia orang!" seru Sebastian tertahan. "Jom kita tengok, Aru."

Arumugam pasang kuda-kuda. "Kau punya asumsi ke kalau cahaya merah ungu itu ialah Monster?" tanyanya seraya memasukkan ammo ke AK-47 nya.

"Mungkin," balas Sebastian. "Jaga-jaga saja, Aru. Kita pon tak tahu makhluk apa yang berubah wujud dari cahaya merah dan ungu tadi."

Kedua pemuda itu mengendap-endap ke tempat dimana cahaya ungu dan merah yang keluar dari tubuh Mila itu berpendar. Sontak mereka melakukan gertakan begitu tiba disana. Tahu-tahu mereka tertegun melihat apa yang 'lahir' dari cahaya ungu dan merah tersebut.

"Aduhh, kepala aku terantuk besi lah. Tak cantik betul!"

"Takpe, Fragrance. Yang penting kita dah berjaya lepaskan diri daripada 'Akak-akak' kita yang lemah tu."

"Ehe, betul juga tu."

Sebastian dan Arumugam melihat dua sosok yang merupakan wujud asli dari dua cahaya merah dan ungu yang keluar dari dalam tubuh Mila. Keduanya perempuan, dengan rambut perak panjang seperti Mila. Hanya warna mata, warna dan gaya pakaian yang agak lain. Salah satu dari mereka memakai pakaian serba merah dengan lambang gelombang Alpha di bandonya serta rambutnya yang dibiarkan terurai dengan kedua cambang yang dikepang. Senyumnya terkesan merendahkan. Gadis yang satunya lagi memakai pakaian serba ungu dan hitam dengan lambang gelombang radiasi di bandonya serta rambutnya yang cambangnya dibiarkan terurai dan sebagian rambut di belakang dijepit ke atas. Kacamata berwarna Indigo yang menjadi daya tariknya. Ia berpose selayaknya seorang model dalam majalah fashion wanita zaman modern. Sebastian membuka mulut.

"Siapa korang ni?"

Gadis serba merah pun segera menggubrisnya. "Wahh, Sebastian. Senang berjumpa dengan kau disini. Dan kau mesti Arumugam," katanya seraya menuding lembut ke arah Sang 'Pandai Besi', membuatnya merasa ingin muntah karena mual melihat sikap rada genit dari gadis itu.

Sebastian melongo. "Macam mana korang tahu nama kami?" tanyanya heran. Kedua gadis itu melirik ke arahnya. Yang berkacamata Nila berkacak pinggang dengan gaya meremehkan.

"Kau tak tahu ke kalau kami ialah pecahan daripada kuasa manipulasi gelombang Milyra tu? Fuh- tak level sangat dah," ejek sang gadis serba ungu sembari menekan bagian tengah kacamata bergaya kontemporer berwarna Nila miliknya.

"Apa?! Berani kau guna muka penghinaan tu dekat kitorang, Dey?!" Arumugam merasa panas hati melihat tingkah congkak gadis serba ungu itu. Sebastian buru-buru menahannya.

"Jangan marah, Aru. Diorang ni hanya pecahan-pecahan tersembunyi daripada kuasa Milyra," ujarnya menenangkan pemuda berdarah India itu. "Aku rasa diorang ni berada di pihak kita. Buktinya diorang kabur daripada tubuh Milyra. Kau tak perasan ke?"

Gadis serba ungu pun tertawa pelan. "Kau benar, Tian. Kitorang tak betah sangat bersama dengan kelima pecahan gelombang sebelum kami. Diorang tue lembek, tak patut buat kami berdua ni. Maka kami putuskan kami kena pergi. Dan mungkin macam seronok jer kalau kami begabung dengan korang dekat ONION ni. Kami butuh kebebasan tau. Bosan buat hal yang sama untuk Kebenaran setiap harinya."

"Eh, kejap. Korang berdua nak begabung dengan ONION juga?" tanya Arumugam kaget. "Korang bukan mata-mata daripada Milyra, kan?"

"Mana ada," tukas si gadis serba merah sambil tertawa. "Asal korang tahu, kami ialah pecahan keenam dan ketujuh daripada Milyra. Tapi kami tak level dengan 'Akak-akak' kami yang rendahan tu, hihi... Jadi mungkin begabung dengan korang akan membuat kami lagi hebat dan lagi popular daripada dia orang, kan? Kan?"

Sebastian mengangguk-angguk. "Aku faham kot," tukasnya lalu tersenyum kecil. "Dan aku percaya dengan korang. Ah, hampir lupa. Aku tak tahu nama kuasa korang ni. Boleh bagi tahu nama korang, tak?"

"Nama kami?" tanya si gadis serba merah. "Baiklah kalau kau memang patut untuk itu, Tian. Aku Milyra Fragrance, penkawal kuasa gelombang Alpha." Ia lalu menoleh ke gadis serba ungu di sebelahnya. "Dan ini Milyra Violet, penkawal kuasa gelombang sinar Ultra Violet. Haa... Elok, kan?"

"Ye lah tu," ujar Sebastian sembari mangut-mangut. "Aku senang ada juga pecahan-pecahan kuasa daripada saudari kembar aku yang dukung aku. Nampaknya semua ini macam semakin lama terasa semakin menarik, fufufu..."


Aula utama Lantai Sembilan puluh gedung Markas Organisasi ONION, 27 Juli 2014 pukul 17:55

"Cincin tu kelemahan dia?!"

Para pecahan BoBoiBoy dan keempat teman mereka kaget mendengar petunjuk Kaizo itu. Kaizo mendesah panjang dan berpaling ke arah mereka dengan pandangan mata meyakinkan.

"Kenapa? Tak percaya ke?"

"Mestilah!" ujar Gopal cemberut. "Logic mana yang Kapten Kaizo pakai ni? Cincin mana boleh jadi kelemahan Manusia?"

Kaizo menggeram sebentar. "Dengar, budak Bumi! Aku yang tahu apa-apa benda perihal Haryan sebab dia Ayah angkat aku dan Pang dahulu, jadi dengar saja cakap aku!" tukasnya ketus. "Aku dah pernah tengok manfaat daripada Cincin dia dan hubungannya dengan Capit-capit robot di sekeliling dia. Cincin tu punya gelombang sinyal, semacam pengendali robot. Anggap je kalau Cincin tue ialah remote kawalan dan capit-capit robot tu ialah benda yang dikawal lewat sinyal yang dihantarkan oleh si Cincin. Sinyal daripada Cincin tu sendiri berasal dari gelombang otak pemakainya, jadi sifatnya macam media perantara. Cukup dengan menunjuk ke arah lawan dengan Cincin tu, maka capit-capit robot tu akan menyerang ke arah yang ditunjuk si pemakai Cincin. Kalau tak silap, Cincin tue bernama Telekinetic Nano Ring, salah satu senjata ciptaan Ilmuwan-Ilmuwan hebat dekat Alam semesta. Entah darimana Haryan boleh dapatkan Cincin berbahaya tu."

"Ohh- macam tu," tukas Gempa seraya mengangguk-angguk tanda mengerti lalu menatap Fang. "Hebat betul lah Abang kau ni, Fang. Sampai maklumat-maklumat pelik macam tu dia tahu."

"Iye lah! Adik dia pun mesti hebat jugak," ujar Fang dengan nada angkuh. Kaizo mendelik ke arah anak itu.

"Kau kata kau sorang hebat, eh Pang?" renggutnya. "Hebat darimana? Kau pun malas sangat buat basuh baju aku!"

"Ish, Kapten ni! Itu baju Kapten, bukan baju aku! Apasal mesti aku basuhkan pulak?"

"Itu memang tugas kau, Prebet Pang!"

"Dah tu, Yang Kapten suka sepahkan rumah hingga jadi macam Kapal pecah tu apahal? Tak adil lah!"

"Hm, nanti aku akan bagi kau hukuman latihan tempur 10 jam selepas ini, Pang. Jaga kau!"

"APA?! AKU TAK NAK LAH!"

"BAWAHAN KENA MENURUT!"

"TAK SUDI AKU LATIHAN TEMPUR 10 JAM SEHARI!"

"BERANI KAU INGKAR ARAHAN KAPTEN KAU?!"

Ying tersentak melihat kedua kakak-beradik itu bertengkar. "Haiya, Apasal kamu berdua begaduh ho? Kita disini mahu lawan Uncle Haryan maa, bukannya adu mulut dekat sini!"

"Ish, Ish... tak patut, tak patut," kata Taufan sembari geleng-geleng kepala.

Haryan tertawa hambar. "Hahahaha! Manusia ke Alien ke, semuanya sama sahaja," sindirnya. "Memang betul semua Makhluk hidup berpotensi menghancurkan Alam Demesta. Maka dari itu, wahai anak-anakku, aku akan hapuskan kalian semua! HEAAAHHH!"

ZUUUNNGGG!

"ELAK!"

Para pecahan BoBoiBoy beserta keempat temannya dan Kaizo mengelak dari terjangan capit-capit robot raksasa Haryan yang kembali meyerang. Ray, Tok Aba dan Papa Zola mematung di depan pintu sambil menyaksikan pemandangan itu.

"Uncle Haryan... dia punya Telekinetic Nano Ring?" tanya Ray kaget. "Bukannya itu salah satu senjata terlarang dekat Galaksi ke? Apasal dia punya benda tu?"

Tok Aba menelan ludah. "Tak payah kau teliti benda tu, Ray," katanya agak khawatir. "Kita kena bantu Cucu aku dan kawan-kawan dia tau!"

"Ehh- tapi kita mana ada senjata, Tok?"

"Jangan risau, sebab kita masih ada ROTAN KEINSYAFAN!" pekik Papa Zola seraya mengeluarkan senjata andalannya lalu berlari ke arah capit-capit robot milik Haryan. "Ambik ni, wahai Capit-capit Kejahatan! Rasakan HIKMAT ROTAN KEBENARAAAAANNN!"

BZZZZZZZZRRRTTTT!

"ADEH!"

Belum sempat ia memukulkan Rotan Keinsyafannya, sebuah capit robot tahu-tahu muncul di belakang Papa Zola dan menyetrum guru matematika itu sebelum akhirnya melemparkannya kembali ke Tok Aba dan Ray yang menganga melihatnya. Namun Papa Zola belum juga menyerah. Ia kembali bangkit dengan lutut gemetar.

"Kau... Berani kau menyetrum Kebenaran?!" tukasnya murka. "Baiklah kalau macam tu! Kebenaran akan-"

ZZZZZTTTTTRRR!

Belum selesai dia berbicara, selusin capit robot muncul di hadapannya, membuat nyali Papa Zola ciut.

"Eh? Kalian tersinggung ke? Hoho- maaf, ye... Maaf. Kita kena saling memaafkan tau," ujar Papa Zola cengengesan. Namun tentu saja kabel-kabel bercapit adalah benda mati yang tidak paham dengan bahasa manusia dan langsung menyerbu ke arah Guru Kebenaran dan Tok Aba serta Ray yang sudah pasti kena imbasnya juga. Spontan kedua kerabat BoBoiBoy itu saling berangkulan satu sama lain lalu menjerit.

"AAAAAAAAHHHHHHHH!"

"KYAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Parahnya lagi, Papa Zola ikut menjerit a la wanita miliknya. Buru-buru Ying menyetel jam kekuatannya dan berteriak ke arah capit-capit robot yang sudah mau mencekik ketiga pria dewasa disitu.

"KUASA SLOW MOD!"

Segera capit-capit robot itu menjadi lambat sehingga Ray, Tok Aba dan Papa Zola punya waktu untuk menghindar. Tok Aba menghembuskan nafas lega dan menatap Ying dengan tatapan terima kasih.

"Nasib baik kau tolong kami, Ying."

Ying tersenyum. "Hihi, sama-sama, Tok Aba," katanya. "Bukannya tadi saya sudah cakap kalau kalian bertiga keluar dari sini ho? Berbahaya maa."

"Yang jelas kita tidak bisa menang kalau Cincin dia tidak dihancurkan," ujar Halilintar sembari menebas beberapa capit robot yang menghadangnya. "Takde spesialis pembeku ke dekat sini?"

"Beku?" Ice menoleh. "Urusan beku-beku tu aku. Memangnya kenapa?"

"Kau tembak Uncle Haryan guna tembakan pembeku kau."

"Eh? Boleh ke?"

"Hish, berapa kali aku nak yakinkan kau, Hah?" tukas Halilintar gusar. "Kita kena tembak dia sampai beku agar dia tak boleh gerakkan capit-capit robot guna tangan dia. Faham tak?!"

"Uh, Okey," balas sang pengendali es. "Habis tu, kita kena buat apa?"

"Tembak saja dulu!"

"Hahh- ye lah, ye lah. TEMBAKAN PEMBEKU!"

BLAAAAASSSHHH!

Tembakan itu begitu cepat sehingga tanpa bisa dielak, Haryan tahu-tahu sudah terkena tembakan itu dan terperangkap di tengah-tengah bongkahan es. Capit-capit robot miliknya yang menyerang BoBoiBoy dan teman-temannya berhenti seketika. Ia mendecih marah dan berusaha menggerakkan tangan kanannya yang dipasang Cincin Telekinetic Nano, tapi usahanya itu tidak ada gunanya.

"Wuah, terbaik lah, Ice!" puji Blaze kagum. "Okey, giliran aku pulak! CAKERA API!"

"Tahan, Blaze! Jangan serang dia dulu!" cegat Gempa. "Ice memang sengaja tembak dia agar tak boleh gerakkan capit-capit robot tu. Sekarang target kita ialah Cincin Telekinetic Nano dia. Kalau itu hancur, maka Uncle Haryan tak kan bisa serang kita."

"Alahh- padapun aku nak beraksi tadi," keluh Blaze murung.

"Ha'ah lah. Aku pun nak tengok serangan kau lagi tau, Hihi... Mesti hebat!"

"Eih?"

Blaze terhenyak mendengar suara perempuan kekanakan itu dan menoleh ke samping dimana suara itu berasal. Ia terhenyak lagi begitu melihat Milyra Longitudinal alias Longy berdiri di sebelahnya sembari tertawa cekikikan malu.

"Lo- Longy?! Apasal kau ada kat sini?" tanya BoBoiBoy pengendali api itu dengan tatapan tidak percaya. "Korang berpecah lagi ke?"

Longy terkekeh. "Hihi, Iya lah. Sori, Blaze. Tapi kami tak kan biarkan korang berjuang sendiri tau," jelasnya.

"Lagipun aku nak tunjukkan kalau aku lagi hebat dari budak angin ni." Gamma tahu-tahu muncul di sebelah Taufan, membuat anak itu terlonjak kaget.

"Ish, kau ni! Longgar jantung aku," ujar Taufan seraya mengelus-elus dadanya karena kaget. "Kau kata nak tunjukkan kehebatan kau? Heleh, aku akan lagi hebat dari kau, apalagi Halilintar!"

"Apasal nama aku disebut-sebut jugak?" Halilintar merenggut kesal mendengar Taufan menyinggung persaingan mereka saat itu. Sekonyong-konyong ia mendengar desahan berat di sebelahnya. Sontak ia terkejut begitu mendapati Milyra X berdiri di sebelahnya sembari menggenggam Pedang Sinar-X nya.

"Kau lagi? Ada hal je kau buat aku tekejut macam ni," dengusnya. X mendesah sembari memutar kedua bola matanya yang berwarna putih.

"Kau tak suka ke kalau aku bantu kau?" sergah gadis itu dingin. "Hmp, aku tukar kau jadi tulang-belulang, baru tahu rasa."

"Egh?! A- Aku... aku tak bermaksud- Ah, sudah lah!" Tanggap Halilintar gengsi. Bagi dia, X adalah dirinya dalam versi perempuan. Dan Halilintar tidak menyangka bahwa berinteraksi dengan perempuan penggerutu dan dingin seperti X ternyata cukup menyebalkan juga. Namun X tidak ambil pusing dengan pandangan Halilintar terhadap dirinya dan melirik Infra yang tahu-tahu sudah mendarat di sebelah Gempa, membuat anak serba hitam dan kuning itu terkesiap.

"Infra, tak sangka kau mahu datang kesini!" tukas sang pengendali tanah, membuat Infra memberinya sebuah senyuman lembut.

"Kita kawan, Gempa. Jangan sungkan," katanya lalu melihat ke arah Kaizo. "Oh, dan nampaknya korang boleh hidupkan Kapten Kaizo balik."

"Dey, dia yang datang bantu kami tadi, bukannya hidup balik!" balas Gopal bersungut-sungut. "Entah-entah dia ni Mayat hidup pulak."

"Apa?! Mayat hidup?!" Kaizo segera memberi Gopal tatapan maut. "Tengok saja, budak Bumi. Aku akan bagi kau hukuman latihan tempur macam Pang: 10 jam sehari!"

"Gyaaaaa! Apasal aku dapat hukuman jugak?!" Gopal menatap horror. "Ini semua gara-gara kau, Fang!"

"Wey, apasal aku yang disalahkan?!" tukas Fang membela dirinya. "Kita pon tak tahu kenapa Kapten Kaizo boleh hidup balik, pada pon aku tengok dia meninggal sebab dibunuh Rosaline empat jam lepas. Pelik betul."

PRANG!

"He-Eh?"

Haryan berhasil membebaskan tangan kanannya yang terperangkap bongkahan es. Dengan seringai jahat ia menatap lawannya satu demi satu. "Ah, memang betul Makhluk hidup tu asyik buang masa, macam korang buat tadi," katanya. "Dan sekarang aku akan belasah korang! Rasaka-"

"Jangan harap... BELITAN TIDAL!"

"Apa?!"

SRAAAKKK!

Haryan terkejut begitu sebuah selendang berwarna hijau payau melilit tangan kanannya dan ditarik kuat-kuat sehingga ia tidak bergerak untuk kedua kalinya. Ia melirik ke sumber selendang itu dan mendapati Milyra Transversal alias Versa menarik selendangnya yang melilit lengan kanan Haryan dan berdiri tak jauh darinya. Gadis itu pasang wajah sedatar mungkin, atau mungkin bisa dibilang wajah orang yang mengantuk berat.

"Mungkin korang butuh sedikit pertolongan kat sini," katanya malas. "Ice, bongkahan ais kau tu belum cukup kuat untuk perangkap dia, kau kena tahu tu."

"Eh? Iya ke?" Ice melongo. "Baiklah. Terima kasih atas maklumatnya, Versa."

Versa mengangguk kecil. "Sama-sama, Ice," tukasnya seraya tersenyum pada pecahan BoBoiBoy dengan nomor urut lima. Bukannya tersengih, Ice malah balas senyum pada pecahan Milyra bernomor lima itu, membuat semua yang ada disitu merasa mual dan hendak muntah.

"Oi, Ice! Kau buang tebiat ke?" ujar Solar sembari menutup mulutnya karena mual sementara Thorn yang berada di sebelahnya sudah berundur ke belakang karena tidak tahan melihat adegan itu.

"Versa, kau mulai lagi," dengus X. "Kita dah bertunang dengan Ochoboy lah. Jangan buat bena macam tu dekat Ice. Dia masih budak kecik tau!"

"Mana ada. Aku dan Ice hanya kawan je," balas Versa tanpa merasa bersalah. Ice mengangguk tanda setuju. Tiba-tiba ia merasa sebuah firasat dan buru-buru bertanya pada Versa.

"Eh, tunggu dulu," ungkapnya. "Jangan cakap kalau Ochobot dah hidup balik."

Versa menoleh ke arahnya. "Kalau ya, memangnya kenapa?"

"Eh?! Ocho... OCHOBOT DAH HIDUP BALIK?" ujar semua yang ada disitu kecuali kelima pecahan Mila. Belum sempat dijawab, sosok cyborg sang Sfera Kuasa generasi kesembilan tahu-tahu sudah berada di belakang mereka.

"Korang cari aku ke? Hehehe, maaf sebab dah buat cemas korang semua."

Suara itu terdengar cempreng seperti anak-anak. Tapi para pecahan BoBoiBoy dan teman-temannya tahu betul siapa pemilik suara itu. Dengan gembira mereka berseru.

"OCHOBOT!" serentak mereka berteriak girang. Ketujuh pecahan BoBoiBoy, Gopal dan Fang merangkul sang cyborg muda itu, meluapkan kerinduan sejadi-jadinya. Yaya, Ying, Tok Aba, Ray, Papa Zola dan Kaizo memandang mereka dengan senyum, begitu juga kelima pecahan Mila. Merasa sesak, Ochoboy mendorong kesembilan lelaki yang merangkulnya itu.

"Agh! Kejepit lah! Sesak nafas aku!"

"Hehehe- sori, Ochobot."

Mereka pun melepas rangkulan mereka terhadap Ochoboy dan menatap Sfera kuasa generasi kesembilan itu lamat.

"Macam mana kau boleh hidup balik?"

"Hmm- ceritanya panjang, kawan-kawan," jawab Ochoboy cengengesan. "Adu Du dan Probe yang perbaiki aku. Korang kena berterima kasih pada diorang."

"Eh?" Mereka melihat Adu Du dan Probe yang berada tak jauh dari mereka. Segera Gempa berseru.

"Adu Du! Kau Penyelamat lah! Kami berhutang budi pada kau!"

Adu Du tersenyum simpul. "Ini sebab ONION je aku bantu korang semua," jelasnya singkat. Tiba-tiba ia membelalakkan kedua matanya dan berteriak.

"Eh, BoBoiBoy! Tengok tu!"

"Hah?"

PRAAAANNNNGGGG!

Bongkah-bongkah es yang memerangkap Haryan pecah berkeping-keping. Versa yang juga menahannya saat itu tidak sanggup menahan pria itu dan buru-buru melompat mundur, mendarat di sebelah keempat pecahannya. Haryan mengibas-ngibas jas coklat tuanya yang penuh kepingan-kepingan es dan menatap lawannya dengan senyum getir.

"Ini belum berakhir, budak-budak lemah," katanya dengan nada sinis. "Mari kita tengok seberapa mampu korang boleh halangi aku! HAHAHAHAHAHAAA!"

"Tch, ini tidak bagus," decih Kaizo. "Korang semua pasang siaga. Kali ini kita akan hentikan dia betul-betul."

"Um!" angguk semuanya. Probe berubah menjadi Mega Probe dengan Adu Du yang berada di atas kepala kendali. Ketujuh pecahan elemental BoBoiBoy dan kelima pecahan gelombang Mila segera menyiapkan senjata mereka masing-masing. Yaya mengaktifkan kekuatan gravitasinya hingga penuh, begitu pula dengan Ying dan Gopal dengan masing-masing kekuatan waktu dan molekul mereka. Ochoboy menyiapkan perisai photocyber-nya serta Kaizo menghunus Pedang lasernya. Tok Aba, Ray dan Papa Zola menatap mereka dengan tegang, berdoa yang terbaik untuk mereka semua. Setelah dirasa siap, Gempa mengomando mereka.

"HENTIKAN DIA!"

"YEAH!"

Serentak mereka menyerang Sang Ketua-99 ONION dengan kekuatan masing-masing. Dengan susah payah Haryan berusaha melindungi dirinya dengan capit-capit robot miliknya. Namum tindakannya itu bukanlah pantangan untuk BoBoiBoy dan teman-temannya. Langsung saja mereka membuat serangan kombinasi.

"HEMPASAN GRAVITI MAKSIMA!"

"SERIBU CAKARAN LAJUUU!"

"TEMBAKAN PENGHANCUR MOLEKUL!"

"LETUPAN CAHAYA!"

"TEMBAKAN MISIL PEMUSNAH!"

BUUUUMMMMM!

"ARGH!"

Haryan merasa tubuhnya terlempar dan terguling beberapa kali. Lebam muncul di sekujur tubuhnya. Setengah dari capit-capit robotnya ludes terkena serangan Yaya, Ying, Gopal, Ochoboy dan Adu Du serta Probe tadi. Ia pun mengangkat tangannya ke udara dan berteriak lantang.

"Korang mimpi boleh kalahkan aku! HIAAAHHHH!"

Ratusan capit robot keluar dari bawah lantai. Namun belum sempat mereka menyerang, Fang membentuk sebuah pedang besar dari bayangannya dan mengayunkannya ke arah mereka.

"Rasakan ni: TEBASAN PEDANG BAYANG!"

"Hmp, boleh juga kau ni, Prebet Pang," puji Kaizo. Ia terjun ke kumpulan capit-capit robot dimana Fang berada dan beradu punggung dengannya, membantu adiknya memotong-motong capit-capit robot milik Haryan sebelum mereka sempat aktif.

"Mari kita tamatkan semua ni," tukasnya kemudian. "TEBASAN PEDANG TENAGA!"

SLIIIIINNNNGGGG!

Serangan kedua kakak beradik itu menghabiskan capit-capit robot milik Haryan. Pria itu mendengus kesal sembari mengangkat tangannya ke atas, hendak memanggil senjata-senjatanya kembali. Cincin Telekinetic Nano miliknya bersinar untuk kesekian kalinya tanda hendak memanggil 'Pasukan baru'. Melihat gelagat itu, ketujuh pecahan Elemental BoBoiBoy dan kelima pecahan Gelombang Mila saling mengangguk satu sama lain dan segera bergabung mengkombinasikan serangan mereka.

"PUSARAN X-RAY HALILINTAR!"

"SEDUTAN GAMMA TAUFAN!"

"TUMBUKAN TANAH INFRA MERAH!"

"TEMBAKAN BUNYI BERAPI!"

"HEMPASAN GEYSER AIS BERTUBI-TUBI!"

"BELITAN AKAR LANDAK!"

"TEMBAKAN SOLAR!"

KABOOOOOOOOMMMMMMMMMM!

Ledakan besar terjadi di aula utama lantai sembilan puluh itu, membuat kaca-kaca jendelanya pecah berantakan dan pilar-pilar beton yang mengelilinginya retak tidak karuan. Ketujuh pecahan BoBoiBoy dan Kelima pecahan Mila kembali bersatu menjadi diri asli mereka lalu masing-masing terduduk di lantai akibat kelelahan. Segera Adu Du dan Probe serta Ochoboy mendekati Mila sementara Yaya, Gopal, Ying dan Fang mendekati BoBoiBoy. Kaizo mendarat di atas lantai pasca ledakan. Tok Aba, Ray dan Papa Zola melindungi wajah mereka dengan kedua tangan dari asap hasil ledakan yang masih mengelilingi Aula. Detik berikutnya, tampak Haryan tergeletak tak berdaya tak jauh dari mereka. Cincin Telekinetic Nano miliknya pecah berkeping-keping. BoBoiBoy melihat pria itu tertawa sendiri dengan tawa yang sama sekali bukan tawa kebahagiaan.

"Nampaknya aku dah gagal buat semua ni, Ahahahahaha..." tawanya getir. "Ah, ya. Aku pun hairan... jika aku dah takde dekat dunia ni, apakah rancangan aku masih akan berlaku? Sungguh perkara yang membingungkan..."

"Tenang sahaja, Vader. Aku pasti kalau rancangan kau tak kan terlaksana," gumam Kaizo seraya berjalan dengan tegak menuju pria paruh baya yang sudah terbaring lebam-lebam itu dengan pedang laser terhunus. Haryan mendelik ke arah lelaki muda itu dan tertawa pelan.

"Kaizo, sampai saat terakhir macam ni pun kau masih sahaja buat aku ragu," ucapnya pedas. "Kau pasti rancangan-rancangan aku selama ini tak kan terlaksana? Kau gurau je."

"Aku pasti, Vader." Kaizo sudah berdiri di samping tubuh Haryan yang tergeletak dan mengangkat pedang lasernya tinggi-tinggi, seakan hendak menghujamkan senjatanya itu ke dada pria itu. "Sebab aku akan hapuskan kau, sekarang juga!"

Haryan tersenyum letih. "Hmm- macam tue ke?" ia menukas. "Baiklah, Kaizo. Kalau kau memang nak hapuskan aku sekarang, maka buatlah pasal tu sepantas mungkin. Aku dah sedia."

Kaizo menggigit bibir begitu melihat sinar tekad dari kedua mata Haryan. Pemuda itu menelan ludah. Sebenarnya dia nyaris tidak mampu untuk menghabisi Manusia yang dulu menjadi Ayah angkatnya itu. Tapi melihat situasi kalau Haryan dibiarkan hidup serta Haryan yang meminta Nyawa sendirinya dihabisi, maka ia merasa tidak punya pilihan lain. Dipejamkannya kedua kelopak matanya dan bergumam.

"Baiklah kalau itu yang kau mahukan, Vader. TUSUKAN PEDANG TENAG-"

"Tunggu, Kapten Kaizo!" sekonyong-konyong BoBoiBoy berseru pada Kaizo yang nyaris saja menusuk dada Haryan dengan pedang tenaga lasernya. "Jangan hapuskan Uncle Haryan. Kita tak boleh hapuskan seseorang, walaupun dia sendiri yang memintanya. Jangan hapuskan dia!"

Kaizo menoleh. "Dah tue, kau nak dia sambung balik rancangan-rancangan picik dia?" sambarnya kesal. "Lagipun dia sendiri yang minta aku hapuskan dia! Apa lagi yang kau nak sanggah daripada aku, BoBoiBoy?"

"Sebenarnya saya dan kawan-kawan setuju sahaja kalau Uncle Haryan diberi hukuman penjara seumur hidup daripada hukuman penghapusan nyawa," ungkap sang Superhero elemental." Lagipun saya dan Ibubapa saya yakin kalau Uncle Haryan boleh sedar untuk jadi baik. Tak patut kita hapus-hapuskan orang tanpa pertimbangan tau."

"Hmp, baiklah kalau itu yang terbaik untuk dia," balas Kaizo seraya menarik pedang lasernya dari Haryan. Pemuda itu menghela nafas dan menatap pria itu.

"Maaf, Vader. Tapi aku bukan orang yang tepat untuk hapuskan kau."

Haryan tertawa kecil. "Oh, aku faham. Kau memang budak baik, Kaizo. Aku maklum. Tapi kalau kau memang tak mahu hapuskan aku, maka aku sorang yang akan hapuskan diri aku sendiri, disamping usahaku buat sambung kawalan dekat Organisasi ini dah tamat."

"Ha?!" Kaizo terlihat kaget. "Jangan, Vader! Lagi baik kalau kau masuk penjara ketimbang hapuskan diri kau sendiri. Karena bagaimanapun juga, Tuhan tidak akan memaafkan semua kesalahan Vader dekat alam baka nanti. Baik Vader insafkan diri kat hadapan Hakim. Selepas tu, Vader boleh hidup layaknya Makhluk hidup pada umumnya. Aku peringatkan kau, jangan buat benda pelik tu!"

Haryan menggeleng pelan. Sedikit demi sedikit ia beranjak bangkit. Kaizo yang berdiri tak jauh darinya segera pasang pertahanan, khawatir kalau-kalau Haryan akan menyerang mereka lagi, walaupun senjata pria itu sudah hancur. Diluar dugaan semua lawannya, Haryan melangkah mundur ke jendela raksasa yang pecah berkeping-keping tak jauh di belakangnya sembari memegang perutnya yang cedera akibat diserang habis-habisan tadi dan berhenti tepat di ujung jendela itu. Wajahnya menyunggingkan senyum pasrah dan mengeluarkan sesuatu dari saku jas-nya: Sebuah Detonator. Kaizo terbelalak melihat tindakan Ayah angkatnya itu dan segera berseru.

"Vader! Jangan cuba buat perkara teruk!"

Melihat reaksi Kaizo, Haryan tertawa sedikit. "Maaf, Kaizo. Tapi ini yang terbaik buat aku," katanya dengan yakin. "Mungkin kali ni korang menang. Tapi tunggu saja, rancangan aku bukanlah perkara yang senang untuk korang hapuskan. Sila berjumpa di kehidupan selanjutnya."

"Hah?!" BoBoiBoy terlonjak mendengar kalimat itu. "Uncle Haryan, jangan cakap kalau kau nak-"

"Maaf, BoBoiBoy. Tapi inilah yang aku inginkan."

Tepat setelah ia mengatakan itu, Haryan mendorong punggungnya sendiri ke belakang. Dipandanginya lawannya satu-satu sejenak. Begitu ia memandang BoBoiBoy, ia tersenyum getir.

"BoBoiBoy, kau budak yang baik. Aku tak menyesal berjumpa dengan kau. Sampaikan salam Uncle dekat Ayah kau. Bagi tahu dia, Semuanya akan berakhir dalam kegelapan. Selamat tinggal."

Segera semua lawannya membelalak begitu melihat pria itu menjatuhkan dirinya sendiri dari jendela lantai sembilan puluh itu. Ketika tubuhnya sudah jatuh bebas dari lantai sembilan puluh menuju halaman depan jauh di bawah sana, Haryan tersenyum getir sebelum akhirnya menekan tombol Detonator-nya dengan sekuat tenaga.

KABOOOOOOOOOOOMMMMMMMM!

Ledakan dashyat terjadi setelah lima detik Haryan menekan tombol Detonator yang dipegangnya saat jatuh itu. Segera BoBoiBoy dan teman-temannya menghampiri ujung jendela dimana Haryan menjatuhkan dirinya sendiri ke halaman depan di kaki gedung sana. Mereka menganga hebat melihat aksi nekat dan spontan yang dilakukan oleh sang ketua ONION ke-99. BoBoiBoy tidak menyangka teman dekat Ayahnya itu mengakhiri hidupnya sendiri tepat di depan matanya.

"Uncle Haryan, kenapa kau-" BoBoiBoy menahan luapan emosi di dalam dadanya. "Kenapa kau... buat semua ni?"

Semua yang ada di Aula utama itu membisu pasca ledakan yang mengiringi jatuhnya tubuh Haryan Pakpak Darwish terjadi. Beberapa menit kemudian, Tok Aba angkat bicara.

"Atok tak sangka dia akan nekat buat benda durjana tu," ucapnya sedih. "Apa yang sebenarnya dekat fikiran dia?"

"Dan bagi Uncle Haryan, mati lagi baik ketimbang duduk dekat penjara," timpal Ray penuh sesal." Saya tak habis fikir, kenapa dia sukarkan diri dia sedemikian rupa?"

Kaizo menatap ke bawah gedung dimana Haryan meregang nyawa. Ia menghembuskan nafas berat lalu mendesis.

"Vader, apakah kerana kau tak sukakan 'Dosa Sebenar', kau sampai buat benda teruk macam ni?" ujarnya pilu. "Tidak, Vader. Tindakan kau selama ini salah. Kau salah besar."

Tiba-tiba ia melihat Fang berlari ke arahnya dengan berurai air mata. Rupanya anak itu sudah memendam kerinduannya sejak tadi akibat melihat Kaizo 'hidup kembali'.

"Kapten! KAPTEN KAIZOOOOOOOO! Akhirnya Kapten hidup juga, Huhuhuu," serunya terharu. "PANG RINDU SANGAT PADA KAPTE-"

BLETAK!

"ARGH! Kenapa Kapten ketuk kepala aku?!"

Kaizo mendengus kesal. "Dah tu yang kau biarkan Laptop kau diberikan dekat Vader tu apahal?" ujarnya gusar. "Kalau saja kau tak ceroboh, maka dia tidak akan tahu semua maklumat kuasa aku dan juga kau. Dan hukuman untuk itu ialah: AKU TAK KAN BAGI KAU LAPTOP BARU!"

"A- Apa?!" Fang membelalakkan matanya karena kaget. "Sampai hati Kapten bagi aku hukuman. Pang masih budak kecik lah, jadi wajar kalau ceroboh sikit!"

"Ceh, budak kecik konon. Dah 13 tahun pon," balas Kaizo malas. "Sudah! Minggu hadapan, aku akan bagi kau hukuman latihan tempur 10 jam sehari. Faham?!"

"TIDAAAAAAAAAAKKKKKKKK!"

BoBoiBoy dan teman-temannya tertawa geli melihat tingkah laku kakak adik itu. Mereka baru berhenti tertawa begitu Kaizo memberi mereka tatapan mata setajam pisau.

"Apa pandang-pandang?! KORANG NAK DAPAT HUKUMAN JUGAK KAH?!"

"Ehhh, tak pe, tak pe. Kami tak kan gelakkan Kapten Kaizo," ucap Ochoboy sembari nyengir hambar. "Kami gurau je tadi. Dan-"

BOOOOOOMMMM!

"Hah?!"

Sebuah rudal mini ditembakkan ke arah mereka. Segera mereka menghindar. Mereka terkejut sekali begitu melihat siapa yang menembakkan rudal itu tidak lain dan tidak bukan adalah: Adu Du dan Mega Probe.

"Wey, lu berdua dah hilang akal kah?" tukas Ying sebal. "Kenapa kamu berdua serang kita?!"

"Ha'ah. Bukannya kau dah jadi baik, Dey?" timpal Gopal. "Hipokrit betul lah kau ni, Adu Du."

Adu Du tersenyum sinis. "Hah! Korang tak sedar ke kalau aku dan Probe cuma berkawan dengan korang hanya sebab pasal ONION je?" tukasnya. "Serang diorang, Probe!"

"Baik, Encik Bos! AMBIK NI!"

"ELAK!"

Semuanya menghindar begitu Probe memuntahkan semua rudalnya dari tubuhnya. BoBoiBoy mendengus kesal melihat sikap kedua musuh lamanya itu.

"Ish, korang ni. Tak baik bermuka dua tau," katanya kesal. "Jangan lah macam ni, Adu Du. Kau kena jadi baik semula tau, bukan semata-mata kerana pasal musuh bersama kita ni."

"Diam!" bentak Adu Du. "Mama aku yang suruh aku jadi jahat balik selepas perkara ONION di selesai. Dan korang tahu kan kalau aku dengar cakap Mama aku? Dan sekarang, aku akan belasah korang semua!"

"Tidak akan! Kawan-kawan, kita kena hentikan dia!"

"Okey!"

Segera Adu Du dan Probe babak belur setelah menerima serangan yang sama sekali tidak seimbang dari mereka. Buru-buru Adu Du memanggil Pesawat Angkasanya dan naik ke atasnya bersama dengan Probe.

"Jaga kau, BoBoiBoy! Sampai bila-bila aku tak kan berhenti buat bersaing dengan kau! Tunggu lah kau, TUNGGU LAH! HUAHAHAHAHAHAHAHAAAAA!"

Tawa jahat yang menggema itu pun menghilang bersamaan dengan melesatnya Pesawat Angkasa Adu Du. Sepeninggal Alien itu, BoBoiBoy menatap semua teman-temannya dengan wajah gundah.

"Terima kasih sebab dah bantu BoBoiBoy kalahkan Ketua ONION," katanya. "Walaupun BoBoiBoy sendiri masih terkejut lepas Uncle Haryan bunuh diri tadi. Sebenarnya dia masih boleh disedarkan. Tapi macam Rosaline, dia terlambat untuk itu. Aku harap kita tak bernasib sama macam mereka berdua."

Mila mengangguk. "Betul. Kita kena berubah sebelum ajal menjemput kita suatu saat nanti," katanya setuju. "Semoga kita bisa mengambil Pelajaran daripada kejadian tiga hari belakangan ini. Dengan begitu, kita akan selalu perbaiki diri buat kedepannya."

"Hahahaha- betul apa kata pepatah: Jadilah yang terbaik sebelum masa hidup tamat," kata Papa Zola optimis. "Mari, wahai para Pembela Kebenaran! Jangan pernah berhenti berharap!"

"Betul tu, Cikgu Papa. Jangan pernah berhenti berharap untuk selesaikan masalah kita," ucap BoBoiBoy seraya mengacungkan ibu jarinya lalu menoleh ke arah Kaizo. "Selepas ni, apa yang Kapten Kaizo nak perbuat?"

Kaizo merenung. "Mungkin aku dan Lahap kena selesaikan beberapa urusan," ungkapnya lalu menatap BoBoiBoy dan teman-temannya lamat. "Dengar, BoBoiBoy. Kau tak perlu umbar-umbar kejadian hari ini dekat dunia. Biar dunia sendiri yang sedar bahwa kau lah yang selesaikan masalah ini. Sekali lagi, aku bangga padamu."

"Terima kasih, Kapten Kaizo," balas BoBoiBoy tulus. "Nah, jom kawan-kawan. Kita kena balik sekarang. Esok pun kita dah masuk sekolah lagi."

"Alahh, aku masih nak cuti lah," keluh Gopal. mendengar itu, Papa Zola segera memberinya tatapan tajam dan sontak menghunus Rotan Keinsyafannya.

"APAAAA?! KAU TAK PUAS CIKGU BAGI KAU TIGA HARI CUTI?! HIKMAT ROTAN KEINSYAFAAAANNN!"

"GAAAAAAAAAHHHHH! Saya tak sengaja, Cikgu! Ma- Maafkan saya!" Gopal menjerit-jerit ketakutan sembari kejar mengejar dengan Papa Zola. "BoBoiBoy, tolong akuuuuuu!"

BoBoiBoy tertawa lalu mengacungkan jempolnya lagi. "Hehehe, terbaik lah Cikgu Papa!"


Lantai satu Gedung Markas Organisasi ONION, 27 Juli 2014 pukul 17:58

KABOOOOOOOOOOMMMMM!

Mimi dan Ah Ming mendengar suara ledakan yang berasal dari lantai sembilan puluh gedung dimana Haryan mengakhiri hidupnya di hadapan BoBoiBoy dan teman-temannya. Jika ledakan itu memang berasal dari Aula utama, maka kedua gadis yang tengah menelaah tubuh rongsokan BoBoiBot di sebuah ruang di lantai satu itu punya alasan kuat untuk mencemaskan Haryan.

"Su- Suara letupan apa tu?" tanya Mimi ketakutan. "Semoga Vader baik-baik sahaja."

"Bertenang, Mimi. Kita kena pergi ke Aula utama sekarang buat siasat keadaan Tuan Ketua," ujar Ah Ming berusaha menenangkan temannya yang menggemari gaya baju Lolita itu. Mimi mengangguk lesu dan mengekori 'Sang Anggrek Putih' keluar dari ruangan dimana tubuh rusak BoBoiBot disimpan. Kedua gadis itu tergopoh-gopoh menuju lift, menekan tombol menuju lantai sembilan puluh dan segera melesat ke aula utama. Begitu mereka membuka pintu aula utama tersebut, mereka langsung saja disuguhi pemandangan yang menyakitkan mata.

Aula utama itu terlihat seperti baru saja diterjang badai, hancur disana-sini. Jendela besar di bagian belakang aula pecah berantakan, menyisakan lubang raksasa yang menganga di tengahnya. Pilar-pilar beton tampak retak parah. Ah Ming menutup mulutnya dengan satu tangan karena kaget. Kedua matanya yang merah membelalak horor. Ia meraih ponselnya dan menekan sejumlah tombol dan segera menghubungi seseorang.

"Ha- Halo, Sebastian. Ini aku," ucapnya gemetar. "Ada benda teruk yang berlaku dekat Aula utama. Aku mahu kau datang kesini sekarang juga."

"Eh?" Sebastian membalas dengan sengihan. "Sori, Ah Ming. Tapi aku dan Arumugam tengah merekrut kedua pecahan daripada kuasa gelombang saudari aku untuk jadi ahli pasukan ONION. Memangnya benda apa yang sedang berlaku?"

"Nanti aku terangkan. Baik kau pergi kesini sekarang."

"Uh, Okey."

Ah Ming menutup ponselnya dan menatap Mimi yang sudah memucat karena khawatir tingkat dewa. "Takpe, Mimi. Kawan-kawan kita akan datang sekejap lagi. Diorang akan bantu kita cari Tuan Ketua dan juga cari sebab kenapa Aula utama ni bersepah sangat."

Namun Mimi tidak tahan lagi. Benaknya dihantui kecemasan berlebihan akan nasib Ayahnya. Ia berlari menuju jendela dan melongokkan kepala ke bawah lewat jendela itu. Tahu-tahu kedua biji matanya melotot begitu mendapati beberapa sobekan jas coklat tua Haryan dan bercak-bercak darah yang bercampur dengan abu hasil ledakan. Sesaat dadanya menjadi sesak. Dengan gemetaran Mimi bersimpuh di ujung jendela itu sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Ah Ming langsung merasakan sebuah firasat buruk begitu melihat gelagat temannya. Dugaannya benar adanya karena beberapa detik kemudian, Mimi menjerit histeris.

"VADEEEEEEEEEEERRRRRRRR!"


Kapal Pesiar Papa Zola, 27 Juli 2014 pukul 20:00

BoBoiBoy baru saja keluar dari kamar dek-nya menuju Mushola yang terletak di Buritan Kapal, hendak melaksanakan Sholat Maghrib. Sebelumnya dalam kamar dek-nya dia sudah men-qadha sholat-sholat wajibnya yang terlewat sejak beberapa hari yang lalu sejak dia berpecah kuasa elemental dan para pecahan elementalnya mulai diculik Rosaline satu persatu. Setelah berwudhu dan melangkah masuk ke dalam Mushola yang dingin, ia mendapati Iwan, Papa Zola. Tok Aba, Ray dan Yaya yang sepertinya juga hendak melaksanakan Sholat Maghrib berjama'ah.

"Haa- Ini anak kapal Kebenaran dah tiba," ujar Papa Zola senang. "Ha, mari, mari. Kita Sholat Maghrib berjama'ah."

BoBoiBoy mengangguk. "Baik, Cikgu."

Setelah Sholat dan berdoa, Iwan segera tiduran di atas lantai Mushola yang dihampari karpet berwarna hijau. Tok Aba, Ray dan Papa Zola berbincang-bincang sejenak di salah satu sudut Musholla. BoBoiBoy dan Yaya berdoa agak lam. Setelah selesai berdoa, BoBoiBoy bangkit dan beranjak keluar dari Mushola. Yaya teringat dengan Mimi dan teman-teman lama BoBoiBoy dan segera mencegat pemuda cilik itu, hendak menanyakan perkara tersebut. Sekonyong-konyong gadis berjilbab merah muda itu ingat kalau ia, Ying, Gopal, Fang dan Ochobot sudah sepakat untuk memberitahu BoBoiBoy tentang hal itu besok saat pulang sekolah saja. Segera ia merundungkan niatnya itu dan berhenti mengejar BoBoiBoy. Namun BoBoiBoy menyadari Yaya yang hendak menghampirinya dan membalik badan.

"Kenapa, Yaya?"

"Ehh- takda pe, BoBoiBoy," ucap Yaya cengengesan. "Aku hanya nak cakap kau mesti trauma pasal Rosaline, ONION dan Uncle Haryan."

BoBoiBoy tersenyum simpul. "Alahh- takpe. Aku tak lah ambil pusing sangat pasal diorang," katanya. "Walaupun aku masih sahaja sesalkan kematian Rosaline. Aku pon masih tak faham kenapa Uncle Haryan boleh jadi jahat macam tu, padapun dia dan Ayah aku ialah kawan baik. Tapi aku sedar, aku tak boleh terkunci dengan perkara-perkara yang sudah lepas dari aku. Ochobot dah cakap dekat aku buat jangan pernah salahkan diri atas pasal orang lain. Mungkin terdengar berat, tapi aku rasa cakap dia tu memang betul."

"Umm! Okey, BoBoiBoy. Jumpa lagi nanti," ujar Yaya hangat. "Kita boleh bincangkan semua ni selepas balik sekolah esok. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Sepeninggal BoBoiBoy, Yaya meninggalkan Mushola dan berjalan di Anjungan. Dilihatnya Ochobot yang sudah kembali menjadi wujud robot bolanya dan Mila yang berdiri di sebelahnya, berbincang-bincang. Yaya hanya bisa tersenyum melihat keduanya tampak akrab sekali.

"Sebaiknya Mila dan Ochobot pantaskan pasal masa korang nak kahwin nanti," ujarnya tiba-tiba, membuat Mila dan Ochobot terlonjak kaget karena mendengar suara Yaya yang tiba-tiba itu.

"Ish kau ni! Kitorang terkejut lah," gerutu Ochobot dengan suaranya yang kembali menjadi nyaring nan cempreng tersebut. "Kau buat aku trauma pasal Laptop Fang yang aku ceburkan dekat laut hari tu."

"Hehe, sori Ochobot," jawab sang pengendali gravitasi malu-malu. "Aku cuma nak nak bagi tahu: Baik korang berdua langsungkan perkawinan korang. Tak baik guna status tunangan lama-lama, Kan? Kan?"

"Hm, betul juga apa yang kau cakap, Yaya," ujar Mila setuju. "Tapi aku kan masih satu Sekolah dengan korang. Malu lah."

"Tapi kau pun tak kan lah berlama-lama bertunang. Lagipun umur kau dah 18 tahun. Baik kau langsung kerja."

Mila merenung. "Aku setuju dengan usulan kau. Tapi aku macam rasa seronok bersekolah dengan korang dekat Akademi Pulau Rintis," Katanya ragu. "Tapi takpe. Aku akan cuba usulan kau, Yaya. Aku akan usahakan perkahwinan aku dengan Ochobot nanti."

"Ehh, tapi aku tak mungkin berkahwin dengan wujud Sfera Kuasa aku lah," ujar Ochobot sangsi." Aku mesti ubah diri ke wujud cyborg aku, biar Mila tak dianggap gila sebab kahwin dengan bola kuasa macam aku."

"Okey. Aku harap korang boleh pantaskan benda tu," Ucap Yaya lembut. "Tapi kejap, aku baru sedar kalau suara kau jadi macam budak kecik, Ochobot. Kenapa bisa?"

Ochobot mendesah. "Sebenarnya selama aku mati suri tadi, aku berjumpa dengan arwah data Klamkabot dekat alam bawah sadar aku," jelasnya. "Dia tawarkan aku untuk berikan daya hidup, dengan dua syarat: Pertama, pita suara aku jadi teruk dan bersuara macam budak kecik balik. Kedua, kuasa-kuasa yang aku bagi dekat korang mungkin sebagian kecil akan tersetel ulang. Tapi tak kan berefek pelik sangat."

Yaya terenyuh mendengar kalimat Ochobot itu. "Kau kena bersyukur, Ochobot. Klamkabot mesti sayangkan kau, sampai dia rela bagi kau daya hidup dua kali," ujarnya terharu. "Terbaik lah leluhur kau tu."

"Klamkabot memang perhatian dekat rakan-rakan Sfera kuasa dia," timpal Ochobot sambil menyipitkan kedua mata biru lautnya seolah ia sedang menyeringai. "Oh, ya. Aku hampir lupa. Kau masih ingat kan kalau kita nak bagi tahu BoBoiBoy perihal kawan-kawan lama dia yang jadi ahli pasukan ONION?"

"Yup!" Angguk Yaya. "Tenang sahaja, Ochobot. Kita akan bagi tahu dia guna cara terlembut yang pernah ada. Jumpa lagi."

"Okey, jumpa lagi, Yaya."

Yaya baru saja hendak masuk ke kabin kapal bagian dalam. Sekonyong-konyong ia melihat Pesawat Angkasa Kaizo lewat di atas Kapal pesiar Papa Zola sebelum akhirnya pesawat angkasa itu naik lebih tinggi lagi dan melesat dengan kecepatan tinggi lalu menghilang di balik awan. Yaya mendesah kecil sembari tersenyum melihat itu.

"Kapten Kaizo, harap-harap saya dan kawan-kawan saya boleh berjumpa lagi dengan pasukan Anda," katanya lalu masuk ke dalam kabin dalam. Ia melewati pintu-pintu kamar dek teman-temannya. Didengarnya BoBoiBoy yang sudah mendengkur duluan karena kelelahan di dalam kamarnya yang dipakai pula oleh Ochobot. Stanley dan Amar Deep masih berbincang mengenai petualangan mereka selama tiga hari belakangan ini di kamar mereka. Melissa dan Melody sudah tertidur di kamar mereka karena kelelahan. Amy pun sama. Yaya pun masuk ke kamarnya dan mendapati Ying yang juga sudah tertidur pulas di ranjang kecilnya yang bersebelahan dengan Yaya. Yaya melihat luka di tangan Ying yang tersingkap dari bawah selimutnya akibat terserempet peluru Arumugam. Pandangan matanya terhadap sahabat Cinanya itu segera berubah menjadi tatapan empati. Gadis serba pink itu lalu mengepalkan kedua tangannya dengan tekad yang kuat.

"Jangan risau, Ying. Kita dan kawan-kawan lelaki kita akan selalu saling membantu, apapun keadaannya."


Markas Kotak, 27 Juli pukul 21:00

Adu Du menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Badannya terasa letih sekali. Baru saja ia hendak berlayar ke pulau kapuk, tahu-tahu Probe menggoncang tubuhnya dengan seruan yang nyaris membuat gendang telinga pecah.

"Encik Bos! OHHH, ENCIK BOS! Ada mesej masuk dekat skrin Komputerrrrr!"

"AAAAHHHH!" Adu Du langsung jatuh terjerembab di lantai samping ranjangnya." Woi! Kau ni dah macam jam weker tau. Longgar jantung aku," dengusnya kesal. "Mesej apa yang masuk dekat skrin komputer aku?"

"Hehe, entah, Encik Bos. Tapi mesej tu mesti best!" balas Probe girang. Ia dan Adu Du pun tiba di ruang komputer dan membuka pesan masuk yang dimaksud Probe itu. Tiba-tiba mata Adu Du menyipit begitu melihat isi pesan itu.

"Mesej apa ni? Tak jelas betul,"gerutunya. "Oi, Probe. Kau permainkan aku lagi, eh?!"

"Ma- Mana ada, Encik Bos? Lagipun, bukan saya yang hantarkan mesej masuk ni," kata Probe membela diri.

Adu Du mendesah lalu berusaha menganalisa isi pesan yang terpampang di layar Komputernya. "Aku pun tak faham lah apa makna mesej ni. Abstrak betul."

Dipelototinya isi pesan yang sama sekali tidak dimengertinya itu. Adu Du terus berusaha memutar otak guna memahami isi pesan dadakan yang memang hanya terdiri dari dua kata.

'Sapu Katharsis'


Akademi Pulau Rintis, 28 Juli 2014 pukul 13:40

KRIIIIINNNNNGGGG!

Bel tanda kegiatan belajar mengajar telah selesai pun berbunyi. Bu Anisa yang tengah mengajar Bahasa Melayu pun merespon bunyi bel itu dengan berhenti menjelaskan materi pembelajaran pada murid-murid kelas 7 Cerdas.

"Baiklah, Murid-murid. Bel sudah berbunyi. Mari kita akhiri pembelajaran kita hari ini."

"Baik, Cikgu," angguk Yaya selaku ketua kelas lalu berdiri dari bangkunya dan mengomando teman-temannya. "Bangun- Terima kasih, Cikgu!"

"Terima kasih, Cikgu!"

"Sama-sama. Baiklah, murid-murid. Sila balik ke rumah masing-masing dan berhati-hatilah dekat jalan pulang," balas Bu Anisa seraya tersenyum lembut. Semua anak kelas 7 Cerdas pun segera mengemasi buku-buku dan alat-alat belajar mereka lalu memasukkannya ke dalam tas mereka masing-masing. Tiba-tiba Bu Anisa melangkah menuju meja Mila dan mendekati gadis itu.

"Mila, selepas ini tolong datang ke ruangan Cikgu," kata Bu Anisa. "Ada benda yang nak Cikgu bahas dengan kamu disana."

Mila tampak sedikit kaget, namun akhirnya ia mengangguk. "Baik, Cikgu," jawabnya sopan. Sepeninggal Bu Anisa, ia segera mendekati BoBoiBoy dan keempat teman superheronya yang tampaknya sudah mau keluar menuju lorong kelas untuk mampir ke Kedai Kokotiam Tok Aba seperti yang biasa mereka lakukan setelah pulang sekolah untuk nongkrong ataupun mengerjakan PR disana. Ying yang melihat gadis itu menghampiri mereka segera berhenti dan memberi gerakan isyarat pada BoBoiBoy, Yaya, Gopal dan Fang untuk ikut berhenti.

"Ada apa, Mila?" tanya Fang. Mila mendekati mereka dengan raut wajah ragu.

"Sori, kawan-kawan. Tapi Cikgu Anisa suruh aku datang dekat ruangan beliau," jelas gadis itu." Beliau kata ada benda penting yang hendak dibahas dekat aku."

"Oh, takpe Mila. Kitorang maklum kot," ujar BoBoiBoy ramah. "Nanti selepas kau selesaikan benda kau dekat Cikgu Anisa, datang sahaja langsung ke Kedai Tok Aba. Kitorang akan tunggu kau dekat sana."

"Terima kasih, BoBoiBoy," balas Mila dengan sumringah lalu menatap kelima anak di depannya. "Baik, kawan-kawan. Jumpa lagi dekat Kedai Tok Aba nanti!"

"Okey, Mila. Jumpa lagi!"

Setelah Mila pergi ke ruangan Bu Anisa, BoBoiBoy dan keempat teman dekatnya pun keluar dari gerbang sekolah dan berjalan kaki menuju taman Pulau Rintis dimana kedai Kokotiam milik Tok Aba beroperasi. Ochobot terlihat sendirian menjaga Kedai karena Tok Aba mengantar Ray pulang ke Stasiun. Melihat BoBoiBoy dan keempat temannya muncul, robot bola berwarna kuning hitam itu segera menyambut mereka dengan tangan terbuka.

"Macam mana dengan pelajaran kat Sekolah?" tanyanya sementara kelima Superhero cilik Pulau Rintis itu mendaratkan bokong mereka di atas kursi-kursi yang mengelilingi meja Kedai. Gopal merenggut sebentar sembari menaruh buku-bukunya di atas meja.

"Hayoyo, Cikgu Papa suruh kita buat reviu pasal petualangan kita tiga hari lepas, padapun pelajaran yang diajar Cikgu Papa takde satupun hari ini," keluhnya. "Macam mana aku nak buat reviu tu? Mesti susah."

"Ha'ah," angguk BoBoiBoy setuju. "Cikgu Papa pon ingatkan kita buat ulang kaji pelajaran Fisika. Mungkin sahaja Cikgu Papa nak beri kita peperiksaan Fisika dadakan."

"Haeh- memanglah Cikgu Papa tu raja peperiksaan dadakan," timpal Fang malas. "Jadi mana dulu yang nak kita keje ni? Reviu ke ulang kaji?"

"Hmm-" Yaya menggaruk pipinya. "Mungkin lagi baik kita ulang kaji pelajaran Fisika dulu. Materinya pon masih sikit, jadi tak kan lah lama sangat. Selepas tu, kita buat reviu."

"Okey."

Kelima sahabat itu pun mengeluarkan buku Fisika masing-masing. Tiba-tiba Ochobot menyikut Fang sehingga anak berambut ungu itu segera beralih perhatian.

"Kenapa, Ochobot?" tanyanya. Ochobot mendekat ke telinga kanan Fang dan membisikkan sesuatu.

"Fang, kau tak ingat ke kalau kita nak bagi tahu BoBoiBoy pasal kawan-kawan lama dia?"

Mata Fang membelalak. "Alamak, Aku terlupa lah! Okey, aku akan bagi tahu dia sekarang."

Setelah berbisik-bisik dengan Ochobot, Fang memberi isyarat pada Gopal, Yaya dan Ying. Ketiga teman Manusia BoBoiBoy itu mengerti maksud Fang dan balas mengangguk. Fang pun membuka perbincangan.

"BoBoiBoy."

"Iye?"

"Ada benda penting yang aku, Gopal, Yaya, Ying dan Ochobot nak bagi tahu dekat kau."

"Apa benda tu?" tanya BoBoiBoy yang masih saja sibuk mengobrak-abrik isi tasnya. Tiba-tiba dia berseru. "Alamak! Buku Fisika aku tertinggal dekat bilik tido aku lah. Kejap dulu ye. Aku akan ambil buku tu."

"O- Okey?" Fang mengerutkan kening melihat BoBoiBoy meninggalkan Kedai Kokotiam dengan buru-buru. "Haehh, sikit je lagi, dia dah pergi."

"Takpe, Fang. Dia cuma nak ambik buku Fisika dia dekat rumah Tok Aba maa," ujar Ying. "Masa dia datang lagi, kita tanya dia."

"Hm- ye lah, ye lah."

Sementara itu, BoBoiBoy berlari di trotoar jalan menuju rumah Tok Aba. Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan dari sebuah lorong kecil di ujung jalan. Begitu ia mengintip ke ujung jalan itu, matanya membelalak sebesar telur mata sapi. Tampak seorang gadis kecil berumur sekitar 8 tahun yang tengah dihadang seorang pria berpakaian ugal-ugalan. Pria itu tersenyum jahat sementara sang gadis kecil tampak pucat karena takut.

"A- Apa yang Abang nak buat dekat saya?"

"Jangan risau, budak comel. Boleh tak Abang sentuh? Sekejap pun takpe-"

"Ja- JANGAN! JANGAN PEGANG SAYA!"

"Budak mentah! Berhentilah melawan!"

"TAK NAK! MAAAKKK! TOLOOONGGGG!"

BoBoiBoy terperanjat melihat aksi pria dewasa itu terhadap si gadis kecil. Segera pemuda cilik itu merasa Deja Vu akan kelainan Pedofilia milik Rosaline dahulu. Dilihatnya pria jahat itu mulai menarik gadis cilik itu dengan kasar sementara si gadis kecil berteriak-teriak.

"TIDAAAAAAAAAAKKKKKKK!"

"Erg, tak boleh jadi! Aku kena tolong budak tu!" Tekad BoBoiBoy dan segera melompat ke arah si Pria dengan menghunus sesuatu dan melemparkannya ke arah pria jalang itu.

"KERIS PETIR!"

Si Pria jalang segera menghindar dari desingan Keris Petir milik BoBoiBoy dan secara refleks melepas gadis kecil yang ketakutan itu dari cengkramannya. BoBoiBoy mendarat di depan gadis kecil itu dan langsung pasang kuda-kuda.

"Karut betul lah Abang ni. Sama budak kecik pun nak buat benda teruk," tukas BoBoiBoy sebal. Pria jahat yang hendak melakukan tindakan tidak senonoh itu segera menatap sang superhero elemental dengan sinis.

"Hm, nasib baik kau datang, Pahlawan kesiangan. Kalau tak, dah habis budak pompuan tu," tukasnya sebelum akhirnya berlari ke persimpangan lorong dan menghilang. Pikiran BoBoiBoy segera berkecambuk setelah kepergian pria itu.

'Dikejar? Jangan. Dia mesti dah tunggu aku dekat ujung lorong tu,' batin BoBoiBoy dalam hati. 'Dan kemungkinan juga dia dah sedia dengan Senjata Api atau semacamnya. Hiii- Aku tak minat dijadikan sasaran timah panas lah!'

BoBoiBoy pun berbalik ke gadis cilik yang nyaris menjadi korban kelainan pedofilia itu. Gadis cilik itu segera memeluk perut BoBoiBoy sambil menangis terisak-isak hingga bagian depan jaket pemuda itu basah oleh air matanya.

"Hiks- Saya .. saya pulang lewat sini selepas main kat taman tadi," jelasnya gagu. "Kena- Kenapa dia nak sentuh sa- saya? Sa- Saya takut... Huhuhuuu..."

"Takpe, dik. Abang BoBoiBoy ada disini," hibur BoBoiBoy pada gadis cilik itu. "Lain kali kamu kena ditemankan Ibubapa kamu. Zaman sekarang ni banyak bahaya tau, macam tadi je. Jom Abang temankan adik sampai ke rumah."

"Hiks... Te- Terima kasih, Abang BoBoiBoy"

BoBoiBoy pun mengantar gadis cilik itu pulang ke rumahnya. Ia langsung dihujani ucapan terima kasih dari kedua orang tua gadis cilik itu, membuatnya merasa tak enak hati.

"Semua orang mesti akan buat benda yang sama dalam keadaan semacam itu, Pakcik dan Makcik. Itu sudah menjadi tanggung jawab bersama," kata BoBoiBoy sopan. "Sekarang ni banyak Jenayah Pedofilia. Budak-budak kecik pon dah jadi korban kekerasan. Baik kita saling menjaga."

Sebelum ia pergi, gadis cilik yang ditolongnya segera memberinya seikat bunga matahari. "Untuk Abang BoBoiBoy, sebab dah selamatkan saya tadi," katanya senang. "Terima kasih, Abang."

BoBoiBoy tersenyum. "Sama-sama, dik. Itu sudah menjadi tugas saya untuk tolong orang lain," ujarnya lembut seraya menerima bunga matahari itu dari tangan kecil si gadis cilik. Gadis cilik dan kedua orang tuanya pun mengucapkan terima kasih lagi sebelum akhirnya BoBoiBoy mohon diri dan kembali ke tujuannya semula: Mengambil Buku Pelajaran Fisikanya yang tertinggal di kamarnya.

Sepanjang perjalanannya menuju rumah Tok Aba, tidak henti-hentinya BoBoiBoy melirik ke arah bunga matahari yang dihadiahkan gadis cilik yang diselamatkannya di genggaman tangan kanannya. Pemuda itu sadar, bahaya bisa ada dimana dan kapan saja. Dihembuskannya nafas perlahan dan mengangkat wajahnya dengan sorot mata penuh keyakinan.

"Jenayah mungkin tak mampu dihapuskan, tapi dia mampu dikurangi," ujarnya mantap sembari terus melangkah menuju rumah Tok Aba.


Mila mengikuti Bu Anisa ke ruangan gurunya. Begitu keduanya sudah masuk, Bu Anisa membalik badan, menatap gadis itu lamat.

"Mila, kamu tahu apa benda yang mahu saya bincangkan dengan kamu?" tanya Bu Anisa. Mila segera menanggapinya dengan gelengan kepala.

"Tak. Saya tak tahu, Cikgu."

"Hmm- baiklah. Ada benda yang saya mahu tunjukkan dekat kamu. Mendekatlah di samping Cikgu."

"Baik, Cikgu."

Mila pun berdiri di samping Bu Anisa. Tiba-tiba Bu Anisa mengulurkan tangannya ke depan meja guru dan menekan sebuah tombol di bawah meja. Sekonyong-konyong rak kayu berisi berkas pembelajaran milik Bu Anisa bergeser ke samping, memperlihatkan sebuah ruangan kecil dibaliknya, membuat Mila untuk sementara waktu tidak bisa berkata apa-apa karena kaget.

"Mila, mari masuk."

"Ci- Cikgu, apa maksud semua ni?"

"Nanti Cikgu terangkan. Masuk saja dulu."

Mau tidak mau Mila menurut juga. Ia dan Bu Anisa masuk ke dalam ruangan kecil belakang rak berkas yang tergeser itu. Bu Anisa menekan sebuah tombol di dinding ruangan kecil itu dan serta-merta rak berkas itu bergeser kembali menutup ruangan kecil dimana mereka berada sekarang.

"Ini ialah bilik teleportasi dimensi," jelas Bu Anisa. "Pegang tangan saya, Mila. Saya akan buat bilik ni berpindah tempat."

"Cikgu Nisa, aku masih tak faham apa yang Cikgu buat ni."

"Kamu akan faham," jawab Bu Anisa sambil tersenyum kecil lalu menekan sejumlah tombol di dinding ruang teleportasi itu. Mila langsung merasa perutnya bergejolak karena mual. Rupanya ruang teleportasi itu melaju dengan kecepatan tinggi. Lima menit kemudian, ruang itu berhenti bergerak. Bu Anisa menekan tombol pembuka pintu ruang teleportasi sementara Mila berpegangan padanya dengan terhuyung. Kepalanya terasa pusing tujuh keliling akibat sentakan tiba-tiba saat ruang teleportasi itu bergerak membawanya serta Bu Anisa tadi.

"Nah, kita dah tiba. Mari ikut saya, Mila."

"Uhh- pening kepala aku," ujar Mila linglung. "Kemana kita nak pegi?"

"Jangan risau, Mila. Ikut saja."

Kedua perempuan itu keluar dari ruang teleportasi dan mendapati diri mereka berada di tengah-tengah halaman bundar yang dikelilingi lima buah gedung pencakar langit yang mengelilingi halaman. Bu Anisa menuntun Mila masuk ke gedung tengah. Puluhan manusia, Alien dan Makhluk Fantasi tampak mondar-mandir di sekitar mereka layaknya orang sibuk. Di pakaian mereka tersemat sebuah pin berwarna perak dan emas yang masing-masing terukir simbol sepasang gandum dan berlian berbentuk spiral. Tak lama kemudian, Bu Anisa dan Mila tiba di depan sebuah pintu dan masuk ke ruangan yang cukup besar di baliknya. Ruangan itu mirip seperti Aula utama gedung markas ONION, tapi suasananya lebih segar. Sebuah meja dan kursi berada di ujung ruangan. Bu Anisa melangkah menuju meja dan kursi itu, meninggalkan Mila yang masih terpaku di tengah ruangan. Setelah duduk di kursi di balik meja, Bu Anisa memberi gadis itu sebuah senyum hangat.

"Selamat datang di Galactic Imperial Defender Organization, Milyra. Kamu boleh singkatkan nama itu menjadi GIDO. Kami akan sangat senang kalau kamu bersedia jadi ahli pasukan kami."

"Ehhh?" Mila melongo hebat. "Cikgu Anisa, apa maksud-"

"Sebenarnya Cikgu ialah Ketua umum daripada GIDO," jelas Bu Anisa. "Cikgu pon ada keje sampingan sebagai guru honor bahasa Malay dekat Akademi Pulau Rintis, tapi orang dekat sana hanya tahu sikit perihal identiti sebenar saya. Sejak awal Cikgu sudah tahu siapa kamu, Milyra. Kamu penkawal kuasa manipulasi Gelombang yang dibagi oleh Sfera Kuasa generasi kesembilan: Ochobot. Kamu juga puteri mahkota dekat Sparkling Flowers: Bandar utama kerajaan dekat Planet Tim tam Dua. Tapi kamu dikudeta oleh Syrena, penasihat kerajaan daripada Rosaline. Adalah suatu kehormatan yang besar buat GIDO menerimamu sebagai ahli pasukan. Dengan begitu, mungkin suatu saat kami akan bantu kau ambil takhta kau lagi. Bagaimana, Milyra? Kau sedia?"

Mila merasa mulutnya menganga mendengar penjelasan Bu Anisa. Dia tidak menyangka kalau salah satu guru bahasa Melayu di Akademi Pulau Rintis yang tampaknya biasa-biasa itu menyimpan rahasia besar seperti ini. Pelan-pelan ia membuka mulut untuk berbicara.

"Ta- Tapi saya masih jadi murid dekat Akademi Pulau Rintis. Macam mana saya bekerja dekat GIDO? Saya-"

"Cikgu faham kamu paling tak mampu dalam benda membagi masa pribadi," ujar Bu Anisa maklum. "Ada baiknya kau undurkan diri dari status pelajar kamu. Lagipun, umur kau dah 18 tahun masa galaksi, masanya kamu untuk kerja. Papa Zola dan guru-guru lain mesti sudah tahu identiti sebenar kamu, dan kamu mesti disarankan untuk melakukan apa yang seharusnya berlaku pada umur kamu."

"Saya tahu," ucap Mila lesu. "Tapi kalau saya tak jadi murid dekat Akademi Pulau Rintis, macam mana saya nak bersua dengan BoBoiBoy dan kawan-kawan aku yang lain? Mesti diorang terkejut kalau saya mengundurkan diri."

"Mereka mesti maklum. Cikgu pasti itu," balas Bu Anisa. "Ah, hampir lupa. Kamu tak rasa ke kalau Cikgu tak lemas masa kamu pegang tangan Cikgu dekat bilik teleport dimensi tadi?"

"Eh? Betul jugak," Mila merenung. "Tapi kenapa bisa? Saya kan Succubus. Mesti orang-orang akan lemas kalau saya sentuh mereka."

"Nah, itu dia. Cikgu rasa kamu bukanlah Succubus lagi, Milyra. Hati kau milik Kebenaran, dan identiti Succubus kau berangsur hilang sebab kau terlampau baik hati."

"Tapi kalau saya bukan Succubus, lalu saya ni Makhluk apa?"

"Cuba kamu keluarkan sayap kamu. Kalau sayap kamu masih berwujud sayap kelelawar, maka kamu masih Succubus. Tapi kalau tak, maka kamu dah bertukar identiti."

"Okey."

Mila mengeluarkan sayapnya dari punggung. Alangkah terkejutnya begitu melihat sayapnya bukanlah sayap kelelawar seperti Succubus pada umumnya, melainkan sayap kupu-kupu berwarna pink gelap berukuran standar.

"Wuaahhh!" Gadis itu terpana. "Sa- Saya bukan Succubus lagi. Sayap saya macam kupu-kupu. Saya ini makhluk apa, Cikgu?"

"Hmm-" Bu Anisa mengamati tubuh Mila dengan teliti. "Nampaknya kamu dah jadi makhluk Guardian Fairy, bangsa peri penjaga. Tak sangka kamu bertukar identiti macam ni, Milyra."

"Hehehe- iya, Cikgu," ucap Mila seraya menghilangkan sayap kupu-kupunya. "Dan nampaknya saya sedia untuk menjadi ahli pasukan daripada GIDO. Terimalah saya, Cikgu."

Bu Anisa tersenyum. "Dengan senang hati, Milyra," ucapnya. "Tunggu sekejap. Cikgu mesti undang sekutu Cikgu untuk menyaksikan hari bersejarah ini. Baiklah Tuan Koko Ci dan Tuan Motobot, Sila masuk."

"Hah?"

Mila tersentak begitu melihat Cici Ko dan Motobot masuk ke dalam ruangan itu. Mereka tidak sendiri. Seorang pemuda rada kekar berambut hitam dengan kemeja putih mengekor di belakang mereka. Mereka tampak berseri-seri.

"Akhirnya kau menjadi bahagian daripada salah satu pasukan sekutu kami, Milyra," kata Motobot. "Tahniah!"

"Eih? Memangnya kau dan Koko Ci pasukan sekutu daripada GIDO ke? Pasukan apa?" tanya Mila heran. Cici Ko tersenyum simpul melihat kebingungan Mila semakin menjadi-jadi.

"Ya. Kami memang salah satu pasukan sekutu daripada GIDO," terang Cici Ko. "Saya ialah Komander daripada pasukan TAPOPS!"

"TAPOPS?" Mila mengerutkan kening yang segera dibalas oleh anggukan Cici Ko.

"Ya. Tracker And Protector Of Power Spheras!"

"Apa tugas pasukan kalian ni?"

"Biar aku terangkan" ucap Cici Ko tenang lalu menuding ke lampu sorot yang entah kenapa tiba-tiba berada disitu. "Musik, nyalakan!"

JRENG! JRENG!

Mila tidak mempercayai apa yang dilihatnya saat ini. Tampak Cici Ko dan Motobot menari di hadapannya sembari bersenandung juga dihujani sinar dari lampu sorot yang dipanggil Cici Ko tadi.

TAPOPS mengembara satu Galaxy,

Mencari Power Sphera tuk dilindungi

Power Sphera tak boleh salah guna,

Oleh si Alien, si Alien, si Alien DURJANA!

TAPOPS mengembara satu Galaxy,

Mencari Power Sphera tuk dilindungi

TAPOPS mengembara satu Galaxy!

Mila hanya bisa jawsdrop melihat penampilan Cici Ko dan Motobot yang menurutnya 'terlalu kekinian' itu.

"Ha, amacam Milyra? Kau suka penjelasan tadi?" tanya Cici Ko senang. Mila mengedip-ngedipkan matanya sebentar lalu menatap Alien cilik itu.

"Hanya ada satu soalan yang saya nak tanyakan," katanya. "Kenapa korang sebut Sfera Kuasa sebagai Power Sphera?"

"Itu penamaan Internasional, Kak Milyra," jawab pemuda berkemeja putih yang sedari tadi hanya diam di sebelah Bu Anisa. "Lagipun dua-duanya sama sahaja, Kan? Kan?"

"Eh, betul juga."

"Baiklah, Tuan Koko Ci. Saya senang Anda dan Tuan Motobot datang kesini untuk menyaksikan penobatan Milyra masuk ke pasukan GIDO," ucap Bu Anisa lembut. "Bila-bila masa kau boleh ajar dia beberapa benda sebab kita masih sekutu."

"Tentu," angguk Cici Ko mantap. "Oh, ya. Saya dan Motobot ada pasal sekejap dekat sektor G-14, jadi kami tak boleh berlama-lama dekat sini. Maaf, Nyonya Anisa. Saya dan Motobot mohon undur diri dulu."

"Baiklah, Tuan Koko Ci. Sila undur diri."

Sepeninggal Cici Ko dan Motobot, Bu Anisa memalingkan pandangan ke arah Mila. "Baiklah, Milyra. Sebab kamu dah jadi ahli pasukan GIDO, saya akan bagi kamu seorang rakan kerja." Ia lalu menoleh ke arah pemuda berkemeja putih yang sedari tadi berdiri di sebelahnya. "Hafiz, mulai saat ini kamu akan jadi rekan kerja Milyra. Kamu sedia?"

"Saya sedia, Nyonya," angguk pemuda yang bernama Hafiz itu lalu menoleh ke Mila. "Kak Milyra, saya Hafiz. Saya Manusia. Umur saya 13 tahun dan tinggal dekat Kuala Lumpur, Malaysia. Saya minta Kak Milyra izinkan saya menjadi rakan kerja Akak. Kita berdua akan sering bersama-sama kalau menjalankan Misi-misi awal Akak. Bagaimana menurut Akak?"

"Hafiz, ya?" Mila mangut-mangut. "Baiklah. Aku senang kau jadi rakan kerja aku dekat GIDO, Hafiz. Jadi bila kita nak mulakan Misi?"

Bu Anisa tertawa. "Ahaha, tenang sahaja, Milyra. Hafiz dan kamu saat ini belum ada Misi. Lagipun kamu ialah ahli pasukan baru. Kamu kena kerasan dekat sini dahulu. Baiklah. Saya ada beberapa benda yang kena diselesaikan. Korang berdua boleh balik ke Bumi."

"Baik. Terima kasih, Nyonya Anisa. Kami pergi dulu."

Mila dan Hafiz pun keluar dari ruangan itu dan melangkah di koridor. Mungkin karena masih baru dan canggung, keduanya tidak berbicara. Tahu-tahu Hafiz membuka mulut, melenyapkan keheningan di antara mereka.

"Kak Milyra, sebenarnya aku bahagia menjadi rakan Akak," katanya tiba-tiba. "Aku macam rasa punya figur seorang Kakak lagi selepas aku kehilangan Kakak perempuan aku dua tahun lepas."

"Eh?" Mila terhenyak dan memperlambat langkahnya. "Kau punya Kakak perempuan?"

Hafiz tersenyum pahit. "Itu dulu," katanya. Raut wajahnya berubah menjadi murung. "Kakak aku hilang selepas dia bertengkar dengan kawan baik dia. Aku pun tak faham apa masalah diorang hingga diorang bertarung di atap-atap rumah orang ramai. Aku buntuti diorang tapi aku kehilangan jejak. Selepas kejadian itu, Kakak aku tak balik. Aku dan Ummi jadi cemas sangat dengan nasib dia hingga kami telefon pihak polis untuk buat pencarian besar-besaran dekat bandar, tapi Kakak aku tidak juga ditemukan. Kawan baik dia satu sekolah dengan aku. Tapi esok harinya selepas kejadian semalam, aku jumpa kawan baik dia yang bertengkar dengan Kakak aku semalam. Tapi kawan baik dia selalu hindari aku. Aku tak faham apa maksud dia. Aku tanyakan pasal nasib Kakak aku dekat kawan-kawan kelas dia tapi diorang pun tutup mulut. Aku takut kalau Kakak aku kenapa-kenapa. Dan hingga sekarang, aku belum pernah lagi berjumpa dengan Kakak aku. Aku... Aku rindukan sangat Kakak aku... aku bertekad akan temukan dia, hidup ataupun mati."

"Ya Tuhan-" Mila menutup mulutnya dengan satu tangan karena terkejut mendengarkan penjelasan Hafiz. "Tak sangka kau buat semua ni semata-mata hanya untuk berjumpa dengan Kakak kau. Aku ikut sedih dengan nasib dia."

Hafiz menghela nafas panjang." Maka dari tu, salah satu usaha aku untuk temukan Kakak aku ialah dengan menjadi ahli pasukan GIDO yang terhebat," tambahnya. "Lambat laun, GIDO akan bantu aku untuk cari Kakak aku. Aku percaya Tuhan akan bantu aku juga. Aku hanya mahu Kakak aku balik."

"Korang ni best sangat jadi adik beradik," ucap Mila empati. "Aku ada adik kembar. Aku selalu usaha untuk akrab dengan dia tapi dia selalu pandang aku sebagai musuh hidup dia. Dia lagi sukakan kegelapan ketimbang cahaya. Aku tak nak dia jadi macam tu. Aku harap dia boleh balik jadi baik semula suatu masa nanti."

"Wahaha, ternyata Kak Milyra pon punya pasal dengan sanak saudara jugak, "ujar Hafiz geli. "Tapi takpe. Kita akan sama-sama berjuang untuk berjumpa dengan saudara kita lagi. Aku pon tak keberatan kalau Kak Milyra anggap aku sebagai Adik, tapi kalau Kak Milyra tak keberatan."

"Mestilah aku anggap kau sebagai saudara aku," balas Mila sembari tertawa. "Tapi nampaknya aku tak boleh berlama-lama dekat sini. Kawan-kawan sekolah aku mesti dah tunggu aku. Mungkin lagi baik aku balik kejap ke Kokotiam."

"Baiklah, Kak Mil," angguk Hafiz ramah seraya berjalan meninggalkan Milyra dan melambaikan tangan. "Nanti aku call Akak lagi buat diskusi rancangan kita."

"Baik. Jumpa lagi, Hafiz," balas Mila lembut seraya balas melambaikan tangan. Tahu-tahu sebuah suara datar menyapanya dari belakang.

"Dekat sini kau rupanya, Milyra."

"Huh?"

Spontan Mila membalik badan. Dia terkejut begitu mendapati Kaizo bersandar di dinding lorong dengan kedua lengannya terlipat di depan dadanya. Wajahnya datar seperti biasa. Tapi melihat sorot matanya yang tegang, Mila tahu Kakak lelaki Fang itu hendak mengatakan sesuatu.

"Kaizo? Apa awak buat kat sini?" tanyanya segera. Tanpa banyak cincong, Kaizo segera mengutarakan maksudnya.

"Aku mahu tanyakan pasal 'Kunci' tu."

"Eh? 'Kunci'?"

Kaizo mengangguk. 'Ya, 'Kunci'," katanya. "'Kunci' tu ialah rancangan utama daripada Ayah angkat aku: Haryan Pakpak Darwish. Nama kode 'Kunci' tu ialah 'Sapu Katharsis'. Aku sudah minta maklumat lengkapnya dari Nyonya Anisa serta Ibubapa BoBoiBoy yang kebetulan sudah lama menyelidiki tindak-tanduk ONION. Menurut maklumat yang aku dan Lahap siasatkan, 'Sapu Katharsis' masih dalam tahap pengembangan. Lama tahap itu kurang lebih masih dalam masa satu tahun. Tapi aku rasa maklumat itu kurang dari cukup, dan aku harap kau punya maklumat lebih tentang 'Kunci' tu."

Mila menggeleng. "Sori, Kaizo. Tapi aku pun masih kurang maklumat pasal 'Sapu Katharsis'," rukasnya gugup. "Aku memang curiga Haryan menyembunyikan sesuatu, dan kematiannya membuat kita sukar untuk siasatkan maklumat lebih. Aku tidak bisa membantu banyak. Maafkan aku."

Kaizo mengangguk-angguk. "Baiklah. Itu je yang mahu aku tanyakan dekat kau," katanya lalu hendak beranjak pergi. Tiba-tiba Mila teringat sesuatu dan segera mencegatnya.

"Tunggu, Kaizo. Aku pun mahu tanyakan awak satu soalan," ujarnya. "Fang cakap dia masih bingung pasal kau boleh 'hidup balik', padapun awak dah dihapuskan Bunda aku guna serapan tenaga. Boleh awak terangkan?"

Sang Kapten menoleh sedikit. "Oh, pasal tu," katanya tanpa berubah ekspresi. "Akan aku terangkan."


(Kemarin di Alam bawah sadar Kaizo)

Kaizo masih memejamkan matanya. Mulutnya membuka dan bergumam.

"Aku pilih Fang."

"Eh?" sosok ibunya tersentak. "Kenapa kau pilih dia ketimbang Mak, Kaizo?"

Kaizo membuka matanya kembali. "Ada satu benda yang Mak kena tahu," katanya dingin. "Walaupun Kaiz tak pernah jumpa Mak dan Ayah lagi, tapi Kaizo yakin Mak dan Ayah masih hidup. Dan Kaizo curiga kau bukanlah Mak, dan kau hanya nak heret aku kepada kematian sebenar. Dan kalau itu terjadi, Fang tidak akan pernah maafkan diri dia sendiri. Siapa kau sebenarnya?"

Sosok 'Ibu' Kaizo itu tersenyum lalu tertawa nista. "Hahahahahahahaaa, seperti yang aku duga, kau memang tak boleh dibohongi," katanya sinis. Tak lama kemudian, sosok itu berubah menjadi sosok yang membuat Kaizo merasa sangat tidak senang.

Rosaline.

"Amacam? Kau tak kan sangkakan aku, bukan?" ucapnya hambar. "Kau mesti terkejut kenapa aku boleh berada dekat alam nyata dan alam bawah sedar kau, Kaizo. Aku boleh gandakan diri aku seorang ke dimensi yang berbeda-beda. Itu salah satu eksperimen yang aku tengah buat untuk membuktikan suatu teori. Dan khusus untuk dimensi alam bawah sedar, aku boleh tukarkan wujud aku ke wujud yang aku inginkan dan yang paling kau rindukan. Ingatkan aku boleh heret kau kepada kematian kau, Kaizo, tapi macam yang aku cakap tadi... kau tak boleh dibohongi. Aku akui kau memang hebat. Dan satu lagi. Serangan aku yang 'hapuskan' kau tadi sebenarnya ialah kuasa yang membuat raga dan jiwa kau terpisah hingga kau sedar dengan keadaan sebenarnya. Dan nampaknya kau dah sedar sepenuhnya."

Kaizo menghunus pedang lasernya. "Dan aku tak kan terlena daripada ilusi kau, Puan Rosa," balasnya sengit lalu menerjang ke arah Rosaline. "Tak sangka kau ambik wujud Mak aku. Berani betul. Sekarang pergilah dari alam bawah sedar aku!"

SLING!

Dengan mudah Kaizo berhasil menebas sosok Rosaline yang memang tidak melakukan perlawanan itu. Tubuh wanita itu menghilang menjadi aura-aura hitam. Sebelum aura hitam itu menghilang sepenuhnya, Kaizo mendengar suara Rosaline mengiang-ngiang di telinganya.

"Nampaknya aku memang terlampau remehkan kau, Kaizo sayang. Tapi kau kena waspada. Akan ada banyak lawan yang lagi tangguh daripada aku diluar sana. Selamat tinggal, MWAHAHAHAHAHAHAAAAA!"

"Tch, Puan Rosa memang keras kepala," tukas Kaizo gusar. Tapi dia sadar dia belum 'mati' sepenuhnya. Dipejamkannya matanya lalu mencubit pipinya sendiri.

SRIIIIIIINGGGG!

Perlahan Kaizo membuka kelopak matanya. Awalnya ia merasa silau. Ia mendapati dirinya berada di Pesawat angkasa Cici Ko dan Motobot. Namun sepertinya keduanya sedang tidak ada di dalam pesawat itu. Segera Kaizo bangkit dari pembaringannya dan melesat keluar pesawat itu menuju gedung Markas Organisasi ONION.

"Vader, akan kuhentikan kau!"


"Tu lah yang terjadi dekat aku semalam," kata Kaizo mengakhiri penjelasannya. "Nampaknya Bunda kau terlampau licik. Banyak rancangan yang dah dia sediakan. Kau puas sekarang?"

Mila mengangguk. "Ya, aku puas," katanya mantap. "Terima kasih sebab dah bagi tahu maklumat ni dekat aku, Kaizo. Aku akan bagi tahu Fang tentang ini masa aku jumpa dia nanti."

Keduanya pun berpisah. Setelah berjalan beberapa langkah, Kaizo mendehem perlahan. Mulutnya menyunggingkan satu senyum kecil.

"Nampaknya aku sorang yang kena cari maklumat lebih pasal 'Kunci' tu."


Akhirnya bagian Final battle ini kelar juga, hahaha /dilempar -_-/

Terima kasih kepada para readers yang telah setia membaca dan mereview fic ini dari awal hingga akhir. Maaf sekali jika fic ini banyak kekurangannya karena author sendiri memang banyak kekurangan, seperti typo, plot yang berbelit-belit dan lain sebagainya. :( Terharu saya lihat kalian sudi banget membacanya hehehe .../

Fang: Oi, sudah lah tu. Dah puas nistakan kami semua heh?

BBB: Ha'ah. Aneh betul lah Kak Author ni -_-

Gopal: Setuju! Pakai acara minta maaf pulak tu. Buang tebiat dah ...

Huweee ... kenapa kalian tak suka kalau author minta maaf. Kan bagus kalau saling memaafkan, kan?kan?/Plak!/ sedikit promo. saya mungkin akan melanjutkan fic prekuel 'BoBoiBoy and Friends: A Memory That Forgotten' untuk membuat semuanya menjadi lebih jelas (Siapa yang nanya, ya? -_- Abaikan)

Silahkan review jika berminat. Author akan senang sekali jika kalian mau menyimpulkan perasaan kalian tentang cerita ini. Sekali lagi Author ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Sampai jumpa di fanfic lainnya, readers ^^